Islam dan Ideologi Kebebasan

ARTIKEL 10:

Salah satu alasan yang membuat bangsa Indonesia membenci Syariat Islam ialah: ideologi kebebasan. Sebagian orang sangat membenci Syariat Islam, karena Syariat dianggap membelenggu kebebasan, dianggap memasung kesenangan manusia, dianggap memenjara kreativitas manusia.

Mereka berkata, “Kalau Syariat Islam dilaksanakan, wah habislah kita. Syariat terlalu banyak ngatur. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Ini haram, itu haram! Disini haram, di sono haram. Hidup isinya haram-haraman melulu. Sangat membosankan, tidak enjoy, tidak ada kebebasan. Kita tak bisa seneng-seneng. Semua orang ngomong akhirat melulu, amal shalih melulu, kematian melulu. Huuh, betapa boring hidup seperti itu!” Begitu suara-suara mereka saat memfitnah Islam. Di mata orang-orang ini, peradaban Islam isinya hanya: Shalat, mengaji, dan khutbah. Kasihan sekali.

Dedengkot kaum Liberal, Ulil Abshar Abdala pernah mengatakan, bahwa Indonesia lebih baik tetap menganut sistem sekuler, “Sebab sistem itu bisa mewadahi energi keshalihan dan energi kemaksiyatan sekaligus.”

Robot Pun Teler Karena Hedonism. It's Very High Risk and Cost. You know...

Banyak orang percaya kalau Syariat Islam diterapkan, tontonan TV akan dilarang (padahal tidak ada larangan ke arah itu); cabang-cabang olah-raga akan dilarang (padahal Islam menganjurkan olah-raga seperti memanah, berenang, menunggang kuda, beladiri); katanya nanti kaum wanita akan dikurung di rumah, di sel di rumah, tidak boleh keluar rumah, sejak lahir sampai mati (padahal dulu di jaman Nabi, kaum wanita Muslimah ikut terlibat membantu peperangan); nanti kalau makan cuma dengan korma, minyak, dan garam saja (padahal tidak ada larangan mau membuat produk kuliner sehebat apapun, asalkan tidak mengandung barang haram, tidak menyia-nyiakan makanan, dan tidak berlebihan); nanti semua orang diawasi polisi Syariat, kalau ketahuan ada yang tidak shalat sekali saja, akan langsung digantung sampai “tujuh turunan” (padahal di jaman Nabi ada orang-orang munafik yang lebih kufur dari sekedar meninggalkan shalat, tetapi mereka tidak diberi sanksi); kalau Syariat tegak, katanya semua produk teknologi akan disingkirkan, diganti teknologi onta, pedang, lampu minyak, dan pundi-pundi untuk menyimpan uang (faktanya, Masjidil Haram saat ini banyak sekali mengadopsi teknologi canggih yang di Indonesia saja belum diterapkan). Dan lain-lain gambaran buruk.

Syariat Islam itu berkah, ajaran suci, kasih-sayang, martabat, integritas, bahkan sumber kejayaan masyarakat. Tidak ada dalam Syariat ini yang buruk-buruk. Syariat Islam tidak boleh dipandang dengan kacamata buruk, seperti umumnya pandangan orang-orang sekuler, Barat, dan Zionis. Mereka memandang Syariat dengan sangat buruk, hanya karena kedengkian hati mereka, untuk menjelek-jelekkan Islam itu sendiri. Semakin mereka membenci Islam, semakin kelihatan kalau hati mereka ketakutan dengan kekuatan Islam sebenarnya.

PROSES BERTAHAP

Untuk melaksanakan Syariat Islam, selalu bertahap, tidak serta-merta diubah dalam sekejap. Hal itu pula yang dilakukan oleh Nabi Saw ketika melaksanakan Syariat di Madinah. Nabi Saw pun ketika memerintahkan Muadz bin Jabal Ra. ke Yaman, beliau memerintahkan agar Islam diterapkan secara bertahap. Bahkan Aisyah binti Abu Bakar Ra, pernah mengatakan, “Kalau saja larangan tentang minuman keras tidak turun secara bertahap, niscaya aturan itu tidak akan dipatuhi warga Madinah.” Kondisi-kondisi riil di Indonesia dengan segala karakter dan tabiat masyarakatnya, bisa menjadi pertimbangan saat menerapkan Syariat Islam.

Misalnya, mula-mula kita berantas dulu fenomena korupsi. Setelah itu, kita berantas praktik kolonialisme asing yang siang-malam terus mengeruk kekayaan bangsa. Setelah itu kita benahi institusi hukum sebaik-baiknya. Setelah itu kita bangun dunia pendidikan untuk perbaikan kualitas SDM. Setelah itu kita bangun pertanian, kita bangun ekonomi kerakyatan, kita bangun industri, dll. Setelah itu, kita bangun kualitas kesehatan, standar gizi, jaminan sosial, dll. Hingga akhirnya, kita bangun angkatan perang yang tangguh. Nantinya, kalau ada yang berani menantang bangsa kita, akan kita hadapi dengan segala kekuatan yang ada. Demikian, proses penerapan Syariat itu bisa berlangsung bertahap.

Kewajiban shalat, memakai jilbab, mentaati hokum pidana (hudu), juga bisa dilaksanakan secara bertahap. Mula-mula diajari ilmunya, diberi penerangan yang memuaskan. Lalu masyarakat diberi fasilitas, diberi pakaian, diberi kemudahan untuk melaksanakan kewajiban. Nanti kewajiban dilakukan secara perlahan-lahan. Misalnya, setiap Hari Jum’at semua pegawai wanita memakai busana Muslimah. Setahun kemudian bertambah menjadi Jum’at dan Selasa. Setahun berikutnya, bertambah lagi Senin, Rabu, dan Jum’at. Begitu seterusnya, sampai para pegawai wanita merasakan manfaat berbusana Muslimah, lalu mereka atas kesadaran sendiri melaksanakan kewajiban berjilbab.

Bahkan misalnya ada sepasang suami-isteri baru menikah. Mereka belum punya anak. Atau anaknya masih bayi. Ketika di luar rumah, suami-isteri itu harus menutup auratnya secara rapi, sehingga tidak menimbulkan maslaah-masalah sosial. Tetapi kalau di dalam rumah mereka sendiri, selagi tidak ada orang lain yang melihat keadaan mereka sendiri; andaikan mereka di rumah itu kemana-mana hanya memakai pakaian dalam, silakan saja. Jadi, Syariat Islam itu tidak sesadis yang digambarkan oleh antek-antek kolonialis, Barat, dan Zionis.

Syariat Islam sangat concern dengan keharmonisan sosial. Hal-hal yang merusak kondisi sosial dicegah terjadi. Adapun untuk keadaan di rumah masing-masing, itu tanggung-jawab masing-masing keluarga. Mereka mau berbuat apapun, selama bukan perbuatan kejahatan, kriminal, kezhaliman, perzinahan, makar terhadap Islam, bukan perbuatan sihir, dan sejenisnya; semua itu boleh dilakukan. Bahkan mereka tidak usah dimata-matai.

MERUSAK JIWA

Kembali tentang ideologi kekebasan. Sepintas lalu, hidup bebas, liberal, memuaskan hawa nafsu itu enak. Padahal kalau dikaji, kehidupan bebas itu beresiko menghancurkan kehidupan manusia sendiri. KH. Hasan Abdullah Sahal, seorang pimpinan Pesantren Gontor, pernah mengatakan, bahwa kebebasan itu saudara kandung kebinatangan. Pandangan ini benar! Menurutkan nafsu kebebasan akan membuat manusia tak memiliki jati diri sebagai manusia, tetapi lebih tepat disebut “binatang bertubuh manusia”.

Seruan orang-orang seperti Ulil Abshar, Wahid, Ratna Sarumpaet, Shinta Nuriyah, Titiek Puspa, Inul Daratista, Franki Sahilatua, Rieke Dyah Pitaloka, Ratu Hemas, dll. saat menentang RUU Anti Pornografi dan mendukung kebebasan ekspresi seni. Seruan orang-orang ini sebenarnya sama dengan seruan ini: “Mari kita menjadi binatang! Mari berperilaku seperti binatang! Mari hidup dengan memuja nilai-nilai kebinatangan!” Hanya saja mereka tidak mau berkata jujur seperti itu.

Sebagai contoh, anak-anak muda inginnya diberi kebebasan seksual. Mereka ingin pacaran, kencan, jalan-jalan, ke karoke, nonton bareng, sampai akhirnya melakukan hubungan seks bebas. Mereka anggap semua itu merupakan kebebasan yang indah, gaya hidup memuaskan, bahkan tradisi orang hebat. Padahal di balik seks bebas itu ada bahaya-bahaya mengerikan, antara lain: konflik, persaingan asmara, pelecehan martabat wanita, hilangnya keperawanan secara hina, kehamilan tak diinginkan, aborsi, kematian, hancurnya masa depan, hancurnya moral, hancurnya studi, dll. Padahal, kalau mereka mau menikah secara baik-baik, dengan proses yang benar; mereka bisa terhindar dari semua itu.

Contoh lain, tentang miras. Sebagian anak muda ingin membangkang dari agama dengan mabuk-mabukan. Sebagian mereka mati sia-sia karena menegak miras oplosan di daerah Indramayu dan lainnya. Ketika mabuk, anak-anak muda itu merasa telah bebas, merdeka, bersuka-ria. Padahal setelah itu, akal mereka rusak, perasaan rusak, karakter diri rusak, kesehatan rusak, hubungan sosial rusak, urusan studi atau kerja menjadi rusak, dll. Menurut pakar kesehatan dunia, kecanduan alkohol merupakan sumber kehancuran metabolisme tubuh.

Banyak contoh yang tak bisa disebut satu per satu disini. Hal-hal yang dilarang oleh Islam, bukanlah untuk memasung kekebasan manusia. Andaikan hal itu baik dan positif pasti tidak akan dilarang. Manusia hanya dilarang dari melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa merusak dirinya sendiri dan orang lain.

Perlu diketahui, dalam diri manusia ada HAWA NAFSU dan ada AKAL BUDI. Hawa nafsu bukanlah nafsu makan, minum, tidur, hubungan seksual, dan sejenisnya. Hawa nafsu ialah dorongan dalam diri kita untuk selalu membangkang, ingkar, memusuhi, serta menolak tuntunan agama Allah. Adapun soal makan-minum, tidur, jalan-jalan, hubungan seksual, dll. semua itu adalah syahwat. Syahwat bisa menjadi hawa nafsu kalau dilakukan dengan cara haram; namun ia akan menjadi kebaikan kalau dilakukan dengan cara halal.

Hawa nafsu itu kalau dituruti terus-menerus, justru akan menghancurkan jiwa manusia. Misalnya, ada pejabat yang hobi berzina. Setiap minggu berzina, sementara isteri sendiri dibiarkan di rumah. Dengan uang di tangan, pejabat itu bisa membeli WTS kapanpun dia mau. Apalagi banyak bawahan dia senang menjilat, dengan mau mencarikan WTS dan hotel yang aman. (Lebih parahnya lagi, para bawahan itu mau “makan wanita” sisa atasannya). Mereka bergelimang dosa, nista, dan kehinaan luar biasa. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Pejabat yang menurutkan hawa nafsunya itu dijamin hancur jiwanya, mati nuraninya, padam kepekaan perasaannya. Bahkan wajahnya pun tampak kotor dan kusam, karena tidak pernah Shalat dan memikul banyak dosa. Orang seperti itu mustahil akan bekerja untuk rakyat, membela kaum lemah, memajukan bangsa, membangun ekonomi, mempertahankan kedaulatan, dll. Omong kosong! Para pejabat bejat, hanya akan menghancurkan kehidupan rakyat saja. Kalau rumah-tangganya saja tega mereka rusak, apalagi rakyatnya?

Apa yang diajarkan oleh Islam, adalah mendidik jiwa manusia; menundukkan hawa nafsu agar tetap berada di atas kebaikan dan kestabilan. Bukan selalu menuruti seruan kebebasan. Dengan cara demikian, manusia akan hidup tenang jiwanya, bahagia bathinnya. Kalau bahagia bathin, bahagia keluarganya; semua urusan pun mampu dikerjakan dengan baik. Orang-orang yang berbahagia akan memiliki kualitas kerja dan produktifitas tinggi, di segala lapangan kebaikan.

Kalau jiwa seseorang baik, bukan berarti mereka tidak boleh menikmati kesenangan-kesenangan syahwat. Tetap mereka memiliki kebebasan itu. Hanya saja, syahwat yang diambil selalu halal, baik, dan bermanfaat. Mereka tidak mau menuruti hawa nafsu dengan mengambil urusan syahwat haram.

KEBEBASAN FISIK

Ada satu kenyataan yang jarang dipikirkan oleh para pembela seruan kebebasan. Bahwasanya, perbuatan amoral itu berbiaya tinggi! Hal ini jarang dipikirkan oleh siapapun. Para ahli pun jarang mengkajinya. Sedangkan Islam menawarkan gaya hidup efektif, dengan biaya sangat murah sekali.

Misalnya, untuk membeli sebutir ekstasi, seseorang merogoh uang sampai Rp. 50.000,- per butir. Kalau dia membaca Al Qur’an untuk mengusir kegelisahan hati, tidak dipungut biaya sedikit pun. Kalau seseorang melacur dengan WTS muda, sekali transaksi minimal Rp. 500 ribu. Kalau dia menikah dengan isterinya yang masih muda, dalam sehari bisa hubungan seksual sampai 5 kali (kalau sanggup), dan semua itu gratis. (Bisa dihitung berapa biaya harus dia keluarkan, kalau misalnya setiap bulan berhuhungan seksual dengan isteri ditarip Rp. 500 ribu). Kalau seseorang membeli sebotol miras seharga Rp. 150 ribu, habis hanya dalam beberapa teguk. Tetapi kalau dia mau minum air mineral yang halal, dia mau minum sekaligus 5 galon pun, silakan saja.

Ada yang bilang, “Kalau mengikuti sistem Islam, kita tak akan bisa makan-minum di kafe, tidak bisa joget di diskotik, tidak bisa nonton konser musik, tidak bisa melihat pertunjukan jazz atau musik klasik, tidak ada olah-raga golf, tidak ada standing party, tidak ada komunitas ekslusif, tidak ada review film box office, tidak ada peragaan busana oleh model-model cantik, tidak ada traveling, tidak ada tempat-tempat wisata, tidak ada pertunjukan budaya, tidak ada pentas seni, tidak ada ini, itu, dan sebagainya. Pokoknya, yang ada hanya: shalat, baca Al Qur’an, dan mendengar ceramah. Boring, boring, dan boring, man!”

Singkat kata, kalau suatu hiburan itu baik dan sehat, pasti diperbolehkan. Bahkan peragaan busana, pertunjukan seni, atau pentas musik; jika isinya baik, diatur dengan cara-cara yang baik, dan tidak bersifat memuja-muja seniman, insya Allah bisa dilakukan. Begitu juga golf, film, traveling, dll. kalau substansinya baik, diproses secara baik, dan tidak merugikan kehidupan, pasti diperbolehkan. Islam itu hanya melarang hal-hal yang tercela, merugikan, membahayakan, serta menimbulkan kehinaan. Kalau bersifat positif, bermanfaat, mendidik jiwa manusia agar lebih arif, dan meninggikan martabat; insya Allah diperbolehkan.

Adapun selera ingin selalu senang-senang, berfoya-foya, dugem, dll. pada dasarnya hanya memuaskan HAWA NAFSU saja. Semua itu akibatnya akan merusak jiwa manusia, dan membuatnya selalu dirundung gelisah, kemanapun kaki melangkah. Tidak ada tempat indah, bagi para pengidap hati gelisah. Biarpun dia telah mengonsumsi produk entertainment dari seluruh penjuru dunia, tetap saja jiwanya gelisah. Karena belum menemukan jalan menuju Tuhan-nya.

Sebaliknya, Islam melarang manusia mengambil yang haram-haram, dengan tujuan untuk membebaskan jiwa manusia dari belenggu, dari beban berat, keletihan hidup, kebingungan, keputus-asaan, dan kekalahan. Hal-hal seperti ini tidak bisa dipahami oleh Ulil Abshar Cs. Mereka hanyalah orang-orang miskin wawasan yang tidak tahu hakikat kebebasan itu sendiri.

Pada dasarnya, Islam tidak mengekang kebebasan. Bahkan Islam membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang membebani jiwa dan hatinya. Kebebasan yang diserukan oleh orang-orang sekuler, para selebritis, kaum seniman, dedengkot Liberalisme, penikmat pornografi, dll. hanyalah KEBEBASAN FISIK, bukan kebebasan hakiki. Meskipun fisik sudah bebas, merdeka, bisa senang-senang tanpa kendali; tetapi pada dasarnya hidup mereka tertindas, jiwa mereka terjajah, kebahagiaan mereka lenyap. Na’udzubillah min dzalik.

Islam tidak pernah melarang kebebasan, selama kebebesan itu bersifat positif bagi kehidupan. Misalnya, kebebasan meraih prestasi, kebebasan mengembangkan ilmu, kebebasan membangun karya, kebebasan menekuni profesi, kebebasan mengembangkan hobi, kebebasan membangun keluarga sakinah, kebebasan mencapai kesejahteraan, kebebasan menyantuni kaum lemah, kebebasan mencapai martabat, kebebasan berkumpul dan bersosialisasi, kebebasan berpendapat, kebebasan mendapat keadilan hukum, kebebasan membela negara, dll. Selagi positif dan tidak merusak kehidupan, pasti diperbolehkan.

Tetapi Islam tidak memperkanankan kebebasan yang merusak kehidupan diri sendiri dan masyarakat luas. Segala pintu-pintu yang mengarah kepada kehancuran hidup, kehinaan, kebodohan, dan perpecahan, akan ditutup rapat. Kebebasan yang merusak jiwa, menghilangkan kebahagiaan, melenyapkan harmoni, serta membuat manusia kehilangan jati diri; pasti dilarang.

Seruan kebebasan itu berbiaya tinggi. Sangat boros anggaran. Bangsa-bangsa Barat, demi membiayai gaya hidup bebas mereka, jika tidak mendapatkan sumber-sumber pendapatan ekonomi, mereka akan menjajah bangsa lain. Jadi, kekebasan itu pada akhirnya akan melahirkan: penjajahan! Sedangkan moralitas yang tinggi akan melahirkan: kejayaan dan kebangkitan!

Kini terserah, mana yang mau dipilih, kejayaan atau penjajahan? [AMW].

Iklan

3 Responses to Islam dan Ideologi Kebebasan

  1. […] [09] Islam dan Ideologi Kebebasan. […]

  2. […] [4] Ada perbedaan versi mengenai rekam jejak studi Ulil Abshar Abdalla. Di dalam tulisan ini dikatakan bahwa Ulil tidak lulus dari LIPIA dan bersesuaian dengan pewartaan dari sumber-sumber lain (Saad Saefullah, 2012; Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, 2011) sedangkan di sumber-sumber lain disebutkan bahwa Ulil Abshar Abdalla lulus dari LIPIA dan mendapat gelar sarjana dari Fakultas Syariah LIPIA (Heru Margianto, 2011; Feronika, t.t.). Ulil dikenal sebagai tokoh Islam Liberal di Indonesia yang juga merupakan pembiak komunitas yang bernama Jaringan Islam Liberal. Jaringan Islam Liberal mengukuhkan dirinya sebagai sekumpulan akademisi muslim yang tidak mau terikat kepada kaku ijtihad dan mengutamakan rasionalisasi agama [?], membebaskan diri dari [segala jenis?] penafsiran tekstual dan mengajukan manhaj religio-etik di dalam penafsiran skriptur, mengakui kerelatifan kebenaran, membebaskan diri dari keterikatan pada suatu agama, berperspektif sekuler, antiteokrasi, menolak pengikatan diri kepada dogma dan menekankan pada kebebasan dan pembebasan individual (Jaringan Islam Liberal, t.t., “Tentang JIL“). Beberapa kali Ulil Abshar nampak radikal di dalam pemikirannya seperti misalnya ia menukil pendapat Al Suyuthi mengenai jumlah surat di dalam Al-Quran yang dipegang kaum muslim sekarang hilang dua surat (dalam Ade Armando, Ihsan Ali Fauzi, & Farid Gaban, 2007) meskipun nukilannya itu dalam konteks yang berbeda, menyanggah kaum orientalis, kemudian ditelaah dan dibantah oleh Ahmad Orphan (2010). Meskipun terlihat kontroversial radikal karena kerap menyerang MUI, pandangan Ulil Abshar mengenai perbedaan pendapat menunjukkan nuansa moderat [karena Islam ala JIL memang memberi kebebasan dan pembebasan seluas-luasnya pada semua bentuk tafsir agama] seperti terlihat pada salah satu tulisannya tentang toleransi internal di dalam umat Islam serta sekulerisasi negara (Ulil Abshar Abdalla, 2011) namun yang demikian itu mendapat kritik semisal oleh Abi Syakir (2011). […]

  3. abisyakir berkata:

    @ Dipa Nugraha…

    Ulil dan kawan-kawan itu tipe diktator tirani. Mereka teriak-teriak demokrasi, tapi tidak suka melihat ada kaum Muslim fundamentalis. Dia teriak-teriak HAM, tapi menghujat ajaran agama yang dilindungi HAM. Dia teriak-teriak toleransi, tapi tidak toleran kepada yang “anti liberal”. Dia teriak-teriak hormati wanita, tapi pernah berzina dengan anak ABG dan mengecewakan hati isterinya. Orang begitu aneh kelakuan. nas’alullah al ‘afiyah.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: