Review 2010 Dari WORDPRESS

Januari 7, 2011

The stats help blog users at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 130,000 times in 2010. If it were an exhibit at The Louvre Museum, it would take 6 days for that many people to see it.

In 2010, there were 150 new posts, growing the total archive of this blog to 444 posts. There were 226 pictures uploaded, taking up a total of 19mb. That’s about 4 pictures per week.

The busiest day of the year was August 13th with 1,422 views. The most popular post that day was Penangkapan Ustadz Ba’asyir dan Kehancuran NKRI.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, kaskus.us, id.wordpress.com, google.co.id, and cokiehti.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for ikhwanul muslimin, anton medan, abisyakir, sepak bola, and densus 88.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Penangkapan Ustadz Ba’asyir dan Kehancuran NKRI August 2010
39 comments and 3 Likes on WordPress.com

2

Cuci Mata Sini… October 2008
23 comments

3

Antara PKS dan Ikhwanul Muslimin May 2009
138 comments

4

Memahami Makna Simbol Yahudi February 2010
19 comments

5

Di Balik Ide Gila Anton Medan July 2010
5 comments

Iklan

Monggo Bu Ani, Silakan Jadi Presiden RI!

Januari 5, 2011

OPINI, edisi 5 Januari 2011.

Baru-baru ini lembaga surve Indo Barometer merilis hasil surve tentang popularitas SBY dan para politisi yang berpeluang menggantikan dia di tahun 2014 nanti. Hasil surve Indo Barometer ini intinya: (1) Popularitas SBY masih dianggap tinggi, melebihi popularitas politisi-politisi lain; (2) Ternyata, Ani Yudhoyono (isteri SBY) memiliki popularitas politik yang lumayan, sebagai calon pengganti SBY. Dia menempati posisi ke-6 bersaing dengan politisi-politisi lain yang sudah malang-melintang di dunia politik.

Padahal Ani Yudhoyono selama ini tidak dikenal reputasinya sebagai politisi. Sama sekali nol. Tetapi dalam surve Indo Barometer itu dia segera bersaing dengan politisi-politisi senior lain. Kalau performa politik Ani dipoles disana-sini, dia bisa bersaing dengan Megawati, Prabowo, Wiranto, Sultan, Mahfud Md, dll.

"Selamat Datang di Dunia Politik, Bu Ani!"

Ya, mula-mula kita harus sadar, dunia jaman sekarang ini kan penuh PENIPUAN, penuh KEMUNAFIKAN, penuh OPORTUNISME, penuh dengan semangat-semangat rendah. Maka apapun akan dilakukan orang untuk mendapat uang, jabatan, dan status sosial. Kalau rakyat kecil menipu dengan modus-modus klasik; kalau orang pintar mereka bisa menipu dengan hasil surve, pooling, penelitian, dan seterusnya. Tetapi intinya sama: “Mencari kepuasan syahwat dengan modus penipuan.”

Maka ketika J. Kristiadi dari CSIS memuji-muji Ani Yudhoyono setinggi langit. Katanya, Ani itu orangnya spontanitas; bahkan Ani itu memiliki wajah cantik. Ya, kita tidak usah heran. Wong dunia kita ini memang isinya banyak  orang-orang yang melacurkan diri dengan: harta, tahta, wanita.

Tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan publik itu. Tidak ada. Semuanya sudah di-setting dengan strategi dan urutan-urutan waktu. Ya, jangan lebay-lah. Masak baru kali ini tahu kalau dunia ini penuh penipu dan penipuan? Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Secara kebangsaan dan kenegaraan, tentu saja ide menaikkan Ani Yudhoyono sebagai calon pengganti SBY tahun 2014 nanti merupakan ide yang SANGAT TIDAK MASUK AKAL. Ani bisa dikatakan tidak memiliki apapun yang bisa dipakai untuk memimpin bangsa. Dari kemampuan akademik, komunikasi sosial, reputasi politik, karya ilmiyah, kemampuan organisasi, dan lain-lain  tidak ada yang bisa diandalkan. Bu Ani itu kan hanya seorang ibu rumah-tangga, yang kebetulan suaminya seorang Presiden.

Bahkan, mental mengangkat isteri sebagai calon pengganti pejabat Presiden termasuk NEPOTISME, membagi-bagi kekuasaan di tangan sebuah keluarga. Jelas cara demikian tidak layak. Secara teori, mengangkat nama Ani adalah pilihan yang sangat tidak masuk akal.

Tetapi masalahnya, secara pencitraan, politik, dan kepentingan ekonomi; Ani Yudhoyono memiliki kans untuk menjadi Presiden RI. Hal ini sudah lama didiskusikan oleh kalangan-kalangan kritis.

Secara pencitraan, reputasi Ani bisa dibangun sebaik-baiknya. Ya, seperti tahun-tahun 2003-2004 lalu ketika sebagian orang berjuang keras membangun citra SBY. Itu bisa dan sangat bisa dilakukan. Wong, mayoritas orang-orang Indonesia itu -maaf- gampang dibodohi.

Secara kepentingan ekonomi, Ani jelas didukung oleh konglomerat-konglomerat China, didukung oleh RRC, didukung korporasi-korporasi asing, didukung IMF, Bank Dunia, investor internasional, dll. Mereka tidak pernah memikirkan nasib rakyat Indonesia. Mereka hanya membutuhkan pemimpin lemah yang bisa dikendalikan, untuk mengamankan bisnis mereka. Dan sosok Ani Yudhoyono memenuhi kriteria itu.

Secara politik, Partai Demokrat jelas siap mendukung Ani secara penuh. TNI, khususnya Kostrad dan Kopassus siap mendukung Ani. Apalagi Polri, mereka selalu siap mendukung siapapun pemimpin yang muncul. Kunci-kunci kekuatan politik kini sudah di genggaman Puri Cikeas. Jadi masyarakat Indonesia mau apa? Kita bisa apa, kawan?

Secara teori, posisi Ani Yudhoyono sangat tidak rasional diangkat sebagai calon pemimpin nasional. Tetapi secara politik, kepentingan ekonomi, dan pencitraan, kans Ani sangat lebar.

Sebagai Muslim, tentu kita sangat prihatin dan benar-benar tidak habis mengerti. Di bawah kepemimpinan SBY saja kehidupan sudah terasa amat sangat berat seperti ini? Apalagi nanti dipimpin oleh Ani Yudhoyono? Lagi pula dia kan pemimpin wanita yang dijamin tidak diberkahi. Masya Allah, tidak terbayang bagaimana nasib Ummat ini nanti.

Tapi ya sudahlah…

Mungkin sudah nasib kita untuk terus bersabar, bersabar, dan terus bersabar. Sekalipun menghadapi hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun. Ya bagaimana lagi? Bukan sekali dua kali kita mengingatkan Ummat, bahkan berkali-kali. Tetapi ya itulah, sulit sekali berharap akan muncul perubahan.

Masyarakat kita kini sudah terkena KANKER KONSUMSI.  Maksudnya, mereka tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi mereka tidak mau mengusahakan hal itu. Mereka hanya mau menerima, dilayani, mendapatkan kesempatan, dan selalu disuapi. Rasa pengorbanan, keberanian, sikap kritis, idealisme, atau sekedar keberanian memilih saja; sulit diharapkan.

Jadi, kalau nanti Ani Yudhoyono benar-benar menjadi Presiden RI, ya jangan mengeluh. Sabar sajalah…terima sajalah. Wong sudah diingatkan; sudah diwanti-wanti; sudah  dijewer berkali-kali, tetap saja susah sekali berubah. Maunya MENDAPAT, MENERIMA, DILAYANI, DISEDEKAHI… Tidak ada rasa berkorban, keberanian, sikap memilih, apalagi komitmen dan militansi.

Maunya orang-orang kita, mereka ingin hidup enak, sejahtera, gaji besar, bebas korupsi, keadilan hukum tegak, pergaulan sosial ideal; tetapi caranya dengan terus-menerus main FESBUK, main SMS, main game online dan sejenisnya. Ya, kapan terjadi perubahan kalau maunya enak terus? Justru perbaikan itu terjadi dengan keberanian kita mempertanyakan tatanan sosial, sistem yang rusak, kemunafikan politik, dll.

Kalau untuk yang seperti itu saja tidak berani…ya sudahlah bersabar saja, bersabar, dan terus bersabar. Syukur-syukur kalau rumah, bisnis, keluarga, dan sawahmu tidak ditelan bencana alam. Itu sudah hebat.

Sebenarnya, munculnya masalah seperti ini merupakan PENGHINAAN dari Allah untuk kita semua. Kita dipaksa untuk menerima sesuatu yang sangat mustahil sama sekali. Tetapi itu nyata di depan mata. Ini adalah penghinaan dari Allah, sebelum penghinaan berupa bencana alam yang merenggut nyawa isteri, anak-anak, dan memusnahkan harta-benda.

Hidup ini memilih. Siapa yang selalu memilih pilihan mudah dengan resiko membuang kebenaran dan keadilan; dia akan dihukum dengan banyaknya marabahaya di belakang hari nanti.

“Kalau Mbak Ani mau jadi Presiden, ya monggo aja. Wong masyarakat ini mau saja menerima apapun. Sekalipun Sule atau Parto menjadi Presiden, kalau dia punya kekuatan politik dan uang besar, masyarakat tidak akan menolak. Masyarakat ini sudah kehilangan sifat-sifat manusiawinya!”

Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Allahumma amin.