Tidak Takut Kepada Allah

Seperti "Raga Tanpa Jiwa"

Nun disana… ada sebuah partai politik. Menamakan diri partai Islam, bahkan “partai seruan”. Konon, tujuan partai itu, 24 karat, murni, untuk menegakkan Islam di bumi Nusantara.

Dalam perjalanan, partai ini menghadapi aneka masalah; maklum, namanya juga partai politik. Mana ada partai politik yang nihil masalah? Kalau ada yang begitu, pasti bukan parpol, tetapi “parahbur” (partai ahli kubur). Sudah jamak bin lazim, kalau terjun ke dunia politik, pasti panen masalah.

Harusnya, masalah-masalah dihadapi secara Islami, sebab namanya juga partai Islam. Tetapi sayang, manuver-manuver partai itu cenderung menghalalkan segala cara.

===> Saat Pilpres 2004, elit partai itu menerima dana SUAP dari pasangan calon W-SW. Jumlah dana suap Rp. 20 miliar, jumlah yang bisa dipakai mendirikan 20 pesantren dengan asumsi per pesantren Rp. 1 miliar. Partai itu dalam Pilpres 2004 tersebut diminta mendukung nama W-SW. Namun saat Pilpres tidak ada dukungan sama sekali, sebab semua anggota partai dibebaskan mau pilih siapa saja. Jadi, akad suap-menyuap itu tidak mereka jalankan. Anehnya, uang Rp. 20 miliar tidak dikembalikan ke pihak yang memberi suap. Kata orang, “Suara tidak diberikan, tetapi uang tetap dimakan!” Masya Allah, betapa memalukan ya.

===> Masih Pilpres 2004, menjelang Pilpres tahap kedua, partai itu terima lagi uang suap, lebih besar. Nilainya Rp. 34 miliar dari pasangan S-J. Uang ini diterima, setelah sebelumnya mengkhianati pemberian pasangan W-SW. Jadi, “rizki” semakin banyak saja. Uang ini adalah murni suap, sebab secara aturan main Pilpres memang tidak boleh ada sumbangan mengikat dari personal senilai itu. Lagi pula uang itu tidak pernah disiarkan secara terbuka, tetapi sangat tertutup. Padahal di partai itu banyak orang ngerti agama, tetapi kok perilaku begitu ya? Nilai 34 M tentu jumlah besar. Apalagi dalam Pilpres putaran k-2 itu mayoritas suara kaum Muslim akan memilih calon laki-laki, bukan perempuan. Hebat lagi, setelah Pilpres 2004 sukses, partai itu mendapat jatah 4 kursi menteri. Wih wih wih, rasanya “rizki nomplok” banget. Tapi kan semua ini bermula dari cara-cara kotor (SUAP).

===> Saat Pilkada DKI, partai itu terima “mahar politik” dari calon gubernur yang dijagokan, Rp. 40 miliar. Ini lebih besar lagi dari sebelumnya. Apa ada istilah dalam Islam, “mahar politik”? Lagi pula, uang itu diperoleh cari calon gubernur DKI yang notabene seorang mantan pejabat Polri. Kalau dirunut, darimana mantan perwira Polri itu mendapat uang Rp. 40 miliar? Dari gaji kah? Dari bisnis kah? Dari warisan kah? Nah, ini perlu diperjelas. Andai tokoh itu mendapat uang dari gaji resminya sebagai perwira Polri, pasti tidak akan mencapai 40 M, meskipun sudah bekerja siang-malam selama 50 tahun. Dan metode “mahar politik” ini akhirnya dianggap sebagai urusan HALAL di berbagai even Pilkada di Tanah Air. Tidak peduli darimana saja dana “mahar” itu diperoleh.

===> Seorang aktivis dakwah di Bandung , alumni Fikom Unpad, berinisial T pernah bercerita. Tahun 1998, gerakan mahasiswa di Salemba UI dibujuk oleh keluarga Cendana agar tidak demo-demo. Sebagai imbalan, mereka diberi dana 300 juta. Lalu dana itu dikonsultasikan ke senior-senior dakwah. Bagaimana solusinya? Solusinya sangat aneh: “Demo silakan jalan! Uang ambil saja!” Ya Allah ya Karim, kok bisa begitu ya? Kalau mau demo, harusnya kembalikan uang itu. Kalau mau terima duit, ya penuhi syaratnya (tidak demo).

===> Dan lain-lain.

 

Alasan yang sering dikatakan: “Untuk mendapat kemenangan politik, kita butuh duit. Tidak bisa tidak. Tanpa duit, nonsense akan dapat kemenangan. Mustahil!”

Jika demikian, harusnya mereka kaya, kreatif, dan tebal kantong dulu, sebelum memasuki pusaran politik yang keras itu. Jangan masuk gelanggang politik dalam keadaaan fakir-miskin. Nanti akibatnya bisa menjual “iman dan komitmen” hanya karena faktor duit. Dan hal itu kemudian terbukti dengan amat sangat gamblang.

Kalau memang kita tidak mampu bekerja di bidang politik ini, ya sudah bekerja saja di bidang lain. Tidak usah memaksakan diri, lalu menghalalkan yang haram. Kata Dr. Daud Rasyid, “Jangan terjerumus sikap takalluf politik!” Karena miskin dan kere, sementara politik butuh banyak dana, akhirnya menghalalkan segala cara. Ini membuktikan bahwa kalangan itu belum mampu masuk ke kancah politik.

Allah Ta’ala tidak membebani kita dengan beban berat, kalau memang kita tak sanggup. Siapa yang memaksakan diri, pasti akan dihukum oleh sikap ketergesa-gesaannya itu.

Saat bicara seperti ini, kita bukan bicara politik, tetapi soal MORALITAS. Mengapa di kalangan orang-orang yang mengklaim sebagai aktivis Islam, aktivis dakwah, ustadz, ulama, lulusan Timur Tengah, murabbi, pembela Ummat, mujahid, dll. harus muncul perbuatan-perbuatan nista seperti di atas? Seharusnya, sebagai orang berilmu, mereka bisa memberikan contoh yang mulia; seharusnya mereka memperlihatkan komitmen moral yang tinggi; seharusnya mereka lebih cemburu atas  pelanggaran-pelanggaran Syariat Islam. Minimal, sebagai manusia berakal, mereka bisa lebih memiliki RASA MALU.

Kalau komitmen moral itu tidak ada, lalu apa bedanya kita dengan manusia-manusia yang zhalim, koruptor, politisi busuk, pengkhianat bangsa, pemimpin tirani, diktator, dan lainnya? Jelas, tidak ada bedanya. Bedanya hanya NASIB saja. Para koruptor lebih dulu mendapatkan duit, sedangkan mereka lebih belakangan. Kalau koruptor mendapat duit dengan modus-modus penipuan tulen; kalau para ahli agama, mereka menipu masyarakat dengan dalil-dalil Kitabullah dan As Sunnah.

Ini bukan soal politik, tetapi MORALITAS. Manusia yang istiqamah tidak silau dengan kemenangan dekat yang gilang-gemilang, tetapi dengan resiko kelak mendapat kekalahan abadi di Hari Kiamat. Kalau manusia-manusia amoral justru sudah tidak memiliki obsesi lagi tentang Hari Kiamat. Kata-kata yang selalu mereka ucapkan: “Sudah deh, jangan munafik lah. Kita ini sudah bejat. Kami bejat, Anda bejat, mereka bejat. Kita semua bejat. Negara ini juga bejat. Jadi, mari kita berlomba-lomba dalam kebejatan. Sudahlah jangan munafik. Anda doyan duit, cewek, dan popularitas kan?”

Ya, begitulah karakter manusia yang sudah TAMAT, sebelum hari kematian mereka diumumkan di koran-koran. Mereka sudah habis. Mereka berjalan-jalan di muka bumi, seperti “raga tanpa jiwa” (meminjam kalimat dari sebuah kelompok nasyid Jihad yang sekarang sudah lebay).

Kunci persoalan sederhana, yaitu: Bermain-main dengan ayat Allah dan sudah tak ada rasa takut kepada-Nya. Tentu saja, ini adalah perniagaan yang sangat merugi. Jika kini, baru sedikit kerugian yang menimpa, maka kelak akan terbuka apa-apa yang dijanjikan.

Cukuplah ayat ini sebagai peringatan bagi siapa yang menginginkannya:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui“. (Al Anfal: 27).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.


Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: