Potret Rakyat Kita…

Hari Raya Idul Adha datang….

Seharusnya menjadi berkah, seharusnya menjadi bahagia, seharusnya menjadi suka-cita

Tetapi malah: desak-desakan, terinjak-injak, nenek-nenek menjerit, wanita-wanita pingsan, anak-anak ketakutan, laki-laki pukul-pukulan, dorong-dorongan. Kasihan sekali, hujan tangis dan keringat, bercampur dengan hujan beneran.

Maafkan kami... Kami miskin & lemah, Pak.

Hanya demi sekantong daging, rakyat kecil berjihad “fi sabili jatah daging”. Bangun pagi-pagi, keluar rumah sejak akhir Shubuh. Shalat Shubuhnya mungkin tidak dilakukan, tetapi “jihad daging” harus segera dilakukan.

Mengapa mereka tidak antre teratur saja?

Jawab: “Kami pernah antre Mas, sejak pagi-pagi. Ternyata, tidak mendapat apa-apa.”

Mengapa sih harus desak-desakan begitu, kan kasihan wanita dan anak-anak?

Jawab: “Kami di rumah juga punya wanita dan anak-anak. Karena kasihan ke mereka, kami harus jihad disini. Sama kan? Kami juga sayang wanita dan anak-anak di rumah kami.”

Iya, mengapa harus desak-desakan sehingga jatuh korban?

Kami harus berjuang demi anak-anak...

Jawab: “Mana ada perjuangan yang mudah, Mas. Kami sudah biasa ditindas dan diinjak-injak dalam kehidupan sehari-hari. Jadi semua kenyataan ini biasa-biasa saja di mata kami.”

Tapi kan, jatah dagingnya cukup Pak, untuk semua orang?

Jawab: “Kata siapa? Kami sering dibohongi. Ada yang sudah mendapat kupon, tapi tak mendapat daging.”

Jadi, Bapak tidak percaya dengan sistem pengaturan?

Jawab: “Apa yang bisa dipercaya? Tidak ada lagi. Kami sudah kenyang dibohongi. Hanya “jihad” beginilah cara kami bertahan hidup. Kami orang kecil, hanya bisa berjuang dengan desak-desakan.”

Mengapa harus mengajak anak-anak? Itu kan sangat bahaya.

Jawab: “Siapa Pak yang akan menjaga anak-anak kami? Tidak ada. Mereka harus ditinggal berjam-jam di rumah sendirian. Apa kami tega meninggalkan mereka?”

Saat kami sedang "berjihad" konsumsi...

Apa harapan Bapak?

Jawab: “Kami berharap, tahun depan ada pembagian daging lagi. Kami akan datang kesini lagi. Kami akan desak-desakan lagi. Beginilah nasib kami, menjadi “sampah kehidupan” demi melayani kehidupan Anda-Anda semua yang selalu enak, nyaman, tidak pernah desak-desakan. Biarkan saja kami desak-desakan, demi kenyamanan hidup Anda semua. Juga agar TV, koran-koran, internet mendapat bahan berita untuk media mereka. Biarlah kami sengsara, agar anak-isteri Anda tetap mendapat makan dari memberitakan keadaan kami yang sengsara ini.”

Oh, begitu ya.

Jawab: “Ya, kami sebenarnya berkorban juga. Tapi tidak banyak orang tahu. Tanpa keberadaan orang-orang malang seperti kami, tidak akan ada amal, sedekah, pembagian daging, pembagian zakat, dll. Ya gimana, wong yang mau dikasih tidak ada?”

Inilah Saudaraku, inilah keadaan rakyat kita…

Mereka miskin, lemah, miskin ilmu, papa, terinjak-injak, tertindas, tidak percaya diri, kehilangan martabat…rela menjadi korban penindasan manusia-manusia lain. Bukan hanya saat pembagian daging kurban, bahkan saat pembagian zakat, pembagian sembako, pembagian BLT, dll. Disana benar-benar ada potret asli rakyat kita.

Kami tidak bisa berharap kepada siapapun. Kami sudah kenyang dibohongi...

Semua ini terjadi karena SISTEM NEGARA kita telah mengadopsi penjajahan kembali. Tahun 1945 kita merdeka, tetapi setelah puluhan tahun merdeka, kita kembali masuk ke perangkap penjajahan. Bahkan ini adalah penjajahan yang LEBIH KEJAM. Sebab, secara de facto kita terjajah, sehingga timbul kemiskinan dan kesenjangan sosial yang sangat hebat, seperti yang Anda saksikan di atas. Tetapi secara de jure, masyarakat tidak sadar kalau dirinya sedang terjajah. Everything must go on.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa…maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

AM. Waskito.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: