13 Kelebihan WTS Atas Wartawan Media…

Kalau Anda ditanya, “Mana yang lebih mulia, menjadi wartawan atau pelacur?” Secara tradisional, kita akan mengatakan wartawan lebih mulia dari pelacur (WTS atau kini banyak disebut PSK).

Tetapi seiring perubahan zaman, perubahan kondisi, kenyataan pun berubah. Kalau Anda kritis dan jeli, Anda akan menyaksikan bahwa para pelacur (WTS) itu saat ini memiliki sekian kelebihan ketimbang para waartawan, khususnya wartawan media-media TV.

Kalau dikaji secara serius, sungguh kita akan terkejut. Ternyata, banyak wartawan yang lebih hina, lebih rendah, lebih menjijikkan ketimbang para pelacur yang kerap diistilahkan sebagai “pelayan cinta” itu. Kok bisa begitu ya? Tentu ada alasan-alasannya.

Opera Sabun Si Ariel: Disebar-luaskan oleh Media-media TV. Itu Fakta!!!

Minimal ada 10 kelebihan kaum WTS daripada kaum wartawan. Kelebihan ini bukan karena pekerjaan menjadi tukang zina menjadi mulia. Bukan sama sekali. Pekerjaan melacur tetap hina, haram, dan sangat keji. Tetapi kelebihan WTS ini muncul, karena derajat kaum wartawan itu terjun bebas gak karu-karuan. Dulu mereka dipandang mulia, dipandang berharga. Kini jauh lebih hina daripada kaum WTS.

Tapi kehancuran moral kaum wartawan ini tidak tertuju ke wartawan-wartawan media Islam yang selalu istiqamah membela al haq, komitmen dengan Syariat Islam, komitmen membela Ummat dan kaum dhuafa’. Mereka bukan yang dituju oleh tulisan ini. Wartawan yang dimaksud ialah wartawan sekuler, wartawan anti moral, wartawan keji perusak kehidupan masyarakat dan bangsa.

Di bawah ini alasan-alasan yang bisa menjelaskan mengapa dalam kondisi saat ini, kaum WTS memiliki kedudukan lebih mulia daripada wartawan amoral. Tanpa menghilangkan status pelacuran itu sebagai perbuatan zina, keji, dan munkar di sisi Allah Ta’ala.

[1] Wanita WTS ketika berbuat zina, dia akan merusak dirinya, merusak pasangan zinanya, dan merusak orang-orang di sekitar mereka berdua. Kerusakan itu bersifat lokal. Tetapi kalau wartawan berdusta di media, memfitnah di media, akibatnya merusak kehidupan seluruh masyarakat, bahkan merusak dunia. Bahkan bisa mewariskan kerusakan ke generasi-generasi selanjutnya.

[2] Kaum WTS ketika berbuat dosa, dia sadar sedang berbuat dosa. Sekali waktu mereka menyesal, ingin taubat dari pekerjaan keji itu. Tetapi kaum wartawan, meskipun kerjanya memfitnah manusia, membohongi masyarakat, merusak akal generasi muda, mereka tidak pernah menyesal dengan pekerjaannya. Malah berbangga lagi! Sudah berbangga, bergaya lagi. Mereka tak jarang berlagak seperti selebritis.

[3] Kaum WTS sebenarnya tidak mau bekerja seperti itu. Hati mereka mengakui semua itu salah. Tetapi karena desakan ekonomi, mereka terpaksa bekerja kotor, menjual kehormatan diri. Berbeda dengan wartawan. Mereka masuk dunia media busuk dengan penuh kesadaran. Mereka banyak tahu informasi, terpelajar, luas wawasan, paham mana yang salah, mana yang benar; bahkan banyak dari mereka berkecukupan; tetapi tetap saja mereka memproduksi berita-berita sampah, memproduksi fitnah, menghancurkan kehidupan rakyat, melemahkan kehidupan bangsa.

[4] Para WTS meskipun menjalani profesi yang kotor, mereka berani mengaku diri sebagai pelacur. Tidak jarang mereka terang-terangan merayu laki-laki. Meskipun perempuan, mereka berani gentle mengakui profesi dirinya. Jarang WTS yang mengingkari profesinya. Tetapi para wartawan itu, sudah jelas-jelas merusak masyarakat, menghancurkan moral, menyebar fitnah, menyebar kesesatan, dan seterusnya. Tetapi secara munafik, mereka mengklaim dirinya tetap suci, bersih, tanpa noda. Allahu Akbar. Betapa betapa sangat munafiknya orang-orang itu. Kalau membaca tulisan/isi media seperti “tajuk”, “editorial”, dll. sangat tampak, seolah mereka Malaikat yang suci dari dosa sama sekali. Padahal sejatinya, mereka bobrok dan munafik.

[5] Para WTS mencari makan paling untuk diri dan keluarganya. Atau paling untuk biaya kuliah, untuk biaya kost, untuk pergi ke salon, dll. Jadi untuk keperluan hajat primer atau hajat kewanitaan. Tetapi kaum wartawan, mereka bekerja menyebarkan kezhaliman, kerusakan, kebobrokan moral; demi melayani kapitalisme, demi melayani konglomerat hitam, demi melayani regim korup, demi melayani pejabat korup, dll. Jadi pekerjaan WTS itu bahayanya tidak lebih besar daripada pekerjaan wartawan perusak moral.

[6] Sekuat-kuatnya seorang WTS, dalam sehari paling hanya mampu melayani beberapa laki-laki hidung belang. Kekuatan mereka sebagai manusia, pastilah terbatas. Tetapi para wartawan itu, siang-malam, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30-31 hari sebulan, non stop terus merusak kehidupan masyarakat. Mereka tidak ada hentinya menyebarkan kebingungan, analisa palsu, opini bermuatan dendam, mengadu-domba, memfitnah, dll. Kalau tidak melalui koran, melalui TV, atau melalui internet, melalui radio, dan seterusnya.

[7] Kaum WTS, meskipun sudah terjerumus profesi keji, bila ada yang menolongnya keluar dari lembah hitam itu, mereka mau bertaubat, mau berubah. Adapun wartawan, meskipun sudah sering diingatkan, sudah sering dikritik, sudah sering dikecam, sudah sering didemo, diboikot, dan seterusnya. Tetap saja mereka tak bergeming. Susah sekali berubah dari tabiat dan kelakuannya dalam berbohong, memfitnah, menyebarkan opini sesat, merusak moralitas, dan seterusnya.

[8] Kaum WTS biasanya dari kampung, berpendidikan rendah, pengetahuan kurang. Malah kerap mereka masuk ke dunia hitam itu karena terjebak sindikat kotor.  Tetapi kaum wartawan itu keadaan mereka jauh lebih baik, lebih mapan, lebih berpendidikan. Minimal dia sarjana, mungkin master, bahasa Inggris fasih, orang kota, terpelajar, lingkup pergaulan mendunia, dan seterusnya. Tetapi ya itu tadi, mereka mencari makan dengan cara menyebar kebohongan, fitnah, opini sesat, kerusakan moral, dan lain-lain.

[9] Seorang WTS dalam berprofesi masih mengenal “kode etik”. Kalau ada temannya mendapat laki-laki hidung belang, dia tak akan merebut “klien” itu. Seakan di antara mereka sudah sama-sama memahami. Tetapi wartawan, demi mencari berita heboh, demi mencari sumber “paling terpercaya”, demi menyajikan “berita terdepan”, demi menjadi “nomor satu”, mereka sangat sering bersaing tidak sehat. Satu media kadang menghantam media lain, satu wartawan memusuhi wartawan lain. Kode etik jurnalistik ada, tetapi entah diikemanakan itu?

[10] Seorang WTS, kalau sudah melaksanakan tugasnya, dia akan mendapat upah. Begitulah mekanisme “bisnis” mereka. Tetapi wartawan, meskipun sudah mendapat iklan, mendapat penjualan produk media, mendapat sponsor, mendapat popularitas, mendapat posisi politik, mendapat pengaruh sosial, dll. mereka tidak puas juga. Mereka akan terus merusak dan merusak masyarakat dengan kebohongan, kecurangan, fitnah, opini sesat, dll. Mereka tidak akan pernah berhenti membuat kerusakan, sampai dirinya mati. Kalau mati, media mereka akan mengelu-elukan dirinya sebagai “sosok pahlawan”. Bwah…geuleuh!

[11] Kaum WTS enggan menipu “klien” mereka. Khawatir “rizki” mereka nanti rusak karena sikap seperti itu. Tapi wartawan media, mereka tidak ragu-ragu untuk menghancurkan obyek beritanya, melakukan pembunuhan karakter, merusak masa depan anak-anak, bahkan merusak usaha bisnis orang-orang kecil. Mereka berlaku seperti “bandit” di balik meja redaksi. Lihatlah bagaimana cara media dalam menghancurkan keluarga-keluarga yang mereka sebut teroris!

[12] Kaum WTS mengaku dirinya kotor, dirinya salah. Mereka akan mengatakan ke wartawan, “Anda enak Mas, jadi wartawan. Profesi Anda baik dan mulia.” Tetapi para wartawan itu, tak satu pun yang berani menulis atau menayangkan di media-medianya, suatu materi bertema, “Pelacuran itu baik.” Mereka tidak akan mengatakan demikian. Tetapi banyak dari wartawan-wartawan itu yang memakai jasa pelacur, terjerumus seks bebas, terjerumus perselingkuhan, dll. Menyebut pelacuran buruk, tetapi jasanya dipakai juga. Setidaknya, mereka kerap menjadikan materi pornografi sebagai alat untuk mengeruk untung (profit). Lihat iklan-iklan di TV, mulai iklan sabun, sampo, kosmetik, alat fitness, kondom, obat kuat, dll.

[13] Selama ini Indonesia tidak hancur karena fenomena pelacuran. Meskipun dampak pelacuran itu sangat besar bagi keburukan masyarakat. Tetapi hancurnya Indonesia selama ini ialah karena kaum wartawan munafik ini. Merekalah perusak bangsa, perusak NKRI, perusak kehidupan Ummat!

Dulu, kaum wartawan lebih mulia daraipada WTS. Mereka dulu berperan: mencerahkan akal masyarakat, membela kebenaran, menegakkan keadilan, melawan kezhaliman, melindungi yang lemah, dll. Pokoknya serba mulia. Maka itu mereka digelari julukan “kuli tinta”, atau orang yang banyak bergelut dengan ilmu.

Tetapi wartawan di masa kini amat sangat hina derajatnya. Mereka menjadi makelar kapitalisme, makelar kezhaliman regim, makelar mafia hukum, makelar bisnis asing, makelar imperialisme, dll. Bahaya mereka jauh lebih mengerikan daripada bahaya kaum wanita WTS. Meskipun tidak berarti kita mentoleransi wanita-wanita WTS itu. Tidak sama sekali. Islam selamanya mengharamkan zina, dan melaknati tukang zina.

TERORISME: Media Menjadi “Humas” Polri. Nothing About “Both Side Cover”.

Lalu bagaimana hukumnya menjadi wartawan?

Lihat dulu medianya. Kalau medianya baik, lurus, menyebarkan manfaat, wawasan, pencerahan, dan kebajikan untuk masyarakat; hukumnya HALAL dan THAIYIB. Tetapi kalau medianya merusak, memfitnah, menyebarkan fitnah, kebohongan, merusak moral masyarakat, merusak bangsa, melemahkan negara; ya jelas hukumnya, yaitu: HARAM. Haramnya merusak akal dan ilmu pengetahuan lebih berat ketimbang haramnya perbuatan pidana biasa, sebab yang dirusak disana adalah akal, kesadaran, dan kehidupan masyarakat luas.

Ingat wartawan amoral…ingat WTS. Ternyata, WTS masih lebih baik daripada mereka. Dengan tidak menghilangkan status pekerjaan WTS itu sebagai profesi yang hina, keji, dan dimurkai Allah dan Rasul-Nya.

Semoga bermanfaat dan mencerahkan. Allahumma amin.

(Ayah Syakir).

Iklan

25 Responses to 13 Kelebihan WTS Atas Wartawan Media…

  1. hijau berkata:

    mantabs kang…

  2. Goda-Gado berkata:

    heheheh
    kaya kata2nya Luna Maya di twitter bhw “Wartawan (infotainment) lbh buruk derajatnya dr pelacur.”

    setelah dianalisa2, ternyata bener juga ya…

  3. wongcilik berkata:

    Menyalin dari situs tetangga :

    ====================================

    Belakangan ini banyak sekali isu SARA mengemuka. SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan) adalah hal-hal yang dianggap tabu diberitakan di jaman pemerintahan Soeharto. Itu sebabnya, kesannya jaman Orde Baru lebih tenteram dan aman dibanding pasca-Orba. Bila kita ingat awal-awal pasca-Orba, banyak peristiwa konflik dan kerusuhan terjadi di Indonesia; mulai dari GAM vs TNI, Islam vs Kristen di Maluku dan Poso, Dayak vs Melayu vs Madura di Kalimantan, separatisme di Papua, dsb. Orang kemudian melamun: “Jaman Soeharto gak ada kerusuhan semacam ini.”

    Sebetulnya bukan tidak ada, tetapi tidak diberitakan. Kerusuhan masyarakat anti-China di Surabaya yang dipicu insiden kekerasan terhadap PRT, diredam oleh imbauan Bakortanasda/Pangdam. Juga kerusuhan di wilayah tapal kuda –pembakaran gereja-gereja- tak boleh diberitakan. Kalau ada petrus (penjahat yang ditembak mati oleh aparat), tidak diberitakan. Bandingkan dengan sekarang: orang yang masih disangka teroris (belum tentu pelaku kejahatan) sudah ditembak aparat di depan moncong kamera. Beritanya disiarkan ke seluruh Indonesia. Rakyat menyaksikan. Rakyat menjadi miris: betapa kacau balaunya negeri kita ini. Bahkan tetangga kita yang kita sangka orang baik-baik, ternyata “teroris”.

    Jadi, jaman Soeharto bukan berarti aman tanpa kerusuhan, melainkan ada batasan pemberitaan. Di jaman SBY sekarang, bukan berarti negeri tidak aman, tetapi bahkan dan justru diciptakan/dikesankan seolah-olah negeri selalu dalam keadaan darurat dan kacau balau. Mirip sinetron. Perburuan terorisme yang mestinya pekerjaan intelijen, diumbar ke awak stasiun televisi dan diliput langsung selama belasan jam. Penangkapan tersangka penjahat dibarengi awak liputan dengan kamera dan lighting yang pasti dipasang sedemikian rupa sehingga gambarnya tidak goyang dan tidak kabur. Sang lakon, Presiden SBY sendiri, beberapa kali pidato di depan publik mengasihani diri sendiri, menjadikan diri target/sasaran korban, bahkan mengeluh. Polisi lebih mudah menangkap ustadz sepuh seperti Baasyir daripada para perampok bersenjata yang secara beruntun merampok di Medan, Jakarta, Klaten, dan kota-kota lain. Betapa ruwetnya memang negeri ini.

    Seharusnya, di sinilah peran media massa kita. Sebagai pilar keempat, media mestinya menyeimbangkan dan meluruskan keadaan yang njomplang. Kalau para pejabat eksekutif (pemerintahan) sudah main mata dengan pejabat legislatif (DPR) dan pejabat yudikatif (kehakiman), satu-satunya harapan adalah media massa. Bila media massa sudah terbeli, perannya akan diambil alih oleh pilar kelima, yaitu para blogger, twitter dan face-booker. Sejuta tandatangan anti penahanan Bibit dan Candra (Ketua KPK) berhasil. Demikian juga gerakan Koin untuk Prita yang membela korban UU ITE, berhasil. Media massa akan kehilangan pengaruhnya, bila tidak konsisten pada perjuangannya mengungkap kebenaran. Kasus Antasari Azhar, Bank Century, Susno vs Gayus (makelar kasus), Mirandagate, dll, harus terus dicari ujungnya.

    Kebenaran memang belum tentu terungkap oleh pekerjaan jurnalistik. Namun proses kearah sana harus terus dilakukan. Dalam kasus konflik SARA belakangan ini, misalnya, media massa cenderung semakin memanas-manasi –dengan memilih narasumber yang tidak berwawasan damai- atau membiarkan persoalan berlarut-larut –dengan tidak menggali ke akar persoalan.

    Pada pemberitaan tentang jemaat HKBP vs warga Ciketing, Bekasi, misalnya, media massa bahkan memilih judul yang provokatif. Judul headline suratkabar maupun keterangan di layar televisi berbunyi: “kebebasan beragama terancam” atau “umat HKBP dilarang beribadah”. Padahal, di Indonesia jelas tidak ada larangan beribadah dan kebebasan beragama tidak terancam. Persoalan di Ciketing, Bekasi, itu adalah persoalan cara dan tempat beribadah umat satu agama di wilayah/lingkungan umat agama lain. Lebih khusus lagi, persoalan ijin mendirikan bangunan. Persoalan yang seharusnya bersifat sosial dan ketatanegaraan, ditiupkan sebagai isu agama –SARA.

    Media akan menjalankan perannya dengan benar bila dapat mengungkapkan akar persoalan: benarkah umat HKBP tak boleh beribadah? Siapa yang melarang? Dasar larangannya apa? Bila bukan larangan beribadah, melainkan larangan membangun gereja, pertanyaannya: mengapa gereja dilarang dibangun di situ? Tentu ada penjelasan dari pihak pemerintah. Alasan-alasan inilah yang mestinya diungkap, agar masuk akal pemirsa/konsumen media dan tidak menyesatkan opini publik. Media bahkan sangat dianjurkan untuk memuat bunyi/isi SKB 2 Menteri (Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) yang menjadi dasar aturan pembangunan rumah peribadatan. Tanpa mengerti pasal hukumnya, wartawan secara sembarangan menentukan judul-judul sensasional: ada larangan beribadah, kebebasan beragama terancam.

    Ini sama dengan kasus Ahmadiyah. Mestinya media massa terus mendorong pihak-pihak yang kompeten dan berotoritas, misalnya perguruan tinggi keislaman dan pemerintah, untuk menyelenggarakan diskusi terbuka tentang identitas dan status Ahmadiyah. Keberatan kalangan muslim fundamentalis kan karena Ahmadiyah mengaku Islam, namun menerapkan banyak hal yang tidak islami. Akar persoalan yang perlu digali oleh media massa (dengan mewawancarai sumber-sumber yang valid dan kredibel) adalah: benarkah Ahmadiyah itu islam? Apakah Ahmadiyah menodai agama?

    Sayang, media massa lebih suka menampilkan narasumber yang berkonflik, yang belum tentu berkompeten dan berotoritas. Untuk menyuarakan Ahmadiyah, misalnya, narasumbernya dari Komnas HAM dan para LSM pembela HAM. Persoalannya kemudian dibelokkan pada persoalan hak asasi manusia. Sama dengan kasus HKBP: persoalan digiring ke hak asasi manusia (dalam beribadah). Dua kasus yang amat berbeda akar persoalan dan berbeda latar belakang, oleh kalangan tertentu yang berkepentingan dan didukung media massa, digiring menjadi persoalan ancaman terhadap HAM di Indonesia.

    Di sinilah tantangan bagi media. Menurut catatan saya, mayoritas media di Indonesia menyajikan konflik SARA secara tidak lengkap, tidak menggali akar persoalan, hilang “why” (latar belakang)nya, dan bias pada suara minoritas elit (kalangan minoritas namun berada di kelas yang “powerful”). Mudah-mudahan kita, para konsumen media, lebih arif dalam memaknai informasi yag bersliweran di sekitar kita.

    September 2010

    Sirikit Syah

    =============================

    Terima kasih

    Semoga bermanfaat

  4. dian berkata:

    pelacur kejahatannya berzina tapi mereka tahu berdosa sedangkan wartawan yg memberitakan isu,ghibah,fitnah maka dosanya lebih besar lagi.

  5. abahguru berkata:

    Saya berprofesi sebagai Jurnalis (Wartawan)… Tapi jujur aja Ustadz… saya banyak setujunya dengan tulisan Usatdz di atas… Ya, semoga saya nggak termasuk wartawan yang lebih hina dari pelacur itu… Amin

  6. abisyakir berkata:

    @ Abahguru…

    Amin Allahumma amin. Ya Akhi, semoga Antum dan wartawan2 Muslim lain yang ikut dalam media umum, selalu konsisten. Amin Allahumma amin. Maklum, dunia saat ini penuh dengan fitnah. Hal2 yang benar didustakan, hal-hal yang salah dibenarkan; orang yang khianat dipercaya, orang yang terpercaya malah dikhianati. Dunia ini sedang sakit dan penuh kontradiksi. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum jami’an. Amin.

    AMW.

  7. hari berkata:

    A’udzubillahi minassyaithon nirrojim..

    Saya seorang Jurnalis. Sudah barang tentu tidak sepakat akan hal demikian. Saya mencoba membolak-balik buku. Tidak satupun ada kalimat Nabi Muhammad SAW bersabda: “Pelacur lebih unggul ketimbang Wartawan”.

    Pelacur, jelas berkaitan dengan perzinahan. Hukumnya pasti. Haram. Wartawan? Mungkin muarah yang lebih dekat pada bagian dari cabang Sabda Nabi Muhammad SAW tentang “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Ini penafsiran saya. Mungkin benar. Mungkin salah.

    Kalau benar, alangkah eloknya jika kerangka berpikir tulisan mengupas tuntas cabang-cabang, ranting-ranting, dan unsur-unsur bahwa “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Sehingga kesimpulan akhirnya nyambung pada satu simpul bahwa “Pelacur lebih unggul ketimbang Wartawan”.

    Harus saya katakan, saya hanya bagian kecil dari perusahaan media. Saya tidak bisa berkata apa-apa kalau tiba-tiba mendapat penugasan. Entah itu pesanan atau murni. Pernah memang saya melakukan pemberontakan. Tapi ya itu, saya tidak memperoleh dukungan.

    Keluar dari Media? Pernah saya lakukan. Bekerja di tempat lain. Menjadi karyawan. Tapi, 2 tahun kemudian balik lagi menjadi wartawan (di media sama). Jadinya bekerja di 2 tempat, karyawan dan wartawan. Mungkin ini sudah garis tangan saya.

    Namun justru diposisi inilah saya amat-amat bersyukur dan memperoleh banyak pelajaran. Menjadi paham dan mengerti bagaimana dan pada siapa saya harus bertanya, layak ataukah tidak, dan bagaimana dampak ke depannya.

    Kadang saya bertanya dalam hati, “Apa tanggung jawab pers kalau narasumber, yang setelah di interview, ternyata malah di PHK? Apakah hanya permintaan maaf saja (dengan cara memuat hak jawab yang hanya beberapa alenea)? Apakah hal demikian mengembalikan posisinya bisa balik lagi tidak di PHK?”

    Ini hampir sama dengan kasus ketika saya pesan barang yang dijanjikan datang jam 8 tapi molor. Terus si sales hanya minta maaf. Saya akan jawab, “Saya terima maaf Sampeyan. Tapi saya sudah kena marah bos. Dan tidak mungkin permintaan maaf Sampeyan menelan balik marah bos”.

    Memang benar, banyak media sekarang yang kurang berimbang dalam pemberitaan. Menjadi wajar kalau lalu timbul fitnah mengingat berita yang disampaikan tidak lengkap. Ada yang dikurangi. Ditambahi. Di besar-besarkan. Bahkan ada salah seorang kawan, ketika menulis dengan emosi dia berucap, “Oh…, tak samblek koen!!”. Ini, tentu lebih kejam dari pada pembunuhan.

    Karena itulah, saya tidak membaca dan langganan koran. Tidak menonton TV. Meskipun saya wartawan. Kalaupun dalam keadaan tertentu punya keinginan membaca atau menonton, saya berikan tingkat kepercayaan hanya 30%. 70%-nya tidak percaya.

    Mengapa? Pertama, di dalam penilitian saja, ada tingkat kepercayaan yang nilainya tidak 100%. Apalagi berita, yang dari sisi akademik kurang bisa dipertanggungjawabkan. Kedua, media dibatasi oleh ruang. Media cetak, oleh halaman. Elektronik, oleh mata kamera.

    Kamera misalnya. Bisa saja menampilkan wajah cantik seorang gadis. Di zoom bagian-bagian dari unsur kecantikan wajah sehingga tercipta persepsi kecantikan dan keindahan. Tapi bagaimana dengan bagian tubuh lain. Karena hanya menyajikan kecantikan wajah (mengingat keterbatasan jam tayang), kaki (misalnya) tidak di tayangkan. Padahal kakinya patah.

    Kesalahan kita adalah menyamakan realitas media dengan realitas riil. Padahal, itu jelas-jelas berbeda. Di TV bisa cepat kaya, bisa cepat miskin. Bisa cepat alim. Bisa cepat mursal. 10 tahun dapat diringkas hanya dalam setengah detik.

    Sampai titik inilah, saya lebih sepakat dengan gerakan anti baca koran dan nonton TV. Akan lebih nyaman, kalau waktu senggang pagi hari kita gunakan untuk membaca ke Al Qur’an, Tafsir dan Hadist. Sehingga benar-benar menjadi Garis Besar Haluan Hidup Muslim. Karena disitulah kebenaran mutlak telah ditasbihkan.

    Wu’allahu alam.

  8. demokrasibusuk berkata:

    sy jg pernah jd wartwan ecek2, tp kesan yg timbul dr audien adlah markus, amplop dll. g kuat bye deh jd pers. tp yg perlu di teliti siapa di balik media-media itu. bisa jd mereka dikendalikan oleh pr oportunis dg pemahaman buta yg mempertuhankan demokrasi, yg tidak suka dengan Islam.

  9. abisyakir berkata:

    @ Mas Hari….

    Syukran jazakumullah khair Mas atas masukannya. Apapun yang Anda sampaikan, layak diapresiasi.

    Seperti saya sebut dalam tulisan itu, pada mulanya profesi wartawan mulia, tetapi kemudian diselewengkan untuk tujuan2 yang merusak kehidupan Ummat. Ini seperti profesi polisi, TNI, anggota Dewan, bahkan presiden sekalipun. Pada awalnya, profesi2 itu baik, tetapi manakala dipakai untuk tujuan2 rusak, ia sangat berbahaya, sebab kekuatan asli profesi itu lebih kuat dari kekuatan pelacuran (maaf).

    Jadi kita bicara soal “man behind the gun”. Ketiga gun dipakai untuk tujuan rusak, tentu saja akan sangat banyak kerugian menimpa masyarakat luas. Profesi yang semula mulia, akhirnya menjadi hina, bahkan lebih berbahaya ketimbang “profesi” wanita nakal. Semoga bisa dipahami. Terimakasih.

    AMW.

  10. […] Untuk lebih jelas melihat posisi kaum wartawan media-media sekuler, silakan baca tulisan ini: 13 Kelebihan WTS Atas Wartawan Media. Tulisan semacam ini perlu, agar menjadi kritik bagi media-media perusak akal […]

  11. Abu Nawas berkata:

    semuanya berdosa….termasuk yang membelanya….. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Qs:Al-Ahzab:36)

  12. Zaini Zhey berkata:

    Bener juga kalo sudah dianalisa… Mantab…

  13. Ady berkata:

    Smua kembali pada diri masing2

  14. Ady berkata:

    Smua profesi ada sisi baik dan buruknya. Bagaimana kita menilai, terlebih jika yg menilainya tidak objektif maka hasilnya tidak akan positif. Seperti anda menilai wartawan seperti itu, scara psikologi anda memiliki sikap sentimen trhadap jurnalis.
    Bahkan bisa jadi anda lbih buruk daripada pelacur dan wartawan. Intinya segala sesuatu ada sisi baik dan buruk, itu sudah menjadi hukum alam.

  15. wahyugondrong berkata:

    Ojok macem2 nek nulis yo engko isok2 urusan karo q lho awakmu,,,,,,,n,,,n,,,,,,n,n,,,,,,,,n,,,,

  16. abisyakir berkata:

    @ Wahyugondrong…

    Lho, komentar Anda ini ancaman ya? Anda bermaksud mengancam? Kan dalam Al Qur’an disebutkan: Wallahu ahaqqu an tahsyahu (Allah itu lebih berhak untuk kamu takut kepada-Nya).

    Admin.

  17. GIRI SANTOSA berkata:

    SEMUA KEMBALI KE ORANGNYA MAS BRO DI ISLAM SEMUANYA BAIK TAPI TINGGAL ORANGNYA CONTOH ADA KYAI YANG KORUPSI DAN DIA TAHU KALAU KORUPSI ITU DOSA DAN MENURUT ISLAM JUAL BELI JUGA ATAS KERELAAN MODAL BERAPA DI JUAL BERAPA ITU JELAS/ ADA KYAI YANG SELINGKUH ADA KYAI YANG MENIPU APA KITA AKAN SAMAKAN KYAI ITU LEBIH BAIK DARI WTS KHAN JELAS TIDAK BRO JADI SEMUA KEMBALI KE MANUSIANYA OK MAS BRO MAAF KALAU TERSINGGUNG DENGAN TULISAN INI//

  18. dihadapan Alloh semua manusia sama yang beda cuma iman dan taqwanya dan kita tidak tahu apa kita tiap hari sholat diterima sama yang kuasa belum tentu/ ingat wartawan juga pekerjaan dan ingat/ sampaikan terus terang walaupun itu pahit/ benar ya mas sekali lagi maaf kalau ada yang tersinggung

  19. abisyakir berkata:

    @ Giri Santosa…

    Maka itu Pak disini sudah disampaikan secara “terus terang” walaupun itu pahit. Intinya, Anda masih tidak bisa membantah 13 poin kelebihan WTS ketimbang wartawan (sekuler hedonis) itu.

    Admin.

  20. abisyakir berkata:

    @ Giri Santosa…

    Ya kita melihat fenomena yang umum saja; maka itu poin-poin yang disampaikan bisa sama-sama kita buktikan dalam kehidupan selama ini. Rata-rata wartawan (sekuler hedonis) kelakuannya buruk. Meskipun ada juga sisi-sisi baiknya tertentu.

    Admin.

  21. ahmad berkata:

    aku milih pelacur..karena lebih mempunyai otak & pikiran

  22. abisyakir berkata:

    @ Ahmad…

    Ya jangan pilih pelacur. Tapi pilih wanita baik-baik. Begitu to… 😉

    Admin.

  23. Inung Aja berkata:

    maaf sebelum..apa pun profesinya ada baik dan buruknya
    jangan lihat sisi negatif aja,,positifnya juga ..
    wartawan mencari berita yang akurat berdasarkan fakta dan narasumber yg ada,,kalau masalah gibah itu mngkin tergantung pandangan masing,,,,tidak ada manusia yang sempurna,,koreksi diri masing2,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: