Ketika Ahmadiyyah Menjadi “Benang Kusut”

Februari 18, 2011

Hari ini bangsa kita kembali ribut soal Ahmadiyyah. Ini bukan keributan pertama, tetapi sudah berkali-kali. Bukan pertama kalinya terjadi insiden dalam soal Ahmadiyyah. Berulang-kali juga kita ribut-ribut. Dan endingnya, tidak ada apa-apanya. Ahmadiyyah tetap seger-buger, siap menjadi isu kerusuhan di masa depan; dan FPI lagi-lagi menjadi “kambing hitam”

Mari kita lihat masalahnya…

[1] Masalah Ahmadiyyah sebenarnya bukan masalah rumit. Ini masalah sepele. Para ulama sedunia sudah sepakat, Ahmadiyyah sesat-menyesatkan, bahkan mereka kufur alias non Muslim. Jamaah Ahmadiyyah pun dilarang naik haji ke Tanah Suci. Alasan kekufuran kelompok ini sudah jelas, antara lain: Meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Rasulullah Saw, mereka meyakini Kitab At Tadzkirah sebagai rujukan utama agamanya, mereka menghapuskan Syariat Jihad fi Sabilillah. Baik Ahmadiyyah Qadiyan atau Lahore, mereka bersekutu dalam kekufuran. Hanya saja, Ahmadiyyah Lahore lebih berbelit-belit dalam menyembunyikan kekufurannya.

[2] Inti kesesatan Ahmadiyyah, baik Qadiyan atau Lahore, ialah: Mereka menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai rujukan utama ajaran agama mereka. Ini adalah kesesatan besar. Selain Mirza Ghulam itu bukan ulama, dia juga bekerja untuk kolonialisme Inggris. Orang seperti ini tidak boleh dijadikan rujukan. Selain karena tidak berilmu, dia juga ber-wala (loyal) kepada orang-orang kafir. Siapa loyal kepada orang kafir, dia pun kufur. (Surat Al Maa’idah).

Hakikat Ahmadiyyah: Memuja Pemikiran Mirza Ghulam Ahmad. Padahal Dia Bukan Ulama Sama Sekali. Tidak Ada yang Mengkuinya Ulama, Selain Inggris.

[3] Aliran sesat seperti Ahmadiyyah itu WAJIB dibubarkan. Sebab ia akan menjadi POTENSI INSTABILITAS yang akan terus-menerus menggoyang sendi-sendi kerukunan beragama. Aliran seperti ini akan menjadi duri dalam daging kehidupan kaum Muslimin di Indonesia. Ia serupa seperti missi Kristenisasi -semoga Allah melaknat kaum kufur yang terus bekerja memurtadkan Ummat Islam itu-. Jangan pernah berharap akan ada perdamaian dan kerukunan, selama aliran-aliran sesat seperti itu terus dibiarkan.

[4] Bangsa Amerika dikenal sebagai bangsa paling liberal di dunia. Bertahun-tahun lalu, aparat FBI mengepung sebuah desa yang dijadikan markas oleh aliran Advent Davidian, yang dipimpin David Coresh. Desa itu dikepung dengan senjata lengkap, dikepung dengan helikopter, bahkan melibatkan panser-panser. Aliran Advent Davidian dianggap sesat dan tidak mau tunduk hukum Amerika, maka mereka dihabisi dengan kekerasan senjata. Buntut dari penyerangan itu, salah satu pengikut aliran itu, Timothy McVeigh, dia meledakkan sebuah truk penuh berisi bahan peledak di depan kantor FBI. Bagian depan kantor FBI hancur luluh akibat ledakan dahsyat itu. Nah, ini sebuah contoh cara negara liberal mengatasi aliran sesat.

[5] Untuk membubarkan Ahmadiyyah itu mudah. Mudah sekali. Toh, negara-negara Muslim lain sudah lama mengatasi masalah ini. Hanya saja, di Indonesia ini negara sudah tidak memiliki kedaulatan lagi. Secara formal, kita merdeka; tetapi secara faktual, kita tak lagi memiliki kemerdekaan. Kemerdekaan kita sudah disandra oleh bangsa-bangsa asing, termasuk oleh lembaga-lembaga donor dunia. Sebagai contoh, SUN (Surat Utang Negara) atau SBI (Surat Bank Indonesia) banyak dibeli oleh pemodal-pemodal asing. Apakah kita akan mengira bahwa pemodal-pemodal itu akan diam saja melihat perkembangan politik di Tanah Air? Pasti mereka akan ikut campur. Kepemilikan saham oleh asing dipakai sebagai alat untuk menekan regim (SBY). Para pemodal asing itu rata-rata mencintai aliran sesat seperti Ahmadiyyah itu, sebab sesuai kepentingan mereka.

[6] Dari sisi lain, bangsa Indonesia ini sudah mengalami “Kiamat Masalah”. Maksudnya, di negeri ini sudah bertumpuk amat sangat banyak masalah-masalah. Masalah sosial, politik, pendidikan, budaya, ekonomi, bisnis, birokrasi, hukum, pertahanan-keamanan, agama, individu, lingkungan, teknologi, dan seterusnya. Banyak dan sangat banyak sekali masalah. Kekuatan yang kita miliki, tidak cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Mengapa terjadi demikian? Ya, karena bangsa ini sudah terlalu banyak berlumuran dosa, kedurhakaan, maksiyat, kezhaliman, kejahatan, dll. Allah Ta’ala tidak memberkahi kehidupan bangsa ini, karena dosa-dosa para peghuninya. Karena tidak diberkahi, kita tidak diberi TAUFIQ untuk mengatasi masalah-masalah kita. Ibarat pisau yang seharusnya tajam dan berguna untuk keperluan-keperluan bermanfaat, maka pisau di tangan kita bukan lagi tumpul pul, tetapi sudah tinggal kayu pegangannya saja. Mata pisaunya sudah tak ada.

Tak henti-hentinya kita mengingatkan bangsa Indonesia: “Berjalanlah dengan tuntunan Allah. Jangan mengikuti langkah-langkah syaitan. Maka hidupmu akan dicahayai, langkahmu akan dibimbing, urusanmu akan ditolong. Namun jika kalian meniti langkah Freemasonry, Yahudi, Nashrani, atheis, musyrikin, dll. demi Allah hidupmu akan semakin tenggelam dalam sengsara yang lebih-lebih perih dan panjang.”

Untuk membuktikan apakah kita mau menempuh jalan Allah Ta’ala, maka bubarkanlah Ahmadiyyah, dan tetapkan aliran itu sebagai kelompok di luar Islam. Hati orang-orang beriman pasti berdiri di atas sikap seperti ini. Kecuali orang-orang munafik, sesat, atau kufur yang berpura-pura memakai baju Islam.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq kepada kaum Muslimin di Indonesia. Semoga semakin banyak kaum Ahmadiy yang bertaubat, dan kembali kepada Islam, serta meninggalkan belenggu kesesatan yang ditinggalkan oleh pemikiran Mirza Ghulam Ahmad -semoga Allah melaknat dia sehina-hinanya-. Allahumma amin.

AMW.

Iklan

Antara FPI dan Pancasila

Februari 16, 2011

Saat ini FPI mendapat serangan dari berbagai arah. Media-media liberal seperti MetroTV tidak henti-hentinya menyerang FPI. Termasuk tentunya para aktivis liberal, aktivis demokrasi, politisi, pejabat negara, dan lain-lain. Mereka saat ini sepakat untuk menghajar FPI. Kalau bisa, dalam waktu dekat FPI dibubarkan. Itu targetnya!

MetroTV sebagai jongos pelayan kepentingan bisnis China, tentu sangat membenci FPI. FPI adalah penghalang terbesar proses SEKULARISASI dan LIBERALISASI, seperti yang diperjuangankan MetroTV dan Surya Paloh. Mereka dalam persekutuannya dengan pemodal-pemodal China, pasti akan menghajar terus FPI. Apapun istilah akan mereka angkat, demi tujuan yang diinginkan pemodal-pemodal China, FPI dibubarkan. FPI jelas akan menjadi penghalang terbesar proses ANEKSASI bangsa Indonesia oleh jaringan bisnis China, yang saat ini sedang bersekutu mesra dengan MetroTV dan Surya Paloh. Surya Paloh sendiri punya obsesi besar untuk: “Merestorasi Indonesia dengan menggandeng kekuatan modal dan filosofi China.” Maka tidak heran, saat ini MetroTV benar-benar seperti “kantor kebudayaan China” yang sangat agressif dalam mempromokan keindahan budaya MUSYRIK China.

Ya Ummat Islam perlu berdoa, agar orang-orang MetroTV ini diberi hidayah, sehingga tidak menjadi jongos kaum penjajah. Di sisi lain, mereka jangan mempromokan budaya etnis China secara massif, sehingga kelak ia akan mengancurkan budaya nasional sendiri. Kalau mereka tidak mau berubah dan bersikap fair, kita doakan saja, agar MetroTV dihancurkan oleh Allah Ta’ala, dibuat porak-poranda lahir-batinnya, ditimpakan kehinaan dan kekacauan sistemik di dalam dirinya. (Amin Allahumma amin).

Disini banyak pertanyaan yang harus dijawab dan diuraikan…

Kerusuhan Ambon: Sejak Lama Kita "Diasuh" oleh Tragedi dan Kekerasan. Tiada Aparat yang Sudi Membela. Kita Membela Diri Sekuat Tenaga. Salah-satunya, FPI.

Mengapa aktivis FPI kerap terlibat kerusuhan atas nama agama? Mengapa FPI sering melakukan sweeping tempat-tempat maksiyat? Mengapa Burhanuddin Muhtadi menyebut FPI sebagai “polisi swasta”? Mengapa FPI kerap dituduh sebagai ormas Islam radikal dan anarkhis?

Masalah-masalah ini kalau Anda tanyakan ke MetroTV dan jongos China lainnya, juga ke orang-orang liberal, dan kawan-kawan, pasti tidak akan ketemu jawabannya. Sebab darah mereka memang mendidih ingin agar FPI segera dibubarkan. FPI adalah target utama penjajah untuk disingkirkan. Para komprador penjajah pasti membenci FPI.

Pada dasarnya, cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah TIDAK BAIK dilakukan. Oleh siapapun. Kalau suatu problem bisa diatasi dengan cara dialog atau berembug, itu lebih baik.

Tetapi sepanjang sejarahnya, Ummat Islam di Indonesia tak henti-hentinya dianiaya, diserang, dibantai, dimusnahkan kampung dan rumahnya, dan lain-lain. Itu terjadi dalam masa yang panjang. Mulai Tragedi Priok, Tragedi DOM di Aceh, Tragedi Banyuwangi, Situbondo, Tasikmalaya, Tragedi di Ambon, Maluku Utara, NTT, Timor-Timur, Sambas, Sampit, dan lainnya. Terlalu banyak tragedi kekerasan yang menimpa Ummat Islam sejak masa lalu. Di jaman Reformasi juga banyak muncul tragedi, terutama TRAGEDI TERORISME. Densus88 tidak henti-hentinya mengejar pemuda Islam, mengepung mereka, menyerang, membunuhi di jalan-jalan, memfitnah, menyiksa, dan seterusnya.

Ummat Islam sejak merdeka sampai saat ini dibesarkan dalam ASUHAN tragedi demi tragedi. Disinilah terlihat betapa jahat dan keji opini yang disebarkan oleh MetroTV, wartawan-wartawan atheis dan amoral, aktivis liberal terlaknat, aktivis HAM, demokrasi, politisi, tokoh agama, dll. dimana mereka SANGAT TIDAK ADIL dalam menilai dan memvonis. Termasuk di dalamnya, A. Syafi’i Ma’arif, tokoh sepuh yang sok bijak, tetapi sering berlaku sewenang-wenang. Katanya dia melek sejarah. Tetapi tidak pernah menakar harga darah dan air-mata Ummat Islam yang pernah tertumpah dalam tragedi demi tragedi itu. Itukah yang disebut Buya? Masya Allah.

Gerakan Islam seperti FPI, dan tidak semua gerakan Islam seperti ini. Mereka lahir di atas latar-belakang sejarah yang dipenuhi rasa sakit hati, dendam kepada orang kafir, rasa ketidak-percayaan kepada aparat, dan permusuhan total kepada aliran-aliran sesat. Karena mereka itulah yang dianggap sebagai SUMBER TRAGEDI kehidupan Ummat Islam di Indonesia.

Andaikan, di negeri ini, para aparat baik Polisi atau TNI, mereka benar-benar bertindak adil, jujur, tidak menjadi alat kekuasaan; tentu tidak perlu terjadi aneka rupa tragedi mengerikan yang menimpa Ummat Islam. Pada gilirannya, FPI tidak perlu mengibarkan “bendera perlawanan”.

Apa yang kini FPI lakukan, ialah pembelaan maksimal yang mampu mereka lakukan, untuk menjaga Ummat, membela Ummat, dan memelihara kehidupan Ummat Islam di negeri ini. Tidak bolehkah FPI membela Ummat ketika Ummat ini tidak lagi dibela oleh para aparat? Kalau cacing saja bisa membela diri, bagaimana dengan manusia? Bagaimana dengan FPI?

Surya Paloh, MetroTV, dan manusia-manusia atheis musuh Allah lainnya, mereka tak henti-hentinya mengecam FPI sebagai: ormas anarkhis, kelompok Islam radikal, ekstrim agama, dll. Tapi mereka tidak pernah mengaca diri, bahwa diri mereka adalah: Sekuler radikal, Liberal ekstrim, kapitalis egois, dan seterusnya. Hanya FPI yang boleh menyandang istilah radikal dan ekstrim. Sementara mereka lupa bila dirinya sendiri sekuler radikal, liberal ekstrim, kaki-tangan kapitalis.

Banyak orang kini berlinang air-mata menangisi korban dari jamaah Ahmadiyyah. Seakan, di dunia ini tidak pernah terjadi tragedi lebih mengerikan, selain peristiwa di Monas, peristiwa Cikeusik, Pemalang, dll. Padahal mereka belum tahu, bagaimana keadaan pemuda-pemuda Islam ketika dibantai di Tanjung Priok tahun 1984, bagaimana kejamnya DOM di Aceh, bagaimana sadisnya pembantaian di Poso oleh kaum Protestan, bagaimana sadisnya peristiwa di Lampung Selatan. Termasuk bagaimana perih dukanya pemuda-pemuda yang ditembaki aparat karena dituduh sebagai TERORIS. Darah warga Ahmadiyyah begitu harum di hidung mereka. Tetapi darah ratusan, ribuan Ummat Islam, terasa busuk di hidung mereka.

Pertanyaanya, katanya Indonesia ini bangsa berdasar PANCASILA. Dalam Pancasila itu ada sila: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Jika benar bangsa Indonesia berdasar Pancasila: “Mengapa mereka membiarkan terjadi kerusuhan Ambon, Maluku, Poso, Sampit, Sambas, dll. yang korban Ummat Islam di dalamnya hingga ribuan orang? Mungkin bisa mencapai puluhan ribu. Mengapa negara ini lebih mencintai sekularisme dan hedonisme, dan anti nilai-nilai Islam? Mengapa negara ini memakai APBN untuk merusak, memfitnah, memecah-belah, mengadu-domda Ummat Islam? Mengapa negara ini toleran kepada aliran-aliran sesat? Mengapa negara lebih mencintai para kapitalis China dan kapitalis asing lainnya, daripada putra bangsa sendiri seperti FPI? Mengapa negara lebih banyak menelan fatwa-fatwa kaum kafir liberal, daripada fatwa ulama yang lurus?” Dan lain-lain pertanyaan.

Jadi, benarkah bangsa ini berdasarkan Pancasila? Kalau benar, pasti negara sudah lama membubarkan Ahmadiyyah, karena mengganggu keyakinan mayoritas Ummat Islam Indonesia. Dan negara akan bersikap tanggap dan sigap atas segala masalah Ummat, tidak menanti FPI turun tangan. Itu kalau benar negara ini berdasarkan: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Selama bangsa ini tidak pernah mau melaksanakan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” secara murni dan konsekuen; yakinlah kerusuhan agama akan terus terjadi di negeri ini; yakinlah FPI akan terus eksis di bumi Nusantara ini; sebab mereka akan terus berusaha membela Islam, ketika negara tidak mau membela Islam.

Semoga Allah menolong hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang dan membela agama-Nya. Allahumma amin.

AMW.


Sakit Berat Menimpa…

Februari 7, 2011

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Dalam waktu sebulan ini, Allah Ta’ala menakdirkan saya sakit. Sakit cukup berat, usus buntu. Karena sakit ini, saya harus dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi besar di bagian perut. Seperti seorang wanita yang baru melahirkan dengan cara cesar (meskipun tidak selebar itu).

Sakit datang tiba-tiba. Tidak pernah terbayang akan mengalami cobaan seperti ini. Ya, Allah Ta’ala Maha Hakim, Dia meletakkan setiap mushibah sesuai ukuran dan hikmah-Nya. Aku hanya bisa tertegun, tidak menyangka. Namun Allah telah membawaku menjalani “safar khusus”, merasakan perihnya hari-hari ketika sebagian nikmat sehat di tubuh diangkat oleh pemiliknya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Meskipun aku belum pernah merasakan saat kematian, tetapi perihnya jalan-jalan menuju kematian itu, setidaknya kurasakan. Alhamdulillah atas segala pertolongan Ilahuna Rabbul ‘alamiin yang masih mengasihiku, memberiku toleransi, dan memberikan “kesempatan kedua”, setelah sebelumnya berada di saat-saat kritis.

Ada sebuah hikmah menarik. Sejak kecil aku sudah diingatkan tentangĀ  bahaya sakit “usus buntu”. Harus hati-hati kalau makan makanan yang berbiji, seperti cabe, jambu biji, semangka, dll. Namun peringatan itu aku anggap sepi. Sungguh, aku acuhkan. Sikap demikian terpelihara sampai saat aku dewasa. Beberapa bulan sebelum sakit, seorang teman mereview ulang peringatan tentang “usus buntu” ini. Lagi-lagi aku anggap sepi. Ternyata…di balik sikap meremehkan itulah Allah menurunkan ujian kepadaku. Ya Rabbi, ujian ini bukan hanya mengingatkan akan semua dosa-dosa, tetapi juga menegur keras sikap meremehkan peringatan yang tidak selayaknya dilakukan.

Inilah…sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini. Di balik ketidak-hadiran bersama blog ini. Sekaligus disini ingin mengingatkan saudara-saudara tercinta, agar tidak meremehkan peringatan-peringatan dalam kehidupan. Kelihatan sepele, namun bila mushibah sudah menimpa, kita akan merasa betapa perihnya nilai sikap meremehkan itu.

Secara tulus dan khusus, aku mengucapkan terimakasih kepada dr. Faisal Fahmi dari Jakarta, yang telah memberikan analisa global dan arahan agar kami membawa penyakit ini ke RS yang kredibel. Atas saran beliau itu, alhamdulillah menolong kami menghindari resiko terburuk. Sekali lagi, syukran jazahullah khair. Dan salam untuk keluarga dan anak-anak, semoga senantiasa diberi ‘afiyat lahir-bathin, dunia akhirat. Amin. (Juga untuk kami dan pembaca budiman sekalian. Amin ya Karim).

Ini pertama kalinya saya keluar outdoor setelah hampir sebulanan berada di atas pembaringan. Mohon doanya agar Allah Ta’ala menyempurnakan pertolongan-Nya kepadaku, mengembalikan nikmat sehat dari-Nya, dan memberikan sebaik-baik hikmah untuk memperbaiki kehidupan ke depan. Amin Allahumma amin.

Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AM. Waskito.