Tidak Takut Kepada Allah

Maret 30, 2011

Seperti "Raga Tanpa Jiwa"

Nun disana… ada sebuah partai politik. Menamakan diri partai Islam, bahkan “partai seruan”. Konon, tujuan partai itu, 24 karat, murni, untuk menegakkan Islam di bumi Nusantara.

Dalam perjalanan, partai ini menghadapi aneka masalah; maklum, namanya juga partai politik. Mana ada partai politik yang nihil masalah? Kalau ada yang begitu, pasti bukan parpol, tetapi “parahbur” (partai ahli kubur). Sudah jamak bin lazim, kalau terjun ke dunia politik, pasti panen masalah.

Harusnya, masalah-masalah dihadapi secara Islami, sebab namanya juga partai Islam. Tetapi sayang, manuver-manuver partai itu cenderung menghalalkan segala cara.

===> Saat Pilpres 2004, elit partai itu menerima dana SUAP dari pasangan calon W-SW. Jumlah dana suap Rp. 20 miliar, jumlah yang bisa dipakai mendirikan 20 pesantren dengan asumsi per pesantren Rp. 1 miliar. Partai itu dalam Pilpres 2004 tersebut diminta mendukung nama W-SW. Namun saat Pilpres tidak ada dukungan sama sekali, sebab semua anggota partai dibebaskan mau pilih siapa saja. Jadi, akad suap-menyuap itu tidak mereka jalankan. Anehnya, uang Rp. 20 miliar tidak dikembalikan ke pihak yang memberi suap. Kata orang, “Suara tidak diberikan, tetapi uang tetap dimakan!” Masya Allah, betapa memalukan ya.

===> Masih Pilpres 2004, menjelang Pilpres tahap kedua, partai itu terima lagi uang suap, lebih besar. Nilainya Rp. 34 miliar dari pasangan S-J. Uang ini diterima, setelah sebelumnya mengkhianati pemberian pasangan W-SW. Jadi, “rizki” semakin banyak saja. Uang ini adalah murni suap, sebab secara aturan main Pilpres memang tidak boleh ada sumbangan mengikat dari personal senilai itu. Lagi pula uang itu tidak pernah disiarkan secara terbuka, tetapi sangat tertutup. Padahal di partai itu banyak orang ngerti agama, tetapi kok perilaku begitu ya? Nilai 34 M tentu jumlah besar. Apalagi dalam Pilpres putaran k-2 itu mayoritas suara kaum Muslim akan memilih calon laki-laki, bukan perempuan. Hebat lagi, setelah Pilpres 2004 sukses, partai itu mendapat jatah 4 kursi menteri. Wih wih wih, rasanya “rizki nomplok” banget. Tapi kan semua ini bermula dari cara-cara kotor (SUAP).

===> Saat Pilkada DKI, partai itu terima “mahar politik” dari calon gubernur yang dijagokan, Rp. 40 miliar. Ini lebih besar lagi dari sebelumnya. Apa ada istilah dalam Islam, “mahar politik”? Lagi pula, uang itu diperoleh cari calon gubernur DKI yang notabene seorang mantan pejabat Polri. Kalau dirunut, darimana mantan perwira Polri itu mendapat uang Rp. 40 miliar? Dari gaji kah? Dari bisnis kah? Dari warisan kah? Nah, ini perlu diperjelas. Andai tokoh itu mendapat uang dari gaji resminya sebagai perwira Polri, pasti tidak akan mencapai 40 M, meskipun sudah bekerja siang-malam selama 50 tahun. Dan metode “mahar politik” ini akhirnya dianggap sebagai urusan HALAL di berbagai even Pilkada di Tanah Air. Tidak peduli darimana saja dana “mahar” itu diperoleh.

===> Seorang aktivis dakwah di Bandung , alumni Fikom Unpad, berinisial T pernah bercerita. Tahun 1998, gerakan mahasiswa di Salemba UI dibujuk oleh keluarga Cendana agar tidak demo-demo. Sebagai imbalan, mereka diberi dana 300 juta. Lalu dana itu dikonsultasikan ke senior-senior dakwah. Bagaimana solusinya? Solusinya sangat aneh: “Demo silakan jalan! Uang ambil saja!” Ya Allah ya Karim, kok bisa begitu ya? Kalau mau demo, harusnya kembalikan uang itu. Kalau mau terima duit, ya penuhi syaratnya (tidak demo).

===> Dan lain-lain.

 

Alasan yang sering dikatakan: “Untuk mendapat kemenangan politik, kita butuh duit. Tidak bisa tidak. Tanpa duit, nonsense akan dapat kemenangan. Mustahil!”

Jika demikian, harusnya mereka kaya, kreatif, dan tebal kantong dulu, sebelum memasuki pusaran politik yang keras itu. Jangan masuk gelanggang politik dalam keadaaan fakir-miskin. Nanti akibatnya bisa menjual “iman dan komitmen” hanya karena faktor duit. Dan hal itu kemudian terbukti dengan amat sangat gamblang.

Kalau memang kita tidak mampu bekerja di bidang politik ini, ya sudah bekerja saja di bidang lain. Tidak usah memaksakan diri, lalu menghalalkan yang haram. Kata Dr. Daud Rasyid, “Jangan terjerumus sikap takalluf politik!” Karena miskin dan kere, sementara politik butuh banyak dana, akhirnya menghalalkan segala cara. Ini membuktikan bahwa kalangan itu belum mampu masuk ke kancah politik.

Allah Ta’ala tidak membebani kita dengan beban berat, kalau memang kita tak sanggup. Siapa yang memaksakan diri, pasti akan dihukum oleh sikap ketergesa-gesaannya itu.

Saat bicara seperti ini, kita bukan bicara politik, tetapi soal MORALITAS. Mengapa di kalangan orang-orang yang mengklaim sebagai aktivis Islam, aktivis dakwah, ustadz, ulama, lulusan Timur Tengah, murabbi, pembela Ummat, mujahid, dll. harus muncul perbuatan-perbuatan nista seperti di atas? Seharusnya, sebagai orang berilmu, mereka bisa memberikan contoh yang mulia; seharusnya mereka memperlihatkan komitmen moral yang tinggi; seharusnya mereka lebih cemburu atas  pelanggaran-pelanggaran Syariat Islam. Minimal, sebagai manusia berakal, mereka bisa lebih memiliki RASA MALU.

Kalau komitmen moral itu tidak ada, lalu apa bedanya kita dengan manusia-manusia yang zhalim, koruptor, politisi busuk, pengkhianat bangsa, pemimpin tirani, diktator, dan lainnya? Jelas, tidak ada bedanya. Bedanya hanya NASIB saja. Para koruptor lebih dulu mendapatkan duit, sedangkan mereka lebih belakangan. Kalau koruptor mendapat duit dengan modus-modus penipuan tulen; kalau para ahli agama, mereka menipu masyarakat dengan dalil-dalil Kitabullah dan As Sunnah.

Ini bukan soal politik, tetapi MORALITAS. Manusia yang istiqamah tidak silau dengan kemenangan dekat yang gilang-gemilang, tetapi dengan resiko kelak mendapat kekalahan abadi di Hari Kiamat. Kalau manusia-manusia amoral justru sudah tidak memiliki obsesi lagi tentang Hari Kiamat. Kata-kata yang selalu mereka ucapkan: “Sudah deh, jangan munafik lah. Kita ini sudah bejat. Kami bejat, Anda bejat, mereka bejat. Kita semua bejat. Negara ini juga bejat. Jadi, mari kita berlomba-lomba dalam kebejatan. Sudahlah jangan munafik. Anda doyan duit, cewek, dan popularitas kan?”

Ya, begitulah karakter manusia yang sudah TAMAT, sebelum hari kematian mereka diumumkan di koran-koran. Mereka sudah habis. Mereka berjalan-jalan di muka bumi, seperti “raga tanpa jiwa” (meminjam kalimat dari sebuah kelompok nasyid Jihad yang sekarang sudah lebay).

Kunci persoalan sederhana, yaitu: Bermain-main dengan ayat Allah dan sudah tak ada rasa takut kepada-Nya. Tentu saja, ini adalah perniagaan yang sangat merugi. Jika kini, baru sedikit kerugian yang menimpa, maka kelak akan terbuka apa-apa yang dijanjikan.

Cukuplah ayat ini sebagai peringatan bagi siapa yang menginginkannya:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui“. (Al Anfal: 27).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.


Iklan

PSSI dan Kisruh Indonesia

Maret 29, 2011

Mungkin para pembaca merasa aneh. Mengapa dalam judul ditulis “kisruh Indonesia”? Mengapa bukan “kisruh PSSI”? Padahal kita semua tahu, saat ini PSSI dilanda kisruh hebat. Menegpora Andi Malarangeng membekukan kepengurusan PSSI dan otomatis PSSI tidak boleh diberi anggaran oleh negara. Kubu Nurdin Halid balik menyerang Andi Malarangeng, dan meminta agar menteri itu dipecat dari jabatannya.

NH: Dianggap Biang Kisruh Bola

Pasti tidak mudah bagi Andi Malarangeng dkk. untuk menjatuhkan Nurdin Halid, sebab tokoh satu ini di-backing-i kelompok Bakrie. Termasuk kubu Golkar disana. Siapa berani menghadapi Bakrie dan kawan-kawan? SBY saja berkali-kali harus “balik kucing” menghadapi hebatnya manuver kelompok Ical dan kawan-kawan. Perseteruan antara Pemerintah Vs Nurdin Halid ini kemungkinan akan dimenangkan Nurdin Halid lagi.

Mengapa? Sebab nama dia memang bermakna “kekal”. Nurdin Halid atau tepatnya Nurdin Khalid, artinya = Nurdin yang kekal (maksudnya, kekal memimpin PSSI selama dia mau). He he he…

Mengapa disini kita sebut KISRUH Indonsia, bukan kisruh PSSI? Padahal yang jelas-jelas lagi kisruh adalah PSSI?

Ya, maknanya sangat jelas. PSSI ini kan ibarat sebuah cabang kehidupan di negeri yang namanya Indonesia ini. Selain urusan PSSI atau sepak bola, masih banyak urusan lain, misalnya: BBM, harga beras, pengangguran, kemiskinan, korupsi, mafia hukum, narkoba, demoralisasi, kejahatan para politisi, liberalisme media, dll. Banyak sekali masalah bangsa Indonesia.

Selama ini para insan sepak bola di Indonesia, para suporter, pengurus PSSI (pusat dan daerah), para pemain, pelatih, ofisial, sponsor, dll. Mereka seakan hidup semata-mata dari, oleh, dan untuk bola. Mereka seperti tidak memikirkan masalah lain, selain bola. Kini mereka merasakan dengan sangat nyata, bahwa dalam urusan bola pun kita penuh masalah.

Ibaratnya, apa sih di Indonesia yang tak bermasalah? Coba Anda cari dan teliti. Adakah satu pun urusan yang tak bermasalah di negeri ini? Nyaris, dalam seluruh urusan penuh masalah.

Kisruh PSSI selama ini TIDAK SEBERAPA, dibandingkan kekisruhan bangsa kita sendiri. Kisruh politik, isu kekerasan, korupsi, konflik sosial, kriminalitas, kemiskinan, pengangguran, dll. ada dimana-mana. Begitu hebatnya bangsa ini, sampai media Australia “perlu membantu” dengan membeberkan dugaan korupsi oleh SBY dan kroni-kroninya. Begitu pula, sampai Aljazeera ikut-ikutan memanaskan situasi dengan “isu DRI”.

Seakan, tidak cukup bangsa kita sendiri bergumul dengan kisruh. Bangsa lain pun ingin menikmati “berkisruh-kisruh ria” di negeri ini.

Kalau saya ditanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang kepemimpinan PSSI di bawah Nurdin Halid?”

NEOLIB Lebih Bahaya 1000 X daripada Nurdin

Jawabnya: “Masalah Nurdin Halid ini peanut. Kacangan. Kecil. Ini masalah ecek-ecek. Masih banyak masalah lain yang lebih PARAH dari itu. Korupsi, politik uang, mafia hukum, kedaulatan negara, ekonomi neolib, disintegrasi, dll. lebih dahsyat ketimbang masalah Nurdin Halid.”

Demi Allah, andaikan kepengurusan PSSI diganti, Nurdin Halid diganti, Nugraha Besoes diganti, dan seterusnya. Semua itu tak akan memperbaiki prestasi sepak bola Indonesia sama sekali. Sebab apa? Masalah utama bangsa kita adalah: Kepemimpinan politik yang penakut menghadapi bangsa asing dan mafia, serta tidak berpihak ke rakyat sendiri!!! Ini masalah utamanya. Selama kondisi kepemimpinan masih begitu-begitu saja, jangan harap ada perbaikan apapun, termasuk dalam bidang sepak bola.

Hanya masalahnya, kan “jamaah pecinta sepak bola” di Indonesia ini kan akalnya gampang dikendalikan kemana-mana. Ketika pengamat, jurnalis, media, semua sepakat bahwa masalah utama sepak bola Indonesia adalah Nurdin Halid; mereka semua mengiyakan 100 %. Padahal masalah utama kita ialah Pemerintahan lemah yang tidak berpihak kepada bangsa dan negara sendiri. Meskipun nanti Nurdin Halid diturunkan dari jabatannya, tetap saja pengurus yang baru akan mewarisi seabreg masalah keolah-ragaan yang sangat rumit di Indonesia. Ya, bagaimana lagi, wong negara ini memang sedang sakit lahir-bathin.

Jangan lebay, jangan bodoh…

Tidak mungkin masalah sepak bola yang begitu rumit dan komplek itu hanya ada di tangan Nurdin Halid. Tidak mungkin. Dimanapun juga kalau suatu masalah SITEMIK, berarti faktor-faktornya juga sistemik. Tidak bisa mengerucut ke satu personal saja. Jangan mau ditipu media-media massa…

Nasehatnya disini…

Wahai jamaah pecinta bola, marilah kita peduli dengan bangsa kita, negara kita. Ibarat perahu, bangsa ini sudah nyaris karam di dasar lautan. Anda jangan egois, mau seneng-seneng saja dengan dunia bola. Ayolah kita kontribusi memperbaiki bangsa ini. Mari kita melakukan perubahan, demi perbaikan masa depan kita. Kalau semua hanya peduli dengan bola semata, maka sadarlah: Meskipun Indonesia bisa menjadi juara dunia, maka gelar itu tak akan bisa menghapuskan kemiskinan sedikit pun!

Kini PSSI dilanda kisruh… Diperkirakan Nurdin tak mudah dijatuhkan, karena ada backing kuat di baliknya. Kisruh PSSI ini sebenarnya menandakan betapa kisruhnya kehidupan bangsa Indonesia. Kalau misal ada ribuan “pejuang bola” bermunculan; mengapa tidak muncul ribuan pejuang Indonesia? Apakah bola lebih penting dari urusan bangsa?

Selamat berpikir dan menjalani hidup lebih baik. Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati-hati kita untuk menjalani kehidupan yang diridainya. Allahumma amin.

AM. Waskito.


PKS Berhak Di-adil-i

Maret 26, 2011

Maksud kata “di-adil-i” disini bukanlah: dihakimi, disidang, atau disudutkan. Tetapi maksudnya, diberikan hak keadilan baginya. Kata adil disana bukan merupakan kata kerja, tetapi merupakan kata sifat.

PKS selama ini mengklaim sebagai partai yang punya komitmen membangun dan membela keadilan di Indonesia. Hal itu bisa dimaknai sebagai aksi dari PKS untuk masyarakat. Posisi PKS disana sebagai subyek keadilan. Namun, mereka juga berhak menjadi obyek keadilan, yaitu menerima sikap-sikap adil kaum Muslimin kepadanya.

Jaga Keadilan, Dimanapun & Kapanpun!!!

Seperti kita tahu, akhir-akhir ini PKS sedang kebanjiran masalah. Peletupnya tak lain adalah “gerakan politik” secara intensif yang dilakukan mantan elit PKS sendiri, Yusuf Supendi. Beliau mantan anggota Majlis Syura PKS, sekaligus mantan anggota DPR RI Fraksi PKS, namun tahun 2010 lalu beliau dipecat.

Bisa dikatakan, Pak Yusuf Supendi pernah mengalami perlakuan partai yang tidak menyenangkan baginya. Minimal, berupa pemecatan keanggotaan dirinya dari komunitas PKS. Lalu sebagai upaya “menciptakan keseimbangan”, beliau balik melakukan gerakan politik yang sangat tidak menyenangkan bagi komunitas PKS. Khususnya, bagi elit-elit PKS yang beliau tuduh melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Di antara tuduhan atau serangan Pak Yusuf Supendi, ada yang bisa dimaklumi secara nalar politik praktis di Indonesia. Misalnya, melaporkan kasus penggelapan uang, melaporkan ancaman kekerasan terhadap dirinya, melaporkan kebohongan publik, dan lainnya. Namun ada juga yang menyentuh masalah PRIVASI yang seharusnya tidak boleh diumbar dalam ruang publik.

Masalah privasi tersebut adalah soal POLIGAMI elit-elit politik PKS dan ancaman membeberkan riwayat “kenakalan” seorang elit PKS di masa remajanya. Kedua persoalan ini ranahnya pribadi, seharusnya tidak menjadi komoditi politik. Ya, sekesal-kesalnya kita kepada suatu kaum, tetap harus bersikap adil.

Poligami beberapa elit PKS adalah masalah pribadi yang tidak boleh “dikomoditikan” secara politik. Andaikan disana ada masalah “fasakh” (pernikahan yang dianggap batal karena tidak memenuhi unsur syar’i), hal itu tetap tidak boleh dikomoditikan. Jika kita ingin menasehati dalam konteks fasakh itu, harus memakai istilah-istilah yang bersifat umum, seperti: “Poligami elit partai tertentu”, “kehidupan poligami elit politik tertentu tidak sesuai syar’i”, “ada masalah pada poligami elit tertentu”, dan semisalnya.

Jadi, unsur nama partai atau nama personal, harus tetap disembunyikan. Ya, karena ini masalah pribadi, bukan wilayah politik yang bisa dikomoditikan. Kalau kita mengalami hal serupa, pasti akan sangat BERAT, saat melihat masalah pribadi naik ke urusan publik.

Kemudian, keinginan mengadukan “kenakalan” elit PKS di masa remajanya. Ini juga sangat salah dan seharusnya dijauhi. Seharusnya, sebagai orang yang paham agama, menghindari masuk ke masalah-masalah seperti ini. Sungguh tidak adil ingin membongkar aib-aib seorang remaja di masa lalu. Andaikan, setiap remaja Muslim boleh diumbar aib-aibnya saat masih muda, kaum Muslimin tak akan pernah punya tokoh.

Lagi pula, masa remaja itu terpisah dengan urusan politik. Seharusnya masa-masa remaja tersebut tidak dikaitkan dengan soal pemecatan diri dari suatu partai. Tidak boleh. Dan lebih tidak boleh lagi, ketika aib-aib masa remaja itu akan digunakan untuk merusak hubungan baik suami-isteri. Ini adalah tindakan khianat dan seperti perilaku syaitan yang suka menceraikan suami dari isterinya. Ini harus dihindari sejauh mungkin.

Seberat-beratnya resiko, sehebat-hebatnya badai menimpa, seburuk-buruknya realitas; tetap saja seorang Muslim harus selalu bersikap adil. Tidak boleh bersikap zhalim. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman: “Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan wa itai dzil qurba wa yanha anil fakhsya’i wal munkar wal baghyi, yaizhukum la’aakum tadzak-karun” (sesungguhnya Allah memerintahkan kita berbuat adil dan ihsan, memberi kepada karib kerabat, dan Dia melarang kita dari perbuatan keji dan mungkar, serta pembangkangan. Demikianlah Allah mengajari kalian, agar kalian mengambil sebaik-baik peringatan. Surat An Nahl).

Bila selama ini kita menuntut sikap adil dari PKS. Kini kita harus juga menunaikan hak-hak keadilan mereka. Terserah apapun dan bagaimanapun perasaan “membuncah” dalam dada kita. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Politische).


The Point Of No Return!

Maret 25, 2011

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Mungkin Anda pernah membaca atau mendengar kalimat ini, “The point of no return!” (titik dimana sudah tidak ada lagi kesempatan untuk kembali). Kalimat ini memiliki makna sangat dalam, kalau tidak dikatakan, penuh rasa khawatir di dalamnya. Jika seseorang sudah sampai di titik “no return” itu, dia sudah tidak bisa kembali lagi; bahkan sekedar menengok ke belakang saja, tidak memungkinkan.

Suatu hari Rasulullah Saw menyerahkan panji Jihad Fi Sabilillah ke tangan Ali bin Abi Thalib Ra, dalam momen perang Khaibar. Rasulullah menjanjikan, Allah akan memberikan kemenangan di tangan Ali, untuk membuka benteng Khaibar, mengalahkan kaum Yahudi, dan merebut kekuasaan mereka. Ketika itu Rasulullah berpesan agar Ali memegang panji Jihad itu dengan mantap, maju ke depan, dan tak menengok ke belakang. Beliau berpesan agar Ali memimpin memerangi Yahudi, dalam rangka menegakkan kalimah, “Laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.”

Tidak Ada Kesempatan Menengok ke Belakang.

Ali bin Abi Thalib Ra saat itu berada di “point no return”. Dia tak bisa surut ke belakang, berhenti, atau meminta toleransi. Jihad harus dikobarkan, musuh di depan mata, kemenangan sudah menanti. Bila Ali bin Abi Thalib bukan pribadi yang ISTIQAMAH, tidak mungkin beliau akan memikul amanah menaklukkan basis terakhir kekuatan Yahudi di Kota Madinah itu. Dan alhamdulillah, Ali meraih sukses besar.

Ada kalanya makna “point no return” bersifat negatif (bahkan sebenarnya lebih banyak bermakna demikian). Misalnya, seseorang yang sudah terjerumus ke dunia narkoba, akan sangat sulit kembali ke jalan semula, bahkan tidak mungkin bisa kembali pulih 100 % seperti semula. Ada saja, aset-aset kehidupannya yang sirna akibat obat psikotropika itu. Begitu juga seseorang yang telah melakukan seks bebas, terjerumus praktik ribawi, membunuh manusia secara tidak haq, melalukan kebohongan agama, mengkhianati masyarakat luas, dll. Mereka juga berada dalam “point no return”, tidak ada tempat kembali baginya.

Seperti para politisi yang telah terjerumus jauh dalam urusan politik. Mereka telah menghirup polusi politik, sudah banyak menelan “nasi bungkus” politik, sudah bermain-main dengan “cinta” politik, sudah akrab dengan dusta politik, sudah memiliki “selera konsumsi” politik, dan seterusnya. Mereka juga berada dalam “point no return” itu. Begitu juga dengan para dai, ustadz, muballigh, kyai, cendekiawan Muslim, dll. yang telah terlalu jauh bermain-main di dunia dakwah, bukan ikhlas karena Allah, tetapi karena selain-Nya.

Namun…

Ada satu hal yang perlu diingatkan kepada Ummat Islam, tentang momen “point no return” ini. Ternyata, setelah melakukan kajian atas fakta-fakta selama ini, dalam kehidupan Ummat Islam, di tingkat lokal, nasional, maupun dunia. Saat ini pun kita semua telah berada dalam situasi “point no return”. Situasi ini bukan bersifat personal atau komunitas, tetapi menyangkut nasib Ummat di hadapan PERUBAHAN JAMAN.

Jaman yang kita alami saat ini ternyata merupakan jaman “point no return”. Maksudnya, di jaman ini kita tidak bisa mengelak dari kenyataan-kenyataan buruk di depan mata. Hal-hal buruk itu –yang sering kita yakini sebagai hasil dari gerakan konspirasi– sengaja diciptakan, dikembangkan, dan disecarkan secara global, sampai ke kamar-kamar rumah kita. Sejak lama, kita telah menyadari ini; kita telah membaca dan mendiskusikan keadaan ini; bahkan kita telah berusaha semampunya melawan gelombang ini. Namun rupanya, kekuatan musuh (kaum konspirator) terlalu kuat untuk dihadapi. Mereka memaksakan agar dunia berjalan tanpa moral, selain “moral” jahiliyyah yang sangat konfrontatif dengan nilai-nilai Islam; mereka didukung segala tenaga, fasilitas, dana, dan dukungan politik unlimitted. Sedangkan usaha-usaha Islami, hanya kerjaan “orang swasta”, tanpa satu pun negara secara penuh mau mendukungnya. Bahkan para pemimpin negara sudah menjadi agen-agen kehidupan jahiliyyah itu.

Inilah sebagian situasi “point no return” di hadapan kita…

[1] Media TV telah menjadi penjajah yang sangat berkuasa di rumah-rumah kita.

[2] Media massa tidak lagi melakukan peran membela kebenaran, membela keadilan, menegakkan hukum, dan seterusnya. Media massa saat ini berperan: mencari duit, memperjuangkan kepentingan politik pemilik saham, dan menghajar setiap elemen yang dianggap musuh mereka. Media massa kita telah menjadi “tukang pukul” dengan dalih tugas jurnalistik, kebebasan pers, dan memenuhi hak informasi publik.

[3] Pekerjaan terbesar, terpenting, terprioritas di mata manusia saat ini ialah: Mencari income! Seakan tidak ada lagi urusan lain yang lebih penting dari itu.

[4] Demokrasi telah menjadi agama manusia modern, padahal di dalamnya penuh dengan kezhaliman dan khianat.

[5] Ekonomi liberal, kapitalistik, ribawi telah mewarnai setiap rupiah penghasilan yang kita terima.

[6] Ide negara Islam, Daulah Islamiyyah, Khilafah Islamiyyah, secara saklek telah diterjemahkan sebagai: TERORISME!

[7] Penghujatan terhadap nilai akidah dan manhaj Islam dianggap sebagai bentuk “kebebasan berkeyakinan”; sedangkan penghujatan terhadap hak-hak individu/institusi yang jelas-jelas melanggar hak-hak masyarakat dianggap sebagai “pelanggaran HAM”. Agama diposisikan lebih nista dari individu/komunitas manusia.

[8] Proyek-proyek perjuangan Islam telah banyak terkontaminasi kepentingan lain. Banyak perjuangan Islam menjadi “perjuangan bisnis”, “perjuangan politik”, bahkan “permainan intelijen”. Di sisi lain, kini telah terjadi proses “LEBAY-ISASI” yaitu upaya melebaykan mental pemuda-pemuda Islam melalui novel, buku, musik, film, fashion, dll.

[9] Pertikaian politik, pemikiran, dan paham fiqih di kalangan Ummat Islam semakin rumit, kusut, dan komplek. Hanya atas hidayah dan taufiq Allah saja yang akan menguraikan semua itu.

[10] Secara umum, kaum Muslimin menderita KEJAHILIYAHAN KOMPLEK. Mereka minim pemahaman agama, minim hikmah agama, minim militansi, juga minim sifat furqan. Gelar akademik, status sosial, dan pengalaman studi di luar negeri, tidak menjamin kebaikan ilmu seseorang. Banyak yang hanya copy-paste.

[11] Fakta yang sangat menakjubkan, bahkan fakta inilah yang mendorong lahirnya tulisan ini, adalah kenyataan bahwa: KASUS-KASUS DI HADAPAN KITA TERUS BERMUNCULAN, TAK MENGENAL STOP. SETIAP SELESAI SATU KASUS, DAN IA BELUM SEMPAT DISIKAPI DENGAN BAIK, SUDAH MUNCUL MASALAH-MASALAH LAINNYA, YANG TAK KALAH PELIK. Akhirnya, Ummat ini seperti TERTIMBUN oleh lautan kasus-kasus.

Coba perhatikan dengan baik…

Dengan realitas buruk (poin 1 – poin 10) kita sudah kehilangan banyak kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi masalah-masalah hidup dengan baik. Ditambah lagi, kita menghadapi masalah no. 11, masya Allah, betapa berat sekali hidup dalam situasi seperti ini. Tidak mengherankan, jika selama ini kita mengalami banyak kegagalan, daripada keberhasilan dalam membangun proyek-proyek kebaikan di tengah masyarakat.

Mungkin pertanyaanya: “Lalu bagaimana solusi menghadapi semua kenyataan ini?” Secara teori jawabnya mudah, yaitu: Kembali kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya! Namun ketika coba menerjemahkan jawaban itu dalam  program-program kehidupan kongkrit, tidak mudah.

Maka jawaban di atas perlu dilengkapi lagi. “Kita harus kembali ke jalan Al Qur’an dan As Sunnah; selalu istiqamah menghidupkan ajaran Islam sekuat kesanggupan; selalu berbaik-sangka kepada Allah Ta’ala, bahwa Dia tak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya; dan meyakini bahwa hanya Allah belaka yang mampu memberikan jalan keluar atas segala tantangan hidup kita.”

Singkat kata: [1] Meyakini Kitabullah dan As Sunnah sebagai landasan hidup kita sepenuhnya. [2] Istiqamah menjalankan amal-amal kebaikan dan menghindari dosa-dosa, sekuat kesanggupan kita. [3] Selalu berbaik sangka kepada Allah. [4] Meyakini bahwa hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan memuliakan kita.

Inilah masalah besar kita “point of no return”. Namun alhamdulillah, Allah Ta’ala tetap menunjukkan jalan-jalan keluarnya. Ke depan kita harus semakin agamis, semakin Islami, semakin Paderi dalam memeluk Islam dan konsisten di atas jalannya. Abaikan media-media atau apa saja yang tidak mengikatkan dirinya dengan kepentingan Islam dan tanggung-jawab keummatan. Tinggalkan sumber-sumber fitnah, dan kembalilah ke pangkuan Kitabullah dan As Sunnah. Tanpa hal ini, sangat sulit menghadapi “point no return”.

Semoga yang kecil ini bermanfaat. Ke depan, saya memiliki niat untuk memanfaatkan blog kecil ini, untuk menyampaikan tulisan/kajian/nasehat yang bersifat Islami. Mencoba mencari solusi-solusi Islami yang bersifat praktis, di tengah rimba-raya informasi dan fitnah yang mengepung dari segala sisi. Semoga Allah menolong kita menunaikan amal-amal yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

AM. Waskito.


Mengapa Kita Mendukung Invasi NATO ke Libya?

Maret 22, 2011

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal akhirah. Amin ya Rahiim.

Sangat sulit dipahami, bagaimana mungkin banyak Muslim hari ini mendukung INVASI Amerika Cs ke Libya. Baik itu ulama, ustadz, pengamat, pemerhati, jurnalis, dan sebagainya. Bagaimana mungkin akal kita bisa membenarkan invasi ke Libya itu? Sesempit itukah wawasan kita? Sependek itukah nalar sejarah kita? Tidakkah kita mau belajar dari penderitaan bangsa Irak dan Afghanistan, pasca invasi Amerika Cs tahun 2003 dan 2001 lalu?

Alasan yang dipakai para AGRESSOR untuk menghujani Libya dengan rudal-rudal adalah: “Demi menyelamatkan warga Benghazi yang anti Qaddafi dari serangan brutalnya yang telah menewaskan manusia sampai 6000 orang lebih. Dengan alasan ini lalu kita membenarkan serangan udara negara-negara syaitan seperti Amerika, Inggris, Perancis, Italia, Kanada, dll.

Apakah Kalian Mendukung Mereka Menghisap Darah Kaum Muslimin???

Mula-mula harus diklarifikasi dulu, benarkah korban yang jatuh dari pihak demonstran anti Qaddafi sampai 6000 jiwa lebih? Laporan ini berdasarkan pantauan TV Aljazeera, lembaga HAM Libya, dan lembaga HAM internasional. Sedangkan, korban menurut versi Pemerintah Libya sendiri tidak pernah dilihat. Setidaknya, kita harus melihat laporan kalangan Islam independen, yang tidak terlibat dalam pertikaian politik di Libya.  Kalau Aljazeera kan jelas-jelas sudah terlibat dalam revolusi dunia Arab saat ini, malah TV ini merupakan PROVOKATOR paling sengit.

Cobalah berpikir logis. Selama terjadi bentrok di Libya, pernahkah kita melihat mayat-mayat bergelimpangan dalam jumlah besar? Pernahkah kita lihat ke rumah-rumah sakit, disana ada ribuan korban jiwa? Pernahkah kita lihat ada pekuburan-pekuburan massal untuk mengubur jenazah yang ribuan orang itu? Pernahkah kita lihat ada gambar-gambar mayat bertumpuk-tumpuk di Libya saat ini? Kalau ada semua itu, saya yakin rakyat Libya yang semula pro Qaddafi, mereka akan berbalik menyerang Qaddafi. Sebab fitrahnya manusia, tidak suka melihat kekejaman.

Bukannya kita mendukung kekejaman Qaddafi. Tidak sama sekali. Tetapi jangan sampai kita zhalim dengan menuduhkan sesuatu yang memang tidak ada realitasnya. Kekejaman Qaddafi kepada demonstran ya jelas harus dihentikan. Bukan seperti itu cara yang seharusnya dilakukan. Baik Qaddafi maupun pasukan NATO, haram berbuat kezhaliman.

Sekarang masalahnya, bagaimana bisa kita menolak kekejaman Qaddafi, sementara kita membenarkan kekejaman serangan NATO terhadap target-target sasaran sipil di Libya? Apakah kalau yang menyerang itu Qaddafi, ia dilarang; tetapi kalau NATO, ia dibenarkan? Itukah yang namanya keadilan?

Seandainya NATO benar-benar adil –sedangkan syaitan tak ada yang bersikap adil– seharusnya mereka segera menghajar Israel dengan serangan ribuan ton rudal. Karena kita tahu betapa kejamnya Israel saat menyerang warga Ghaza pada 2008 lalu. Begitu pula betapa kejinya bangsa itu saat merampok kapal Mavi Marmara dan membunuhi puluhan manusia di dalamnya. Mengapa kita tidak meminta NATO menghajar Israel dengan segala kekejiannya itu?

Apakah seorang Muslim pantas meminta orang kafir membunuhi sesama Muslim (warga Libya), sementara dia tidak pernah meminta orang kafir itu membalas kekejaman Yahudi Israel? Siapapun yang merestui pembunuhan kaum Muslimin di Libya saat ini, dengan meminta bantuan tangan-tangan keji kaum kuffar, mereka bisa jatuh dalam kekufuran. Berhati-hatilah wahai kaum Muslimin.

Mungkin Anda akan membantah, “Tapi kan Qaddafi sudah kejam, sudah biadab, sudah membunuhi ribuan orang Muslim? Dia harus dihentikan bagaimanapun caranya, berapapun harganya?”

Demi Allah, kekejaman Qaddafi –jika benar demikian adanya– tidak bisa dibenarkan dalam Syariat Islam. Dalam menyikapi pertikaian politik antar sesama Muslim (Pemerintah Qaddafi dan demonstran anti Qaddafi) seharusnya ditempuh jalan damai, jalan perundingan, dan kompromi. Bukan saling membunuh. Nabi Saw mengatakan, kalau dua orang Muslim berhadapan, keduanya sama-sama menghunus pedang, lalu salah satu darinya mati; maka keduanya masuk neraka. Yang terbunuh pun masuk neraka, sebab dia sudah ada niat membunuh kawannya.

Cara terbaik mengatasi pertikaian antar sesama Muslim adalah JALAN DAMAI, bukan saling serang dan membunuh. Dan lebih keji lagi, kalau untuk urusan saling membunuh itu, kaum Muslimin meminta bantuan orang kafir –laknat Allah atas mereka–. Wong, saling serang antar Muslim saja haram, apalagi meminta bantun kuffar untuk menyerang Ummat Islam lainnya. Ini adalah perbuatan terkutuk yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Andaikan Qaddafi telah berbuat kejam dengan membunuhi ribuan Muslim. Tetap saja solusinya bukan dengan mendatangkan kekuatan kuffar untuk menghancurkan seluruh negara Libya dan rakyatnya. Jangan sampai, hanya demi mengusir tikus yang masuk rumah, kita menyewa meriam milik orang kuffar. Nanti, bukan hanya tikus itu yang terbakar, tetapi seluruh rumah akan menjadi hancur berkeping-keping.

Cobalah ingat bagaimana latar-belakang perang Afghanistan dan perang Irak! Alasan perang Afghan, adalah untuk menghajar Usamah bin Ladin dan Al Qa’idah. Tetapi yang dihancurkan oleh NATO adalah seluruh negara Afghan dan rakyatnya, sementara Al Qa’idah sampai sekarang masih terus eksis. Alasan perang Irak, adalah untuk menghajar Saddam yang memiliki senjata pemusnah massal. Ternyata kemudian terbukti, alasan itu bohong belaka. Tetapi bangsa Irak sudah remuk-redam dihajar ribuan ton rudal NATO. Bahkan kini Irak lebih didominasi oleh sekte Syi’ah Rafidhah. Wal ‘iyadzubillah.

Kalau masalah kekejaman, Qaddafi bukan satu-satunya penguasa kejam. Coba hitung berapa ribu manusia yang telah tewas di Afghanistan dan Irak! Sebagian menyebut sudah jutaan. Lalu hitung berapa korban Muslim di Palestina akibat kekejaman Israel! Lalu hitung kekejaman di Somalia, di Rwanda, di Chechnya, di Bosnia, bahkan di Ambon, Maluku, Sampit, Sambas, dan lainnya. Ada berapa ribu manusia yang “disate” di tempat-tempat itu? Lalu apakah NATO segera bergerak cepat untuk menghancurkan pihak-pihak pembantai di tempat-tempat itu?

Kita masih ingat bagaimana kekejaman regim militer di Aljazair ketika merampas kemenangan FIS pada tahun 1991-1992 lalu. Ketika itu regim militer tersebut membunuh 50.000 lebih aktivis Islam, atas dukungan negara syaitan Perancis. Apa kita lupa dengan fakta sejarah itu? Lalu dimana pembelaan NATO terhadap FIS? Padahal FIS memenangkan pemilu secara demokratis? Mengapa penguasa militer Aljazair tidak dihajar oleh NATO dan negara sampah seperti Amerika, Inggris, Kanada, dan sejenisnya? Dimana pembelaan mereka terhadap nasib 50.000 aktivis Islam di Aljazair?

Dan yang paling konyol lagi, ialah alasan: “Menciptakan demokrasi di Libya.” Ini adalah alasan yang paling TOLOL yang bisa dikemukakan. Demi melaksanakan demokrasi, kita menghalalkan invasi negara-negara kuffar –semoga Allah mengutuk mereka dan menghancurkan ekonomi mereka–.

Bagaimana mungkin negara-negara itu ingin memaksakan demokrasi dengan bahasa “rudal dan bom”? Ini adalah KEMUNAFIKAN yang sangat telanjang. Mungkinkah bisa terjadi demokrasi dengan bahasa rudal? Sangat sulit dimengerti. Apakah artinya demokrasi jika menghalalkan agressi, invasi, dan serangan rudal-rudal? Disebut demokrasi karena disana tidak digunakan cara-cara kekerasan. Kalau memakai cara kekerasan, yang terjadi bukan demokrasi, tetapi demokrasi berdarah. Lihatlah di Afghanistan, disana Amerika berusaha mendemokrasikan bangsa Afghan tetapi dengan memakai rudal. Akibatnya, rakyat Afghan merespon ajakan Amerika itu dengan serangan-serangan bom manusia, sampai saat ini. Demokrasi darah, ya hasilnya akan dibayar dengan darah pula.

Satu hal yang harus disadari. Andaikan nanti Qaddafi berhasil dihancurkan oleh pasukan NATO, lalu diganti tokoh lain yang lebih demokratis. Pertanyaannya, apakah setelah itu NATO akan pulang ke rumah masing-masing secara damai dan penuh ikhlas? Jangan bodoh kawan! Mereka sudah keluar uang banyak untuk menjatuhkan Qaddafi. Mereka pasti akan meminta BAYARAN atas uang yang sudah mereka keluarkan untuk aksi militer itu. Sebagai catatan, harga 1 unit rudal Tomahawk saja bisa mencapai Rp. 5 miliar sampai Rp. 9 miliar.

Semua biaya-biaya itu pasti akan dimintakan agar diganti oleh negara Libya. Kalau bukan dibayar secara cash, bisa dikonversi dalam bentuk hutang negara. Atau dialihkan dalam bentuk penguasaan ladang-ladang minyak di Libya. Mana ada perang yang cuma-cuma, kawan? Jangan bodoh dan terlalu lugu. Negara-negara agressor seringkali memanfaatkan perang semacam itu untuk mendapat penghasilan ekonomi besar. Itulah yang disebut sebagai “jualan amunisi berkuah darah“.

Sehebat apapun konflik di tengah kaum Muslimin, solusinya bukan dengan meminta bantuan pasukan kuffar yang terkenal haus darah dan zhalim itu. Konflik di antara kaum Muslimin seharusnya diselesaikan dengan ISHLAH. Al Qur’an mengajarkan agar kita menempuh jalan damai ketika menyelesaikan sengketa suami-isteri. Bila konflik sudah serius, kita bisa mengambil, “Hakaman min ahlihi wa hakaman min ahliha” (seorang penengah dari pihak suami, dan penengah dari pihak isteri). Cara demikian diutamakan, karena Islam menganut prinsip, “Was shulhu khair” (perdamaian atau ishlah itu lebih baik).

Kalau untuk konflik rumah-tangga diutamakan cara ishlah, apalagi konflik yang menyangkut darah, nyawa, harta, dan kehidupan kaum Muslimin dalam skala luas? Lalu dimana akal kita ketika kini menyetujui invasi Amerika Cs ke Libya? Itukah cara Islami yang diajarkan oleh Kitabullah dan As Sunnah? Sangat jauh, sangat jauh; seperti jauhnya langit dan bumi, serta jauhnya Barat dan Timur.

Cukuplah ayat berikut sebagai peringatan bagi kita semua:

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Terjemah Ali Imran: 28).

Cimahi, 22 Maret 2011.

(Abinya Syakir).


Fatwa Al Qaradhawi dan Invasi ke Libya

Maret 20, 2011

Hari Sabtu, 19 Maret 2011 dini hari, pasukan koalisi Amerika, Inggris, Perancis melancarkan serangan rudal ke Tripoli, Libya. Ini adalah serangan SUPER CEPAT yang dilakukan negara-negara agressor tersebut; hanya 4 hari setelah DK PBB memutuskan resolusi tentang zona larangan terbang di Libya. Libya tidak boleh memakai pesawat terbangnya, sementara pasukan syaitan dari Perancis, boleh menyerang Libya dengan pesawat tempur.

Kalau melihat resolusi-resolusi PBB yang akhirnya menghalalkan serangan atas target negara-negara Muslim, biasanya membutuhkan waktu lama. Tarik-ulurnya lama. Tetapi ini sangat lain. Amerika, Inggris, dan Perancis –tiga negara syaitan– sangat terburu-buru ingin melenyapkan Qaddafi. Begitu nafsunya, mereka sudah tak sabar untuk menghajar Libya.

Dengan Kapal Semacam Ini, Amerika Bebas Mengobrak-abrik Kedaulatan Bangsa-bangsa

Apakah Amerika, Inggris, dan Perancis –tiga negara syaitan– sudah sangat kehausan dengan minyak, sehingga begitu nafsu ingin melumat rambut Muamar Qaddafi yang mulai rontok itu? Atau mereka sudah gemas ingin segera bagi-bagi jatah jarahan minyak dari bumi Libya? Atau apakah kondisi ekonomi mereka masing-masing sudah nyaris hancur, sehingga membutuhkan “darah segar” berupa kucuran minyak Libya yang dioplos dengan darah Qaddafi?

Amerika, Inggris, dan Perancis saat ini bisa dikatakan sebagai sebrengsek-brengseknya negara, semunafik-munafiknya otak, sedegil-degilnya ambisi syahwat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ketiga negara itu hari ini serupa dengan IMPERIUM FIR’AUN di masa lalu. Bahkan lebih biadab dari Fir’aun. Tidak berlebihan jika ketiga negara itu layak disebut sebagai “negara syaitan” (minus orang-orang waras yang ada di dalamnya).

Di mata negara syaitan, yaitu Amerika, Inggris, dan Perancis; demokrasi dianggap lebih utama daripada kedaulatan sebuah negara. Demi alasan demokrasi, mereka bebas menyerang, menjarah, merampok negara mana saja. Bahkan yang disebut demokrasi di mata mereka bukanlah KEJUJURAN & SPORTIFITAS. Melainkan, sikap regim pemerintahan yang tunduk kepada kepentingan mereka. Demokrasi dimanapun, kalau merugikan nasfsu kolonialis mereka, pasti akan dibubarkan.

Begitulah otak, selera, dan perbuatan negara-negara syaitan; yang tidak tahan untuk mewarnai bumi ini dengan segala dosa, kezhaliman, dan kedurhakaan; semata-mata demi memuaskan birahi mereka. Sangat menyedihkan. Hidup semata mengabdi urusan BIRAHI. Huuh…

Dalam kondisi demikian, sangat disesalkan keluarnya Fatwa Syaikh Al Qaradhawi yang memfatwakan Muamar Qaddafi halal darahnya, dan boleh dibunuh oleh siapa yang bisa membunuhnya. Fatwa ini seperti anti klimaks dari kiprah Al Qaradhawi lebih dari 50 tahunan di dunia ilmiah Islam.

Saya meyakini, fatwa itu ada hubungannya dengan serangan tiga negara syaitan (Amerika, Inggris, Perancis) ke Libya saat ini. Sisi hubungannya adalah sebagai berikut:

[o] Melalui fatwa itu nama baik Qaddafi dihancurkan di mata bangsa Arab. Hal ini membuat Qaddafi semakin marah dan bersikap keras kepada para demonstran yang menentang dirinya. (Di sisi lain, meskipun sama-sama kejam, Al Qaradhawi tidak pernah mengeluarkan “fatwa bunuh” kepada pemimpin Israel, Amerika, Serbia, dan lainnya. Padahal mereka juga berlumuran darah kaum Muslimin).

[o] Fatwa itu membuka jalan lebar kepada Amerika, Inggris, dan Perancis –tiga negara syaitan– untuk menyerang Libya. Seakan, fatwa itu semakin memudahkan langkah ketiga negara syaitan itu untuk menyerang Libya. Mereka menyimpulkan, bahwa Muamar Qaddafi sudah habis, karena difatwakan boleh dibunuh. Nah, negara-negara syaitan itu pun ingin partisipasi mengamalkan fatwa itu, dengan upaya membunuh Qaddafi.

Seperti sudah kita katakan sebelumnya. Muamar Qaddafi punya track record yang tidak sedap kepada gerakan-gerakan Islam di Libya. Banyak orang mengklaim kezhaliman dan kekejamannya. Tidak masalah Qaddafi diganti oleh pemimpin lain, jika benar-benar lebih baik (dan lebih Islami).

Tetapi jangan karena upaya mengganti Qaddafi itu, lalu kita mempersilakan negara-negara penjarah seperti Amerika, Inggris, Perancis, dan kawan-kawan merajalela di bumi Libya. Tidak bisa. Itu haram. Tidak bisa sama sekali.

Yang kita inginkan bagi rakyat Libya, rakyat Mesir, Tunisia, dan rakyat Timur Tengah lainnya, adalah KEBAIKAN untuk mereka. Jika demokrasi bisa menjamin kebaikan hidup mereka, OK. Silakan tempuh demokrasi! Jika pergantian kepemimpinan menjamin kebaikan hidup mereka, silakan diganti pemimpin-pemimpin diktator itu!

Tetapi, pertanyaannya: Adakah harapan kebaikan dengan cara membuka pintu selebar-lebarnya bagi penjarahan, penjajahan, dan perampokan oleh negara-negara agressor seperti Amerika, Inggris, dan Perancis???

Dalam kondisi seperti ini, fatwa Al Qaradhawi sangat dinantikan, untuk menggelorakan JIHAD FI SABILILLAH melawan negara-negara agressor, Amerika, Inggris, Perancis! Bisa jadi, dengan fatwa semacam itu Al Qaradhawi akan memiliki kesempatan untuk menebus kesalahan sebelumnya.

Semoga saja. Amin ya Karim!

 

AM. Waskito.


Cara Licik Mencari Duit!

Maret 19, 2011

Banyak cara mencari duit. Ada yang halal dan ada yang haram. Cara haram pun bermacam-macam. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang terang-terangan, ada yang tersembunyi. Ada yang dilakukan secara kolektif, ada yang sendiri-sendiri. Intinya, mencari duit (get income).

Salah satu modus mencari duit secara licik ialah dengan: Menciptakan ancaman (create a threat). Cara ini banyak digunakan. Tetapi para penggunanya rata-rata pintar. Kalau orang “tidak pintar”, kecil kemungkinan akan memakai cara ini.

Modus operandinya sederhana. Pada suatu tempat disebarkan ancaman-ancaman, dalam bentuk apa saja. Ketika muncul ancaman, orang-orang di tempat itu segera mencari solusi. Nah, pihak yang menciptakan ancaman itu sudah punya solusinya. Maka masyarakat pun berbondong-bondong memakai produk mereka untuk mengatasi ancaman itu.

***

"Kitab Suci-nya" Manusia Berhati Bengis. Na'udzubillah Min Dzalik.

Contoh. Seorang pawang ular menyebarkan ular-ular di suatu kampung. Setelah ular tersebar, penduduk kampung geger dan gelisah. Maka mereka memakai jasa pawang ular itu untuk menangkapi ular.

Contoh lain. Seorang tukang ban menyebarkan paku-paku kecil di sekitar tempat bengkel “tambal ban” miliknya. Setiap motor yang terkena paku-paku itu ban-nya bocor. Maka mereka pun mendatangi bengkel motor itu untuk mendapatkan solusi.

Contoh berikutnya. Seorang kepala preman memerintahkan anak buahnya untuk berbuat onar di suatu pasar. Banyak pedagang merasa takut dan terancam. Lalu kepada preman itu pura-pura datang sebagai pahlawan. “Biarlah kami atasi preman-preman perusuh ini. Mereka hanya biang onar,” kata kepala preman tersebut. Sejak itu, pedagang pasar mau membayar iuran keamanan kepada kepala preman itu.

Contoh lain lagi. Sebuah pabrik racun tikus menyuruh anak buahnya menyebarkan tikus di sawah-sawah. Para petani kecewa, sebab hasil padinya banyak dimakan tikus. Lalu para sales racun tikus datang ke petani-petani itu. “Nah, ini racun tikus yang hebat, Pak. Silakan dicoba. Perusahaan kami sangat mengenal sifat tikus ini.” (Ya, gimana tidak mengenal, wong mereka sendiri yang mengembang-biakkan tikus itu?).

***

Di dunia modern. Bisnis dengan “menciptakan ancaman” juga banyak dipakai. Contoh, perusahaan-perusahaan software aktif membuat virus untuk menyerang pemakai komputer. Virus disebar via internet. Lalu mereka menawarkan program Anti Virus tercanggih untuk mengatasi virus-virus itu. Siapa yang buat, siapa yang mengatasi?

Contoh lain. Perusahaan-perusahaan vaksin dunia sengaja membuat virus penyakit manusia. Virus itu disebarkan di negara-negara berkembang, misalnya berupa virus Flu Burung atau virus Flu Babi. Maka wabah penyakit pun bermunculan. Tanpa menunggu waktu lama, permintaan vaksin anti virus itu segera berdatangan dari penjuru dunia. “Waktu panen sudah tiba, kawan!” kata salah satu manajer pemasaran vaksin itu.

Contoh lain. Perusahaan-perusahaan senjata kebingungan. Mereka terus produksi senjata, tetapi permintaan terus merosot. Maka mereka pun mengutus agen-agen tertentu untuk membuat adu-domba di Afrika. Mereka harus memantik konflik di Afrika. Setelah beberapa tahun bekerja, konflik berdarah pun terjadi. Maka mereka pun menawarkan produknya kepada suku-suku Afrika itu. “Ini produk terbaru kami. Pengembangan dari versi AK47 dengan ditambah tenaga nuklir dan efek sinar laser,” celoteh penjual senjata dengan segala bumbunya.

Contoh lain. Lembaga-lembaga keuangan dunia bingung untuk mencari debitor (negara pengutang). Maka dicarilah cara agar negara-negara tertentu mau berhutang kepadanya. Kalau mereka berhutang, jelas pintu-pintu kekayaan terbuka lebar di depan mata. Maka lembaga-lembaga itu pun menerbitkan: HASIL SURVE, INDEKS KEMAJUAN EKONOMI, INDEKS KUALITAS HIDUP, dll. Intinya, melalui indeks-indeks itu, negara-negara berkembang ditekan agar merasa rendah diri, merasa miskin, merasa terbelakang, dll. Setelah perasaan putus-asa itu muncul, barulah lembaga-lembaga itu menawarkan paket pinjaman keuangan.

Licik ya… Tapi nyata… Ya, itulah sebagian tingkah manusia…

***

Lalu ada lagi bisnis lain yang sama modusnya. Ini seputar “bisnis keamanan”. Banyak lembaga/instansi keamanan bermunculan. Baik yang resmi atau swasta. Mereka mencari duit juga. Caranya, dengan memberikan: jasa pengamanan situasi.

Untuk sampai ke tahap PANEN, tentu mereka harus menciptakan masalah dulu. Istilahnya, “menciptakan rasa tidak aman”, atau “menciptakan ketidak-amanan”, atau bisa juga disebut “menciptakan suasana terteror”. Masyarakat harus merasakan suasana penuh ketakutan. Kalau tidak begitu, bisnis tidak akan jalan. Namanya juga jasa pengamanan, kalau masyarakat merasa tenang dan nyaman, jelas tidak ada income.

Misalnya, di sebuah negara XYZ. Disana dibentuk sebuah badan, misalnya saja nama badan itu: Instansi untuk Mengatasi Gangguan Keamanan (disingkat IMGK). Badan IMGK ini mendapat biaya operasional dari Pemerintah negara XYZ. Tetapi dengan syarat, badan itu harus jelas kerjanya. Kalau tidak ada kerjanya, ia akan dibubarkan. Itu otomatis. “Buat apa memberi anggaran ke sebuah badan yang tak ada kerjanya?” kata seorang Menteri Keuangan sambil bersungut-sungut.

Para pemimpin di lembaga IMGK itu putar otak. “Gimana nih caranya, agar badan kite tidak dibubarkan? Kita harus mencari cara agar anggaran terus mengucur. Kita harus menciptakan kondisi yang membuat masyarakat membutuhkan keberadaan kita. Apa ya kira-kira?”

***

Hidup di jaman modern memang tidak mudah. Banyak orang sudah keburu hidup dengan standar biaya tinggi. Mereka tidak bisa hidup dengan duit sedikit. Sekali duit merosot, merosot juga kesenangan mereka. Ya maklum, mereka tidak bisa berharap apa-apa lagi; selain kesenangan dunia ini. Mereka sudah yakin akan masuk NERAKA, karena dosa-dosa perbuatan mereka sudah terlampau amat banyak. Dosa darah, dosa nyawa, dosa kemaluan wanita, dosa kepada anak-isteri, dosa kepada agama, dosa kepada masyarakat, dosa kepada Allah Ta’ala. Banyak, banyak sekali.

Mereka terus menekuni bisnis “ala Mafia”. Panduan hidup mereka, buku Mafia Manajer. “Kadang, bisnis menjadi lebih mudah, dengan sedikit tekanan dan todongan pistol,” begitu filosofi dasarnya.

Orang-orang ini sudah tercebur dalam arus kotornya bisnis, dan kejinya usaha. Mereka tidak bisa keluar darinya. Apa yang bisa mereka lakukan, hanyalah menciptakan ancaman, membuat fitnah, menyebarkan onar, lalu ujungnya memanen income. Kasihan sekali memang!

Ya, namanya juga manusia. Makar manusia bisa bagaimana saja. Tetapi Allah Maha Tahu dan Maha Kuat. Makar mereka pasti akan digulung, dipatahkan, dan dilipat sampai tuntas. Hanya waktu saja yang kita nantikan. “Innallah laa yukhliful mi’aad” (sesungguhnya Allah itu tidak mengingkari janji-Nya). Orang-orang yang berbinis licik itu, pasti akan menangis, meraung, dan menjerit-jerit seperti lolongan srigala. Amin.

Semoga Allah menetapkan kita selalu istiqamah dalam kebaikan, sampai akhir hayat. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.