Mengetuk Hati Ummat…

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Mohon maaf sebelumnya. Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan beberapa kritik kepada kaum Muslimin di negeri ini, termasuk kepada para penggiat dakwah dan gerakan Islam. Tulisan ini boleh dipahami sebagai kritik, boleh dipahami sebagai nasehat, boleh juga jika ingin disebut sebagai “curhat” dari saya sendiri. Masalah yang diangkat disini masih seputar Gusdur, khususnya tentang agenda membangun komplek makam Gusdur dengan menelan biaya Rp. 180 miliar itu.

Dari sisi apapun rencana pembangunan komplek makam dengan biaya Rp. 180 miliar dari APBN dan APBD itu adalah kebathilan yang nyata. Bagi orang yang memiliki sedikit ilmu saja, upaya membangun komplek makam tersebut jelas akan diingkari dengan keras. Banyak alasan yang bisa diajukan.

Pertama, fakta berbicara bahwa banyak pahlawan-pahlawan di Indonesia yang lebih jelas jasa-jasanya, komplek makam mereka tidak dibuat mewah. Misalnya, komplek makam Jendral Soedirman, Ir. Soekarno, Moch. Hatta, Haji Agus Salim, HOS. Cokroaminoto, dll. Kedua, ide pembangunan komplek seperti itu sangat melukai rasa keadilan bagi rakyat Indonesia yang saat ini sedang sengsara. Mengapa dana besar tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja? Ketiga, pribadi Gusdur sendiri terkenal sangat keras dalam memusuhi missi pembangunan keislaman di negeri ini. Katanya pluralis, tetapi sangat sentimen kepada Islam. Aneh. Bahkan saat Tragedi Ghaza tahun 2008, tanpa rasa malu Gusdur menyalahkan Hamas sebagai sumber tragedi kemanusiaan itu. Keempat, pembangunan tersebut akan membuka pintu-pintu kemusyrikan yang luas di tengah masyarakat. Pengkultusan sosok Gusdur seperti itu, meskipun dirinya sudah meninggal, bisa lebih berbahaya daripada batu Ponari, yang kebetulan sama-sama dari Jombang.

Kemusyrikan: Ritual Memuja Kubur!

Kenyataan yang sangat menyedihkan. Mengapa kaum Muslimin, para dai, para aktivis, termasuk kalangan gerakan Islam seolah mendiamkan masalah ini? Ini bukan persoalan sederhana. Ini menyangkut AQIDAH Ummat. Ini benar-benar murni akidah, sebab terkait dampak kemusyrikan bagi Ummat. Hendak ditafsirkan kemana lagi, kalau bukan ke masalah Aqidah Tauhid?

Dibandingkan masalah jemaat HKBP di Ciketing, atau masalah Ahmadiyyah di Kuningan, atau masalah isu terorisme, dan yang semisal itu, masalah Gusdur ini -menurut saya- lebih serius. Gusdur mempunyai pengikut jutaan orang. Pemikiran, sikap politik, dan perilakunya menjadi ajaran tersendiri, Gusdurisme. Lagi pula, yang kita pertaruhkan disini ialah AQIDAH Tauhid Ummat.

Bayangkan saja, betapa banyak manusia yang takut mengkritik Gusdur, saat dia sudah meninggal. Apalagi, ketika dia masih hidup. Sementara mereka seperti “tidak mau tahu” ketika Gusdur selalu menyerang kepentingan Islam dan Syariat-nya. Sepanjang kiprah politiknya, sejak memimpin NU, Gusdur tidak berhenti menyerang Syariat Islam dan orang-orang yang komitmen di atasnya. Semakin dibiarkan, semakin menggila serangannya. Sampai puncaknya, Gusdur melecehkan Al Qur’an. “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an. Ha ha ha…” Karena selalu didiamkan, akhirnya muncul puncak kebathilannya.

Banyak manusia takut kepada Gusdur…sementara hati mereka sendiri tidak takut kepada Allah yang Syariat-Nya selalu dilecehkan oleh Gusdur. Saat Gusdur masih hidup, mereka takut kepadanya; saat Gusdur sudah mati pun, mereka masih saja takut bersikap. Allahu Akbar.

Andaikan rencana pembangunan komplek makam senilai Rp. 180 miliar itu jadi dilakukan, lalu bagaimana akibatnya bagi kehidupan kaum Muslimin ke depan? Bagaimana kalau setiap waktu, kaum Muslimin yang awam berduyun-duyun datang kesana untuk: mencari berkah, mencari jodoh, mencari kemudahan rizki, mencari pangkat, menjadi keridhaan Gusdur, mencari ilmu Gusdur, mencari perlindungan Gusdur, mencari syafaat Gusdur, dan lain-lain? Semua ini jelas merupakan kemusyrikan yang nyata. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Tadinya, saya berharap akan ada yang membahas masalah ini dengan sangat kritis. Ada yang berusaha membantah, berusaha mengajukan kritik besar, atau mengingatkan Ummat atas bahaya memuja sosok Gusdur itu. Sungguh, saya berharap banyak agar muncul sikap kritis itu. Namun sayang, sampai saat ini belum juga ada yang peduli. Masalah dana “180 M” untuk komplek makam Gusdur seperti dibiarkan lewat begitu saja.

Dari pengalaman selama ini, ada kenyataan aneh. Pihak yang peduli dengan isu seputar kebathilan Gusdur ini, ternyata orangnya itu-itu saja. “Die die lagi, Bang,” kata orang Betawi. Padahal masalah seputar Gusdur ini sudah ada sejak lama, sejak dahulu. Berulang-ulang muncul isu seputar Gusdur, dan berulang kali pula ia dibiarkan.

Setahu saya, ketika Gusdur mengucapkan kata-kata menista Al Qur’an sebagai kitab suci paling porno, hanya Al Ustadz Hartono Ahmad Jaiz yang bersuara lantang. Beliau menulis buku, Al Qur’an Dihina Gusdur. Selebihnya, memilih anteng-anteng saja. Memilih mencari aman, sambil terus menambah nilai nominal rekening tabungan, menambah daftar asset, menambah coverage pasar bisnis, menambah popularitas, menambah jumlah titel akademik, dan sebagainya. Padahal setahu saya, masih banyak orang yang ilmunya lebih luas dari Ustadz Hartono, lebih tahu soal perilaku Gusdur, lebih ahli, atau lebih sopan bahasanya.

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, saya termasuk peduli masalah ini, meskipun pada dasarnya saya hanya mengikuti jejak ustadz/ulama senior yang telah lebih dulu memasuki arena ini. Sebagai orang yang peduli, tidak bolehkah saya memohon kepada kaum Muslimin:

“Tolonglah kita semua peduli masalah ini! Mari kita sama-sama peduli, sebab perkara ini menyangkut kepentingan Ummat Islam seluruhnya. Mari kita berbagi beban, mari kita ratakan tanggung-jawab. Jangan sampai urusan seberat ini hanya dipikul orang yang itu-itu saja! Adalah sangat tidak adil di hadapan Allah, sebagian orang terus memikul beban berat, sementara yang lain selalu mencari aman, sambil menikmati hari-hari indah, penuh selera. Sampai kapan Anda akan betah membohongi diri seperti itu?”

Sejujurnya, amanah nahi munkar melalui publikasi seperti ini, bukan hak kami untuk melakukannya. Banyak orang yang lebih berhak memikulnya. Banyak orang yang lebih berilmu dari kami, lebih luas wawasan, lebih ahli dalam teknologi dan komunikasi, lebih mapan secara ekonomi, lebih mumpuni dari sisi gelar akademik, lebih sopan dalam bahasa, lebih ilmiah dalam menulis, dan seterusnya. Seharusnya, mereka lebih berhak menerjuni masalah ini, bukan kami. Kami ini seperti “ustadz jalanan” yang serba tidak memadai di berbagai sisi.

Sekedar sebagai catatan, kami berasal dari keluarga biasa. Orangtua kami bukan ustadz, bukan kyai, bukan pemilik pesantren, bukan aktivis Islam. Di keluarga kami tidak ada jebolan IAIN, tidak ada jebolan pesantren, apalagi jebolan universitas Islam dari Timur Tengah. Kami belajar Islam tidak sebaik para sarjana yang bergelar Lc, Master, atau Doktor itu. Kami tidak pernah mendapatkan kesempatan semewah itu. Kami juga bukan dari keluarga saudagar, bukan dari keluarga pengusaha, bukan dari keluarga pejabat, bukan dari keluarga perwira.

Kalaupun ada keistimewaan, mungkin kami termasuk “Generasi Shahwah Angkatan 80-an“. Ketika kami masih remaja, saat itu semangat Kebangkitan Islam sedang menggelora di dunia. Orangtua kami sendiri bukan orang berpendidikan tinggi. Berbeda sekali dengan keluarga-keluarga Muslim yang mapan dan terpelajar. Bila ada kelebihan, orangtua kami selalu mengajarkan sikap peduli kepada orang yang lemah; dan mereka tidak mengajarkan anak-anaknya menjadi pengkhianat. Mungkin, itulah sebagian sisi kebaikan yang bisa disebut.

Mengapa Mendiamkan Kebathilan?

Sebenarnya, dalam isu Gusdur dan yang semisal itu, bukan kami yang lebih berhak memikulnya. Para sarjana Islam, para Lc, Master, Doktor, ustadz kabir, kyai haji, pemimpin ormas, pemimpin dakwah Islam, politisi Muslim, anggota dewan Muslim, pengusaha Muslim, cendekiawan Muslim, dan seterusnya; mereka lebih berhak memikul semua itu. Seharusnya, peran kami disini sekedar sebagai KOMPLEMEN (pelengkap) saja. Mereka yang mengambil tanggung-jawab terbesar, lalu kami melengkapi sekuat kemampuan.

[***] Mungkin banyak orang berpikir: “Ah, sudahlah. Ini kan berita yang sifatnya sesaat. Nanti juga akan hilang ditelan isu-isu lain.”

Oke, kalau begitu. Lalu bagaimana jika upaya pembangunan komplek makam dengan biaya “180 M” itu terus bergulir? Menurut media, tahun depan proyek itu akan mulai dijalankan. Siapa yang akan tanggung-jawab jika pintu-pintu kemusyrikan yang dikhawatirkan itu benar-benar terbuka luas disana?

Perlu dicatat, yang mendorong renovasi komplek makam itu, bukan main-main. Ia adalah Presiden RI sendiri, yang memerintahkan Menko Kesra. Tentu ini bukan masalah sepele jika perintah SBY sudah turun ke pembantu-pembantunya. Intinya begini ya, membangun komplek makam dengan anggaran Rp. 5 miliar dari anggaran negara (APBN/APBD), itu sudah berlebihan. Apalagi Rp. 180 miliar?

[***] Sebagian yang lain beralasan: “Masalah Gusdur ini masalah khilafiyah, tidak usah dibesar-besarkan. Kita harus menghormati perbedaan-perbedaan. Bukankah perbedaan itu rahmat?

Orang yang menganggap masalah Gusdur sebagai soal khilafiyah, itu membuktikan dirinya BODOH wawasan Islam. Bagi siapapun yang melek, akan menyimpulkan bahwa masalah Gusdur dari waktu ke waktu adalah masalah prinsip, masalah AKIDAH. Gusdur lebih ditakuti oleh manusia, daripada Allah Ta’ala; ini adalah akidah. Popularitas Gusdur menyebabkan kultus individu di tengah-tengah Ummat Islam, ini juga akidah. Gusdur siang-malam membela Yahudi dan Nashrani, ini juga akidah. Gusdur intensif menyerang Syariat Islam, ini juga akidah. Gusdur memuji Israel, mengunjungi Israel, merayakan hari kemerdekaan Israel, menerima penghargaan dari organisasi Yahudi dunia, sewaktu hidupnya akan membuka hubungan dagang dengan Israel; ini akidah juga. Bahkan pelecehan Gusdur terhadap Al Qur’an, yang dia sebut kitab suci paling porno, itu adalah puncak penghujatan Gusdur terhadap kesucian Al Qur’an. Ini adalah masalah akidah yang sangat fundamental.

[***] Sebagian lain lagi berkata: “Masalah Gusdur ini sudah selesai. Toh, sekarang dia sudah mati. Insya Allah, kehidupan Ummat Islam akan aman. Jangan khawatirkan lagi masalah Gusdur.

Jika benar ucapan itu, lalu bagaimana dengan agenda membangun komplek makam Gusdur dengan dana APBN/APBD sampai Rp. 180 miliar tersebut? Bukankah agenda itu dibuat setelah Gusdur mati? Bukankah agenda itu dibuat untuk memonumenkan sosok, pemikiran, dan ajaran-ajaran Gusdur, agar menjadi ideologi yang selalu dilestarikan Ummat Islam di Indonesia?

Jika benar ucapan mereka, lalu mana bantahan mereka atas rencana pembangunan komplek makam senilai “180 M” itu? Mana kritikan mereka? Mana kecaman mereka? Mana analisis kritis mereka? Jika rencana pembangunan komplek itu terus berjalan, alamat terbuka pintu-pintu kemusyrikan yang luas di depan mata. Padahal semua itu terjadi, setelah Gusdur mati. Saat Gusdur hidup, mereka tidak berani membantah. Ketika Gusdur mati pun, mereka masih ketakutan. Allahu Akbar. Semoga mereka tidak seperti sekelompok Bani Israil yang mendambakan hidup sampai 1000 tahun.

[***] Lalu ada yang berkata: “Kita tidak enak kepada keluarga besar Gusdur. Kita tidak enak pada keluarga besar Pesantren Tebu Ireng. Kita merasa tidak enak kepada kaum Nahdhiyin.

Ya, Anda berusaha menjaga kenyamanan hati mereka. Itu sah-sah saja, sebagai tipikal mental orang Indonesia. Tetapi bila semua ini berpotensi melahirkan penyimpangan, kesesatan, bahkan kemusyrikan di tengah Ummat; tidak ada apapun yang harus dihiraukan. Semua urusan manusia, semua masalah perasaan manusia, menjadi kecil, di hadapan urusan kita dengan Allah Al Wahid. Di atas masalah tauhid, posisi seorang Fir’aun sebagai raja-diraja di Mesir, tidak dianggap oleh Musa As. Bahkan sekalipun Fir’aun itu sangat berjasa membesarkan Musa di lingkungan istananya.

Perkara prinsip dalam Islam, yang membolehkan manusia melupakan urusan apapun yang lainnya, ialah apabila Kehormatan Allah dan Rasul-Nya sudah dilanggar. Maka tidak ada lagi yang bisa mencegah kita untuk meninggikan kehormatan Allah dan Rasul-Nya. Justru kalau kita mendahulukan masalah makhluk, dengan mengabaikan kehormatan Allah dan Rasul-Nya, sebagai Ummat Islam kita sangat berpeluang ditimpa adzab yang berat dari langit dan dari dalam bumi.

Lihatlah bagaimana sikap Rasulullah Saw terhadap keluarganya! Abu Jahal, Abu Lahab, atau Abu Thalib, kesemua itu adalah bagian dari keluarga besar beliau. Tetapi pernahkah Rasulullah Saw memberikan hak-hak khusus bagi keluarganya, dengan menyingkirkan kepentingan Islam? Tidak pernah sama sekali. Beliau tetap teguh dengan akidah Islam, meskipun harus melanggar hak-hak keluarganya sendiri.

[***] Lalu ada yang berkata juga: “Tapi bagaimana dengan reaksi para pendukung Gusdur? Bagaimana reaksi para pengikutnya? Bagaimana reaksi intel NU? Bagaimana reaksi jaringan Gusdur? Mereka bisa saja melenyapkan nyawa kita akibat sikap keras kita dalam masalah ini.

Sejak kita sadar diri kita ini Muslim, maka saat itu pula kita harus sadar, bahwa kematian ada di Tangan Allah. Betapa sering Rasulullah Saw bersumpah dengan kalimat seperti ini, “Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya.” Apa maksud ucapan ini? Ya, kehidupan atau kematian kita ada di Tangan Allah. Kalau sudah waktunya, manusia akan sampai kepada ajalnya. Kalau belum waktunya, dia akan tetap hidup, meskipun seluruh manusia berusaha mematikannya.

Andaikan ancaman kematian menjadi penghalang dakwah Islam, tentu Rasulullah dan para Shahabat tidak akan berdakwah menyebarkan Islam. Tentu akibatnya, kita masih akan menjadi kaum jahiliyah (animisme-dinamisme) yang tidak mengenal Islam. Setiap hari Jum’at kita selalu diingatkan, “Wa laa tamutunna illa wa Antum Muslimun” (janganlah kalian mati, melainkan ada di atas Islam). Apakah nasehat ini begitu tidak berharga di mata Anda, sehingga Anda membayangkan diri Anda seperti Bani Israil yang meminta diberi umur panjang, sampai 1000 tahun?

Adalah bodoh bila kita mengabaikan sama sekali ancaman kematian. Tetapi menjadikan hal itu sebagai penghalang utama untuk meninggalkan upaya membela al haq yang nyata-nyata dilecehkan di depan mata, adalah kekeliruan besar. Pendiaman seperti ini sama dengan secara sengaja mengubur ajaran agama kita, agar semakin tenggelam di tengah-tengah kehidupan manusia.

[***] Ada yang mengatakan: “Masalah Gusdur ini tidak usah dibesar-besarkan. Ini berpotensi melahirkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Lebih baik kita mendiamkan masalah ini, daripada terjadi konflik antar sesama Ummat Islam.”

Andaikan terjadi konflik di tengah masyarakat, maka sebaik-baik konflik adalah konflik dalam rangga membela kehormatan agama Allah dan Rasul-Nya; konflik untuk membela kesucian Al Qur’an; konflik untuk menghentikan kemusyrikan, menghentikan kesesatan, dan sebagainya. Konflik seperti itu insya Allah baik, bermanfaat, dan tidak merugikan kaum Muslimin. Berapapun korban yang harus jatuh disana. Mengapa demikian? Sebab Allah Ta’ala Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Tidak mungkin, Allah akan menghinakan hamba-Nya, karena hamba itu ingin membela Kehormatan-Nya. Dalam sejarah Jihad Fi Sabilillah, tidak pernah kaum Muslimin dihinakan karena mereka ingin membela Kehormatan Allah dan Rasul-Nya. Dalam Surat Al Hajj, “Wa la yanshurannallaha man yanshuruhu” (dan benar-benar Allah akan menolong siapa yang menolong diri-Nya).

Gusdur ini bukan saja telah melecehkan Al Qur’an. Dalam wawancara dengan Radio Netherland, dia pernah mengatakan, “Nabi Muhammad tidak usah dibela.” Hal ini terkait dengan kasus orang-orang tertentu yang –secara tidak sadar- telah menghina Rasulullah. Menurut Gusdur, kalau ada yang melecehkan Nabi Muhammad, Ummat Islam tidak usah marah-marah. Sebab kata dia, Nabi Muhammad tidak perlu dibela. Hal ini terjadi jauh-jauh hari sebelum Gusdur melecehkan Al Qur’an. Ucapan seperti itu secara akidah Islamiyyah merupakan ucapan KUFUR. Jika Nabi Saw mendengar ucapan itu, beliau akan menimpakan sanksi berat kepada pelakunya. Bayangkan, setiap Muslim diwajibkan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu ada yang berani mengatakan, “Nabi Muhammad tidak usah dibela.” Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Andaikan konflik horizontal merupakan perkara yang wajib dihindari oleh kaum Muslimin, niscaya tidak aka nada Syariat Jihad Fi Sabilillah dalam Islam. Risalah Jihad akan dihapus, lalu diganti dengan risalah perdamaian, kerukunan abadi, toleransi, sabar saja, santai saja, meneng wae, cool man, peace man, dan yang sejenis itu. Persis seperti akidah Ahmadiyyah yang telah menghapus risalah Jihad dari keyakinan mereka, dan ajaran-ajaran produk kolonial lain.

Andaikan setiap mengkritisi Gusdur selalu beresiko terjadi konflik horizontal, maka peristiwa itu tentu akan terjadi saat tahun 2001 lalu. Ketika itu ada gelombang politik yang sangat kuat yang berusaha me-lengser-kan Gusdur dari posisi RI I. Kata-kata seperti “orang di NU di bawah sedang mengasah golok”, “Amien Rais halal darahnya”, “warga Nahdhiyin akan mengepung Jakarta”, dll. telah beredar ketika itu. Lalu apakah konflik horizontal terjadi? Tidak ada konflik yang ditakutkan itu.

Konflik horizontal atau vertikal, konflik apapun, bisa terjadi dalam hidup manusia. Sebaik-baik konflik, adalah dalam rangka membela Kehormatan Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang membela Kehormatan Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah para hizbullah. “Fa inna hizballahi humul ghalibun” (maka para tentara Allah itulah yang pasti menang).

[***] Lalu ada lagi yang mengatakan: “Kami tidak bisa mengomentari masalah Gusdur ini. Kami memiliki sistem dakwah yang baku. Setiap masalah harus kami rundingkan, kami pikirkan baik-baik untung ruginya. Kami bukan gerakan Islam liar yang mudah mengomentari isu-isu apa saja. Kami harus konsisten dengan tahapan gerakan yang telah kami susun. Kami tidak boleh menyimpang sedikit pun dari agenda perjuangan yang sudah ditetapkan. Maaf maaf saja ya, kami konsisten dengan tahapan dakwah kami; kami tidak bekerja secara liar.”

Memang benar, dalam dakwah kita harus membuat perencanaan-perencanaan. Istilahnya, “Wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghadin” (hendaklah setiap diri melihat jejak-jejak kehidupannya di masa lalu, untuk membangun masa depan yang lebih baik). Ayat ini mengajarkan pentingnya membuat perencanaan.  Sehingga ada istilah unik yang kerap dikemukakan oleh para ahli manajemen, “Plan your do! Do your plan!” (rencanakan pekerjaanmu, dan kerjakan rencanamu).

Tetapi kita adalah Muslim, kita hamba-hamba Allah yang percaya dengan takdir-Nya. Kita bukan “hamba-hamba manajemen” yang memulangkan seluruh urusan ke tangan “manajemen”. Sebab pada kenyataannya, banyak sekali realitas-realitas yang muncul tiba-tiba di depan mata, tanpa pernah kita prediksikan sebelumnya. Dalam hidup ini kenyataan-kenyataan seperti itu banyak.

Jika Anda begitu meyakini tentang perencanaan, sehingga di mata Anda kehidupan ini adalah apa saja yang Anda usahakan. Tidak ada kehidupan di luar kendali Anda. Jika Anda meyakini demikian, itu artinya Anda merasa berkuasa atas kehidupan ini. Padahal dalam Al Qur’an sering disebutkan, “Innallaha ‘ala kulli syai’in qadiir” (Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu).

Kalau membaca Shirah Nabawiyyah, kita akan mendapati bahwa Rasulullah Saw dan Shahabat sangat sering mendapati kenyataan-kenyataan di luar dugaan. Mau bukti? Ketika hendak menghadap rombongan dagang Abu Sufyan dari Syam, beliau dan Shahabat malah diberi perang Badar oleh Allah Ta’ala. Ketika Perang Uhud, tidak ada yang menyangka kalau pasukan pemanah akan meninggalkan pos yang seharusnya mereka jaga, sehingga akibatnya kaum Muslimin kalah. Ketika perang Khandaq, tidak ada yang menyangka bahwa Yahudi Bani Quraizhah menjalin persekutuan dengan kaum musyrikin di Makkah. Padahal mereka terikat perjanjian Madinah. Saat perjanjian Hudaibiyyah, Nabi tidak menyangka bahwa mayoritas para Shahabatnya bersikap negative terhadap isi perjanjian itu. Saat perang Hunain, mereka tidak mengira akan diserang secara tiba-tiba, sehingga pasukan kaum Muslimin kocar-kacir. Bahkan saat Rasulullah Saw wafat, Shahabat sekaliber Umar bin Khattab Ra tidak percaya kalau beliau sudah meninggal. Begitu pula, Khalifah Abu Bakar Ra tidak mengira jika akan muncul banyak orang yang menolak membayar Zakat, sehingga mereka pun diperangi. Banyak hal terjadi di luar prediksi Nabi dan para Shahabatnya. Andaikan mereka hanya mau beramal sesuai rencana yang mereka buat, tentulah Islam tidak akan tegak di muka bumi.

Begitu pula, saat masih di Makkah, Nabi Saw menghadapi banyak kejadian-kejadian di luar dugaan. Justru karena sering terjadi kejadian seperti itu, beliau menjadi tabah dan shabar saat menghadapi kenyataan-kenyataan tak terduga di Madinah, di kemudian hari.

Pernahkah Nabi mengira bahwa beliau akan didatangi Jibril As di gua Hira’? Kalau kejadian itu sudah diperkirakan, pasti beliau tidak akan merasa takut, sehingga minta diselimuti isterinya. Pernahkah Nabi Saw menyangka, bahwa Wahyu untuk beberapa lama akan terputus? Kenyataan itu sangat berat bagi Nabi. Ketika mulai terlihat titik-terang, tiba-tiba Wahyu seperti berhenti. Pernahkah Nabi mengira bahwa beliau akan diperintah melakukan dakwah secara terbuka (disebut dalam Surat Al Mudats-tsir)? Pernahkah Nabi mengira bahwa para pembesar Quraisy akan menolak ajakan beliau saat di bukit Shafa? Pernahkah Nabi mengira, bahwa keluarga Yassir Ra akan menjadi syuhada pertama dalam Islam? Pernahkah Nabi mengira bahwa dakwah beliau akan ditolak di Thaif? Pernahkah Nabi menyangka, bahwa seluruh kabilah-kabilah di Makkah akan memboikot Bani Hasyim? Pernahkah Nabi mengira, Khadijah Al Kubra Ra dan Abu Thalib akan wafat dalam waktu yang tidak berselang lama? Pernahkah Nabi mengira, beliau akan diperjalankan dalam Isra’ Mi’raj?

Sungguh, agama kita ini adalah agama keimanan, bukan agama manajemen. Ada kalanya sesuatu bisa kita rencanakan, dan ada kalanya tidak bisa diprediksikan. Andaikan kita hanya beramal menurut rencana yang kita buat, niscaya dakwah Islam ini akan gagal. Bagaimana tidak akan gagal, wong kita sendiri merasa lebih berkuasa mengatur tahapan-tahapan peristiwa dalam hidup ini?

Termasuk sikap ghuluw, yaitu berlebih-lebihan dalam mengagungkan RENCANA atau PLANNING. Hal ini sering didalili dengan ucapan Ali bin Abi Thalib Ra, “Al haqqu bi laa nizham, yughlibuhu al bathilu bin nizham” (kebenaran yang tidak tertata rapi, akan dikalahkan oleh kebathilan yang tertata rapi). Jangan sampai, dengan dalil ini Anda hendak menyalahkan sikap Rasulullah, atau menganggap dakwah beliau sebagai dakwah liar tanpa perencanaan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Oke, kita sepakat untuk membuat rencana. Tetapi jangan mentah-mentah memeluk rencana itu, sehingga setiap ada kenyataan di luar rencana, kita membuang muka sejauh-jauhnya. Sekali lagi ditegaskan disini, andaikan Nabi Saw dan para Shahabat Ra hanya beramal sesuai rencana mereka, niscaya Islam tidak akan pernah tegak di muka bumi.

Seharusnya, kita membuat KAIDAH BAKU yang selalu kita jaga dalam memandang masalah-masalah yang dihadapi Ummat. Dalam kaidah itu kita susun prioritas masalah-masalah, dari masalah paling penting sampai yang paling remeh. Bila tiba-tiba muncul suatu kasus, segera lihat kaidahnya. Apakah kasus itu masuk masalah terpenting, masalah penting, masalah agak penting, atau kurang penting? Jika sudah jelas klasifikasinya, baru kita membuat penyikapan yang tepat.

Dalam pandangan saya, masalah Gusdur itu bukan masalah kecil. Ini masalah besar, menyangkut AKIDAH Ummat, menyangkut komitmen mereka kepada Tauhid, Syariat Islam, Kesucian Al Qur’an, Kesucian Nabi Saw, dan lainnya. Ini bukan masalah kecil. Seharusnya, siapapun komunitasnya, selama masih Muslim, mereka angkat bicara soal Gusdur ini. “Ojo meneng ae,” kata orang Jawa Timur.

[***] Mungkin masih ada lagi yang beralasan: “Sudahlah, kita masing-masing. Silakan masalah ini bila dianggap serius. Tetapi jangan salahkan juga kalau ada yang menganggap masalah lain tidak lebih penting dari masalah lain. Jangan mau menang sendiri-lah.”

Wahai manusia, saya ingatkan Anda! Semoga Anda masih merasa punya malu! Semoga Islam masih berharga di mata Anda! Semoga hati Anda masih berharap syurga, dan jiwa Anda masih takut neraka! Semoga Allah tidak Anda pandang lebih kecil dari Gusdur (na’udzubillah min dzalik)!

Tahukah Anda, Hamas di Palestina pernah mengecam Gusdur, karena dia berencana menghadiri acara peringatan hari kemerdekaan Israel di Amerika. Kalau tidak salah, itu terjadi tahun 2008 lalu, berbarengan dengan Gusdur menerima penghargaan Medal of Valor dari organisasi Yahudi internasional disana. Hamas menyayangkan sikap Gusdur sebagai tokoh dari dunia Islam (Indonesia) yang justru malah pro dengan kemerdekaan Israel.

Lihatlah, betapa tidak tahu malunya Ummat Islam di Indonesia! Untuk menegur, mengkritik, atau mengecam Gusdur yang salah kaprah itu, mereka harus menunggu peranan Hamas yang ada di Palestina sana! Allahu Akbar! Pantas dan wajar kalau kaum Muslimin di negeri ini selalu dilecehkan, selalu dihina, selalu menjadi bulan-bulanan. Ya karena, Muslim disini tidak tahu malu. Katanya menyembah Allah, tetapi buktinya lebih takut kepada Gusdur daripada kepada Allah.

Sedihnya lagi, kondisi demikian bukan hanya menimpa kaum Muslimin yang awam, orang-orang lemah, kaum wanita, anak-anak, dan kaum lanjut usia. Tetapi sarjana-sarjana Muslim ang Lc, para ahli ilmu Islam yang bergelar Master, Doktor, Profesor, para tokoh ormas, para cendekiawan, para wartawan, para dai dan aktivis dakwah, para anggota DPR, elit-elit politik Muslim, para perwira Muslim, para pengusaha Muslim, dll. Mereka ternyata juga meneng wae, atau pura-pura tidak tahu. Hanya segelintir orang yang peduli bahaya pemikiran, ajaran, dan sikap politik Gusdur itu.

[***] Ada yang mengatakan: “Jangan terlalu risau soal Gusdur ini. Paling-paling yang terpengaruh ya para pengikutnya. Ummat Islam yang melek ilmu, insya Allah tidak terpengaruh.”

Aneh betul, dalam isu-isu seputar artis/selebritis saja, kita peduli. Tetapi dalam masalah Gusdur, seperti mau “cuci tangan” semua. Seolah di mata Ummat Islam di negeri ini berlaku prinsip, “Apapun boleh dikomentari, selain masalah Gusdur.” Adalah tidak adil, Anda mengomentari Inul Daratista, mengomentari Krisdayanti, Manohara, atau Ariel; tetapi pada saat yang sama, Anda melupakan masalah Gusdur. Gusdur itu lebih berbahaya ketimbang artis-artis tersebut.

Kalau terhadap Gusdur-nya sendiri, kita tidak peduli lah. Dia sudah meninggal, urusan dia sudah ada di tangan para Malaikat. Justru yang kita khawatirkan adalah efek dari masalah Gusdur ini bagi kehidupan kaum Muslimin. Harus dicatat, warga NU itu adalah Muslim, warga Jombang mayoritas Muslim, warga Jawa Timur mayoritas Muslim. Meluruskan masalah ini sama dengan meluruskan kehidupan jutaan saudara-saudara kita sendiri. Kita tidak menganggap warga NU sebagai orang lain. Mereka itu saudara kita juga. Kesalahan sikap mereka perlu diingatkan atau diluruskan.

Kalau Gusdur akhirnya diangkat sebagai “pahlawan nasional”, atau akhirnya dibangun komplek makam paling mewah di Indonesia untuk mengekalkan pengaruh ajaran Gusdur di tengah-tengah masyarakat Indonesia; semua ini jelas merupakan kekalahan besar bagi dakwah Islam. Betapa sulitnya membangun kebaikan di tengah masyarakat. Tetapi kemudian, kita biarkan saja sebagian orang membangun monumen-monumen tertentu untuk membuka pintu-pintu kemusyrikan seluas-luasnya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[***] Lalu ada yang berkata: “Lebih baik kita menjaga keutuhan Ummat, jangan memecah-belah Ummat. Kalau Ummat terpecah-belah, itulah yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam.”

Kalau Anda pernah belajar Islam, atau memiliki sedikit saja pengetahuan tentang Islam, pernahkah Anda mendapati bahwa kaum Muslimin bisa bersatu di atas sikap mendiamkan kemusyrikan? Anda sendiri belajar sejarah Islam. Ketika Nabi Saw di Makkah, banyak orangtua berpisah dengan anaknya; banyak anak berpisah dari orangtuanya; banyak keponakan berpisah dengan pamannya; ada wanita yang bercerai dari suaminya; banyak saudara bermusuhan dengan adik-kakaknya. Hal itu terjadi karena adanya perbedaan antara Tauhid dan kemusyrikan. Lalu sekarang, Anda merasa lebih hebat dari Nabi, sehingga Anda ingin menyatukan antara Tauhid dan kemusyrikan?

Tidak mungkin Saudaraku ada persatuan di atas kebathilan. Allah pasti tidak akan meridhai semua itu. Persatuan kita hanya akan terwujud di atas 2 prinsip: Tauhid dan mengimani Syariat Nabi. Dalam Surat Al Anfaal ayat 63 dijelaskan, meskipun Nabi Saw membelanjakan harta sepenuh bumi, beliau tak akan bisa menyatukan kabilah Auz dan Khazraj di Madinah. Hanya Allah yang mampu menyatukan mereka. Lalu pertanyaannya, “Dengan apa mereka disatukan?” Ya, mereka disatukan dengan Islam, yaitu komitmen kepada Tauhid dan Syariat Nabi Saw.

Disini dkutip utuh terjemah Surat Al Anfaal tersebut. “Dia-lah Allah yang telah menguatkanmu dengan pertolongan-Nya, dan pertolongan orang-orang Mukmin, dan Dia-lah yang telah menyatukan hati-hati mereka. Andaikan engkau belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi ini, engkau tidak akan sanggup menyatukan hati-hati mereka. Alan tetapi, Allah-lah yang telah menyatukan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al Anfaal: 62-63).

Persatuan Ummat adalah sangat mendasar. Tetapi maksudnya, persatuan di atas kesepakatan atas kebenaran Kitabullah dan As Sunnah. Bukan sekedar persatuan semu, sekedar berkumpulnya fisik manusia, berkumpulnya bendera-bendera organisasi, atau berkumpulnya KTP yang banyak. Kalau persatuan seperti itu, tidak ada bedanya antara persatuan Islam dengan persatuan selainnya.

Coba renungkan kisah Thalut dan para pengikutnya yang sedang bergerak berjihad menuju Jerusalem. Hanya lantaran masalah kehausan atau minum air, sekelompok pengikut Thalut terpaksa harus tersingkir dari barisan Jihad tersebut. Itu hanya karena masalah syahwat makan-minum. Lalu dalam perkara Gusdur itu, masalah akidah Ummat benar-benar dipertaruhkan. Bagaimana kita akan bersatu, sebagian orang menjunjung-tinggi Al Qur’an; sebagian lain menyebutnya “kitab suci paling porno”? Bagaimana air dan api ini akan disatukan?

Mungkin, Anda merasa lebih menyayangi para pengikut Gusdur yang telah melecehkan Al Qur’an, melecehkan Nabi Saw, melecehkan Syariat Islam, melecehkan nasib kaum Muslimin. Bila seperti itu sikap Anda, jelas saya akan bersuara lantang disini: “Hari ini juga, saya memisahkan diri dari Anda!” Saya tidak peduli apapun yang terjadi. Ya Allah, selamanya jangan jadikan kami dan anak-keturunan kami, bersatu bersama para penghujat Al Qur’an dan Nabi-Mu, atas alasan apapun! Amin Allahumma amin.

Buat apa bersatu bersama kaum yang ternyata hatinya lebih cinta kepada para penghujat Al Qur’an, daripada mencintai saudaranya yang komitmen dengan Islam? Buat apa membela manusia yang lebih takut kepada Gusdur –meskipun dia sudah mati-, sementara mereka tidak takut kepada Allah yang dihinakan Kehormatan-Nya? Dimana rasa malu itu? Dimana bukti keimanan itu?

Sungguh, Anda tidak memiliki hujjah apapun di hadapan Allah dalam perkara Gusdur ini. Gusdur meninggal, ketika dia telah menyempurnakan permusuhan dan kebenciannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala menutup semua pintu-pintu kemaafan bagi orang seperti itu. Hingga anak-anak kecil pun fitrahnya telah menjadi saksi, “Manusia ini zhalim!” Sungguh, telah tertutup semua pintu-pintu toleransi terhadap Gusdur. Dia telah mengambil seluruh hak-haknya dari kemurahan Islam. Tidak ada yang mengingkari Gusdur, selain dia berada di atas kebenaran. Tidak ada yang membela Gusdur, selain dia di atas kebathilan. Orang yang ragu-ragu, kelak akan dijadikan alasan oleh Gusdur untuk membela dirinya, di hadapan Allah nanti. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Akhirnya, ditutup risalah ini dengan sebuah doa yang kerap dipanjatkan para pejuang Islam, kepada Rabb-nya, Al ‘Alim Al Mujib. “Rabbanaghfirlana dzunubana, wa israfana fi amrina, wa tsab-bit aqdamana, wanshurna ‘alal qaumil kafirin” (wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan sikap kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, teguhkanlah kedudukan kami, dan tolonglah kami atas kaum yang kafir). Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Bumi Pasundan, menjelang akhir Syawal 1431 H.

Abu Muhammad bin Boeang.

Iklan

7 Responses to Mengetuk Hati Ummat…

  1. Irhab berkata:

    Untuk Referensi tambahan silakan merujuk pada web kami: http://www.lintastanzhim.wordpress.com . Syukran

  2. Ferli berkata:

    Pak AMW, mata saya sampai tergenang …

  3. Uni Milda berkata:

    Ya Allah tolong ampuni kami,…dan beri kami petunjuk,.Aamiin…

  4. Coco prast berkata:

    Asslm wr wb……

    Menurut saya terkadang qt umat muslim memang lebay ,dlm hal memuja ketokohan seseorang,smga artikel ini dpt menyadarkan kita smua amiin,,,,

    wassalam

  5. fauzan berkata:

    MUBAHALAH = wujud kepedulian Ulama/Pemimpin atas keselamatan Ummat dari berbagai fitnah.

    di indonesia..
    1. menemukan Ulama yang benar2 peduli keselamatan umat di dunia dan di akherat = sulit minta ampun

    2. menemukan ‘ulama’ yang hanya peduli diri sendiri + ngelawak + terima amplop = mudah

    astaugfirulloh… astaugfirulloh…

    ————————————————-
    Abu Bakar Ba’asyir Mengatakan Gus Dur itu Murtad

    Akhir-akhir ini media masih ramai dengan pemberitaan mengenai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sudah hampir seminggu mantan presiden dari Jombang tersebut meninggal, namun berita mengenai pendukungnya, kewaliannya dan kepluralismeannya masih ramai di media. Bahkan wacana pengangkatan Gus Dur sebagai pahlawan nasional juga sudah ramai diberitakan.

    Sedang menurut ustad Abu Bakar Ba’asyir, Mr Dur begitu ustad Abu menyebutnya, adalah orang yang murtad dari Islam. Hal ini disampaikan beliau dalam kajian hari Ahad 3 Januari 2009, di Masjid Romadhon Bekasi. Beliau berkali-kali ditanya oleh jamaah pengajian mengenai orang-orang yang mengkultuskan Abdurrahman Wahid ini.

    “Maaf, saya tidak memanggil Gus, karena panggilan Gus itu hanya digunakan untuk anak kyai mulia di Jawa Timur”, kata ustad Abu. Ustad Abu mengatakan, “Jadi, mengenai mister Dur, menurut keyakinan saya Mr Dur ini murtad karena dia telah mengatakan semua agama sama , padahal Allah mengatakan Innaddina ‘indallahil Islam, belum lagi perkataan dia soal qur’an porno, dan pluralisme. Orang yang berfaham pluralisme itu murtad karena pluralisme itu menganggap bahwasanya jika kita hidup bersama-sama, kita tidak boleh menggunakan syariat Islam”.

    Orang Islam itu pada jaman nabi juga pluralitas, tapi bagaimana mengaturnya? beliau menjelaskan, “yang berlaku harus hukum Islam, orang kafir boleh hidup dibawahnya, hukum islam yang urusannya ritual berlaku hanya untuk orang Islam saja, orang kafir tidak, tapi hukum Islam yang urusannya untuk peraturan umum berlaku untuk semua, begitulah Islam”.

    Jadi menurut ustad Abu, orang yang berfaham pluralisme itu juga murtad, apalagi faham demokrasi. “Maka insya Allah pendapat saya, keyakinan saya Mr Dur itu murtad, tapi saya tidak memaksa orang berkata begitu. Itu insya Allah berdasarkan dalil-dalil yang kuat dan saya siap diskusi dengan tokoh NU, kyai atau siapa saja, saya tantang diskusi untuk persoalan ini, kalau perlu mubahalah”, tandas ustad Abu Ahad kemarin di masjid Romadhon Bekasi.

    ————————————————
    Tantangan Mubahalah untuk Ahmad Syafii Maarif dan Gus Dur

    Hal: Surat terbuka, tantangan mubahalah

    Kepada Yth.
    Bapak Ahmad Syafii Maarif dan
    Bapak Gus Dur (Abdurrahman Wahid)
    di mana saja berada

    Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk (Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya).

    Setelah saya memahami fatwa-fatwa tentang kafirnya Ahmadiyah (Qadyan dan Lahore) yang dikeluarkan oleh Mujamma’ Al-Fiqh Al-Islami –lembaga OKI Organisasi Konferensi Islam–, Rabithah Alam Islami, dan MUI (Majelis Ulama Indonesia), namun di Indonesia ada manusia-manusia yang terang-terangan membela Ahmadiyah, di antaranya Bapak Ahmad Syafii Maarif mantan Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, dan Bapak Gus Dur (Abdurrahman Wahid) mantan Ketua Umum PB (Pengurus Besar) Nahdlatul Ulama; dan setelah fatwa-fatwa itu saya fahami bahwa Ahmadiyah itu menodai Islam, maka saya selaku seorang Muslim menantang mubahalah (do’a saling melaknat agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta) kepada Bapak Ahmad Syafii Maarif dan Bapak Gus Dur (Abdurrahman Wahid).

    Demikian surat terbuka lewat situs nahimunkar.com berupa tantangan mubahalah.

    Jakarta, Sabtu 14 Juni 2008M/ 9 Jumadil Akhir 1429H
    Hormat saya:
    Hartono Ahmad Jaiz

  6. abisyakir berkata:

    @ Fauzan…

    Ya, sejujurnya Ummat ini sudah amat sangat sepi dari sikap tegas, berani, dan patriotik seperti ulama-ulama ini. Gelar lulusan Timur Tengah, gelar S2, S3, tidak jaminan bahwa seseorang istiqamah di jalan Islam. Semoga Allahu Rabbi wa Rabbukum selalu merahmati Ummat ini, dengan terus memperpanjang kiprah para ulama dan pejuang Islam yang istiqamah di jalan-Nya. Allahumma amin.

    AMW.

  7. dyah_ummumaryam berkata:

    bismillaahirrohmaanirrohiim
    assalaamu’alaikuum
    sy iri dgn sikap keteguhan dan keberanian buka mulut dlm rangka amar ma’ruf nahi munkar,dlm mnjlnkn ajrn dlm surat al-ashr.smg smua muslim bs tegar dan teguh menentang kebathilan,amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: