Kita Hidup di Dunia Kejam!

ARTIKEL 11:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini kita sering mendengar pernyataan-pernyataan yang baik, mulia, dan penuh nilai moral. Ia bisa keluar dari lisan pejabat negara, politisi, aparat keamanan, perwira militer, pakar/pengamat, wartawan media, akademisi, tokoh ormas, tokoh agama, ustadz, aktivis LSM, tokoh mahasiswa, bahkan dari rakyat kecil.

Ucapan-ucapan baik itu misalnya:

“Mari kita sukseskan program pembangunan sebaik-baiknya!”

“Pemerintah akan selalu memperhatikan masalah rakyat, mencari solusi terbaik, mengatasi kemiskinan, membangun kesejahteraan.”

“Bangsa Indonesia harus selalu hidup rukun, damai, saling toleransi satu sama lain. Mari kita membangun kehidupan yang aman, tentram, sentosa!”

“Setiap kejahatan akan kami tindak tegas. Sudah menjadi kewajiban kami menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Agar kehidupan sosial berjalan terarah, tenang, dan proses pembangunan tidak terganggu.”

“Iklim investasi terus berkembang, situasi ekonomi semakin membaik, target pertumbuhan ekonomi akan tercapai, sehingga masyarakat akan hidup lebih sejahtera.”

“Pembangunan demokrasi harus terus ditingkatkan. Kehidupan politik perlu lebih berkembang dan kreatif, sehingga bisa menghasilkan out put kehidupan bangsa dan negara yang sejahtera, adil, dan bermartabat.”

“Aparat hukum akan selalu mengawal proses hukum secara adil, transparan, dan memenuhi rasa keadilan publik. Yakinlah!”

“Gerakan mahasiswa telah mencapai tahap kematangan dalam perspektif independensi politik, sosial, dan organisasi. Ke depan tantangan gerakan mahasiswa akan lebih berat lagi. Tetapi dengan komitmen kita bersama, semua tantangan akan dilewati dengan tenang.”

“Kehidupan agama di negara kita semakin baik, kesadaran religius masyarakat semakin meningkat, kepedulian terhadap persoalan sosial semakin tinggi. Kita optimis, Indonesia ke depan akan mencapai masyarakat adil dan makmur dalam naungan Ridha Allah.”

“Dunia pers semakin semarak. Kebebasan pers bisa terekspresikan secara maksimal. Skill insan-insan pers semakin matang. Etika jurnalistik pun terus dikembangkan sesuai konteks dan kemajuan jaman.”

    Tentu kita sangat sering mendengar ucapan-ucapan seperti di atas. Justru karena saking seringnya, akhirnya kita bisa “menghafal” retorika-retorika seperti itu. Bagi siapapun yang mendengar retorika seperti itu jelas akan senang, gembira, atau terpesona. “Alhamdulillah, ternyata kehidupan bangsa kita semakin maju, semakin sejahtera, dan bermartabat. Buktinya, ucapan-ucapan yang keluar dari elit-elit bangsa kita selalu baik-baik saja. Tidak ada yang mengeluh, bersedih, atau prihatin. Semua isinya serba baik, mulia, dan optimis.”

    "This life is very hard, brother..."

    Tetapi ucapan-ucapan yang baik itu ternyata hanya ada DI ATAS KERTAS. Atau sekedar TEORI, atau RETORIKA belaka. Dalam kenyataan, yang benar-benar kita saksikan, yang dialami masyarakat atau ditanggung oleh rakyat, kebanyakan jauh dari semua ucapan-ucapan itu. Teorinya selangit, tetapi kenyataan sangat buruk! Apa yang kerap kita saksikan dalam nyata jauh dari keindahan retorika-retorika itu. Banyak fakta-fakta bisa disebut, betapa kehidupan ini sebenarnya jauh lebih KEJAM dari yang kita bayangkan. Saat ucapan-ucapan bermoral terus dibuat, pada saat yang sama fakta-fakta kebohongan dan dusta terus terungkap.

    Mari kita lihat sebagian fakta-fakta yang ada di lapangan…

    [01] Sebagian pejabat mengklaim, angka kemiskinan di Indonesia terus turun, hanya tinggal sekitar 13 juta jiwa saja. Padahal patokan kemiskinan itu ialah penghasilan per hari sekitar Rp. 9.000,-. Dengan nilai penghasilan sebesar itu, atau Rp. 270 ribu per bulan, kira-kira manusia bisa hidup dengan apa? Semestinya menteri perekonomian mencontohkan hidup sehari-hari dengan penghasilan sebesar itu. Seberapa kuat dia bisa menahan kemiskinan?

    [02] Katanya pertumbuhan ekonomi negara kita semakin tinggi. Namanya pertumbuhan ekonomi, seharusnya hal itu berdampak meningkatkan kemakmuran. Tetapi kenyataannya sangat ironis! Kesempatan kerja justru sangat sulit. Setiap ada pendaftaran CPNS selalu berjubel dipadati pencari kerja. Malah yang sudah mapan bekerja di swasta pun ingin jadi PNS. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi. Inilah FITNAH EKONOMI: Mencari penghasilan semakin sulit, sementara harga-harga kebutuhan terus meninggi.

    [03] Anak-anak kita selama belasan tahun menempuh pendidikan di sekolah. Malah mereka wajib sekolah sampai lulus SMP. Selama itu mereka harus masuk sekolah (tidak boleh telat atau sering bolos), harus mengerjakan PR, harus mengerjakan tugas, mengikuti ujian, aneka test, dll. Tetapi setelah lulus sarjana, mereka digiring untuk menjadi pengangguran kolektif. Perjuangan meletihkan oleh jutaan anak selama belasan tahun, seperti dibuang begitu saja.

    [04] Sebagian orang harus mengeluarkan uang pelicin sampai Rp. 50 jutaan, untuk mendapat nomer induk sebagai PNS atau masuk dinas kepolisian. Angka itu sekarang mungkin bisa lebih mahal lagi. Wajar kalau para birokrat sesak dengan korupsi, wong sejak awal saja mereka sudah korup (main suap).

    [05] Beberapa tahun lalu ada sebagian orangtua rela mengeluarkan dana sampai Rp. 200 juta, untuk membeli satu kursi bangku perkuliahan di ITB. Saat sekarang, ada yang senilai itu untuk mendapat bangku Fak. Kedokteran di UNPAD. Ada juga yang mengatakan, untuk menyelesaikan studi kedokteran butuh dana setidaknya Rp. 300 jutaan. Padahal nanti setelah lulus, belum tentu sukses.

    [06] Untuk mengikuti pencalonan Bupati/Walikota, setidaknya seseorang harus punya modal minimal Rp. 15 miliar. Untuk level Gubernur, harus ada modal sekitar Rp. 30 miliar. Untuk menjadi anggota DPR/DPRD harus bermodal ratusan juta sampai miliaran rupiah. Itu pun belum tentu terpilih. Ini jadi seperti “jual-beli” jabatan. Paling apesnya, ada yang gila, stress, dan bunuh diri ketika pencalonan itu gagal.

    [07] Untuk mendapat proyek pemerintah, banyak orang harus mengeluarkan uang besar untuk menyogok pejabat-pejabat terkait. Nanti yang terpilih ialah yang paling besar sogokannya. Bahkan sudah bukan rahasia lagi, untuk memenangkan tender proyek banyak perusahaan memberi bonus berupa “paha wanita”, kunci mobil, uang rekening, satu unit rumah bagus, dll.

    [08] Hampir tidak ada satu pun pejabat yang peduli dengan orang miskin, kaum terlantar, anak gelandangan, tunawisma, pengemis, dll. Bahkan mereka melihat orang-orang malang itu dengan tatapan mata jijik. Mereka baru mau bersentuhan dengan orang malang, semata demi pencitraan politik. (Mau sih makan nasi bungkus di tenda pengungsian, setelah itu muntah-muntah di rumah). Semua ini demi pencitraan publik semata.

    [09] Banyak anggota dewan di Jakarta (DPR RI) yang mencari pelayanan seks dari wanita-wanita WTS. Permadi pernah mengatakan, di DPR itu ada pemasok wanita-wanita semacam itu. Sebagian anggota DPR sudah beredar video-video mesum-nya. Yang paling parah ialah rekaman perkataan anggota DPR yang mengatakan, “Siapa yang berbaju putih itu?” Sampai dalam acara konggres sebuah partai politik (berkuasa) di Padalarang Bandung, seorang politisi partai itu melakukan perbuatan nista kepada seorang SPG. Tetapi kasus terakhir ini tidak segera dibawa ke ranah hukum, karena hegemoni politik.

    [10] Banyak perusahaan-perusahaan seenaknya mencemari sungai, mencemari sawah, mencemari air tanah, mencemari lingkungan, atau minimal mencemari udara. Kalau ditanya, jawaban mereka klise, “Omong kosong dengan lingkungan. Gue butuh duit. Masa bodo dengan lingkungan. Lo jangan banyak bacot. Ntar lo gue kirimin anggota Kopassus buat ngasih hadiah ye.” Orang-orang ini lebih tepat disebut maling, daripada pengusaha.

    [11] Kita sering membaca laporan neraca keuangan perusahaan-perusahaan di koran-koran. Kalau melihat laporan itu, kesannya selalu baik-baik saja. Saya pernah tanyakan hal itu ke seorang pejabat keuangan sebuah BUMN. Kata dia, laporan seperti itu bisa dibuat. Perusahaan yang sakit bisa ditampilkan sangat sehat. Itu sudah keahlian orang-orang departemen keuangan. “Oh, begitu ya,” komentar saya. Toh, kita hanya bisa melihat data-data di koran. Kita tidak pernah bisa merogoh kantong (brankas) perusahaan-perusahaan itu.

    [12] Di Indonesia banyak makanan mengandung MSG. Perusahaan-perusahaan bumbu masak MSG banyak dari Jepang. Tetapi anehnya, produk-produk MSG itu tidak dijual di negara Jepang sendiri.

    [13] Menurut sebuah informasi, ini pernah saya dengar dari seorang bapak-bapak yang mengaku kenal pejabat tinggi Pertamina. Bukan hanya kenal, bapak itu juga mengaku tahu sebagian kekayaan pejabat tersebut. Menurut informasi tersebut, gaji seorang direktur Pertamina dalam sebulan bisa mencapai Rp. 180 juta. Itu belum termasuk tunjangan, bonus, fee, dll. Kalau direktur utama Pertamina, katanya gaji per bulan mencapai sekitar Rp. 300 juta. Lagi-lagi belum termasuk tunjangan, bonus, fee, dll. Gaji ini jelas sangat tinggi, bahkan dibandingkan gaji anggota DPR RI. Wajar bila pejabat Pertamina tenang-tenang saja kalau bicara soal kenaikan BBM. Dengan gaji sedemikian tinggi, meskipun harga bensin dipatok Rp. 20 ribu per liter, mereka tak akan mengeluh. Malah senang, sebab bonus jadi lebih besar.

    [14] Untuk menjadi pejabat di Indonesia tidak cukup hanya bermodal ijazah sarjana, tampang, dan popularitas. Sampai saat ini masih banyak orang memakai cara-cara klenik. Minimal, sungkem ke makam-makam keramat atau mengangkat penasehat-penasehat urusan supranatural tertentu.

    [15] Untuk menjadi orang kaya, sebagian orang menempuh jalan sihir. Itulah yang kerap disebut “mencari pesugihan” atau “muja”. Mereka tidak segan-segan mengorbankan anak sendiri dalam transaksi dengan syaitan. Kalau tidak menempuh cara ini, dipakai cara lain yaitu: korupsi! Kalau tidak begitu, menjilat pejabat/pengusaha agar mendapat posisi jabatan. Disuruh menjilati telapak kaki pejabat pun mereka mau. “Demi anak-isteri,” alasan mereka. Kalau tidak, dengan cara memfitnah, menjatuhkan, menjebak, sampai mencelakai saingan. Kasihan deh…demi kekayaan caranya seperti itu.

    [16] Banyak perempuan-perempuan muda demi meraih kesempatan menjadi artis, bintang sinetron, atau bintang iklan, mereka mau ditiduri oleh laki-laki bejat dari golongan sutradara, produser, pemain sinetron, bintang film, pencari bakat, orang media, biro iklan, orang TV, dll. Demi diorbitkan, mereka mau menyerahkan kehormatan. (Maklum, ketika masih remaja, kehormatan mereka sudah diambil pacarnya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik).

    [17] Banyak anak-anak muda menjadi pecandu narkoba, pecandu miras, pecandu seks bebas, bukan karena keinginan mereka. Mereka terjerumus seperti itu karena dijerumuskan oleh kawan-kawannya. Singkat kata, kawan-kawannya tidak mau masuk neraka sendirian. Mereka mencari teman.

    [18] Peredaran narkoba tidak melulu melibatkan jaringan kriminal atau para pecandu. Kadang aparat hukum juga ikut mengedarkan narkoba itu. Mereka menyita narkoba dari pelaku atau pengedar, lalu barang haram itu diedarkan lagi melalui tangan orang lain. Jadi seperti lingkaran setan. Kasus yang sangat tampak ialah Jaksa Ester yang kini berurusan dengan hukum.

    [19] Banyak wanita-wanita dusun, ibu-ibu rumah-tangga, kurang berpendidikan, mereka dikirim ke Saudi, Kuwait, UEA, Singapura, Malaysia, Korea, Hongkong, Taiwan, dll. untuk menjadi babu (pembantu rumah tangga). Hak-hak hidup mereka selama di luar negeri tidak dilindungi. Kerap kali mereka pulang ke Tanah Air sudah terkunci dalam peti mati. Uang tidak didapat, nyawa melayang. Praktik seperti ini terjadi bukan semata karena kebodohan wanita-wanita itu. Tetapi mereka telah diperjualbelikan oleh PJTKI, ditipu petugas imigrasi, KBRI, Depnakertrans. Bahkan saat tiba di Terminal III bandara Soeta, mereka masih ditipu oleh calo-calo bejat. Kasihan sekali, jauh-jauh kerja untuk keluarga, malah ditipu.

    [20] Dulu perbudakan sudah dihapuskan, tetapi kini perbudakan menemukan bentuknya yang baru. Sebagian wanita kampung direkrut untuk kerja ke Batam atau ditempatkan di luar negeri. Mereka dijanjikan penghasilan besar. Di kemudian hari ternyata, mereka dijual untuk menjadi WTS-WTS di lokasi industri atau tempat-tempat mesum di luar negeri. Kasihan sekali wanita-wanita itu. Dan betapa terkutuk perbuatan manusia-manusia durjana penjual wanita tersebut.

    [21] Sebenarnya orang Indonesia banyak yang pintar-pintar. Mereka bisa membuat inovasi-inovasi teknologi yang lebih baik. Produk-produk konsumsi yang beredar selama ini bisa dibuat ivovasi barunya yang lebih baik, efisien, ramah lingkungan. Tetapi sayangnya, karya anak-anak kreatif negeri ini harus dibuang ke tong sampah, karena tidak direstui oleh perusahaan-perusahaan asing. Kalau inovasi itu diterima, perusahaan-perusahaan asing khawatir kehilangan pasar. Ini penyakit lama yang susah sembuh.

    [22] Praktik korupsi untuk mendapat kredit bank. Misalnya, Anda butuh dana kredit Rp. 10 miliar dari bank. Sebelum mengajukan kredit, Anda harus menyediakan uang cash senilai Rp. 2 miliar sampai Rp. 3 miliar. Dengan uang itu Anda akan menyogok pejabat-pejabat bank, memberikan pelayanan ini itu, dan seterusnya. Sampai akhirnya pinjaman Rp. 10 miliar pun keluar. Dalam praktiknya Anda menerima kredit Rp. 7 atau 8 miliar, tetapi Anda harus mengembalikan uang Rp. 10 miliar. Praktik bejat seperti ini banyak terjadi di dunia perbankan.

    [23] Perusahaan-perusahaan asing sangat tahu bobroknya mental pejabat-pejabat Indonesia. Kalau mereka butuh ijin usaha, ijin pertambangan, perpanjangan kontrak karya, ijin investasi, dll. mereka tinggal memberi sogok kepada pejabat-pejabat terkait dengan mobil, uang, rumah, atau cewek cantik. Dijamin setelah itu ijin akan keluar. Meskipun akibatnya menyengsarakan rakyat banyak. Pejabat-pejabat di Indonesia kebanyakan kaya karena makan sogokan (suap).

    [24] Salah satu yang mengenaskan dari nasib banga Indonesia ialah isu terorisme. Isu ini sebenarnya bukan dari bangsa kita, bahkan kita tidak membutuhkan isu semacam itu. Isu terorisme adalah produk asli Amerika, demi hegemoni politik luar negeri mereka. Di Indonesia, isu terorisme didukung penuh, dijadikan isu nasional, bahkan dikerahkan APBN untuk mendukung isu itu. Ternyata, orang-orang yang dituduh sebagai teroris kebanyakan orang miskin, tinggal di kampung atau gang sempit. Keluarga prihatin, anak-anak terlihat kurus. Logikanya, untuk mengurus keluarga sendiri saja susah, bagaimana mereka bisa membeli bahan peledak, membeli senjata, membeli alat transportasi, dan merancang operasi? Inilah, ketika anak-anak bangsa dikorbankan demi melayani kepentingan politik asing.

    [25] Dunia politik nasional tidak lepas dari kebohongan publik. Sebagian besar kegiatan politik saat ini dipenuhi oleh kebohongan-kebohongan. Setiap menjelang Pemilu para politisi selalu mengklaim dirinya “pembela rakyat”. Tetapi setelah Pemilu usai, amanah rakyat dilupakan. Dan payahnya lagi, rakyat seringkali lupa dengan sikap-sikap maniak seperti itu. Dan lebih gila lagi, para politisi itu merasa tenang-tenang saja dengan segala kebohongannya.

    [26] Katanya, dunia jurnalistik media itu berkarakter independen, jujur, adil, tidak berpihak. Tetapi kenyataannya jauh dari itu. Media kerap menipu juga, seperti para politisi. Politisi menipu, media juga menipu. Banyak berita-berita media yang menghasut, tidak jujur, sentimen, tidak adil, bahkan menjurus ke pembunuhan karakter. Aa Gym itu kan salah satu contoh korban “pembunuhan” oleh media. Saat ini hampir tidak ada media independen. Seluruhnya dipengaruhi oleh komposisi pemegang saham media tersebut.

    [27] Pemandangan sangat mengerikan kalau melihat praktik penebangan hutan (illegal logging). Ribuan bahkan jutaan hektar lahan hutan dibabat habis. Hanya ditinggalkan sisa batang atau akar di tanah. Pohon yang berusia ratusan hektar ditebang hanya dalam beberapa menit. Setelah itu tidak diganti dengan pohon baru. Ribuan log kayu-kayu gelondongan dihanyutkan di sungai. Nanti, kayu-kayu itu akan dijual ke negara asing. Furniturnya dinikmati negara-negara Eropa, Asia, Australia, dll. Para penebangnya benar-benar berhati syaitan. Mereka tak peduli kerusakan lingkungan. Filosofi mereka, “Hidup cuma sekali. Selagi hidup isi dengan senang-senang. Goyang terus, Mas!” Na’udzubillah min dzalik.

    [28] Di Indonesia banyak pengangguran. Saking sengsaranya cari kerja di Indonesia, sebagian orang mencari kerja ke Saudi. Karena tidak mendapat kerja yang layak, akhirnya mereka menjadi “makelar Hajar Aswad”, menjadi pencopet di depan Ka’bah, atau menjadi pengemis. Jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk kerja sengsara seperti itu. Kasihan sekali.

    [29] Di Indonesia banyak LSM yang katanya peduli lingkungan, peduli HAM, demokrasi, wanita, anti korupsi, dll. LSM-LSM itu kerap kali bersikap kritis ke elemen-elemen nasional. Tetapi sayangnya, LSM seperti ini seperti “tukang tadah” bantuan asing. Mereka diberi biaya untuk mencari kelemahan-kelemahan bangsa, lalu melaporkannya ke negara asing. Mereka melaporkan kelemahan bangsa, lalu negara asing memberi imbalan dana. Konon, kasus pembunuhan Munir ketika menuju Belanda juga terkait isu spionase. Munir diduga pergi kesana sambil membawa informasi-informasi sensitif tentang Indonesia.

    [30] Kalau Anda mau masuk lingkaran pemasaran barang-barang konsumsi umum di suatu kota. Anda harus “nuwun sewu” (permisi) kepada distributor-distributor besar yang menguasai produk itu. Bila tidak, bisnis Anda akan diserang oleh preman-preman bayaran, pengawal distributor besar itu.

    [31] Para pejabat seperti Walikota/Bupati/Gubernur, mereka bisa kaya sebenarnya bukan karena gajinya. Tetapi karena fee yang mereka peroleh setiap memberi tanda-tangan persetujuan ijin/proyek tertentu. Tanda-tangan itulah yang mahal dan diburu oleh para politisi oportunis. Meskipun di kemudian hari, tanda-tangan itu terbukti menyusahkan masyarakat dan negara.

    [32] Aneka modus penipuan telah dilakukan, sejak level kecil sampai level besar. Level kecil misalnya SMS peenipuan, SMS “tolong mama belikan pulsa”, hingga level skandal Bank Indonesia, Bank Century, pembobolan BNI, Bank Mandiri, hingga ultra mega skandal BLBI. Dan sangat gilanya, penipuan itu juga menimpa para jamaah Haji yang ingin ibadah ke Tanah Suci. Untuk orang yang ibadah Haji pun, suatu urusan yang mulia, masih juga ditipu. Masya Allah.

    [33] Modus penyimpangan seksual semakin marak dan beragam. Mulai dari free sex, pelacuran, selingkuh, isteri simpanan, kawin kontrak, nikah mut’ah, homoseks, lesbian, dll. Kaum homoseks semakin berani menunjukkan identitas dan penyimpangan seks mereka. Malah ingin diakui seperti orientasi seks yang wajar. Lebih gila lagi, ada dosen UIN Jakarta (namanya Musdah Mulia) yang menghalalkan praktik homoseks-lesbian itu.

    [34] Dalam kompetisi apapun, mulai dari akademik, olah-raga, seni, sastra, kuliner, keahlian, hobi, kaligrafi, dll. kerap diwarnai kecurangan. Baik saat seleksi, pelaksanaan, maupun penjurian. Jarang yang murni perlombaan. Kadang, pemenang lomba digilir pada pihak-pihak yang secara tradisional menguasai arena lomba itu. Malah anak-anak sekolah pun sering terlibat “korupsi” demi memenangkan kontingen mereka.

    [35] Di masyarakat banyak muncul praktik kejahatan intelektual. Misalnya, pemalsuan ijazah, pemalsuan nilai, pemalsuan karya tulis, penjiplakan karya tulis, plagiatisme, pembocoran soal jawaban, praktik joki, dll. Bahkan ijazah itu diperjual-belikan di internet. Kalau mau mendapat gelar doktor, bisa membeli ijazah Rp. 10 juta.

    [36] Selama ini banyak beredar aliran-aliran sesat, mulai dari sesat amalan, sampai sesat sesesat-sesatnya. Seperti yang mengaku sebagai nabi palsu, sebagai penjilmaan Jibril, dan lainnya. Malah ada aliran sesat baru, yaitu gerakan black satanic (pemujaan kepada syaitan). Besar kemungkinan, aliran pemuja syaitan ini sengaja dibuat oleh agen-agen Freemasonry untuk makin mengeruhkan keadaan. Aliran-aliran semacam ini subur di tengah kondisi masyarakat yang kian sakit parah.

    [37] Di jaman sekarang ini segalanya serba komersial. Sampai hal-hal yang bersifat ibadah pun dikomersilkan. Ceramah dikomersilkan, taushiyah dikomersilkan, SMS nasehat dikomersilkan, bahkan sampai “doa qubur” pun dikomersilkan. Khawatir nanti, untuk mengurus jenazah pun ada event organizer-nya.

    [38] Para pencermah agama di jaman ini tidak malu-malu untuk “pasang tarip”. Alasan mereka, “Dakwah butuh operasional, jadi harus profesional, dong!” Kalau begitu, seharusnya dakwah mereka juga harus professional. Artinya, dakwah itu harus secara nyata mampu membuat perubahan besar di tengah masyarakat. Jangan taripnya minta profesional, tetapi tanggung-jawab dakwahnya nihil. Itu tidak fair. Harusnya jamaah pengajian membuat parameter, misalnya setelah ceramah ada 10 orang taubat. Baru penceramahnya bisa dibayar. Kalau dakwah tidak profesional, mereka cukup diberi “aqua gelas” saja.

    [39] Ada kalanya lembaga yang keagamaan seperti organisasi, yayasan, atau partai, mereka menerima harta atau dana dari jurusan-jurusan haram. Bisa dari hasil korupsi, dari Bandar judi, dari mark up dana proyek, dari dana asing, dll.

    [40] Cara masyarakat mencari rizki di jaman sekarang semakin mengerikan. Ada kalanya mereka menjual makanan yang diawetkan dengan formalin, dicampur pemutih kimiawi, memakai pewarna tekstil, dll. Ada kalanya mereka melakukan penipuan label produk, atau melakukan penipuan isi produk. Bahkan tidak jarang, mereka mengolah limbah makanan, lalu dijual lagi. Mereka sendiri tak mau memakan produk-produk itu, tetapi mereka menjualnya ke orang lain.

    [41] Dunia pengemis kini menjadi dunia “profesi” tersendiri. Ada pemasoknya, ada jaringannya, ada penyedia logistik, ada pengatur lokasi. Bahkan yang luar biasa, ada jasa penyewaan bayi, agar saat mengemis lebih “mengharukan”. Malah ada pengemis berkedok “sumbangan pembangunan masjid”.

    [42] Penerapan sistem outsourcing di dunia kerja. Dalam sistem ini tidak ada istilah pekerja tetap. Rata-rata adalah pekerja kontrak. Mereka dikontrak kerja per tahun atau per 3 tahunan. Tidak ada jenjang karier, tidak ada promosi, bahkan tunjangan-tunjangan pun dipangkas habis. Bila masa kontrak sudah selesai, kontrak bisa diperbaharui lagi dari titik nol lagi. Ssitem demikian membuat ratusan ribu buruh/pekerja menjerit luar biasa. Tetapi anehnya, mereka dalam Pemilu memilih SBY lagi. Katanya benci outsiurcing, tetapi memilih SBY. Ya itulah.

    [43] Sejujurnya saat ini banyak mantan-mantan pejabat yang stress, depressi, atau mungkin sudah gila. Mengapa demikian? Karena saat menjabat mereka sewenang-wenang, sehingga dibenci masyarakat. Mereka jumawa saat menjabat, karena perintah dan keputusannya dihargai banyak orang. Tetapi setelah tidak menjabat, mereka stress karena tidak bisa lagi nyuruh-nyuruh, atau marah-marah ke bawahan. Mereka stess memikirkan dampak korupsi mereka selama masih menjabat. Bahkan mereka stress karena khawatir modus korupsinya akan terbongkar. Orang-orang “jelek” itu akhirnya bingung karena dosa-dosanya sendiri.

    [44] Fenomena bencana alam yang susul-menyusul di negeri ini. Terjadi sejak dari ujung Barat sampai ke ujung Timur. Berbagai jenis bencana alam sudah terjadi di negeri ini. Korbannya mulai dari yang puluhan, sampai ratusan, ribuan, puluhan ribu, sampai ratusan ribu manusia. Korban materi sejak angka ratusan juta, miliaran, sampai triliunan rupiah. Tabloid Suara Islam mengangkat tema “serial bencana alam” di masa Pemerintahan SBY. Mungkin ia bisa menjadi referensi bagus yang perlu dibaca rakyat Indonesia, seluruhnya.

    [45] Sangat kasihan kalau melihat nasib wanita jaman sekarang. Mereka diperlakukan secara hina, diperlakukan sebatas “daging pemuas”, dinikmati kecantikan dan keseksian dirinya. Tidak ada penghargaan, perlindungan, kasih-sayang, pengertian, kesetiaan, dan sebagainya. Wanita-wanita itu terus dihujani rayuan-rayuan gombal, digoda agar terjerumus, lalu mereka “dimakan” oleh laki-laki bejat. (Semoga Allah menjaga wanita-wanita kita dari kejahatan seperti itu. Allahumma amin). Dunia industri, kapitalisme, politik liberal; telah membuat wanita-wanita dihargai seperti budak. Mereka dinilai sebatas “daging” belaka. Lebih sadis lagi, proses “perbudakan” seperti ini justru ditunjang oleh kampanye feminisme (kebebasan wanita). Padahal sejatinya, kampanye seperti itu hanyalah untuk menjerumuskan kaum wanita agar menjadi budak-budak dunia industri. Allahu Akbar.

    Dan lain-lain fakta yang terlalu panjang jika diungkap semua disini. Apa yang disebut di atas adalah kategori fenomena-fenomena sosial. Bukan terjadi satu dua kasus, tetapi sangat sering terjadi, di berbagai tempat. Media-media massa hampir setiap hari memberitakan kejadian-kejadian seperti itu. Malah bisa dibilang, fakta-fakta itu merupakan “ceruk potensial” bisnis media.

    Inilah kenyataan hidup di hadapan kita, inilah sejatinya kehidupan kita, inilah nafas kita sehari-hari. Segalanya serba KEJAM, SADIS, BENGIS, ZHALIM, MENINDAS, MENGHANCURKAN, dll. Tidak ada damai, tidak ada toleransi, tidak ada kelembutan, tidak ada bijaksana, tidak ada kearifan, tidak ada kerjasama, tidak ada saling percaya, tidak ada budi pekerti, tidak ada akal sehat, tidak ada kejujuran, tidak ada komitmen, tidak ada rasa kemanusiaan yang selama ini kita rindukan.

    Nilai-nilai moralitas yang kerap diucapkan dalam pidato, orasi politik, pernyataan pers, ceramah, kuliah, diskusi, dll. umumnya hanya PALSU belaka. Semua itu hanya KEBOHONGAN belaka. Kehidupan kita sejatinya sangat kejam, sangat sadis, penuh kezhaliman dan angkara murka. Wajar jika kemudian bangsa ini tidak pernah sepi dari bencana. Bagaimana tidak dilamun bencana, wong moral bangsa ini sudah sebobrok-boroknya, sudah rusak parah!

    Hal-hal demikianlah yang kerap membuat masyarakat stress, mengalami depressi, atau putus-asa. Hati mereka ingin mendapati hidup yang damai, jujur, saling kerjasama, menghormati, dan harmoni. Tetapi kenyataan yang dihadapi sangat jauh dari harapan. Harapan mereka menjulang ke langit, sedangkan kenyataan di depan mata menukik ke dasar lautan terdalam. Kasihan sekali…

    Coba sekarang, setelah menyadari semua ini, kita mau berbuat apa? Apa yang akan kita lakukan? Apa rencana Anda, apa rencana kita, dan apa rencana bangsa kita untuk memperbaiki keadaan ini? Apakah cukup dengan menebar spanduk-spanduk di jalan-jalan raya bertuliskan, “Harapan itu masih ada!” Apakah cukup dengan membuat even nasional bertema dzikir, sedekah, atau doa? Apa cukup dengan menggelar seminar, muktamar, atau konggres yang nihil dampaknya?

    Silakan para pakar, profesor akademisi, ahli hukum, wartawan media, tokoh ormas, politisi, perwira militer, anggota dewan, birokrator, purnawirawan jendral, ahli intelijen, ahli agama, aktivis LSM, aktivis mahasiswa, peneliti independen, atau siapa saja. Silakan Anda semua memikirkan cara menghadapi semua penyakit-penyakit sosial ini? Sanggupkah otak, tangan, dan pundak Anda menghadapi semua itu? Bagaimana cara memperbaiki negara ini, wahai saudara budiman?

    Saudaraku…inilah keadaan ketika telah DICABUT BERKAH dari tengah-tengah kehidupan bangsa kita. Bangsa kita tidak lagi dinaungi berkah, tetapi justru dibiarkan tenggelam dalam segala musibah, bencana, konflik, kriminalitas, korupsi, penindasan, penipuan, kemunafikan, kesesatan, dan sebagainya.

    Negara-negara kafir masih memiliki kelebihan dibanding negeri kita. Mereka membersihkan birokrasi dari korupsi; mereka menegakkan keadilan hukum bagi rakyat kecil dan kaum elit; mereka sungguh-sungguh memelihara jiwa warganya; mereka menyantuni warga miskin dan kaum lemah; mereka masih menghargai ilmu pengetahuan, kejujuran, dan akal sehat; mereka mau bekerja keras mencapai hasil terbaik; mereka mau memelihara lingkungan; mereka masih mau menyisihkan harta untuk menolong negara lain yang tertimpa bencana. Meskipun kafir dan menganut paham kebebasan, mereka masih komitmen dengan nilai-nilai kebaikan bagi warga dan rakyatnya. Sedangkan kita di Indonesia, secara keagamaan rusak, secara moral rusak, secara birokrasi korup, secara budaya ancur, secara mental juga bobrok. Lalu apa yang bisa diandalkan dari negeri ini?

    Seharusnya, bangsa Indonesia bersikap RENDAH HATI (tawadhu). Akuilah bahwa hidup itu sulit, membangun kesejahteraan sulit, membangun keadilan dan martabat itu sulit. Saat merasa sulit, kita sesungguhnya membutuhkan ALLAH TA’ALA untuk menyelesaikan semua persoalan ini. Otak, tangan, dan pundak kita tak kuasa memikul semua ini. Beban kehidupan ini terlalu sulit, kita membutuhkan Allah. Sudah ribuan pemimpin, pejabat, politisi, perwira, tokoh, pemikir, ahli, dll. dikerahkan untuk memperbaiki bangsa. Faktanya, bangsa kita semakin ambles (terpuruk).

    Dalam hidup ini banyak hal yang bisa kita manipulasi, kita atur dan kontrol. Tetapi lebih banyak lagi yang tak sanggup kita jangkau; lebih banyak yang tak terdefinisikan dalam sains; lebih banyak yang mengandung spekulasi dan dugaan; lebih banyak yang multi dimensi; lebih banyak yang menuntut kepekaan naluri dan sensitifitas spiritual. Lebih banyak elemen-elemen kehidupan yang tak sanggup kita jangkau. Disanalah kita membutuhkan bimbingan Allah Ta’ala untuk mengatur kehidupan ini, untuk mengatur urusan bangsa dan negara ini.

    Janganlah berlagak sombong, dengan enggan mengambil tuntunan Allah. Kita semua ini bodoh, lemah, dan kerdil; di hadapan Allah Ta’ala. Buktinya: Kita tidak bisa mengingati seluruh kejadian yang terjadi pada 3 hari lalu; kita tidak tahu apa yang akan terjadi 1 jam ke depan; kita tidak ingat apa saja yang muncul saat mimpi kita tadi malam; bahkan kita tak tahu penyakit apa yang sedang bergolak di tubuh kita. Terlalu banyak kelemahan kita. Mengapa lalu harus sombong?

    Siapa sih kita sehingga berani berlagak sok pintar, sok kuat, sok berkuasa? Dengan tiupan angin sedikit saja, kita bisa mati mendadak, sehingga musnahlah semua kesombongan kita. Hidup ini sangat membutuhkan bimbingan Allah. Bukan dengan segala tetek-bengek teori yang tidak karuan.

    Kaidahnya sangat jelas: “Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), niscaya Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya.” (Surat Al A’raaf: 96).

    Kehidupan kita selama ini merupakan kehidupan yang berat, kejam, sadis, penuh kezhaliman dan penindasan. Hal itu terjadi karena Allah telah mencabut BARAKAH-BARAKAH dari tengah-tengah kehidupan kita. Meskipun bangsa Indonesia kaya-raya, tetapi kekayaan itu tidak membuat kita hidup nyaman. Bahkan sekedar untuk menikmati sedikit kekayaan saja, tidak bisa. Hidup di negeri ini justru seperti berteman badai dan petir sepanjang waktu. Tidak ada hidup nyaman disini, semua serba penuh tekanan, gelisah, dan penderitaan.

    Bila hari ini kita melihat ada korban kejahatan. Mungkin suatu saat kita sendiri yang akan menjadi korban. Mungkin saat lainnya, kita akan menjadi pelaku kejahatan itu. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Kata sebagian orang, “Homo homini lupus!” Antar sesama manusia, saling makan-memakan.

    Alhamdulillah, Islam agama yang mulia dan bersih. Islam tidak bertanggung-jawab sedikit pun atas semua derita bangsa Indonesia. Derita bangsa Indonesia adalah akibat perbuatan manusia Indonesia sendiri. Bahkan Islam sangat berjasa memberikan kebaikan, sifat mulia, dan rasa kehormatan bagi bangsa ini. Meskipun bangsa kita tidak pernah sepenuh hati mau menerima prinsip-prinsip Islam. Dan alhamdulillah, kita masih memiliki nama ISLAM. Islam adalah identitas mulia, kebanggaan diri, ketika tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dari negeri ini.

    Tidak ada kebanggaan sebagai orang Indonesia dengan segala realitas kebobrokan, kezhaliman, dan penindasan yang ada. Sebagai manusia, tidak layak kita hidup seperti itu. Manusia bukan binatang yang tidak mengenal etika dan moral. Mungkin, suatu saat label Indonesia akan menjadi aib yang sangat memalukan. Serupa seperti label Israel atau Amerika. Taufik Ismail sendiri dalam syairnya mengatakan, “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia.”

    Sedih, sedih, sedih… Tetapi, apa mau dikata? Inilah, kenyataan hidup kita. Islam datang ke negeri ini sebagai anugerah, rahmat, dan kekuatan; tetapi Islam malah dimusuhi, dirusak nama baiknya, dipecah-belah barisannya, dimarginalkan peranan dan ekonominya, disesatkan konsep-konsepnya, dihujani teror sistematik, diperangi para pembelanya… Akibatnya, bangsa ini MENDAPAT KUTUKAN akibat kejahatan-kejahatannya terhadap Islam.

    Kami sebatas mengingatkan… Hak Anda untuk menerima atau menolak. Kami tidak kuasa memaksa. Biarlah apapun kan terjadi. Silakan nikmati apa yang mesti dinikmati; silakan tanggung apa yang mesti ditanggung. Pada dasarnya, Allah tidak menzhalimi siapapun; kita lah yang menzhalimi diri sendiri.

    “Rabbana, innana amanna faghfirlana dzunubana, wa qina ‘adzaban naar.” Ya Allah, sesungguhnya kami beriman (kepada-Mu), ampunilah dosa-dosa kami, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka. Allahumma amin.

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AM. Waskito.

    Iklan

    7 Responses to Kita Hidup di Dunia Kejam!

    1. anda berkata:

      satu yang tidak boleh kita lupakan. . . .’ Kita tidak boleh berputus asa dengan rahmat Allah’. . . Selamat berjuang dijalan Allah… . . ALLAHU AKBAR.

    2. Syaifudin berkata:

      Demokrasi dg biaya yg sangat mahal tp hasilnya malah rakyatnya jd tumbal…Ya Allah tegakkanlah Khilafah Islam dlm Bingkai yg Khaffah ..

    3. […] Kita Hidup di Dunia Kejam! « Pustaka LANGIT BIRU Deel deze pagina: […]

    4. nobody berkata:

      inilah akibatnya jika kita tidak punya Khilafah yang melindungi kita dari berbagai ancaman… ya udahlah…
      Jaga tauhid & sambut
      INDONESIA GO KHILAFAH
      “Begin The Revolution with Basmallah”

    5. Monex berkata:

      BANGSA KITA memang tengah bermain drama dan barangkali ini tengan menyuguhkan adegan ketegangan emosi yang tidak terkendalikan. Setiap hari kita disuguhi pemberitaan antara kepolisian dan KPK yang saling menembakan sejuta mitraliur kebenaran diri masing-masing. Mungkin penelitian yang lebih luas dan menyeluruh dapat dilakukan bahwa drama di televisi sangat diminati penonton.

    6. […] [10] Kita Hidup di Dunia Kejam. […]

    7. alwiandri berkata:

      mungkin kita harus mulai mereka reka kemungkinan bubarnya negara RI, sepanjang hukum tidak ditegakan, mustahil rasanya negara RI yang kita cintai ini dapat berdiri dengan GAGAH.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google

    You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: