Beberapa Opini Aktual

November 30, 2010

OPINI, edisi 27 Desember 2010.

“KEKALAHAN TIMNAS & INTRIK BOLA”

Saudaraku…

Anda sudah menyaksikan laga Timnas Indonesia Vs Malaysia? Anda sudah tahu hasilnya, Timnas kalah 3 : 0 ? Bagaimana perasaan Anda? Anda kecewa? Anda marah? Anda benci melihat Timnas dipecundangi di Stadion Bukit Jalil, Malaysia? Anda mau marah, Saudaraku?

….  …. ….

Mari-mari sini! Mari saya tunjukkan RAHASIA BESAR tentang dunia sepak-bola. Mari saya tunjukkan REALITAS yang jarang sekali dibahas di media-media massa. Tetapi itu ada dan nyata.

"Hati-hati Indonesia! Kami akan menang 3 : 0. Harga mati, man!"

Mari Saudaraku… Silakan duduk dulu. Minumlah dulu, biar Anda merasa lega. Kita akan sedikit bincang-bincang. Semoga pembicaraan ini bisa menawarkan dahagu, karena kecewa dengan kekalahan tim Firman Utina dan kawan-kawan. Disini ada rahasia besar yang perlu engkau tahu.

Mula-mula, ini baru permulaan, kalau melihat Timnas kalah, janganlah terlalu kecewa. Biasa-biasa sajalah. Kita menang Oke; kita kalah juga tidak apa-apa. Ya, ini cuma games, jangan terlalu dibuat STRESS.

Salah seorang putriku, SMP baru kelas 1. Dia pendukung Timnas juga. He he he… maklum orang Indonesia. Ketika dia mendengar Timnas kemasukan 1 gol, segera dia mengeluh, lalu menjauhi TV. Dia naik ke tempat tidur, mengambil selimut, lalu tidur. Keesokan paginya, sudah dia lupakan soal kekalahan Timnas. Ya, mestinya kita begitu juga. Ringan-ringan saja… Tidak usah dibuat stress, apalagi depressi.

Justru yang harusnya kita SEDIHKAN, adalah ketika tanggal 26 Desember 2010 kemarin itu adalah: Peringatan 6 tahun Tragedi Tsunami di Aceh. Seharusnya, sebagai manusia yang masih punya akal-budi, kita malu ketika melupakan tragedi dahsyat itu. Iya kan? Sehebat-hebatnya kekalahan Timnas, tidak ada satu pemain yang terbunuh di Bukit Jalil. Sementara 6 tahun lalu, ada sekitar 150 ribu manusia wafat karena Tsunami.

Kalau lupa soal Tsunami…ya sudahlah. Moga tahun depan tidak lupa ya…

Saudaraku…

Dunia sepakbola itu dunia BISNIS BESAR. Duitnya gede banget… Pengaruh sosial dan politiknya besar. Tidak mungkin lah urusan bola itu semata hanya urusan: teknik bermain, formasi permainan, strategi pelatih, fisik pemain, suasana psikologi di lapangan. Tidak mungkin itu…

Saudaraku, banyak orang berkepentingan terhadap kemenangan suatu tim, dan kekalahan tim lain. Dengan berbagai cara mereka akan berusaha, agar hasil pertandingan sesuai yang mereka harapkan. Disini pasti banyak sekali INTRIK-INTRIK kotor untuk mempengaruhi hasil pertandingan.

Contoh mudah dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, sebagian penonton tim Malaysia melakukan sorotan SINAR LASSER ke muka pemain-pemain Indonesia. Tetapi ini bukan intrik yang terlalu serius. Masih ada intrik lain yang lebih kejam dan kasar…

Sebelum Babak II pertandingan, seorang kawan mengatakan, para penjudi di Malaysia sedang bergerak untuk memenangkan Tim Malaysia. Teman itu mengatakan, “Nanti kita lihat saja pada Babak II. Mungkin akan terjadi sesuatu.” Benar saja, pada menit ke-54 pertandingan sempat terhenti sebentar karena protes pemain-pemain Indonesia, soal laser. Momen semacam itu sudah dikatakan teman saya tersebut.

Ketika saya tanya, “Bagaimana bentuk intervensi para penjudi Malaysia?” Katanya, mungkin mereka akan menekan panitia, wasit, atau manajemen Timnas Indonesia, untuk memenangkan tim Malaysia.

Kita tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi yang jelas, intrik-intrik semacam ini sering terjadi. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di level pertandingan sekelas Liga Primer Inggris, atau Piala Champions sekalipun. Bahkan trik-trik kotor itu banyak dikeluhkan oleh publik sepakbola Indonesia dalam lingkup kompetisi ISL.

Ayolah, buka matamu… Intrik-intrik itu ada dan nyata. Bukan hanya dalam Piala AFF. Bahkan dalam Piala Champions sekalipun. Tentu kita masih ingat, betapa kesalnya Barcelona FC ketika kalah dalam pertandingan melawan Inter Milan dalam Piala Champions tahun 2009 lalu.

Mourinho ketika itu mengatakan, “Ingat, kami dulu di Chelsea juga pernah dicurangi oleh Barcelona.” Ceritanya, saling curang-mencurangi.

Lalu intrik apa lagi?

Ada lagi, yaitu SIHIR. Mungkin Anda sulit percaya. Tetapi itu ada dan nyata. Sihir sering dipraktikkan untuk memenangi suatu pertandingan. Di Piala Dunia, tim asal Afrika atau Amerika Latin sering dituduh melakukan praktik-praktik sihir.

"Sepakbola Bisnis Besar. Kita Harus Menang. Apapun Caranya!"

Sejujurnya, aku sendiri pernah menyaksikan praktik sihir itu, saat ikut pertandingan level bocah SD, di kampung ku dulu. Di depan mataku, praktik sihir itu dilakukan. Waktu itu aku ikut dalam pertandingan bola itu. Orang-orang di kampung sering menyebut dengan istilah: “Main dukun!” Istilah itu populer kami dengar di berbagai pertandingan bola tingkat kampung, kecamatan, atau kabupaten.

Ciri permainan yang menggunakan trik SIHIR: “Tim yang didukung mendapat kemenangan dengan cara mudah. Sementara tim lawan sangat kesulitan mengembangkan permainan, meskipun skill mereka bagus. Dan lebih sulit lagi untuk menembus gawang.”

Misalnya, dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, Tim Malaysia bisa mendapat 3 gol hanya dalam tempo 10 menit. Ini adalah produksi gol yang sangat mudah. Padahal di Babak I, mereka gagal membuat satu gol pun. Dan kemenangan 3 : 0 itu sesuai prediksi Rajagopal. Hebat kan? Rajagopal sudah memperkirakan kemenangan 3 : 0, dan ternyata terbukti. Hebat…

Di sisi lain, Timnas bermain sangat buruk. Banyak pemain Timnas bermain seperti “pemain bodoh”. Berkali-kali membuat kesalahan, umpan tidak akurat melulu… Kalau menembak ke gawang, melenceng terus.

Dari pengalamanku menyaksikan pertandingan SIHIR di masa kecil… Pertandingan seperti di Bukit Jalil itu jelas memakai intrik-intrik Sihir. Sekali lagi alasannya: “Sepakbola adalah bisnis besar, politik besar, pengaruh sosial besar.” Segala cara akan dilakukan, untuk meraih kemenangan.

Tapi ada kabar baiknya… Ternyata, pelaku praktik sihir ini bukan hanya dalam pertandingan Timnas Vs Malaysia. Sampai di level Liga Primer dan Piala Chamions Eropa, ada praktik semacam itu. Ada dan nyata…

Bayangkan… Arsenal pernah kalah 3 : 0 (atau 3 : 1 ya) dari Manchester United, di kandang Arsenal. Bayangkan? Apa mungkin bisa terjadi kekalahan setelak itu di kandang Arsenal? Begitu juga, Real Madrid baru-baru ini kalah 5 : 0 oleh Barcelona FC di kandang Barcelona. Apa mungkin tim sekuat Real Madrid bisa kalah setelak itu? Padahal Barca tidak selalu menang besar menghadapi lawan-lawannya di kandang Barca.

Sekali lagi, ciri permainan Sihir: Tim tertentu menang dengan mudah, tim lawan hampir-hampir tidak bisa main sama sekali. Semua kemampuan teknik, strategi, arahan pelatih, dll. seolah tak berguna sama sekali.

Saya yakin, kekalahan Timnas di Bukit Jalil Malaysia lebih karena kekalahan akibat permainan Sihir dari luar lapangan. Sebab secara teknik atau teori permainan bola, tidak ada REASON yang bisa dijelaskan.

Saudaraku…

Sangat telat kalau kita baru mengetahui hal ini saat sekarang. Sihir itu bisa diterapkan di berbagai bidang yang sesuai tabiat sihir itu sendiri. Media-media massa tidak pernah mau mengungkap faktor sihir, begitu juga pemaian, pelatih, offisial, komentator, dll. Mengapa? Sebab kalau peranan sihir dijadikan tolok-ukur, nanti sepakbola jadi tidak laku.

Singkat kata… kita selama ini ya hanya ditipu, ditipu, dan ditipu saja dengan pemberitaan soal sepakbola itu. Kita hanya menjadi mainan media-media massa. Sejujurnya, pertandingan sepakbola yang fair, jujur, dan menyenangkan itu hanya IMPIAN belaka. Terlalu banyak intrik-intrik yang bermain di balik pertandingan bola.

Ke depan… Kita jangan terlalu senang dengan kemenangan sepakbola; juga jangan terlalu sedih dengan kekalahannya. Nikmati permainannya saja, jangan lihat skornya! Anggap, siapa yang menang ialah para best player, meskipun di lapangan mereka kalah.

Kalau kita seperti selama ini… Menganggap kemenangan dari sisi skor, terserah bagaimanapun caranya. Pasti kita akan menjadi “budak-budak” pemberitaan seputar bola. Janganlah Saudaraku…capek!

Oke Saudaraku, sampai disini saja obrolan kita. Santai sajalah…seperti putri saya yang memilih tidur, lalu melupakan kekalahan. Ringan kan? Justru kita seharusnya merasa sedih, ketika tidak ingat peringatan 6 tahun Tsunami di Aceh. Untuk itu jelas harus berduka…

Matur nuwun, nggih!

=====================================================

OPINI, edisi 24 Desember 2010.

“SAUDARAKU, TOLONGLAH TITIPAN NABIMU INI!”

Yatim-Piatu: Titipan Nabi Saw Untuk Kita Semua...

Ada rasa kesedihan mendalam ketika membaca artikel berikut ini: “Yatim-Piatu Mewarisi Hutang Rp. 45 juta.” Artikel ini dimuat voa-islam.com, 23 Desember 2010.

Saudaraku…

Apalah artinya hidup di dunia ini? Apalah artinya… Tidak ada yang bisa kita sombongkan, apapun, sedikit pun. Kita ini hanyalah hamba-hamba Allah yang dhaif, fakir, tidak berdaya. Tanpa pertolongan dan ijin-Nya, kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah: karunia dari-Nya. Hanya kepada Allah kita bersujud, merintih, menghiba, dan mengharapkan pertolongan.

Ya Allah ya Rahiim… teramat banyak, teramat besar, teramat rumit cobaan-cobaan yang menimpa Ummat Sayyidul Mursalin -shallallah ‘alaihi wa sallam- ini. Banyak orang papa, banyak manusia fakir, banyak pemuda terasing, banyak wanita teraniaya, banyak anak-anak kehilangan masa-masa bermainnya. Ya Allah, amat sangat berat cobaan bagi hamba-hamba-Mu ini. Kami hanya kuasa menulis, mengadu kepada-Mu, serta meneteskan air mata kesedihan… Ya Allah ya ‘Aziz kasihilah hamba-hamba-Mu ini, kasihilah kami ya Rabbi… hendak kemana kami kan mengadu?

Ya Allah, kami ridha dengan-Mu ya Allah… kami ridha mentaati-Mu, kami ikhlas menerima tuntunan-Mu, kami menuruti-Mu sekuat kesanggupan kami… Kami beramal, tetapi kami juga melakukan kesalahan; kami berjuang, tetapi juga jatuh dalam kezhaliman; kami terus berusaha melakukan perbaikan, tetapi kami pun mengulang-ulang kesalahan kami.

Ya Allah, di atas segala kedhaifan kami ini, kami dapati Engkau adalah Maha Pengampun, Engkau Maha Pemaaf, kasih-Mu melebihi adzab-Mu, Engkau lebih sayang kepada kami daripada diri kami sendiri, Engkau memberikan kami karunia-karunia besar yang tidak kami minta, Engkau mencegah berbagai fitnah dan bencana menimpa diri kami, ketika amal-amal kami justru sangat dekat kepada bencana-bencana itu. Ya Allah, Engkau selalu memaafkan kami, ketika tiada henti kami menyakiti-Mu. Ya Rabbi maafkan kami, maafkan kami ya Rahmaan, maafkan kami ya Raa’uf.

Ya Allah, tolong anak-anak kami… tolonglah orangtua-orangtua kami… tolonglah para pemuda Islam… tolonglah wanita-wanita Muslimah… tolonglah para mujahidin ya Rabbi… tolonglah para ustadz yang ikhlas mengajar Ummat… tolonglah para ulama yang menjadi benteng-benteng agama ini…

Ya Allah ya Nashir, tolonglah anak-anak kami yang yatim-piatu… tolonglah amanah Rasulullah Saw ini… tolonglah mereka, kasihi mereka, hapuslah kesedihan mereka, berikan mereka ISTIQAMAH di atas agama-Mu, berikan mereka kecukupan rizki dan pertolongan atas setiap kesulitannya… tolonglah mereka ya Allah ya Hafizh ya Dzal Jalali wal Ikram.

Ya Allah ya Ghaniy, tolonglah hamba-hamba-Mu yang dermawan… yang lembut hati, pengasih kepada kaum lemah, air matanya mudah sembab karena mengasihi Ummat Nabi Saw, tangan-tangannya begitu hangat dan dermawan mengelus kepala anak-anak kaum Muslimin yang malang… ya Allah ya Rahmaan, tolonglah mereka… berkahi rizki-nya, berkahi keluarganya, tolonglah usahanya, kekalkan kebahagiaan dan keselamatan baginya… sebab mereka menolong, mengasihi, menjaga TITIPAN NABI Saw, yaitu anak-anak yatim-piatu yang lemah dan menderita.

Ya Allah terimalah doa-doa kami ini. Amin Allahumma amin, ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

———————————————–>>>

Untuk menolong anak-anak kita di atas (Fikri dan Dinda), silakan menghubungi redaksi voa-islam.com (0817.702050) atau kepada keluarganya ke nomor HP: 0878.8651.3321. Bantuan bisa dikirim ke rekening almarhumah: BCA an. Elly Mariati no rek. 7020.180.514 atau melalui redaktur voa-islam.com.

================================================

Baca entri selengkapnya »


MAKLUMAT BLOG

November 25, 2010

Ikhwan akhawat rahimakumullah.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Dengan dipublikasikannya artikel berseri akhir-akhir ini, menandakan bahwa blog “abisyakir” akan mulai memasuki saat Maghrib (senja). Alhamdulillah, Allah Ta’ala telah menolong kami mengelola blog ini selama 2,5 tahun terakhir. Pertolongan itu sangat banyak dan besar, alhamdulillahil ‘Azhim. Hanya pujian dan syukur ditujukan kepada-Nya. Dan rasa terimakasih mendalam disampaikan kepada beberapa ikhwan yang telah membantu publikasi media blog ini; juga terimakasih kepada seluruh pembaca budiman dan kaum Muslimin atas segala perhatian, minat, dan dukungannya selama ini. Jazakumullah khairan katsira.

Momen Transformasi Akan Selalu Ada dalam Hidup Ini. Kita Bergerak dalam Putaran Waktu.

Secara pribadi saya akan mundur dari dakwah online ini. Tetapi konten artikel yang ada dalam blog ini tetap dipertahankan. Rencananya akan dilakukan pengaturan, perbaikan, serta pemilihan artikel-artikel yang sudah dimuat. Sekian lama keinginan merapikan itu, selalu terkendala oleh tuntutan menambah artikel baru. Tanpa terasa, telah lebih dari 400 artikel ditulis dan dipublikasikan disini. Alhamdulillah. Ini adalah jumlah yang banyak, cukup sebagai alasan untuk mundur dari tugas publikasi seperti ini. Mungkin pertanyaannya, “Mengapa tidak ditambah terus?” Justru saya balik bertanya, “Kalau mau ditambah, berapa banyak lagi? Dan sampai kapan?” Bukankah barakah itu dilihat dari sisi manfaatnya, bukan dari jumlah. Untuk apa kita memiliki banyak aset kalau tidak dikelola dengan baik? Lebih baik memiliki sedikit aset tetapi benar-benar disyukuri.

Kalau dibilang berhenti total, jelas tidak. Sebab internet pada masa ini telah menjadi media publikasi yang memiliki pengaruh besar. Di media internet kita bisa mendapati informasi-informasi “extra ordinary” (di luar kebiasaan). Konten di blog “abisyakir” tetap akan dikembangkan, dirapikan, diperbaiki, serta diatur sedemikian rupa. Hanya saja, untuk UPDATING artikel, saya “pensiun”. Cukup memanfaatkan yang ada saja, tidak perlu ditambah-tambah lagi.

Kata orang, “Sejarah selalu berulang!” Itu pula yang saya rasakan saat mengelola blog ini. Meskipun artikel bertambah, tetapi ada kalanya seperti mengulang artikel-artikel sebelumnya. Ini seperti sebuah lingkaran realitas yang selalu berputar, meskipun dengan tampilan berbeda-beda. Bisa jadi, realitas yang dialami para pengelola media-media massa juga seperti itu. Sepintas lalu elemen-elemennya berubah, tetapi esensinya sama. Hanya saja, para konsumen media tidak menyadari mekanisme itu. [Hal ini asli bocoran dari admin. “abisyakir”].

Beberapa kali upaya “mundur online” belum bisa terlaksana. Karena masih banyak amanah risalah yang belum disampaikan. Namun setelah beberapa seri artikel terakhir, itu menandai tuntasnya tanggung-jawab publikasi lewat blog ini. Sungguh besar karunia dan pertolongan Allah Ta’ala. Upaya publikasi ini tak akan mungkin tercapai tanpa pertolongan Allah dan nikmat-Nya. Alhamdulillahi, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Untuk lebih memperjelas, ada beberapa detail teknis yang perlu disampaikan:

[1] Blog “abisyakir” tidak ditutup, tetapi konten yang ada akan dirapikan, diatur, dan diperbaiki, sehingga diharapkan bisa menjadi sebuah media REFERENSI, dalam rangka pemberdayaan ilmu dan wawasan Ummat.

[2] Selanjutnya tidak ada UPDATE artikel lagi, karena artikel yang ada sudah cukup banyak. Kewajiban saya kini ialah MEMANFAATKAN artikel-artikel itu untuk kebaikan Ummat, bukan menambah JUMLAH. Mohon dimaklumi.

[3] Untuk fasilitas komentar pembaca akan dinonaktifkan per tanggal 10 Desember 2010. Bila ada pertanyaan, konsultasi, kritik, saran, masukan, shilaturahim, silakan tulis e-mail ke alamat berikut: abisyakir1000@gmail.com. Jika ada e-mail yang urgen dijawab, insya Allah akan direspon secara baik.

[4] Ada sedikit toleransi. Jika terjadi hal-hal khusus menyangkut Ummat Islam, yang menuntut perhatian, respon, dan opini yang kuat, insya Allah nanti akan disampaikan pandangan lewat kolom OPINI (akan segera diadakan). Tetapi respon itu sendiri bersifat praktis, argumentatif, dan to the point.

[5] Masa transisi ke format publikasi baru akan dimulai dengan percobaan selama 3 bulan ke depan (Desember, Januari, Februari). Selanjutnya akan diputuskan mekanisme terbaik, setelah melihat perkembangan selama 3 bulan.

[6] Secara pribadi dan juga keluarga, kami memohon doa kepada para pembaca budiman, ikhwan akhawat rahimakumullah, agar kontribusi dakwah melalui blog ini diterima di sisi Allah sebagai amal shalih yang memadai; agar Allah menjadikan isi blog ini bermanfaat bagi Ummat; agar Allah berkenan mengampuni seluruh kesalahan-kelemahan kami, baik yang sengaja atau tidak; agar Allah memberkahi hidup kami, Anda dan keluarga, serta kaum Muslimin. Amin Allahumma amin. (Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in). Mohon benar-benar doanya ya. Setidaknya, mau meng-amin-kan.

Dan akhirnya, terucap kata syukran jazakumullah khair atas perhatian para pembaca budiman. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan, kekurangan, atau kezhaliman yang ada. Setiap yang benar dan baik, adalah nikmat dari Allah Ta’ala; setiap kesalahan dan keburukan, dari diri saya sendiri.

Beberapa untai doa sebagai penutup:

Allahumma Rabbana, ampunilah dosa-dosa kami, dan sikap berlebih-lebihan kami dalam urusan kami, teguhkanlah kedudukan kami, dan tolonglah kami atas orang-orang kafir.

Rabbana, sesungguhkan kami beriman (kepada-Mu), ampunilah kami, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.

Rabbana, ampunilah kami, dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan jangan adakan dalam hati kami kedengkian kepada sesama Mukmin, ya Rabbana, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Rabbana, berikan kepada kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di Akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Bandung, 25 November 2010.

[ Abu Muhammad Waskito ].


Metode Golongan Selamat

November 25, 2010

artikel ini termasuk salah satu dedikasi terbaik blog “abisyakir” kepada Ummat Islam dan kehidupan, insya Allah

ARTIKEL 13 [terakhir]:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram ajma’in. Amma ba’du.

Ini adalah sebuah kajian yang sangat penting, urgen, dan fundamental. Tetapi insya Allah praktis dan mudah dipahami. Disini akan dijelaskan 5 PRINSIP jalan keselamatan Islam. Prinsip-prinsip tersebut diambil dari pemahaman atas ayat-ayat yang terdapat dalam Surat As Shaff ayat 10-13. Dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan cara-cara menjadi Muslim yang selamat. Bukan hanya selamat, tetapi kita juga dijanjikan KEMENANGAN di dunia.

Selama ini banyak ulama membahas tentang metode golongan selamat, Manhaj Firqatun Najiyyah, dengan sifat-sifat yang mereka sebutkan. Tetapi manhaj itu sendiri sebenarnya sudah ada dan dijelaskan dalam Al Qur’an. Hal ini benar-benar ada dan nyata, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi semua kalangan. Siapapun bisa memahaminya, sebab ia bersumber dari Al Qur’an Al Karim. Tidak peduli siapapun, baik yang menyebut nama kelompok atau tidak, selama dirinya seorang Muslim, dapat mengambil pelajaran dari Surat As Shaff ayat 10-13 itu.

Jalan Menuju Keridhaan ALLAH Ta'ala

Dalam kajian ini, mula-mula kita akan memahami makna-makna dalam Surat As Shaff ayat 10-13. Lalu disebutkan 5 PRINSIP metode golongan selamat, beserta penjelasannya secara sekilas. Lalu diakhiri dengan penutup.

PEMBAHASAN AYAT

Ayat dalam Surat As Shaff ayat 10-13 adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيم

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

َيغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِك الْفَوْزُ الْعَظِيم

َ وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Ya aiyuhal ladzina amanu” (wahai, orang-orang beriman). Yang dipanggil disini adalah orang-orang beriman, bukan hanya seorang Muslim. Pada awalnya ayat ini ditujukan kepada Nabi Saw dan para Shahabat Ra, merekalah yang semula disebut sebagai orang-orang beriman itu. Tetapi ayat ini juga berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, sampai akhir jaman.

Orang Mukmin memiliki kelebihan dibandingkan orang Muslim biasa. Orang Mukmin ialah orang yang komitmen dengan amal-amal shalih secara mandiri. Untuk beribadah dan beramal kebaikan, mereka tidak perlu disuruh-suruh, tidak perlu dipaksa-paksa, atau diberi ancaman, atau diberi imbalan komersial. Mereka beramal shalih secara mandiri, secara ikhlas, tidak peduli ada manusia yang mau menghargai amalnya atau tidak. Inilah orang-orang beriman. Mereka taat dan patuh kepada Allah secara aktif, tanpa perlu didorong-dorong oleh orang lain.

Dalam Al Qur’an disebutkan hakikat keimanan. “Bahwasanya orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, lalu mereka berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang benar (perkataannya).” (Al Hujurat: 15).

Iman jika sudah masuk ke dalam hati, terasa manisnya, ia akan menggerakkan diri manusia untuk melaksanakan amal-amal shalih, dan meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, secara mandiri. Tanpa harus dipaksa-paksa, didorong-dorong, diancam, atau diiming-iming dengan keuntungan materi tertentu.

Bahkan orang beriman itu rela mengorbankan kepentingan-kepentingannya demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Mereka tidak merasa rugi dengan pengorbanan itu, sebab Allah menjanjikan pahala di Akhirat dan keberkahan hidup di dunia.

“Hal adullukum ‘ala tijaratin” (sukakah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan). Kalimat ini sangat menarik, ia bisa bermakna, “Maukah kalian Aku tunjukkan dalil-dalil tentang suatu kontrak?” Tijarah disini bukan jual-beli pada umumnya, tetapi jual-beli dalam lapangan iman dan amal shalih. Disini Allah Ta’ala menunjukkan kepada kita suatu METODE tertentu dengan dalil-dalil yang jelas. Itulah metode atau manhaj yang sangat dibutuhkan setiap Muslim. Begitu istimewanya manhaj itu, sampai disebut dengan kata perniagaan, perdagangan, jual beli, transaksi, atau kontrak. Artinya, jika kita menjual (menjalani metode itu), maka Allah Ta’ala akan membeli jualan kita (dengan memberi anugerah-anugerah besar secara pasti dan meyakinkan).

Tunjikum min ‘adzabin alim” (-suatu transaksi- yang akan menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih). Inilah dalilnya, mengapa ayat-ayat disebut sebagai metode golongan selamat. Disini sangat jelas, bahwa transaksi atau kontrak yang Allah tunjukkan itu akan menyelamatkan kita dari adzab yang pedih. Adzab ada dua jenis, di dunia dan di Akhirat. Jika kita menjalani metode (transaksi) tersebut, maka sudah pasti kita akan mendapat keselamatan hidup, di dunia dan Akhirat.

Tu’minuna billahi” (hendaklah kalian beriman kalian kepada Allah). Setelah Allah menunjukkan betapa pentingnya metode keselamatan ini, lalu Dia memberitahu isi dari metode yang dimaksud. Disini disebutkan, “Beriman kepada Allah.” Yang dimaksud beriman, bukanlah sekedar perkataan, “Saya percaya kepada Allah.” Tidak sekedar itu, sebab iman oleh Salafus Shalih didefinisikan sebagai: pembnaran dalam hati, ucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan perbuatan. Hakikat “beriman” dalam ayat ini: “Beribadah kepada Allah dengan keyakinan tauhid, dan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun.” Singkat kata, beriman kepada Allah adalah BERIBADAH dan BERTAUHID kepada-Nya. Beribadah saja tanpa tauhid, amal-amal kita akan tertolak; bertauhid saja tanpa ibadah, akan membuat kita menjadi kaum fasiq. Na’udzubillah minhuma.

Wa rasulihi” (-dan beriman juga- kepada Rasul-Nya). Beriman kepada Rasulullah Saw. Beliau adalah seorang Nabi, Rasul, Imam, Amir, Qudwah (Uswah), pemimpin mujahidin, masdar Syar’i (sumber syariat), dan lainnya. Mengimani Rasulullah ialah dengan meyakini kebenaran Syariat-nya, membenarkan sabda-sabdanya (meyakini Al Hadits), mengamalkan Sunnah-sunnahnya sekuat kemampuan, mempelajari jalan perjuangannya (Sirah Nabawiyyah), membela kehormatan beliau, keluarga, dan Shahabatnya, membacakan shalawat untuknya, serta mencintainya.

Wa tujaahiduna fi sabilillahi” (dan kalian berjihad di jalan Allah). Setelah bertauhid kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, lalu berjihad di jalan Allah. Ini adalah amal-amal yang penuh berkah, satu sama lain terangkai dalam satu susunan yang mengagumkan. Makna asli berjihad ialah berperang menghadapi musuh-musuh Islam, demi membela agama Allah. Contoh mudah amalan jihad: perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab. Sebagian ahli tafsir menjelaskan, setiap kata ‘jihad’ dilekatkan dengan kata ‘fi sabilillah’, itu artinya berperang. Hal-hal demikian mudah dipahami di suatu negeri yang menegakkan sistem Islami. Tetapi di negeri di bawah sistem sekuler (non Islam), makna jihad tidak semata-mata berperang. Mendakwahkan Islam, membina Ummat, amar makruf nahi munkar, menentang Kristenisasi, menentang pemikiran sesat, melawan penjajah, membuat media Islam, berjuang di lapangan politik Islami, dll. yang bisa dikatagorikan sebagai amalan menolong agama Allah; semua itu adalah jihad. Namun tetap saja, setinggi-tinggi jihad ialah berperang di jalan Allah. Nabi Saw mengatakan, “Man qatala li takuna kalimatullah hiyal ‘ulya, wa huwa fi sabilillah” (siapa yang berperang dalam rangka meninggikan Kalimat Allah, maka dia berada di jalan Allah).

Bi amwalikum wa anfusikum” (-berjihad- dengan harta dan diri kalian). Perjuangan di jalan Allah dimodali dengan segala kekuatan atau daya yang mampu diberikan. Modal itu berupa harta, tenaga, pikiran, ilmu, keahlian, hingga puncaknya dengan pengorbanan jiwa (nyawa). Demikianlah sifat dalam perjuangan Islam. Tidak bisa perjuangan hanya bermodal teori saja; bermodal keringat saja; bermodal propaganda saja; bermodal diplomasi saja; tetapi seluruh kekuatan yang mampu dikerahkan, harus dikerahkan demi kemenangan agama Allah.

Dzalikum khairul lakum in kuntum ta’lamuun” (yang demikian itu lebih baik bagi kalian, kalau kalian mengetahui). Bertauhid kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, dan berjihad di jalan Allah, semua itu adalah METODE TERBAIK yang harus dijalani oleh setiap Muslim. Andaikan kita tahu ilmunya, tentulah kita tak akan melepaskan diri dari metode yang penuh berkah ini. Di dalamnya banyak kebaikan-kebaikan yang akan kita peroleh.

Baca entri selengkapnya »


Hutang Bangsa Indonesia kepada Syariat Islam

November 25, 2010

ARTIKEL 12:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini masih banyak masyarakat Indonesia yang membenci jika Syariat Islam diberlakukan di Indonesia. Kalangan seperti itu misalnya politisi sekuler, tokoh-tokoh NU, kalangan TNI, Polri, tokoh-tokoh akademisi, media-media massa sekuler, aktivis LSM, misionaris gereja, kaum seniman, dll. Di mata mereka, Syariat Islam akan berdampak menghancurkan NKRI. Tetapi pada saat yang sama, setelah merdeka 65 tahun kondisi NKRI justru sangat terpuruk. Sementara faktanya, bangsa ini tidak pernah sebentar pun melaksanakan Syariat Islam.

Bangsa Ini Berhutang Besar Kepada ISLAM.

Saat diatur paham nasionalis-sekuler, keadaan NKRI ancur-ancuran seperti saat ini. Di sisi lain Syariat Islam dibenci setengah mati, padahal bangsa ini tak pernah sehari pun melaksanakan sistem Syariat Islam, sejak merdeka. Sesuatu yang belum pernah dilaksanakan dibenci mati-matian, sedangkan sesuatu yang justru sudah gagal selama 65 tahun terus dipuja-puja. Aneh sekali memang. Syariat Islam tidak boleh dituduh sedikit pun, karena memang belum pernah diterapkan di Indonesia.

Di jaman sebelum NKRI, kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah melaksanakan Syariat Islam. Terbukti, hidup mereka baik-baik saja. Tidak pernah terdengar di masa itu ada isu kelaparan, kemiskinan, tragedi kemanusiaan, wabah penyakit, bencana alam mengerikan, dll. Bahkan di masa itu, kaum Muslimin beberapa kali berhasil mengusir penjajah. Hanya karena kelicikan penjajah dan keserakahan bangsawan-bangsawan pemuja syahwat, akhirnya bangsa ini terjajah kaum kolonial. Menurut catatan sejarah, Amangkurat I, putra Sultan Agung di Mataram Yogya, pernah mengumpulkan 5000-6000 ulama atau ustadz dari seluruh Jawa, lalu dia bantai orang-orang shalih itu seluruhnya. Itu pun kalau Mataram dianggap sebagai kerajaan Islam, padahal kemusyrikan di dalamnya pekat sekali.

Sejujurnya, banyak sekali jasa-jasa Syariat Islam bagi bangsa Indonesia. Banyak sekali jasa Syariat Islam bagi keutuhan NKRI. Hanya saja, semua itu tidak tampak di mata orang-orang bodoh. Mereka tahunya hanya membenci, membenci, dan membenci Syariat Islam, sambil tidak tahu malu sehari-hari merasakan pertolongan Syariat Islam. Mereka membenci sesuatu yang bermanfaat melindungi, menyelamatkan, memberi sejahtera, dan kehidupan baginya.

Jasa Syariat Islam sangat besar bagi bangsa ini. Adapun bagi tokoh-tokoh seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Ulil Abshar, Azyumardi Azra, Dawam Rahardjo, Musdah Mulia, Syafi’i Ma’arif, dan sejenisnya; demi Allah jasa-jasa mereka terhadap bangsa ini tidak ada seujung rambut pun dibandingkan jasa-jasa Syariat Islam. Bahkan Syariat Islam telah “menghidupi” orang-orang tersebut. Tanpa Islam, mereka tak ada harganya di mata manusia.

Berikut ini sebagian jasa-jasa Syariat Islam bagi kehidupan bangsa Indonesia:

(1) ISLAM MENYATUKAN BANGSA INDONESIA. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Dalam tubuh bangsa ini terdapat sangat banyak etnis dan berbeda-beda bahasanya. Demi Allah, bukan Pancasila atau Sumpah Pemuda yang menyatukan bangsa ini, tetapi Islam lah penyatunya. Andaikan di negeri ini bukan mayoritas Islam, NKRI tak akan pernah terbentuk selamanya. Lihatlah bangsa-bangsa di Eropa, Afrika, atau Asia yang bukan mayoritas Muslim! Mereka berpecah-belah dalam negeri-negeri kecil, meskipun sama-sama Nashrani, meskipun sama-sama Hindu, Budha, atau penganut Taoisme. Islam membuat bangsa ini bisa disatukan. Padahal perbedaan etnis itu sangat berpeluang memecah-belah bangsa.

(2) SPIRIT ANTI PENJAJAHAN. Tidak dipungkiri, bahwa Islam adalah agama yang sangat anti penjajahan. Islam tidak pernah menjajah siapapun, dan tidak mentoleransi penjajahan dimanapun. Dalam ajaran Islam, penjajahan adalah puncaknya kezhaliman, maka akan dilawan sampai titik darah penghabisan. Sejak jaman Pangeran Baabullah di Ternate, Fatahillah, Adipati Yunus, Sultan Iskandar Muda, sampai era Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cik Di Tiro, sampai era penjajahan Jepang, bahkan sampai era kemerdekaan, Islam selalu menjadi spirit perlawanan anti penjajah. Jendral Soedirman dalam berbagai kesempatan selalu menyebut hadits Nabi Saw yang bermakna, “Siapa yang tak pernah mempersiapkan diri untuk berjihad, atau tidak ada niat di hatinya suatu ketika untuk berjihad, maka dia akan mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” Jika dalam masa modern perlawanan anti penjajahan itu tidak muncul, karena dalam kesadaran bangsa Indonesia kondisi kita selama ini merdeka (padahal sejatinya terjajah).

(3) ISLAM MEWARNAI SEJARAH BANGSA INI. Banyak sekali catatan sejarah yang disandarkan kepada Islam di negeri ini. Mulai dari sejarah kedatangan saudagar-saudagar pendakwah Islam, sejarah kerajaan-kerajaan Islam, sejarah perlawanan Muslim menentang penjajahan, sejarah tokoh-tokoh Muslim, sejarah bangunan-bangunan peninggalan Islam, sejarah karya-karya Muslim, sejarah pustaka Islami, dan sebagainya. Andaikan semua catatan sejarah Islam itu dihapus dari diri bangsa ini, kita akan kehilangan teramat banyak catatan sejarah. Mungkin akan kehilangan 70 % catatan sejarah yang kita miliki.

(4) ISLAM MEMBENTUK BAHASA INDONESIA. Peranan Islam dalam membentuk bahasa Indonesia sangat kuat. Tokoh-tokoh Muslim, media-media Muslim, organisasi-organisasi Islam sudah memilih bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, sebelum ada Sumpah Pemuda tahun 1928. Syarikat Dagang Islam, Syarikat Islam, Muhammadiyyah, NU, Persis, Al Irsyad, sudah memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, sebelum Sumpah Pemuda. Padahal saat yang sama organisasi seperti Boedi Oetomo lebih suka memakai bahasa Belanda dan Jawa, sebagai bahasa pengantar komunikasi mereka. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata-kata seperti: Kalimat, bait, syair, syarat, wajib, waktu, bina, pasal, masyarakat, rakyat, majelis, dewan, badan, jasmani, musyawarah, wakil, musibah, kitab, kertas, daftar, sakit, kesumat, pikiran, kalbu, lezat, nafas, insan, serikat, paham, hukum, istirahat, sifat, urusan, dll. Belum kata-kata yang sudah jelas merupakan bagian dari Islam, seperti: Al Qur’an, Syariat, Shalat, Sunnah, fiqih, nikah, ukhuwwah, muamalah, Ramadhan, Haji, dll. Semua itu adalah serapan dari bahasa Arab yang dimasukkan oleh bangsa kita ke dalam bahasa Indonesia. Dalam kalimat ini, “Masyarakat menyadari makna pemahaman dan ilmu dengan akal pikiran.” Dalam kalimat ini seluruhnya diambil dari bahasa Arab, selain ‘dan’ dan ‘dengan’. Andaikan semua sumbangan Islam ini dihapus dari bahasa Indonesia, kita akan kehilangan konten bahasa yang besar. Belum lagi pengaruh bahasa Arab dalam struktur (grammar) bahasa Indonesia.

(5) ISLAM MENJIWAI RUH PANCASILA & UUD 1945. Inilah adalah fakta besar yang selama ini tidak diakui. Bahkan banyak aktivis Islam tidak menyadari masalah ini. Dapat dikatakan, tanpa peranan Islam, bangsa Indonesia tak akan pernah punya Pancasila dan UUD 1945. Dalam Pancasila ada 5 sila, yang masing-masing intinya: Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Semua nilai-nilai itu diajarkan dalam Islam, seluruhnya. Begitu juga Pembukaan UUD 1945 yang intinya: Sifat anti penjajahan, mensyukuri kemerdekaan sebagai rahmat Allah, cita-cita melindungi jiwa rakyat Indonesia, mensejahterakan bangsa, mencerdaskan bangsa, dll. semua itu sangat kuat dijiwai oleh SPIRIT ISLAM. Dari mana lagi bangsa ini belajar nilai-nilai moral demikian, kalau bukan dari khazanah Islam. (Tetapi bukan berarti pula seluruh isi UUD 1945, terutama bagian batang tubuh, mencerminkan nilai-nilai Islami). Maka itu tidak mengherankan kalau orang-orang Liberal tidak pernah mau menengok Pancasila dan UUD 1945. Mereka selalu berdalih dengan kalimat “Bhineka Tunggal Ika”. Darimana kalimat itu diperoleh? Dari lambang Garuda Pancasila, bagian pita yang dicengkeram kaki garuda itu. Lihatlah, orang-orang Liberal itu mencari dalih apa saja yang bisa dipakai, meskipun hanya sebuah kalimat di kaki garuda.

Baca entri selengkapnya »


Kita Hidup di Dunia Kejam!

November 25, 2010

ARTIKEL 11:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini kita sering mendengar pernyataan-pernyataan yang baik, mulia, dan penuh nilai moral. Ia bisa keluar dari lisan pejabat negara, politisi, aparat keamanan, perwira militer, pakar/pengamat, wartawan media, akademisi, tokoh ormas, tokoh agama, ustadz, aktivis LSM, tokoh mahasiswa, bahkan dari rakyat kecil.

Ucapan-ucapan baik itu misalnya:

“Mari kita sukseskan program pembangunan sebaik-baiknya!”

“Pemerintah akan selalu memperhatikan masalah rakyat, mencari solusi terbaik, mengatasi kemiskinan, membangun kesejahteraan.”

“Bangsa Indonesia harus selalu hidup rukun, damai, saling toleransi satu sama lain. Mari kita membangun kehidupan yang aman, tentram, sentosa!”

“Setiap kejahatan akan kami tindak tegas. Sudah menjadi kewajiban kami menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Agar kehidupan sosial berjalan terarah, tenang, dan proses pembangunan tidak terganggu.”

“Iklim investasi terus berkembang, situasi ekonomi semakin membaik, target pertumbuhan ekonomi akan tercapai, sehingga masyarakat akan hidup lebih sejahtera.”

“Pembangunan demokrasi harus terus ditingkatkan. Kehidupan politik perlu lebih berkembang dan kreatif, sehingga bisa menghasilkan out put kehidupan bangsa dan negara yang sejahtera, adil, dan bermartabat.”

“Aparat hukum akan selalu mengawal proses hukum secara adil, transparan, dan memenuhi rasa keadilan publik. Yakinlah!”

“Gerakan mahasiswa telah mencapai tahap kematangan dalam perspektif independensi politik, sosial, dan organisasi. Ke depan tantangan gerakan mahasiswa akan lebih berat lagi. Tetapi dengan komitmen kita bersama, semua tantangan akan dilewati dengan tenang.”

“Kehidupan agama di negara kita semakin baik, kesadaran religius masyarakat semakin meningkat, kepedulian terhadap persoalan sosial semakin tinggi. Kita optimis, Indonesia ke depan akan mencapai masyarakat adil dan makmur dalam naungan Ridha Allah.”

“Dunia pers semakin semarak. Kebebasan pers bisa terekspresikan secara maksimal. Skill insan-insan pers semakin matang. Etika jurnalistik pun terus dikembangkan sesuai konteks dan kemajuan jaman.”

    Tentu kita sangat sering mendengar ucapan-ucapan seperti di atas. Justru karena saking seringnya, akhirnya kita bisa “menghafal” retorika-retorika seperti itu. Bagi siapapun yang mendengar retorika seperti itu jelas akan senang, gembira, atau terpesona. “Alhamdulillah, ternyata kehidupan bangsa kita semakin maju, semakin sejahtera, dan bermartabat. Buktinya, ucapan-ucapan yang keluar dari elit-elit bangsa kita selalu baik-baik saja. Tidak ada yang mengeluh, bersedih, atau prihatin. Semua isinya serba baik, mulia, dan optimis.”

    "This life is very hard, brother..."

    Tetapi ucapan-ucapan yang baik itu ternyata hanya ada DI ATAS KERTAS. Atau sekedar TEORI, atau RETORIKA belaka. Dalam kenyataan, yang benar-benar kita saksikan, yang dialami masyarakat atau ditanggung oleh rakyat, kebanyakan jauh dari semua ucapan-ucapan itu. Teorinya selangit, tetapi kenyataan sangat buruk! Apa yang kerap kita saksikan dalam nyata jauh dari keindahan retorika-retorika itu. Banyak fakta-fakta bisa disebut, betapa kehidupan ini sebenarnya jauh lebih KEJAM dari yang kita bayangkan. Saat ucapan-ucapan bermoral terus dibuat, pada saat yang sama fakta-fakta kebohongan dan dusta terus terungkap.

    Mari kita lihat sebagian fakta-fakta yang ada di lapangan…

    [01] Sebagian pejabat mengklaim, angka kemiskinan di Indonesia terus turun, hanya tinggal sekitar 13 juta jiwa saja. Padahal patokan kemiskinan itu ialah penghasilan per hari sekitar Rp. 9.000,-. Dengan nilai penghasilan sebesar itu, atau Rp. 270 ribu per bulan, kira-kira manusia bisa hidup dengan apa? Semestinya menteri perekonomian mencontohkan hidup sehari-hari dengan penghasilan sebesar itu. Seberapa kuat dia bisa menahan kemiskinan?

    [02] Katanya pertumbuhan ekonomi negara kita semakin tinggi. Namanya pertumbuhan ekonomi, seharusnya hal itu berdampak meningkatkan kemakmuran. Tetapi kenyataannya sangat ironis! Kesempatan kerja justru sangat sulit. Setiap ada pendaftaran CPNS selalu berjubel dipadati pencari kerja. Malah yang sudah mapan bekerja di swasta pun ingin jadi PNS. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi. Inilah FITNAH EKONOMI: Mencari penghasilan semakin sulit, sementara harga-harga kebutuhan terus meninggi.

    [03] Anak-anak kita selama belasan tahun menempuh pendidikan di sekolah. Malah mereka wajib sekolah sampai lulus SMP. Selama itu mereka harus masuk sekolah (tidak boleh telat atau sering bolos), harus mengerjakan PR, harus mengerjakan tugas, mengikuti ujian, aneka test, dll. Tetapi setelah lulus sarjana, mereka digiring untuk menjadi pengangguran kolektif. Perjuangan meletihkan oleh jutaan anak selama belasan tahun, seperti dibuang begitu saja.

    [04] Sebagian orang harus mengeluarkan uang pelicin sampai Rp. 50 jutaan, untuk mendapat nomer induk sebagai PNS atau masuk dinas kepolisian. Angka itu sekarang mungkin bisa lebih mahal lagi. Wajar kalau para birokrat sesak dengan korupsi, wong sejak awal saja mereka sudah korup (main suap).

    [05] Beberapa tahun lalu ada sebagian orangtua rela mengeluarkan dana sampai Rp. 200 juta, untuk membeli satu kursi bangku perkuliahan di ITB. Saat sekarang, ada yang senilai itu untuk mendapat bangku Fak. Kedokteran di UNPAD. Ada juga yang mengatakan, untuk menyelesaikan studi kedokteran butuh dana setidaknya Rp. 300 jutaan. Padahal nanti setelah lulus, belum tentu sukses.

    [06] Untuk mengikuti pencalonan Bupati/Walikota, setidaknya seseorang harus punya modal minimal Rp. 15 miliar. Untuk level Gubernur, harus ada modal sekitar Rp. 30 miliar. Untuk menjadi anggota DPR/DPRD harus bermodal ratusan juta sampai miliaran rupiah. Itu pun belum tentu terpilih. Ini jadi seperti “jual-beli” jabatan. Paling apesnya, ada yang gila, stress, dan bunuh diri ketika pencalonan itu gagal.

    [07] Untuk mendapat proyek pemerintah, banyak orang harus mengeluarkan uang besar untuk menyogok pejabat-pejabat terkait. Nanti yang terpilih ialah yang paling besar sogokannya. Bahkan sudah bukan rahasia lagi, untuk memenangkan tender proyek banyak perusahaan memberi bonus berupa “paha wanita”, kunci mobil, uang rekening, satu unit rumah bagus, dll.

    [08] Hampir tidak ada satu pun pejabat yang peduli dengan orang miskin, kaum terlantar, anak gelandangan, tunawisma, pengemis, dll. Bahkan mereka melihat orang-orang malang itu dengan tatapan mata jijik. Mereka baru mau bersentuhan dengan orang malang, semata demi pencitraan politik. (Mau sih makan nasi bungkus di tenda pengungsian, setelah itu muntah-muntah di rumah). Semua ini demi pencitraan publik semata.

    [09] Banyak anggota dewan di Jakarta (DPR RI) yang mencari pelayanan seks dari wanita-wanita WTS. Permadi pernah mengatakan, di DPR itu ada pemasok wanita-wanita semacam itu. Sebagian anggota DPR sudah beredar video-video mesum-nya. Yang paling parah ialah rekaman perkataan anggota DPR yang mengatakan, “Siapa yang berbaju putih itu?” Sampai dalam acara konggres sebuah partai politik (berkuasa) di Padalarang Bandung, seorang politisi partai itu melakukan perbuatan nista kepada seorang SPG. Tetapi kasus terakhir ini tidak segera dibawa ke ranah hukum, karena hegemoni politik.

    [10] Banyak perusahaan-perusahaan seenaknya mencemari sungai, mencemari sawah, mencemari air tanah, mencemari lingkungan, atau minimal mencemari udara. Kalau ditanya, jawaban mereka klise, “Omong kosong dengan lingkungan. Gue butuh duit. Masa bodo dengan lingkungan. Lo jangan banyak bacot. Ntar lo gue kirimin anggota Kopassus buat ngasih hadiah ye.” Orang-orang ini lebih tepat disebut maling, daripada pengusaha.

    Baca entri selengkapnya »


    Islam dan Ideologi Kebebasan

    November 24, 2010

    ARTIKEL 10:

    Salah satu alasan yang membuat bangsa Indonesia membenci Syariat Islam ialah: ideologi kebebasan. Sebagian orang sangat membenci Syariat Islam, karena Syariat dianggap membelenggu kebebasan, dianggap memasung kesenangan manusia, dianggap memenjara kreativitas manusia.

    Mereka berkata, “Kalau Syariat Islam dilaksanakan, wah habislah kita. Syariat terlalu banyak ngatur. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Ini haram, itu haram! Disini haram, di sono haram. Hidup isinya haram-haraman melulu. Sangat membosankan, tidak enjoy, tidak ada kebebasan. Kita tak bisa seneng-seneng. Semua orang ngomong akhirat melulu, amal shalih melulu, kematian melulu. Huuh, betapa boring hidup seperti itu!” Begitu suara-suara mereka saat memfitnah Islam. Di mata orang-orang ini, peradaban Islam isinya hanya: Shalat, mengaji, dan khutbah. Kasihan sekali.

    Dedengkot kaum Liberal, Ulil Abshar Abdala pernah mengatakan, bahwa Indonesia lebih baik tetap menganut sistem sekuler, “Sebab sistem itu bisa mewadahi energi keshalihan dan energi kemaksiyatan sekaligus.”

    Robot Pun Teler Karena Hedonism. It's Very High Risk and Cost. You know...

    Banyak orang percaya kalau Syariat Islam diterapkan, tontonan TV akan dilarang (padahal tidak ada larangan ke arah itu); cabang-cabang olah-raga akan dilarang (padahal Islam menganjurkan olah-raga seperti memanah, berenang, menunggang kuda, beladiri); katanya nanti kaum wanita akan dikurung di rumah, di sel di rumah, tidak boleh keluar rumah, sejak lahir sampai mati (padahal dulu di jaman Nabi, kaum wanita Muslimah ikut terlibat membantu peperangan); nanti kalau makan cuma dengan korma, minyak, dan garam saja (padahal tidak ada larangan mau membuat produk kuliner sehebat apapun, asalkan tidak mengandung barang haram, tidak menyia-nyiakan makanan, dan tidak berlebihan); nanti semua orang diawasi polisi Syariat, kalau ketahuan ada yang tidak shalat sekali saja, akan langsung digantung sampai “tujuh turunan” (padahal di jaman Nabi ada orang-orang munafik yang lebih kufur dari sekedar meninggalkan shalat, tetapi mereka tidak diberi sanksi); kalau Syariat tegak, katanya semua produk teknologi akan disingkirkan, diganti teknologi onta, pedang, lampu minyak, dan pundi-pundi untuk menyimpan uang (faktanya, Masjidil Haram saat ini banyak sekali mengadopsi teknologi canggih yang di Indonesia saja belum diterapkan). Dan lain-lain gambaran buruk.

    Syariat Islam itu berkah, ajaran suci, kasih-sayang, martabat, integritas, bahkan sumber kejayaan masyarakat. Tidak ada dalam Syariat ini yang buruk-buruk. Syariat Islam tidak boleh dipandang dengan kacamata buruk, seperti umumnya pandangan orang-orang sekuler, Barat, dan Zionis. Mereka memandang Syariat dengan sangat buruk, hanya karena kedengkian hati mereka, untuk menjelek-jelekkan Islam itu sendiri. Semakin mereka membenci Islam, semakin kelihatan kalau hati mereka ketakutan dengan kekuatan Islam sebenarnya.

    PROSES BERTAHAP

    Untuk melaksanakan Syariat Islam, selalu bertahap, tidak serta-merta diubah dalam sekejap. Hal itu pula yang dilakukan oleh Nabi Saw ketika melaksanakan Syariat di Madinah. Nabi Saw pun ketika memerintahkan Muadz bin Jabal Ra. ke Yaman, beliau memerintahkan agar Islam diterapkan secara bertahap. Bahkan Aisyah binti Abu Bakar Ra, pernah mengatakan, “Kalau saja larangan tentang minuman keras tidak turun secara bertahap, niscaya aturan itu tidak akan dipatuhi warga Madinah.” Kondisi-kondisi riil di Indonesia dengan segala karakter dan tabiat masyarakatnya, bisa menjadi pertimbangan saat menerapkan Syariat Islam.

    Baca entri selengkapnya »


    PROMO BUKU: “Aku Membaca Aku Tersenyum”

    November 24, 2010

    Judul buku lengkap: “AKU MEMBACA AKU TERSENYUM: Pesona Humor, Pengalaman Hidup, Hikmah, dan Wawasan Segar.” Disingkat, AMAT.

    Buku ini –seperti buku lainnya- telat saya promokan. Diterbitkan oleh Penerbit KHALIFA pada Juli 2010, tetapi baru sekarang dipromokan. Secara officially, tentu buku ini sudah dipromokan oleh Penerbit KHALIFA. Link promonya bisa dilihat disini: “Promo Buku AMAT”.

    Buku “Aku Membaca Aku Tersenyum” termasuk buku paling unik di antara buku-buku yang pernah saya tulis. Buku ini bertema ringan, kreatif, humor, atau menjurus “hiburan”. Tetapi tentu saja hiburan yang baik, insya Allah. Dalam buku ini ada sekitar 60 entry tentang kisah, pengalaman hidup, renungan, hikmah, informasi, catatan kritik, anekdot, dll. Semua ditulis ringan-ringan, dengan tujuan memberikan hiburan segar dan sehat bagi pembaca.

    Cover Depan Buku AMAT.

    Secara ide, buku AMAT sebenarnya masih tergolong buku serius. Ia disusun karena suatu alasan tertentu. Singkat cerita, menurut analisis yang saya buat dengan parameter tertentu, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Dari setiap 1000 penduduk, paling hanya ada 6 atau 7 orang yang hobi membaca. Itu adalah jumlah yang sangat kecil sekali. Tidak sampai 1 %. Dengan kualitas minat baca serendah itu bagaimana bangsa Indonesia akan maju dan bersaing? Embel

    Ditulis buku AMAT sebenarnya dalam rangka “mengompori” masyarakat, agar senang membaca, rindu membaca, dan hobi membaca. Ya, tujuan besarnya tentu nanti ke arah “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan “ikut menciptakan ketertiban dunia”. He he he…kok jadi membahas tentang UUD ‘45 ya. Buku ini memang ingin mengajak masyarakat senang membaca, agar bangsanya maju. Karena masyarakat kita lebih suka hal-hal yang lucu, maka ditulis buku humor. Kalau ditulis buku semisal, “Kaidah Membaca dalam Kehidupan Insan”, khawatinya…kagak ada yang mau baca. Tujuannya sih serius, tetapi caranya agak berbau lawakan. (Mohon, para komedian di TV jangan merasa tersaingi ya…santai aja).

    Secara umum, buku ini bagus sekali (he he he, namanya juga promo, boleh kan bilang begini… Kalau ditulis, “buku ini payah deh,” itu bukan promo namanya, tetapi “fitnah”…). Berbeda dengan buku-buku humor biasa, saya memuat lebih banyak kisah, hikmah, peristiwa, atau catatan yang bersifat nyata. Memang ada beberapa humor yang bersifat fiktif. Itu ada. Kalau dibaca insya Allah tidak nyesal deh. Lagi pula, khusus bagi saya, agar tidak ada kesan bahwa “abisyakir” itu serius melulu. Meskipun nantinya, entry buku itu tetap ada yang serius.

    Sekedar gambaran ya…dalam buku ini saya memuat materi-materi antara lain: Kisah Lucu tentang Rokok, Salah Memasukkan Infak, Rahasia Negeri Impian, Makan Biawak Lokal, Duit Setumpuk di Zimbabwe, Angsa Ratu Inggris, Air Mata Sarjana Teknik, Nasib Seorang Senior, Kisah Unik Seputar Was-was, Bertanya Malah Ditertawakan, Sisi Jenaka Novel Andrea, 10 Manfaat Membaca, dll.

    Namun ada beberapa materi yang menurut saya istimewa, antara lain: Menjebak Seorang Penipu (pengalaman nyata menjebak penipu SMS), Si Jangkrik Besar (pengalaman memelihara jangkrik di masa kecil), Buku “Indonesia Menggugat” (pengalaman meminjamkan buku ke guru di SD), Pengorbanan Kaum Sanusi (di Afrika Utara), Sosok Pahlawan Buku (dari Desa Jabung, Kab. Malang), dan Cara Praktis Mencintai Buku (bagian menjelang akhir).

    Kisah kaum Sanusi di Libya sangat mengharukan. Ia merupakan catatan perjalanan Ustadz Muhammad Asad ketika membantu perjuangan kaum Sanusi (termasuk panglima Umar Mukhtar di dalamnya) menghadap penjajah Italia. Tentu saja kejadian itu terjadi di masa lalu, saat perjuangan Singa Padang Pasir, Umar Mukhtar rahimahullah. Kaum Sanusi adalah komunitas Muslim yang berjuang meraih kemerdekaan dari penjajah Eropa di Afrika Utara. Sayangnya, perjuangan mereka kandas justru karena sikap kaum Muslimin sendiri. Entry ini sangat layak dibaca, untuk memahami setting sejarah Islam di awal-awal abad 20.

    Kalau pembaca tertarik, silakan membeli bukunya. Kalau tidak punya uang, silakan meminjam ke teman. Kalau tidak ada kawan yang memiliki atau mau meminjami buku, silakan berdoa saja agar kaum Muslimin di Indonesia mau meningkat minat bacanya. Soal humor atau hiburan, itu hanya wasilah saja, bukan esensi yang dituju. Tidak bisa mengakses tulisan bernuansa humor dari buku ini, masih banyak sumber-sumber lain. Toh, kalau otot rahang kita banyak “latihan” tertawa, atau bahkan “hobi” tertawa ngakak, pastilah nanti capek-capek juga. Iya kan?

    Cover Belakang Buku AMAT.

    Terkait buku AMAT sendiri, sejak awal terbit, saya sudah komitmen ke penerbit untuk membantu mempromokan buku ini. Tetapi masya Allah, kesempatan untuk itu selalu tertunda-tunda, sampai 4 bulanan. Dan baru ada kesempatan ketika media blog ini justru sedang berproses menuju masa transformasi  besar. Sebenarnya malu mempromokan buku ini setelah lewat sekian bulan. Tetapi bagaimana lagi, kesempatan dan keluangan baru ada saat ini. Tak apalah telat, asal tetap dipromokan. Minimal, untuk melunasi janji yang sudah disampaikan. (Sungguh, janji itu sesuatu yang sangat ringan terucap. Namun setelah itu, kita akan tersandera oleh janji tersebut, sampai kita bisa melunasinya. Biarpun telat dan akhirnya harus mengucap permohonan maaf).

    ‘Ala kulli haal, terimakasih atas perhatian pembaca budiman semua. Mohon maaf atas semua salah dan kekurangan. Dengan Anda mau sabar mantengi artikel-artikel di blog ini, sebenarnya Anda sekalian sudah LULUS dari missi yang dikehendaki buku, “Aku Membaca Aku Tersenyum”.

    Lho, kok jadi susah mengakhirinya ya… Yo wis, sampai disini ajah. Matur nuwun. Syukran jazakumullah khair wa barakallah fikum jami’an. Amin.

    [ P. E. N. U. L. I. S ].