Gunung Merapi dan Kemusyrikan Ummat

Gunung Merapi… sebuah fakta yang membuat mata terbelalak. Sebuah realitas yang membuat manusia ketakutan. Sebuah entitas alam, yang membuat manusia merasa kalah.

Orang bilang, “Merapi tidak ingkar janji?” Apa maksudnya? Apa maknanya? Kapan Merapi berjanji? Bagaimana janjinya? Dan kepada siapa ia berjanji? …manusia terus berpikir dalam kebingungan akalnya.

Mbah Maridjan meyakini, “wedhus gembel” tidak akan menimpa. Merapi hanya semacam “bathuk-bathuk” saja. Tetapi “wedhus gembel” tidak akan menyerang. Seakan, sudah ada “kompromi” antara Mbah Maridhan dengan eksistensi Gunung Merapi.

Tetapi faktanya…

Merapi meletus, kawahnya mengamuk, bukan lagi “wedhus gembel” yang muncul, mungkin sudah sekelas “gajah bengkak”, “kerbau edan”, “badak stress”, dan lainnya.

Lihatlah bentuk letusan Gunung Merapi… “Indahnya” seperti letusan bom atom Hiroshima-Nagasaki. Bahkan lebih hebat dari itu. Dentumannya keras, hawa panasnya mematikan, lava pijar, bebatuan, kerikil, debu vulkanik, gempa bumi, dan seterusnya. “Indah benar”, “sedap sekali”, “mantap bok”… “Mantap” rasanya melihat Magelang dan Yogya dipayungi debu vulkanik sejarak 10 meter jarak pandang. “Muuuuanantaaappp!” kata anak-anak dalam acara Si Bolang, sambil mengacungkan tangan.

Ritual Mencari Keridhaan Penunggu Merapi (baca: mencari kebinasaan).

Fakta berbicara… Mbah Maridjan menjadi “martir” dihantam “wedhus gembel”. Bisa jadi “si wedhus”-nya marah, karena dibilang “gembel” oleh Mbah Maridjan. “Nih, rasain nih! Ini yang kamu bilang roso! Ini roso! Rasain nih Roso!” mungkin begitu amarah awan panas sebelum “mengeksekusi” Mbah Maridjan dan kawan-kawan.

Kalau teringat wafatnya Mbah Maridjan -semoga Allah menerima derma baktinya di jalan Islam, amin-…jadi teringat Gunung Vesuvius dari negeri Pompeii di masa lalu (di Italia). Disana gunung meletus sampai mengubur manusia dalam keadaan mereka masing-masing. Ada yang mati saat tidur, saat duduk, saat di kamar mandi, ruang tamu, dll. Erupsi dahsyat Vesuvius mengawetkan keadaan terakhir Kota Pompeii, sehingga keadaan mereka bisa dibaca oleh manusia-manusia berakal di hari kemudian.

Ya alhamdulillah, Mbah Maridjan wafat setelah menunaikan Shalat Maghrib. Di menit-menit akhir hayatnya, beliau mau dievakuasi, tidak ngeyel seperti sebelumnya. Tetapi, “Mau shalat Maghrib dulu.” Alhamdulillah, beliau masih ingat kewajiban kepada Ar Rahmaan, ketika kondisi sangat genting sekalipun. Bahkan beliau wafat saat sujud, sebelum berubah posisi.

Yang jelas, Mbah Maridjan sudah memahami, bahwa Gunung Merapi tidak sesederhana yang dia jelaskan kepada masyarakat selama ini.

“Gunung Merapi Semakin Membingungkan…” Begitu yang saya baca di harian Pikiran Rakyat hari ini, secara sekilas. Banyak orang kebingungan. Sampai pakar-pakar vulkanologi pun garuk-garuk kepala. “Ono opo iki?” Ada apa ini? Kok jadi begini ya? Jangan-jangan Gunung Merapi sedang membidik pakar-pakar vulkanologi itu. “Tunggu ya, ntar giliran kamu!”

Magelang disapu hujan abu. Ribuan hektar tanaman salak kering terbakar, atau rusak karena debu vulkanik. Mungkin, ke depan untuk beberapa lama, kita harus “puasa” makan salak pondoh. Ya, ini kesempatan bagi salak-salak “divisi utama” untuk naik ke level “ISL“. Mumpung jagoannya lagi klepek-klepek. Yogya pun dilanda debu vulkanik, gempa, ketakutan-ketakutan. Bagaimana nasib anak-anak kaum Muslimin disana? Semoga Allah Ta’ala memberikan ‘afiyat lahir bathin kepada Ummat Islam di Yogya, di Magelang, daerah sekitar Merapi, dan kota-kota lain yang menderita. Allahumma amin.

Tahun 2006 lalu, Merapi juga meletus. Meskipun erupsinya tidak besar. Waktu itu semua perhatian tercurah ke Merapi (wilayah Utara). Ternyata, tak disangka-sangka, terjadi GEMPA YOGYA yang sangat dahsyat di wilayah Selatan Yogya (Bantul dan sekitarnya). 5000 sampai 6000 orang wafat seketika, keruntuhan bangunan rumah. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Semua siaga di Utara, gempa besar terjadi di Selatan. Ikhtiarnya dimana, mushibahnya dimana? Sejak gempa Yogya, Gunung Merapi seolah dilupakan. “Aman. Aman. Gunung Merapi aman. Merapi tak ingkar janji?”

Opo… tak ingkar janji gundulmu yo… Buktinya kini Merapi mengamuk, dan kita hanya bisa berdoa dan berdoa memohon ‘afiyat kepada Allah As Sallam. Dimana itu yang bilang “Merapi tak ingkar janji”? Sebagai makhluk Allah, Merapi jelas sudah berjanji kepada Allah untuk patuh kepada-Nya. Merapi tak akan bergerak sedikit pun, melainkan dalam koridor Rencana Allah.

Menurut mitologi (ilmu kemusyrikan) kaum Kejawen Yogya, yang berpusat di Kraton Yogya. Merapi dianggap sebagai titik Utara, lalu Pantai Selatan sebagai titik Selatan. Semua titik ini membangun “pertahanan kosmis” yang melindungi Yogya dari segala ancaman. Oleh karena itu, kaum musyrik di Yogya (meskipun KTP-nya tertulis Islam), selalu melakukan ritual untuk mencari ridha sang penunggu titik Utara dan titik Selatan. Ritual kemusyrikan itu rutin dilakukan setiap tahun.

Lalu, apa yang terjadi setelah semua ritual kemusyrikan dilakukan? Apakah Merapi diam? Apakah Merapi ramah? Ternyata, hukum alam tidak mengikuti sunnah kemusyrikan, tetapi mengikuti Sabda Rabbul ‘alamiin. Merapi mengamuk. Semakin musyrik orang-orang itu, Merapi menghantam lebih keras. Bisa jadi, suatu masa, jika kemusyrikan terus menyala-nyala, Yogyakarta akan dilamun tsunami dari Pantai Selatan. Semua ini hanya soal waktu saja. Lihatlah, kalau kaum musyrikin itu tidak mau bertaubat, tidak segera kembali ke agama yang benar, niscaya hukum alam (sunnatullah) akan menggulung rumah-rumah mereka, bisnis mereka, resort-resort mereka. Mari kita sama-sama menanti!

Cukuplah…Gempa Yogya dan Amukan Merapi menjadi nasehat berharga, bagi mereka, bagi bangsa Indonesia, dan bagi kita semua.

Bacalah: “Maka siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman (bertauhid) kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada tali agama Allah yang sangat kuat, yang tak akan putus selama-lamanya.” (Al Baqarah: 256).

Gunung Merapi adalah nasehat…Terserah Anda mau mengambil nasehat itu, atau mengabaikannya…

AMW.

Iklan

13 Responses to Gunung Merapi dan Kemusyrikan Ummat

  1. andreas berkata:

    cara berpikir yg sempit… Kasihan sekali

  2. arjip berkata:

    saya ingin menambahkan, kota Pompei yang disebutkan diatas dulunya terkenal sebagai kota Judi (semacam kota Las Vegas zaman sekarang) itulah sebabnya kota Pompei dan masyarakatnya mendapat “Bencana yang menghancurkan dan menghapuskan”, menghapuskan disini maksudnya adalah menghapuskan peradaban. seperti peradaban zaman dulu yang telah hilang dikarenakan masyarakatnya banyak berbuat maksiat dan “durhaka”. contoh lainnya kota Sodom, Domatha & Hegra kotanya kaum Tsamud.

  3. Okrisnaldi Putra berkata:

    @ andreas: apanya yg sempit, di jogja itu penguasanya (baca: kraton) melestarikan ritual2 musyrik terus.

    BUKTI: Tolak Bala, Warga DIY Sembelih Kerbau Jantan.
    http://news.okezone.com/read/2010/11/08/340/391184/tolak-bala-warga-diy-sembelih-kerbau-jantan

  4. salam berkata:

    sebuah tugas berat bagi para pengemban dakwah, mari bersama2 menolong mereka dari bahaya kemusyrikan..

  5. rahmad berkata:

    Cara berpikir Anda sangat sempit. Kasihan deh… Apa-apa bencana di Merapi kok dikaitkan dengan kemusyrikan/maksiat. Apa gak ada teori agama lain yg lebih cerdas???

    Gak ada hubungannya deh…..
    Merapi akan selalu meletus tanpa ada kaitannya dengan aktivitas manusia dia atasnya. Mau musyrik, beriman, atau penuh orang goblok kayak kamu ini.

    Kalau logika kamu yg dipakai, sejak dulu seharusnya Jakarta yang kena bencana. Las Vegas yang diluluhlantakkan.

    Anda ini kuliah di mana sih? Sempit banget celananya…

    Rahmad Budi Harto
    (asli Jogjakarta Hadiningrat)

    madbud@gmail.com
    08567112387

    Redaktur Republika

  6. yogi berkata:

    Menurut andreas, orang yang berpikiran luas itu orang Islam yang bisa menerima segala kemunkaran atas nama “budaya”, “kearifan lokal”, “plurarisme”, dan semacamnya. Kenapa? Karena NKRI lebih penting dari yang lainnya. Karena tetap berteman lebih baik dari mengingatkan kesalahan teman.

  7. Shadowlight berkata:

    @Rahmad. Mengapa Anda tidak mencoba wawasan yang lain agar lebih luas pemahaman Anda, misal dalam cara pandang agama? justru saya katakan anda lah yang sempit pemikiran, karena ‘mau’terkungkung hanya dalam pikiran otak tanpa mau menerima yang lain. dan sebagai seorang redaktur (apalagi Republika), seharusnya Anda lebih sopan dalam memberikan komentar, meski mungkin Anda merasa sangat tersinggung dengan isi blog ini sebgai warga Keraton Jogja (jika pengakuan anda benar)

  8. abisyakir berkata:

    @ rahmad…

    Dari Anda: Cara berpikir Anda sangat sempit. Kasihan deh… Apa-apa bencana di Merapi kok dikaitkan dengan kemusyrikan/maksiat. Apa gak ada teori agama lain yg lebih cerdas???

    Lho, Anda itu Muslim atau bukan sih? Orang bertauhid atau orang Kejawen? Penyembah Allah atau penyembah “nyi roro kidul”?
    Justru yang kasihan itu Sampeyan Pak. Masak sebagai Muslim tidak pernah membaca Al Qur’an. Lalu Al Qur’an selama ini Anda perlakukan untuk apa?
    Dalam Al Qur’an itu jelas-jelas sangat banyak diceritakan tentang kisah kaum-kaum di masa lalu. Mereka mendapat adzab karena muysrik, maksiyat, zhalim, dll.
    Anda pernah membaca kisah Nabi-nabi dari masa lalu?

    Dari Anda: “Gak ada hubungannya deh….. Merapi akan selalu meletus tanpa ada kaitannya dengan aktivitas manusia dia atasnya. Mau musyrik, beriman, atau penuh orang goblok kayak kamu ini.”

    Lho, Anda ngomong begitu itu atas dasar apa? Apakah berdasarkan sains? Anda seorang vulkanolog? Anda seorang petugas/ahli di BMKG? Anda seorang akademisi di bidang vulkanologi? Apa posisi Anda, sehingga bisa mengatakan, “Merapi akan selalu meletus tanpa ada kaitannya dengan aktivitas manusia dia atasnya.” Ini omongan apa, ini klaim apa? Anda ngomong seenaknya sendiri. Anda tidak tahu soal Merapi, tetapi sudah membuat keyakinan seperti itu.

    Dari sisi Islam, Anda akan lebih kacau lagi… Dalam Surat Al A’raaf 96 disebutkan, “Kalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, akan Kami bukakan atas mereka barakah2 dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), maka Kami siksa mereka karena perbuatannya.”

    Bagi seorang Muslim, pandangan di atas sangat mudah, sangat mudah dipahami.

    Dari Anda: “Kalau logika kamu yg dipakai, sejak dulu seharusnya Jakarta yang kena bencana. Las Vegas yang diluluhlantakkan.”

    Lho, Anda katanya seorang redaktur Republika. Masak sebodoh itu? Masak ada seorang redaktur Republika sebodoh itu? Ini kelas redaktur atau kurir pengantar surat nih? Payah nih…

    Anda pernah membaca sejarah tentang Jakarta dari tahun ke tahun? Anda pernah membaca Jakarta dilanda banjir hampir setiap tahun. Bencana banjir tahun 2002, tahun 2007 sangat hebat. Karena begitu akrabnya Jakarta dengan banjir, sampai dibuat “Banjir Kanal Timur”. Termasuk bencana lain dalam bentuk angin puting beliung, kemacetan luar biasa, polusi udara, air, polusi suara. Stress, depressi, kezhaliman, kejahatan, korupsi, penindasan, dll yang akrab dengan kota itu. Apa semua itu bukan bencana? Meskipun tidak selalu benacana alam.

    Jakarta saat ini mulai krisis air. Ada penurunan permukaan tahun setiap tahun. Banjir robb rutin terjadi. Saat terjadi gempa di Tasik, Garut, Ciamis, Jakarta ikut terguncang. Sehingga SBY harus melarikan diri ke Cikeas. Semua ini nyata, semua ini jelas.

    Lalu tentang Las Vegas. Dari mana Anda tahu bahwa pusat perjudian/maksiyat disana dibiarkan? Dari mana Anda tahu, bahwa bencana itu akan terjadi seperti yang kita harapkan. Sekarang mau bencana, sekarang juga harus terjadi.

    Bencana melanda Amerika itu bukan hal baru lagi. Masih ingat badai Rita, badai Catrina, badai tornado, banjir, krisis ekonomi dahsyat, wabah kriminalitas, wabah narkoba, angka bunuh diri, dll. Apakah bangsa Amerika dibiarkan saja dengan semua dosa-dosanya.

    Justru saya merasa heran. Ini ada redaktur Republika tetapi wawasannya nol. Kok bisa orang begini jadi redaktur Republika. Ini redaktur beneran, atau kebohongan. Kasihan sekali dan sayang betul.

    Dari Anda: “Anda ini kuliah di mana sih? Sempit banget celananya…

    Apa tidak kebalik itu? Siapa yang sempit wawasan? Bukankah bencana yang melanda Kota Pompeii itu suatu sejarah yang nyata? Bukankah sejarah yang menimpa Kota Atlantis adalah nyata? Bukankah bencana yang menimpa negeri Iram, juga sangat nyata?

    Justru saya balik bertanya, “Anda tahu tidak kualifikasi seorang redaktur? Bahkan saya mau tanya ke Anda, apa makna kata “rahmad” pada nama Anda itu?”

    Oke deh. Kalau ada kesempatan, nanti saya coba cross check ke Republika. Rasanya tidak percaya! Republika itu setiap hari memuat kolom “Hikmah” di halaman pertama. Itu kolom renungan, refleksi, mengkaji hikmah2 kehidupan. Tetapi kok ada sekelas redaktur wawasan sebodoh itu? Ngomongnya kasar lagi. Orang bodoh menuduh orang lain bodoh.

    Terimakasih.

    AMW.

  9. BPC berkata:

    Maksud tulisan AMW sangat baik, mengajak kita utk ingat kepada Allah SWT.. Namun saya kira secara redaksional, pada beberapa titik ada kecenderungan sarkastis memang 🙂

    Utk menghindari kesalah-pahaman yg lebih jauh, ada baiknya ‘ketidak-sepahaman’ yang ada dipinggirkan terlebih dulu… Saat ini mending energi kita sama2 difokuskan utk membantu Yogya.. dan ini bukan saat yg tepat utk saling berdebat!

    Trims.

  10. rahmad berkata:

    @ Rahmad…

    Dari Anda: “Jakarta itu banjir sejak dulu, sejak zaman Kian Santang, sejak zaman Padjadjaran kuno.
    Zaman VOC pun udah banjir. Zaman kejayaan Batavia pun juga kena banjir
    .”

    Coba Anda sebutkan bukti-bukti yang Anda sebut itu! Lagi pula, apa agama kerajaan Padjadjaran kuno? Bagaimana kondisi keimanan masyarakat Jakarta di jaman VOC dan Batavia (masa kolonial Belanda).

    Terus apa banjir di jaman itu sifatnya tahunan, jadi acara “rutin” setiap tahun, seperti kondisi Jakarta sekarang?
    Lalu apa disana ada puting-beliung yang merontokkan pohon-pohon? Apa ada banjir robb di pantai-pantai? Apa ada permukaan tanah turun, sehingga Jakarta diperkirakan akan tenggelam dalam sekian puluh tahun ke depan?

    Mohon, kan Anda orang pintar, tolong kasih jawaban di atas yang lebih meyakinkan!

    Dari Anda: “Saya yakin pas Fatahillah yg katanya beriman itu menaklukkan Sunda Kalapa pun waktu itu juga masih banjir.”

    Wah, ini lebih ngawur. Darimana Anda tahu di jaman Fatahillah ada banjir musiman setiap tahun seperti itu? Wah, tambah ketahuan saja “pintar”-nya. Silakan disebutkan juga data soal banjir di jaman Fatahillah. Terimakasih atas kelengkapan data Anda.

    Dari Anda: “Lha memang konturnya memang terletak di tanah aluvial muara 13 sungai. Gak banjir gimana Jakarta itu? Itu gak ada hubungannya dengan maksiat atau beriman. Kalau mau dikoneksikan, itu masalah tata letak kota saja.

    Waduh, tambak gak jelas nih. Apa yang punya sungai cuma Jakarta? Lagi pula sungai apa sih yang significant di Jakarta, selain Ciliwung?

    Banyak daerah-daerah lain yang juga di dataran rendah, tetapi nasibnya tidak seburuk Jakarta. Cirebon, Tegal, Pekalongan, Tuban, Lamongan, bahkan Surabaya. Apa mereka mengalami banjir menenggelamkan rumah-rumah, setiap tahun?

    Bahkan Semarang juga dataran rendah, dekat pantai. Tetapi banjir yang significant di Semarang banjir robb, hasil luberan air laut.

    Contoh lain, Bandung. Tinggi mana Bandung dengan Jakarta? Bagaimana kontur kota Bandung? Apakah disini tidak ada sungai, selokan, kali, dll? Di kota ini ada daerah2 tertentu yang setiap tahun mengalami banjir. Meskipun dataran tinggi, banyak bukit-bukit, tetap saja banjir kerap datang. Artinya, kontur itu tidak menjamin apa yang kamu katakan.

    Begini saja gampangnya…

    Kamu tidak percaya bencana alam terjadi karena dosa manusia. Oke, mungkin itu keyakinan kamu. Tetapi kamu harus memberi alasan rasional tentang bencana-bencana alam itu sendiri. Coba jawab pertanyaan ini:

    ==> Apakah Tuhan memiliki kekuasaan untuk mengendalikan alam ini, termasuk di dalamnya mengadakan bencana alam? Saya khawatir, ada orang-orang atheis yang tidak lagi mempercayai kekuasaan Tuhan, padahal dia tinggal di negara yang, ber-“Ketuhanan Yang Maha Esa”.

    ==> Mengapa Tuhan harus menakdirkan terjadi bencana? Apakah Tuhan suka menyiksa manusia tanpa alasan tertentu?

    ==> Mengapa alam harus mengamuk dalam bentuk bencana? Apakah alam itu kejam? Apakah alam itu biadab? Kalau alam kejam, mengapa manusia bisa hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan alam, serta menikmati keindahan alam?

    Pertanyaan2 seperti ini layak diajukan, agar manusia tidak berkeyakinan atheis, seperti ummat Nabi/Rasul di masa lalu yang durhaka, lalu dibinasakan oleh bencana-bencana alam -dengan takdir Allah-.

    Dari Anda: “Baca sejarah dulu pakdhe. Baru Nyocot !!”

    Sebenarnya, jawaban Anda itu baru sedikit dari komentar2 yang saya sampaikan semula. Tapi Anda sudah keburu menggunakan bahasa2 preman. Ya Allah, kok ada seorang redaktur media seperti Republika berkarakter seperti ini? Ini yang salah siapa? Kasihan sekali…

    AMW.

  11. Sonny berkata:

    Bisa jadi, bencana itu akibat kemusyrikan atau tidak. Kita tidak tahu.
    Tapi, ingat. Ada atau ngga ada bencana, kemusyrikan itu ada konsekuensinya! Tentu saja bukan di alam dunia…

  12. caramengatasiz berkata:

    banyak hal menarik dari blog ini

  13. resepmasak berkata:

    yang jelas,,, semua itu tergantung pada kekuasaan Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: