Memahami Amal Perjuangan Islami

ARTIKEL 03:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini sering terjadi kebingungan di kalangan Ummat untuk memahami bentuk-bentuk amal perjuangan Islami. Ada yang ingin beramal, tetapi tidak paham bagaimana harus beramal. Kerap kali mereka mengatakan, “Ya, organisasi-organisasi Islam banyak. Macam-macam bentuk, visi, missi, dan programnya. Bingung harus memilih yang mana? Bingung mau mendukung siapa? Ini baik, itu baik. Ini mulia, disana juga mulia. Lalu harus bagaimana, dong?”

Ya, sebelum Anda beramal, sudah semestinya Anda tahu “peta jalan” untuk beramal itu sendiri. Seperti seseorang yang hendak pergi ke Aceh. Sebelum pergi, dia harus tahu “peta jalan” ke Aceh. Sebagian orang menyebutnya, road map. Kalau beramal tanpa arah, nanti tidak akan sampai kepada yang dituju. Amal-amal itu bisa tumpang-tindih. Bahkan bisa menguras energi Ummat, dengan dampak hasil kecil.

PERUBAHAN TOTAL: Menuju Pusat Kekuasaan!

Wajib bagi kita memahami bentuk-bentuk amal perjuangan Islami, sebelum terjun berjuang itu sendiri. Filosofinya: “Siapa yang tidak tahu jalan, dia tak akan sampai di tujuan.”

Pada dasarnya, perjuangan Islam sangat dibutuhkan di negara-negara yang berhukum sekuler (non Islam). Kalau di bawah sistem Islami, beban perjuangan itu banyak dipikul oleh Pemerintahan Islami. Posisi kaum Muslimin lebih ke arah mendukung, membantu, menolong, serta mematuhi garis-garis amal yang diperintahkan Pemerintahan Islami (selagi tidak diperintahkan berbuat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya).

Namun di negara sekuler -seperti Indonesia ini- kita tidak bisa berharap banyak kepada negara (Pemerintah). Kaum Muslimin harus mandiri memperjuangan kepentingan, cita-cita, dan visi kejayaan hidupnya. Ketika UU negara tidak ada yang secara transparan mendukung missi Islami, ya kita sendiri yang harus memperjuangkan missi tersebut. Sekali lagi, di negara sekuler kaum Muslimin harus berjuang secara mandiri.

Dalam perjuangan ini ada DUA BENTUK AMAL Islami yang sangat jelas. Pertama, adalah amal KONTRIBUSI (khidmah) untuk melayani, membangun, dan menolong kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Kedua, amal perjuangan untuk menciptakan PERUBAHAN total (at taghyir).

Kedua amal ini berbeda sifat dan karakternya. Tetapi selama ini Ummat Islam bingung membedakan keduanya, sehingga seringkali kita melihat banyaknya amal-amal Islam yang tumpang-tindih. Semoga tulisan sederhana ini bisa membantu menemukan arah. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

AMAL KONTRIBUSI. Sifatnya kontribusi, pelayanan, dukungan, bantuan, pemberdayaan, atau apapun yang bermanfaat bagi kehidupan Ummat Islam. Bentuknya bisa berupa mendirikan sekolah Islam, mendirikan masjid, mendirikan klinik Muslim, mendirikan koperasi, membuka pusat pelatihan, mengajar bahasa Arab, mengajar ilmu-ilmu dinniyah, menolong fakir-miskin, menolak pemurtadan (Kristenisasi), mendidik generasi muda, melakukan nahyul munkar (memberantas maksiyat), membuat media Islam, dll. Pokoknya bersifat kontribusi yang nyata, jelas-jelas dibutuhkan, dan insya Allah bermanfaat bagi Ummat Islam.

Amal seperti ini tidak dibatasi waktu dan tempat. Kapanpun dan dimanapun ada eksistensi kaum Muslimin, amal kontribusi bisa digalakkan. Karena memang sifatnya membantu, melayani, menolong Ummat. Dalam riwayat dikatakan, “Andaikan sudah ditegakkan Hari Qiyamat, sedangkan di tangan kalian ada benih yang harus ditanam. Kalau kalian bisa berdiri setelah menyelesaikan menanam benih itu, maka lakukanlah!” (HR. Ahmad).

Jadi batasan amal kontribusi ialah sampai Hari Kiamat, atau sampai nafas terakhir. Disini tugas Muslim hanyalah memberi, memberi, dan memberi saja. Ikhlas semata-mata karena Allah. Tidak peduli yang diberi itu berterimakasih, menggerutu, atau malah mencela. Yang penting, memberi dan memberi Ummat, ikhlas karena Allah.

Amal demikian bahkan tidak melihat kita hidup di negara sekuler atau negara Islami. Dimanapun di bumi Allah, selama masih ada kaum Muslimin, selama masih ada medan amal kebaikan, selama kita memiliki kekuatan; disana amal-amal kontribusi bisa dilakukan. Ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyyah yang intensif membangun lembaga pendidikan, kesehatan, panti asuhan, dll. termasuk kategori ini. Begitu pula dengan yayasan Islam, lembaga Islam, LSM Islam, dan lain-lain.

AMAL PERUBAHAN TOTAL. Amal perubahan total arahnya jelas, yaitu: mengadakan perubahan sistem kehidupan dari sistem jahiliyyah (non Islami) menjadi sistem Islami. Slogannya sangat jelas, “Hijrah minaz zhulumati ilan nuur” (hijrah dari segala kegelapan jahiliyyah menuju cahaya Islam yang terang-benderang).

Amal ini bersifat perjuangan politik, perjuangan kekuasaan, bahkan perjuangan militer. Targetnya sangat jelas, mengubah sistem jahiliyyah menuju sistem Islami. Amal demikian bersifat wajib, sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Kalau Ummat Islam sepakat meninggalkan amal ini, maka mereka akan dimurkai oleh Allah, Malaikat, dan seluruh makhluk di alam ini. Mereka akan diserupakan dengan orang-orang yang tidak mau hijrah ke Madinah, padahal mereka memiliki kekuatan untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.

Amal perubahan total sangat berbeda dengan amal kontribusi. Dalam amal ini yang dipikirkan, dirundingkan, dibangun, dikembangkan, dan dilaksanakan ialah upaya-upaya untuk mengubah tatanan jahiliyyah menuju tatanan Islami. Orang-orang yang terlibat dalam amal ini, kalau tidak mengerti politik, tidak mengerti filosofi kekuasaan, tidak mengerti dunia militer dan perang; tidak boleh terlibat di dalamnya. Khawatir posisi mereka akan semakin mempersulit perjuangan mengubah sistem itu sendiri.

KONTRIBUSI: Menolong Ummat Tak Kenal Waktu, Tempat, dan Sistem Politik.

Para aktivis Islam yang terlibat dalam amal ini jangan disibukkan dengan urusan seperti: memotong hewan qurban, membagikan zakat fitrah, melakukan pemeriksaan kesehatan gratis, melakukan bhakti sosial, mendirikan BMT, melakukan khitanan massal, menjadi panitia pernikahan, dll. Itu bukan dunia mereka. Itu adalah dunia orang-orang yang terlibat dalam amal kontribusi. Kalau para pejuang sistem Islami sibuk dengan amal-amal seperti itu, mereka akan kehabisan energi, bahkan akan teralihkan perhatiannya dari urusan yang lebih penting.

Kalau amal kontribusi tidak dibatasi waktu, amal perubahan total justru dibatasi waktu. Amal ini ada rentang waktunya, tidak seperti yang dipikirkan orang-orang tidak mengerti. Lihatlah, Rasulullah Saw menyelesaikan perjuangan beliau, sejak awal merintis sampai memetik kemenangan, selama 23 TAHUN. Sekali lagi, 23 tahun Akhi, 23 tahun Ukhti. Mohon dibaca lagi lebih teliti: 23 tahun Mas, Mbak, Pak, Bu! Hanya 23 tahun.

Ya, masa 23 tahun itu adalah MASA IDEAL. Ia adalah klas perjuangan Rasulullah Saw dan para Shahabat Ra. Kita dengan kondisi yang serba lemah tentu bisa lebih panjang dari 23 tahun. Tetapi panjang waktu toleransi itu jangan melewati masa 40 tahun. Perjuangan menuju perubahan total jangan melewati masa 40 tahun, sebab kalau lebih lama dari itu MOMENTUM PERUBAHAN itu biasanya akan lenyap atau memudar. Setidaknya, perubahan itu harus dituntaskan di usia seorang pemimpin yang dipilih. Jika tidak demikian, jika dilama-lamakan, Ummat Islam akan kehilangan momentum perubahan.

Kita sudah sama-sama tahu, ketika generasi pejuang berguguran, lalu diganti generasi penerusnya, biasanya semangat melakukan perubahan itu meluntur. Di tangan generasi berikutnya, sulit diharapkan akan terjadi perubahan total, sebab TOKOH PERINTIS yang dikarunia berkah dan kekuatan besar, sudah wafat.

Contoh, lihat gerakan Ikhawanul Muslimin di Mesir. Lihat cita-cita awal pendirinya, Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah! Lalu lihat keadaan IM saat ini di tangan pemimpin-pemimpin berikutnya. Bisa dikatakan, tidak ada lagi pemimpin IM yang sekualitas pendirinya. Di jaman Syaikh Al Bana ada militansi besar untuk membuat perubahan total di Mesir. Bahkan beliau pun memimpin langsung Jihad menyerang Israel.

Seharusnya, perjuangan itu dituntaskan dalam masa 40 tahunan, atau ketika tokoh perintisnya masih hidup. Kalau dilama-lamakan, akhirnya arah perjuangan berubah dari perubahan total menjadi kontribusi. Ya, tidak ada salahnya beramal kontribusi. Toh, itu kebaikan juga. Tetapi ya kita kehilangan momentum. Kita harus mulai lagi dari nol lagi, dari pembinaa lagi, dan seterusnya.

Karakter dua macam amal Islami ini harus benar-benar diperhatikan oleh kaum Muslimin, khususnya aktivis-aktivis gerakan Islam. Jangan memahaminya secara tumpang-tindih atau campur aduk. Keduanya berbeda, sesuai karakter, tabiat, dan arah tujuannya.

Beberapa catatan perlu ditambahkan disini:

1. Kalau seorang Muslim akan beramal, pikirkan baik-baik, Anda akan terjun di bidang apa? Kontribusi atau untuk perubahan total? Ini harus sudah jelas sejak awal.

2. Kedua amal itu sama-sama baik, sama-sama mulia, sama-sama dibutuhkan Ummat. Jadi harus ikhlas ketika menerjuni amal-amal itu. Yang menerjuni amal perubahan total jangan meremehkan yang amal kontribusi, sebab nanti kalau sistem Islami ditegakkan, Anda pasti akan membutuhkan saudara-saudara yang menggeluti amal kontribusi. Begitu juga yang amal kontribusi jangan meremehkan amal perubahan total, sebab selama sistem yang buruk belum diganti, manfaat amal kontribusi tidak akan maksimal.

3. Bagi yang mengusahakan amal perubahan total, janganlah perhatiannya tersibukkan oleh isu-isu, urusan, atau even-even yang tidak penting. Anda dibebani tugas melakukan perubahan total. Jika perubahan itu bisa dilakukan, insya Allah isu, urusan, even-even yang menyibukkan itu bisa diperbaiki. Begitu pula, bagi yang terlibat amal kontribusi, jangan kecewa, jangan marah, jangan kesal dengan kondisi jahiliyyah yang susah disembuhkan. Pikiran Anda harus fokus ke kontribusi, tidak usah ikut bicara soal politik.

4. Antar pejuang di amal kontribusi dan amal perubahan total, bisa saling kerjasama, bantu-membantu. Asalkan tidak mengeluarkan mereka dari domain amal masing-masing. Misalnya, aktivis pejuang politik Islami, boleh membantu menyalurkan hewan qurban atau zakat fitrah, tetapi hanya sebatas bantuan ringan saja. Tidak usah terlalu lama berlarut-larut disana. Begitu juga, pengelola amal-amal kontribusi bisa membantu anak-anak dan isteri para pejuang perubahan total. Bantu mereka, bantu kesusahan hidupnya, agar api perjuangan terus menyala. Kalau anak mereka sekolah, beri beasiswa atau keringan; kalau isteri mereka melahirkan, bantu persalinannya, dan seterusnya.  Inilah yang disebut dalam Al Qur’an “ta’awanu ‘alal birri wat taqwa“.

5. Adapun bagi kaum Muslimin yang tidak peduli dengan amal-amal ini, tidak peduli untuk kontribusi, tidak peduli pula untuk perubahan total; bahkan mereka secara sengaja memusuhi amal-amal itu; maka cukuplah NERAKA yang membakar sebagai kabar gembira bagi mereka. Bahkan KESEMPITAN JIWA akan menghantui langkahnya, dimanapun mereka berada. Na’udzubillah min dzalik.

Semoga yang sedikit ini bisa menjernihkan kebingungan yang selama ini kita rasakan; semoga Allah Ta’ala memberkahi umur, ilmu, dan kehidupan kita; semoga Allah Ar Rahmaan melimpahkan rahmat, barakah, pertolongan, ampunan, serta kejayaan kepada kaum Muslimin di negeri ini. Amin Allahumma amin.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.

Iklan

One Response to Memahami Amal Perjuangan Islami

  1. […] [03] Memahami Amal Perjuangan Islami. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: