Beberapa Opini Aktual

OPINI, edisi 27 Desember 2010.

“KEKALAHAN TIMNAS & INTRIK BOLA”

Saudaraku…

Anda sudah menyaksikan laga Timnas Indonesia Vs Malaysia? Anda sudah tahu hasilnya, Timnas kalah 3 : 0 ? Bagaimana perasaan Anda? Anda kecewa? Anda marah? Anda benci melihat Timnas dipecundangi di Stadion Bukit Jalil, Malaysia? Anda mau marah, Saudaraku?

….  …. ….

Mari-mari sini! Mari saya tunjukkan RAHASIA BESAR tentang dunia sepak-bola. Mari saya tunjukkan REALITAS yang jarang sekali dibahas di media-media massa. Tetapi itu ada dan nyata.

"Hati-hati Indonesia! Kami akan menang 3 : 0. Harga mati, man!"

Mari Saudaraku… Silakan duduk dulu. Minumlah dulu, biar Anda merasa lega. Kita akan sedikit bincang-bincang. Semoga pembicaraan ini bisa menawarkan dahagu, karena kecewa dengan kekalahan tim Firman Utina dan kawan-kawan. Disini ada rahasia besar yang perlu engkau tahu.

Mula-mula, ini baru permulaan, kalau melihat Timnas kalah, janganlah terlalu kecewa. Biasa-biasa sajalah. Kita menang Oke; kita kalah juga tidak apa-apa. Ya, ini cuma games, jangan terlalu dibuat STRESS.

Salah seorang putriku, SMP baru kelas 1. Dia pendukung Timnas juga. He he he… maklum orang Indonesia. Ketika dia mendengar Timnas kemasukan 1 gol, segera dia mengeluh, lalu menjauhi TV. Dia naik ke tempat tidur, mengambil selimut, lalu tidur. Keesokan paginya, sudah dia lupakan soal kekalahan Timnas. Ya, mestinya kita begitu juga. Ringan-ringan saja… Tidak usah dibuat stress, apalagi depressi.

Justru yang harusnya kita SEDIHKAN, adalah ketika tanggal 26 Desember 2010 kemarin itu adalah: Peringatan 6 tahun Tragedi Tsunami di Aceh. Seharusnya, sebagai manusia yang masih punya akal-budi, kita malu ketika melupakan tragedi dahsyat itu. Iya kan? Sehebat-hebatnya kekalahan Timnas, tidak ada satu pemain yang terbunuh di Bukit Jalil. Sementara 6 tahun lalu, ada sekitar 150 ribu manusia wafat karena Tsunami.

Kalau lupa soal Tsunami…ya sudahlah. Moga tahun depan tidak lupa ya…

Saudaraku…

Dunia sepakbola itu dunia BISNIS BESAR. Duitnya gede banget… Pengaruh sosial dan politiknya besar. Tidak mungkin lah urusan bola itu semata hanya urusan: teknik bermain, formasi permainan, strategi pelatih, fisik pemain, suasana psikologi di lapangan. Tidak mungkin itu…

Saudaraku, banyak orang berkepentingan terhadap kemenangan suatu tim, dan kekalahan tim lain. Dengan berbagai cara mereka akan berusaha, agar hasil pertandingan sesuai yang mereka harapkan. Disini pasti banyak sekali INTRIK-INTRIK kotor untuk mempengaruhi hasil pertandingan.

Contoh mudah dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, sebagian penonton tim Malaysia melakukan sorotan SINAR LASSER ke muka pemain-pemain Indonesia. Tetapi ini bukan intrik yang terlalu serius. Masih ada intrik lain yang lebih kejam dan kasar…

Sebelum Babak II pertandingan, seorang kawan mengatakan, para penjudi di Malaysia sedang bergerak untuk memenangkan Tim Malaysia. Teman itu mengatakan, “Nanti kita lihat saja pada Babak II. Mungkin akan terjadi sesuatu.” Benar saja, pada menit ke-54 pertandingan sempat terhenti sebentar karena protes pemain-pemain Indonesia, soal laser. Momen semacam itu sudah dikatakan teman saya tersebut.

Ketika saya tanya, “Bagaimana bentuk intervensi para penjudi Malaysia?” Katanya, mungkin mereka akan menekan panitia, wasit, atau manajemen Timnas Indonesia, untuk memenangkan tim Malaysia.

Kita tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi yang jelas, intrik-intrik semacam ini sering terjadi. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di level pertandingan sekelas Liga Primer Inggris, atau Piala Champions sekalipun. Bahkan trik-trik kotor itu banyak dikeluhkan oleh publik sepakbola Indonesia dalam lingkup kompetisi ISL.

Ayolah, buka matamu… Intrik-intrik itu ada dan nyata. Bukan hanya dalam Piala AFF. Bahkan dalam Piala Champions sekalipun. Tentu kita masih ingat, betapa kesalnya Barcelona FC ketika kalah dalam pertandingan melawan Inter Milan dalam Piala Champions tahun 2009 lalu.

Mourinho ketika itu mengatakan, “Ingat, kami dulu di Chelsea juga pernah dicurangi oleh Barcelona.” Ceritanya, saling curang-mencurangi.

Lalu intrik apa lagi?

Ada lagi, yaitu SIHIR. Mungkin Anda sulit percaya. Tetapi itu ada dan nyata. Sihir sering dipraktikkan untuk memenangi suatu pertandingan. Di Piala Dunia, tim asal Afrika atau Amerika Latin sering dituduh melakukan praktik-praktik sihir.

"Sepakbola Bisnis Besar. Kita Harus Menang. Apapun Caranya!"

Sejujurnya, aku sendiri pernah menyaksikan praktik sihir itu, saat ikut pertandingan level bocah SD, di kampung ku dulu. Di depan mataku, praktik sihir itu dilakukan. Waktu itu aku ikut dalam pertandingan bola itu. Orang-orang di kampung sering menyebut dengan istilah: “Main dukun!” Istilah itu populer kami dengar di berbagai pertandingan bola tingkat kampung, kecamatan, atau kabupaten.

Ciri permainan yang menggunakan trik SIHIR: “Tim yang didukung mendapat kemenangan dengan cara mudah. Sementara tim lawan sangat kesulitan mengembangkan permainan, meskipun skill mereka bagus. Dan lebih sulit lagi untuk menembus gawang.”

Misalnya, dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, Tim Malaysia bisa mendapat 3 gol hanya dalam tempo 10 menit. Ini adalah produksi gol yang sangat mudah. Padahal di Babak I, mereka gagal membuat satu gol pun. Dan kemenangan 3 : 0 itu sesuai prediksi Rajagopal. Hebat kan? Rajagopal sudah memperkirakan kemenangan 3 : 0, dan ternyata terbukti. Hebat…

Di sisi lain, Timnas bermain sangat buruk. Banyak pemain Timnas bermain seperti “pemain bodoh”. Berkali-kali membuat kesalahan, umpan tidak akurat melulu… Kalau menembak ke gawang, melenceng terus.

Dari pengalamanku menyaksikan pertandingan SIHIR di masa kecil… Pertandingan seperti di Bukit Jalil itu jelas memakai intrik-intrik Sihir. Sekali lagi alasannya: “Sepakbola adalah bisnis besar, politik besar, pengaruh sosial besar.” Segala cara akan dilakukan, untuk meraih kemenangan.

Tapi ada kabar baiknya… Ternyata, pelaku praktik sihir ini bukan hanya dalam pertandingan Timnas Vs Malaysia. Sampai di level Liga Primer dan Piala Chamions Eropa, ada praktik semacam itu. Ada dan nyata…

Bayangkan… Arsenal pernah kalah 3 : 0 (atau 3 : 1 ya) dari Manchester United, di kandang Arsenal. Bayangkan? Apa mungkin bisa terjadi kekalahan setelak itu di kandang Arsenal? Begitu juga, Real Madrid baru-baru ini kalah 5 : 0 oleh Barcelona FC di kandang Barcelona. Apa mungkin tim sekuat Real Madrid bisa kalah setelak itu? Padahal Barca tidak selalu menang besar menghadapi lawan-lawannya di kandang Barca.

Sekali lagi, ciri permainan Sihir: Tim tertentu menang dengan mudah, tim lawan hampir-hampir tidak bisa main sama sekali. Semua kemampuan teknik, strategi, arahan pelatih, dll. seolah tak berguna sama sekali.

Saya yakin, kekalahan Timnas di Bukit Jalil Malaysia lebih karena kekalahan akibat permainan Sihir dari luar lapangan. Sebab secara teknik atau teori permainan bola, tidak ada REASON yang bisa dijelaskan.

Saudaraku…

Sangat telat kalau kita baru mengetahui hal ini saat sekarang. Sihir itu bisa diterapkan di berbagai bidang yang sesuai tabiat sihir itu sendiri. Media-media massa tidak pernah mau mengungkap faktor sihir, begitu juga pemaian, pelatih, offisial, komentator, dll. Mengapa? Sebab kalau peranan sihir dijadikan tolok-ukur, nanti sepakbola jadi tidak laku.

Singkat kata… kita selama ini ya hanya ditipu, ditipu, dan ditipu saja dengan pemberitaan soal sepakbola itu. Kita hanya menjadi mainan media-media massa. Sejujurnya, pertandingan sepakbola yang fair, jujur, dan menyenangkan itu hanya IMPIAN belaka. Terlalu banyak intrik-intrik yang bermain di balik pertandingan bola.

Ke depan… Kita jangan terlalu senang dengan kemenangan sepakbola; juga jangan terlalu sedih dengan kekalahannya. Nikmati permainannya saja, jangan lihat skornya! Anggap, siapa yang menang ialah para best player, meskipun di lapangan mereka kalah.

Kalau kita seperti selama ini… Menganggap kemenangan dari sisi skor, terserah bagaimanapun caranya. Pasti kita akan menjadi “budak-budak” pemberitaan seputar bola. Janganlah Saudaraku…capek!

Oke Saudaraku, sampai disini saja obrolan kita. Santai sajalah…seperti putri saya yang memilih tidur, lalu melupakan kekalahan. Ringan kan? Justru kita seharusnya merasa sedih, ketika tidak ingat peringatan 6 tahun Tsunami di Aceh. Untuk itu jelas harus berduka…

Matur nuwun, nggih!

=====================================================

OPINI, edisi 24 Desember 2010.

“SAUDARAKU, TOLONGLAH TITIPAN NABIMU INI!”

Yatim-Piatu: Titipan Nabi Saw Untuk Kita Semua...

Ada rasa kesedihan mendalam ketika membaca artikel berikut ini: “Yatim-Piatu Mewarisi Hutang Rp. 45 juta.” Artikel ini dimuat voa-islam.com, 23 Desember 2010.

Saudaraku…

Apalah artinya hidup di dunia ini? Apalah artinya… Tidak ada yang bisa kita sombongkan, apapun, sedikit pun. Kita ini hanyalah hamba-hamba Allah yang dhaif, fakir, tidak berdaya. Tanpa pertolongan dan ijin-Nya, kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah: karunia dari-Nya. Hanya kepada Allah kita bersujud, merintih, menghiba, dan mengharapkan pertolongan.

Ya Allah ya Rahiim… teramat banyak, teramat besar, teramat rumit cobaan-cobaan yang menimpa Ummat Sayyidul Mursalin -shallallah ‘alaihi wa sallam- ini. Banyak orang papa, banyak manusia fakir, banyak pemuda terasing, banyak wanita teraniaya, banyak anak-anak kehilangan masa-masa bermainnya. Ya Allah, amat sangat berat cobaan bagi hamba-hamba-Mu ini. Kami hanya kuasa menulis, mengadu kepada-Mu, serta meneteskan air mata kesedihan… Ya Allah ya ‘Aziz kasihilah hamba-hamba-Mu ini, kasihilah kami ya Rabbi… hendak kemana kami kan mengadu?

Ya Allah, kami ridha dengan-Mu ya Allah… kami ridha mentaati-Mu, kami ikhlas menerima tuntunan-Mu, kami menuruti-Mu sekuat kesanggupan kami… Kami beramal, tetapi kami juga melakukan kesalahan; kami berjuang, tetapi juga jatuh dalam kezhaliman; kami terus berusaha melakukan perbaikan, tetapi kami pun mengulang-ulang kesalahan kami.

Ya Allah, di atas segala kedhaifan kami ini, kami dapati Engkau adalah Maha Pengampun, Engkau Maha Pemaaf, kasih-Mu melebihi adzab-Mu, Engkau lebih sayang kepada kami daripada diri kami sendiri, Engkau memberikan kami karunia-karunia besar yang tidak kami minta, Engkau mencegah berbagai fitnah dan bencana menimpa diri kami, ketika amal-amal kami justru sangat dekat kepada bencana-bencana itu. Ya Allah, Engkau selalu memaafkan kami, ketika tiada henti kami menyakiti-Mu. Ya Rabbi maafkan kami, maafkan kami ya Rahmaan, maafkan kami ya Raa’uf.

Ya Allah, tolong anak-anak kami… tolonglah orangtua-orangtua kami… tolonglah para pemuda Islam… tolonglah wanita-wanita Muslimah… tolonglah para mujahidin ya Rabbi… tolonglah para ustadz yang ikhlas mengajar Ummat… tolonglah para ulama yang menjadi benteng-benteng agama ini…

Ya Allah ya Nashir, tolonglah anak-anak kami yang yatim-piatu… tolonglah amanah Rasulullah Saw ini… tolonglah mereka, kasihi mereka, hapuslah kesedihan mereka, berikan mereka ISTIQAMAH di atas agama-Mu, berikan mereka kecukupan rizki dan pertolongan atas setiap kesulitannya… tolonglah mereka ya Allah ya Hafizh ya Dzal Jalali wal Ikram.

Ya Allah ya Ghaniy, tolonglah hamba-hamba-Mu yang dermawan… yang lembut hati, pengasih kepada kaum lemah, air matanya mudah sembab karena mengasihi Ummat Nabi Saw, tangan-tangannya begitu hangat dan dermawan mengelus kepala anak-anak kaum Muslimin yang malang… ya Allah ya Rahmaan, tolonglah mereka… berkahi rizki-nya, berkahi keluarganya, tolonglah usahanya, kekalkan kebahagiaan dan keselamatan baginya… sebab mereka menolong, mengasihi, menjaga TITIPAN NABI Saw, yaitu anak-anak yatim-piatu yang lemah dan menderita.

Ya Allah terimalah doa-doa kami ini. Amin Allahumma amin, ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

———————————————–>>>

Untuk menolong anak-anak kita di atas (Fikri dan Dinda), silakan menghubungi redaksi voa-islam.com (0817.702050) atau kepada keluarganya ke nomor HP: 0878.8651.3321. Bantuan bisa dikirim ke rekening almarhumah: BCA an. Elly Mariati no rek. 7020.180.514 atau melalui redaktur voa-islam.com.

================================================

OPINI, edisi 22 Desember 2010.

“EUFORIA IRFAN BACHDIM”

Hari-hari ini suasana batin bangsa Indonesia sedang dilanda euforia. Ya, apalagi kalau bukan keberhasilan Timnas PSSI maju ke final Piala AFF, nanti berhadapan dengan Malaysia. Di atas kertas, Indonesia bisa mengalahkan Malaysia. Tetapi dalam kenyataan nanti, hanya Allah yang Tahu.

Melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud ingin “mengadili euforia” masyarakat Indonesia. Tidak, tidak. Tetapi ingin menunjukkan banyak sisi-sisi realitas yang jarang dipikirkan masyarakat. Padahal sisi-sisi itu penting dipahami, jika kita ingin menjadi bangsa yang mulia. (Itupun, kalau masih ada niat menjadi bangsa mulia ya).

Sudah Lama Bangsa Kita "Paceklik" Kebanggaan...

Mari kita lihat…

[1] Saat ini bangsa Indonesia begitu berbunga-bunga ketika Timnas PSSI bisa melaju ke Final Piala AFF. Piala AFF ini levelnya ASEAN, bukan Asia, apalagi dunia. Perlu Anda tahu, tahun 80-an dulu atau sampai awal-awal 90-an, Timnas PSSI itu sudah biasa merajai cabang olah-raga sepakbola di tingkat ASEAN. Bukan hanya sepakbola, kontingen Indonesia sudah langganan menjadi juara umum SEA Games. Ini kenyataan, lho. Hanya karena memori sejarah kita pendek, maka tidak tahu hal itu. Sebelum saat ini PSSI kelihatan “merajalela” di tingkat ASEAN, dulu kita pernah seperti itu.

[2] Level sepakbola Indonesia dulu sudah lumayan tinggi. Indonesia bersaing dengan Korea Selatan, India, dan negara-negara Asia lain.  Waktu itu hampir saja Timnas PSSI masuk Piala Dunia. Sayangnya kalah melawan Korea Selatan. Seingat saya, kipernya waktu itu Hermansyah. Jadi, level ASEAN ketika itu seperti “tidak dianggap” oleh Timnas PSSI.

[3] Dari sisi skill, pemain PSSI sejak lama, sebenarnya tidak buruk. Mereka skill bagus. Hanya dari sisi fisik, sering drop. Dan satu lagi yang paling penting, yaitu RASA PERCAYA DIRI. Sejak lama, rasa percaya diri itu sangat sulit ditumbuhkan di diri Timnas PSSI. Mereka kerap dihinggapi inferiority (rasa minder alias rendah diri). Untuk Timnas saat ini, rasa percaya diri itu ditolong oleh dua sisi: Pertama, adanya pemain “asing” seperti Gonzales dan Irfan Bachdim. Kedua pemain ini memberikan support rasa percaya diri yang besar bagi Timnas. Seolah, bangsa Indonesia itu baru merasa dirinya layak sebagai manusia, kalau didorong orang “asing”. Kedua, dipakainya beberapa pemain asal Jawa Timur yang memang bertipikal cuek dan tidak segan ke orang asing.

Ya, memang harus diakui, rasa percaya diri orang Indonesia sangat rendah. Akibat minder itu, bangsa ini dengan mudah diacak-acak bangsa lain. Sistem pendidikan, sistem birokrasi, sistem sosial, bahkan budaya keagamaan yang berkembang di negara kita: GAGAL TOTAL melahirkan manusia-manusia yang percaya diri. Gagal total, Mas!

[4] Kalau melihat antusiasme masyarakat dalam membela Timnas, ada rasa KESEDIHAN besar di hati. Okelah sementara waktu kita tidak bicara dari sisi normatif. Mengapa disebut kesedihan besar? Lihatlah, betapa antusiasnya bangsa Indonesia ketika mendukung Timnas “Garuda Di Dadaku”. Besar sekali animo dan kebanggaannya. Bukan hanya di stadion, atau di jalan-jalan. Hampir di setiap rumah yang punya TV, Timnas selalu dibicarakan. Sampai ibu-ibu rumah-tangga saat ini sedang sibuk “membuat analisa pertandingan”. He he he… Kalau melihat semua ini, sedih, sedih, sedih sekali. Mengapa sedih? Ya, bangsa kita sepertinya sekian lama selalu menjadi PECUNDANG, selalu HINA, NISTA, dan centang-perenang. Nah, kini ada satu kesempatan bagi bangsa kita untuk punya kebanggaan, melalui even AFF 2010. Besarnya animo dan antusiasme masyarakat itu, sebenarnya merupakan cerminan, bahwa bangsa kita sudah lelah menjadi pecundang.  Mereka ingin kebanggaan, mereka ingin punya martabat; meskipun caranya melalui even pertandingan bola! “Apa sajalah, asalkan kita memiliki kebanggaan,” begitu logikanya.

Ya Allah ya Rahmaan, sedih sekali kalau mengingati semua ini. Mengapa dulu kita terima Reformasi 1998 dengan cara harus membuang semua yang baik-baik di masa Orde Baru????? Reformasi itu telah membuat bangsa kita menjadi: INDONESIA HINA!!! Okelah kita lakukan perbaikan-perbaikan. Tetapi jangan semua yang baik-baik di masa Orde Baru dihancurkan juga. Allahu Akbar…betapa sedih di hati.

[5] Bisa dikatakan, elemen yang sangat kuat pengaruhnya terhadap otak masyarakat adalah media-media massa, yaitu MEDIA TV SWASTA. Apapun yang digebyar-gebyarkan oleh TV Swasta menjadi budaya nasional, termasuk euforia Timnas PSSI saat ini. Bahkan sangat tendensius TV-TV itu membuat budaya “euforia Irfan Bachdim” yang di lengannya banyak sekali terdapat tattoo. TV-TV inilah yang selama ini mengendalikan otak masyarakat. Dan karena mayoritas bangsa Indonesia berkarakter “mencontoh model”, maka TV-TV itu menjadi penguasa publik sejati. Ya, tidak kebetulan kalau Zionisme internasional menjadikan TV sebagai senjata-senjata utama mereka. Jaringan MNC, TVOne, atau saham George Soros di TV-TV swasta Indonesia, pasti sangat besar pengaruhnya.

Andaikan TV-TV itu punya komitmen membesarkan bangsa Indonesia, pasti akan berhasil. Tetapi mereka malah berkomitmen menyebarkan KERUSAKAN MORAL dan KESESATAN BERPIKIR sedalam-dalamnya. Mengapa mereka malah bersikap destruktif? Sebab itu sesuai dengan agenda Zionisme internasional. Zionisme menyebarkan kerusakan seluas-luasnya di seluruh dunia, karena mereka meyakini, itulah jalan untuk mengundang datangnya Si Dajjal laknatullah ‘alaihi wa junudih ajma’in.

Jangan pernah bermimpi akan mendapati TV-TV yang ramah, santun, adil, moralis, dan pro kejayaan bangsa. Tidak sama sekali. Pada dasarnya, TV-TV itu hanyalah slaves untuk menyambut datangnya pemimpin tertinggi mereka, yaitu Dajjal laknatullah ‘alaihi wa junudihi ajma’in.

Semoga kita dan bangsa Indonesia bisa mengambil sebaik-baik pelajaran. Hidup yang kita jalani ini sangat keras dan kejam. Sebagian orang -dengan biaya dan fasilitas besar- berusaha menjadikan bangsa kita sebagai budak-budak Dajjal laknatullah. Sementara yang lain berusaha menyebarkan kebaikan, dan membela kebenaran.

Alaa inna hizballahi humul ghalibuun… Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang akan menang.

================================================

OPINI, edisi 14 Desember 2010.

“SYAFI’I MA’ARIF DAN REFERENDUM DI YOGYA”

Untuk beberapa bulan terakhir, Kota Yogyakarta menjadi perhatian nasional. Mula-mula dengan terjadinya bencana letusan Gunung Merapi yang demikian dahsyat dan menelan banyak kerugian jiwa dan materi. Belum reda dampak bencana Merapi, muncul isu REFERENDUM terkait kedudukan Gubernur di DIY. Kalangan Departemen Dalam Negeri mengklaim, rakyat Yogya menginginkan jabatan Gubernur dihasilkan melalui Pilkada. Sementara suara rakyat Yogya yang mencuat di media-media ingin mempertahankan pola yang selama ini berjalan.

Rakyat Yogya Menolak Skenario Politik Pusat

Selain isu referendum, juga mencuat kasus lain dari Yogya, yaitu terkait Syafi’i Ma’arif. Belum lama lalu Syafi’i Ma’arif menggelar konferensi pers di kantor Todung Mulya Lubis, dia memprotes pemberitaan tabloid Suara Islam yang dinilai fitnah dan mencemarkan nama baik Syafi’i Ma’arif. Katanya, Syafi’i akan mengadukan tabloid Suara Islam ke Dewan Pers nasional. Bisa jadi kasus itu akan dibawa ke ranah hukum. Sedangkan redaksi Suara Islam sendiri tampak siap meladeni langkah-langkah kubu Syafi’i Ma’arif.

Ada sesuatu yang mengherankan ketika dalam kondisi seperti ini muncul “gegeran politik” di Yogyakarta. Apalagi mereka baru berduka, karena tertimpa bencana Merapi. Sampai saat ini pun lahar dingin masih terus mengancam, dan puluhan ribu pengungsi tidak jelas bagaimana nasib mereka selanjutnya. Seorang kawan mengatakan, “SBY tidak ada kerjaan ketika menyinggung sistem monarkhi di Yogya.”

Sistem monarkhi itu sendiri merupakan ciri khas rakyat Yogya. Sebenarnya, sampai saat ini masih banyak sisa-sisa sistem monarkhi di Indonesia. Tetapi yang eksis dengana baik, hanya monarkhi di Yogya. Secara emosional telah terbangun hubungan yang kuat antara rakyat dengan kraton. Tidak heran ketika rakyat Yogya seperti marah ketika Pemerintah (SBY) menyinggung posisi sistem monarkhi mereka.

Dari kacamata politik, ada beberapa analisis. SBY atau Pemerintah sengaja mencampuri urusan dapur rakyat Yogya setidaknya karena dua alasan: Satu, upaya meredupkan citra politik Sri Sultan Hamengku (lawan politik SBY), menuju Pilpres 2014 nanti. Dua, melemahkan posisi Sri Sultan yang saat ini mendukung ormas Nasdem, karena dikhawatirkan akan membahayakan posisi Partai Demokrat di Yogya pada 2014 nanti. Dari sini bisa terlihat, bahwa isu seputar sistem monarkhi itu semata untuk mencapai tujuan politik belaka.

Inilah sebagian resiko akibat berlakunya SISTEM DEMOKRASI radikal di Indonesia. Dalam sistem seperti ini, pekerjaan utama para pejabat hanya untuk mencari jabatan, atau mempertahankan jabatan yang sudah diraih. Alih-alih mau bicara tentang nasib rakyat. Halah, jauh sekali itu. Kalau Pemerintah RI serius dengan masalah warga Yogya, seharusnya urusan puluhan ribu pengungsi Merapi dan nasib mereka selanjutnya, itu lebih layak diperhatikan.

Sangat tidak layak, kita bicara banyak tentang esensi demokrasi dan monarkhi. Padahal saat yang sama ada puluhan ribu rakyat terkatung-katung, tidak jelas nasibnya. Seharusnya masalah pengungsi itu diselesaikan sebaik mungkin; baru kemudian bisa diskusi soal demokrasi-monarkhi.

Dalam kasus perseteruan antara Syafi’i Ma’arif dengan tabloid Suara Islam, ada kemiripan pola. Kalau dalam kasus monarkhi di Yogya, SBY dianggap sewenang-wenang karena mempertanyakan sistem yang sudah turun-temurun sejak lama. Dalam kasus Syafi’i Ma’arif juga ada indikasi arogansi (kesewenang-wenangan).

Singkat cerita, Suara Islam mendapat informasi miring tentang sebuah apartemen di Rasuna Said. Informasi awal, apartemen itu diberikan oleh perusahaan Bakrie sebagai hadiah kepada Syafi’i Ma’arif. Berbagai upaya wawancara, komunikasi, klarifikasi dilakukan wartawan Suara Islam, untuk memastikan kebenaran informasi yang mereka terima. Setelah 2 bulan melakukan proses pendekatan ke Syafi’i Ma’arif tidak didapat hasil. Akhirnya Suara Islam menurunkan berita dengan nada hati-hati. Memakai “tanda tanya” dan menyebut suatu sumber berita.

Setelah berita beredar, Suara Islam langsung dikomplain oleh Syafi’i Ma’arif dkk. Malah di-goblok-kan dan diajak konfrontasi fisik. Masya Allah. Selain kubu Syafi’i Ma’arif akan membawa kasus itu ke Dewan Pers, ada dugaan mereka akan meneruskan juga ke tingkat hukum. Diminta klarifikasi tidak melayani, saat berita sudah beredar seketika memberikan respon keras dan kasar. Inilah ciri sikap arogan.

Ada kesamaan sikap ketika SBY menyoal sistem monarkhi di Yogya dengan kasus Syafi’i Ma’arif. Andaikan SBY bukan seorang Presiden RI dijamin dia tak akan berani menyoal sistem monarkhi di Yogya. Dijamin 100 % dia tak akan menyoal masalah itu. Atau andaikan Sri Sultan Hamengku mendukung penuh Partai Demokrat, SBY juga dijamin tidak akan menyoal sistem monarkhi Yogya.

Tulisan Diprotes Kubu Syafi'i Ma'arif

Begitu pula dengan Syafi’i Ma’arif. Andaikan yang meminta interview atau klarifikasi dari media-media “arus utama” seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, MetroTV, TVONe, Trans7, dan lain-lain. Dijamin Syafi’i Ma’arif tidak akan meremehkan permintaan klarifikasi itu. Begitu pula, andaikan Syafi’i Ma’arif hanya pensiunan dosen biasa, tidak memiliki status “guru bangsa”, tidak pernah menjadi “mantan Ketua Muhammadiyah”, dia pasti akan sangat menghargai saat diminta wawancara oleh Suara Islam.

Jadi masalah utamanya ialah AROGANSI. Faktor kesombongan belaka! Yang jadi Presiden merasa perlu untuk “unjuk kuasa” di hadapan rakyatnya -bahkan rakyat itu sendiri masih terluka akibat bencana alam. Yang merasa sebagai “guru bangsa” merasa ternoda kehormatannya, ketika diminta klarifikasi oleh wartawan media Islam.

Penyakit arogansi ini seperti sudah menjadi “penyakit sejarah” bangsa Indonesia. Jarang sekali yang mau memperlihatkan pengamalan “ilmu padi”; semakin mulia semakin rendah hati. Rata-rata setiap kaum elit memiliki gaya arogansi sendiri-sendiri. Mereka merasa “sial” kalau berurusan dengan rakyatnya.

Seperti kata ungkapan, “The power tends to corrupt” (kekuasaan itu cenderung korup). Ya ada benarnya pernyataan itu. Semakin kuasa bukan semakin eling, malah semakin jumawa.

Ya Ilahi ya Rahmaan, usia manusia ini semakin senja dari hari ke hari. Setiap langkah semakin mendekat ke pintu ajal. Apa sih yang bisa disombongkan dari kita? Kesombongan itu hanyalah hak mutlak Allah Al Mutakabbir. Allah pastas bersikap sombong, karena Dia memiliki segalanya. Lha kita, punya apa kita ini?

Kalau kaum elit suka sombong…semoga kita tidak bersikap demikian. Kesombongan itu akan membuat manusia tersungkur dalam kehinaan. Na’udzubillah min dzalik.

====================================================

OPINI, edisi 10 Desember 2010.

“HARI ANTI KORPSI”

Tanggal 9 Desember 2010 kemarin adalah peringatan hari anti korupsi sedunia. Meskipun tidak sesemarak seperti tahun 2009 lalu, peringatan hari anti korupsi kali ini juga diwarnai aneka demo. Di beberapa demo terjadi bentrokan antara pendemo dengan aparat kepolisian. Sebagian demonstran terluka dan ditangkap aparat.

Tentang gerakan anti korupsi ini, sangat menarik mengikuti editorial atau opini-opini yang ditayangkan di MetroTV. Sejak “jaman dahulu” jurnalis-jurnalis MetroTV selalu teriak-teriak tentang gerakan anti korupsi, pentingnya birokrasi bersih, pentingnya clean government, dll. Berita-berita seputar KPK, Gayus Tambunan, mafia hukum, Bank Century, dll. sangat mendominasi pemberitaan MetroTV.

Lumayan untuk hiburan... Daripada diem aja.

Yang membuat kita tersenyum geli ialah kalimat berikut: “Lalu, setelah itu apa?

Jadi sejujurnya, kita sudah sangat capek bin letih, dengan semua retorika pemberantasan korupsi itu. Sudah letih, sudah susah, sudah jemu sekali. Bangsa ini tidak pantas sampai saat ini masih berputar-putar disini saja. Dari dulu kita bicara gerakan anti korupsi, tetapi kenyataan di lapangan, nol besar.

Haduh, haduh, haduh…cuapek, capek banget. Please deh! Stop ngomong soal gerakan anti korupsi. Kita sudah seharusnya bicara tentang pilihan-pilihan hukuman bagi koruptor: Mau dipancung? Mau digantung? Mau diceburkan ke kolam buaya? Mau dimasukkan satu kandang bersama Ryan Jombang? Mau dipaksa makan sepiring cabe India, sehari 3 kali, selama 1 tahun terus-menerus?

Tapi tunggu dulu… Kalau hukuman keras kepada koruptor dijalankan, bagaimana kalau sebagian besar pejabat birokrasi, anggota dewan, pejabat BUMN, dan para elit politik terlibat korupsi? Bagaimana kalau nanti tidak ada lagi pejabat tersisa di Indonesia, karena sebagian besar mereka sudah dimakan buaya?

Nah, itulah lucunya negeri ini, Indonesia. Korupsi tidak akan STOP, kalau tidak diterapkan hukuman mati bagi koruptor (birokrasi, bisnis, dan BUMN). Tetapi kalau hukuman tegas diterapkan, sebagian besar pejabat akan terkena hukuman itu. Lalu siapa yang tersisa menjadi pejabat? He he he…lucu juga menertawakan diri sendiri.

Intinya, korupsi di Indonesia itu sudah amat sangat akut. Tentu saja korupsi harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Hanya caranya, dibutuhkan sosok pemimpin nasional yang INDEPENDEN, PEMBERANI, TIDAK DIDIKTE ASING, TIDAK TERSANGKUT KORUPSI, dan TEGAS. Kuncinya ada di posisi Presiden RI, bukan di KPK, Kejaksaan, atau Polri. Bola itu ada di tangan Presiden.

Hanya masalahnya, apa Presiden RI saat ini mememiliki sifat-sifat seperti itu?

Ya, Anda bisa menjawabnya sendiri. Makanya, tidak ada gunanya demonstrasi, pernyataan pers, statement politik, opini media massa, seminar anti korupsi, dll. Tidak ada gunanya semua itu. Pokok masalahnya bukan disana kok, tetapi di KARAKTER Presiden RI itu sendiri!

Itu saja. Maka, stop ngomong gerakan anti korupsi. Sudah cuaaaaapeeekkk !!!

____________________________________________________________________________________________

“MISTERI DOKUMEN WIKILEAKS”

Saat ini ada euforia terkait publikasi laporan-laporan rahasia di situs wikileaks.com. Para pemerhati informasi sedang seru-serunya membahas laporan teranyar wikileaks.com ini. Kontroversi-kontroversi sudah bermunculan dimana-mana. Berita seputar wikileaks seakan sedang merebak di dunia.

Tetapi saya ingatkan Ummat Islam, agarb waspada dengan informasi seputar wikileaks ini. Ditelan bulat-bulat, jangan; ditolak mentah-mentah, juga jangan. Kita harus terus selektif dan kritis dalam membaca berita.

Beberapa analisa layak diangkat saat bicara tentang laporan wikileaks.com:

1. Di dunia intelijen ada sebuah rumus baku, “Jangan terpengaruh oleh fakta yang terlihat. Tetapi selalulah berpikir sebaliknya.” Kalau kita bicara data intelijen, bawaannya harus “curiga melulu”. Jangan mudah percaya. Ya, bagaimana lagi. Itu rumus yang dikenal di dunia sensitif tersebut.

Julian Assange: Selebritis Baru di Kancah Berita Intelijen Dunia. Hallo!

2. Dalam sejarah intelijen, belum pernah ada kebobolan informasi sebanyak yang dilakukan wikileaks.com itu. Belum pernah terjadi sebelumnya, ada “segunung” informasi intelijen menjadi barang terbuka, menjadi konsumsi umum. Maka kini pertanyaanya, “Ada apa apa di balik semua ini?”

3. Informasi intelijen biasanya terurai dalam berbagai bentuk media, dan rata-rata menghindari memakai media-media yang meninggalkan jejak rekaman. Kalau ada intel yang memakai surat pos, memakai e-mail, memakai SMS, memakai kontak telepon, dll. itu jelas intel yang “gak bermutu”. Intel sejati akan memakai jasa kurir, memakai kode-kode simbol, atau bertemu langsung dengan sasaran. Kalau ada “segunung info intelijen” teronggok begitu saja, berarti ada sesuatu yang mencurigakan disana.

4. Satu hal paling krusial dari info-info wikileaks.com adalah, “Bagaimana acara memverifikasi kebenaran info-info tersebut?” Dalam dunia informasi, jelas ada mekanisme validasinya. Lalu apa yang disediakan wikileaks bagi kita untuk memastikan kebenaran data-data itu?

5. Kita harus paham dengan baik, bahwa tidak akan menyebar suatu fakta yang lalu menjadi fenomena dunia, melainkan Zionisme Internasional pasti ada di belakang semua itu. Zionis pasti ada di balik pemberitaan meluas seputar informasi-informasi dari wikileaks ini.

Kalau dalam analisis sementara, beredarnya info-info sensitif yang disebarkan oleh wikileaks.com ini, menurut saya merupakan salah satu cara Zionis internasional untuk mengadu-domba pihak-pihak yang disebutkan dalam laporan-laporan wikileaks itu.

OK, dalam laporan itu banyak informasi seputar Amerika yang disebutkan. Tetapi masalahnya, bagaimana cara kita akan menuntut atau menggugat Amerika? Toh, selama ini Amerika sebuah negara yang kebal kritik dan kecaman. Upaya menyeret George W. Bush menjadi penjahat perang, seperti membentur tembok. Apa yang bisa kita lakukan kepada Amerika? Singkat kata, meskipun telah tersebar banyak informasi sensitif seputar Amerika, tetap saja kita tidak bisa berbuat apa-apa. Amerika terlalu kuat untuk digugat melalui laporan wikileaks.com.

Maka yang menjadi sasaran disini ialah informasi-informasi lain, seputar negara, tokoh, lembaga, diplomat, atau apapun selain Amerika. Nah, itu yang sensitif dari laporan wikileaks.com. Disana ada potensi konflik antar elemen-elemen kaum Muslimin yang disebut dalam laporan itu.

Dunia semakin canggih. Kalau sandiwara sebesar WTC 911 saja bisa dibuat, apalagi hanya laporan wikileaks.com. Bukan berarti saya setuju dengan pandangan Ahmadinejad. Tidaklah, Muslim Ahlus Sunnah memiliki kepentingan dan pandangan berbeda dengan orang Syi’ah (Rafidhah).

Yang jelas, hati-hatilah membaca informasi wikileaks.com. Kita punya kepentingan terhadap Islam dan kaum Muslimin, berbeda dengan Julian Assangge Assange dan kawan-kawan.

Dan akhirnya, selamat berpikir!!!

________________________________________________________________________________________

“MENORAH DI MANADO”

Baru-baru ini media membuat berita penting, bahkan SUPER PENTING. Berita seputar berdirinya monumen MENORAH (simbol ibadah Yahudi) di Manado. Salah satu beritanya, dapat dibaca disini: Aroma Yahudi yang Kian Merebak. Baik media Muslim atau sekuler memberitakan masalah ini.

Berdirinya monumen menorah ini merupakan TANDA BAHAYA besar bagi kaum Muslimin Indonesia. Bahaya itu sudah menari-nari di depan mata kita. Waspadalah, waspadalah wahai Ummat!!!

Perlu Anda ketahui. Menorah adalah simbol khusus peribadahan kaum Yahudi. Tidak tahu apa makna simbol tersebut. Tetapi ia sudah diketahui secara pasti merupakan simbol khas Yahudi. Hampir setiap Presiden Amerika yang terpilih, mereka akan diterima secara seremonial di depan komunitas Yahudi. Sebagai simbol penerimaan itu, Presiden Amerika selalu diminta berfoto dengan memegang menorah.

Ini Tanda Bahaya !!! Waspadalah Ummat Islam !!!

Yahudi (Zionis internasional) termasuk kaum yang sangat teliti dalam membuat langkah-langkah. Mereka sangat teliti dan detail sebelum melakukan suatu gerakan-gerakan. Kalau kini di Manado Zionisme sudah berani membangun menorah, itu tandanya mereka sudah memperhitungkan segala-sesuatunya secara teliti. Mereka sudah mengkalkulasi resiko penolakan-penolakan dari ormas Islam se-Indonesia.

Di balik berdirinya menorah di Manado itu, ada pesan besar yang disampaikan oleh Zionis Yahudi. Isi pesannya kurang lebih: “Hai bangsa Indonesia, hai Ummat Islam, lihat nih… Kami sudah berdiri disini. Kami sudah sukses membangun monumen menorah paling besar di dunia ini. Hai Ummat Islam, sebentar lagi kami akan mendekat ke rumah-rumah kalian. Tunggu saja tanggal mainnya.”

Kalau mau jujur melihat…

Ormas-ormas Islam akhir-akhir ini terus dimusuhi oleh media-media massa, oleh para politisi sekuler, oleh pengamat/pakar sekuler, oleh kaum seniman liberal-hedonis, oleh Ulil Abshar dan kawan-kawan. Berapa kali muncul ide “pembubaran FPI”? Berapa kali gerakan Islam difitnah dan dipecundangi dalam isu seputar terorisme? Lihatlah, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang begitu mudahnya ditangkap lalu dimasukkan ke tahanan!

Katanya, gerakan Islam itu radikal, ekstrem, mau menang sendiri, anarkhis, tidak toleran, anti Pancasila, anti UUD 1945, anti NKRI, dan seterusnya. Pendek kata, gerakan-gerakan Islam selalu dituduh sebagai pembuat onar di negeri ini. Media-media sekuler-hedonis sepanjang waktu terus mengamini fitnah-fitnah itu.

Tetapi kini, wahai saudara sebangsa…

Lihatlah di Manado saja! Kini berdiri menorah raksasa disana. Padahal Indonesia tidak pernah mengakui Yahudi sebagai agama di negeri ini. Padahal dalam pembukaan UUD 1945 bangsa kita sudah menetapkan sikapnya yang ANTI PENJAJAHAN. Mengapa di Manado justru berdiri menorah raksasa? Bukankah Zionisme Israel adalah penjajah di tanah Palestina? Lalu dimana konsistensi itu?

Wahai Ummat Islam…ini adalah tanda bahaya besar di depan mata kita semua. Entahlah, saya tidak tahu harus bagaimana cara kita bersikap. Yang jelas, ini adalah tanda bahaya besar. Selanjutnya, silakan gerakan-gerakan Islam merumuskan sikap terbaik untuk perjuangan ke depan.

Hadirnya menorah raksasa di Manado hanyalah simbol belaka, bahwa Zionis Internasional sudah mencengkramkan kuku-kukunya di negeri ini. Ini hanya simbol saja untuk suatu hakikat tersembunyi di baliknya.

Allahumma inna nas’alukal ‘afiyatal kamilah, lana wa ahlina, wa lil Mu’mina wal Mu’minat, wal Muslimina wal Muslimat fi Andunisiya khassah, wa fi sa’iril ‘alam. Amin Allahumma amin.

==============================================================================

OPINI, edisi 30 November 2010.

“BANDUNG DI MATA ERAMUSLIM”

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada sebuah tulisan menarik dari editorial eramuslim.com. Artikel aslinya sebagai berikut: Budaya Memuja Syahwat? Eidisi 29 November 2010. Secara lengkap tulisan itu adalah sebagai berikut:

Pernah Bandung dijuluki sebagai ‘Parijs van Java”, atau ‘Paris’-nya pulau Jawa. Indah. Mempesona. Melahirkan inspirasi bagi yang mengunjungi dan berada di kota Bandung. Bukit, lembah, pepohonan, dan paduan arsitekturnya, yang khas, membawa kehidupan yang penuh dengan romantisme. Kala itu. Tak salah. Presiden Soekarno pernah tinggal di Bandung. Menikah dengan Ibu Inggit. Mungkin sangat impressif kala itu.

Sekarang, di 2010, Bandung, sangatlah berbeda dengan ketika ‘bahuela’ dulu. Sekarang Bandung sangat padat penghuninya. Jalanan sepanjang hari macet. Terkesan semrawut. Sampah ada di mana-mana. Seperti kota yang tidak terurus. Angkot penuh sesak.

Mungkin lebih banyak angkot dibandingkan dengan para penumpangnya. Pokoknya Bandung sekarang tidak lagi dapat disebut sebagai ‘geulis’ (cantik). Bandung menjadi panas. Bandung sering banjir. Banyak penduduk, banyak kenderaaan, banyak rumah dan bangunan, yang tanpa drainase yang memadai, dan semakin kurangnya resapan air. Bukit-bukit semakin sedikit pepohonannya, dan digantkan oleh bangunan. Inilah Bandung sekarang.

Tetapi Bandung tetap memiliki magnitude (daya tarik) yang kuat. Setiap akhir pekan puluhan ribu orang datang ke Bandung. Tak kurang 60.000 orang dengan membawa kenderaan pribadi berkunjung ke Bandung setiap akhir pekan, dan mereka menikmati ‘week end’. Bandung menjadi tempat peristirahatan dan mencari inspirasi bagi kelas menengah baru yang sudah sumpek hidup di Jakarta. Mereka selalu meluangkan waktu berakhir pekan alias melaksanakan ‘week end’. Inilah sebuah ‘keajaiban’, yang sekarang ini menjadi kegemaran para orang-orang  berada (kaya)  Jakarta.

Orang menjadi lebih sering ke Bandung, juga lantaran jarak tempuh antara Jakarta-Bandung, lebih cepat, dan hanya dua jam. Sesudah adanya jalan tol Cipularang. Tol Cipularang ini menjadikan antara Jakarta – Bandung menjadi lebih dekat. Dulu orang-orang yang pergi ke Bandung menggunakan kereta Parahiyangan. Menikmati alam yang sangat indah. Sesudah kereta melewati kota Purwakarta. Sepanjang perjalanan mulai dari Purwakarta, mata dimanjakan dengan pemandangan alam yang sangat indah. Lapisan-lapisan gunung, sawah, kebun, dan desa-desa, yang bergerombol dapat di lihat  sepanjang perjalanan.

Bandung menjadi tempat yang sangat digemari. Di Bandung orang-orang jalan-jalan menghabiskan akhir pekannya. Menikmati segala jenis makanan yang mereka inginkan. Wisata kuliner. Di Bandung mereka jalan ke ‘factory outlet’ yang sekarang bertebaran seantore Bandung. Jalan-jalan di Bandung yang menuju ke atas, seperti daerah Setiabudi dan Dago, banyak ‘factory oulet’, setiap orang dapat berjalan-jalan sambil melihat segala jenis pakaian. Tas, sepatu, jaket, kaos, baju, dan berbagai jenis pakaian lainnya. Mereka sungguh menikmati kehdupannya.

Kalau masuk kota Bandung melalui pintu gerbang tol Pastuer, kanan-kiri jalan, hanyalah ada papan reklame, yang besar-besar, berbagai hotel dan factory oulet. Tinggal memilih di mana mau menginap di Bandung. Kalau mau ingin lebih indah lagi pemandangannya di malam hari, bisa mendapatkan bungalow di daerah Lembang, diatas bukit, yang dapat melihat kota Bandung dari atas. Sinar lampu di malam hari, yang berpendar-pendar, semakin menambah inspirasi dan imajinasi, bagi mereka yang sudah berada di bungalow dan hotel di puncak-puncak, dan dapat melihat pemandangan dari atas. Begitu indah.

Maka, Bandung , tak lain menjadi tempat memuja syahwat. Jalan-jalan, makan, belanja, dan berakhir dengan sek bebas, di hotel-hotel dan bungalow. Inilah Bandung sekarang. Tentu ini semua hanya untuk mereka, khususnya kaum kelas menengah yang sudah mulai makmur. Perlahan-lahan masyarakat Bandung, ikut luruh dengan budaya baru, budaya yang memuja syahwat yang datang dari Jakarta.

Hati, pikiran, dan perilaku menjadi satu alur. Hanya menikmati kehidupan. Dengan gaya hidup hedonis. Memuja syahwat. Tidak ada yang lain.

Bandung yang dulu menjadi pusat pergerakan Islam. Sekarang tak nampak lagi. Hanya yang ada kehidupan yang memuja syahwat. Masjid sepi dari aktivitas dakwah. Masjid Istiqomah yang dahulu menjadi pusat pegerakan, sekarang tak lagi. Masjid Salman yang berdekatan dengan kampus ITB, dahulu melahirkan gerakan ‘Mujahid Dakwah’, yang digagas dan dipelopori oleh almarhum Dr. Ir. Imaduddin Abdulrahim. Kini, suasana sudah berubah, dan tak nampak lagi, kegiatan keislaman yang menonjol. Sedih memang.

Walaupun Gubernur Jawa berasal dari PKS, Ahmad Heriawan, tak nampak perubahan kualitatif dalam kehidupan masyarakatnya. Terkesan masyarakat semakin jauh dari kehidupan beragama, dan semakin tidak nampak kehidupan islami. Meskipun, Bandung semakin ramai dikunjungi. Wallahu’alam.

KOMENTAR:

Apa lagi yang mesti dikomentari dari editorial ini? Kalau saya ditanya penilaian, saya katakan: SETUJU 100 %. Sejujurnya, itulah keprihatinan yang terus saya pendam selama ini. Lama berada di Bandung, lama melihat masyarakat disini. Semakin kesini semakin besar keprihatinan di hati. Masya Allah. Fakta yang saya ketahui mungkin lebih banyak dari apa yang disampaikan oleh eramuslim.com di atas. Dalam hati ada kekhawatiran. Bandung ini seperti kota yang “mau dipanen” oleh para Malaikat. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ya Allah ya Rabbi, selamatkanlah kota ini dan masyarakatnya. Adakan jalan untuk memperbaiki kota ini, sebelum yang terburuk kan terjadi. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kemarahan dan kerasnya siksa-Mu. Allahumma amin ya Rahmaan ya Rahiim.

Syukran jazakumullah eramuslim.com atas nasehatnya bagi kami, bagi kota ini, yang dulu dikenal sebagai kota pergerakan Islam. [AMW].

Iklan

4 Responses to Beberapa Opini Aktual

  1. Machmud berkata:

    Asalamu’alaikum ustadz, sungguh sangat menarik tulisan antum dan saya do’akan semoga selalu istiqomah dalam perjuangan da’wah online ini. Allahhumma amiin.

    Saya hanya ada satu saran yg semoga antum terima ya’ni kata “Varij van Java” seharusnya “Parijs van Java” apabila yg antum maksud bahasa belanda.

    Salam sejahtera dari salah satu ikhwan seiman yg bermukim di belanda dan sering mengunjungi situs antum. HadaanAllahu wa iyakum

  2. abisyakir berkata:

    @ Machmud…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Syukran jazakallah Akhi atas doa Antum. Benar, benar, benar Antum. Itu pula yang mau saya perbaiki dari tulisan asli eramuslim. Kayaknya menulisnya salah. Sama-sama Akhi, sampaikan salam balik Ana kepada beliau dan semua keluarga Antum semua di Belanda. Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga kalian semua dalam kebaikan, kemudahan, barakah, dan keselamatan. Amin Allahumma amin. Muslim Eropa saat ini menjadi sasaran konspirasi Zionisme, melalui gelombang Islam phobia. Zionis berusaha menghambat kembalinya Islam ke bumi Eropa, setelah dulu pernah berjaya di Andalusia.

    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

  3. heri berkata:

    assalamualaikum
    ustadz izin share artikelnya, artikelnya sangat menarik sesuai dengan apa yang kita lihat setiap hari.

    barrakallahufikum

  4. ekahmadt berkata:

    Bandung was my life. Thanks bro..Nice info…I like this post very much!
    dont forget to visit my page

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: