Cara Menyelamatkan Diri dari Fitnah

Oktober 9, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini kondisi hidup bangsa kita berada di titik nazhir paling mengkhawatirkan. Segala masalah, berupa cobaan, bencana alam, kecelakaan transportasi, konflik sosial, kerusakan moral, korupsi birokrasi, praktik mafia politik, mafia media, mafia hukum, dll. tumpang tindih jadi satu.

Dalam keadaan demikian, peluang seorang Muslim terjerumus, terfitnah, atau menjadi korban masalah-masalah yang ada, terbuka lebar. Kapanpun musibah bisa menimpa, dan dimanapun. Sejak dari atas gunung sampai ke tepi pantai, dari hutan sampai ke tengah kota, di tengah sawah hingga ke tengah kampus, musibah bisa terjadi.

Dalam kondisi demikian, amat sangat penting kita bersimpuh kepada Allah, memohon pertolongan dan karunia-Nya, memohon rahmat dan ampunannya, memohon rizki dan kekuatan kepada-Nya. Saat tak ada lagi yang bisa diharap, maka Allah adalah Dzat yang paling layak diharapkan keselamatan dan kemurahan dari-Nya.

 

Saat kehidupan dilanda badai...

 

Disini ada beberapa cara praktis bisa dilakukan seorang Muslim untuk menghindari diri, keluarga, dan Ummat, dari bahaya fitnah. Cara-cara itu adalah sebagai berikut:

[1] Terus-menerus membaca ISTIGHFAR. Di setiap tempat, waktu, dan keadaan. Kecuali saat seseorang berada di kamar mandi (WC). Terus baca istighfar. Bisa diucapkan “as-tagh-firullah al ‘azhim” atau “as-tagh-firullah al ‘azhim, alladzi laa ilaha illa Huwa, al Hayyul Qaiyumu wa atubu ilaih”.

[2] Konsisten melaksanakan Shalat berjamaah di masjid. Minimal Shalat Shubuh dan Isya’. Lebih bagus bila bisa dawam, setiap waktu shalat di masjid. Itu luar biasa. Shalat berjamaah seperti tiang yang menegakkan sebuah bangunan. Tanpa tiang, rumah akan runtuh. Bagi kaum wanita, mereka boleh shalat berjamaah di masjid. Tetapi lebih afdhal shalat di rumah sendiri.

[3] Selalu bertauhid, mengesakan Allah Al Wahid. Menghindari kemusyrikan, menghindari  perbuatan-perbuatan yang bisa merusak akidah tauhid di hati. Setidaknya, selalu berdizkir membaca: “Laa ilaha illa Allah” atau “Laa ilaha illa Allah, wahdahu laa syarikalah, lahul Mulku wa lahul Hamdu, Yuhyi wa Yumitu wa Huwa ‘ala Kulli syai’in Qadiir”. Dalam Surat Al Baqarah 256 dijelaskan, tauhid itu merupakan tali pegangan yang sangat kuat, yang selamanya tak akan putus.

[4] Belajar ilmu, memahami ilmu, dan mengamalkan ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu Wahyu, yaitu ilmu agama yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Bacalah Kitab Al Qur’an dan As Sunnah; dengarkan pelajaran tentang keduanya; baca risalah-risalah tentang keduanya; terus menuntut ilmu, sekalipun di tengah kancah peperangan sekalipun. Siapapun yang khidmah di bidang ilmu, maka Allah akan membukakan kebaikan-kebaikan kepadanya. Amin.

[5] Menghubungkan tali shilaturahim. Hubungkan pertalian darah, hubungan kekerabatan, hubungkan sanak saudara dan famili. Hubungkan sesama Muslim, sesama shahabat, rekan, handai taulan, orang-orang yang dikenal dari kalangan sesama Muslim. Hubungi mereka, dekatkan hati ke hati, maafkan yang tersalah, mintakan doa mereka, dukung kebaikan-kebaikannya, beritakan hal-hal optimis bagi mereka.

[6] Bersikap adil menjauhi kezhaliman. Jauhilah sikap zhalim, sebab kezhaliman itu merupakan “simpanan kecelakaan” bagi kita. Tidak tahu kapan Allah akan membukakan simpanan tersebut dan dalam bentuk apa? Na’udzubillah min dzalik. Bersikaplah yang adil, termasuk kepada anak-anak sendiri. Bila belum mampu mencegah kezhaliman atau membela keadilan, setidaknya, berbuatlah adil dan jauhi kezhaliman. Innallah yuhibbul muqsithin (sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang adil).

[7] Mengasihi orang-orang lemah, makhluk lemah, dan siapapun yang membutuhkan pertolongan. Kasihilah orang yang menderita, kasihilah yang sakit, kasihi yang fakir-miskin. Bila ada kekuatan, bantu mereka. Kalau mau, doakan mereka. Bila tidak, berkata-katalah yang baik atas mereka. Irhamu man fil ardhi, yarhamuka man fis sama’i (kasihi siapa yang ada di bumi, maka akan mengasihi engkau siapa yang ada di langit -yaitu Allah dan para Malaikat-).

[8] Bersabarlah atas kesulitan, bersabar atas kesempitan rizki, bersabar atas cobaan-cobaan, bersabar atas kekurangan diri, dan sebagainya. Bersabarlah wahai saudaraku, karena kesabaran dan keridhaan hatimu atas kesulitan, bisa membuat dirimu dan keluargamu dijauhkan dari bencana yang mestinya menimpa. Innallah ma’as shabirin (Allah itu selalu bersama orang-orang yang shabar).

[9] Jaga selalu doa ini, “Rabbana laa tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rahmah, innaka Antal Wahhab” (wahai Rabb kami, jangan gelincirkan hati-hati kami -ke arah kesesatan- setelah Engkau memberi kami petunjuk, limpahkan dari sisi-Mu berupa kasih sayang, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemurah). Doa ini bisa selalu dibaca, agar kita selalu istiqamah dalam kebenaran, istiqamah di atas jalan yang lurus.

[10] Dan ini yang sangat penting, penting sekali. Seberat apapun keadaan, seberat apapun fitnah dan tantangan; jangan berhenti untuk terus melakukan perbaikan. Biarlah manusia berlomba-lomba merusak keadaan; kita akan terus bertahan menyebarkan kebaikan, melestarikan agama ini, di tengah kondisi sesulit apapun. Di antara keadaan yang akan membuat seseorang mendapatkan karunia “laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun” ialah terus melakukan perbaikan, sekuat kesanggupan.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat dan bisa diamalkan. Allahumma amin ya Rabbal ‘alamiin.

— Ibnu Boeang

Iklan

Rakyat Tidak Percaya Pemerintah!

Oktober 9, 2010

Ada tulisan menarik di headline koran Pikiran Rakyat, edisi Sabtu, 9 Oktober 2010. Judul tulisan, “Kepercayaan Masyarakat Mulai Hilang.” Disana dimuat beberapa pernyataan kritis dari mantan Wakil Presiden RI periode 2004-2009, Jusuf Kalla.

Pernyataan JK (sumber foto: detiknews.com)

Singkat cerita, hari Jumat kemarin, 8 Oktober 2010, beberapa toloh nasional mengadakan pertemuan di kantor PP Muhammadiyah, membahas masalah-masalah aktual bangsa. Hadir dalam pertemuan itu: Prof. Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Jusuf Kalla, Sutiyoso (mantan Gubernur DKI), Taufiq Kiemas (Ketua MPR), Soetrisno Bachir (mantan Ketua Umum PAN), dan Mahfud MD (Ketua MK). Mereka hadir dalam acara bertajuk, “Silaturahmi Tokoh Nasional”, yang berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Disini akan dikutip pernyataan-pernyataan Jusuf Kalla, antara lain:

JK mengatakan, bahwa saat ini masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada Pemerintah. Hal itu disebabkan oleh kesenjangan hidup yang cukup tinggi. Padahal kepercayaan masyarakat itu sangat diperlukan bagi terjaminnya kehidupan bernegara. Menurut JK, ketidak-percayaan masyarakat itu bisa berujung pada kekacauan dan kejatuhan rezim yang sedang berkuasa.

“Saya melihat, ada disparitas (kesenjangan sosial) kehidupan yang cukup tinggi di negeri ini. Saya melihat, masyarakat mulai kehilangan trust (kepercayaan) kepada Pemerintah. Kita tahu di Thailand setelah rezim Thaksin, masyarakat disana mulai goyah, banyak terjadi kekacauan. Jatuhnya Thaksin karena masyarakat sudah mulai tidak percaya,” kata Jusuf Kalla.

Menurut JK, di negara manapun, kalau Pemerintahnya sudah kehilangan wibawa, masyarakatnya menjadi bebas dan tidak terkendali. “Saat ini terjadi hukum rimba, dimana tindakan kriminal yang dilakukan bersama-sama dianggap sebagai sesuatu yang wajar.” JK mengharapkan, Pemerintah berusaha meraih kembali kepercayaan masyarakat itu, agar keadaan menjadi nyaman kembali.

Dalam pandangan saya, pernyataan Jusuf Kalla ini sudah jelas. Tidak perlu ditafsirkan rumit-rumit. Faktanya, kehidupan masyarakat Indonesia semakin sengsara, Pemerintah SBY semakin menampakkan ketidak-mampuannya dalam memimpin bangsa, kasus-kasus kerusuhan atau konflik sosial terjadi dimana-mana, isu terorisme semakin membuat urusan negara semakin ruwet, bencana alam silih-berganti sejak dari Aceh sampai Papua, dan lain-lain.

Intinya, bangsa Indonesia butuh sosok pemimpin baru, yang: patriotik, pemberani, cinta rakyat sendiri, pengasih kepada kaum dhuafa’, tegas kepada kolonialis asing, tegas kepada jamaah pengkhianat bangsa, tegas kepada media dan LSM komprador, dan sebagainya.

Semoga harapan itu tercapai. Allahumma amin.

— Mine —


13 Kelebihan WTS Atas Wartawan Media…

Oktober 7, 2010

Kalau Anda ditanya, “Mana yang lebih mulia, menjadi wartawan atau pelacur?” Secara tradisional, kita akan mengatakan wartawan lebih mulia dari pelacur (WTS atau kini banyak disebut PSK).

Tetapi seiring perubahan zaman, perubahan kondisi, kenyataan pun berubah. Kalau Anda kritis dan jeli, Anda akan menyaksikan bahwa para pelacur (WTS) itu saat ini memiliki sekian kelebihan ketimbang para waartawan, khususnya wartawan media-media TV.

Kalau dikaji secara serius, sungguh kita akan terkejut. Ternyata, banyak wartawan yang lebih hina, lebih rendah, lebih menjijikkan ketimbang para pelacur yang kerap diistilahkan sebagai “pelayan cinta” itu. Kok bisa begitu ya? Tentu ada alasan-alasannya.

Opera Sabun Si Ariel: Disebar-luaskan oleh Media-media TV. Itu Fakta!!!

Minimal ada 10 kelebihan kaum WTS daripada kaum wartawan. Kelebihan ini bukan karena pekerjaan menjadi tukang zina menjadi mulia. Bukan sama sekali. Pekerjaan melacur tetap hina, haram, dan sangat keji. Tetapi kelebihan WTS ini muncul, karena derajat kaum wartawan itu terjun bebas gak karu-karuan. Dulu mereka dipandang mulia, dipandang berharga. Kini jauh lebih hina daripada kaum WTS.

Tapi kehancuran moral kaum wartawan ini tidak tertuju ke wartawan-wartawan media Islam yang selalu istiqamah membela al haq, komitmen dengan Syariat Islam, komitmen membela Ummat dan kaum dhuafa’. Mereka bukan yang dituju oleh tulisan ini. Wartawan yang dimaksud ialah wartawan sekuler, wartawan anti moral, wartawan keji perusak kehidupan masyarakat dan bangsa.

Di bawah ini alasan-alasan yang bisa menjelaskan mengapa dalam kondisi saat ini, kaum WTS memiliki kedudukan lebih mulia daripada wartawan amoral. Tanpa menghilangkan status pelacuran itu sebagai perbuatan zina, keji, dan munkar di sisi Allah Ta’ala.

[1] Wanita WTS ketika berbuat zina, dia akan merusak dirinya, merusak pasangan zinanya, dan merusak orang-orang di sekitar mereka berdua. Kerusakan itu bersifat lokal. Tetapi kalau wartawan berdusta di media, memfitnah di media, akibatnya merusak kehidupan seluruh masyarakat, bahkan merusak dunia. Bahkan bisa mewariskan kerusakan ke generasi-generasi selanjutnya.

[2] Kaum WTS ketika berbuat dosa, dia sadar sedang berbuat dosa. Sekali waktu mereka menyesal, ingin taubat dari pekerjaan keji itu. Tetapi kaum wartawan, meskipun kerjanya memfitnah manusia, membohongi masyarakat, merusak akal generasi muda, mereka tidak pernah menyesal dengan pekerjaannya. Malah berbangga lagi! Sudah berbangga, bergaya lagi. Mereka tak jarang berlagak seperti selebritis.

[3] Kaum WTS sebenarnya tidak mau bekerja seperti itu. Hati mereka mengakui semua itu salah. Tetapi karena desakan ekonomi, mereka terpaksa bekerja kotor, menjual kehormatan diri. Berbeda dengan wartawan. Mereka masuk dunia media busuk dengan penuh kesadaran. Mereka banyak tahu informasi, terpelajar, luas wawasan, paham mana yang salah, mana yang benar; bahkan banyak dari mereka berkecukupan; tetapi tetap saja mereka memproduksi berita-berita sampah, memproduksi fitnah, menghancurkan kehidupan rakyat, melemahkan kehidupan bangsa.

[4] Para WTS meskipun menjalani profesi yang kotor, mereka berani mengaku diri sebagai pelacur. Tidak jarang mereka terang-terangan merayu laki-laki. Meskipun perempuan, mereka berani gentle mengakui profesi dirinya. Jarang WTS yang mengingkari profesinya. Tetapi para wartawan itu, sudah jelas-jelas merusak masyarakat, menghancurkan moral, menyebar fitnah, menyebar kesesatan, dan seterusnya. Tetapi secara munafik, mereka mengklaim dirinya tetap suci, bersih, tanpa noda. Allahu Akbar. Betapa betapa sangat munafiknya orang-orang itu. Kalau membaca tulisan/isi media seperti “tajuk”, “editorial”, dll. sangat tampak, seolah mereka Malaikat yang suci dari dosa sama sekali. Padahal sejatinya, mereka bobrok dan munafik.

[5] Para WTS mencari makan paling untuk diri dan keluarganya. Atau paling untuk biaya kuliah, untuk biaya kost, untuk pergi ke salon, dll. Jadi untuk keperluan hajat primer atau hajat kewanitaan. Tetapi kaum wartawan, mereka bekerja menyebarkan kezhaliman, kerusakan, kebobrokan moral; demi melayani kapitalisme, demi melayani konglomerat hitam, demi melayani regim korup, demi melayani pejabat korup, dll. Jadi pekerjaan WTS itu bahayanya tidak lebih besar daripada pekerjaan wartawan perusak moral.

[6] Sekuat-kuatnya seorang WTS, dalam sehari paling hanya mampu melayani beberapa laki-laki hidung belang. Kekuatan mereka sebagai manusia, pastilah terbatas. Tetapi para wartawan itu, siang-malam, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30-31 hari sebulan, non stop terus merusak kehidupan masyarakat. Mereka tidak ada hentinya menyebarkan kebingungan, analisa palsu, opini bermuatan dendam, mengadu-domba, memfitnah, dll. Kalau tidak melalui koran, melalui TV, atau melalui internet, melalui radio, dan seterusnya.

[7] Kaum WTS, meskipun sudah terjerumus profesi keji, bila ada yang menolongnya keluar dari lembah hitam itu, mereka mau bertaubat, mau berubah. Adapun wartawan, meskipun sudah sering diingatkan, sudah sering dikritik, sudah sering dikecam, sudah sering didemo, diboikot, dan seterusnya. Tetap saja mereka tak bergeming. Susah sekali berubah dari tabiat dan kelakuannya dalam berbohong, memfitnah, menyebarkan opini sesat, merusak moralitas, dan seterusnya.

[8] Kaum WTS biasanya dari kampung, berpendidikan rendah, pengetahuan kurang. Malah kerap mereka masuk ke dunia hitam itu karena terjebak sindikat kotor.  Tetapi kaum wartawan itu keadaan mereka jauh lebih baik, lebih mapan, lebih berpendidikan. Minimal dia sarjana, mungkin master, bahasa Inggris fasih, orang kota, terpelajar, lingkup pergaulan mendunia, dan seterusnya. Tetapi ya itu tadi, mereka mencari makan dengan cara menyebar kebohongan, fitnah, opini sesat, kerusakan moral, dan lain-lain.

[9] Seorang WTS dalam berprofesi masih mengenal “kode etik”. Kalau ada temannya mendapat laki-laki hidung belang, dia tak akan merebut “klien” itu. Seakan di antara mereka sudah sama-sama memahami. Tetapi wartawan, demi mencari berita heboh, demi mencari sumber “paling terpercaya”, demi menyajikan “berita terdepan”, demi menjadi “nomor satu”, mereka sangat sering bersaing tidak sehat. Satu media kadang menghantam media lain, satu wartawan memusuhi wartawan lain. Kode etik jurnalistik ada, tetapi entah diikemanakan itu?

[10] Seorang WTS, kalau sudah melaksanakan tugasnya, dia akan mendapat upah. Begitulah mekanisme “bisnis” mereka. Tetapi wartawan, meskipun sudah mendapat iklan, mendapat penjualan produk media, mendapat sponsor, mendapat popularitas, mendapat posisi politik, mendapat pengaruh sosial, dll. mereka tidak puas juga. Mereka akan terus merusak dan merusak masyarakat dengan kebohongan, kecurangan, fitnah, opini sesat, dll. Mereka tidak akan pernah berhenti membuat kerusakan, sampai dirinya mati. Kalau mati, media mereka akan mengelu-elukan dirinya sebagai “sosok pahlawan”. Bwah…geuleuh!

[11] Kaum WTS enggan menipu “klien” mereka. Khawatir “rizki” mereka nanti rusak karena sikap seperti itu. Tapi wartawan media, mereka tidak ragu-ragu untuk menghancurkan obyek beritanya, melakukan pembunuhan karakter, merusak masa depan anak-anak, bahkan merusak usaha bisnis orang-orang kecil. Mereka berlaku seperti “bandit” di balik meja redaksi. Lihatlah bagaimana cara media dalam menghancurkan keluarga-keluarga yang mereka sebut teroris!

[12] Kaum WTS mengaku dirinya kotor, dirinya salah. Mereka akan mengatakan ke wartawan, “Anda enak Mas, jadi wartawan. Profesi Anda baik dan mulia.” Tetapi para wartawan itu, tak satu pun yang berani menulis atau menayangkan di media-medianya, suatu materi bertema, “Pelacuran itu baik.” Mereka tidak akan mengatakan demikian. Tetapi banyak dari wartawan-wartawan itu yang memakai jasa pelacur, terjerumus seks bebas, terjerumus perselingkuhan, dll. Menyebut pelacuran buruk, tetapi jasanya dipakai juga. Setidaknya, mereka kerap menjadikan materi pornografi sebagai alat untuk mengeruk untung (profit). Lihat iklan-iklan di TV, mulai iklan sabun, sampo, kosmetik, alat fitness, kondom, obat kuat, dll.

[13] Selama ini Indonesia tidak hancur karena fenomena pelacuran. Meskipun dampak pelacuran itu sangat besar bagi keburukan masyarakat. Tetapi hancurnya Indonesia selama ini ialah karena kaum wartawan munafik ini. Merekalah perusak bangsa, perusak NKRI, perusak kehidupan Ummat!

Dulu, kaum wartawan lebih mulia daraipada WTS. Mereka dulu berperan: mencerahkan akal masyarakat, membela kebenaran, menegakkan keadilan, melawan kezhaliman, melindungi yang lemah, dll. Pokoknya serba mulia. Maka itu mereka digelari julukan “kuli tinta”, atau orang yang banyak bergelut dengan ilmu.

Tetapi wartawan di masa kini amat sangat hina derajatnya. Mereka menjadi makelar kapitalisme, makelar kezhaliman regim, makelar mafia hukum, makelar bisnis asing, makelar imperialisme, dll. Bahaya mereka jauh lebih mengerikan daripada bahaya kaum wanita WTS. Meskipun tidak berarti kita mentoleransi wanita-wanita WTS itu. Tidak sama sekali. Islam selamanya mengharamkan zina, dan melaknati tukang zina.

TERORISME: Media Menjadi “Humas” Polri. Nothing About “Both Side Cover”.

Lalu bagaimana hukumnya menjadi wartawan?

Lihat dulu medianya. Kalau medianya baik, lurus, menyebarkan manfaat, wawasan, pencerahan, dan kebajikan untuk masyarakat; hukumnya HALAL dan THAIYIB. Tetapi kalau medianya merusak, memfitnah, menyebarkan fitnah, kebohongan, merusak moral masyarakat, merusak bangsa, melemahkan negara; ya jelas hukumnya, yaitu: HARAM. Haramnya merusak akal dan ilmu pengetahuan lebih berat ketimbang haramnya perbuatan pidana biasa, sebab yang dirusak disana adalah akal, kesadaran, dan kehidupan masyarakat luas.

Ingat wartawan amoral…ingat WTS. Ternyata, WTS masih lebih baik daripada mereka. Dengan tidak menghilangkan status pekerjaan WTS itu sebagai profesi yang hina, keji, dan dimurkai Allah dan Rasul-Nya.

Semoga bermanfaat dan mencerahkan. Allahumma amin.

(Ayah Syakir).


Indonesia Kini Dilamun Bencana…

Oktober 7, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Beberapa waktu lalu kami sudah mengingatkan, agar Pemerintah tidak melakukan kebijakan-kebijakan yang berakibat menyengsarakan masyarakat. Tulisannya ada disini: Presiden SBY, Kasihanilah Rakyat Indonesia! Intinya, menangakap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir itu kebijakan zhalim. Apalagi memfitnah beliau, memfitnah pemuda-pemuda Islam yang tidak bersalah dalam kasus terorisme, bahkan membunuh dan menyiksa pemuda-pemuda Islam yang tidak tahu apa-apa tentang aksi terorisme. Semua ini kezhaliman besar!

Jakarta Diserbu Angin Puting-beliung.

Kalau cara-cara zhalim itu terus dilakukan, akibatnya bangsa Indonesia akan dikepung bencana dari segala arah. Harusnya, kalau terjadi kezhaliman, warga Indonesia yang mampu dan punya kekuatan, harusnya mencegah kezhaliman itu. Kalau tidak ada yang mencegah, maka semua kalangan akan terkena getahnya, terutama rakyat kecil yang hanya menjadi obyek penderita. Faktanya, hal itu benar-benar terjadi!

Saat ini setiap hari kita mendengar berita seputar bencana dari segala penjuru. Ini adalah kenyataan, ini adalah fakta yang nyata. Di antara yang bisa disebut:

[=] Meletusnya Gunung Sibanung di Sumatera Utara. Bahkan kini pun Gunung Merapi mulai bergejolak lagi. Seismograf menunjukkan aktivitas Merapi semakin tinggi.

[=] Banjir bandang di Waisor, Papua. Korban meninggal sudah sekitar 85 orang. Masih hilang sekitar 65 orang.

[=] Banjir di Bandung Selatan, banjir di Jakarta, banjir di Semarang, banjir di Kalimantan, dll. Banjir bisa karena curah hujan, bisa juga karena luapan air laut.

[=] Tanah longsor di beberapa titik di Jawa Barat dan Jawa Timur.

[=] Musibah kecelakaan KA di Pemalang, korban sekitar 35 orang meninggal. Padahal sudah lama kita tidak mendengar ada kecelakaan tragis seputar KA.

[=] Gempa bumi di Aceh, Papua, Banten. Kalau tidak salah, tidak ada korban atau kerusakan serius. Tapi ini merupakan peringatan yang harus diwaspadai.

[=] Hujan deras, angin puting beliung dimana-mana, terutama di Jakarta. Pohon-pohon tumbang, menimpa rumah, mobil, makam, dll.

[=] Cuaca sangat panas di Surabaya, suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Cuaca panas ini membantah klaim La Nina yang disampaikan orang-orang BMG. Kalau La Nina, pasti banyak hujan di suatu kawasan. Tidak mungkin di satu wilayah (misal Pulau Jawa) ada panas tinggi, sekaligus hujan deras. La Nina itu skalanya dunia, bukan skala Jawa atau Indonesia.

[=] Ketakutan tentang turunnya permukaan tanah Jakarta, akibat penyedotan air tanah secara terus-menerus, sehingga ada ide memindahkan ibukota negara ke tempat lain.

[=] Lumpur Lapindo juga mulai bergerak lagi. Setelah sekian lama diam, akhir-akhir ini mulai hangat kembali.

[=] Fenomena gagal panen yang sangat mengkhawatirkan. Banyak tanaman petani gagal, seperti padi, bawang, sayuran, bahkan usaha garam; karena curah hujan terus-menerus.

[=] Dan lain-lain.

Trend yang berkembang saat ini, bencana-bencana ini tidak terlalu besar, tetapi rata terjadi di berbaagai daerah. Rata terjadi dimana-mana. Kalau belajar dari yang sudah-sudah, yang sangat kita takutkan ialah, saat akan terjadi satau atau dua BENCANA SKALA BESAR di balik bencana-bencana kecil itu. Dan kita tidak tahu dimana bencana besar itu sedang dipersiapkan? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dan parahnya, pejabat-pejabat negara seperti tidak mau tahu soal bencana ini. Terus saja mereka menebar fitnah, menebar dusta seputar terorisme, membiarkan amoralitas, membiarkan korupsi, membiarkan orang-orang asing merajalela, dan seterusnya. Sepertinya, di kelapa pejabat-pejabat itu, mereka tidak peduli sebesar apapun penderitaan yang menimpa masyarakat. Seolah otak mereka berbiacara, “Biarkan saja ada bencana! Biarkan saja ada korban tewas! Semakin berkurang jumlah penduduk, semakin mengurangi beban subsidi Pemerintah.”

Ya sudahlah kalau begitu… Saya sebatas mengingatkan masalah ini. “Fa dzakkir, fa innad dzikra tanafa’ul mukminin” (maka terus berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman).

Ya pemimpin, ya elit politik, ya penguasa… Kasihanilah rakyat kecil, kaum dhuafa, anak-anak, kaum wanita, orang-orang miskin, fakir, lanjut usia. Kasihanilah mereka! Sayangilah mereka! Jangan menjadikan mereka sebagai obyek penindasan, alat permainan, atau seperti rumput yang diinjak-injak.

Kasihanilah mereka, kasihani rakyat ini, wahai Bapak, Ibu, Tuan, dan Nyonya. Agar hidupmu selamat, agar keluargamu selamat, agar urusan bisnis dan kariermu tetap berjalan. Bila tidak, demi Allah, kalian sendiri akan dikejar-kejar oleh bencana (apapun bentuknya) sampai kelak kalian sakit putus-asa. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin.

Ampuni diri-diri kami ya Arhama Rahimin. Amin.

AM. Waskito.


Karakter Seorang Pemimpin

Oktober 4, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam Islam, seorang pemimpin disebut ra-is atau kepala. Tentu, bukan tanpa alasan jika ia disebut kepala, karena posisinya memang sepenting kepala bagi seorang manusia. Juga ada istilah lain, ra-in atau penggembala. Seorang pemimpin diumpamakan seperti penggembala. Sedangkan rakyat diumpamakan sebagai “domba-domba” yang diatur dan dijaga. Tidak ada seorang pun penggembala di dunia ini yang punya niat mencelakakan gembalaannya.

Ada juga istilah lain, sulthan. Sulthan makna asalnya kekuatan. Seorang pemimpin memiliki kekuatan besar yang bisa dia gunakan untuk tujuan apa saja. Bila hati dan akalnya baik, kekuatan itu akan dipakai untuk menyebarkan kebajikan seluas-luasnya; kalau hati dan akalnya jahat, kekuatan akan dipakai untuk memuaskan kesenangan sendiri, tanpa mempedulikan nasib rakyat yang dipimpin.

Disini kita bisa memahami, betapa kuatnya kedudukan seorang pemimpin dalam kehidupan sebuah bangsa. Sederhananya, “Bila pemimpinnya beres, akan beres urusan rakyatnya. Bila pemimpinnya sakit, akan sakit pula urusan rakyatnya.”

Tidak berlebihan jika ulama-ulama Salaf dulu mengatakan, “Andaikan aku punya doa yang makbul, tentu akan aku doakan seorang pemimpin (agar bersikap lurus dalam kepemimpinan).” Jika seorang pemimpin baik, insya Allah rakyatnya akan baik pula. Maka mendoakan seorang pemimpin agar menjadi baik, sama dengan membuka jalan ke arah kebaikan-kebaikan yang sangat banyak.

"Kamu ya...! Gitu ya...! Kebun Binatang..."

Dalam masalah kepemimpinan ini, Nabi Saw pernah mengatakan, “Idza wussidatil amra li ghairi ahlihi, fantazhiru as sa-ah” (jika urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka nantikanlah as sa-ah). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah, saya baca di buku Fiqih Daulah karya Syaikh Al Qaradhawi.

Apakah As Sa-ah yang disebut dalam hadits di atas?

Makna yang paling mudah dari As Sa-ah adalah Hari Kiamat. Jadi, salah satu tanda semakin dekatnya Hari Kiamat ialah ketika amanah disia-disiakan. Amanah sebagai bagian dari nikmat Allah Ta’ala, bukan ditunaikan secara ihsan, bukan digunakan untuk kebaikan, bukan dimanfaatkan secara optimal; tetapi malah disia-siakan.

Dalam riwayat lain, disebutkan tanda-tanda Kiamat. Ketika itu, orang yang benar didustakan, orang pendusta dibenarkan; orang yang terpercaya dikhianati, para pengkhianat malah diberi kepercayaan.  Persis seperti kondisi bangsa kita saat ini. Orang-orang yang pro Syariat Islam dituduh sebagai teroris, sementara kaum “mafia” malah bebas memakai media untuk menyebarkan kedustaan ke seluruh penjuru dunia. Begitu pula, orang-orang yang jujur disingkirkan dari birokrasi, karena dianggap mengganggu sistem korupsi; sementara para pengkhianat bangsa malah mendapat posisi-posisi strategis. Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tetapi hadits tersebut juga bisa dipahami secara umum. As Sa-ah dipahami sebagai kehancuran. Jadi, apabila amanah diberikan kepada orang yang bukan ahlinya, nantikanlah kehancuran. Pemaknaan seperti ini juga benar. Bahkan dalam dunia modern, sebelum memilih seorang pemimpin, ada kaidah fit and proper. Fit artinya, memilih orang yang sehat lahir batin, baik moralitas, dan memiliki keahlian handal. Proper, artinya menempatkan orang itu sesuai bidangnya, sesuai keahlian, sesuai dengan kebutuhan kepemimpinan. Kalau memilih pemimpin yang salah, dalam konteks manajemen apapun, pasti akan berbuah kehancuran.

Contoh nyata, tahun 1999 sebenarnya bangsa Indonesia masih didera Krisis Multi Dimensi. Saat itu sangat dibutuhkan pemimpin yang kuat, handal, dan terpercaya. Tetapi sayang, bangsa kita malah memilih pemimpin yang salah. Secara indera, dia tak bisa melihat; secara fisik, mengalami kelumpuhan akibat strooke; dari sisi birokrasi kenegaraan tidak punya pengalaman; bahkan secara sosial sering memicu kontroversi. Akibatnya sudah pasti, bangsa ini terjerumus lagi ke dalam Krisis Multi Dimensi yang baru saja hendak dilewati. Ketika itu, malah bangsa ini hendak mengalami kehancuran lebih parah, akibat merebaknya semangat separatisme. Sejak itu sampai saat ini, bangsa kita belum mampu benar-benar pulih dari Krisis Multi Dimensi. Inilah akibatnya kalau memilih orang yang tidak memiliki keahlian dan kemampuan, alias ghairu ahliha.

Sangat penting bagi kita untuk menakar keahlian seorang pemimpin. Bila seseorang yang memimpin bangsa ini tak memiliki keahlian, akibatnya sangat buruk; bangsa kita akan terjerumus dalam kesulitan kolektif.

Juga sangat diingatkan kepada partai-partai Islam (partai komunitas Muslim), agar dalam memilih pemimpin, baik pemimpin di pusat atau di daerah, mereka menjadikan tolok-ukur keahlian sebagai acuan utama. Tidak masalah, bukan orang dari partai sendiri yang memimpin, asalkan dia terpercaya, ahli, dan bermoral. Jangan sampai, partai-partai itu berebut posisi jabatan kepemimpinan, sedangkan mereka sendiri tidak bisa memberi jaminan terhadap kualitas pemimpin yang mereka ajukan. Jika seperti itu, akibatnya ialah: menyengsarakan kehidupan rakyat luas! Dan hal itu merupakan KEZHALIMAN besar yang akan dituntut sampai di Hari Akhirat nanti.

Masalah rakyat lebih utama dari masalah partai. Rakyat cakupannya jauh lebih luas, lebih komplek, dan lebih riil ketimbang keadaan partai itu sendiri. Urusan rakyat harus dinomor-satukan, bukan urusan partai sendiri. Lebih baik orang partai tidak memimpin birokrasi, kalau akibatnya bisa menyengsarakan rakyat; daripada dia memimpin,  tetapi akibatnya merajalela kerusakan lahir bathin.

Bahkan sangat baik, sebuah parati abstain dari memilih seorang calon pemimpin, kalau dia tidak yakin dengan kebaikan calon itu. Berhati-hati dalam memilih sama dengan menyelamatkan kehidupan masyarakat luas dari diterkam oleh pemimpin-pemimpin jahat yang tidak berhati manusia.

Bawahan Menjauh, Takut Kena "Hujan"

Lalu bagaimana dengan keadaan bangsa kita kini? Pernahkah Anda bertanya, “Apa sih kelebihan pemimpin yang saat ini memimpin bangsa kita? Adakah keutamaan, keistimewaan, atau kekuatannya?”

Pertanyaan seperti ini pernah saya ajukan ke seorang wartawan, dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jawa Timur ke Bandung. Kemudian bapak wartawan itu menjawab dengan tegas, “Tidak ada! Dia tidak punya kelebihan apapun.” Kurang-lebih seperti itu jawaban beliau. Jawabannya pendek, jelas, tidak multi tafsir.

Memang kalau direnungkan, pemimpin nasional Indonesia saat ini memang tidak memiliki kelebihan atau keistimewaan tertentu. Kalau kepemimpinan itu diberi poin, mungkin layak mendapat angka 3. Dalam kondisi banga sedang dirundung aneka masalah, pencapaian angka 7 saja belum mencukupi, apalagi angka 3?

Disini kita layak berhitung, menganalisa bobot kualitas seorang pemimpin. Hal ini sangat penting dilakukan, untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat dari kehancuran yang Rasulullah Saw sampaikan itu.

Pertama, dari sisi keahlian teknologi, strategi pembangunan, atau kapasitas keilmuwan, tidak ada yang bisa disebut. Gelarnya memang doktor, tetapi tidak tahu sejauhmana nilai gelar itu dari sisi keilmuwan?

Kedua, dari sisi ketegasan, keberanian menantang resiko, keberanian di area pertempuran, keberanian menerjuni konflik, kewibawaan sebagai pemimpin bangsa besar, juga tidak ada. Yang tampak di depan mata, adalah seni berpidato dari satu mimbar ke mimbar.

Ketiga, dari sisi keahlian retorika publik, juga tidak ada. Pidatonya terlalu formalistik, tidak dekat dengan nafas rakyat, seperti yang dulu mampu dilakukan pemimpin Orde Baru. Begitu pula, pidatonya datar-datar saja, tidak mendidik keberanian rakyat, seperti keahlian orasi pemimpin Orde Lama. Pidato-pidatonya terkesan kering, berbeda dengan pidato pemimpin -mantan Menristek-, yang memang kaya gagasan dan inspirasi.

Keempat, dari sisi penguasaan dunia militer, juga minim. Meskipun dididik dalam institusi kemiliteran, tetapi intuisinya sebagai prajurit, jiwanya sebagai kombatan, atau naluri tempurnya tidak tampak. Hampir tidak ada aspek-aspek kemiliteran yang bisa dibanggakan.

Kelima, dari sisi keahlian organisasi, juga tidak ada yang istimewa. Banyak pejabat, termasuk dari partainya sendiri, diangkat karena kedekatan kekerabatan dengannya. Sekjen sebuah partai dipilih dari anak sendiri, dengan tujuan untuk mewariskan tongkat kekuasaan ke keluarga sendiri.

Keenam, dari sisi seni perpolitikan juga kurang. Indikasinya mudah, orang-orang yang dulu pernah satu barisan politik dengannya, kemudian banyak yang menjadi “musuh politik”. Mantan Menkumham, yang dulu menjadi sponsor politiknya, kini mengancam dia dengan pesan “impeachment”. Hal ini hanya menjelaskan, betapa keahlian politik tokoh satu ini sangat kurang. Banyak orang berebut mendekat kepadanya, lebih karena mencari cipratan materi dan kuasa.

Ketujuh, dari sisi ilmu pertanian atau gagasan-gagasan pembangunan pangan, sebab bangsa kita memang bangsa agraris, juga tidak memadai. Padahal gelar doktornya diambil di bidang Sosial Ekonomi Pertanian. Masyarakat kita sebagai masyarakat petani, peternak, nelayan, dll. seperti diabaikan posisinya. Sayang sekali.

Kedelapan, dari sisi keahlian dan pengetahuan di bidang ekonomi, juga lebih parah lagi. Indikasinya mudah, tentang pencabutan subsidi BBM, kenaikan harga BBM, kasus Bank Century, penyelesaian skandal BLBI, kebijakan konversi gas, hengkangnya Sri Mulyani ke Bank Dunia, Indonesia masuk forum CAFTA, dll. Semua itu mengindikasikan bahwa yang bersangkutan kurang paham masalah ekonomi.

Kesembilan, dari sisi penguasaan politik luar negeri, lebih parah lagi. Kasus Ambalat, pelanggaran wilayah perbatasan, terbunuhnya seorang mahasiswa Indonesia di Singapura, pelecehan perbatasan oleh nelayan-nelayan Timor Leste, pelecehan oleh Australia terkait masalah imigran gelap yang terdampar di Indonesia, kasus terorisme global, posisi dalam konflik Palestina-Isarel, dll. Tidak ada yang bisa diandalkan.

Kesepuluh, dari sisi pengertian hukum, pendalaman aspek-aspek birokrasi, serta implementasi UU dalam kehidupan negara dan politik, nilainya sangat buruk. Contoh kasus, skandal Bank Century tidak jelas; Sri Mulyani dibajak oleh Bank Dunia; pembentukan tim delapan yang digugat asosiasi advokat; bahkan yang terakhir, ialah pencopotan Hendarman Supandji sebagai Jaksa Agung. Semua ini amat negatif nilainya.

Kesebelas, dari sisi pengetahuan agama, juga kurang. Ya, tidak ada yang bisa diandalkan, selain ucapan seperti “Assalamu’alaikum”, “Alhamdulillah”, “Insya Allah”, dan lainnya yang kadang menghiasi pidato-pidato. Tetapi untuk keahlian seperti itu, sejak masih TK anak-anak kita sudah diajari.

Kalau mau dilanjutkan mungkin banyak. Tetapi cukuplah 11 poin ini saja. Intinya, pemimpin nasional ini tidak memiliki keahlian, kepakaran, atau kehandalan kepemimpinan. Tidak ada satu pun yang bisa disebut sebagai kelebihan. Kalau ada, mungkin keahlian Bahasa Inggris. Itu pun tidak sehebat presenter-presenter TV yang “lebih Inggris” ketimbang orang Inggris sendiri.

Apa yang disebut disini bukan berdasar kebencian, atau sikap sentimen. Ini kenyataan. Kalau tidak percaya, cobalah Anda membuat analisa sendiri, sesuai kategori-kategori tertentu yang Anda pilih. Lalu lakukan kajian obyektif untuk menilai kualitas seorang pemimpin. Tulisan ini boleh diabaikan, selama Anda mau melakukan riset secara mandiri dan independen tentang kualitas pemimpin nasional itu.

Sekali lagi, kata Nabi Saw, “Kalau urusan dipercayakan kepada yang bukan ahlinya, nantikanlah kehancuran.” Maka kalau tidak mau hancur, kepemimpinan ini harus diperbaiki. Cukuplah hanya orang-orang yang handal, berjiwa kepemimpinan kuat, pengasih kepada masyarakat, jujur dalam komitmen, pemberani dalam mengarungi tantangan bangsa, serta memiliki komitmen moralitas tinggi; orang seperti itu lebih layak memimpin.

Semoga bermanfaat. Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Cobaan Ini Terlalu Berat…

Oktober 1, 2010

Sebagian ulama berpendapat, bahwa pilar kebaikan sebuah bangsa ada 4. Pertama, adanya sultan (pemimpin) yang mengayomi rakyat. Kedua, adanya ulama yang istiqamah menerangi Ummat dengan ilmu-ilmunya. Ketiga, adanya kaum hartawan (agh-niya) yang pemurah dan banyak membantu Ummat. Keempat, adanya doa dari kaum dhuafa bagi sultan, ulama, dan para aghniya tersebut.

Bila ke-4 unsur itu ada, keadaan suatu negara akan menjadi baik. Bila kesemua itu tidak ada, ya mudah dibaca, kehidupan disana akan penuh dengan masalah, penderitaan, kelemahaan, kehinaan, konflik, dll. Pandangan ini merupakan konsep yang sangat sederhana untuk melihat keadaan sebuah bangsa.

Ujian Hidup, Sekeras Batu Cadas!

Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia…

Nah, itulah masalahnya. Kondisi kita kini benar-benar terpuruk, benar-benar penuh cobaan. Ummat Islam jangankan mendapat kesempatan, mendapat peluang, atau diberi dukungan untuk mencapai kemajuan. Justru kita setiap hari, sepanjang siang dan malam, terus dicoba dengan fitnah yang tidak ada hentinya. Isu liberalisme, aliran sesat, dominasi ekonomi asing, carut-marut wajah politik, media massa membodohi masyarakat, isu terorisme, Kristenisasi, dan sebagainya. Begitu banyak masalah itu.

Belum lagi kita bisa bernafas sejenak dari satu masalah, sudah datang bertubi-tubi masalah lain. Berbagai rencana, agenda, missi, proposal, konsep, dll. yang kita susun selama ini untuk memperbaiki kehidupan Ummat, selalu berantakan karena diterjang oleh isu-isu yang muncul di tengah masyarakat.

Ya, kondisi kaum Muslimin di Indonesia saat ini memang sangat lemah. Kalau dilukiskan kira-kira gambarannya seperti berikut ini:

[=] Ummat Islam tidak memiliki media yang kuat, khususnya media TV. Padahal sejatinya, media-media TV itulah yang saat ini menguasai kesadaran bangsa Indonesia. Ummat memiliki media-media minor yang eksis, tetapi sulit menjangkau masyarakat luas. Akal masyarakat kita kini telah “disandera” oleh media-media TV itu.

[=] Secara ekonomi, kaum Muslimin merupakan kaum fakir-miskin terbesar di Indonesia. Jumlah mereka mungkin 180 jutaan manusia, hidup di atas garis kemiskinan. Bisa jadi lebih besar dari itu. Kalau ada 4 orang kaya dari 10 orang yang ada, tentu yang 4 itu akan membantu saudaranya. Tetapi kalau ada 1 orang kaya di antara 100 orang miskin, bantuan apa yang bisa diharap? Secara nasional, tidak ada desain untuk menyelamatkan Ummat dari kemiskinan ini. Malah, desain itu justru untuk memiskinkan kaum Muslimin, agar mereka lumpuh di segala sisi.

[=] Secara wawasan keilmuwan, kita juga kurang. Bila wawasan Ummat ini sangat bagus, dengan cara mengkaji Kitab Shahih Imam Bukhari secara intensif, tentunya setelah kita mengkaji Al Qur’an, sekalipun tanpa melihat kitab-kitab alainnya, Ummat ini akan memiliki kekuatan yang dahsyat. Hanya karena miskin wawasan dan ilmu, khazanah keilmuwan yang luar biasa seperti tumpukan kertas-kertas yang teronggok tak berguna.

[=] Secara mental keberanian, juga memprihatinkan. Bukan hanya kalangan Muslim awam, kalangan pemuda, mahasiswa Muslim, bahkan tokoh-tokoh elit Muslim pun, banyak dihinggapi rasa ketakutan untuk menempuh resiko. Sangat berbeda dengan mental bangsa Turki yang tangguh dan berani. Bahkan sangat berbeda dengan mental para pejuang kemerdekaan dulu. Seolah mereka meyakini, bahwa untuk membangun sukses bisa dilakukan dengan metode selalu mencari aman, atau dengan berlindung di balik punggung kaum wanita.

[=] Dari sisi persatuan Ummat, juga tidak kalah memprihatinkan. Ada ribuan organisasi, lembaga, yayasan, majlis taklim, jamaah dakwah, partai politik, komunitas, dll. yang berlabel Islam. Tetapi semua itu seperti terpisah-pisah, tidak saling koordinasi, tidak saling sinergi. Sejak kecil kita diajari, “Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh!” Tetapi ungkapan ini seolah AMAT SANGAT SUSAH memahaminya. Seakan akal kita tidak sampai untuk memahami ungkapan tersebut. Biarpun sudah dibuat simulasi lidi dan sapu lidi, tetap saja susah memahami. Banyak orang siap bersatu, tetapi dia harus menjadi pemimpin. Jika tidak menjadi pemimpin, tidak ada persatuan; sekalipun akibat perpecahan itu sangat merugikan Islam. Urusan kepemimpinan dianggap lebih penting dari keselamatan Islam.

[=] Dari sisi inovasi, kreativitas, kepeloporan, kita juga lemah. Padahal kita diberi kekuatan akal, ilmu, kesempatan belajar, alat-sarana, serta kekayaan alam luar biasa. Kecenderungan di kalangan kaum Muslimin, “Kalau ada satu orang berjualan minyak wangi, serentak semuanya akan ikuty jualan minyak wangi.” Begitulah kira-kira gambaran mudahnya. Padahal demi Allah, Al Qur’an dan As Sunnah itu, kekayaan ilmu dan inspirasi yang tidak pernah kering. Hanya karena tidak dikaji, maka hasilnya pun negatif.

[=] Dari sisi kepedulian, juga sangat mengecewakan. Banyak aktivis Islam, ustadz, kyai, dan lainnya, mereka seperti berjuang sendiri, tanpa didukung, tanpa dibantu, bahkan didoakan pun mungkin tidak. Banyak Muslim bersikap egois, individualistik, tidak mau tahu. Di mata mereka, kehidupan adalah syahwatnya sendiri. Urusan di luar syahwatnya, dianggap tidak ada. Sangat menyedihkan, sangat disayangkan! Padahal semua perjuangan itu nantinya juga demi kebaikan hidup mereka.

[=] Dan lain-lain.

Kondisi seperti ini sangat buruk bagi kita semua. Sangat buruk sekali. Gagasan, ide, pemikiran, kritisme sehebat apapun; tidak banyak gunanya di hadapan realitas Ummat yang lumpuh seperti ini. Apa yang kita lakukan, sekeras apapun itu, sebesar apapun pengorbanannya, seperti menggarami air laut. Untuk apa menaburkan garam di atas air yang memang sudah asin? Tak ada gunanya.

Sejujurnya, kita harus berani mengakui, bahwa kondisi Ummat Islam memang sangat lemah. Kita adalah Muslim, tetapi kita kurang memahami hakikat agama kita sendiri. Andaikan kita tahu betapa agungnya agama ini, tentu tidak layak kaum Muslimin akan ternista di negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini.

Kalau Anda mau tahu, contoh karakter Muslim yang konsisten, lihatlah sikap berani Recep Tayib Erdogan ketika mempermalukan PM Israel dalam sebuah pertemuan internasional di Davos Swiss, beberapa tahun lalu. Ketika itu sedang panas-panasnya Tragedia Ghaza melanda dunia. Itu salah satu contoh sikap ksatria seorang Muslim. Tidak ada yang dia takuti untuk menegakkan kebenaran, selain Allah belaka.

Bila seseorang benar-benar memahami keagungan agamanya, dia akan berpaling dari ajaran apapun dari milik orang lain. Khatib Al Baghdadi pernah mengatakan, “Apabila seseorang memahami ilmu hadits, maka dia akan merasa tidak membutuhkan yang lainnya.” Itu baru ilmu hadits, belum ilmu Al Qur’an, fiqih, akidah, sejarah, bahasa, sastra, adab, fiqih ibadah, tazkiyatun nufus, shirah Nabawiyah, dan seterusnya. Karena Ummat ini tidak memahami agamanya, maka mereka pun terhalang dari mendapatkan keagungan sejarah agama ini.

Hal itu semakin ditunjang oleh keadaan negara-negara Muslim lain yang tidak bisa diandalkan. Kalangan anti Islam di Indonesia secara intensif mendapat dukungan tanpa batas dari luar negeri. Sementara para pejuang Islam yang fakir-miskin di Indonesia, tidak mendapat dukungan dari negara-negara Muslim lain. Kita dibiarkan berjuang sendiri, dengan modal sendiri, dengan dengkul sendiri. Sangat menyedihkan memang!

Di atas semua ini, tentu kita tidak boleh putus-asa. Meskipun, beban cobaan ini teramat sangat beratnya. Setidaknya ada 3 langkah perbaikan yang bisa kita tempuh, yaitu:

SATU, mengotimalkan kekuatan diri sebaik-baiknya. Sejauh masing-masing Muslim diberi kekuatan, daya, dan keahlian oleh Allah; kuatkan semua itu dan manfaatkan sebaik-baiknya.

DUA, mengoptimalkan kerjasama sinergis antar sesama Muslim. Terserahlah sebesar apa hasil kerjasama itu, yang jelas kita perlu bekerjasama dengan sesama saudara kita. Jangan disia-siakan saudara sesama Muslim!

TIGA, pasrah hati kepada Allah, meyakini pertolongan, kemurahan, dan pembelaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah berjalan di atas jalan-Nya. Inilah kepasrahan tauhid kepada Allah Ta’ala.

Dengan cara demikian, insya Allah kita akan terus melanjutkan perjalanan ini, kita akan terus mengawal kehidupan Ummat ini. Insya Allah ada masa depan bagi Ummat ini di masa nanti. Insya Allah, nasib anak-cucu kita nanti akan lebih baik dari keadaan kita saat ini.

Apalah artinya sikap kritis sekritis-kritisnya…jika kondisi Ummat selemah ini? Kita hanya seperti menggarami air laut, melakukan perbuatan yang menguras energi sendiri. Sebagian realitas itu saya temukan dalam pengalaman media blog ini selama beberapa tahun terakhir.

Mari kita mulai berjalan memperbaiki kembali keadaan Ummat ini. Membangun ke dalam, memperkuat kerjasama, dan besandar kepada Allah As Shamad. Itulah formula yang bisa ditempuh!

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.


Mengetuk Hati Ummat…

Oktober 1, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Mohon maaf sebelumnya. Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan beberapa kritik kepada kaum Muslimin di negeri ini, termasuk kepada para penggiat dakwah dan gerakan Islam. Tulisan ini boleh dipahami sebagai kritik, boleh dipahami sebagai nasehat, boleh juga jika ingin disebut sebagai “curhat” dari saya sendiri. Masalah yang diangkat disini masih seputar Gusdur, khususnya tentang agenda membangun komplek makam Gusdur dengan menelan biaya Rp. 180 miliar itu.

Dari sisi apapun rencana pembangunan komplek makam dengan biaya Rp. 180 miliar dari APBN dan APBD itu adalah kebathilan yang nyata. Bagi orang yang memiliki sedikit ilmu saja, upaya membangun komplek makam tersebut jelas akan diingkari dengan keras. Banyak alasan yang bisa diajukan.

Pertama, fakta berbicara bahwa banyak pahlawan-pahlawan di Indonesia yang lebih jelas jasa-jasanya, komplek makam mereka tidak dibuat mewah. Misalnya, komplek makam Jendral Soedirman, Ir. Soekarno, Moch. Hatta, Haji Agus Salim, HOS. Cokroaminoto, dll. Kedua, ide pembangunan komplek seperti itu sangat melukai rasa keadilan bagi rakyat Indonesia yang saat ini sedang sengsara. Mengapa dana besar tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja? Ketiga, pribadi Gusdur sendiri terkenal sangat keras dalam memusuhi missi pembangunan keislaman di negeri ini. Katanya pluralis, tetapi sangat sentimen kepada Islam. Aneh. Bahkan saat Tragedi Ghaza tahun 2008, tanpa rasa malu Gusdur menyalahkan Hamas sebagai sumber tragedi kemanusiaan itu. Keempat, pembangunan tersebut akan membuka pintu-pintu kemusyrikan yang luas di tengah masyarakat. Pengkultusan sosok Gusdur seperti itu, meskipun dirinya sudah meninggal, bisa lebih berbahaya daripada batu Ponari, yang kebetulan sama-sama dari Jombang.

Kemusyrikan: Ritual Memuja Kubur!

Kenyataan yang sangat menyedihkan. Mengapa kaum Muslimin, para dai, para aktivis, termasuk kalangan gerakan Islam seolah mendiamkan masalah ini? Ini bukan persoalan sederhana. Ini menyangkut AQIDAH Ummat. Ini benar-benar murni akidah, sebab terkait dampak kemusyrikan bagi Ummat. Hendak ditafsirkan kemana lagi, kalau bukan ke masalah Aqidah Tauhid?

Dibandingkan masalah jemaat HKBP di Ciketing, atau masalah Ahmadiyyah di Kuningan, atau masalah isu terorisme, dan yang semisal itu, masalah Gusdur ini -menurut saya- lebih serius. Gusdur mempunyai pengikut jutaan orang. Pemikiran, sikap politik, dan perilakunya menjadi ajaran tersendiri, Gusdurisme. Lagi pula, yang kita pertaruhkan disini ialah AQIDAH Tauhid Ummat.

Bayangkan saja, betapa banyak manusia yang takut mengkritik Gusdur, saat dia sudah meninggal. Apalagi, ketika dia masih hidup. Sementara mereka seperti “tidak mau tahu” ketika Gusdur selalu menyerang kepentingan Islam dan Syariat-nya. Sepanjang kiprah politiknya, sejak memimpin NU, Gusdur tidak berhenti menyerang Syariat Islam dan orang-orang yang komitmen di atasnya. Semakin dibiarkan, semakin menggila serangannya. Sampai puncaknya, Gusdur melecehkan Al Qur’an. “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an. Ha ha ha…” Karena selalu didiamkan, akhirnya muncul puncak kebathilannya.

Banyak manusia takut kepada Gusdur…sementara hati mereka sendiri tidak takut kepada Allah yang Syariat-Nya selalu dilecehkan oleh Gusdur. Saat Gusdur masih hidup, mereka takut kepadanya; saat Gusdur sudah mati pun, mereka masih saja takut bersikap. Allahu Akbar.

Andaikan rencana pembangunan komplek makam senilai Rp. 180 miliar itu jadi dilakukan, lalu bagaimana akibatnya bagi kehidupan kaum Muslimin ke depan? Bagaimana kalau setiap waktu, kaum Muslimin yang awam berduyun-duyun datang kesana untuk: mencari berkah, mencari jodoh, mencari kemudahan rizki, mencari pangkat, menjadi keridhaan Gusdur, mencari ilmu Gusdur, mencari perlindungan Gusdur, mencari syafaat Gusdur, dan lain-lain? Semua ini jelas merupakan kemusyrikan yang nyata. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Tadinya, saya berharap akan ada yang membahas masalah ini dengan sangat kritis. Ada yang berusaha membantah, berusaha mengajukan kritik besar, atau mengingatkan Ummat atas bahaya memuja sosok Gusdur itu. Sungguh, saya berharap banyak agar muncul sikap kritis itu. Namun sayang, sampai saat ini belum juga ada yang peduli. Masalah dana “180 M” untuk komplek makam Gusdur seperti dibiarkan lewat begitu saja.

Dari pengalaman selama ini, ada kenyataan aneh. Pihak yang peduli dengan isu seputar kebathilan Gusdur ini, ternyata orangnya itu-itu saja. “Die die lagi, Bang,” kata orang Betawi. Padahal masalah seputar Gusdur ini sudah ada sejak lama, sejak dahulu. Berulang-ulang muncul isu seputar Gusdur, dan berulang kali pula ia dibiarkan.

Setahu saya, ketika Gusdur mengucapkan kata-kata menista Al Qur’an sebagai kitab suci paling porno, hanya Al Ustadz Hartono Ahmad Jaiz yang bersuara lantang. Beliau menulis buku, Al Qur’an Dihina Gusdur. Selebihnya, memilih anteng-anteng saja. Memilih mencari aman, sambil terus menambah nilai nominal rekening tabungan, menambah daftar asset, menambah coverage pasar bisnis, menambah popularitas, menambah jumlah titel akademik, dan sebagainya. Padahal setahu saya, masih banyak orang yang ilmunya lebih luas dari Ustadz Hartono, lebih tahu soal perilaku Gusdur, lebih ahli, atau lebih sopan bahasanya.

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, saya termasuk peduli masalah ini, meskipun pada dasarnya saya hanya mengikuti jejak ustadz/ulama senior yang telah lebih dulu memasuki arena ini. Sebagai orang yang peduli, tidak bolehkah saya memohon kepada kaum Muslimin:

“Tolonglah kita semua peduli masalah ini! Mari kita sama-sama peduli, sebab perkara ini menyangkut kepentingan Ummat Islam seluruhnya. Mari kita berbagi beban, mari kita ratakan tanggung-jawab. Jangan sampai urusan seberat ini hanya dipikul orang yang itu-itu saja! Adalah sangat tidak adil di hadapan Allah, sebagian orang terus memikul beban berat, sementara yang lain selalu mencari aman, sambil menikmati hari-hari indah, penuh selera. Sampai kapan Anda akan betah membohongi diri seperti itu?”

Sejujurnya, amanah nahi munkar melalui publikasi seperti ini, bukan hak kami untuk melakukannya. Banyak orang yang lebih berhak memikulnya. Banyak orang yang lebih berilmu dari kami, lebih luas wawasan, lebih ahli dalam teknologi dan komunikasi, lebih mapan secara ekonomi, lebih mumpuni dari sisi gelar akademik, lebih sopan dalam bahasa, lebih ilmiah dalam menulis, dan seterusnya. Seharusnya, mereka lebih berhak menerjuni masalah ini, bukan kami. Kami ini seperti “ustadz jalanan” yang serba tidak memadai di berbagai sisi.

Baca entri selengkapnya »