Revolusi Arab: Sangat Mencemaskan!!!

Februari 28, 2011

Satu demi satu penguasa diktator Arab tumbang. Ben Ali di Tunisia, diikuti Husni Mubarak di Mesir. Kini Muammar Qaddafi sedang berada di ujung tanduk, antara bisa bertahan atau tidak. Yaman pun bergolak, Ali Abdullah Saleh panen kecaman dan caci-maki disana-sini. Yordan, Aljazair, Bahrain, bahkan katanya “api revolusi” juga akan membakar Saudi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Adalah bisa dimaklumi kalau rakyat Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dll. merasa marah, kesal, benci kepada pemimpin-pemimpin mereka dan partai-partai status quo di negeri masing-masing. Betapa tidak, di Tunisia, Mesir, Libya, Aljazair, dan lainnya masyarakat sudah biasa diperlakukan secara kejam, ditindas, dianiaya, difitnah, dan sebagainya. Siapa yang tahan dan bisa sabar atas semua penderitaan itu? Andaikan pertanyaan ini diteruskan, “Apakah Anda akan sabar jika menerima penderitaan seperti kami selama 30-40 tahun?” Jelas, kita akan angkat tangan.

Mau Kemana Arah Revolusi Ini? Ke Haribaan Islam, atau Demokrasi LIberal?

Kezhaliman diktator-diktator Arab adalah kenyataan, fakta, dan fenomena yang tidak usah diperdebatkan lagi. Semua orang tahu itu. Husni Mubarak sangat kejam kepada aktivis-aktivis Islam di Mesir, juga kepada rakyat Palestina. Ben Ali juga sangat menikmati sikap sekuler ekstremnya, sehingga Islam di Tunisia seperti diamputasi seluruh tangan dan kakinya (jadi seperti “bola” yang bisa menggelinding kesana kemari). Di Libya, Aljazair, dan sebagainya tokoh-tokoh Islam, aktivis Islam, dan dakwah Islam diperlakukan secara kejam. Baru kemarin-kemarin saja Muammar Qaddafi memperlihatkan pedulinya kepada Islam. Konon, dia punya ambisi mau menghidupkan kembali Daulah Fathimiyyah yang berhaluan Syi’ah di Libya.

Dari sisi kezhaliman, sikap anti Islam, dan kesewenang-wenangannya, para diktator Arab itu bukan hanya layak diganti. Mereka juga berhak dihukum berat atas penumpahan darah yang banyak terhadap para ulama, aktivis Islam, dan rakyat mereka sendiri. Dan di sisi Allah ada sepedih-pedih hukuman bagi para pemimpin zhalim.

Tetapi wahai Saudaraku…

Anda perlu melihat Revolusi Arab saat ini dengan sangat cermat dan hati-hati. Revolusi ini tidak seperti sesuatu yang kita harapkan bisa mengubah kehidupan kaum Muslimin disana menjadi lebih baik, dan bisa menghentikan kezhaliman diktator-diktator itu secara meyakinkan. Justru adanya “fenomena aneh” itulah yang membuat kita sangat khawatir melihat jalannya revolusi ini.

Coba renungkan sebagian fakta-fakta berikut ini:

[1] Dalam sejarah Arab, bahkan dalam sejarah dunia, baru kali ini terjadi fenomena revolusi politik yang bergerak seperti EFEK DOMINO itu. Ketika api revolusi berkobar di satu negeri, tiba-tiba ia membakar negeri-negeri lain. Modelnya sangat sama: demonstrasi people power, menuntut penguasa mundur, menuntut kebebasan politik, dan melibatkan proses kekerasan.

[2] Dalam kacamata intelijen ada sebuah prinsip terkenal, “Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini.” Segala kenyataan yang kita anggap kebetulan, spontanitas, pada dasarnya tidak benar-benar spontanitas. Seringkali wajah dunia ini dibentuk oleh konspirasi tingkat tinggi. Contoh, hancurnya Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur, bukanlah secara kebetulan, tetapi memang di-setting seperti itu. Begitu pula, hancurnya WTC 11 September 2001 dan propaganda perang anti terorisme, itu juga bukan hal yang kebetulan. Bahkan menurut Tim Weiner, di balik Reformasi Indonesia tahun 1998 ada kucuran dana US$ 26 juta dari USAID untuk membiayai proses Reformasi itu.

[3] Pemeran utama yang menyebarkan api revolusi ke seluruh wilayah Arab adalah media-media massa, khususnya TV Aljazeera, facebook, Reuters, dll. Inilah pemeran utama tersebarnya Revolusi Arab itu. Tanpa peran mereka, khususnya Aljazeera, tidak akan meluas revolusi. Harus diingat, yang menyebarkan Reformasi 1998 di Indonesia juga media-media TV, seperti RCTI, SCTV, Indosiar, dll. Begitu pula, yang mengobarkan kampanye “perang anti terorisme” di seluruh dunia, adalah CNN dan TV-TV Amerika. Coba perhatikan, ketika FPI berkali-kali membuat demonstrasi besar di Jakarta (seperti bunderan HI baru-baru ini) tak ada satu pun media TV di Indonesia yang mau mempromokan aksi FPI. Akibatnya, masyarakat tidak tahu aksi tersebut. Media massa, terutama media TV, selalu menjadi senjata bagi kaum kapitalis untuk menginvasi suatu negara.

[4] Perhatikan, bagaimana sikap Obama, sikap PBB, atau pemerintah negara Eropa, ketika terjadi Revolusi Arab. Mereka sangat mendukung demo-demo rakyat tersebut. Bahkan Obama tanpa tedeng aling-aling ikut menggulingkan Husni Mubarak, dan kini ikut menggulingkan Qaddafi di Libya. Pertanyaannya, apakah Obama melakukan semua itu gratis tanpa imbalan politik? Bahkan pertanyaan selanjutnya, kemana saja Obama dan negara-negara Barat selama ini? Mengapa baru sekarang mereka mendukung gerakan rakyat itu? Padahal kezhaliman diktator-diktator Arab itu sudah berjalan selama puluhan tahun. Qaddafi di Libya sudah 40 tahunan. Sangat memalukan. Negara Eropa, Bank Swiss, Pemerintah Amerika, dll. kini tiba-tiba berlagak pro rakyat Mesir atau Libya. Padahal mereka selama ini ikut memelihara dan menjaga para diktator itu?

[5] Mengapa negara-negara Eropa dan Amerika membiarkan diktator-diktator Arab itu untuk digusur, padahal seperti Husni Mubarak itu bisa dikatakan sudah menjadi “anjing Amerika dan Israel”? Mengapa mereka tidak membela diktator-diktator itu? Jawabnya sangat mudah. Lihatlah nasib Saddam Husein, Soeharto, dan Reza Pahlevi. Mereka itu pada mulanya juga menjadi tokoh-tokoh kesayangan negara Barat. Soeharto itu bahkan disebut sebagai “good boy”. Tetapi, ketika pemimpin-pemimpin itu sudah mulai banyak maunya dan tidak bisa dipakai lagi, ya mereka pun diumpankan ke rakyatnya agar dihabisi rakyatnya sendiri.

[6] Kita harus ingat dan cermat. Sebelum Revolusi Arab ini muncul, Sudan sudah dirongrong dengan referendum di wilayah Sudan Selatan. Hasilnya, rakyat Sudan Selatan memilih memisahkan diri dari Sudan.  Banyak pemimpin Arab kecewa dengan hasil referendum itu. Di mata Amerika dan Eropa, mereka jelas mendukung keputusan rakyat Sudan Selatan. Tetapi pemimpin-pemimpin Arab, dalam forum Liga Arab, sangat menyesalkan hasil referendum itu. Hal ini menandakan, ada “keretakan politik” antara Barat dengan pemimpin-pemimpin diktator itu. Maka munculnya Revolusi Arab, tidak bisa dipisahkan dari referendum di Sudan ini. Bahkan, seolah Sudan dibuat susah dulu agar sibuk dengan urusan internalnya. Setelah Sudan sibuk, baru api Revolusi Arab dimulai.

[7] Pertanyaan yang selalu menggelisahkan ialah, “Apakah setelah Revolusi Arab ini, masyarakat disana akan memilih Islam, memilih Syariat Islam, atau memilih Negara Islam?” Jika itu pilihannya, jelas kita sangat mendukung semua proses Revolusi Arab ini. Tetapi apa jaminannya bahwa Revolusi itu akan sampai kesana? Jangan-jangan, semua Revolusi ini hanyalah pintu untuk memaksakan ideologi DEMOKRASI LIBERAL ke tengah-tengah masyarakat Arab, seperti demokrasi itu telah 13 tahun hidup di Indonesia? Ya, sampai saat ini tidak ada tanda-tanda bangkitnya politik Islami di balik Revolusi-revolusi itu.

[8] Kita jangan silau oleh sikap pemimpin-pemimpin Barat atau Israel yang mengaku “cemas”, “resah”, “kalang-kabut”, “bingung”, “tidak menyangka”, dll ketika kini terjadi Revolusi Arab. Semua itu hanya kepura-puraan belaka. Demi Allah, negara-negara Barat itu tahu persis dengan Tragedi WTC 11 September 2001. Mereka juga tahu persis dengan motiv di balik invasi ke Irak dan Afghanistan. Mereka tahu bagaimana kekejaman Serbia di Bosnia. Mereka tahu persis! Tapi apa tindakan mereka? Mereka pura-pura tidak tahu. Mereka berlagak sok tolol.

Saudaraku rahimakumullah…

Soal kekejaman diktator-diktator Arab itu, tak ada keraguan lagi. Mereka memang benar-benar kejam, zhalim, biadab, dan berlumuran darah Ummat. Dan menjadi pertanyaan kita, “Mengapa pemimpin-pemimpin Arab cenderung bersikap diktator dan kejam? Mengapa mereka tidak bersikap santun, luas wawasan, bijak, dan mengutamakan dialog?”

Kalau dirunut-runut, hal ini terkait dengan TABI’AT masyarakat Arab sendiri yang bisa dibilang “berdarah panas”. Masyarakat Arab sudah terkenal dengan sifat demikian. Suatu pertikaian atau konflik kecil bisa menjadi sangat serius dan berdarah-darah. Sulit menyatukan bangsa Arab, sehingga mereka mau bersepakat dalam prinsip-prinsip tertentu secara kolektif. Sulit sekali. Nah, iklim “darah panas” seperti inilah yang mendorong munculnya pemimpin-pemimpin “berdarah panas” juga. Tegaan, main sikat, zhalim, dan sewenang-wenang. Bila ada pemimpin peragu seperti di Indonesia, lalu memimpin negara Arab, dijamin tak akan lama umurnya.

Tabi’at masyarakat Arab cenderung keras dan kuat. Rasa percaya dirinya luar biasa. Maka tabi’at seperti itu di bawah naungan Islam mendapatkan tempat yang tepat. Islam mengajarkan kasih-sayang, sikap menghormati, tolong-menolong, setia kawan, saling peduli, dsb. Di bawah naungan Islam, tabi’at bangsa Arab mendapatkan wadah untuk tumbuh secara maksimal, menghasilkan peradaban-peradaban luar biasa. Namun kalau tabi’at itu ada bersama paham kesukuan, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, disana akan muncul masalah-masalah yang banyak. Bangsa Arab hanya bisa cocok dengan akidah Islam. Bukan selainnya.

Seharusnya, saat ini bangsa Arab memilih Islam untuk menjadi Dusturul Hayah. Hanya dengan Islam, mereka akan damai, terhormat, dan mendapat kejayaan. Tabi’at mereka tidak cocok dengan paham selain Islam. Buktinya, ketika mereka mengambil paham nasionalism, kesukuan, atau sosialisme; maka lahirlah diktator-diktator kejam seperti Husni Mubarak, Ben Ali, Qaddafi, dll.

Kecemasan di hati kita, kalau setelah Revolusi Arab ini, bangsa Arab mengambil ideologi DEMOKRASI LIBERAL. Inilah ketakutakan kita. Demokrasi liberal jelas jauh lebih berbahaya daripada Husni Mubarak, Ben Ali, Qaddafi, dan kawan-kawan. Demokrasi liberal bisa menghancurkan Islam dari berbagai sisi. Kalau kelak negara-negara Arab hancur oleh demokrasi liberal, jelas Islam juga akan hancur. Bagaimanapun Arab adalah benteng Islam.

Kini masalahnya: “Bagaimana cara membawa Revolusi Arab saat ini menjadi Revolusi Syariat Islam, sehingga negeri-negeri Arab berkenan secara tawadhu’ dan ridha hidup di bawah naungan Islam?” Hanya ini solusinya. Kalau memilih demokrasi liberal -seperti di Indonesia- jelas Arab akan hancur, lalu Islam pun hancur. Na’udzubillah wa na’udzubillah tsumma na’udzubillah min dzalik.

Anda punya SOLUSI…

Bumi Allah, 28 Februari 2011.

AM. Waskito.

Iklan

Bay Necmettin Erbakan Telah Wafat…

Februari 28, 2011

Najmuddin Erbakan Rahimahullah. Telah Melintasi Panjangnya Suka-duka dalam Rangka Membela ISLAM.

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun. Pada hari Ahad 27 Februari 2011 kemarin, dunia Islam kehilangan salah satu tokoh besarnya. Mantan Perdana Menteri Turki, Necmettin (Najmuddin) Erbakan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu. Amin Allahumma amin.

Mengenang Bay (Tuan) Erbakan seperti mengenang mutiara-mutiara Islam yang sangat langka. Hati kita kagum dan haru mengingati keteguhan, keberanian, serta pembelaannya yang tidak pernah surut terhadap Islam. Masya Allah ya Karim ya Rahmaah…melepas pergi sosok seperti beliau seakan hanya melukai hati kita sendiri, dalam kesedihan dalam duka cita, yang tidak tahu bagaimana mengobatinya?

Bay Erbakan, kalau melihat beliau dari wajah dan penampilannya…seakan jauh dari wajah seorang ulama yang militan dengan ciri khas janggut yang lebat. Beliau tampak sederhana. Tetapi semua orang paham betapa besar dan kuatnya BARA KEIMANAN dalam hatinya, ketika beliau menyuarakan kepentingan Islam dan kecemburuannya kepada agama ini.

Memasuki belantara politik Turki dengan membawa missi Islam, tak ubahnya seperti menyerahkan leher dan keselamatan keluarga kepada maniak-maniak sekuler yang setengah mati membenci Islam. Namun Necmettin Erbakan tidak mempedulikan semua itu. Dengan tekun, dengan sabar, dengan konsisten beliau terus menawarkan politik Islami ke bangsanya sendiri, Turki. Puluhan tahun beliau melakukan hal itu, sampai akhirnya rakyat Turki bisa memahami hadirnya partai Islam.

Tahun 1995 beliau bersama Partai Refah (Partai Kesejahteraan) mengikuti Pemilu Turki. Itu pertama kalinya partai Islam diperbolehkan ikut Pemilu. Hasilnya, partai beliau menang dengan angka sekitar 30 %. Dengan kemenangan itu beliau berhak membentuk kabinet. Karena suara kurang, beliau berkompromi dengan partai sekuler di bawah Tansu Ciller. Pemerintahan Turki waktu itu dijabat oleh dua PM secara bergantian. Beliau sempat menjadi PM Turki pada tahun 1996-1997.

Ketika menjadi PM Turki, Bay Erbakan melontarkan gagasan luar biasa, yang membuat hati kita begitu terpana, tak percaya. Beliau waktu itu mengajak bangsa Turki untuk mengemis-ngemis kepada Eropa. Beliau mengajak negara Turki untuk tidak terobsesi menjadi bagian dari Eropa. Selain itu, beliau juga mengkritik keras PBB (United Nations) yang dituduh selalu tidak adil kepada Islam. Beliau mengajak dunia Islam, khususnya kawasan Timur Tengah untuk membentuk “PBB” sendiri yang beranggota negara-negara Muslim.

Bay Erbakan bukanlah orang yang suka berpura-pura demi alasan kemenangan politik. Politik di matanya adalah sarana untuk memperjuangkan Islam itu sendiri. Politik beliau berbeda dengan politik recehan yang diklaim aktivis-aktivis Muslim tertentu. Beliau konsisten dengan Islam, dan tidak takut menghadapi resiko sebagai seorang Muslim. Seolah beliau ingin mengatakan, “Fasyhadu bi anna muslimin.”

Ketika di Turki dan dunia Islam dilanda demam (euforia) dengan kemenangan Partai AKP di Turki, di bawah pimpinan PM Recep Tayib Erdogan, maka Bay Erbakan tidak bergeser dari sikap politiknya. Politik beliau berbeda dengan AKP. Ibaratnya, beliau tetap bertahan dengan politik Islam murni, 24 karat. Beliau tidak mau berpura-pura, atau menyembunyikan keislaman demi kemenangan politik.

Puluhan tahun Bay Erbakan merintis tampilnya politik Islam di kancah politik Turki. Segala suka-duka sudah dirasakannya. Kemudian, politik beliau dianggap ekstrem, dianggap terlalu kental keislamannya. Lalu sebagian yunior beliau memisahkan diri, kemudian membentuk partai dengan semangat Islam yang lebih cair, yaitu AKP. Ternyata partai AKP itu lebih disukai warga Turki daripada garis politik Necmettin Erbakan. Tetapi…beliau tidak goyah. Tetap teguh dengan pendirian politiknya.

Setelah Partai Refah dilarang oleh hukum di Turki; tahun 1997 beliau ikut mendirikan partai baru, “Partai Kebajikan”. Partai Kebajikan kemudian dianggap melanggar konstitusi Turki dan dilarang lagi tahun 2001. Bay Erbakan tidak menyerah, beliau mendirikan lagi “Partai Kebahagiaan” tahun 2003-2004. Beliau tetap di partai ini sampai wafatnya. Beliau tidak pernah tertarik untuk masuk ke Partai AKP yang kini berkuasa di Turki.

Bay Necmettin Erbakan tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan Islam, secara terang-terangan, meskipun terus-menerus dimusuhi kalangan sekuler. Tiada henti, tiada letih, tiada putus-asa beliau menyuarakan missi politiknya, untuk: “Mengingatkan bangsa Turki akan kejayaan sejarahnya di bawah naungan Khilafah Islamiyyah.” Inilah missi utama beliau, mengajak bangsa Turki kembali kepada Islam.

Kehidupan Bay Necmettin Erbakan rahimahullah seperti sebuah MONUMEN besar untuk mengenang: keteguhan, komitmen, cinta, dan pembelaan total kepada Islam. Tidak ada kompromi untuk membela Islam, dan tidak perlu pula berpura-pura. “Siapa yang malu dengan karakter Islam, maka Islam pun malu kepadanya.”

Melepas kepergian Bay Erbakan, seperti melepas kepergian seorang Muslim yang TIDAK DISESALI kehidupannya, tidak diragukan perjuangannya, dan tidak samar loyalitasnya. Sungguh, beliau sudah memberikan apa bisa diberikan kepada Islam ini. Sampai di akhir hayatnya, beliau terus memperjuangkan kembalinya Turki ke tangan Islam.

Adapun kita disini…hanya bisa mengenangi semua ini, hanya bisa mendoakan beliau, dan menahan kesedihan. Hati kita merintih kepada Allah, “Ya Rabbana, begitu cepatnya Ummat ini ditinggal oleh orang-orang yang utama. Kami ditinggal pergi oleh tokoh-tokoh perkasa. Kami ditinggal bersama Ummat ini dengan seribu satu masalah yang menderanya. Sedangkan kami terlalu lemah, tidak sekuat tokoh-tokoh itu. Ya Rabbana, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dan perlindungan.”

Sayyid Necmetiin Erbakan telah berpulang ke rahmatullah. Semoga kita bisa mengambil bagian dari jejak-jejak perjuangan, pembelaan, dan cinta beliau yang LUGAS kepada agama ini. Allahumma amin ya Rabbal ‘alamiin.

Bumi Allah, 28 Februari 2011.

AMW.


BUKU BARU: Informasi Penting

Februari 24, 2011

Bedah Buku di IBF Jakarta, 13 Maret 2011 (hari terakhir).

TEKS COVER BELAKANG

Apa jadinya jika republik kita ini tidak benar-benar berdaulat? Pastilah
penguasa harus menutupi ketidakberdaulatannya dengan kebohongan ke publik.
Apalagi jika rakyatnya sendiri tidak tahu dan menikmati begitu saja kebohongan
ini.

Tengoklah berbagai kebijakan dan penanganan terhadap kasus-kasus besar yang
telah membetot perhatian publik. Mulai dari kasus Century, mafia pajak,
rekening gendut para jenderal, angka kemiskinan yang dimanipulasi, terorisme, dan lain
sebagainya tak ubahnya sandiwara yang dipertontonkan lewat media massa.
Masyarakat dicekoki dengan fakta-fakta palsu yang telah dibungkus kebohongan.
Rakyat sebagian sudah sadar dan tidak percaya lagi dengan pernyataan pejabat,
atau bahkan apa yang disajikan oleh media. Mereka mulai sadar, betapa kejujuran
begitu murah harganya di negeri ini.

Maka bagaimanakah kita hendak berharap keberkahan akan tersemai di negeri ini,
padahal Rasulullah telah bersabda:
"...... Dan sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, yang akhirnya akan
mengantarkan ke dalam neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta hingga dicatat
di sisi Allah sebagai pendusta." (HR Bukhari Muslim). 

Buku ini membedah berbagai praktik kebohongan publik yang terjadi di negeri
ini. Siapakah yang bermain dalam sandiwara kebohongan ini? Dalam buku ini, penulis
mengulas berbagai hal seperti liberalisme di segala hal, kasus century, mafia
hukum, ajakan konfrontasi dengan Malaysia, terorisme dan lain-lain.

Sumber: BURSA-BUKU.

=====================================================

BEDAH BUKU INI DI “IBF”

Hadiri pula acara bedah buku "Republik Bohong" di Islamic Book Fair 1432/2011

Hari/Tanggal: Ahad, 13 Maret 2011.
Pukul: 16.00 - 18.00 WIB.
Tempat: Ruang Anggrek Lt. 2, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Nara Sumber:    Abu Muhammad Waskito (penulis) & Mahendradata (Tim Pembela Muslim). 

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

CP: Handono (0815-8064605)

Sumber: BURSA-BUKU.

=======================================================

DAFTAR ISI BUKU

Berikut daftar isi buku “Republik Bohong”:


Pengantar Penerbit ––– v
Pengantar Penulis ––– ix
Kalam Pembuka ––– 1
PARA AHLI BICARA TENTANG INDONESIA ––– 7
Apakah Karena Kutukan Allah? ––– 8
Puisi: “Negeri Para Bedebah” ––– 13
Serigalakan Bangsa Ini ––– 15
Syair Taufiq Ismail ––– 22
Siapa Kita? ––– 28
Membuka Topeng “Negara Gagal” ––– 32
Dana 26 Juta Dollar dari Amerika  ––– 35
DPR Cukup Efektif  ––– 39
Indonesia Dihancurkan IMF  ––– 44
Pandangan Prof. Mahfudh MD.  ––– 51
Bangsa Muslim, Tetapi Hobi Klenik ––– 54
RAKYAT INDONESIA MUDAH DITIPU ––– 71
Bangsa Sakit Seharga “180 M”  ––– 72
Nasib Ngenes Kompor BPPT ––– 80
Pengkhianatan Para Pengamat Ekonomi  ––– 84
Kebohongan Publik di Balik Bailout Bank Century  ––– 93
Kebohongan Menteri Perekonomian! ––– 105
AC Manullang: “Penangkapan Ba’asyir adalah Grand
Strategy Amerika Serikat” ––– 116
Kronologi Peristiwa Terorisasi di Aceh ––– 123
Keanehan Fenomena Terorisme di Indonesia  ––– 127
Ofensif kepada Islam ––– 128
Desain Kasus Teror ––– 130
Indonesia Sebagai Target ––– 134
Makna Isu Terorisme ––– 136
Penipuan Terbesar Abad 21 ––– 138
Siapa Patriot NKRI? ––– 142
Ide Perang Indonesia Vs Malaysia ––– 151
Antara Ustadz dan Politisi  ––– 160
Bukan Soal Keberanian ––– 161
Takut Resiko ––– 162
Masalah Kritis ––– 163
Mental Politisi ––– 164
Orang Lemah, Jangan Ditipu!  ––– 166
Monumen Yahudi Berdiri Megah di Manado ––– 172
MEMBEDAH AKAR MASALAH BANGSA ––– 177
Benarkah Rakyat Indonesia Sudah Cerdas? ––– 178
Karakter Minder Bangsa Kita ––– 186
Sejarah Bangsa Minder  ––– 187
Minder Secara Kultural  ––– 194
Menegakkan Syahadat  ––– 197
Mengapa Shaum Kita Gagal?  ––– 200
Dominasi Islam Mataram  ––– 205
Sebab Kejayaan Bangsa  ––– 206
Islam Versi Mataram  ––– 208
Islam Orang Indonesia ––– 210
Islam Bercampur Kemusyrikan ––– 213
Semua Teori Sia-sia  ––– 215
Tradisi Kita, Melanggar Hukum! ––– 217
Realitas Penjajahan Baru di Indonesia  ––– 224
Mengapa Masyarakat Tidak Menghargai Dakwah Islam?…. 234
Lima Penyakit Bangsa ––– 243
Islam dan Isu Kebangsaan  ––– 249
PROBLEMA BANGSA DAN SOLUSI ISLAM ––– 259
Mengapa Islam Selalu Dibenci? ––– 260
Keagungan Ajaran Islam ––– 266
Antara Syariat Islam dan NKRI ––– 278
Kesamaan Akar Historis  ––– 278
Membantah Fitnah Keji  ––– 280
Trauma Gerakan DI/TII  ––– 284
Apakah Bangsa Indonesia Jujur?  ––– 287
Pertanyaan Menggelitik  ––– 290
Kearifan Konsep Piagam Jakarta ––– 294
Apakah Hukum Islam Kejam? ––– 305
Menilai Keadilan Hukum  ––– 309
Kenangan Perjalanan Umrah (Indahnya Negeri Islami) ––– 314
PENUTUP: Bangsa Kita Termakan Fitnah ––– 323
Tentang Penulis ––– 330
Sumber: Blog Ustadz Abduh Zulfidar, Lc.

======================================================


BUKU BARU: Mau Kemana Kita?

Februari 24, 2011

Masihkah Ada Harapan? Ada...

Kalau membaca, merenungkan, dan menelisik kehidupan bangsa Indonesia saat ini, isinya pasti didominasi oleh cerita-cerita duka. Terlalu banyak fakta kehidupan yang membuat hati kita terasa nyeri.

Pernahkah Anda membayangkan, ada ribuan warga Indonesia berada di luar negeri, hidup di kolong jembatan, hidup seperti sampah dan memproduksi banyak sampah? Lalu ditancapkan bendera Indonesia di tengah-tengah komunitas kolong jembatan itu? Pemerintah RI di negeri itu tidak turun tangan membantu; selalu menyalahkan warga; makan-minum dan kesehatan, KBRI tidak memberi bantuan apapun. Warga kita disana akhirnya mengandalkan bantuan masyarakat sekitar yang merasa kasihan melihat kaum nelangsa itu.

Nah, potret semacam itu hanya ada di negeri ini, Indonesia. KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Gontor, menulis esay yang judulnya, “Serigalakan Bangsa Ini“. Dalam esay yang perih berisi kritik-kritik tajam itu, beliau mempertanyakan, “Inikah yang namanya bangsa merdeka itu?” Begitu pula, keprihatinan maestro penyair Indonesia, Bung Taufiq Ismail. Beliau menyebut era Reformasi telah ditungganggi oleh GSM (Gerakan Syahwat Merdeka). Salah satu produknya ialah SMS (Sastra Madzhab Selangkangan). Sebutan SMS itu membuat marah para penggiat seni liberal yang senang memperjual-belikan tubuh wanita dan seks.

Dalam buku ini, dua tulisan penting tersebut dikutip, untuk memberikan taushiyah, pandangan, sekaligus menggugah kesadaran Ummat. Masih ada tokoh-tokoh lain, seperti: Prof. Steve Henke, Amran Nasution, Dr. AC. Mannulang, Prof. Mahfudh Md., dll.

Dulu Soekarno menulis buku, “Indonesia Menggugat!” Buku itu merupakan isi pembelaan Soekarno atas tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kolonial kepadanya. Kini, kaum Muslimin sudah selayaknya bicara, “Islam menggugat!”

Mengapa?

Karena Islam sangat besar jasanya bagi negeri ini, sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara dulu. Namun jasa-jasa Islam itu tidak pernah diakui, bahkan sejak regim Soekarno, Soeharto, Gusdur, Mega, sampai SBY; mereka selalu menempatkan Islam, sebagai musuh bangsa. Dan herannya, mereka bisa bersekutu dengan manusia-manusia bengis dari manapun; namun tidak pernah mau toleransi kepada Ummat Islam.

Di negeri ini, Ummat Islam selalu menjadi batu yang diinjak-injak; semua kepentingan politik butuh dukungan Ummat agar mencapai eksistensi. Namun setelah eksis, mereka melukai, menindas, dan menzhalimi missi pembangunan Islam sedalam-dalamnya.

Namun, tetap saja. Semua itu adalah perhitungan tangan dan akal kita. Allah Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah selalu memiliki SIMPANAN rahmat bagi hamba-hamba-Nya yang istiqamah di jalan-Nya. Simpanan itu akan selalu terbuka dan dibuka, meskipun kita tidak tahu momentumnya.

Manusia jahat dan satanic, bisa menipu, menindas, dan menganiaya pejuang dan perjuangan Islam. Tetapi Allah Ta’ala akan selalu menjaga dan menolong hamba-hamba-Nya. ‘Alaihi tawakkalnya laa haula wa laa quwwata illa billah.

AMW.


BUKU BARU: “Republik Bohong!”

Februari 24, 2011

Alhamdulillah, dengan nikmat dan pertolongan Allah, akhirnya buku ini terbit juga. Judulnya: “REPUBLIK BOHONG: Hikayat Bangsa yang Senang Ditipu“. Diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar, Jakarta. Cetakan pertama, Februari 2011. Ukuran buku standar: 13,5 cm x 21,5 cm. Jumlah halaman: xiv + 330. Harga pasaran: Rp. 54.000,-

Ada 4 Bab penting dalam buku ini: Para Ahli Bicara tentang Indonesia, Rakyat Indonesia Mudah Ditipu, Membedah Akar Masalah Bangsa, dan Problema Bangsa & Solusi Islam. Awal buku dimulai dengan Pengantar dan Kalam Pembuka; akhir buku ditutup dengan Penutup.

Negara Tanpa Hakikat, Tanpa Eksistensi.

Buku ini termasuk genre Nahyul Munkar. Saya coba mengungkapkan sebuah tesis besar, bahwa sebenarnya: Bangsa Indonesia itu tidak nyata, hanya nama tanpa hakikat, sebatas identitas tanpa eksistensi. Apa yang selama ini disebut NKRI, Pemerintahan RI, atau Bangsa Indonesia, hanyalah formalitas belaka. Hakikatnya tidak ada.

Negara dibentuk, didirikan, dibangun, PADA HAKIKATNYA adalah untuk: menjaga rakyatnya, memelihara rakyatnya, memberdayakan rakyatnya, membahagiakan rakyatnya, memuliakan hidup mereka. Sebab, bila tidak untuk tujuan itu, maka tidak ada perlunya kita membentuk negara. Buat apa membentuk negara, kalau akhirnya negara itu sendiri menzhalimi, menindas, dan menjajah rakyatnya sendiri?

Nabi Muhammad Saw mendirikan negara Islam di Madinah, ialah demi menjaga kehidupan kaum Muslimin. Lalu tujuan itu beliau tunaikan sebaik-sebaiknya, sehingga dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin” [tidaklah Kami utus engkau (Muhammad), melainkan agar menjadi rahmat bagi alam semesta].

Negara RI selama ini pada hakikatnya adalah “konsep bohong”. Secara formal, negara ini berdasar nilai-nilai moral yang tinggi. Tetapi secara faktual, semua itu tak ada REALITAS-nya. Konsep Pancasila, UUD 1945, atau konsep-konsep moral lainnya, telah dilemparkan ke tong sampah, sejak lama.

Tidak Ada Niat Baik Membangun Bangsa. Yang Ada Hanya: Kemunafikan!!!

Dan sayangnya, banyak orang berpikir pragmatis, “Emangnya gue pikirin?” Nah, itulah… Rakyat negara ini tidak mau hidup menderita; inginnya hidup penuh kesenangan dan tawa-canda; tetapi mereka enggan membayar harga dari kehidupan senang yang mereka inginkan itu.

Seakan, kegelapan telah menjadi “penerang”, dan cahaya dianggap sebagai kegelapan. Nas’alullah ‘al ‘afiyah lana wa lakum jami’an. Allahumma amin.

AMW.


Masa Depan Islam di Mesir

Februari 21, 2011

Ada sebuah tulisan bagus yang disusun oleh Ustadz Fathuddin Ja’far di eramuslim.com. Tulisan itu adalah sebagai berikut: Revolusi Mesir dalam Perspektif Gerakan Islam Masa Depan. Dimuat di kolom ANALISA, 19 Februari 2011. (Mohon tulisan itu dibaca dulu!).

Tulisan ini menjadi menarik, karena beberapa alasan:

[=] Ustadz Fathuddin termasuk salah satu ustadz tarbiyah yang concern dengan pola pemikiran-perjuangan Al Ikhwan. Bahkan komitmen ini sudah ada sejak era sebelum partai dulu. Dalam tulisan tersebut, seolah beliau mempertanyakan vitalitas Al Ikhwan yang tidak berani menyuarakan slogan perjuangan Islam secara jelas dan tegas.

[=] Ketika saat ini banyak orang optimis dengan masa depan Mesir, Ustadz Fathuddin justru pesimis, sebab kata beliau revolusi di Mesir tidak ada tanda-tanda mengarah ke revolusi Islam, sebagaimana yang dicita-citakan gerakan Islam di seluruh dunia.

Kemengan Tahrir Square: Untuk Islam atau Sekuler Demokrat?

[=] Ustadz Fathuddin memberi cukup alasan yang layak dipertimbangkan, untuk mendukung main idea yang beliau sampaikan. Andai, pemikiran itu ditolak, para penolaknya harus menghadirkan alasan-alasan yang kuat pula.

Sekedar referensi. Setahu saya, Ustadz Fathuddin Ja’far termasuk salah satu ustadz tarbiyah yang namanya sudah masuk “most black list person” di mata salah satu partai politik tertentu. Itu tuh, komunitas yang diklaim sebagai partai anak muda, partai dakwah, partai kreatif, partai paling solid, partai banyak intelek mudanya, partai yang kalau demo sering menyuruh-nyuruh akhwat panas-panasan di jalan, partai kepanjangan tangan Al Ikhwan Mesir, dll. (Semoga Anda paham yang saya maksud).

Beliau sudah concern dengan analisa politik sejak era sebelum reformasi dulu. Saya masih ingat, beliau pernah menulis buku politik, lalu menjadi pembicara bedah buku di masjid Kampus Unisba Bandung. Beliau juga pernah menulis kritik tajam terhadap manuver politik Amien Rais di awal-awal Reformasi dulu. Tulisan itu dimuat di kolom Sabili. Bisa dikatakan, “Beliau bukan orang baru di bidang analisa politik gerakan Islam.”

Nah, kesimpulan dari tulisan panjang Ustadz Fathuddin Ja’far itu adalah di bagian ini: “Berdasarkan kesamaan fenomena reformasi Indonesia dengan revolusi Mesir sekarang ini, penulis meyakini MASA DEPAN MESIR TIDAK AKAN JAUH BERBEDA DENGAN INDONESIA. Perubahan yang terjadi di Mesir hanya konstitusional yang bersifat KERTAS dan tidak akan menyentuh hal-hal mendasar dalam kehidupan mayarakat Mesir yang berpenduduk Muslim mayoritas, dan hanya akan menguntungkan para tokoh aktivis revolusi dan partai-partai poltik yang dengan sukarela menganut paham demokrasi titipan Barat.

Singkat kata, dalam bahasa saya, peranan Al Ikhwan di Mesir diperkirakan tidak akan jauh beda dengan peranan “partai anu” di Indonesia sejak Reformasi 1998. Sekilas tampak Islami, tetapi tidak memiliki keberanian menyuarakan missi perjuangan Islam secara tegas. Padahal Allah Ta’ala sudah berfirman, “Wa laa takh-syauhum wakh-syauni, wa li utimma ni’matiy ‘alaikum wa la’allakum tahtadun” (Surat Al Baqarah).

Satu indikasi, banyak pihak selama ini percaya bahwa revolusi di Mesir digerakkan oleh aktivis-aktivis Al Ikhwan. Baik Mubarak, Omar Sulaiman, maupun militer Mesir juga menuduh demikian. Sebenarnya, disana ada peluang besar bagi Al Ikhwan untuk mendapat posisi politik yang kuat di mata rakyat Mesir. Mestinya, mereka MENGAKU saja bahwa revolusi itu mereka gerakkan. Terlepas, apakah pengakuan itu benar atau tidak. Kan itu sebuah PELUANG POLITIK BESAR untuk menguasai Mesir. Tapi sayangnya, Al Ikhwan berkali-kali membantah bahwa dirinya yang menggerakkan revolusi Mesir. Padahal bila mau mengaku (meskipun tidak benar), mereka akan mendapat keuntungan politik besar setelah Mubarak tumbang.

Ya, itu sih. Selalu pertimbangan fiqih siyasah yang dilakukan. “Kita harus berpura-pura tidak melakukan sesuatu, demi menyelamatkan aset-aset kehidupan kita. Kalau kita jujur, nanti mereka akan menghancurkan kita sampai ke akar-akarnya.” Ya, logika taqiyyah itu yang selalu digunakan, dimana-mana. Tidak disana, tidak di Indonesia.

Rata-rata gerakan Islam, di berbagai negara, kalau sudah mencapai kemapanan, memiliki banyak aset-aset, memiliki aneka sarana-prasarana, mencapai taraf kesejahteraan yang tinggi pada tokoh-tokohnya, dll.; memang cenderung jadi melunak. Akhirnya, ujung perjuangan organisasi itu bukan untuk cita-cita Islam yang tinggi, tetapi lebih menyempit ke cita-cita “mempertahankan kesejahteraan dan status sosial” bagi kalangan tertentu. Seperti kata sebagian orang, “Siapa menaiki siapa? Islam menaiki kita, atau kita yang menaiki Islam?” Begitulah…

Bagaimanapun, kita tetap berharap agar hasil akhir perubahan politik di Mesir itu, menjadi masa depan yang lebih baik bagi kaum Muslimin di Mesir, di Palestina, di Indonesia, dan di seluruh dunia. Allahumma amin.

AM. Waskito.


E-Book dan Soft Copy

Februari 20, 2011

Beberapa waktu lalu saya berjanji kepada pembaca blog untuk membuat semacam e-book dari naskah-naskah yang ada di blog ini. Begitu pula, saya pernah janji ke seorang kawan yang sedang studi di Jepang, akan memberikan kepada beliau beberapa naskah soft copy buku-buku yang ada di saya.

Namun, dengan keadaan yang ada dan hambatan-hambatan teknis tertentu, DENGAN BERAT HATI & MOHON KEMAAFAN, janji tersebut tidak bisa saya penuhi. Sekali lagi, mohon maaf saya tidak bisa memenuhi janji-janji tersebut. Termasuk memberi soft copy naskah buku ke ikhwan budiman di Jepang tersebut.

Ada beberapa hal yang ingin disampaikan…

[1] Kalau pembaca mau mendapat e-book atau soft copy, sebenarnya caranya sangat mudah. Tinggal lihat bagian KATEGORI di blog ini. Disana ada sebanyak 29 topik kategori. Nah, naskah-naskah yang berada dalam satu kategori, rata-rata memiliki tema sama. Hal itu bisa dijadikan koridor untuk menyusun e-book sendiri.

[2] Untuk menyusun e-book bisa memakai format Ms Word, PDF, atau CHM bagi yang bisa mengaplikasikannya. Terserah mana yang mungkin dilakukan.

[3] Seperti biasa, kalau Anda mengolah naskah dari sumber blog ini, perlu disebutkan sumbernya, jangan ditambah atau dikurangi, kecuali dalam batas perbaikan-perbaikan redaksional. Ya, seperti ketentuan pihak-pihak lain.

[4] Kalau dalam satu kategori terdapat banyak naskah, sehingga sulit disatukan dalam satu file, silakan dipecah dalam beberapa file, sesuai kelapangan Anda.

[5] Sebagian besar kategori bisa dibangun menjadi e-book. Tetapi ada beberapa kategori yang sebaiknya tidak dibuat e-book. Misalnya kategori “Kesehatan”. Tulisan di dalamnya masih sedikit. Kategori “Personal” isinya juga masih sedikit. Kategori “MyBooks” dan “Umum” juga tak perlu dibuat e-book. Ia cenderung berisi tentang pengumuman atau promo.

[6] Khusus untuk kategori yang bersifat politik praktis, seperti: “PKS Area”, “Politik Mania,” dan “SBY & Demokrat”. Sebaiknya, tidak usah dibuat e-book. Kecuali, kalau mau membuat dokumentasi politik. Mengapa disarankan tidak disusun e-book? Sebab sifatnya politik praktis. Politik seperti itu temporer dan kondisional, sesuai situasi yang berkembang. Jadi resiko terjadinya perubahan sikap suatu entitas politik sangat tinggi.

[7] Apabila berkenan, jika sudah ada yang membuat e-book, boleh memberikan copy-nya ke e-mail ini: abisyakir1000[at]gmail.com. Tetapi ini sifatnya hanya saran; atau bolehlah dianggap semacam test untuk menguji kemurahan hati hamba-hamba Allah budiman.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Syukran jazakumullah atas segala perhatian. Mohon maaf atas semua salah dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Bandung, 20 Februari 2011.

AM. Waskito.