Cobaan Ini Terlalu Berat…

Sebagian ulama berpendapat, bahwa pilar kebaikan sebuah bangsa ada 4. Pertama, adanya sultan (pemimpin) yang mengayomi rakyat. Kedua, adanya ulama yang istiqamah menerangi Ummat dengan ilmu-ilmunya. Ketiga, adanya kaum hartawan (agh-niya) yang pemurah dan banyak membantu Ummat. Keempat, adanya doa dari kaum dhuafa bagi sultan, ulama, dan para aghniya tersebut.

Bila ke-4 unsur itu ada, keadaan suatu negara akan menjadi baik. Bila kesemua itu tidak ada, ya mudah dibaca, kehidupan disana akan penuh dengan masalah, penderitaan, kelemahaan, kehinaan, konflik, dll. Pandangan ini merupakan konsep yang sangat sederhana untuk melihat keadaan sebuah bangsa.

Ujian Hidup, Sekeras Batu Cadas!

Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia…

Nah, itulah masalahnya. Kondisi kita kini benar-benar terpuruk, benar-benar penuh cobaan. Ummat Islam jangankan mendapat kesempatan, mendapat peluang, atau diberi dukungan untuk mencapai kemajuan. Justru kita setiap hari, sepanjang siang dan malam, terus dicoba dengan fitnah yang tidak ada hentinya. Isu liberalisme, aliran sesat, dominasi ekonomi asing, carut-marut wajah politik, media massa membodohi masyarakat, isu terorisme, Kristenisasi, dan sebagainya. Begitu banyak masalah itu.

Belum lagi kita bisa bernafas sejenak dari satu masalah, sudah datang bertubi-tubi masalah lain. Berbagai rencana, agenda, missi, proposal, konsep, dll. yang kita susun selama ini untuk memperbaiki kehidupan Ummat, selalu berantakan karena diterjang oleh isu-isu yang muncul di tengah masyarakat.

Ya, kondisi kaum Muslimin di Indonesia saat ini memang sangat lemah. Kalau dilukiskan kira-kira gambarannya seperti berikut ini:

[=] Ummat Islam tidak memiliki media yang kuat, khususnya media TV. Padahal sejatinya, media-media TV itulah yang saat ini menguasai kesadaran bangsa Indonesia. Ummat memiliki media-media minor yang eksis, tetapi sulit menjangkau masyarakat luas. Akal masyarakat kita kini telah “disandera” oleh media-media TV itu.

[=] Secara ekonomi, kaum Muslimin merupakan kaum fakir-miskin terbesar di Indonesia. Jumlah mereka mungkin 180 jutaan manusia, hidup di atas garis kemiskinan. Bisa jadi lebih besar dari itu. Kalau ada 4 orang kaya dari 10 orang yang ada, tentu yang 4 itu akan membantu saudaranya. Tetapi kalau ada 1 orang kaya di antara 100 orang miskin, bantuan apa yang bisa diharap? Secara nasional, tidak ada desain untuk menyelamatkan Ummat dari kemiskinan ini. Malah, desain itu justru untuk memiskinkan kaum Muslimin, agar mereka lumpuh di segala sisi.

[=] Secara wawasan keilmuwan, kita juga kurang. Bila wawasan Ummat ini sangat bagus, dengan cara mengkaji Kitab Shahih Imam Bukhari secara intensif, tentunya setelah kita mengkaji Al Qur’an, sekalipun tanpa melihat kitab-kitab alainnya, Ummat ini akan memiliki kekuatan yang dahsyat. Hanya karena miskin wawasan dan ilmu, khazanah keilmuwan yang luar biasa seperti tumpukan kertas-kertas yang teronggok tak berguna.

[=] Secara mental keberanian, juga memprihatinkan. Bukan hanya kalangan Muslim awam, kalangan pemuda, mahasiswa Muslim, bahkan tokoh-tokoh elit Muslim pun, banyak dihinggapi rasa ketakutan untuk menempuh resiko. Sangat berbeda dengan mental bangsa Turki yang tangguh dan berani. Bahkan sangat berbeda dengan mental para pejuang kemerdekaan dulu. Seolah mereka meyakini, bahwa untuk membangun sukses bisa dilakukan dengan metode selalu mencari aman, atau dengan berlindung di balik punggung kaum wanita.

[=] Dari sisi persatuan Ummat, juga tidak kalah memprihatinkan. Ada ribuan organisasi, lembaga, yayasan, majlis taklim, jamaah dakwah, partai politik, komunitas, dll. yang berlabel Islam. Tetapi semua itu seperti terpisah-pisah, tidak saling koordinasi, tidak saling sinergi. Sejak kecil kita diajari, “Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh!” Tetapi ungkapan ini seolah AMAT SANGAT SUSAH memahaminya. Seakan akal kita tidak sampai untuk memahami ungkapan tersebut. Biarpun sudah dibuat simulasi lidi dan sapu lidi, tetap saja susah memahami. Banyak orang siap bersatu, tetapi dia harus menjadi pemimpin. Jika tidak menjadi pemimpin, tidak ada persatuan; sekalipun akibat perpecahan itu sangat merugikan Islam. Urusan kepemimpinan dianggap lebih penting dari keselamatan Islam.

[=] Dari sisi inovasi, kreativitas, kepeloporan, kita juga lemah. Padahal kita diberi kekuatan akal, ilmu, kesempatan belajar, alat-sarana, serta kekayaan alam luar biasa. Kecenderungan di kalangan kaum Muslimin, “Kalau ada satu orang berjualan minyak wangi, serentak semuanya akan ikuty jualan minyak wangi.” Begitulah kira-kira gambaran mudahnya. Padahal demi Allah, Al Qur’an dan As Sunnah itu, kekayaan ilmu dan inspirasi yang tidak pernah kering. Hanya karena tidak dikaji, maka hasilnya pun negatif.

[=] Dari sisi kepedulian, juga sangat mengecewakan. Banyak aktivis Islam, ustadz, kyai, dan lainnya, mereka seperti berjuang sendiri, tanpa didukung, tanpa dibantu, bahkan didoakan pun mungkin tidak. Banyak Muslim bersikap egois, individualistik, tidak mau tahu. Di mata mereka, kehidupan adalah syahwatnya sendiri. Urusan di luar syahwatnya, dianggap tidak ada. Sangat menyedihkan, sangat disayangkan! Padahal semua perjuangan itu nantinya juga demi kebaikan hidup mereka.

[=] Dan lain-lain.

Kondisi seperti ini sangat buruk bagi kita semua. Sangat buruk sekali. Gagasan, ide, pemikiran, kritisme sehebat apapun; tidak banyak gunanya di hadapan realitas Ummat yang lumpuh seperti ini. Apa yang kita lakukan, sekeras apapun itu, sebesar apapun pengorbanannya, seperti menggarami air laut. Untuk apa menaburkan garam di atas air yang memang sudah asin? Tak ada gunanya.

Sejujurnya, kita harus berani mengakui, bahwa kondisi Ummat Islam memang sangat lemah. Kita adalah Muslim, tetapi kita kurang memahami hakikat agama kita sendiri. Andaikan kita tahu betapa agungnya agama ini, tentu tidak layak kaum Muslimin akan ternista di negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini.

Kalau Anda mau tahu, contoh karakter Muslim yang konsisten, lihatlah sikap berani Recep Tayib Erdogan ketika mempermalukan PM Israel dalam sebuah pertemuan internasional di Davos Swiss, beberapa tahun lalu. Ketika itu sedang panas-panasnya Tragedia Ghaza melanda dunia. Itu salah satu contoh sikap ksatria seorang Muslim. Tidak ada yang dia takuti untuk menegakkan kebenaran, selain Allah belaka.

Bila seseorang benar-benar memahami keagungan agamanya, dia akan berpaling dari ajaran apapun dari milik orang lain. Khatib Al Baghdadi pernah mengatakan, “Apabila seseorang memahami ilmu hadits, maka dia akan merasa tidak membutuhkan yang lainnya.” Itu baru ilmu hadits, belum ilmu Al Qur’an, fiqih, akidah, sejarah, bahasa, sastra, adab, fiqih ibadah, tazkiyatun nufus, shirah Nabawiyah, dan seterusnya. Karena Ummat ini tidak memahami agamanya, maka mereka pun terhalang dari mendapatkan keagungan sejarah agama ini.

Hal itu semakin ditunjang oleh keadaan negara-negara Muslim lain yang tidak bisa diandalkan. Kalangan anti Islam di Indonesia secara intensif mendapat dukungan tanpa batas dari luar negeri. Sementara para pejuang Islam yang fakir-miskin di Indonesia, tidak mendapat dukungan dari negara-negara Muslim lain. Kita dibiarkan berjuang sendiri, dengan modal sendiri, dengan dengkul sendiri. Sangat menyedihkan memang!

Di atas semua ini, tentu kita tidak boleh putus-asa. Meskipun, beban cobaan ini teramat sangat beratnya. Setidaknya ada 3 langkah perbaikan yang bisa kita tempuh, yaitu:

SATU, mengotimalkan kekuatan diri sebaik-baiknya. Sejauh masing-masing Muslim diberi kekuatan, daya, dan keahlian oleh Allah; kuatkan semua itu dan manfaatkan sebaik-baiknya.

DUA, mengoptimalkan kerjasama sinergis antar sesama Muslim. Terserahlah sebesar apa hasil kerjasama itu, yang jelas kita perlu bekerjasama dengan sesama saudara kita. Jangan disia-siakan saudara sesama Muslim!

TIGA, pasrah hati kepada Allah, meyakini pertolongan, kemurahan, dan pembelaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah berjalan di atas jalan-Nya. Inilah kepasrahan tauhid kepada Allah Ta’ala.

Dengan cara demikian, insya Allah kita akan terus melanjutkan perjalanan ini, kita akan terus mengawal kehidupan Ummat ini. Insya Allah ada masa depan bagi Ummat ini di masa nanti. Insya Allah, nasib anak-cucu kita nanti akan lebih baik dari keadaan kita saat ini.

Apalah artinya sikap kritis sekritis-kritisnya…jika kondisi Ummat selemah ini? Kita hanya seperti menggarami air laut, melakukan perbuatan yang menguras energi sendiri. Sebagian realitas itu saya temukan dalam pengalaman media blog ini selama beberapa tahun terakhir.

Mari kita mulai berjalan memperbaiki kembali keadaan Ummat ini. Membangun ke dalam, memperkuat kerjasama, dan besandar kepada Allah As Shamad. Itulah formula yang bisa ditempuh!

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.

Iklan

2 Responses to Cobaan Ini Terlalu Berat…

  1. Ferli berkata:

    Pak AMW,

    Maafkan kalau saya belum bisa membantu sekuat, sebesar yang seharusnya.

    Yang saya bisa lakukan saat ini hanyalah menyebarkan tulisan2 Pak AMW sebaik mungkin, dalam keterbatasan yang ada. Kalau Pak AMW sempat lihat, beberapa tulisan Pak AMW telah saya salin di blog saya (ferli.net).

    Tulisan2 Pak AMW sangat bagus dan jernih, sangat sayang bila hanya sedikit orang yang membacanya. Ironis memang, tapi kecenderungannya adalah mereka yang punya ide bagus biasanya juga cenderung tidak suka menonjolkan diri, alias tidak bisa melakukan “pemasaran” ide ke tingkat yang seharusnya.

    Mohon dengan sangat Pak AMW, bagaimana bila Anda bergabung menjadi kontributor di politikana.com dan kompasiana.com. Mudah2an suara hati Pak AMW (yang terus terang mencerminkan suara hati saya), bisa lebih banyak didengar di dua komunitas tersebut.

  2. abisyakir berkata:

    @ Ferli…

    Syukran jazakallah khair Akh Ferli atas apresiasi Antum. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala. Kalau Antum mau, kita bisa sinergi dalam publikasi ini. Coba Antum kirim email ke langitbiru1000@gmail.com. Nanti bisa komunikasi disana. Syukran atas perhatian dan dukungan Antum.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: