Kita Tidak Butuh Gelar Pahlawan!

ARTIKEL 05:

Hari Pahlawan, 10 November 2010, sudah berlalu. Tidak ada kesan apapun, tidak ada yang istimewa. Segala serba hambar, formal, dan dibuat-buat. Hari Pahlawan kini, seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya menjadi basa-basi tanpa makna.

Sempat marak perdebatan seputar pemberian gelar pahlawan kepada mendiang Pak Harto dan Wahid. Keduanya mantan Presiden RI. Kalau Soeharto di jaman Orde Baru, Wahid di jaman Reformasi.

Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan isu pemberian gelar pahlawan kepada kedua tokoh. Tidak, tidak ada koneksinya kesana. Lewat tulisan ini kita justru ingin bertanya-tanya: “Apa gunanya kita bicara soal gelar pahlawan? Apa ada manfaatnya pemberian gelar pahlawan bagi kehidupan rakyat Indonesia? Apa yang mau diteladani dari jejak orang-orang yang diberi gelar pahlawan?”

Indonesia adalah negara paling aneh di dunia. Jika ada negara yang paling banyak jendral-nya, itulah Indonesia. Jika ada negara yang paling banyak pahlawan-nya, itulah pula Indonesia. Jika ada negara yang paling banyak masjid-nya, sekaligus paling parah korupsinya, ya Indonesia. Kalau ada negara yang mengaku ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi Pemerintahnya aktif mendukung kemusyrikan, adalah Indonesia. Kalau ada negara yang setiap tahun ratusan ribu rakyatnya berbondong-bondong naik haji ke Makkah, belum lagi yang Umrah, tetapi kondisi negerinya kerap sekali dilamun bencana alam, siapa lagi kalau bukan Indonesia. Kalau ada negara yang aparat hukumnya bekerja menjaga hukum dan sekaligus menjadi bandit hukum, Indonesia juga. Kalau ada negara yang mengeluarkan APBN 20 % untuk sektor pendidikan, pada saat sama negara itu terus mengembang-biakkan kebodohan, kejahilan, ketidak-pedulian, kekacauan persepsi, perpecahan politik, dll. ya Indonesia lagi. Inilah negara teraneh di dunia.

Bangsa Indonesia tidak perlu bicara soal pahlawan, tidak perlu membuat gelar pahlawan, tidak usah capek-capek mengangkat ini itu sebagai pahlawan. Semua perbuatan itu percuma, tidak ada manfaatnya. Mengapa demikian?

Berikut alasan-alasannya…

[1] Apa artinya gelar pahlawan, kalau rakyat Indonesia tidak mengerti hakikat kemerdekaan dan kedaulatan? Pahlawan berjasa besar bagi bangsa, khususnya dalam meraih kemerdekaan. Lalu kalau bangsa ini sendiri tidak mengerti makna kemerdekaan, untuk apa ada pahlawan? Kita mengklaim sudah 65 tahun merdeka, tetapi tidak memiliki kedaulatan untuk mengatur negara sendiri. Contoh paling telanjang, beberapa bulan lalu seorang menteri keuangan negeri ini dicomot oleh Bank Dunia. Padahal dia masih aktif menjabat. Bukan karena sayang sama Sri Mulyani –semoga Allah membalas semua kezhalimannya-, tetapi betapa bangsa ini tak punya harga diri sama sekali. Begitu mudahnya lembaga-lembaga asing mencampuri urusan dalam negeri, sampai “membajak” pejabat yang sedang aktif. Mungkin, suatu saat giliran IMF akan membajak pejabat presiden.

PAHLAWAN: Deretan Gambar Tanpa Makna...

[2] Selama ini bangsa Indonesia sudah kebanyakan pahlawan. Semuanya saja mau diangkat menjadi pahlawan. Sampai seorang tokoh yang berani menghujat Al Qur’an dengan kata-kata, “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an. Ha ha ha…” Orang semacam itu mau diberi gelar pahlawan juga. Allahu Akbar. Mengapa tidak sekalian saja kita angkat Fir’aun sebagai pahlawan terbesar di dunia? [Aku mendoakan, dengan menyadari segala kelemahan diri dan Keagungan Rabbul ‘alamiin, andaikan nanti Abdurrahman Wahid benar-benar diangkat sebagai pahlawan nasional, semoga bangsa ini dilumat oleh bencana alam yang lebih mengerikan dari yang pernah terjadi selama ini. Biar mereka bisa merasakan enaknya akibat dari menghina agama Allah Ta’ala. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in].

[3] Selama ini banyak pengkhianat-pengkhianat bangsa, antek-antek penjajah di masa lalu atau masa kini, ikut-ikutan diangkat sebagai pahlawan. Banyak tokoh-tokoh di era Boedi Oetomo dulu, era pergerakan, era kemerdekaan, bahkan era Reformasi yang menjadi antek penjajah asing. Orang seperti Adam Malik saja, ada yang mencurigainya sebagai antek asing. Lalu mereka dimasukkan sebagai pahlawan. Ini sama dengan mewariskan sejarah penipuan secara sistematik.

[4] Sejak lama bangsa Indonesia sudah sbiasa bersikap tidak fair. Dalam menentukan kriteria pahlawan berlaku hukum like or dislike. Tokoh seperti Soekarno dipuja-puja setengah mati. Sementara tokoh pejuang Muslim seperti Syafruddin Prawiranegara –rahimahullah- tidak diakui kepahlawanannya. Mau tahu jasa beliau? Beliau adalah Presiden RI dalam pemerintahan darurat di Bukit Tinggi. Ketika itu Pemerintah RI yang rersmi tidak ada, karena dikudeta oleh Belanda, sehingga negara kita tidak memiliki pemerintahan. Saat itu Mr. Syafruddin Prawiranegara mendeklarasikan PDRI (Pemerintah Darurat RI) di Bukit Tinggi. Andaikan tanpa gerakan ini, RI bisa habis disingkirkan oleh Belanda (NICA). Bahkan bangsa ini juga TIDAK JUJUR saat menuliskan sejarah Daarul Islam (DI/TII). Terlalu banyak kepalsuan dan dusta. Jadi akhirnya makna pahlawan itu menjadi: “Siapa suka siapa?” Kalau ada yang disukai, dipahlawankan; kalau ada yang dibenci, diabaikan.

[5] Bangsa Indonesia selama ini hanya konsentrasi menghasilkan nama pahlawan, gelar pahlawan, SK pengangkatan pahlawan, dll. Tetapi kita tidak pernah menerbitkan gelar seperti: Pengkhianat Bangsa, Musuh Bangsa, Musuh Rakyat, Penjahat Sejarah, Koruptor Bejat, Bandit Hukum, Politisi Penipu, dll. Padahal orang-orang semacam itu banyak berkeliaran di negeri ini, dulu dan kini. Apa gunanya ada 2 nama pahlawan diangkat, sementara pada saat yang sama ada 2000 (atau 20.000) pengkhianat bangsa sedang bekerja menjual bangsanya?

[6] Andaikan masalah gelar pahlawan itu penting, lalu apa gunanya bagi kehidupan bangsa? Apakah bisa menolong orang miskin? Apakah bisa menghapus korupsi? Apakah bisa memangkas praktik mafia hukum? Apakah bisa membuat generasi muda lebih bermoral? Apakah bisa menyelamatkan anak-anak dan kaum wanita dari penindasan mesin-mesin industri? Apakah bisa mengamankan perbatasan-perbatasan negara? Apakah bisa mencegah meluasnya narkoba? Apakah bisa mengobati penyakit malas dan suka hiburan di diri bangsa kita? Apakah bisa menyingkirkan peranan politisi-politisi munafik? Apakah bisa mengakhiri penjajahan ekonomi? Apakah bisa menghentikan penindasan liberalisme atas ekonomi UKM? Apakah bisa membuat korporasi-korporasi kapitalis asing angkat koper dari Nusantara? Pemberian gelar itu tidak ada manfaatnya. Hanya membuang-buang anggaran negara.

[7] Pemberian gelar-gelar semacam itu hanya akan semakin melalaikan masyarakat dari kondisi riil yang ada saat ini. Malah kita semakin tenggelam dengan nostalgia-nostalgia palsu. Masyarakat tidak paham, apa itu pahlawan? Mereka tidak tahu, apa itu perjuangan? Mereka tidak mengerti, apa itu kemerdekaan dan kedaulatan? Namun Pemerintah terus produktif mencetak nama-nama pahlawan baru. Adalah suatu ironi luar biasa, ketika tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hal itu katanya untuk memperingati perang besar di Surabaya, tanggal 10 November 1945. Tetapi sosok Bung Tomo yang berperan sentral dalam Perang 10 November 1945, baru kemarin-kemarin diakui sebagai pahlawan. Beliau susah diangkat sebagai pahlawan karena tidak mau memusuhi gerakan DI/TII di Jawa Barat. Lihatlah, betapa bodohnya akal bangsa ini? Mereka punya hari pahlawan, tetapi selama puluhan tahun tak pernah mengakui kepahlawanan Bung Tomo. Bung Tomo sebagai anak bangsa tidak boleh punya pendirian politik. Sementara anak-anak pegawai Belanda seperti Dr. Seotomo, Ki Hajar Dewantoro, Ki Mangun Sarkoro, Dr. Setia Budhi, dll. yang notabene adalah antek-antek penjajah, nama mereka sudah lama diabadikan sebagai nama-nama pahlawan besar. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (baca 100 x). Sangat kelihatan kalau pemberian gelar pahlawan itu bukan atas kepentingan bangsa kita sendiri, tetapi untuk memenuhi kepentingan kaum kolonial. Dulu dan kini, kaum kolonialis tidak pernah rela dengan pahlawan-pahlawan Islam. Mereka hanya akan mempahlawankan antek-anteknya sendiri.

Kalau dipaksa-paksakan, OK bisa saja kita setuju dengan pemberian gelar-gelar pahlawan itu, asalkan: Bangsa Indonesia mengerti apa itu kemerdekaan dan apa itu penjajahan? Siapa itu pahlawan dan siapa itu pengkhianat bangsa? Kalau tidak mengerti, meskipun setiap tahun diangkat 1000 pahlawan, tidak ada gunanya. Percuma dan sia-sia belaka. Kita menerbitkan nama-nama pahlawan, tetapi hakikatnya tidak ada.

Bangsa ini semakin kelihatan KEBOBROKAN-nya. Apa saja yang dilakukan bangsa ini, selalu salah. Apa saja yang dikerjakan, selalu mengundang masalah. Apa saja yang diusahakan, selalu berakhir dengan mushibah.

Ya, karena bangsa ini sudah dikarunia ISLAM, agama yang besar, dahsyat, kekuatan yang tangguh. Tetapi Islam dilupakan, Islam diremehkan, Islam dicaci-maki, Islam dimusuhi, Islam diperangi, Islam diberangus, Islam disingkirkan dari kehidupan bangsa dan negara. Islam hanya diberi ruang untuk masalah ibadah ritual, masalah tradisi hari raya, dan masalah adab kesopanan. Islam tidak dihargai di negeri ini. Berbeda dengan Malaysia dan Brunei yang berbangga menjadikan Islam sebagai kebudayaan nasional mereka.

Kebencian kepada Islam ini bukan kebetulan. Para penjajah memang bekerja keras untuk memfitnah, menjelek-jelekkan, memusuhi, memarginalkan, dan menyingkirkan Islam dari kehidupan bangsa. Mereka sangat tahu prinsip berikut: “Kalau Islam diberi kesempatan, habislah penjajahan!” Maka segala hal yang dibutuhkan untuk memerangi Islam, bangsa kolonial akan memberikan dukungan. Lihatlah, untuk membentuk Densus 88, Amerika dan Australia memberi dukungan penuh, mulai dari dana, pelatihan, fasilitas, akses informasi, dll. Ini sebuah contoh nyata, bahwa bangsa kolonial tidak akan rela melihat Islam bekerja menyelamatkan Indonesia.

Dan bodohnya, masyarakat, para politisi, media massa, pakar/pengamat, anggota dewan, pejabat birokrasi, aparat hukum, aktivis LSM, aktivis mahasiswa, tokoh ormas, bahkan jamaah majlis taklim; mereka ikut-ikutan memuluskan agenda penjajah untuk memusuhi Islam. Setidaknya, memposisikan Islam sebagai musuh negara. Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bangsa ini sudah sakit parah, bahkan hampir gila. Penyakit itu datang, karena bangsa ini secara sadar telah MEMUSUHI ISLAM. Mengapa kita memusuhi Islam? Karena otak kita sudah dicuci oleh pemikiran-pemikiran penjajah. Penjajah tidak mau memberikan kesempatan sedikit pun kepada Islam; karena mereka tahu, di bumi manapun, dimana Islam bangkit disana, penjajahan pasti dilawan sampai habis. Dan bangsa kita secara sadar ikut memuluskan agenda penjajah itu.

Demi Allah, segala seruan permusuhan kepada Islam, pada hakikatnya hanya menolong tujuan para penjajah dan menghancurkan bangsa sendiri. Hanya saja, kebanyakan rakyat Indonesia tidak menyadari itu.

Jadi, bagaimana dong, para pahlawan? He he he…apa ada pahlawan di antara kita? ‘Kali aja ada. Iya-lah, siapa saja bisa jadi pahlawan kok. Asal, dia mau sujud sungkem di telapak kaki penjajah. Hu hui, pahlawan euy. Hebat! Besok giliran Hatta Rajasa, Kuntoro Mangkusubroto, Purnomo Yusgiantoro, Sri Mulyani, Boediono, Dino Pati Jalal, Abdurrahman Wahid, Ulil Abshar, Musdah Mulia, Ruhut Sitompul, Bambang Hendarso… Dia jadi pahlawan ya? Gak masalah, wong bangsa ini memang banyak masalah. Ya, siapa lagi, dong? Daripada kagak ada… Ya udelah, rakyat gak tahu ini. Biarin, biarin, entar juga capek sendiri…

Kaaaciaaaaannnnn deh lo…

AM. Waskito.

Iklan

2 Responses to Kita Tidak Butuh Gelar Pahlawan!

  1. […] “WTC 911” dan Missi DajjalKita Tidak Butuh Gelar Pahlawan!Realitas Penjajahan Baru di IndonesiaPotret Rakyat Kita…Memahami Amal Perjuangan IslamiBisakah […]

  2. […] [05] Kita Tidak Butuh Gelar Pahlawan. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: