The Point Of No Return!

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Mungkin Anda pernah membaca atau mendengar kalimat ini, “The point of no return!” (titik dimana sudah tidak ada lagi kesempatan untuk kembali). Kalimat ini memiliki makna sangat dalam, kalau tidak dikatakan, penuh rasa khawatir di dalamnya. Jika seseorang sudah sampai di titik “no return” itu, dia sudah tidak bisa kembali lagi; bahkan sekedar menengok ke belakang saja, tidak memungkinkan.

Suatu hari Rasulullah Saw menyerahkan panji Jihad Fi Sabilillah ke tangan Ali bin Abi Thalib Ra, dalam momen perang Khaibar. Rasulullah menjanjikan, Allah akan memberikan kemenangan di tangan Ali, untuk membuka benteng Khaibar, mengalahkan kaum Yahudi, dan merebut kekuasaan mereka. Ketika itu Rasulullah berpesan agar Ali memegang panji Jihad itu dengan mantap, maju ke depan, dan tak menengok ke belakang. Beliau berpesan agar Ali memimpin memerangi Yahudi, dalam rangka menegakkan kalimah, “Laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.”

Tidak Ada Kesempatan Menengok ke Belakang.

Ali bin Abi Thalib Ra saat itu berada di “point no return”. Dia tak bisa surut ke belakang, berhenti, atau meminta toleransi. Jihad harus dikobarkan, musuh di depan mata, kemenangan sudah menanti. Bila Ali bin Abi Thalib bukan pribadi yang ISTIQAMAH, tidak mungkin beliau akan memikul amanah menaklukkan basis terakhir kekuatan Yahudi di Kota Madinah itu. Dan alhamdulillah, Ali meraih sukses besar.

Ada kalanya makna “point no return” bersifat negatif (bahkan sebenarnya lebih banyak bermakna demikian). Misalnya, seseorang yang sudah terjerumus ke dunia narkoba, akan sangat sulit kembali ke jalan semula, bahkan tidak mungkin bisa kembali pulih 100 % seperti semula. Ada saja, aset-aset kehidupannya yang sirna akibat obat psikotropika itu. Begitu juga seseorang yang telah melakukan seks bebas, terjerumus praktik ribawi, membunuh manusia secara tidak haq, melalukan kebohongan agama, mengkhianati masyarakat luas, dll. Mereka juga berada dalam “point no return”, tidak ada tempat kembali baginya.

Seperti para politisi yang telah terjerumus jauh dalam urusan politik. Mereka telah menghirup polusi politik, sudah banyak menelan “nasi bungkus” politik, sudah bermain-main dengan “cinta” politik, sudah akrab dengan dusta politik, sudah memiliki “selera konsumsi” politik, dan seterusnya. Mereka juga berada dalam “point no return” itu. Begitu juga dengan para dai, ustadz, muballigh, kyai, cendekiawan Muslim, dll. yang telah terlalu jauh bermain-main di dunia dakwah, bukan ikhlas karena Allah, tetapi karena selain-Nya.

Namun…

Ada satu hal yang perlu diingatkan kepada Ummat Islam, tentang momen “point no return” ini. Ternyata, setelah melakukan kajian atas fakta-fakta selama ini, dalam kehidupan Ummat Islam, di tingkat lokal, nasional, maupun dunia. Saat ini pun kita semua telah berada dalam situasi “point no return”. Situasi ini bukan bersifat personal atau komunitas, tetapi menyangkut nasib Ummat di hadapan PERUBAHAN JAMAN.

Jaman yang kita alami saat ini ternyata merupakan jaman “point no return”. Maksudnya, di jaman ini kita tidak bisa mengelak dari kenyataan-kenyataan buruk di depan mata. Hal-hal buruk itu –yang sering kita yakini sebagai hasil dari gerakan konspirasi– sengaja diciptakan, dikembangkan, dan disecarkan secara global, sampai ke kamar-kamar rumah kita. Sejak lama, kita telah menyadari ini; kita telah membaca dan mendiskusikan keadaan ini; bahkan kita telah berusaha semampunya melawan gelombang ini. Namun rupanya, kekuatan musuh (kaum konspirator) terlalu kuat untuk dihadapi. Mereka memaksakan agar dunia berjalan tanpa moral, selain “moral” jahiliyyah yang sangat konfrontatif dengan nilai-nilai Islam; mereka didukung segala tenaga, fasilitas, dana, dan dukungan politik unlimitted. Sedangkan usaha-usaha Islami, hanya kerjaan “orang swasta”, tanpa satu pun negara secara penuh mau mendukungnya. Bahkan para pemimpin negara sudah menjadi agen-agen kehidupan jahiliyyah itu.

Inilah sebagian situasi “point no return” di hadapan kita…

[1] Media TV telah menjadi penjajah yang sangat berkuasa di rumah-rumah kita.

[2] Media massa tidak lagi melakukan peran membela kebenaran, membela keadilan, menegakkan hukum, dan seterusnya. Media massa saat ini berperan: mencari duit, memperjuangkan kepentingan politik pemilik saham, dan menghajar setiap elemen yang dianggap musuh mereka. Media massa kita telah menjadi “tukang pukul” dengan dalih tugas jurnalistik, kebebasan pers, dan memenuhi hak informasi publik.

[3] Pekerjaan terbesar, terpenting, terprioritas di mata manusia saat ini ialah: Mencari income! Seakan tidak ada lagi urusan lain yang lebih penting dari itu.

[4] Demokrasi telah menjadi agama manusia modern, padahal di dalamnya penuh dengan kezhaliman dan khianat.

[5] Ekonomi liberal, kapitalistik, ribawi telah mewarnai setiap rupiah penghasilan yang kita terima.

[6] Ide negara Islam, Daulah Islamiyyah, Khilafah Islamiyyah, secara saklek telah diterjemahkan sebagai: TERORISME!

[7] Penghujatan terhadap nilai akidah dan manhaj Islam dianggap sebagai bentuk “kebebasan berkeyakinan”; sedangkan penghujatan terhadap hak-hak individu/institusi yang jelas-jelas melanggar hak-hak masyarakat dianggap sebagai “pelanggaran HAM”. Agama diposisikan lebih nista dari individu/komunitas manusia.

[8] Proyek-proyek perjuangan Islam telah banyak terkontaminasi kepentingan lain. Banyak perjuangan Islam menjadi “perjuangan bisnis”, “perjuangan politik”, bahkan “permainan intelijen”. Di sisi lain, kini telah terjadi proses “LEBAY-ISASI” yaitu upaya melebaykan mental pemuda-pemuda Islam melalui novel, buku, musik, film, fashion, dll.

[9] Pertikaian politik, pemikiran, dan paham fiqih di kalangan Ummat Islam semakin rumit, kusut, dan komplek. Hanya atas hidayah dan taufiq Allah saja yang akan menguraikan semua itu.

[10] Secara umum, kaum Muslimin menderita KEJAHILIYAHAN KOMPLEK. Mereka minim pemahaman agama, minim hikmah agama, minim militansi, juga minim sifat furqan. Gelar akademik, status sosial, dan pengalaman studi di luar negeri, tidak menjamin kebaikan ilmu seseorang. Banyak yang hanya copy-paste.

[11] Fakta yang sangat menakjubkan, bahkan fakta inilah yang mendorong lahirnya tulisan ini, adalah kenyataan bahwa: KASUS-KASUS DI HADAPAN KITA TERUS BERMUNCULAN, TAK MENGENAL STOP. SETIAP SELESAI SATU KASUS, DAN IA BELUM SEMPAT DISIKAPI DENGAN BAIK, SUDAH MUNCUL MASALAH-MASALAH LAINNYA, YANG TAK KALAH PELIK. Akhirnya, Ummat ini seperti TERTIMBUN oleh lautan kasus-kasus.

Coba perhatikan dengan baik…

Dengan realitas buruk (poin 1 – poin 10) kita sudah kehilangan banyak kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi masalah-masalah hidup dengan baik. Ditambah lagi, kita menghadapi masalah no. 11, masya Allah, betapa berat sekali hidup dalam situasi seperti ini. Tidak mengherankan, jika selama ini kita mengalami banyak kegagalan, daripada keberhasilan dalam membangun proyek-proyek kebaikan di tengah masyarakat.

Mungkin pertanyaanya: “Lalu bagaimana solusi menghadapi semua kenyataan ini?” Secara teori jawabnya mudah, yaitu: Kembali kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya! Namun ketika coba menerjemahkan jawaban itu dalam  program-program kehidupan kongkrit, tidak mudah.

Maka jawaban di atas perlu dilengkapi lagi. “Kita harus kembali ke jalan Al Qur’an dan As Sunnah; selalu istiqamah menghidupkan ajaran Islam sekuat kesanggupan; selalu berbaik-sangka kepada Allah Ta’ala, bahwa Dia tak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya; dan meyakini bahwa hanya Allah belaka yang mampu memberikan jalan keluar atas segala tantangan hidup kita.”

Singkat kata: [1] Meyakini Kitabullah dan As Sunnah sebagai landasan hidup kita sepenuhnya. [2] Istiqamah menjalankan amal-amal kebaikan dan menghindari dosa-dosa, sekuat kesanggupan kita. [3] Selalu berbaik sangka kepada Allah. [4] Meyakini bahwa hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan memuliakan kita.

Inilah masalah besar kita “point of no return”. Namun alhamdulillah, Allah Ta’ala tetap menunjukkan jalan-jalan keluarnya. Ke depan kita harus semakin agamis, semakin Islami, semakin Paderi dalam memeluk Islam dan konsisten di atas jalannya. Abaikan media-media atau apa saja yang tidak mengikatkan dirinya dengan kepentingan Islam dan tanggung-jawab keummatan. Tinggalkan sumber-sumber fitnah, dan kembalilah ke pangkuan Kitabullah dan As Sunnah. Tanpa hal ini, sangat sulit menghadapi “point no return”.

Semoga yang kecil ini bermanfaat. Ke depan, saya memiliki niat untuk memanfaatkan blog kecil ini, untuk menyampaikan tulisan/kajian/nasehat yang bersifat Islami. Mencoba mencari solusi-solusi Islami yang bersifat praktis, di tengah rimba-raya informasi dan fitnah yang mengepung dari segala sisi. Semoga Allah menolong kita menunaikan amal-amal yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

AM. Waskito.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: