Kok Ada Manusia Sekeji Itu…

Sekali waktu, cobalah Anda lakukan simulasi sederhana berikut ini. Saat siang hari yang panas, badan terasa gerah dan lusuh, cobalah Anda ke kamar mandi, lalu basuh muka Anda sedalam-dalamnya (maksudnya, cuci muka sampai sesegar mungkin). Setelah itu, muka jangan dilap pakai handuk. Meskipun air bercucuran dari rambut, biarkan saja. Lalu berdirilah di depan sebuah cermin agak besar. Selanjutnya, lihat diri Anda di cermin itu!

Ini adalah sebuah “test humanitas”, untuk mengetahui bahwa dalam diri kita masih ada sifat-sifat kemanusiaan. Kalau saat Anda melihat wajah di cermin, Anda tersenyum; lalu disana ada rasa bahagia dalam hati. Insya Allah, Anda masih memiliki HATI NURANI. Kalau setelah segar cuci muka, saat menetes air dari rambut, melihat ke cermin; lalu Anda merasa muak melihat diri Anda sendiri, Anda merasa melihat wajah “badut” yang disembunyikan di balik make up (dan retorika tinggi); itu tandanya hati nurani Anda sudah rusak. Bahkan, orang yang rusak nurani, tidak akan berani melakukan “test humanitas” seperti di atas.

Lagu Ebiet: Dalam Kekalutan, Masih Banyak Tangan yang Tega Berbuat Nista.

Ini perlu disampaikan, sebab akhir-akhir ini kehidupan kita terasa sangat letih, perih, penuh duka dimana-mana. Dunia terasa sesak dengan fitnah, kebohongan terbang bagai asap, mengotori seisi negara; tipu-daya menjadi AZAS kehidupan yang diyakini mayoritas kaum elit. Di saat seperti ini, sifat-sifat kemanusiaan semakin langka. Kalau kemunafikan atau tipu-daya, bertebaran ada dimana-mana.

Lihatlah, betapa sangat KEJI dan KEJI sekali. Rasanya, tidak sanggup hati nurani kita mencerna semua ini. Rasanya, ini bukan dunia kita, bukan kehidupan kita; tetapi kehidupan makhluk lain (yang berwarna hitam, bertanduk dua, dan mendengki Bani Adam As).

Keji, keji, keji sekali… Tak terbayangkan betapa kejinya…

Tanggal 11 Maret 2011 lalu terjadi gempa bumi dan Tsunami dahsyat di Jepang. Luar biasa bencana ini. Kota-kota di pesisir Timur Jepang luluh-lantak. Kota hancur, infrastuktur hancur, ribuan manusia tewas. Kota-kota itu seperti bentuk miniatur yang disiram dengan air deras, seketika berantakan, seperti tahu campur. Ribuan manusia tewas, mereka tertimbun bersama material tanah, bangunan, kayu, logam, mobil, perabot rumah, dll. Benar-benar seperti rujak petis yang diuleg.

Dalam situasi seperti itu… Sebagai manusia berakal, kita tentu trenyuh, merasa iba, dan sangat sedih. Ya Allah, begitu dahsyat bencana ini. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Sangat sedih melihat wajah anak-anak balita di Perfektur Miyagi. Puluhan anak, dijaga oleh ibu gurunya. Wajah mereka masih bersih, masih dekat dengan fitrah. Tetapi orangtuanya tidak tahu kemana, apakah masih selamat atau sudah teraduk bersama ribuan ton material yang dihanyutkan air? Hanya Allah yang Tahu.

Sebagai manusia, sebagai Muslim, kita merasa haru dengan semua ini. Maka sangat indah sekali ketika FPI membuat surat ke Kedubes Jepang, menawarkan diri ikut mengevakuasi korban bencana. FPI bukan hanya memprotes keras kedatangan Miyabi yang akan merusak moral bangsa Indonesia; tetapi juga mengulurkan bantuan untuk mengevakuasi korban, saat Jepang dilanda bencana dahsyat.

Nasdem milik Surya Paloh saja tidak seberani itu, tetapi FPI membuktikan dirinya sebagai komunitas bermoral tinggi. Alhamdulillah. Meskipun, dalam berita-berita di MetroTV, FPI sering diserang sebagai “preman berjubah” oleh presenter-presenter TV itu.

Nah, kita semua tahu, betapa sangat menderitanya bangsa Jepang saat ini. Kita tahu, betapa tengik-nya ekspansi bisnis Jepang yang memborong bisnis konsumsi di Indonesia. Kita tahu, betapa atheis-nya manusia Jepang dalam soal agama. Kita tahu, betapa rusaknya moral generasi muda mereka, dan betapa mereka mendewa-dewakan free sex. Kita tahu itu.

Tapi, di sisi sifat kemanusiaan kita, tetap ada belas kasih, tetap ada rasa haru, tetap ada empati melihat penderitaan manusia-manusia Jepang itu. Alhamdulillah. Inilah karakter dasar HATI NURANI, yaitu selalu mengasihi manusia yang menderita; apapun keyakinannya. Kalau bisa, kita membantu meringankan kesusahan mereka. Siapa tahu, dengan uluran tangan ikhlas itu, mereka akan mendapat hidayah Allah.

Nah, dalam kondisi manusia sedunia sedang berduka seperti ini. Dalam kondisi kita sudah berduka atas konflik berdarah di Timur Tengah. Tiba-tiba muncul “Bom Ulil Abshar” di Utan Kayu. Bukan main-main, bom ini katanya: Dikirim oleh TERORIS, untuk MEMBUNUH tokoh JIL yang telah divonis halal darahnya, dan tujuan akhirnya mengacaukan negara.

Masya Allah, masya Allah, masya Allah… Entahlah, apa lagi yang bisa dikatakan? Ini kehidupan apa sebenarnya? Kehidupan manusia, atau kehidupan syaitan?

Dunia lagi bersedih dengan terjadinya bencana Tsunami di Jepang, ledakan reaktor nuklir, juga konflik berdarah di Libya; tiba-tiba tangan-tangan intelijen kotor membuat bom, dengan sasaran orang tertentu. Tujuannya sangat amat jelas: MEMFITNAH kalangan Islam dengan isu terorisme!!! Agar nanti ada penangkapan-penangkapan lagi, tembak-tembakan lagi, perburuan lagi, dan seterusnya. Ya, layaknya sinetron terorisme yang sudah-sudah.

Kelihatan sekali “Bom Ulil Abshar” itu untuk memfitnah Ummat Islam. Disana disebutkan Ulil Abshar halal darah, berdosa dan berhak dibunuh, bahkan ada istilah “daftar bunuh”. Disertai identitas penulis dengan gelar Lc.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Kok ada ya manusia sekeji itu… Di saat dunia lagi berduka, mereka membuat operasi-operasi untuk memfitnah kaum Muslimin di Indonesia. Aduh, kasihan sekali nasib Muslim di negeri ini. Mereka terus dikerjai oleh tangan-tangan kotor intelijen, demi tujuan syahwat belaka.

Mungkin, para konspirator itu merasa aman dari SIKSA Allah dan adzab-Nya. Mereka merasa jumawa dan bisa berbuat apa saja. Termasuk menghancurkan kehidupan orang-orang beriman. Mereka merasa BEBAS, AMAN, TIDAK ADA SANKSI APAPUN. Padahal sanksi itu sudah dekat dengan mereka. Sanksi itu sudah dekat, sudah dekat sekali. Sebab kezhaliman tangan-tangan konspirator itu sudah tak termaafkan lagi. Mereka sudah di titik kulminasi kezhaliman. Yakinlah, Allah Ta’ala akan menggulung mereka, dan membenamkannya dalam Jahannam selama-lamanya. Allahumma amin.

Kok ada manusia sekeji itu… Saat bangsa lain sedang berduka, bukannya empati, malah membuat fitnah untuk para aktivis Islam.

AM. Waskito.

Iklan

2 Responses to Kok Ada Manusia Sekeji Itu…

  1. fitriardi berkata:

    Assalamu`alaikum Warohmatullohi Wabarolatuh

    Salam kenal dari Sawangan. Ana tertarik dengan kesimpulan analisa ustandz di atas, tetapi mohon kiranya merunutkan analisanya (maklum masih awam), maksud ana. Mohom kiranya ustadz menjelaskan lebih rinci mengapa kesimpulan akhirnya mengenai teror bom itu yang membuat adalah pihak intel. Karena selama ini ana kurang mendapat jawaban yang meyakinkan.
    Atas kesediaan ustadz, ana ucapkan Jazakalloh Khoiron.

    Wassalamu`alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

  2. abisyakir berkata:

    @ Fitriardi…

    Mohon kiranya ustadz menjelaskan lebih rinci mengapa kesimpulan akhirnya mengenai teror bom itu yang membuat adalah pihak intel.

    Respon:

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Hampir semua kasus terorisme/bom sejak bom Bali 2002, tidak ada yang MURNI dan betul-betul dilakukan secara IKHLAS, SENGAJA, dan TERENCANA oleh para “teroris” itu. Imam Samudra sendiri saja merasa bahwa proyek Bom Bali itu tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa pemikiran matang. Tiba-tiba rapat, tiba-tiba sudah ada dana, tiba-tiba harus surve ke Bali, dan seterusnya. Itu pun yang mereka bom di depan Paddy’s Club yang korbannya lebih sedikit. Sedangkan di Sari Club yang korbannya ratusan orang, itu bukan bom mobil, tetapi rudal yang ditembakkan dari kapal Amerika yang malam itu sedang berlabuh di Pantai Genoa Bali. Tapi semua itu tetap diklaim sebgai bom Imam Samudra Cs.

    Tidak ada satu pun kasus terorisme yang MURNI di Indonesia. Hal itu ditegaskan oleh Dr. AC Manullang, mantan Kepala Bakin di era Soeharto. Faktanya begini ya: (a) Pemerintah RI/SBY sangat suka dengan isu terorisme, padahal isu ini sangat merusak citra bangsa di dunia internasional; (b) Pihak-pihak yang dituduh teroris itu rata-rata kaum fakir/miskin. Kehidupan ekonomi pas-pasan. Darimana mereka bisa biaya operasi? Wong untuk sekolah anak-anak saja sulit?; (c) Saat ini banyak mantan veteran Afghanistan diburu-buru oleh aparat. Yang kerap jadi target operasi terorisme kan mereka. Padahal tahun 80-an dulu, Pemerintah RI sendiri yang memfasilitasi mereka pergi ke Afghan untuk melawan Komunis. Mereka yang memulai, mereka pula yang membantai.

    Logikanya: “Kalau bom Bali yang lebih fenomenal saja penuh dengan rekayasa, apalagi bom ecek-ecek semacam bom ulil abdala itu?”

    Alasan lain, ialah pernyataan pimpinan badan pemberantasan terorisme itu sendiri. Lha, baru sehari bom meledak, dia langsung menuduh Islam garis keras. Penyelidikan belum dilakukan, mulut sudah mangab (bunyi). Ini kan aneh? Seolah, dia sudah sengaja membawa kasus bom itu untuk menghajar Islam garis keras.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: