Virus Atheisme di Otak Kita

Blok Komunis dunia runtuh sekitar tahun 1990 lalu. Sampai saat ini masih ada negara-negara yang menerapkan konsep Komunisme, seperti Kuba, Korea Utara, Vietnam, atau RRC. Ideologi Komunis saat ini tampak tidak seagressif dulu. Tetapi alam berpikir atheis (menolak eksistensi Tuhan) tidak otomatis lenyap. Pemikiran atheis itu berkamuflase di balik pemikiran-pemikiran lain yang kelihatannya baik.

Selama ini tanpa disadari telah merasuk virus pemikiran ATHEIS di benak masyarakat kita. Virus itu masuk melalui analisa-analisa para pakar sains terkait dengan bencana-bencana alam. Setiap ada kejadian bencana, apakah berupa gunung meletus, gempa bumi, banjir, longsor, tsunami, dll. selalu saja diklaim sebagai fenomena alam biasa. Sepintas lalu, opini seperti itu mencerminkan sikap saintifik. Padahal sejatinya, disana ada PENGINGKARAN terhadap eksistensi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Alam lebih ramah dari kekuatan aslinya untuk memusnahkan kehidupan manusia.

Dengan cara berpikir saintifik itu, hampir tidak ada lagi DOMAIN bagi Allah untuk mengatur alam-semesta ini. Katanya, Allah itu Tuhan sekalian alam, mengapa kok seperti tidak berperan sama sekali? Ya itu tadi, alam berpikir saintifik sudah mengkonversi keyakinan manusia, dari watak religius menjadi materialis. Hal-hal demikian secara terus-menerus dipublikasikan di media. Tanpa terasa ia semakin mengikis keyakinan manusia kepada Allah.

Beberapa kritik kepada opini para pakar sains itu, antara lain:

[1] Pada hakikatnya, sampai saat ini para pakar sains tidak pernah bisa menjawab pertanyaan, “Mengapa terjadi suatu bencana alam.” Pekerjaan para saintis hanyalah menjelaskan DESKRIPSI seputar kejadian bencana. Itu pun belum tentu tepat. Contoh, pakar vulkanologi Gunung Merapi, mengklaim bahwa setelah letusan pertama tanggal 26 Oktober 2010, diperlukan waktu 5 hari agar Merapi tenang kembali. Ternyata, malah kemudian terjadi letusan yang lebih dahsyat lagi, dengan korban jiwa lebih besar dari letusan pertama. (Para pakar itu seharusnya “dihukum gantung” karena kesalahan-kesalahan prediksinya yang membuat manusia tersesat, lalu menjadi korban bencana).

[2] Para pakar sains selalu menjelaskan kejadian bencana dengan analisis-analisis tertentu. Lalu media massa, Pemerintah, dan masyarakat percaya begitu saja. Sementara tidak ada pertanggung-jawaban bila pandangan mereka ternyata keliru. Seperti kejadian di Mentawai. Kata BMKG, ancaman tsunami di Mentawai sudah lewat. Tetapi ternyata, tsunami itu dahsyat disana. Ia adalah tsunami kedua terbesar setelah tsunami di Aceh. Adapun tsunami ketiga di Pangandaran Ciamis.

[3] Para pakar sains sering menyebut parameter-parameter tertentu sebagai sebab terjadinya bencana di suatu tempat. Tetapi parameter itu kerap kali bersifat LOKAL. Artinya, ketika dihadapkan kepada kondisi serupa di tempat lain, yang ternyata tidak mengalami bencana, mereka tidak bisa berkata apa-apa. Misalnya, Gunung Merapi diklaim mengalami aktivitas vulkanik luar biasa, sehingga terjadi letusan. Tetapi Gunung Semeru atau Anak Krakatau yang tidak kalah aktifnya, ternyata tidak meletus. Begitu pula gunung-gunung lain yang juga sangat aktif ternyata tidak meletus. Bahkan Gunung Sinabung di Sumut yang tidak pernah terdengar beritanya, malah meletus dan menimbulkan kepanikan. Lalu bagaimana dengan alasan para saintis itu, “Merapi meletus karena aktivitas vulkanik tingkat tinggi.” Di dunia banyak gunung berapi, bahkan yang lebih aktif dari Merapi, tetapi tidak meletus seperti Merapi.

[4] Pemikiran materialis para saintis sebenarnya telah banyak menyebabkan ummat manusia sengsara. Setiap terjadi bencana, tentu melahirkan penderitaan luar biasa, baik harta, nyawa, maupun kehidupan. Semestinya, setelah bencana manusia diajak bertaubat, kembali kepada Allah, memperbaiki moral, menegakkan keadilan, menyingkirkan kezhaliman, dan sebagainya. Tetapi pemikiran-pemikiran para saintis itu telah membelenggu akal manusia. Di tangan mereka, semua kejadian alam cukup ditafsirkan dengan teori-teori sains; tidak ada domain bagi Allah di atas alam ini. (Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun). Entahlah, butuh berapa banyak bencana lagi, agar manusia mau bertaubat kepada Allah? Mungkin setelah bangsa ini rata dengan tanah, setelah manusia terkubur di bawah reruntuhan material tanah dan bebatuan, baru ada yang mau taubat. Itu pun taubat sesaat, sebab setelah itu mereka akan kembali menyembah-nyembah fatwa para saintis materialis itu. Masya Allah.

[5] Kita harus jujur mengakui, bahwa fatwa-fatwa para saintis materialis itu selama ini NIHIL manfaat. Fatwa mereka tidak bisa menghindarkan bangsa ini dari bencana; fatwa mereka tidak bisa mengurangi intensitas bencana; fatwa mereka tidak bisa menyelamatkan nyawa, rumah-rumah, dan kehidupan; fatwa mereka tidak bisa membuat kehidupan bangsa menjadi lebih tenang, tentram, dan damai. Jadi, apa gunanya omongan para saintis itu? Apakah mereka wartawan yang hanya “memberitakan deskripsi” peristiwa?

Sejujurnya, alam itu semula dalam kondisi baik, stabil, seimbang, harmoni, bahkan terus menyebarkan manfaat-manfaat. Alam menyediakan apa yang dibutuhkan manusia. Tetapi kemudian alam bergolak, alam bergetar, mengeluarkan kekuatannya yang sangat menakutkan. Alam yang semula ramah, menjadi sangat sadis. Tidak kenal orang dewasa, anak kecil, kaum wanita, orang baik, orang jahat, atau orang setengah-setengah; semuanya terkena amukan alam, saat bencana terjadi.

Amukan alam hanyalah satu instrumen di antara sekian banyak instrumen peringatan bagi manusia. Ada kalanya manusia diingatkan dengan bencana kemanusiaan, konflik berdarah, fenomena kriminalitas yang merebak, hujan-tangis akibat kezhaliman, kecelakaan transportasi, polusi yang semakin berbahaya, kegagalan panen, dll. Bahkan manusia diingatkan dengan kejadian-kejadian privasi yang menimpa dirinya. Dan alam hanya salah satu instrumen peringatan itu. Namun peringatan dari alam kerap kali sangat menyakitkan. Terlalu sakit akibatnya, terlalu sakit rasa perihnya, terlalu mahal harganya.

Padahal kalau mau jujur, bencana alam itu hanya sedikit di antara kemampuan alam untuk meluluh-lantakkan kehidupan manusia. Setiap hari setiap masa, hidup kita dikepung oleh ancaman bencana alam dari segala sisi. Angin, air, panas, bumi, radiasi matahari, hewan, tumbuhan, benda-benda angkasa, debu kosmik, dll. Semua itu menjadi POTENSI BAHAYA yang sewaktu-waktu bisa menyerang manusia.

Kalau dihitung, bencana yang ada paling hanya 1/1000 dari kemampuan alam itu sendiri untuk menghancurkan kehidupan manusia. Contoh, 26 Desember 2004, terjadi bencana Tsunami di Aceh. Itu hanya satu kejadian di antara ratusan kemungkinan tsunami yang bisa terjadi di Indonesia. Semua pantai-pantai di Indonsia berpotensi mengalami tsunami. Tetapi lihatlah, meskipun di negeri ini ada puluhan ribu kilometer garis pantai, buktinya kejadian tsunami tidak sebanyak itu.

Jadi sebenarnya, selama ini manusia terlindungi dari KEGANASAN ALAM semata-mata karena Rahmat Allah yang dicurahkan atas ummat manusia di dunia. Andaikan Allah tidak menahan gempuran-gempuran alam itu, yakinlah kita tidak akan bisa hidup tenang di atas permukaan bumi ini. Di semua sisi kehidupan ini ada ancaman bahaya. Ia bisa dari alam atau manusia sendiri. Lalu Allah memilih sebagian kecil dari ancaman itu dalam bentuk bencana atau mushibah, agar manusia mau bertaubat, sadar diri, dan kembali ke ajaran-Nya.

Renungkanlah: “Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih-berganti agar mereka memahami.” (Surat Al An’am: 65).

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi nasehat, bagi diri sendiri maupun Ummat. Amin ya Karim.

AM. Waskito.

Iklan

3 Responses to Virus Atheisme di Otak Kita

  1. anda berkata:

    Seandainya para pakar2 geologi itu diberi umur 1000 tahun atau lebih. . Saya yakin mereka tetap tidak akan sanggup menentukan kapan akan terjadinya sebuah bencana alam. . Tapi kita diberikan oleh Allah cara untuk menghindari bencana ,yaitu dengan bertakwa kepadanya (baca:dengan islam). Jadi, kepada para saintis tukang ramal, sebaiknya anda ganti profesi saja, sebab pekerjaan anda dijamin akan sia-sia. . .

  2. Light berkata:

    yg ingin saya tanyakan kepada anda begini, anda tahu kan hukum alam yang ada di bumi? mulai dari hukum alam terjadinya hujan, terjadinya fotosintesis, termasuk pula hukum alam yg terjadinya gempa, pasti ada hukum alamnya, apakah penyebab gempa hanya satu-satunya karena tuhan? kalau hal tersebut terjadi karena hukum alam, berarti tidak akan terbukti mengenao adanya keterlibatan tuhan, dan bisa jadi bahwa eksistensi tuhan itu tidak ada. bukankah begitu?

  3. abisyakir berkata:

    @ Light…

    Ha ha ha… Anda bisa-bisa saja.

    Alam itu kan berupa materi; materi ada yang bersifat organik dan anorganik. Tetapi dalam alam juga ada energi, ada panas, ada cahaya, udara, dan lainnya. Selain itu alam ini terdiri dari elemen-elemen komplek yang tidak berdiri sendiri. Setiap elemen memiliki kaitan dengan elemen lain, membentuk kehidupan yang komplek dan rumit, yang kemudian manusia kenal sebagai “The Universe”.

    Universe itu meliputi materi, non materi, organik, non organik, energi-energi, elemen, sistem koneksitas, keseimbangan global, serta sebuah sistem besar yang dikendalikan oleh SATU KONTROL. Nah, satu kontrol itulah yang dikenal sebagai Tuhan (Rabb). Ia adalah Allah Ta’ala.

    Mengapa kami menyebut, pihak yang memegang SATU KONTROL itu adalah Allah? Karena Dia jelaskan hal itu dalam Kitab Suci Al Qur’an.

    Dalam Surat Al Fatihah, Dia berfirman: “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin” (segala puji bagi Allah, Penguasa alam raya).

    Dalam Surat An Naas, Dia berfirman: “Qul a’udzu bi rabbin naas, malikin naas, ilahin naas” (katakanlah, aku berlindung kepada Rabb-nya manusia, Raja-nya manusia, Sesembahan-nya manusia).

    Dalam Surat Al Ikhlas, Dia berfirman: “Qul huwallahu ahad, Allahus shamad” (katakanlah, Dia adalah Allah yang Maha Satu, bergantung kepada-Nya segala sesuatu).

    Dari dalil-dalil ini jelaslah, bahwa Allah itu Sang Pengendali alam ini. Dalil-dalil demikian sangat jelas, anak-anak kecil Muslim pun menghafal dalil-dalil itu.

    Logika alam ini seperti KOMPUTER. Mirip sekali dengan komputer. Disana ada hardware, komponen-komponen, ada aneka macam software aplikasi, tapi juga ada sistem globalnya (sejenis Windows, OS, atau Linux). Persis sekali.

    Kalau Anda menafikan Tuhan (Allah) ya itu sama seperti seseorang yang berkata di hadapan sebuah komputer/laptop/notebook. “Mesin ini terjadi dengan sendirinya. Tiba-tiba muncul sebagai gejala alam. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja…gubrakkk…muncullah mesin ini.”

    Terimakasih.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: