Keanehan Fenomena Bencana di Indonesia

Kalau Microsoft Inc. selalu mengeluarkan produk software Windows seri terbaru, sesuai dengan periode tahun keluarnya software tersebut. Kalau di Indonesia ada kenyataan yang sangat unik. Bangsa Indonesia setiap tahun seperti selalu mengeluarkan “seri bencana” terbaru. Untuk tahun 2010 ini saja sudah muncul serial bencana-bencana terbaru. Tipenya WASIOR 150P, kemudian MENTAWAI 600Ts, dan MERAPI 50MM.

[WASIOR 150 P, maksudnya banjir Wasior, dengan korban 150 orang terjadi di Papua. MENTAWAI 600Ts, maksudnya gempa bumi dan tsunami di Mentawai dengan korban sekitar 600 orang. Ts maksudnya, tsunami. Adapun MERAPI 50MM; 50 artinya korban meninggal mungkin mencapai 50 orang; MM artinya Mbah Maridjan].

Dikejar Awan Panas Debu Erupsi Gunung Merapi.

Ke depan diusulkan, pihak Departemen Sosial membuat serial-serial “merk bencana” itu. Selain untuk memudahkan identifikasi, juga siapa tahu “merk-merk” itu bisa diekspor ke negara-negara lain, seperti Bill Gates mengekspor produk Windows ke seluruh dunia. Kalau bangsa lain bangga dengan serial teknologi, kita bangga dengan serial bencana. Masya Allah, sangat ironis memang.

Dari kejadian bencana-bencana sepanjang tahun 2010 ini, ada catatan unik (aneh) yang layak kita renungkan. Antara lain sebagai berikut:

[1] Saat terjadi bencana banjir di Wasior Papua, banyak orang menyebut banjir itu seperti kejadian tsunami kecil. Dalam rekaman video amatir sangat terlihat air meluap menghanyutkan perkampungan di sudut teluk tersebut. Apakah ini tsunami? Bukan, meskipun posisi Wasior ada di tepi pantai. Itu bukan tsunami yang membawa air laut, karena tidak ada gempa atau apapun disana sebelum kejadian terjadi. Tsunami terjadi selalu didahului gempa tektonik di dasar lautan. Air banjir itu ternyata dari air sungai yang sangat desar, akibat hujan terus-menerus di lokasi itu. Sekilas lihat seperti tsunami, padahal dari banjir sungai biasa.

[2] Pada malam 25 Oktober 2010, Jakarta dilanda banjir di mana-mana. Jalan-jalan raya di Jakarta dikepung banjir setinggi lutut. Ribuan manusia mengeluh, stress, terjebak kemacetan, bahkan ada yang celaka, karena terperosok lubang, lalu terbawa banjir. Anehnya, keesokan harinya, air banjir itu sudah lenyap. Air yang semula menggenang dimana-mana, hanya dalam tempo cepat sudah lenyap. Padahala namanya banjir, biasanya akan selalu meninggalkan genangan sampai beberapa lama. Lagi pula, di daerah-daerah pantai utara Jakarta, tempat seharusnya air banjir itu bermuara, malah tidak terjadi banjir.

[3] Saat ini bangsa Indonesia mengeluh karena curah hujan sangat tinggi. Hampir setiap hari hujan, pagi, siang, sore, sampai malam. Tetapi uniknya, di Surabaya beberapa waktu lalu terjadi hawa panas menyengat. Suhu mencapai sekitar 40 derajat celcius. Bahkan di Riau terjadi kebakaran ribuan hektar hutan, sehingga asapnya terpaksa “diekspor” ke Singapura. Masyarakat Singapura sudah mengeluh dengan tebalnya asap itu. Satu sisi terjadi hujan sangat tinggi, sehingga ahli-ahli cuaca menyebutnya, gejala La Nina. Tetapi di sisi lain, terjadi bencana kekeringan yang amat sangat, sehingga ada kebakaran hutan di Riau.

[4] Saat terjadi gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, pihak BMKG sudah membuat release, bahwa setelah terjadi gempa berkekuatan 7,2 skala richter itu, ancaman tsunami sudah lewat. Ternyata, di Mentawai sendiri benar-benar terjadi tsunami. sekitar 100 orang ditemukan tewas, 500 lainnya masih hilang. Informasi dari BMKG itu bisa menipu banyak manusia, baik rakyat, pemerintah, atau badan-badan bantuan kemanusiaan.

[5] Sebelum Gunung Merapi meletus, masyarakat sekitar gunung susah sekali untuk diungsikan. Mereka selalu beralasan, harus bekerja agar anak-isteri terus makan. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Tetapi karena memang, Gunung Merapi itu selama ini dikenal “ramah”. Gunung Merapi memang aktif sekali, tetapi abu vulkaniknya membawa banyak manfaat bagi kehidupan pertanian warga sekitar lereng Merapi. Karena itu masyarakat tenang-tenang saja. “Paling juga nanti berhenti,” begitu logika mereka. Namun saat Merapi benar-benar meletus, banyak warga tercengang. Dari puncak Merapi sampai jarak sekitar 5 km, wilayah yang tersapu “wedhus gembel” itu sangat mengerikan. Semuanya memutih, tanpa kehidupan. Jangankan manusia dan hewan, tanam-tanaman saja mati seketika. Betapa tidak, semua itu tersapu hawa-material panas dengan suhu minimal 600 derajat celcius. (Sebagai perbandingan, titik leleh baja 1000 derajat celcius. Titik leleh aluminium sekitar 500 derajat celcius). Saya yakin, setelah kejadian ini, tidak akan ada lagi warga lereng Merapi yang “sok berani” menghadapi gunung itu.

[6] Tahun 2009 lalu SBY dan Demokrat mengklaim sukses membangun pertanian, dengan klaim Indonesia telah mencapai swasembawa beras. Menteri Pertanian, Anton Apriantono dan PKS juga mengklaim hal yang sama. Lalu ada yang mengingatkan, bahwa swasembada itu terjadi semata-mata karena cuaca/iklim yang mendukung. Benar saja, ketika cuaca tidak bersahabat seperti saat ini, dengan hujan terus-menerus tanpa henti, akhirnya Menteri Pertanian Soewarno “menyerah kalah”. Dia lalu melakukan kampanye “One Day No Rice” (satu hari tanpa makan nasi). Mengapa beliau tidak mengklaim swasemba beras seperti pendahulunya?

Negeri Indonesia dengan segala macam bencana ini, sebenarnya sudah aneh. Sebab negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Timor Leste, Australia, dll. buktinya baik-baik saja. Ya memang mereka menghadapi bencana, tetapi tidak RUTINITAS seperti negeri kita ini.

Itu saja sudah aneh. Apalagi, perilaku bencana itu sendiri juga aneh. Mula-mula di ujung Timur, lalu pindah ke ujung Barat, lalu pindah ke Tengah, dan seterusnya. Seolah, semua tempat “dapat jatah giliran” masing-masing.

Seperti yang sudah kita katakan berulang-ulang kali disini. Posisi seorang pemimpin, sangat besar artinya bagi rakyatnya. Kalau jiwa pemimpin itu culas, curang, tega hati, dan khianat; alamat nasib rakyatnya akan sengsara. Kalau jiwa pemimpin itu lembut, empati, peduli dengan nasib orang lemah, tulus, dan memegang amanah secara teguh; insya Allah nasib rakyatnya juga akan sentosa, aman, dan sejahtera.

Dan SISTEM DEMOKRASI LIBERAL tidak akan pernah melahirkan pemimpin seperti itu. Demokrasi liberal hanya akan melahirkan tipe-tipe pemimpin materialis, industrialis, minim empati manusiawi. Catat itu!

Semoga bangsa ini mau belajar; dan tak henti-hentinya kita menghimbau bangsa Indonesia supaya mau belajar; dengan tidak menghiraukan lagi apakah himbauan seperti ini ada artinya atau tidak.

Allahumma rabbana, faghfirlana dzububana warhamna wa’fu anna, Anta Maulana ni’mal Maula wa ni’man Nashir. Amin ya Mujibas sa’ilin.

AM. Waskito.

Iklan

22 Responses to Keanehan Fenomena Bencana di Indonesia

  1. […] Keanehan Fenomena Bencana di Indonesia « Pustaka LANGIT BIRU […]

  2. Grandong berkata:

    Ikut berduka terhadap korban bencana Wasior, Mentawai dan Merapi.

    1. Saya warga asal lereng Merapi. Berkeberatan dengan frasa Anda ‘sok berani’. Seakan-akan posisi kami terhadap Merapi adalah posisi berhadap-hadapan. Kami tidak pernah menantangnya. Tidak ada kamus ‘berani’ terhadap Merapi, ataupun ‘takut’ terhadapnya. Merapi itu sahabat dan teman hidup kami sehari-hari.

    2. Mungkin Anda perlu tahu definisi swasembada beras agar logika Anda tidak kelihatan lucu. Swasembada beras adalah kondisi jika kita mampu memenuhi 90% kebutuhan beras nasional. Pada tahun 2008 produksi beras nasional kita 35,26 juta ton beras, sedangkan konsumsinya diperkirakan 32 juta ton. Dus, tidak sekadar memenuhi kriteria 90% itu, tapi bahkan surplus. Pada masa Mentan Anton kondisi itu tercapai sehingga kita masuk kategori sebagai negara yang berswasembada beras.

    3.Mengapa beliau (Mentan saat ini) tidak mengklaim swasemba beras seperti pendahulunya? Pertanyaan Anda lucu. Ya karena produksi tahun ini tidak mencapai 90% kebutuhan nasional maka kita tidak masuk kategori berswasembada beras. Justru kalau dalam kondisi demikian Mentan mengklaim kita swasembada beras akan diketawakan dunia.

    3. Maaf jika komentar saya salah alamat. Karena saya masih berpikir jangan-jangan yang Anda kritik bukan Mentan RI. Karena Mentan RI saat ini adalah Ir. H. Suswono, MMA, bukan Soewarno seperti Anda sebut dalam tulisan di atas.

    4. Pesan saya banyak-banyak baca referensi sebelum Anda posting suatu artikel agar tidak kelihatan lucu.

  3. Amar Ma'ruf berkata:

    Kenapa bencana selalu rutin di Indonesia? Kenapa di negara tetangga terdekat tidak seperti Indonesia?

    Jawabannya dari beberapa analisa saya sebagai ummat Rasulullah
    1. Indonesia adalah penduduk dgn mayoritas Islam.
    2. Karna bencana yg rutin akan di timpakan hanya khusus kepada Negri Kaum Muslimin, jika negeri tsb tdk memerangi kemaksiatan, kemunkaran dan kekufuran yg sudah berwujud dgn kekuatan tetapi malah di pelihara dan di rawat.
    3. Akibat tindakan makar yg di perbuat oleh Islamophobia terhadap Kalifah-Nya yg Istiqamah berjuang utk Din Islam, contohnya penangkapan keji Ustadz Ba’asyir, pembunuhan Pemuda Islam, dll.
    4. Perilaku menjijikkan penguasa yg kebetulan pendiri parte demokarat yg telah merekrut sepilis dan di tambah merekrut lescipay (lesbi, banci, pelacur, dan gay-pen).

    Mereka malah mengatakan bencana yg terjadi karena sudah waktunya (per belasan, per puluhan, per abad thn-an), intinya menghilangkan atau tdk percaya bencana itu adalah teguran, murka, peringatan dari-NYA (ini menjelma menjadi prinsip). Dengan prinsip itu, boro-boro bermuhasabah, intropeksi, mempelajari, mereka malah tetap menjadi-jadi membela dan memelihara kesukaan nafsu binatang mereka.

    Padahal, bencana benar-benar adalah teguran, petunjuk dan peringatan dari-Nya. Mereka berpendidikan tinggi tetapi tidak cerdas menggunakan akal dan pikirannya, mereka seperti binatang saja seperti begundal marzuki ali, dan teroris penguasa, teroris pejabat legislatif eksekutif.

  4. […] Keanehan Fenomena Bencana di Indonesia « Pustaka LANGIT BIRU […]

  5. abisyakir berkata:

    @ Grandong…

    1. Saya warga asal lereng Merapi. Berkeberatan dengan frasa Anda ‘sok berani’. Seakan-akan posisi kami terhadap Merapi adalah posisi berhadap-hadapan. Kami tidak pernah menantangnya. Tidak ada kamus ‘berani’ terhadap Merapi, ataupun ‘takut’ terhadapnya. Merapi itu sahabat dan teman hidup kami sehari-hari.

    Oh ya diterima keberatannya. Tetapi karena yang tinggal di lereng gunung itu ada puluhan ribu manusia. Maka tidak serta merta frasa tersebut diperbaiki. Aspirasi Anda dihargai, tetapi Anda tidak boleh mengatakan “kami”, sebab Anda hanya mewakili diri sendiri (yang sejak lama memang marah karena PKS sering saya kritisi di blog ini).

    2. Mungkin Anda perlu tahu definisi swasembada beras agar logika Anda tidak kelihatan lucu. Swasembada beras adalah kondisi jika kita mampu memenuhi 90% kebutuhan beras nasional. Pada tahun 2008 produksi beras nasional kita 35,26 juta ton beras, sedangkan konsumsinya diperkirakan 32 juta ton. Dus, tidak sekadar memenuhi kriteria 90% itu, tapi bahkan surplus. Pada masa Mentan Anton kondisi itu tercapai sehingga kita masuk kategori sebagai negara yang berswasembada beras.

    Oh ya terimakasih atas informasi swasembada berasnya. Saya baru tahu definisi itu. Selama ini pemahamannya umum saja, pokoknya swasembada beras berarti bisa memenuhi kebutuhan beras sendiri, tanpa membeli dari orang lain.

    Kata Anton Apriantono, swasembada beras itu kalau bisa memenuhi 90 % kebutuhan beras nasional. Sementara, saat tahun 1984 produksi beras sekitar 26 juta ton. Tetapi masih membeli dari luar sebanyak sekitar 415.000 ton. Nilai 415.000 ton itu kalau dikaitkan dengan jumlah produksi waktu itu 26 juta ton, nilainya sekitar 1,6 %. Jadi pembelian ke negara asing total 1,6 % dari produksi nasional.

    Menurut definisi itu, kalau sebuah negara bisa produksi 90 % disebut swasembada. Meskipun 10 % masih impor. Di era Soeharto, pembelian ke luar negeri hanya 1,6 % total produksi nasional. Apa itu tidak bisa diklaim sebagai swasembada pangan?

    Tolong Tantri Milani atau Grandong jelaskan! Khawatir logika saya kelihatan lucu! Monggo dijelaskan ya, sebelum melecehkan orang lain.

    3.Mengapa beliau (Mentan saat ini) tidak mengklaim swasemba beras seperti pendahulunya? Pertanyaan Anda lucu. Ya karena produksi tahun ini tidak mencapai 90% kebutuhan nasional maka kita tidak masuk kategori berswasembada beras. Justru kalau dalam kondisi demikian Mentan mengklaim kita swasembada beras akan diketawakan dunia.

    Lalu kita coba bandingkan dengan kondisi swasembada pangan tahun 1984 lalu, antara lain:

    ==> Ketika itu harga beras terbaik, 1 kg seharga 1000,-. Di jaman Anton, bisa mencapai Rp. 7000,- atau Rp. 8.000 per kilo.
    ==> Ketika itu kehidupan petani jauh lebih baik, perhatian pemerintah full. Petugas penyuluh tani, KUD, BUUD, Bimas, Inmas, Insus, Supra Insus, petani plasma, ABRI masuk desa, dll. subur ketika itu. Lalu bagaimana dengan jaman Anton? Bagaimana nasib petani disana?
    ==> Ketika tahun 1984 itu benar-benar swasembada stabil. Artinya, tidak fluktuatif seperti saat ini. Di jaman Anton katanya swasembada, tetapi di jaman Suswono sudah berlaku kampanye “One Day No Rice”. Kok begitu cepat swasembada berlalu?

    3. Maaf jika komentar saya salah alamat. Karena saya masih berpikir jangan-jangan yang Anda kritik bukan Mentan RI. Karena Mentan RI saat ini adalah Ir. H. Suswono, MMA, bukan Soewarno seperti Anda sebut dalam tulisan di atas. 4. Pesan saya banyak-banyak baca referensi sebelum Anda posting suatu artikel agar tidak kelihatan lucu.

    Oh ya, mohon maaf kalau saya salah tulis. Ya namanya mansia, pasti ada khilafnya. Mungkin hanya Anda yang suci dari khilaf. Terimakasih atas koreksinya. Yang dimaksud memang Pak Suswono, bukan Soewarno.

    Oh ya, saya juga mau sedikit mengoreksi Anda. Itu urutan angka 3 Anda sampai double, tertulis dua kali.

    Luar biasa ya. Anda mengkritik saya, tetapi Allah tunjukkan seketika itu juga kesalahan Anda. Tetapi tenang, saya tidak akan menyebut Anda “kelihatan lucu”. Anda hanyalah seseorang yang sangat marah ketika PKS dikoreksi. Padahal koreksi itu demi kebaikan Ummat, demi kebaikan kaum Muslimin, dan juga PKS sendiri.

    Terakhir, yang perlu Anda tahu. Dari tulisan itu sebenarnya yang ingin ditekankan adalah: “Pak Menteri jangan suka membangga-banggakan diri dengan swasembada beras. Padahal swasembada itu tercapai karena dukungan kondisi alam yang ramah. Kalau sedang penuh hujan seperti sekarang, mungkinkah Pak Menteri akan membanggakan dengan swasembada beras?”

    Intinya, bersyukurlah diberi cuaca yang baik, dan jangan mentang-mentang mengklaim, “Ini berkat saya. Ini berkat menteri kami.” Dan lain-lain.

    Sekitar sebulan lalu, ada seorang petani menulis Surat Pembaca di Kompas. Dia mengkritik Mentan, Suswono. Kata dia, selama ini Pemerintah tidak ikut-ikutan membina petani. Petani berjuang sendiri, membeli pupuk sendiri, menentukan masa tanam sendiri, menjual sendiri, dll. Lalu datang Menteri Pertanian, enak-enak saja mengaklaim swasembada pangan. Padahal mereka tidak ikut terjun di sawah, seperti jaman Orde Baru dulu.

    Saya baca surat pembaca itu. Ada di Kompas. Tapi saya lupa tepatnya. Mungkin bisa dicari dengan google. Ini tandanya, dalam menulis kita tidak pernah baca-baca referensi seperti Grandong ini. Kalau dia mungkin, sebelum menulis satu artikel, buku-buku satu perpustakaan dia baca semua. Terimakasih atas sarannya ya.

    AMW.

  6. M. Hanif berkata:

    saya khawatir bencana ini justru azab bagi bangsa ini, khawatir antrian bencana masih terus menunggu negeri ini di kemudian hari. Negeri dengan sumber daya alam melimpah, namun mayoritas rakyatnya berkesusahan mencari pekerjaan, memungut sampah, menganjalnya lapar perut mereka. Sementara pemimpinnya terlena akan kedudukannya, bahkan naif, pongah, menyalahkan rakyatnya yang tidak mampu menyelamatkan diri sendiri dari garis bencana.. kemunafikanlah yang merusak negeri ini..

  7. Grandong berkata:

    @Abisyakir…

    Saya kasih komentar sambil ha..ha..he..he.. koq. Saya gak marah. 🙂 Kasih komentar ke blog-blog orang khan sekadar ‘iseng-iseng berhadiah’. Sapa tahu dapat kawan baru. Begitu. Apalagi kalau dilihat dari pilihan kata saya apakah ada nada marah itu ?

    Mungkin Anda perlu baca komentar saya lagi yang sudah-sudah. Saya secara jelas dan terang (tulisannya waktu itu saya bold) sampaikan PKS is Nothing. Gak ada urusan dengan partai itu. Jadi berhentilah berprasangka kalau saya kritis karena saya orang PKS.

    Mohon maaf kalau penggunaan kata ‘lucu’ itu Anda anggap sebagai pelecehan. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Karena waktu membaca posting ini saya tertawa, spontan keluar kosa kata ‘lucu’ itu.

    1. Terima kasih keberatan saya diterima.
    2. Menurut definisi itu, kalau sebuah negara bisa produksi 90 % disebut swasembada. Meskipun 10 % masih impor. Di era Soeharto, pembelian ke luar negeri hanya 1,6 % total produksi nasional. Apa itu tidak bisa diklaim sebagai swasembada pangan?

    Tentu saja bisa. Dan memang pemerintah mengklaim yang demikian saat itu. Bahkan dengan dukungan organ propaganda yang eksesif kala itu (Dept. Penerangan) klaim Indonesia mampu berswasembada beras itu jauh lebih heboh dari sekarang. Pak Harto diberi penghargaan dari FAO dan diundang berpidato di sidang tahunan lembaga itu. Jika anda sudah akil baligh pada saat itu (1984) mestinya Anda ingat peristiwa itu.

    Kalau ada yang belum jelas saya dengan senang hati siap membantu berikut memberikan tautan artikel-artikel terkait hal tersebut.

    3. ==>Ketika itu harga beras terbaik, 1 kg seharga 1000,-. Di jaman Anton, bisa mencapai Rp. 7000,- atau Rp. 8.000 per kilo.

    – Tanyakan pada petani suka kalau harga beras tinggi atau rendah ? Tentu tinggi !
    – Tanyakan kepada mayoritas rakyat suka harga beras rendah atau tinggi ? Tentu rendah !
    – He..he.. semoga tidak bingung.
    – Justru kalau harga beras saat ini, misalnya Rp. 1000 itu harga yang menzholimi petani. Karena jika harga di tingkat konsumen saja cuman segitu lalu berapa harga ditingkat distributor, lalu berapa harga gabah kering giling, lalu berapa harga gabah basah di tingkat petani. Bisa-bisa petani hanya menikmati Rp. 400 per kg gabah basah.
    – Lalu harga beras Rp. 7000 pada masa Anton itu kerendahan atau kemahalan ? Jika kerendahan hingga menzholimi petani, trus pasnya berapa ? Jika kemahalan hingga menzholimi rakyat banyak, trus pasnya berapa ? Wah bisa jadi satu skripsi sendiri ini njelasinnya. Karena variabelnya cukup banyak dan tidak hanya ada di tangan Mentan (produksi beras, mekanisme demand-supply, subsidi, tingkat inflasi, impor, nilai tukar rupiah, kebijakan bulog, intervensi pemerintah misalnya Operasi Pasar, dll…). Saya akan sangat senang jika posting Anda berikutnya adalah tentang argument ‘Harga beras di masa Mentan Anton kemahalan’ berikut analisa dan dukungan datanya. Setuju ?

    ==> Ketika itu kehidupan petani jauh lebih baik, perhatian pemerintah full. Petugas penyuluh tani, KUD, BUUD, Bimas, Inmas, Insus, Supra Insus, petani plasma, ABRI masuk desa, dll. subur ketika itu. Lalu bagaimana dengan jaman Anton? Bagaimana nasib petani disana?

    Keluhan yang sama saya dengar dari profesi-profesi lain, tidak hanya petani. Misalnya : Ketika itu kehidupan guru jauh lebih baik, ketika itu kehidupan nelayan lebih baik, ketika itu kehidupan pedagang lebih baik, dst…

    Sebetulnya masih ada pertanyaan atas pernyataan tersebut, karena tidak Anda rinci petani apa. Ada banyak jenis petani dilihat tanaman yang dominan ia tanam : petani tembakau, petani tebu, petani karet dsb. Keluarga saya memiliki kebun cengkeh di lereng Merapi, kami garap sendiri, sehingga kami masuk kategori petani cengkeh.. Justru kehidupan kami babak belur saat itu karena lewat tangan Tomi Suharto dengan BPPC-nya dengan ujung tombak KUD, memonopoli pembelian cengkeh dari petani dengan harga sepihak (baca semena-mana). Hasil panen kami tidak mampu menutupi biaya produksi. Alhasil pohon-pohon cengkeh itu dengan berlinang air mata (he..he.. dramatisasi saja) kami tebangi dan kami ganti dengan tanaman lain. Mungkin diantara sidang pembaca ada yang (sampai sekarang) petani cengkeh ? Lebih baik mana kehidupan saat ini dibanding saat itu ?

    ==>Ketika tahun 1984 itu benar-benar swasembada stabil. Artinya, tidak fluktuatif seperti saat ini. Di jaman Anton katanya swasembada, tetapi di jaman Suswono sudah berlaku kampanye “One Day No Rice”. Kok begitu cepat swasembada berlalu?

    Data yang saya tahu tidak seperti itu. Indonesia swasembada beras pertama kali tahun 1984 dan hanya bertahan 2 tahun. Pada tahun 1986 Indonesia sudah tidak masuk kategori swasembada beras lagi. Hanya 2 tahun, bahkan menterinya saja belum berganti, masih Ir. Achmad Affandi. Sumbernya bisa dilihat di sini. Atau mungkin Anda punya kriteria sendiri yang disebut stabil itu jika swasenbada beras minimal bertahan berapa tahun ? Atau mungkin Anda punya sumber lain yang menyatakan bahwa swasembada pangan saat itu bertahan lama ? Silahkan.

    Luar biasa ya. Anda mengkritik saya, tetapi Allah tunjukkan seketika itu juga kesalahan Anda.

    Pernyataan ini setara dengan : Luar biasa ya. Anda mengkritik Menteri Pertanian, tetapi Allah tunjukkan seketika itu juga kesalahan Anda, salah menyebut nama menteri itu.

    Demikian. Keep posting demi kebaikan umat.

  8. Amar Ma'ruf berkata:

    Afwan ya akhi M. Hanif, saya kok kurang sependapat dgn kata ‘azab’ untuk kejadian alam akhir-akhir ini…?

    Kaya’nya lebih tepat adalah ‘bencana’ yang tujuannya sbg Peringatan, Teguran, Petunjuk, dll agar Kaum Muslimin yg Mayoritas di Negrinya kembali ke Fithrah Islam.

    Karna, ‘azab’ dari-Nya hanya di timpakan khusus kepada Umat sebelum Ummat dari Nabi/Rasul terakhir, artinya Ummat Rasulullah tidak akan di timpakan azab dari Sang Khaliq seperti azab umatnya Nabi Nuh as, Nabi Luth as, dll.
    Mempelajari sejarah dari umat terdahulu tentang dahsyatnya azab Allah SWT, dapat di lihat dampaknya hanya di tujukan kepada umat yg nyata-nyata membangkang dari Akidah yg di bawa Nabi yg telah di utus oleh-Nya, sedangkan umat yg mengikuti akidah dari Nabi yg telah di utus itu tidak akan tersentuh azab meski sedikit dari tubuhnya.

    Sementara bencana adalah seperti yg di timpakan oleh-Nya pada fenomena bencana yg terjadi akhir-akhir ini khususnya di Negri Kaum Muslimin.
    Bencana yg di timpakan berdampak pada setiap manusia, baik yang bersalah maupun yg tidak bersalah, baik yg Islam maupun non Islam.

    Sungguh Mulia dan betapa besarnya perhatian Rasulullah pada Ummatnya dimana Rasulullah SAW berdo’a dan meminta kepada Allah SWT agar umatnya tidak di timpakan azab seperti azab yg di timpakan kepada umat dari Nabi dan Rasul terdahulu.

    Sebagai umat Islam, seharusnya kita melihat ini adalah sebagai teguran keras, namun kenyataannya malah manusia yg katanya sudah cerdas dan berpendidikan tinggi malah tidak cerdas menggunakan pikiran dan akalnya, bukankah sejarah sudah tercatat?

  9. abu dzar berkata:

    sungguh ironis di negri yang kaya raya ini namun kehidupan rakyatnya jauh dari kemakmuran dan ketentraman. bukan tidak mungkin Allah subhanallah wa taalah akan memberikan teguran lebih keras lagi jika para penguasa negri ini tidak sadar juga tetap pongah dengan jabatanya.
    ustadz apakah mungkin gempa bumi bisa disebabkan karena adanya uji coba sebuah senjata dibawah laut? & kalo dicermati gempa-tstunami di Aceh dan di tasik tanggalnya sama persis ( 26 des, 26 juni), sedangkan gempa dijogja kalo g salah tgl 27an mei.

  10. abisyakir berkata:

    @ Grandong…

    Demi menghormati Anda, dan mengapresiasi pandangan Anda, saya loloskan komentar ini. Seperti pesan Anda, “Keep posting demi kebaikan umat.”

    Cuma, itu lho, jangan suka memakai istilah “kelihatan lucu” dan semisalnya. Ya, kita sudah dewasa lah. Kita bisa paham mana yang layak dan tidak. Insya Allah, kalau sikap baik, komentar se-mengeritik apapun ke saya, akan tetap diapresiasi.

    Sementara tidak saya komentari dulu ya. Biar saja, komentar Anda menjadi info terbuka.

    AMW.

  11. abu dzar berkata:

    berikut artikel mengenai gempa dan hubungannya dengan uji coba senjata, artikelnya sudah lama namun minimal bisa tambah pengetahuan kita. http://nabilmufti.wordpress.com/2010/01/31/gempa-haiti-dan-gempa-aceh-hasil-uji-coba-senjata-terbaru-amerika/

  12. Grandong berkata:

    Tambahan Komentar

    1. Masalah surat pembaca itu saya rasa gak ada yang istimewa. Kalau saat swasembada beras Si Pembaca bilang Pak Mentari gak punya peran apa-apa itu 100% hak Si Pembaca. Tetapi jika nanti suatu kali negara ini kekurangan pangan, gagal panen, kebijakan perberasan kacau, distribusi pupuk dikuasai mafia dsb, pesan saya kepada Pembaca itu jangan pula menyalahkan Pak Menteri. Khan gak adil kalau ada prestasi dibilang Menterinya gak punya peranan, giliran gagal dibilang yang salah menterinya.

    2. Saya jika menulis tentu membaca referensi sebanyak yang bisa saya inventarisir. Tapi -tentu saja- gak sampai satu perpustakaan lah. Namun demikian jika kita menulis tentang swasembada pangan bahkan definisinya saja tidak tahu, mengkritik Menteri Pertanian bahkan nama menterinya saja tidak tahu, saya rasa itu modal yang sangat kurang kalau tidak bisa dibilang ‘sembrono’. Sebetulnya, jika Anda mau sedikit effort untuk mencari referensi, minimal ini, kritikan Anda tentu lebih berbobot

    Ssstt, bocoran nich, kalau Anda masih bernafsu untuk ‘mengecilkan’ makna prestasi Menteri dari PKS ini, mestinya Anda Bandingkan peer to peer perberasan Indonesia vs Vietnam (diperkirakan tahun ini ekspor beras Vietnam sebesar 7,2 juta ton), atau Indonesia vs Thailand (diperkirakan tahun ini ekspor beras Thailand sebesar 8,2 juta ton atau 27% dari perdagangan beras dunia). Gak cuman membandingkan dengan perberasan jaman orba, itupun tanpa dukungan data yang jelas.

    3. Terlalu sering Anda melakukan judgement kualitatif tanpa didukung kriteria kuantitatif. Tidak hanya di posting ini. Tapi juga di posting2 yang lain.

    Anda tiba-tiba saja bilang :swasembada beras masa orde baru lebih STABIL (pernyataan kualitatif). Tanpa ada elaborasi lebih lanjut kriteria stabil itu seperti apa ? Bertahan lebih dari 1,2,3 …atau n tahun ? (kriteria kuantitatif).

    Sssstt bocoran lagi, saya bilang ‘Anda terlalu sering melakukan judment kualitatif’ itu juga pernyataan kualitatif. Mestinya perlu pemerincian kriteria ‘terlau sering’ itu seperti apa ? sekali, dua kali, minimal satu kali dalam satu posting ? He..he…Jika Anda menginginkan saya akan lakukan pemerincian itu. 🙂

    4. Yakinlah kritikan saya adalah ‘demi kebaikan Anda juga’ seperti ketika Anda mengatakan ‘kritikan saya ke PKS demi kebaikan PKS juga.’ (Sekali lagi jangan berprasangka saya orang PKS, karena sesungguhnya kebanyakan dari prasangka itu dosa)

  13. Amar Ma'ruf berkata:

    Abu Dzar.
    Saya juga udah lama membaca artikel tentang gempa (yg perlu di sidik lebih mendalam) dari sumber lain, saya lupa webnya.

    Tapi kemudian saya dapat web dengan artikel yang membantah penyebab gempa adalah percobaan senjata dengan analisa yg juga tajam. Seingat saya, energy nuklir pada bom atom tidak akan sanggup menciptakan gempa dengan skala sebesar gempa penyebab tsunami di Aceh thn 2004 lalu.
    Analisa dari yg katanya pakar Nuklir adalah untuk menciptakan gempa dengan skala satu saja, di butuhkan bom atom yg tidak sedikit.

    Tentang senjata HAARP, saya tidak ingat analisanya karna artikelnya saya temukan pada tahun yg lalu.
    Tapi saya lebih condong 70% dgn Iptek dan Sains itu memungkinkan utk saat ini apa lagi kedepan.

    Bisa saja, karna zionis ingin mempercepat kehancuran Negri ini agar Negri dgn pemeluk Mayoritas Umat Islam terbesar di dunia ini bubar, akibat bencana kas negara terserap untuk bantuan kemanusiaan, efek dominonya tidak terbayangkan untuk Negeri ini.

    Semoga, makar apa saja yg di lakukan oleh Islamophobia tidak dapat memaksa kita untuk melepas bara dari tangan kita. Tidak mampu mencerai beraikan Ukhuwah Islamiyah.
    Hikmahnya seperti judul artikel >>
    https://abisyakir.wordpress.com/2010/10/18/keagungan-mujahidin-islam/
    Gara-gara perang (yg di buatnya), penjajah bangkrut. Gara-gara membiayai percobaan, penelitian dan lainnya ternyata berujung kebangkrutan kaumnya. Makar terhadap Din Islam tidak seberapa di banding Makarnya Allah Azza Wajalla terhadap mereka.

    Wallahu a’lam bi shawab.

  14. abisyakir berkata:

    @ Grandong…

    Tambahan Komentar: 1. Masalah surat pembaca itu saya rasa gak ada yang istimewa. Kalau saat swasembada beras Si Pembaca bilang Pak Mentari gak punya peran apa-apa itu 100% hak Si Pembaca. Tetapi jika nanti suatu kali negara ini kekurangan pangan, gagal panen, kebijakan perberasan kacau, distribusi pupuk dikuasai mafia dsb, pesan saya kepada Pembaca itu jangan pula menyalahkan Pak Menteri. Khan gak adil kalau ada prestasi dibilang Menterinya gak punya peranan, giliran gagal dibilang yang salah menterinya.”

    Nah ginilah, kita diskusi baik-baik, tidak usah memakai celaan dan kesan merendahkan. Boleh kok mengeritik, brbeda pandangan, dll. Itu tak dilarang, wong kbenaran bisa datang dari arah mana saja. Ya, namanya sudah dewasa, tentu kita bisa berdiskusi seperti layaknya orang dewasa.

    Sebnarnya, maksud saya itu bukan “mengingkari prestasi seorang menteri”. Bukan itu. Itu tidak adil. Maksudnya begini lho. Prestasi swasembada itu tak lepas dari karunia Allah yang memberikan cuaca yang baik, panas cukup, hujan cukup (tidak berlebihan). Jadi, jangan karena sukses swasembada, lalu diklaim, itu hasil dari kerja menteri tersebut. Lalu itu dijadikan sebagai “komoditi politik”. Terbukti, ktika cuaca berubah, lalu kampanye diganti, “One Day No Rice.” Baru tahun 2009 lalu swasembada dibangga-banggakan, kini tahun 2010 sudah ganti kampanye. Ini aneh!

    Terus Anda bilang, “kalau harga beras mahal, siapa yang untung? petani juga kan?” Iya, kalau kenaikan harga itu berlaku secara wajar, bukan karena menipisnya produksi beras. Tetapi kalau beras naik karena pasokan dalam negeri berkurang (sesuai hukum permintaan), itu tidak menguntungkan. Petani padi bisa untung, yang lainnya buntung.

    Begini lho, kita bandingkan sajalah prhatian ngara di jaman Orde Baru terhadap sektor pertanian, dengan prhatian di jaman SBY (2004-20010 sekarang). Sudahlah, bandingkan sajalah secara jujur. Itu saja. Besar kecilnya perhatian itu sangat menentukan, apakah pemerintah layak mengklaim swasembada atau tidak? Kalau perhatian tinggi, saya yakin para petani akan mensyukuri kerja pemerintahannya (Dept. Pertanian).

    2. Saya jika menulis tentu membaca referensi sebanyak yang bisa saya inventarisir. Tapi -tentu saja- gak sampai satu perpustakaan lah. Namun demikian jika kita menulis tentang swasembada pangan bahkan definisinya saja tidak tahu, mengkritik Menteri Pertanian bahkan nama menterinya saja tidak tahu, saya rasa itu modal yang sangat kurang kalau tidak bisa dibilang ‘sembrono’. Sebetulnya, jika Anda mau sedikit effort untuk mencari referensi, minimal ini, kritikan Anda tentu lebih berbobot

    Ssstt, bocoran nich, kalau Anda masih bernafsu untuk ‘mengecilkan’ makna prestasi Menteri dari PKS ini, mestinya Anda Bandingkan peer to peer perberasan Indonesia vs Vietnam (diperkirakan tahun ini ekspor beras Vietnam sebesar 7,2 juta ton), atau Indonesia vs Thailand (diperkirakan tahun ini ekspor beras Thailand sebesar 8,2 juta ton atau 27% dari perdagangan beras dunia). Gak cuman membandingkan dengan perberasan jaman orba, itupun tanpa dukungan data yang jelas.

    Ya oke, saya mengaku khilaf dalam soal nama menteri pertanian itu. Tapi begini lho, saya baca tulisan2 di internet tentang “One Day No Rice”. Saya melihat di TV tentang Bapak Menteri Pertanian itu. Saya baca di beberapa situs tentang isu swasembada. Tetapi saya tidak selalu tepat bisa menyebut nama seseorang pejabat tertentu. Tapi kita tahu, yang dimaksud disini ialah Bapak Menteri Pertanian itu. Bukan orang lain. Dalam jurnalistik, kesalahan2 seperti ini sering ada. Contoh, saat menulis lokasi bencana Wasior. Ada yang mnulis Waisor. Mnurut Anda bagaimana itu? Bahkan Anda pun menulis urutan “no. 3” sampai 2 kali. Apakah itu aib yang luar biasa?

    Terus soal “bocoran” data yang Anda sebutkan. Menurut saya, itu jelas tidak adil. Anda tidak bisa membandingkan Indonesia dengan Vietnam, Thailand begitu saja. Sebab negara2 itu brbeda. Luas wilayah berbeda, jumlah penduduk berbeda, jumlah petani berbeda, jumlah lahan pertanian berbeda. Lebih adilnya, kita hitung produksi prtanian berdasarkan: jumlah penduduk, rasio petani dan penduduk, rasio wilayah prtanian dengan luas wilayah. Baru setelah itu dihitung nilai produktivitasnya.

    Coba deh…Anda kan sangat banyak referensi sebelum menulis. Tolong Anda cari nilai perbandingan yang adil antara produksi beras di Indonesia, dengan Vietnam, dan Thailand. Kalau Anda sudah dapat data, silakan kirim ksini, nanti kita muat di blog ini. Oke… aku tunggu ya “bocoran” data yang adil!

    3. Terlalu sering Anda melakukan judgement kualitatif tanpa didukung kriteria kuantitatif. Tidak hanya di posting ini. Tapi juga di posting2 yang lain.

    Anda tiba-tiba saja bilang :swasembada beras masa orde baru lebih STABIL (pernyataan kualitatif). Tanpa ada elaborasi lebih lanjut kriteria stabil itu seperti apa ? Bertahan lebih dari 1,2,3 …atau n tahun ? (kriteria kuantitatif).

    Sssstt bocoran lagi, saya bilang ‘Anda terlalu sering melakukan judment kualitatif’ itu juga pernyataan kualitatif. Mestinya perlu pemerincian kriteria ‘terlau sering’ itu seperti apa ? sekali, dua kali, minimal satu kali dalam satu posting ? He..he…Jika Anda menginginkan saya akan lakukan pemerincian itu.

    Begini ya… saya mau sebutkan datanya. Swasembada secara formal di jaman Orde Baru tercapai tahun 1984 (mhon maaf kalau salah). Yang saya maksud stabil itu adalah: dampak harga beras bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Harga beras baru gonjang-ganjing itu setelah era Krisis Moneter tahun 1997. Bayangkan rentang waktunya, dari 1984 sampai 1997. Berapa tahun itu? Bahkan kalau kembali ke harga beras saat ini, masya Allah, meroketnya harga besar bisa mncapai 10 kali lipat (1000 %).

    Terus terang, saya tidak tahu detail perbandingan produksi bras itu. Karena memang tidak mempelajarinya. Saya tidak googling untuk itu. Tapi ini sudah saya jawab dengan jelas, bahwa yang disebut STABIL ialah dampak harga beras yang rendah terhadap konsumsi rakyat Indonesia. Apa artinya, kita punya prestasi swasembada sangat hebat, kalau ternyata dampaknya bagi masyarakat luas menyengsarakan?

    Lagi pula…yang digaris-bawahi disini ialah PENGARUH CUACA. Entahlah, harus berapa kali mesti menjelaskannya.

    Dan niat Anda untuk menyebutkan kesalahan2 judgement kualitatif-kuantitatif, tentu saya hargai. Silakan Anda sebutkan, dan saya meminta Anda sebutkan! Jangan lari dari tanggung-jawab. Kalau sudah punya komitmen, harus dijalankan. Oke, saya tunggu ya! Itung-itung buat koreksi bagi saya sendiri.

    4. Yakinlah kritikan saya adalah ‘demi kebaikan Anda juga’ seperti ketika Anda mengatakan ‘kritikan saya ke PKS demi kebaikan PKS juga.’ (Sekali lagi jangan berprasangka saya orang PKS, karena sesungguhnya kebanyakan dari prasangka itu dosa).

    Ya terserah Anda. Kan yang disebut “bukan orang PKS” itu definisinya apa dulu? Bisa saja memang dia “tidak masuk partai”, atau disimpan “di luar partai”, atau apalah. Bagi saya tidak penting. Tapi saya mohon maaf kalau sudah men-judment Anda sebagai orang PKS. Siapa tahu Anda memang tak punya kartu anggota PKS?

    …karena sesungguhnya kebanyakan dari prasangka itu dosa.

    Ya, saya terima nasehatnya. Tetapi untuk mmahami seseorang itu kita bisa melihat dari sikap-sikapnya. Secara aturan legal mungkin tidak; secara idelogi, bisa jadi. PKS punya satu slogan, “Berapa banyak dari kami yang sebenarnya bukan bagian dari kami. Dan berapa banyak yang tidak bersama kami, tetapi sesungguhnya mereka dari golongan kami.” Hal-hal begini sudah saya pahami sejak awal Partai Keadilan dulu. walhamdulillah.

    Oke, saya tunggu dedikasi Anda selanjutnya…

    AMW.

  15. Subhan Abdurrahim berkata:

    Saya suka dengan komentar mas Grandong tapi bukan karena saya orang pks ya..

  16. h a b i b berkata:

    sekedar aja….gak ada maksud lain….seandainya penduduk negeri (lebih lagi para penguasa) ini mau beriman dan beramal sholih… pokoke memahami kehendak dan perintah Allah dan berusaha mewujudkan secara riil tenan sekuat tenaga…. lalu berhenti dari segala yang dilarang Allah yang pastinya berupa keburukan, kemasiatan, pembangkangan dan kesombongan dengan semangat totalitas tas…tanpa kecuali, niscaya Allah bukakan pintu keberkahan dari segala penjuru…. BUKAN bencana dari segala penjuru…
    tolong bencana ini jangan dijadikan pintu debat…plis…

  17. […] Keanehan Fenomena Bencana di Indonesia « Pustaka LANGIT BIRU […]

  18. HernandezGotc berkata:

    I have the same opinion with most of your points, however some need to be discussed further, I will hold a small talk with my buddies and perhaps I will look for you some advice soon.

    – Henry

  19. Grandong berkata:

    Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wa Barakaatuh

    Wah, maaf Bos baru bisa ketemu lagi nich. Maklum baru dari Klaten. Keluarga besarku ngungsi semua,
    jadinya saya ikut sibuk. He..he..Terima kasih telah merespon komentar-komentar saya.

    1. Sepertinya Anda terluka saya bilang lucu. Untuk itu saya sekali lagi mohon maaf. Walaupun saya masih berharap semoga di antara sidang pembaca masih ada yang menilai kata LUCU saya itu tidak lebih kasar dari kata ASAL NJEPLAK Anda.

    3. Pertanyaan saya tentang ‘kalau memang harga beras saat ini kemahalan, trus pasnya berapa ?’ koq gak dijawab2. Oh selama sekian tahun sudah naik seribu persen maka ia kemahalan ! He..he..bagi siapapun yang berpikir ilmiah pasti setuju kalau itu tidak menjawab pertanyaan.

    4. Oh, tentu saya akan memerinci tentang kualitatif kuantitatif itu. Sudah ada banyak list nich ! Tapi saya keluarkan satu-satu saja, biar tidak merepotkan Anda.

    Hosni Mubarak itu TIDAK PERNAH berpikir untuk memajukan kehidupan rakyatnya yang mayoritas Muslim itu.. O ya ?

    Untuk sampai pada kesimpulan itu (TIDAK PERNAH) apakah Anda sudah menginventarisir berapa ribu proyek/program (semoga Anda tahu beda antara proyek dan program karena itu dua hal yang berbeda) pemerintahan Hosni Mubarak. Dari sekian ribu itu apakah telah Anda teliti satu persatu bahwa semuanya ‘tidak memajukan kehidupan rakyat Mesir’ ? Jika dari, misalnya 1000, program/proyek pemerintah Hosni Mubarak ada 1 saja yang ‘memajukan rakyat Mesir’ maka kesimpulan Anda itu gugur karenanya. Karena kesimpulan TIDAK PERNAH menghendaki kemungkinan kemunculan nol persen.

    —-
    Oya, ada pesan dari teman2 warga Merapi buat para dai, mubaligh, ulama yang tempo hari, mengiringi letusan Merapi, dengan berapi-api di mimbar, di tulisan, di media mengatakan ‘kurang lebihnya’ warga Merapi layak mendapat musibah itu karena dosa-dosanya, karena kesyirikan mereka dsb.

    Sekarang situasi sudah relatif tentram. Saya berharap para dai, mubaligh, ulama itu untuk sekarang datang ke sana untuk mengajari mereka tentang tauhid dsb. Khan gak elok kalau pas bencana mereka semangat mengkritik warga Merapi dari jauh, giliran aman mereka (para dai dsb) tidak juga datang ke sana untuk mendakwahi mereka. Setuju ?

    Ini juga agar nanti kalau Merapi meletus lagi para dai itu tidak repot-repot mengeluarkan kritikan yang sama.

  20. abisyakir berkata:

    @ Grandong…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Jangan dipanggil boss-lah, saya merasa kurang nyaman. Tapi tak apalah, terserah antum saja. Oh ya, sebelumnya aku ikut simpati dengan penderitaan kaum Muslimin yang terkena dampak erupsi Merapi, baik langsung atau tidak langsung. Semoga setiap penderitaan yang ada menjadi jalan ampunan dosa, semoga yang sudah beriman semakin baik imannya, semoga yang lemah iman menjadi lebih baik imannya, semoga setiap kesulitan yang dihadapi di jalan Islam diberi ganti nikmat yang lebih baik. Allahumma amin.

    1. Sepertinya Anda terluka saya bilang lucu. Untuk itu saya sekali lagi mohon maaf. Walaupun saya masih berharap semoga di antara sidang pembaca masih ada yang menilai kata LUCU saya itu tidak lebih kasar dari kata ASAL NJEPLAK Anda.

    Oh ya, maafkan saya. Itu adalah salah dan khilaf. Semoga dimaafkan. Intinya, kita diskusi secara wajar saja, tidak perlu saling merendahkan. Biasanya, saya ungkapkan hal itu dalam momen-momen tertentu yang memang sudah kelewatan. Tiak selalu demikian. Misalnya tentang kehormatan, darah, fitnah, dll yang sangat merugikan kaum Muslimin.

    3. Pertanyaan saya tentang ‘kalau memang harga beras saat ini kemahalan, trus pasnya berapa ?’ koq gak dijawab2. Oh selama sekian tahun sudah naik seribu persen maka ia kemahalan ! He..he..bagi siapapun yang berpikir ilmiah pasti setuju kalau itu tidak menjawab pertanyaan.

    Ya, intinya harga beras itu yang terjangkau lah. Saat ini, beras layak itu harga sekitar 7000 s/d 8000. Kalau bisa dikisaran 3000, alhamdulillah tentu sangat disyukuri. Seingat saya di jaman Wahid dan Megawati, harga beras selevel itu. (Afwan kalau salah datanya).

    Ya memang ini masalahnya komplek. Menyangkut depressiasi nilai rupiah yang sangat merosot sejak 1998. Namun secara realistik, kondisi ekonomi saat ini sangat IRONIS. Peluang kerja semakin sulit didapat, sementara harga2 kebutuhan terus meninggi. Input susah, output susah. Jadi masyarakat terdesak dari berbagai sisi. Andaikan dalam tataniaga beras, kita tidak menuruti resep IMF, tentulah keadaan tidak akan sengsara seperti ini.

    Jadi maksud saya. Sudahlah, kita akui saja, kita sama-sama susah. Tidak usah mengklaim swasembada ini itu. Itu adalah klaim palsu yang tak akan mengubah keadaan. Pemerintah tidak akan disalahkan karena tidak mengklaim swasembada beras. Bahkan akan menjadi petaka yang mengerikan, kalau nanti produksi beras ditangani kapitalis-kapitalis asing. Produksi mereka nanti akan diklaim juga sebagai swasembada.

    Untuk sampai pada kesimpulan itu (TIDAK PERNAH) apakah Anda sudah menginventarisir berapa ribu proyek/program (semoga Anda tahu beda antara proyek dan program karena itu dua hal yang berbeda) pemerintahan Hosni Mubarak. Dari sekian ribu itu apakah telah Anda teliti satu persatu bahwa semuanya ‘tidak memajukan kehidupan rakyat Mesir’ ? Jika dari, misalnya 1000, program/proyek pemerintah Hosni Mubarak ada 1 saja yang ‘memajukan rakyat Mesir’ maka kesimpulan Anda itu gugur karenanya. Karena kesimpulan TIDAK PERNAH menghendaki kemungkinan kemunculan nol persen.

    Ya bahasanya tidak se-MEKANIK itu. Misalnya saja, dalam Al Qur’an ada kalimat, “Wa lan tardha ankal yahudu wa lan nashara hatta tattabi’a millatahum” (tidak akan pernah rela Yahudi dan Nashrani kepadamu, sampai engkau ikut millah mereka).

    Menurut Anda, apakah tidak ada satu pun Yahudi dan Nashrani yang punya kebaikan kepada kaum Muslimin? Apakah seperti itu, saudaraku?

    Sebagai bukti, saat Idul Fithri lalu saya diberi oleh tetangga yang Nashrani bingkisan kue. Padahal tetagga2 yang Muslim tidak ada yang memberi bingkisan seperti itu. Apakah dengan fakta ini lalu ayat Al Baqarah 120 itu gugur, seperti teori Anda itu?

    Kalau misal Hosni Mubarak tidak melakukan kebaikan apapun, selain kekejaman, penindasan, pembunuhan, genocida, dan sejenis itu; jelas dia tak akan bisa berlama-lama menjadi penguasa Mesir. Dia sudah akan dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri.

    Kalau Anda baca paragraf itu lebih lanjut…disana akan tampak bahwa yang dimaksud disini ialah: “Hosni Mubarak tidak ingin membawa negara Mesir menjadi negara Islami yang melindungi kaum Muslimin, mensejahterakan hidup mereka, membela bangsa Palestina, dll.”

    Jadi, mohonlah kalau membaca lebih luas view-nya. Jangan terlalu mekanik. Nanti Anda akan capek sendiri.

    Oya, ada pesan dari teman2 warga Merapi buat para dai, mubaligh, ulama yang tempo hari, mengiringi letusan Merapi, dengan berapi-api di mimbar, di tulisan, di media mengatakan ‘kurang lebihnya’ warga Merapi layak mendapat musibah itu karena dosa-dosanya, karena kesyirikan mereka dsb. Sekarang situasi sudah relatif tentram. Saya berharap para dai, mubaligh, ulama itu untuk sekarang datang ke sana untuk mengajari mereka tentang tauhid dsb. Khan gak elok kalau pas bencana mereka semangat mengkritik warga Merapi dari jauh, giliran aman mereka (para dai dsb) tidak juga datang ke sana untuk mendakwahi mereka. Setuju? Ini juga agar nanti kalau Merapi meletus lagi para dai itu tidak repot-repot mengeluarkan kritikan yang sama.

    Sebenarnya kritik itu tidak murni untuk korban erupsi Merapi. Banyak kritik yang sebenarnya berujung kepada sasaran: Mengeluhkan sistem negara yang sekuler dan tidak membawa rakyatnya menjadi masyarakat religius seperti yang dipesankan dalam sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Banyak kritikan diarahkan kesana. Mengapa sih pemerintah/birokrat kok diam saja atas sikap rakyatnya yang jauh dari agama? Mengapa media-media massa malah menyebarluaskan kekufuran, maksiyat, dll? Mengapa tokoh2 agama, tokoh masyarakat, perwira TNI, dll. kok diam saja atas banyaknya pelanggaran2 atas nilai-nilai agama.

    Tentu, terhadap warga sekitar Merapi, dan daerah2 lain ada kritikan, kecaman, dll. atas pelaksanaan nilai2 agama yang kurang. Tetapi tidak murni kesana. Coba Anda lihat lebih jeli, kemana saja arah kritik2 tersebut. Sebagai contoh, lihat artikel2 di eramuslim. Tapi jangan per artikel ya, tetapi view umum atas artikel-artikel yang dimuat seputar masalah itu.

    Seperti permintaan Anda agar dakwah tauhid digalakkan di kawasan sekitar Merapi. Ini permintaan yang baik. Tetapi harus diingat juga, yang seharusnya melaksanakan hal itu adalah birokrat. Sebab mereka memiliki otoritas, dana, fasilitas, legalitas, dll. Kalangan dai swasta itu kan berjuang sesuai kemampuan mereka. Kalau ada kurang-lebihnya ya mohon dimaklumi. Sebab yang paling bertanggung-jawab di suatu kawasan adalah birokratnya.

    Coba saya berikan sebuah track… Anda pikirkan baik-baik ya. Menurut Anda, sebenarnya yang paling bertanggung-jawab mengurusi urusan masyarakat, dari segala sisinya itu siapa? Apakah para dai yang income-nya “senin-kamis”, atau negara yang punya segala-galanya untuk menghitam-putihkan kehidupan rakyatnya? Mohon Anda renungkan itu…

    Tetapi tetap saja, usulan dakwah tauhid ke kawasan sekitar Merapi, dan kawasan manapun di Indonesia, harus disambut dengan baik, sesuai dengan kekuatan, kesempatan, dan keberdayaan yang dimiliki. Semoga Allah menolong dalam menunaikan dakwah ini. Allahumma amin.

    AMW.

  21. Santi berkata:

    nice post…
    kunjungi ini ya..
    klik ini
    thanks

  22. Yuyui... berkata:

    He..he..he..
    Seharusnya kita semua harus menjaga kelestarian negara kita , supaya tidak ada lagi bencana alam ..
    Gituuu .. Loohhhhh …
    Yuks.. Temn -teman qt menjaga keindahan alam qt ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: