Metode Golongan Selamat

artikel ini termasuk salah satu dedikasi terbaik blog “abisyakir” kepada Ummat Islam dan kehidupan, insya Allah

ARTIKEL 13 [terakhir]:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram ajma’in. Amma ba’du.

Ini adalah sebuah kajian yang sangat penting, urgen, dan fundamental. Tetapi insya Allah praktis dan mudah dipahami. Disini akan dijelaskan 5 PRINSIP jalan keselamatan Islam. Prinsip-prinsip tersebut diambil dari pemahaman atas ayat-ayat yang terdapat dalam Surat As Shaff ayat 10-13. Dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan cara-cara menjadi Muslim yang selamat. Bukan hanya selamat, tetapi kita juga dijanjikan KEMENANGAN di dunia.

Selama ini banyak ulama membahas tentang metode golongan selamat, Manhaj Firqatun Najiyyah, dengan sifat-sifat yang mereka sebutkan. Tetapi manhaj itu sendiri sebenarnya sudah ada dan dijelaskan dalam Al Qur’an. Hal ini benar-benar ada dan nyata, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi semua kalangan. Siapapun bisa memahaminya, sebab ia bersumber dari Al Qur’an Al Karim. Tidak peduli siapapun, baik yang menyebut nama kelompok atau tidak, selama dirinya seorang Muslim, dapat mengambil pelajaran dari Surat As Shaff ayat 10-13 itu.

Jalan Menuju Keridhaan ALLAH Ta'ala

Dalam kajian ini, mula-mula kita akan memahami makna-makna dalam Surat As Shaff ayat 10-13. Lalu disebutkan 5 PRINSIP metode golongan selamat, beserta penjelasannya secara sekilas. Lalu diakhiri dengan penutup.

PEMBAHASAN AYAT

Ayat dalam Surat As Shaff ayat 10-13 adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيم

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

َيغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِك الْفَوْزُ الْعَظِيم

َ وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Ya aiyuhal ladzina amanu” (wahai, orang-orang beriman). Yang dipanggil disini adalah orang-orang beriman, bukan hanya seorang Muslim. Pada awalnya ayat ini ditujukan kepada Nabi Saw dan para Shahabat Ra, merekalah yang semula disebut sebagai orang-orang beriman itu. Tetapi ayat ini juga berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, sampai akhir jaman.

Orang Mukmin memiliki kelebihan dibandingkan orang Muslim biasa. Orang Mukmin ialah orang yang komitmen dengan amal-amal shalih secara mandiri. Untuk beribadah dan beramal kebaikan, mereka tidak perlu disuruh-suruh, tidak perlu dipaksa-paksa, atau diberi ancaman, atau diberi imbalan komersial. Mereka beramal shalih secara mandiri, secara ikhlas, tidak peduli ada manusia yang mau menghargai amalnya atau tidak. Inilah orang-orang beriman. Mereka taat dan patuh kepada Allah secara aktif, tanpa perlu didorong-dorong oleh orang lain.

Dalam Al Qur’an disebutkan hakikat keimanan. “Bahwasanya orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, lalu mereka berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang benar (perkataannya).” (Al Hujurat: 15).

Iman jika sudah masuk ke dalam hati, terasa manisnya, ia akan menggerakkan diri manusia untuk melaksanakan amal-amal shalih, dan meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, secara mandiri. Tanpa harus dipaksa-paksa, didorong-dorong, diancam, atau diiming-iming dengan keuntungan materi tertentu.

Bahkan orang beriman itu rela mengorbankan kepentingan-kepentingannya demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Mereka tidak merasa rugi dengan pengorbanan itu, sebab Allah menjanjikan pahala di Akhirat dan keberkahan hidup di dunia.

“Hal adullukum ‘ala tijaratin” (sukakah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan). Kalimat ini sangat menarik, ia bisa bermakna, “Maukah kalian Aku tunjukkan dalil-dalil tentang suatu kontrak?” Tijarah disini bukan jual-beli pada umumnya, tetapi jual-beli dalam lapangan iman dan amal shalih. Disini Allah Ta’ala menunjukkan kepada kita suatu METODE tertentu dengan dalil-dalil yang jelas. Itulah metode atau manhaj yang sangat dibutuhkan setiap Muslim. Begitu istimewanya manhaj itu, sampai disebut dengan kata perniagaan, perdagangan, jual beli, transaksi, atau kontrak. Artinya, jika kita menjual (menjalani metode itu), maka Allah Ta’ala akan membeli jualan kita (dengan memberi anugerah-anugerah besar secara pasti dan meyakinkan).

Tunjikum min ‘adzabin alim” (-suatu transaksi- yang akan menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih). Inilah dalilnya, mengapa ayat-ayat disebut sebagai metode golongan selamat. Disini sangat jelas, bahwa transaksi atau kontrak yang Allah tunjukkan itu akan menyelamatkan kita dari adzab yang pedih. Adzab ada dua jenis, di dunia dan di Akhirat. Jika kita menjalani metode (transaksi) tersebut, maka sudah pasti kita akan mendapat keselamatan hidup, di dunia dan Akhirat.

Tu’minuna billahi” (hendaklah kalian beriman kalian kepada Allah). Setelah Allah menunjukkan betapa pentingnya metode keselamatan ini, lalu Dia memberitahu isi dari metode yang dimaksud. Disini disebutkan, “Beriman kepada Allah.” Yang dimaksud beriman, bukanlah sekedar perkataan, “Saya percaya kepada Allah.” Tidak sekedar itu, sebab iman oleh Salafus Shalih didefinisikan sebagai: pembnaran dalam hati, ucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan perbuatan. Hakikat “beriman” dalam ayat ini: “Beribadah kepada Allah dengan keyakinan tauhid, dan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun.” Singkat kata, beriman kepada Allah adalah BERIBADAH dan BERTAUHID kepada-Nya. Beribadah saja tanpa tauhid, amal-amal kita akan tertolak; bertauhid saja tanpa ibadah, akan membuat kita menjadi kaum fasiq. Na’udzubillah minhuma.

Wa rasulihi” (-dan beriman juga- kepada Rasul-Nya). Beriman kepada Rasulullah Saw. Beliau adalah seorang Nabi, Rasul, Imam, Amir, Qudwah (Uswah), pemimpin mujahidin, masdar Syar’i (sumber syariat), dan lainnya. Mengimani Rasulullah ialah dengan meyakini kebenaran Syariat-nya, membenarkan sabda-sabdanya (meyakini Al Hadits), mengamalkan Sunnah-sunnahnya sekuat kemampuan, mempelajari jalan perjuangannya (Sirah Nabawiyyah), membela kehormatan beliau, keluarga, dan Shahabatnya, membacakan shalawat untuknya, serta mencintainya.

Wa tujaahiduna fi sabilillahi” (dan kalian berjihad di jalan Allah). Setelah bertauhid kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, lalu berjihad di jalan Allah. Ini adalah amal-amal yang penuh berkah, satu sama lain terangkai dalam satu susunan yang mengagumkan. Makna asli berjihad ialah berperang menghadapi musuh-musuh Islam, demi membela agama Allah. Contoh mudah amalan jihad: perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab. Sebagian ahli tafsir menjelaskan, setiap kata ‘jihad’ dilekatkan dengan kata ‘fi sabilillah’, itu artinya berperang. Hal-hal demikian mudah dipahami di suatu negeri yang menegakkan sistem Islami. Tetapi di negeri di bawah sistem sekuler (non Islam), makna jihad tidak semata-mata berperang. Mendakwahkan Islam, membina Ummat, amar makruf nahi munkar, menentang Kristenisasi, menentang pemikiran sesat, melawan penjajah, membuat media Islam, berjuang di lapangan politik Islami, dll. yang bisa dikatagorikan sebagai amalan menolong agama Allah; semua itu adalah jihad. Namun tetap saja, setinggi-tinggi jihad ialah berperang di jalan Allah. Nabi Saw mengatakan, “Man qatala li takuna kalimatullah hiyal ‘ulya, wa huwa fi sabilillah” (siapa yang berperang dalam rangka meninggikan Kalimat Allah, maka dia berada di jalan Allah).

Bi amwalikum wa anfusikum” (-berjihad- dengan harta dan diri kalian). Perjuangan di jalan Allah dimodali dengan segala kekuatan atau daya yang mampu diberikan. Modal itu berupa harta, tenaga, pikiran, ilmu, keahlian, hingga puncaknya dengan pengorbanan jiwa (nyawa). Demikianlah sifat dalam perjuangan Islam. Tidak bisa perjuangan hanya bermodal teori saja; bermodal keringat saja; bermodal propaganda saja; bermodal diplomasi saja; tetapi seluruh kekuatan yang mampu dikerahkan, harus dikerahkan demi kemenangan agama Allah.

Dzalikum khairul lakum in kuntum ta’lamuun” (yang demikian itu lebih baik bagi kalian, kalau kalian mengetahui). Bertauhid kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, dan berjihad di jalan Allah, semua itu adalah METODE TERBAIK yang harus dijalani oleh setiap Muslim. Andaikan kita tahu ilmunya, tentulah kita tak akan melepaskan diri dari metode yang penuh berkah ini. Di dalamnya banyak kebaikan-kebaikan yang akan kita peroleh.

Yagh-firlakum dzunubakum” (niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian). Dengan menempuh jalan ini, kita akan diampuni oleh Allah atas dosa-dosa kita.

Wa yud-khil-kum jannatin tajri min tahtihal anhar” (dan kalian akan dimasukkan ke dalam taman-taman syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya). Setelah diampuni, kita kelak akan mendapatkan syurga di Akhirat. Itulah kemenangan besar yang menjadi obsesi setiap Mukmin.

Wa masakina thaiyibatan fi jannati ‘adn” (dan tempat tinggal yang mulia di syurga ‘Adn). Setelah ampunan, kita diberi syurga, dan di antara nikmat syurga itu adalah rumah-rumah mewah, megah, berkilau di syurga ‘Adn.

Dzalikal fauzul ‘azhim” (dan semua itu adalah kemenangan yang besar). Inilah deskripsi kemenangan yang dicari-cari orang beriman. Mendapat ampunan, mendapat syurga, mendapat rumah megah di syurga ‘Adn. Dan perlu diingat, di awal ayat yang tadi kita bahas, bahwa semua masih dalam lingkup jalan keselamatan.

Wa ukhra tuhibbunaha” (dan yang lainnya lagi masih ada, yaitu yang akan sangat kalian cintai). Masya Allah, kita sudah dijanjikan keselamatan, ampunan atas dosa-dosa, syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan rumah megah di syurga ‘Adn. Tetapi masih dijanjikan nikmat lain yang sangat kita cintai. Nikmat apakah itu? Akan dijelaskan dalam penggalan kalimat terakhir.

Nashrun minallahi wa fathun qariib” (pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat). Ini adalah kesempurnaan dari nikmat-nikmat Allah yang telah dijanjikan sebelumnya. Selain mendapat keselamatan, ampunan, dan syurga, orang-orang beriman yang berjalan di atas metode ini juga akan mendapatkan pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat. Di antara bentuk pertolongan dan kemenangan yang diberikan kepada Nabi Saw dan para Shahabat Ra, antara lain: keberhasilan hijrah ke Madinah, kemenangan saat perang Badar, keselamatan jiwa Nabi dalam perang Uhud, tercerai-berainya barisan orang kafir dalam perang Ahzab, terusirnya kabilah-kabilah Yahudi di Madinah, dan puncaknya jatuhnya Kota Makkah ke tangan kaum Muslimin, jatuhnya benteng Khaibar milik Yahudi, serta dibebaskannya seluruh jazirah Arab di bawah naungan Islam. Pertolongan Allah bisa diberikan di berbagai kesempatan, atas ijin dan kuasa-Nya. Tetapi kemenangan diberikan saat-saat tertentu, ketika kaum Muslimin sudah menyempurnakan perjuangan mereka. Misalnya, berdirinya Khilafah Umayyah Barat di Andalusia, kemenangan Islam dalam perang Salib, kemenangan Islam menghadapi pasukan Mongol, jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam, kemenangan Fatahillah atas pasukan Portugis, kemerdekaan negeri-negeri Muslim dari penjajahan, dll.

Dapat disimpulkan, bahwa kalau seorang Muslim meniti metode jalan keselamatan, mereka akan mendapatkan kenikmatan-kenikmatan besar, yaitu: keselamatan, ampunan, syurga, pertolongan dalam perjuangan, dan kemenangan yang nyata. Inilah yang kerap disebut sebagai “hasanah fid dunya” dan “hasanah fil ‘akhirah”. Jadi, metode keselamatan itu pada akhirnya akan menuntun setiap Muslim kepada kebaikan hidup di dunia dan di Akhirat, serta dijauhkan dari siksa neraka. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

5 PRINSIP DASAR

Dari pembahasan ayat-ayat di atas, diturunkan 5 PRINSIP jalan keselamatan Islam. Siapapun yang menempuhnya, dia akan mendapatkan kebaikan-kebaikan yang dijanjikan Allah Ta’ala, berupa: keselamatan, ampunan dosa, taman syurga yang dialiri sungai-sungai, rumah megah di syurga ‘Adn, pertolongan Allah, serta kemenangan dalam perjuangan. Semua itu lalu disebut sebagai: al fauzul ‘azhim (kemenangan yang besar).

PRINSIP I: “Menjalani hidup berdasarkan ilmu.”

Dalilnya ialah perkataan, “Hal adullukum” (maukah kalian Aku tunjukkan dalil-dalil). Juga pada kalimat, “Dzalikum khairul lakum in kuntum ta’lamuun” (yang demikian itu lebih baik bagi kalian, kalau kalian mengetahui ilmunya).

Dalam beramal, kita harus mengetahui ilmunya. Sehingga Nabi Saw pernah mengatakan, “Siapa yang beramal dengan suatu amalan, sedangkan padanya tidak ada contoh dari kami, maka amal itu tertolak.” (HR. Muslim).

Hendaklah kita senang mempelajari Al Qur’an, As Sunnah, dan ilmu-ilmu keislaman lain, lalu mengamalkan ilmu-ilmu itu. Jangan suka beramal hanya karena ikut-ikutan, fanatik buta, atau merasa takut kepada ustadz atau kelompok. Pelajari ilmu dan amalkan secara ikhlas, karena mengharap ridha Allah Ta’ala.

PRINSIP II: “Beribadah dan bertauhid kepada Allah.”

Dalilnya adalah perkataan, “Tu’minuna billahi” (hendaklah kalian beriman kepada Allah). Beriman disini ialah beribadah kepada-Nya, seperti disebut dalam Surat Al Fatihah, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).

Hakikat hidup kita adalah dalam rangka beribadah kepada Allah (Adz Dzariyaat: 56). Sedangkan dalam ibadah itu harus tulus ikhlas semata-mata karena mencari ridha-Nya (Al Bayyinah: 5). Kita dilarang berbuat kemusyrikan, sebab perbuatan itu akan membuat manusia tersesat sejauh-jauhnya (An Nisaa’: 116).

Jika manusia tidak beribadah kepada Allah, pasti dia akan beribadah kepada yang lain. Sebab semua manusia punya kemampuan dan kecenderungan beribadah. Setidaknya, mereka akan mengibadahi kerakusan dan hawa nafsunya sendiri.

PRINSIP III: “Mengimani dan mengikuti Sunnah Nabi Saw.”

Dalam beribadah, kita harus tahu tata-cara dan aturannya. Untuk itu, kita membutuhkan bimbingan Nabi Saw untuk menjelaskan tata-cara dan aturan ibadah. Nabi Saw adalah satu-satunya manusia yang SAH dan LEGAL untuk menjelaskan tata-cara ibadah kepada Allah Ar Rahmaan.

Ketika kita mengatakan, “Wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah!” Itu artinya, kita telah bersaksi untuk mengimani, mengikuti, dan komitmen kepada Sunnah beliau. Konsekuensinya, kita harus meninggalkan bid’ah, kita harus meninggalkan larangan-larangan beliau, kita membenarkan sabda-sabdanya, kita memuliakan wasiat-wasiatnya, kita mengamalkan tindak-tanduknya sekuat kemampuan.

Perlu dicatat, Sunnah ini juga bisa disebut sebagai Syariat Nabi. Dan bila disebut Syariat Nabi, bukan berarti isinya hanya hadits-hadits Nabi saja. Tetapi di dalamnya sudah termasuk pengamalan Al Qur’an. Bahkan Nabi Saw adalah manusia terbaik dalam mengamalkan Al Qur’an, sehingga Aisyah Ra pernah mengatakan tentang diri beliau, “Khalquhul Qur’an” (akhlak beliau ya Al Qur’an itu sendiri).

Setiap insan yang bertauhid harus diikuti dengan mencintai Sunnah Nabi Saw. Maka inilah kelengkapan dari Dua Kalimah Syahadat.

PRINSIP IV: “Berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri.”

Makna berjihad ialah menolong agama Allah, meninggikan Kalimat-Nya, serta membela hak-hak kaum Muslimin. Tetapi berjihad juga bisa dimaknai sebagai perang defensif, membela kaum Muslimin yang terjajah, dan mengusir kaum imperialis dari negeri-negeri Islam. Bahkan berjihad bisa dimaknai, berperang di jalan Allah, di belakang imam kaum Muslimin, dilakukan dengan penuh ketaatan, baik di saat lapang maupun sempit. “Berangkatlah kalian, baik saat lapang atau sempit, dan berjihadlah kalian dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (At Taubah, 41).

Jihad adalah pembuktian keimanan. Saat kita telah bertauhid dan meyakini kebenaran Syariat Nabi Saw, maka kita akan diuji dengan Jihad fi Sabilillah. Jika kita berani menghadapi Jihad fi Sabilillah, berani berkorban harta, tenaga, bahkan jiwa; maka telah sempurna keimanan kita. Jihad merupakan afdhalul ‘amal (seutama-utama amal) dalam Islam. Seorang mujahid merupakan afdhalun naas (seutama-utama manusia). Ketika Nabi Saw ditanya, “Siapa manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Rajulun yujahidu fi sabilillah bi amwalihi wa nafsihi” (seseorang yang berjuang di jalan Allah dengan harta dan dirinya). HR. Bukhari-Muslim.

Rasulullah Saw juga bersabda, “Man maa-ta wa lam yagh-zu, wa lam yuhad-dits bihi nafsahu, maa-ta ‘ala syu’batin min nifaaq” (siapa yang mati sementara dirinya belum pernah berperang membela agama, atau belum terlintas keinginan itu di hatinya, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan). HR. Muslim.

Seorang Muslim yang kaaffah ialah seorang Muwahhid (ahli tauhid), seorang Sunni (pengikut Sunnah Nabi), dan sekaligus Mujahid (pejuang agama).

PRINSIP V: “Komitmen untuk bersatu dan berjamaah dengan sesama Muslim.”

Dalilnya ialah perkataan, “Ya aiyuhalladzina amanu” (wahai orang-orang beriman). Juga penggunaan kata ganti “kum” dalam ayat-ayat di atas diulang sampai 8 kali. Belum lagi penggunaan kata-kata kerja yang sangat jelas bentuk khitab jama’i-nya. Disini dapat ditarik hikmah, bahwa yang Allah kehendaki dari kehidupan Ummat ini ialah berjamaah, bersatu di atas agama-Nya.

Perintah tentang kesatuan ini sangat jelas. “Berpegang teguhlah kalian kepada agama Allah secara berjamaah, jangan bercerai-berai.” (Ali Imran: 103). Disini, selain kita diperintahkan bersatu padu di atas agama Allah, sekaligus dilarang berpecah-belah. Sebab perpecahan itu akan menghilangkan kekuatan (Al Anfaal: 46).

Maksud berjamaah disini ialah: Hidup bersatu bersama kaum Muslimin, di bawah kepemimpinan seorang pemimpin Islami, menegakkan hukum Syariat Islam, dan membangun peradaban Islami. Maksud asalnya adalah seperti itu.

Bila sistem Islami tidak ada, maka seorang Muslim lebih utama untuk bergabung bersama jamaah-jamaah perjuangan Islam, dalam perjuangan untuk menegakkan agama Allah secara kaaffah. Tetapi sifat jamaah ini hanyalah WASHILAH (penyampai) ke arah tujuan yang dimaksud, yaitu tegakkan kesatuan kaum Muslimin di bawah tatanan sistem Islami. Hal itu harus disadari oleh para aktivis Islam, agar keterlibatan mereka dalam jamaah-jamaah perjuangan Islam tidak menimbulkan masalah baru, yaitu perpecahan Ummat. Jika kita berpecah, maka tujuan mencapai kejayaan Islam itu pasti akan semakin jauh.

Sebagian orang (misalnya Salafi Rabi’iyun) meyakini, bahwa kaum Muslimin diwajibkan taat dan membaiat pemimpin politik yang KTP-nya Muslim, sekalipun mereka adalah politisi sekuler. Katanya, kalau tidak berbaiat, nanti seorang Muslim akan meninggal dalam jahiliyyah. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini adalah PENYESATAN yang terang-benderang. Bahkan ini adalah makar yang keji terhadap Syariat Islam.

Kematian jahiliyyah itu akan terjadi, ketika seorang Muslim melepas baiat-nya kepada seorang pemimpin di atas sistem Islam. Kalau dalam sistem sekuler (non Muslim), tidak berlaku prinsip seperti itu. Adalah sangat lucu, ketika seorang Muslim harus taat dan berbaiat kepada pemimpin sekuler; kalau tidak berbaiat, dia mati dalam jahiliyyah. Sedangkan, sistem yang dipakai oleh pemimpin itu sendiri sistem jahiliyyah (non Islami). Kok bisa seorang Muslim wafat dalam keadaan jahiliyyah karena tidak berbaiat kepada pemimpin dari sistem jahiliyyah?

Orang-orang itu telah sesat dan menyesatkan, karena mereka memberikan hak-hak kemuliaan Islam kepada sistem (atau pemimpin) jahiliyyah. Mereka seperti telah “meletakkan mahkota di atas kepala srigala”. Bahkan ironisnya lagi, dalam sistem jahiliyyah itu tidak dikenal sama sekali istilah bai’at, taat, atau mati jahiliyyah. Mereka tidak peduli dengan model kematian apapun, sebab bagi mereka semua kematian sama saja. Lalu hendak kemana orang-orang sesat itu akan berlari? Demi Allah, orang-orang itu telah mengubah akidah Islami dengan akidah siyasi. Kepatuhan kepada pemimpin hanya didasarkan kekuasaan politik, bukan berdasar keselarasan sistem politik tersebut menurut Syariat Islam.

Setiap Muslim harus merasa bersaudara dengan sesama Muslim lain, biarpun berbeda jamaah, organisasi, atau pergerakan. Termasuk kita harus mengasihi setiap Muslim yang awam, Muslim dhuafa’, serta Muslim manapun yang sudah kita kenal atau belum dikenal. Kita harus memandang mereka sebagai saudara, mengajak mereka berjalan di atas kebenaran, dan mencegah mereka dari kemungkaran. Nabi Saw menyebut persaudaraan di antara kita “kal jasad” (seperti sebuah tubuh). Muslim yang satu saudara Muslim yang lain, tidak boleh dizhalimi atau dibiarkan dizhalimi. Harta, darah, dan kehormatan Muslim, diharamkan oleh Allah.

Namun ada kalanya kita harus bersikap tegas kepada orang-orang sesat, terutama penyeru-penyeru kesesatan yang keras kepala. Terhadap orang-orang seperti itu berhak diberikan peringatan, celaan, bahkan sikap tegas. Misalnya, kepada orang-orang yang senang melaknat para Shahabat Ra, orang-orang yang mengingkari Sunnah, orang-orang Liberal yang menghujat Syariat Islam, nabi-nabi palsu, pemecah-belah barisan Ummat, politisi syahwat berkedok “partai Islam”, kaum takfiri, kaum shufi yang ghuluw, tukang sihir, dan lainnya.

PENUTUP

Demikianlah 5 prinsip dasar metode golongan selamat. Prinsip ini sangat nyata dan jelas, karena disebutkan dalam Al Qur’an. Setiap Muslim perlu mengkaji prinsip-prinsip ini, meyakininya, menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Janganlah kita mati, sebelum mempelajari hal-hal ini. Inilah 5 PRINSIP yang akan membawa kita meraih “fid dunya hasanah” dan “fil akhirati hasanah”.

Seorang Muslim insya Allah akan lurus agamanya, lurus iman, dan amalnya, selama berpegang kepada 5 prinsip tersebut. Bahkan, aliran-aliran sesat yang ada, rata-rata mempunyai masalah terhadap 5 prinsip itu. Bila ke-5 prinsip ini kita kembangkan, kita dakwahkan, dan kita sebarkan seluas-luasnya di tengah-tengah Ummat, insya Allah mereka akan lebih cepat bersatu, lebih cepat diberi kemenangan, dan akan mencapai kebangkitan yang diimpikan. Allahumma amin.

Apa yang disebutkan disini ialah metode yang bersifat dasar. Tentu saja, setelah itu masih diperlukan kelengkapan, penyempurnaan, atau pengayaan, dari khazanah ajaran-ajaran Islam lainnya. Jangan hanya berhenti sampai di 5 prinsip itu saja. Tetapi manakala kita telah memiliki ke-5 prinsip tersebut, insya Allah jati diri kita sebagai Muslim yang kaaffah, sudah terwujud.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga ada guna dan manfaatnya. Setiap yang baik dan benar, datang dari sisi Allah; setiap kesalahan dan kelemahan, berasal dari diri saya sendiri.

Aqulu qauli hadza, wastaghfirullaha li wa lakum wa li sairil Muslimin wal Muslimat, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu A’lam bisshawaab.

Abu Muhammad Al Nusantari.

Iklan

One Response to Metode Golongan Selamat

  1. […] [12] Metode Golongan Selamat. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: