Revolusi Islam dan Tirani Media

Tanggal 1 Maret 2011 kemarin, ribuan Ummat Islam dari FPI-FUI menggelar aksi massa dan longmarch ke Istana Negara. Agendanya jelas, menuntut dibubarkannya Ahmadiyyah, atau SBY dilengserkan dari jabatan RI-1.

Hanya sayangnya, aksi massa ini seperti sebelum-sebelumnya, jarang dipublikasikan oleh media-media TV. Berbeda dengan aksi demo-demo di Timur Tengah untuk menumbangkan para penguasa diktator, media-media seolah tak kehilangan nafas untuk memberitakan demo-demo itu. Sebagian beritanya didramatisir tidak karuan.

Hal ini mengingatkan kita kepada demo-demo tahun 1998 lalu di Indonesia. Tanpa bantuan publikasi media TV seperti RCTI, SCTV, Indosiar, dll. sulit sekali demo-demo itu akan berkembang meluas ke seluruh Indonesia. Begitu pula, tanpa bantuan media TV, tidak mungkin akan tercipta demo-demo besar di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Bahrain, dll. Media TV seperti Aljazeera dan Al ‘Arabiyah sangat berperan di balik tersebarnya api revolusi Arab itu.

Sekedar catatan, tahun 1990-1991 dunia menyambut hadirnya sebuah stasiun TV besar dari Amerika, CNN. Waktu itu CNN termasuk media TV yang sangat intens memberitakan perang Teluk antara Irak Vs Amerika dan negara-negara Sekutu. CNN dipuji-puji sebagai jurnalis TV yang sangat pemberani, karena melakukan liputan langsung ke arena peperangan. CNN menggeser peran Reuters, AFP, AP, dll.

Namun tahun 2001 CNN menjadi “humas George Bush” melalui pemberitaan yang intens tentang peledakan gedung WTC, 11 September 2001. CNN sangat intens melakukan kampanye “war on terror” dengan tajuk yang sangat jelas, “America Under Attack”. Sejak saat itu, kepercayaan dunia kepada CNN mulai merosot, terutama di negeri-negeri Muslim. CNN dianggap media sampah yang menjadi corong agenda George Bush.

Saat CNN merosot, tahun 2003 Amerika menginvasi Irak. Saat itu dunia dikejutkan oleh lahirnya TV swasta yang dijuluki “CNN-nya Timur Tengah”. Ia adalah Aljazeera dari Qatar. Sejak saat itu Aljazeera menjadi primadona dunia Islam, khususnya Timur Tengah. Meskipun sejujurnya, media ini berhaluan sekuler. Para presenter wanitanya, bukan hanya cantik-cantik, tetapi juga tidak berjilbab. Aljazeera sangat cepat merebut simpati dunia Islam, lalu disusul lahirnya TV sejenis, Al ‘Arabiyyah.

Husni Mubarak pernah berkunjung ke Qatar untuk melihat dari dekat TV Aljazeera. Ternyata, stasiun TV itu kecil. Kata Mubarak, “Aljazeera hanya sebesar korek api.” Artinya, TV itu sebenarnya kecil, tetapi gaungnya sangat kuat mempengaruhi akal, perasaan, dan emosi bangsa Arab.

Selama bertahun-tahun Aljazeera memerankan tugas penting, yaitu: Membongkar budaya berpikir bangsa Arab yang cenderung tradisional-Islami; meningkatkan agressifitas sosial berupa keberanian rakyat menuntut ini itu; meningkatkan nalar politik warga Arab agar tidak betah dengan sistem diktator; mengimpor ide-ide demokrasi sebagai alternatif sistem hidup bangsa Arab.  Peran ini secara tekun dilakukan oleh Aljazeera selama bertahun-tahun.

Dan, hasilnya dipanen saat ini tahun 2011, ketika timbul gejolak politik besar di Timur Tengah. Gejolak di Timur Tengah saat ini adalah PRODUK UTAMA metode siaran pers yang dikembangkan oleh Aljazeera dan kawan-kawan, selama bertahun-tahun. Dan resikonya, dari proses seperti ini kita sangat mencemaskan masa depan Islam di Timur Tengah. Bagaimana nanti nasib Islam ke depan? Apakah dunia Arab akan kembali ke Khilafah Islamiyyah? Atau mereka akan masuk dalam perangkap DEMOKRASI LIBERAL seperti di Indonesia? Wallahu A’lam bisshawaab.

Selama ini, bangsa Arab secara tradisional hidup dalam kultur Islam. Seburuk-buruk keadaan mereka, masyarakat Arab masih mengakui Islam, menghormati Al Qur’an, menghormati Sunnah Nabi, menerima fatwa-fatwa ulama, dan lainnya. Bila demokrasi liberal dibuka di negeri Arab, maka agen-agen Yahudi dan Amerika disana akan mulai menghujat Allah, menghujat Rasul-Nya, menghujat sejarah Islam, mempertanyakan otoritas Syariat Islam, dll. Semua itu mereka lakukan atas nama: kebebasan demokrasi!

Demi Allah, kita tidak ada yang suka dengan kezhaliman & kekejaman diktator-diktator Arab. Tetapi selagi Islam belum siap menggantikan posisi para diktator itu, maka rakyat Arab akan mencari alternatif lain selain Islam. Apakah itu? Pasti demokrasi liberal. Kalau ini yang dipilih, rakyat Arab bukan akan semakin baik, mereka justru akan semakin hancur. Negara, kekayaan, dan kehidupan mereka akan diinjak-injak oleh kaum kapitalis.

Media massa, khususnya media TV, mereka sejatinya bukanlah alat untuk mencerdaskan masyarakat, untuk membela aspirasi rakyat, untuk mengoreksi pemerintahan yang menyimpang, untuk membela kebenaran, untuk mengemukakan kejujuran ilmiah, dll. Bukan, bukan sama sekali. Media massa saat ini tak lebih dari: alat politik kaum kapitalis dan alat mencari makan kaum oportunis!

Sulit mewujudkan revolusi Islam di Indonesia, sebab media-media TV sudah dikuasai kaum sekuler-kapitalis. Mereka tak akan rela terjadi revolusi Islam. Jika demo-demo FPI-FUI tidak didukung media-media TV, ya jangan heran. Mereka jelas akan membela wali-walinya, bukan membela Islam.

 

AM. Waskito.

Iklan

3 Responses to Revolusi Islam dan Tirani Media

  1. Moris Priyandono berkata:

    saya sering lewat kantor Al Jazeera krn sekarang tinggal di Qatar. Satu kota dg Syeikh Yusuf Qardhawi. Stasiun TV-nya memang kecil, secara fisik bangunannya masih lebih megah statiun2 TV swasta di Jakarta. Tapi siaran Al-Jazeera paling favorit di timur tengah. Yang penting kan kontennya.

  2. warren berkata:

    revolusi islam cukup membantu untuk mengangkat kembali harga dirinya yang udah jauh sebelum ini dilecehkan baik oleh musuh-musuh islam (amrik n srael dan koloniny) maupun para oknum2 islam itu sendiri (banyak kynya)…

  3. […] [14] Revolusi Islam dan Tirani Media.  […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: