Contoh Nyata Sikap Politisi Islami…

Tulisan ini hanya meng-kopi artikel yang dimuat oleh http://www.hidayatullah.com. Ini hanya kopian saja. Saya biarkan apa-adanya, dari sononya. Tulisan asli sebagai berikut: Menag Akan Segera Bubarkan Ahmadiyyah? Oh ya, artikel ini dimuat 12 Oktober 2010, jam 10.34 WIB. Selamat membaca!

MENAG AKAN SEGERA BUBARKAN AHMADIYYAH?

Hidayatullah.com—Rencana Menteri Agama  (Menag) Suryadharma Ali yang akan membubarkan  aliran Ahmadiyah, kembali disampaikan. Pernyataan ini ia sampaikan saat melepas keberangkatan calon jamaah haji asal Medan, Senin malam.

“Awalnya saya berprinsip dua alternatif, membiarkan atau membubarkan. Kedua-duanya pasti beresiko. Namun setelah melalui anjuran MUI, PBNU dan Muhammadiyah, kelompok Ahmadiyah harus dibubarkan di Indonesia,” kata  Menteri Agama, tadi malam saat melepas jamaah Kloter 1 asal Labuhan Batu, Medan.

Hanya lebih kurang 1,5 jam melepas jamaah, Menag akhirnya  bergegas balik ke Jakarta untuk menghadiri wisuda anaknya.

Menurut Menag, dirinya bukan benci keberagaman beragama, namun keberadaan Ahmadiyah tidak dapat dipertahankan lagi, bahkan menimbulkan risiko lebih besar pada masa-masa akan datang.

Kata Menag, kelompok Ahmadiyah diakuinya menganut ajaran Islam, namun  paham yang mereka anut bertentangan dengan agama Islam, sehingga merusak akidah.

“Kalau itu terus dibiarkan akan menambah dosa di kalangan umat Islam dan menambah konflik kalangan umat yang penduduknya berjumlah lebih 90 persen beragama Islam. Makanya harus dibubarkan,” ujarnya.

Menag menegaskan, orang boleh berkata macam-macam, namun kenyataannya  Ahmadiyah itu tidak benar, banyak menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan umat.

Kebebasan Beragama

Pernyataan Menag ini memang bukan yang pertama. Sebelumnya,  Suryadharma Ali menegaskan, jemaah Ahmadiyah harus membubarkan diri. Suryadharma beralasan, Ahmadiyah telah bertentangan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri.

“Harusnya  Ahmadiyah segera dibubarkan. Kalau tidak dibubarkan masalahnya  akan terus berkembang,” katanya  usai mengikuti  rapat gabungan di Gedung DPR, Senayan, Senin 30 Agustus 2010.

Selain itu, menurut Suryadharma Ali, dalam SKB dengan jelas dinyatakan, ajaran Ahmadiyah tak boleh disebarluaskan karena menyimpang dari Islam. Menurutnya, aliran Ahmadiyah menyebut,  al-Quran bukan kitab terakhir.

“Juga karena prinsip nabi Muhammad bukan Nabi terakhir, sangat bertentangan dengan agama Islam. Kalau itu yang dimaksud kebebasan beragama kebablasan namanya,” katanya.

Jika prinsip Ahmadiyah ini disebut kebebasan beragama, Suryadharma mempertanyakan, bagaimana dengan hak asasi umat lain yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad merupakan Nabi terakhir.

“Siapa yang melindungi hak asasi mereka. Karena dalam kebebasan itu harus ada prinsip menghormati kebebasan orang lain. Hak ini yang harus dilindungi ketika ada sekelompok orang yang mengatakan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir,” ujarnya. Mudah-mudahan gagasan Menag ini dapat segera dilaksanakan. [was/ti/hidayatullah.com].

Ini contoh sederhana sikap politisi Islami. Memang harus begitu, selalu bermuatan amar makruf nahi munkar. Bukan dijajah oleh konsep “maslahat dakwah”, lalu boleh menabrak apa saja dari bagian-bagian Syariat Islam ini.

Tentunya, kita tidak mengklaim seseorang telah bersikap lurus 100 % sesuai kaidah politik Islami. Tidak demikian. Tetapi kita mengapresiasi prestasi kebaikan-kebaikan yang nyata ada.

Dan ternyata, politisi-politisi Muslim produk lama, lebih banyak yang bersesuaian dengan Syariat Islam, daripada produk baru. Sangat disayangkan ya!

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan

2 Responses to Contoh Nyata Sikap Politisi Islami…

  1. Abu Nidal berkata:

    Mas AMW, siapa aja politisi-politisi Muslim produk lama ?

  2. abisyakir berkata:

    @ Abu Nidal…

    Politisi Muslim produk lama ya…

    Saat ini sudah sangat jarang. Kalau ada, sudah tidak aktif dalam percaturan politik. Atau sudah wafat. Dulu ada Bpk Hamzah Haz dari PPP, mantan Wakil Presiden di era Megawati. Ada Bpk Abdul Qadir Jailani, mantan tokoh senior PBB. Ada Bpk Hartono Mardjono (almarhum), Bpk Deliar Noer (almarhum), KH. Alawy Muhammad (almarhum, mantan tokoh PPP), Bpk Ismail Hasan Metareum, KH. Yusuf Hasyim, dll. Agak sulit kalau disebut satu per satu.

    Sebenarnya, Pak Suryadarma Ali itu termasuk generasi politisi baru, sejak era Reformasi 1998. Tetapi partai beliau PPP sudah ada sejak lama, dan pendirian politik beliau sekarang mirip dengan pendahulu-pendahulunya di PPP. PPP itu merupakan partai yang “berani kritis” sejak jaman Orde Baru. Maka itu, almarhum Buya Muhammad Natsir dari DDII, sekitar tahun 1991 mengajak kaum Muslimin Indonesia memilih PPP dalam Pemilu.

    Kalau produk baru semacam PKB, PAN, PKS, PBB Yusril, rata-rata tidak istiqamah, mudah tergoda oleh tawaran politik dari kekuasaan. Maklum, targetnya selalu posisi, kesejahteraan, dan popularitas. Harus diingat dengan baik, PPP adalah satu-satunya partai Islam yang sebelum Pemilu 2009 berani menjalin aliansi dengan Gerindra untuk memperjuangan ekonomi kerakyatan. Sayangnya, perolehan suara mereka tidak besar.

    Sejujurnya, saya masih lebih simpati kepada politisi-politisi lama yang istiqamah membela Ummat. Bukan “mata duitan”, sok pamer, dan haus kuasa. Terimakasih.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: