Masa Depan Islam di Mesir

Ada sebuah tulisan bagus yang disusun oleh Ustadz Fathuddin Ja’far di eramuslim.com. Tulisan itu adalah sebagai berikut: Revolusi Mesir dalam Perspektif Gerakan Islam Masa Depan. Dimuat di kolom ANALISA, 19 Februari 2011. (Mohon tulisan itu dibaca dulu!).

Tulisan ini menjadi menarik, karena beberapa alasan:

[=] Ustadz Fathuddin termasuk salah satu ustadz tarbiyah yang concern dengan pola pemikiran-perjuangan Al Ikhwan. Bahkan komitmen ini sudah ada sejak era sebelum partai dulu. Dalam tulisan tersebut, seolah beliau mempertanyakan vitalitas Al Ikhwan yang tidak berani menyuarakan slogan perjuangan Islam secara jelas dan tegas.

[=] Ketika saat ini banyak orang optimis dengan masa depan Mesir, Ustadz Fathuddin justru pesimis, sebab kata beliau revolusi di Mesir tidak ada tanda-tanda mengarah ke revolusi Islam, sebagaimana yang dicita-citakan gerakan Islam di seluruh dunia.

Kemengan Tahrir Square: Untuk Islam atau Sekuler Demokrat?

[=] Ustadz Fathuddin memberi cukup alasan yang layak dipertimbangkan, untuk mendukung main idea yang beliau sampaikan. Andai, pemikiran itu ditolak, para penolaknya harus menghadirkan alasan-alasan yang kuat pula.

Sekedar referensi. Setahu saya, Ustadz Fathuddin Ja’far termasuk salah satu ustadz tarbiyah yang namanya sudah masuk “most black list person” di mata salah satu partai politik tertentu. Itu tuh, komunitas yang diklaim sebagai partai anak muda, partai dakwah, partai kreatif, partai paling solid, partai banyak intelek mudanya, partai yang kalau demo sering menyuruh-nyuruh akhwat panas-panasan di jalan, partai kepanjangan tangan Al Ikhwan Mesir, dll. (Semoga Anda paham yang saya maksud).

Beliau sudah concern dengan analisa politik sejak era sebelum reformasi dulu. Saya masih ingat, beliau pernah menulis buku politik, lalu menjadi pembicara bedah buku di masjid Kampus Unisba Bandung. Beliau juga pernah menulis kritik tajam terhadap manuver politik Amien Rais di awal-awal Reformasi dulu. Tulisan itu dimuat di kolom Sabili. Bisa dikatakan, “Beliau bukan orang baru di bidang analisa politik gerakan Islam.”

Nah, kesimpulan dari tulisan panjang Ustadz Fathuddin Ja’far itu adalah di bagian ini: “Berdasarkan kesamaan fenomena reformasi Indonesia dengan revolusi Mesir sekarang ini, penulis meyakini MASA DEPAN MESIR TIDAK AKAN JAUH BERBEDA DENGAN INDONESIA. Perubahan yang terjadi di Mesir hanya konstitusional yang bersifat KERTAS dan tidak akan menyentuh hal-hal mendasar dalam kehidupan mayarakat Mesir yang berpenduduk Muslim mayoritas, dan hanya akan menguntungkan para tokoh aktivis revolusi dan partai-partai poltik yang dengan sukarela menganut paham demokrasi titipan Barat.

Singkat kata, dalam bahasa saya, peranan Al Ikhwan di Mesir diperkirakan tidak akan jauh beda dengan peranan “partai anu” di Indonesia sejak Reformasi 1998. Sekilas tampak Islami, tetapi tidak memiliki keberanian menyuarakan missi perjuangan Islam secara tegas. Padahal Allah Ta’ala sudah berfirman, “Wa laa takh-syauhum wakh-syauni, wa li utimma ni’matiy ‘alaikum wa la’allakum tahtadun” (Surat Al Baqarah).

Satu indikasi, banyak pihak selama ini percaya bahwa revolusi di Mesir digerakkan oleh aktivis-aktivis Al Ikhwan. Baik Mubarak, Omar Sulaiman, maupun militer Mesir juga menuduh demikian. Sebenarnya, disana ada peluang besar bagi Al Ikhwan untuk mendapat posisi politik yang kuat di mata rakyat Mesir. Mestinya, mereka MENGAKU saja bahwa revolusi itu mereka gerakkan. Terlepas, apakah pengakuan itu benar atau tidak. Kan itu sebuah PELUANG POLITIK BESAR untuk menguasai Mesir. Tapi sayangnya, Al Ikhwan berkali-kali membantah bahwa dirinya yang menggerakkan revolusi Mesir. Padahal bila mau mengaku (meskipun tidak benar), mereka akan mendapat keuntungan politik besar setelah Mubarak tumbang.

Ya, itu sih. Selalu pertimbangan fiqih siyasah yang dilakukan. “Kita harus berpura-pura tidak melakukan sesuatu, demi menyelamatkan aset-aset kehidupan kita. Kalau kita jujur, nanti mereka akan menghancurkan kita sampai ke akar-akarnya.” Ya, logika taqiyyah itu yang selalu digunakan, dimana-mana. Tidak disana, tidak di Indonesia.

Rata-rata gerakan Islam, di berbagai negara, kalau sudah mencapai kemapanan, memiliki banyak aset-aset, memiliki aneka sarana-prasarana, mencapai taraf kesejahteraan yang tinggi pada tokoh-tokohnya, dll.; memang cenderung jadi melunak. Akhirnya, ujung perjuangan organisasi itu bukan untuk cita-cita Islam yang tinggi, tetapi lebih menyempit ke cita-cita “mempertahankan kesejahteraan dan status sosial” bagi kalangan tertentu. Seperti kata sebagian orang, “Siapa menaiki siapa? Islam menaiki kita, atau kita yang menaiki Islam?” Begitulah…

Bagaimanapun, kita tetap berharap agar hasil akhir perubahan politik di Mesir itu, menjadi masa depan yang lebih baik bagi kaum Muslimin di Mesir, di Palestina, di Indonesia, dan di seluruh dunia. Allahumma amin.

AM. Waskito.

Iklan

3 Responses to Masa Depan Islam di Mesir

  1. Lukman Mubarok berkata:

    Iya, ada kemungkinan gerakan asal bukan Hosni Mubarak. Habis itu hanyut ditelan ombak seperti RI

  2. ifsya berkata:

    bagus lagi . ..ga usah banyak berkoar2 ke mana…yang penting kerja, kerja, dan kerja untuk izzatul islam wal muslimin tentunya…insya Allah waktu yang akan menjawab hasilnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: