Barakah Kehidupan Tauhid

ARTIKEL 08:

Beberapa tahun lalu, alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala menunaikan ibadah Umrah. Itu adalah Umrah pertama yang saya ikuti. Hal ini berkat jasa baik seorang pengusaha Muslim di Jakarta. [Semoga Allah Ta’ala membalas jasa beliau berlipat ganda, memberkahi keluarganya, menolong usahanya, serta memberikan jalan keluar atas kesulitan-kesulitannya. Allahumma amin].

Disini saya ingin membagi sedikit sekali pengalaman Umrah tersebut, khususnya dari sisi pengalaman-pengalaman spiritual. Oh ya, saya tidak akan menyebut pengalaman spiritual saat di Masjid Nabawi, di Masjidil Haram, saat di depan Ka’bah, dll. Justru saya akan menyebut beberapa pengalaman spiritual di luar situs-situs ibadah Islami tersebut. Ada beberapa hikmah pelajaran yang layak direnungkan.

Mari kita buka satu per satu…

[1] Saat mendarat di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, waktu ketika itu sekitar pukul 01.00 dini hari. Semua penumpang harus mengikuti proses boarding terlebih dulu. Proses boarding mungkin memakan waktu sekitar 1 jam. Maklum, jamaah yang bersama kami ketika itu ada ratusan orang (termasuk dari biro perjalanan Umrah lain). Satu hal yang saya catat disini, aparat-aparat imigrasi di bandara Jeddah ini bekerja secara konsisten, dengan pelangaran aturan keimigrasian sangat kecil. Mereka konsisten dalam soal aturan. Tidak pandang bulu, berhadapan dengan siapapun. Tingkat kedisiplinan aparatur Saudi ini sudah dikenal. Justru yang kurang bagus ialah elit-elit pejabat mereka.

[2] Setelah tiba di Jeddah, kami mulai perjalanan ke Madinah melalui jalan tol. Jauh jarak bisa mencapai 400 km. Kalau tidak salah, perjalanan non stop memakan waktu sekitar 6 jam. Jalan tol di Saudi gratis, bahkan bensin pun dijual dengan harga sangat murah. Lebih mahal dari air minum di negeri kita. Dalam perjalanan bis di saat malam itu, saya hanya kuat bertahan beberapa lama. Selebihnya lelap dalam tidur. Dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa selama perjalanan itu. Padahal perjalanan malam, berjam-jam, kecepatan bis luar biasa. Kalau di tol Cikampek, yang jaraknya tidak sampai 100 km, sering terjadi kecelakaan, karena sopir kerap ngantuk.

[3] Dalam perjalanan antara Jeddah-Madinah itu, rombongan kami berhenti di tengah jalan untuk menunaikan Shalat Shubuh. Disana ada masjid transit yang telah disediakan oleh Pemerintah Saudi. Suasana pagi itu terasa sangat mempesona, langit mulai terang, angin semilir berhembus. Jamaah-jamaah dari negara lain juga Shalat disana. Saya perhatikan wanita-wanita Turki dengan jubah khas dan model kerudung bercorak melaksanakan ibadah dengan khidmat. Mereka tampak serius, tetapi tidak tergambar wajah tegang disana. Nuansa pagi itu terasa luar biasa. Rasanya 1 dari 1000 kemungkinan hal seperti itu bisa kita jumpai di negeri kita. Ia menjadi salah satu kenangan spiritual besar yang pernah saya rasakan.

[4] Satu hal yang saya rasakan istimewa ketika menjalani perjalanan Umrah itu. Selama di Saudi, makanan-minuman rasanya begitu melimpah. Dimana-mana kita dengan mudah bisa mendapatkan makanan. Saat masih di bis, saat di hotel, saat di luar masjid, bahkan saat masih di Saudi Airlines, makanan sangat melimpah. Hal ini juga dirasakan oleh berjuta-juta jamaah Haji Indonesia yang sudah menunaikan Haji sejak jaman dulu. Perkara makanan, di Saudi tidak ada problem sama sekali. Orang-orang yang dermawan banyak, dan mereka tidak hitung-hitungan untuk berbuat amal kebajikan. Maka itu banyak orang Indonesia nekad menjadi pendatang illegal di Saudi karena disana untuk urusan makan, sangat mudah.

"Disini Melimpah Rizki dan Barakah. Alhamdulillah."

[5] Kalau saya perhatikan masyarakat Saudi cenderung tenang, tidak berisik, tidak bising. Saya tidak pernah mendengar ada toko-toko yang memutar musik berisik, apalagi musik menghentak. Nyaris kehidupan sosial di Saudi berjalan minus musik dan jingkrak-jingkrak. Minus tingkah wanita hedonis dan liberal. Bahkan saya jarang melihat orang-orang Saudi nongkrong bareng, ngobrol rame, atau bercanda-canda. Berkali-kali saya berusaha mencari orang yang sedang membaca koran, atau mendengar radio, tetapi sulit menemukan. Di balik itu semua, ternyata kehidupan sosial di Saudi cenderung tenang, damai, tidak berisik oleh gerakan-gerakan politik yang meletihkan dan membingungkan.

[6] Di beberapa ruas jalan di Makkah, menuju komplek Masjidil Haram As Syarif, banyak ditemukan pengemis-pengemis kulit hitam (kerap disebut kaum Taqrani). Mereka ada yang cacat, ada juga yang kelihatan normal. Kalau pengemis wanita, tetap memakai abaya hitam-hitam, dan cadar. Pernah ada seorang pengemis kecil berteriak-teriak, “Ya Aloh, ya Aloh, ya Aloh,” sambil menggeleng-gelengkan kepala. [Sengaja ditulis “Ya Aloh” bukan “Ya Allah” atau “Ya Alloh”. Karena memang yang terdengar di telingan “Ya Aloh”]. Orang-orang pun segera memandang ke arah pengemis kecil itu. Eee, ternyata dia sedang asyik menggeleng-gelengkan kepala, dengan tidak peduli kepada orang-orang yang lewat. Ternyata, kata-kata “Ya Aloh, ya Aloh” itu hnya untuk menarik perhatian orang saja. Saya hanya tersenyum kalau ingat bocah kecil itu. Saudaraku, perlu Anda tahu, Kota Makkah sangat terbuka bagi siapapun yang ingin berlindung di dalamnya. Kota Suci ini memberi naungan kepada banyak sekali orang-orang malang dan lemah, dari negara-negara miskin di Afrika, Bangladesh, Pakistan, India, bahkan dari Indonesia.

[7] Saat pagi-pagi berada di depan hotel Darussalam (mungkin hotel ini sudah digusur akibat perluasan baru Masjidil Haram), suasana terasa eksotik. Berbagai kesibukan orang di toko, di hotel, di jalan tampak dinamis. Yang sangat menarik ialah perilaku kawanan burung-burung merpati. Burung-burung itu begitu dekat kita. Mereka berkumpul memakan butir-butir gandum. Kalau didekati manusia, mereka terbang menjauh. Nanti datang lagi ke tempat butir-butir gandum itu. Di langit juga sering terbang burung-burung elang. Luar biasa, di antara gedung-gedung tinggi justru hidup burung-burung elang. Burung walet juga banyak. Saya melihat beberapa sarang burung walet ada di pojok-pojok dinding Masjidil Haram. “Kok tidak diambil ya?” batin saya dalam hati, dengan logika khas orang Indonesia. Bahkan saat menanti waktu Shubuh di Masjid Nabawi di Makkah, ada ribuan atau jutaan belalang-belalang gurun mengitari lampu-lampu malam di Masjid Mulia itu. Adanya hewan-hewan ini menandakan wilayah tersebut ramah bagi hewan-hewan itu. Jika tidak ramah, mereka pasti enggan hidup disana.

[8] Saat berada di bukit Rahmah di padang ‘Arafah, saat di kawasan situs Gua Hira’, saat di dekat makam Syuhada Uhud, dan lain-lain. Terasa benar betapa tenang dan damainya tempat-tempat itu. Meskipun cuaca Saudi sendiri terkenal panas, dengan tiupan angin kencang. Suasana tampak tenang, damai, dengan berbagai aktivitas manusia di dalamnya. Beberapa kali saya jumpai ada perselisihan, cekcok mulut, tetapi semuanya tetap dalam kendali ketenangan itu.

[9] Suasana sangat mengharukan saya rasakan saat berada di pantai Laut Merah. Lokasinya dekat “Masjid Terapung”. Ya, ini lokasi kunjungan favorit kaum Muslimin asal Indonesia. Saat itu suasananya sangat damai, tenang, memandangi laut dengan gelombang yang ramah, airnya bersih, serta suasana masyarakat Saudi sedang tamasya bersama keluarganya di tepi pantai itu. Damai sekali, sampai saya berkata dalam hati, “Ya Allah, inilah hasilnya jika ajaran Tauhid dijunjung tinggi.” Sejujurnya, Kerajaan Saudi belum melaksanakan Islam secara kaffah seperti yang diamanahkan Syariat Islam. Tetapi mereka telah melaksanakan sebagiannya. Ternyata, buah dari yang sebagian itu sangat nyata, berupa ketenangan, damai, alam yang ramah, rizki yang melimpah.

[10] Bukan hanya soal makanan yang melimpah. Dari sisi energi, kehidupan di Saudi juga melimpah. Harga bensin per liter sangat murah, sekitar ½ real (atau sekitar Rp. 1250,-). Pulsa telepon untuk percakapan lokal, gratis. Anda bisa menelpon teman di kota yang sama selama 24 jam sehari, kalau Anda kuat bicara terus-menerus tanpa henti. Energi listrik juga berharga murah. Lampu-lampu di Saudi tidak ada yang “nanggung”, semuanya terang-terang, malah “sangat terang”. Tidak ada disana kampanye semisal, “Mari Kita Hemat Listrik!” Kampanye seperti itu hanya cocok buat PLN dan kawan-kawan. Dari sisi bahan bakar gas, juga tidak ada masalah. Termasuk suplai air, juga melimpah. Kontras dengan karakter dasar mereka sebagai negeri gurun pasir. Di Saudi manusia tidak banyak teori, seperti layaknya orang-orang Indonesia yang sok pintar. Mereka hidup apa adanya, tidak banyak omong. Kata orang, “Mereka berkata dengan perbuatan. Bukan berbuat dengan perkataan.”

Mungkin, kita akan mudah mengatakan, “Ya Saudi kan negara kaya. Wajar dong bisa seperti itu.” Alasan seperti itu salah, salah, salah besar. Kalau dibandingkan, Indonesia jauh lebih kaya dari Saudi. Saudi kaya minyak, iya benar; tetapi Indonesia memiliki banyak kekayaan yang tidak dimiliki Saudi. Indonesia punya: gunung-gunung, lautan luas, danau, sungai, hutan sangat luas, iklim sejuk, potensi emas, intan, batu permata, timah, tembaga, uranium, gas alam, batu bara, panas bumi, perkebunan sawit, perkebunan karet, perkebunan teh, cengkeh, dll. Hanya bedanya, di Saudi harta negaranya dipakai untuk rakyat sendiri; kalau di Indonesia, harta negara dipakai untuk memberi makan negara-negara asing, konglomerat hitam, kaum kapitalis, pejabat korup, maniak politik, dan seterusnya.

[11] Dalam perjalanan kota-kota, dari Jeddah ke Madinah, dari Madinah ke Makkah, lalu dari Makkah ke Jeddah, tetap saja suasanya tenang, damai, lancar. Aktivitas manusia jalan terus, bahkan sampai jam 3 pagi pun, aktivitas tetap jalan. Tetapi nuansa damai, tenang, tanpa hiruk-pikuk yang melelahkan jiwa dan akal, sangat terasa disana. Itulah berkah ketika Tauhid dijunjung tinggi, ketika As Sunnah dimuliakan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Banyak pengalaman-pengalaman berharga yang saya rasakan selama menjalani masa Umrah yang rentang waktunya sekitar 1 pekan itu. Banyak cerita, kenangan, dan kerinduan menyelimuti hati. Itulah negeri yang sejak ribuan tahun lalu didoakan Ibrahim As agar diberkahi oleh Allah Al Mujib. Dan doa Ibrahim benar-benar dikabulkan oleh Allah Ta’ala, alhamdulillah.

Untuk membangun kehidupan bangsa yang damai-sentosa dan sejahtera materi itu sebenarnya mudah. Rumusnya sangat mudah sekali. Rumusnya sebagai berikut: “Tegakkan nilai-nilai TAUHID dan jauhkan masyarakat dari kemusyrikan. Hidupnya SUNNAH NABI, jauhkan masyarakat dari perilaku bid’ah.” Nah, inilah metode politik sejati, yaitu menghidupkan Dua Kalimat Syahadat. Inilah ajaran politik yang diwariskan oleh para Nabi dan Rasul sejak jaman dahulu.

Kalau membaca kisah Nabi-nabi dan Rasul, sebenarnya masalahnya sudah sangat jelas, jelas sekali. Siapa saja yang mau hidup bertauhid dan mengikuti Syariat Nabi, mereka akan hidup aman, tentram, sentosa, dan makmur. Kalau mereka ingkar, mereka akan menerima satu dari dua kenyataan: Mendapat adzab seperti kaum-kaum terdahulu, atau mereka mendapat sengsara, kemiskinan sistematik, dan ditindas kaum tirani. Hal itu sudah berulang-ulang dijelaskan dalam Al Qur’an, sehingga tidak layak bagi kita untuk tidak memahami.

Kadang, saya merasa kasihan kalau melihat berita, diskusi, atau opini politik di TV-TV. Juga saat membaca opini politik di internet, blog, dan forum-forum diskusi. Betapa banyak orang berpendapat ini itu, punya gagasan ini itu, punya analisa ini itu, dan seterusnya. Tetapi semua itu seperti asap yang terbang ke langit, lalu hilang sia-sia begitu saja. Kasihan sekali, energi besar dicurahkan untuk menjadi “asap”.

Demi Allah, bangsa manapun juga kalau tidak menegakkan TAUHID dan tata-nilai SUNNAH NABI, mereka akan sengsara, menderita, miskin, dan terhina. Atau bisa saja mereka hidup makmur, ekonomi pesat, melimpah materi dan fasilitas; tetapi caranya dengan menjajah orang lain, menindas negeri-negeri lemah, menyuburkan korupsi di negeri orang, atau ngakal-ngakali negeri yang bodoh. Bangsa-bangsa seperti Amerika, Eropa, Jepang, Singapura, Taiwan, Korea, dll. semua itu tidak akan bisa berdiri tegak, tanpa cara-cara kotor (menindas).

Sebagaimana namanya, Islam itu artinya damai, selamat, sentosa. Siapa yang hidup di atas prinsip Islam, akan mendapat damai-sentosa. Siapa membuang ajaran Islam ke balik punggungnya, niscaya mereka akan sengsara. Itu pasti!

Semoga bangsa ini mau mengambil pelajaran. Allahumma amin.

 

AMW.

Iklan

3 Responses to Barakah Kehidupan Tauhid

  1. […] [07] Barakah Kehidupan Tauhid. […]

  2. onh plus berkata:

    subhanallah, setuju, tanpa tauhid dan sunnah-sunnah Nabi, maka hidup ini akan sulit, akan sangat menderita dan mengurusi hal-hal yang tidak substansi

  3. Nur Latifi berkata:

    Yang penting sesama Muslim jgn saling mencaci maki merasa paling benar sendiri, dan jangan gampang-gampang mem-BID’AH2, men-SYIRIK2, dan meng-KAFIR2 kan sesama Muslim, itu baru Muslim yg betul2 hidup dgn Islam…kalau masih mudah lisan mencaci maki dan merasa benar sendiri, ya selamat hidup dlm keadaan hati yg tdk akan pernah tenang dan gelisah, HIDUP DGN TAUHID DAN ALQUR’AN DAN SUNNAH NABI ITU ISLAM, TAPI HIDUP DGN PERASAAN PALING BENAR SENDIRI DAN MENCACI MAKI, ITU AJARAN IBLIS…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: