BUKU BARU: Mau Kemana Kita?

Masihkah Ada Harapan? Ada...

Kalau membaca, merenungkan, dan menelisik kehidupan bangsa Indonesia saat ini, isinya pasti didominasi oleh cerita-cerita duka. Terlalu banyak fakta kehidupan yang membuat hati kita terasa nyeri.

Pernahkah Anda membayangkan, ada ribuan warga Indonesia berada di luar negeri, hidup di kolong jembatan, hidup seperti sampah dan memproduksi banyak sampah? Lalu ditancapkan bendera Indonesia di tengah-tengah komunitas kolong jembatan itu? Pemerintah RI di negeri itu tidak turun tangan membantu; selalu menyalahkan warga; makan-minum dan kesehatan, KBRI tidak memberi bantuan apapun. Warga kita disana akhirnya mengandalkan bantuan masyarakat sekitar yang merasa kasihan melihat kaum nelangsa itu.

Nah, potret semacam itu hanya ada di negeri ini, Indonesia. KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Gontor, menulis esay yang judulnya, “Serigalakan Bangsa Ini“. Dalam esay yang perih berisi kritik-kritik tajam itu, beliau mempertanyakan, “Inikah yang namanya bangsa merdeka itu?” Begitu pula, keprihatinan maestro penyair Indonesia, Bung Taufiq Ismail. Beliau menyebut era Reformasi telah ditungganggi oleh GSM (Gerakan Syahwat Merdeka). Salah satu produknya ialah SMS (Sastra Madzhab Selangkangan). Sebutan SMS itu membuat marah para penggiat seni liberal yang senang memperjual-belikan tubuh wanita dan seks.

Dalam buku ini, dua tulisan penting tersebut dikutip, untuk memberikan taushiyah, pandangan, sekaligus menggugah kesadaran Ummat. Masih ada tokoh-tokoh lain, seperti: Prof. Steve Henke, Amran Nasution, Dr. AC. Mannulang, Prof. Mahfudh Md., dll.

Dulu Soekarno menulis buku, “Indonesia Menggugat!” Buku itu merupakan isi pembelaan Soekarno atas tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kolonial kepadanya. Kini, kaum Muslimin sudah selayaknya bicara, “Islam menggugat!”

Mengapa?

Karena Islam sangat besar jasanya bagi negeri ini, sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara dulu. Namun jasa-jasa Islam itu tidak pernah diakui, bahkan sejak regim Soekarno, Soeharto, Gusdur, Mega, sampai SBY; mereka selalu menempatkan Islam, sebagai musuh bangsa. Dan herannya, mereka bisa bersekutu dengan manusia-manusia bengis dari manapun; namun tidak pernah mau toleransi kepada Ummat Islam.

Di negeri ini, Ummat Islam selalu menjadi batu yang diinjak-injak; semua kepentingan politik butuh dukungan Ummat agar mencapai eksistensi. Namun setelah eksis, mereka melukai, menindas, dan menzhalimi missi pembangunan Islam sedalam-dalamnya.

Namun, tetap saja. Semua itu adalah perhitungan tangan dan akal kita. Allah Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah selalu memiliki SIMPANAN rahmat bagi hamba-hamba-Nya yang istiqamah di jalan-Nya. Simpanan itu akan selalu terbuka dan dibuka, meskipun kita tidak tahu momentumnya.

Manusia jahat dan satanic, bisa menipu, menindas, dan menganiaya pejuang dan perjuangan Islam. Tetapi Allah Ta’ala akan selalu menjaga dan menolong hamba-hamba-Nya. ‘Alaihi tawakkalnya laa haula wa laa quwwata illa billah.

AMW.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: