Sakit Berat Menimpa…

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Dalam waktu sebulan ini, Allah Ta’ala menakdirkan saya sakit. Sakit cukup berat, usus buntu. Karena sakit ini, saya harus dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi besar di bagian perut. Seperti seorang wanita yang baru melahirkan dengan cara cesar (meskipun tidak selebar itu).

Sakit datang tiba-tiba. Tidak pernah terbayang akan mengalami cobaan seperti ini. Ya, Allah Ta’ala Maha Hakim, Dia meletakkan setiap mushibah sesuai ukuran dan hikmah-Nya. Aku hanya bisa tertegun, tidak menyangka. Namun Allah telah membawaku menjalani “safar khusus”, merasakan perihnya hari-hari ketika sebagian nikmat sehat di tubuh diangkat oleh pemiliknya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Meskipun aku belum pernah merasakan saat kematian, tetapi perihnya jalan-jalan menuju kematian itu, setidaknya kurasakan. Alhamdulillah atas segala pertolongan Ilahuna Rabbul ‘alamiin yang masih mengasihiku, memberiku toleransi, dan memberikan “kesempatan kedua”, setelah sebelumnya berada di saat-saat kritis.

Ada sebuah hikmah menarik. Sejak kecil aku sudah diingatkan tentang  bahaya sakit “usus buntu”. Harus hati-hati kalau makan makanan yang berbiji, seperti cabe, jambu biji, semangka, dll. Namun peringatan itu aku anggap sepi. Sungguh, aku acuhkan. Sikap demikian terpelihara sampai saat aku dewasa. Beberapa bulan sebelum sakit, seorang teman mereview ulang peringatan tentang “usus buntu” ini. Lagi-lagi aku anggap sepi. Ternyata…di balik sikap meremehkan itulah Allah menurunkan ujian kepadaku. Ya Rabbi, ujian ini bukan hanya mengingatkan akan semua dosa-dosa, tetapi juga menegur keras sikap meremehkan peringatan yang tidak selayaknya dilakukan.

Inilah…sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini. Di balik ketidak-hadiran bersama blog ini. Sekaligus disini ingin mengingatkan saudara-saudara tercinta, agar tidak meremehkan peringatan-peringatan dalam kehidupan. Kelihatan sepele, namun bila mushibah sudah menimpa, kita akan merasa betapa perihnya nilai sikap meremehkan itu.

Secara tulus dan khusus, aku mengucapkan terimakasih kepada dr. Faisal Fahmi dari Jakarta, yang telah memberikan analisa global dan arahan agar kami membawa penyakit ini ke RS yang kredibel. Atas saran beliau itu, alhamdulillah menolong kami menghindari resiko terburuk. Sekali lagi, syukran jazahullah khair. Dan salam untuk keluarga dan anak-anak, semoga senantiasa diberi ‘afiyat lahir-bathin, dunia akhirat. Amin. (Juga untuk kami dan pembaca budiman sekalian. Amin ya Karim).

Ini pertama kalinya saya keluar outdoor setelah hampir sebulanan berada di atas pembaringan. Mohon doanya agar Allah Ta’ala menyempurnakan pertolongan-Nya kepadaku, mengembalikan nikmat sehat dari-Nya, dan memberikan sebaik-baik hikmah untuk memperbaiki kehidupan ke depan. Amin Allahumma amin.

Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AM. Waskito.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: