Cara Licik Mencari Duit!

Banyak cara mencari duit. Ada yang halal dan ada yang haram. Cara haram pun bermacam-macam. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang terang-terangan, ada yang tersembunyi. Ada yang dilakukan secara kolektif, ada yang sendiri-sendiri. Intinya, mencari duit (get income).

Salah satu modus mencari duit secara licik ialah dengan: Menciptakan ancaman (create a threat). Cara ini banyak digunakan. Tetapi para penggunanya rata-rata pintar. Kalau orang “tidak pintar”, kecil kemungkinan akan memakai cara ini.

Modus operandinya sederhana. Pada suatu tempat disebarkan ancaman-ancaman, dalam bentuk apa saja. Ketika muncul ancaman, orang-orang di tempat itu segera mencari solusi. Nah, pihak yang menciptakan ancaman itu sudah punya solusinya. Maka masyarakat pun berbondong-bondong memakai produk mereka untuk mengatasi ancaman itu.

***

"Kitab Suci-nya" Manusia Berhati Bengis. Na'udzubillah Min Dzalik.

Contoh. Seorang pawang ular menyebarkan ular-ular di suatu kampung. Setelah ular tersebar, penduduk kampung geger dan gelisah. Maka mereka memakai jasa pawang ular itu untuk menangkapi ular.

Contoh lain. Seorang tukang ban menyebarkan paku-paku kecil di sekitar tempat bengkel “tambal ban” miliknya. Setiap motor yang terkena paku-paku itu ban-nya bocor. Maka mereka pun mendatangi bengkel motor itu untuk mendapatkan solusi.

Contoh berikutnya. Seorang kepala preman memerintahkan anak buahnya untuk berbuat onar di suatu pasar. Banyak pedagang merasa takut dan terancam. Lalu kepada preman itu pura-pura datang sebagai pahlawan. “Biarlah kami atasi preman-preman perusuh ini. Mereka hanya biang onar,” kata kepala preman tersebut. Sejak itu, pedagang pasar mau membayar iuran keamanan kepada kepala preman itu.

Contoh lain lagi. Sebuah pabrik racun tikus menyuruh anak buahnya menyebarkan tikus di sawah-sawah. Para petani kecewa, sebab hasil padinya banyak dimakan tikus. Lalu para sales racun tikus datang ke petani-petani itu. “Nah, ini racun tikus yang hebat, Pak. Silakan dicoba. Perusahaan kami sangat mengenal sifat tikus ini.” (Ya, gimana tidak mengenal, wong mereka sendiri yang mengembang-biakkan tikus itu?).

***

Di dunia modern. Bisnis dengan “menciptakan ancaman” juga banyak dipakai. Contoh, perusahaan-perusahaan software aktif membuat virus untuk menyerang pemakai komputer. Virus disebar via internet. Lalu mereka menawarkan program Anti Virus tercanggih untuk mengatasi virus-virus itu. Siapa yang buat, siapa yang mengatasi?

Contoh lain. Perusahaan-perusahaan vaksin dunia sengaja membuat virus penyakit manusia. Virus itu disebarkan di negara-negara berkembang, misalnya berupa virus Flu Burung atau virus Flu Babi. Maka wabah penyakit pun bermunculan. Tanpa menunggu waktu lama, permintaan vaksin anti virus itu segera berdatangan dari penjuru dunia. “Waktu panen sudah tiba, kawan!” kata salah satu manajer pemasaran vaksin itu.

Contoh lain. Perusahaan-perusahaan senjata kebingungan. Mereka terus produksi senjata, tetapi permintaan terus merosot. Maka mereka pun mengutus agen-agen tertentu untuk membuat adu-domba di Afrika. Mereka harus memantik konflik di Afrika. Setelah beberapa tahun bekerja, konflik berdarah pun terjadi. Maka mereka pun menawarkan produknya kepada suku-suku Afrika itu. “Ini produk terbaru kami. Pengembangan dari versi AK47 dengan ditambah tenaga nuklir dan efek sinar laser,” celoteh penjual senjata dengan segala bumbunya.

Contoh lain. Lembaga-lembaga keuangan dunia bingung untuk mencari debitor (negara pengutang). Maka dicarilah cara agar negara-negara tertentu mau berhutang kepadanya. Kalau mereka berhutang, jelas pintu-pintu kekayaan terbuka lebar di depan mata. Maka lembaga-lembaga itu pun menerbitkan: HASIL SURVE, INDEKS KEMAJUAN EKONOMI, INDEKS KUALITAS HIDUP, dll. Intinya, melalui indeks-indeks itu, negara-negara berkembang ditekan agar merasa rendah diri, merasa miskin, merasa terbelakang, dll. Setelah perasaan putus-asa itu muncul, barulah lembaga-lembaga itu menawarkan paket pinjaman keuangan.

Licik ya… Tapi nyata… Ya, itulah sebagian tingkah manusia…

***

Lalu ada lagi bisnis lain yang sama modusnya. Ini seputar “bisnis keamanan”. Banyak lembaga/instansi keamanan bermunculan. Baik yang resmi atau swasta. Mereka mencari duit juga. Caranya, dengan memberikan: jasa pengamanan situasi.

Untuk sampai ke tahap PANEN, tentu mereka harus menciptakan masalah dulu. Istilahnya, “menciptakan rasa tidak aman”, atau “menciptakan ketidak-amanan”, atau bisa juga disebut “menciptakan suasana terteror”. Masyarakat harus merasakan suasana penuh ketakutan. Kalau tidak begitu, bisnis tidak akan jalan. Namanya juga jasa pengamanan, kalau masyarakat merasa tenang dan nyaman, jelas tidak ada income.

Misalnya, di sebuah negara XYZ. Disana dibentuk sebuah badan, misalnya saja nama badan itu: Instansi untuk Mengatasi Gangguan Keamanan (disingkat IMGK). Badan IMGK ini mendapat biaya operasional dari Pemerintah negara XYZ. Tetapi dengan syarat, badan itu harus jelas kerjanya. Kalau tidak ada kerjanya, ia akan dibubarkan. Itu otomatis. “Buat apa memberi anggaran ke sebuah badan yang tak ada kerjanya?” kata seorang Menteri Keuangan sambil bersungut-sungut.

Para pemimpin di lembaga IMGK itu putar otak. “Gimana nih caranya, agar badan kite tidak dibubarkan? Kita harus mencari cara agar anggaran terus mengucur. Kita harus menciptakan kondisi yang membuat masyarakat membutuhkan keberadaan kita. Apa ya kira-kira?”

***

Hidup di jaman modern memang tidak mudah. Banyak orang sudah keburu hidup dengan standar biaya tinggi. Mereka tidak bisa hidup dengan duit sedikit. Sekali duit merosot, merosot juga kesenangan mereka. Ya maklum, mereka tidak bisa berharap apa-apa lagi; selain kesenangan dunia ini. Mereka sudah yakin akan masuk NERAKA, karena dosa-dosa perbuatan mereka sudah terlampau amat banyak. Dosa darah, dosa nyawa, dosa kemaluan wanita, dosa kepada anak-isteri, dosa kepada agama, dosa kepada masyarakat, dosa kepada Allah Ta’ala. Banyak, banyak sekali.

Mereka terus menekuni bisnis “ala Mafia”. Panduan hidup mereka, buku Mafia Manajer. “Kadang, bisnis menjadi lebih mudah, dengan sedikit tekanan dan todongan pistol,” begitu filosofi dasarnya.

Orang-orang ini sudah tercebur dalam arus kotornya bisnis, dan kejinya usaha. Mereka tidak bisa keluar darinya. Apa yang bisa mereka lakukan, hanyalah menciptakan ancaman, membuat fitnah, menyebarkan onar, lalu ujungnya memanen income. Kasihan sekali memang!

Ya, namanya juga manusia. Makar manusia bisa bagaimana saja. Tetapi Allah Maha Tahu dan Maha Kuat. Makar mereka pasti akan digulung, dipatahkan, dan dilipat sampai tuntas. Hanya waktu saja yang kita nantikan. “Innallah laa yukhliful mi’aad” (sesungguhnya Allah itu tidak mengingkari janji-Nya). Orang-orang yang berbinis licik itu, pasti akan menangis, meraung, dan menjerit-jerit seperti lolongan srigala. Amin.

Semoga Allah menetapkan kita selalu istiqamah dalam kebaikan, sampai akhir hayat. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: