BUKU BARU: “Republik Bohong!”

Alhamdulillah, dengan nikmat dan pertolongan Allah, akhirnya buku ini terbit juga. Judulnya: “REPUBLIK BOHONG: Hikayat Bangsa yang Senang Ditipu“. Diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar, Jakarta. Cetakan pertama, Februari 2011. Ukuran buku standar: 13,5 cm x 21,5 cm. Jumlah halaman: xiv + 330. Harga pasaran: Rp. 54.000,-

Ada 4 Bab penting dalam buku ini: Para Ahli Bicara tentang Indonesia, Rakyat Indonesia Mudah Ditipu, Membedah Akar Masalah Bangsa, dan Problema Bangsa & Solusi Islam. Awal buku dimulai dengan Pengantar dan Kalam Pembuka; akhir buku ditutup dengan Penutup.

Negara Tanpa Hakikat, Tanpa Eksistensi.

Buku ini termasuk genre Nahyul Munkar. Saya coba mengungkapkan sebuah tesis besar, bahwa sebenarnya: Bangsa Indonesia itu tidak nyata, hanya nama tanpa hakikat, sebatas identitas tanpa eksistensi. Apa yang selama ini disebut NKRI, Pemerintahan RI, atau Bangsa Indonesia, hanyalah formalitas belaka. Hakikatnya tidak ada.

Negara dibentuk, didirikan, dibangun, PADA HAKIKATNYA adalah untuk: menjaga rakyatnya, memelihara rakyatnya, memberdayakan rakyatnya, membahagiakan rakyatnya, memuliakan hidup mereka. Sebab, bila tidak untuk tujuan itu, maka tidak ada perlunya kita membentuk negara. Buat apa membentuk negara, kalau akhirnya negara itu sendiri menzhalimi, menindas, dan menjajah rakyatnya sendiri?

Nabi Muhammad Saw mendirikan negara Islam di Madinah, ialah demi menjaga kehidupan kaum Muslimin. Lalu tujuan itu beliau tunaikan sebaik-sebaiknya, sehingga dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin” [tidaklah Kami utus engkau (Muhammad), melainkan agar menjadi rahmat bagi alam semesta].

Negara RI selama ini pada hakikatnya adalah “konsep bohong”. Secara formal, negara ini berdasar nilai-nilai moral yang tinggi. Tetapi secara faktual, semua itu tak ada REALITAS-nya. Konsep Pancasila, UUD 1945, atau konsep-konsep moral lainnya, telah dilemparkan ke tong sampah, sejak lama.

Tidak Ada Niat Baik Membangun Bangsa. Yang Ada Hanya: Kemunafikan!!!

Dan sayangnya, banyak orang berpikir pragmatis, “Emangnya gue pikirin?” Nah, itulah… Rakyat negara ini tidak mau hidup menderita; inginnya hidup penuh kesenangan dan tawa-canda; tetapi mereka enggan membayar harga dari kehidupan senang yang mereka inginkan itu.

Seakan, kegelapan telah menjadi “penerang”, dan cahaya dianggap sebagai kegelapan. Nas’alullah ‘al ‘afiyah lana wa lakum jami’an. Allahumma amin.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: