Ketika Ahmadiyyah Menjadi “Benang Kusut”

Hari ini bangsa kita kembali ribut soal Ahmadiyyah. Ini bukan keributan pertama, tetapi sudah berkali-kali. Bukan pertama kalinya terjadi insiden dalam soal Ahmadiyyah. Berulang-kali juga kita ribut-ribut. Dan endingnya, tidak ada apa-apanya. Ahmadiyyah tetap seger-buger, siap menjadi isu kerusuhan di masa depan; dan FPI lagi-lagi menjadi “kambing hitam”

Mari kita lihat masalahnya…

[1] Masalah Ahmadiyyah sebenarnya bukan masalah rumit. Ini masalah sepele. Para ulama sedunia sudah sepakat, Ahmadiyyah sesat-menyesatkan, bahkan mereka kufur alias non Muslim. Jamaah Ahmadiyyah pun dilarang naik haji ke Tanah Suci. Alasan kekufuran kelompok ini sudah jelas, antara lain: Meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Rasulullah Saw, mereka meyakini Kitab At Tadzkirah sebagai rujukan utama agamanya, mereka menghapuskan Syariat Jihad fi Sabilillah. Baik Ahmadiyyah Qadiyan atau Lahore, mereka bersekutu dalam kekufuran. Hanya saja, Ahmadiyyah Lahore lebih berbelit-belit dalam menyembunyikan kekufurannya.

[2] Inti kesesatan Ahmadiyyah, baik Qadiyan atau Lahore, ialah: Mereka menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai rujukan utama ajaran agama mereka. Ini adalah kesesatan besar. Selain Mirza Ghulam itu bukan ulama, dia juga bekerja untuk kolonialisme Inggris. Orang seperti ini tidak boleh dijadikan rujukan. Selain karena tidak berilmu, dia juga ber-wala (loyal) kepada orang-orang kafir. Siapa loyal kepada orang kafir, dia pun kufur. (Surat Al Maa’idah).

Hakikat Ahmadiyyah: Memuja Pemikiran Mirza Ghulam Ahmad. Padahal Dia Bukan Ulama Sama Sekali. Tidak Ada yang Mengkuinya Ulama, Selain Inggris.

[3] Aliran sesat seperti Ahmadiyyah itu WAJIB dibubarkan. Sebab ia akan menjadi POTENSI INSTABILITAS yang akan terus-menerus menggoyang sendi-sendi kerukunan beragama. Aliran seperti ini akan menjadi duri dalam daging kehidupan kaum Muslimin di Indonesia. Ia serupa seperti missi Kristenisasi -semoga Allah melaknat kaum kufur yang terus bekerja memurtadkan Ummat Islam itu-. Jangan pernah berharap akan ada perdamaian dan kerukunan, selama aliran-aliran sesat seperti itu terus dibiarkan.

[4] Bangsa Amerika dikenal sebagai bangsa paling liberal di dunia. Bertahun-tahun lalu, aparat FBI mengepung sebuah desa yang dijadikan markas oleh aliran Advent Davidian, yang dipimpin David Coresh. Desa itu dikepung dengan senjata lengkap, dikepung dengan helikopter, bahkan melibatkan panser-panser. Aliran Advent Davidian dianggap sesat dan tidak mau tunduk hukum Amerika, maka mereka dihabisi dengan kekerasan senjata. Buntut dari penyerangan itu, salah satu pengikut aliran itu, Timothy McVeigh, dia meledakkan sebuah truk penuh berisi bahan peledak di depan kantor FBI. Bagian depan kantor FBI hancur luluh akibat ledakan dahsyat itu. Nah, ini sebuah contoh cara negara liberal mengatasi aliran sesat.

[5] Untuk membubarkan Ahmadiyyah itu mudah. Mudah sekali. Toh, negara-negara Muslim lain sudah lama mengatasi masalah ini. Hanya saja, di Indonesia ini negara sudah tidak memiliki kedaulatan lagi. Secara formal, kita merdeka; tetapi secara faktual, kita tak lagi memiliki kemerdekaan. Kemerdekaan kita sudah disandra oleh bangsa-bangsa asing, termasuk oleh lembaga-lembaga donor dunia. Sebagai contoh, SUN (Surat Utang Negara) atau SBI (Surat Bank Indonesia) banyak dibeli oleh pemodal-pemodal asing. Apakah kita akan mengira bahwa pemodal-pemodal itu akan diam saja melihat perkembangan politik di Tanah Air? Pasti mereka akan ikut campur. Kepemilikan saham oleh asing dipakai sebagai alat untuk menekan regim (SBY). Para pemodal asing itu rata-rata mencintai aliran sesat seperti Ahmadiyyah itu, sebab sesuai kepentingan mereka.

[6] Dari sisi lain, bangsa Indonesia ini sudah mengalami “Kiamat Masalah”. Maksudnya, di negeri ini sudah bertumpuk amat sangat banyak masalah-masalah. Masalah sosial, politik, pendidikan, budaya, ekonomi, bisnis, birokrasi, hukum, pertahanan-keamanan, agama, individu, lingkungan, teknologi, dan seterusnya. Banyak dan sangat banyak sekali masalah. Kekuatan yang kita miliki, tidak cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Mengapa terjadi demikian? Ya, karena bangsa ini sudah terlalu banyak berlumuran dosa, kedurhakaan, maksiyat, kezhaliman, kejahatan, dll. Allah Ta’ala tidak memberkahi kehidupan bangsa ini, karena dosa-dosa para peghuninya. Karena tidak diberkahi, kita tidak diberi TAUFIQ untuk mengatasi masalah-masalah kita. Ibarat pisau yang seharusnya tajam dan berguna untuk keperluan-keperluan bermanfaat, maka pisau di tangan kita bukan lagi tumpul pul, tetapi sudah tinggal kayu pegangannya saja. Mata pisaunya sudah tak ada.

Tak henti-hentinya kita mengingatkan bangsa Indonesia: “Berjalanlah dengan tuntunan Allah. Jangan mengikuti langkah-langkah syaitan. Maka hidupmu akan dicahayai, langkahmu akan dibimbing, urusanmu akan ditolong. Namun jika kalian meniti langkah Freemasonry, Yahudi, Nashrani, atheis, musyrikin, dll. demi Allah hidupmu akan semakin tenggelam dalam sengsara yang lebih-lebih perih dan panjang.”

Untuk membuktikan apakah kita mau menempuh jalan Allah Ta’ala, maka bubarkanlah Ahmadiyyah, dan tetapkan aliran itu sebagai kelompok di luar Islam. Hati orang-orang beriman pasti berdiri di atas sikap seperti ini. Kecuali orang-orang munafik, sesat, atau kufur yang berpura-pura memakai baju Islam.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq kepada kaum Muslimin di Indonesia. Semoga semakin banyak kaum Ahmadiy yang bertaubat, dan kembali kepada Islam, serta meninggalkan belenggu kesesatan yang ditinggalkan oleh pemikiran Mirza Ghulam Ahmad -semoga Allah melaknat dia sehina-hinanya-. Allahumma amin.

AMW.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: