Mengkritisi Pernyataan Ormas Islam

April 30, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini pemimpin ormas Islam berkumpul untuk membuat pernyataan menyikapi pemberitaan seputar NII. Berita tentang pertemuan itu dan hasil-hasilnya bisa dibaca disini: Pernyataan Bersama Ormas Islam. Berita ini dilansir eramuslim.com, 30 April 2011, pukul 11.01 WIB.

Bedakan Antara NII KW IX Sebagai OKNUM dengan Negara Islam Sebagai Konsep Syariat.

Secara umum, ada 7 butir pernyataan dari pimpinan ormas-ormas Islam itu tersebut. Isinya sebagai berikut:

[1] Sangat prihatin dengan berbagai perbuatan kriminal yang dilakukan oleh oknum NII. Kami sangat bersimpati terhadap masyarakat yang menjadi korban tindakan kriminal oknum NII baik yang berupa kerugian harta benda maupun yang kehilangan anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Tindakan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan sikap amanah, jujur, bertanggung-jawab, mematuhi hukum yang berlaku sebagai muamalah sosial dan menghormati orang tua sebagai akhlaq al karimah. [2] Gerakan NII yang bertujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia merupakan tindakan makar terhadap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. [3] Gerakan NII adalah gerakan yang dikembangkan oleh sekelompok orang yang tidak memiliki dasar keagamaan Islam yang kuat dan tidak mendapatkan dukungan dari mayoritas umat Islam. Karena itu, jika aparat keamanan dan pemerintah menangani dengan sungguh-sungguh seharusnya masalah gerakan NII sudah tuntas dan tinggal sejarah. Eksitensi NII tidak terlepas dari sikap pemerintah dan aparat keamanan yang cenderung melakukan ‘pembiaran’, ‘pengabaian’ dan ‘pemeliharaan’ terhadap gerakan NII. [4] Meningkatnya gerakan NII tidak terlepas dari usaha-usaha politik pihak tertentu yang secara sistematis memelihara dan mendukung eksistensinya demi kepentingan politik kekuasaan. Politisasi gerakan NII telah mendiskreditkan dan merusak citra politik umat Islam sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia. [5] Gerakan NII telah menimbulkan keresahan di masyarakat, khususnya orang tua, dan potensial memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu kami mendesak kepada pemerintah untuk menangani gerakan NII secara tegas dan bersungguh-sungguh sesuai dengan hukum yang berlaku, terhadap pelaku dan penggerak, serta segala institusi dan figur yang diduga keras mendukung gerakan NII dan mengingatkan Pemerintah tanpa melupakan isu-isu penting kebangsaan seperti pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan dan sebagainya. [6] Dalam rangka menanggulangi bahaya laten gerakan NII, ormas-ormas Islam siap bekerjasama dengan pemerintah dan Aparat Keamanan demi terciptanya tatanan kehidupan sosial yang damai, keutuhan NKRI dan persatuan serta kesatuan bangsa. [7] Kami menghimbau kepada umat Islam agar lebih meningkatkan pemahaman Islam yang komperehensif dan pengalamannya melalui usaha-usaha yang lebih serius dan benar dalam memajukan pendidikan dan dakwah Islam. Umat Islam hendaknya tidak terpengaruh oleh usaha-usaha memecah belah persatuan melalui perdebatan-perdebatan publik yang menonjolkan perbedaan sikap dan pandangan di kalangan tokoh-tokoh ormas/lembaga Islam.

Demikian yang dikutip oleh eramuslim.com. Untuk lebih memastikan, silakan baca link berita dari eramuslim.com di atas.

RESPON UMUM

Terus-terang ada rasa kecewa atas pernyataan para pimpinan ormas Islam itu. Bukan karena mereka mengecam gerakan NII KW IX yang dipimpin Panji Gumilang, yang berpusat di Al Zaytun Indramayu itu. Tetapi karena pernyataan mereka MENIHILKAN konsep Negara Islam itu sendiri. Ini yang sangat parah. Hal semacam ini bukan saja bertentangan dengan sejarah kaum Muslimin selama ribuan tahun, tetapi juga melanggar batas-batas Aqidah Shahihah.

Di media ini sudah berulang-ulang kita sampaikan, bahwa konsep Negara Islam itu sepenuhnya: benar, valid, sesuai fakta historis, dan Syar’i. Tidak ada keraguan lagi. Jumhur ulama kaum Muslimin meyakini bahwa konsep Negara Islam atau Daulah Islamiyyah, adalah ajaran yang benar. Hal itu sesuai praktik kehidupan di masa Nabi Saw, para Khulafaur Rasyidin, serta imam-imam kaum Muslimin selama ribuan tahun.

Mengingkari konsep Negara Islam, menolak konsep Negara Islam, atau menihilkannya, sama saja dengan menolak ajaran Rasulullah Saw, para Khulafaur Rasyidin, para Imam kaum Muslimin. Hal ini sangat berat konsekuensinya. Ia bisa menggugurkan keimanan seorang Muslim.

Menolak konsep Negara Islam sama dengan menolak berlakunya Syariat Islam itu sendiri. Sebab, Syariat Islam tak akan bisa dilaksanakan secara kaffah, tanpa institusi Negara Islam atau Daulah Islamiyyah. Menolak berlakunya Syariat Islam, berarti kufur. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Para pemimpin ormas Islam ini harusnya berhati-hati sebelum membuat pernyataan publik. Mereka harus bisa memisahkan antara gerakan NII KW IX (dan semisalnya) yang menyimpang dan sesat, dengan konsep Negara Islam yang sesuai Syariat Islam. Harus bisa dipisahkan hal itu.

SKANDAL CITI BANK

Munculnya kasus NII KW IX dan semisalnya bukan serta-merta muncul. Ia memang sengaja dimunculkan. Tujuannya ialah untuk menutupi kasus Melinda Dee di Citi Bank. Kasus itu melibatkan dana besar. Ada yang menyebut sampai triliunan rupiah, bukan sekedar 16 miliar rupiah yang diklaim media-media massa selama ini. Selain itu, menurut informasi yang beredar, di balik Melinda Dee ada perwira-perwira Polri yang terlibat. Hingga saat ini PPATK tidak berani sedikit pun mengungkap rekening siapa saja yang berlindung di balik kasus Melinda Dee itu.

Dimunculkan kasus NII, yang dipublikasikan secara bombastik oleh media-media seperti TVOne, MetroTV, Trans7, GlobalTV, RCTI, TransTV, serta media-media lain, termasuk media cetak. Semua itu adalah untuk mengubur kasus besar Melinda Dee di Citi Bank.

Dalam forum-forum diskusi di internet disebutkan, kasus Melinda Dee itu jauh lebih besar dari yang kelihatan. Di balik itu ada rekening-rekening perwira Polri yang seharusnya dibeberkan ke publik. Demikian suara-suara yang muncul dalam forum-forum itu.

Jadi mengapa kita harus menanggapi kasus NII KW IX secara berlebihan? Toh, kasus semacam itu sudah puluhan tahun muncul. Mengapa baru sekarang kita peduli? Dulu di ITB pernah ada 200 mahasiswa terancam DO karena terlibat kasus NII KW IX ini. Mengapa ketika itu ormas Islam tidak membuat pernyataan tegas?

Berita-berita seputar NII KW IX ini sama persis seperti berita-berita seputar terorisme itu. Tujuannya, untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu sebenarnya. Dan terbukti langkah itu “selalu sukses”. Malah sekarang, pimpinan ormas-ormas Islam yang “menjadi korban”. Mereka termakan oleh provokasi berita-berita media massa.

MENOLAK NEGARA ISLAM

Bagi seorang Muslim yang memahami Islam, HARAM hukumnya menolak konsep Negara Islam. Sebab konsep Negara Islam itu sumbernya adalah Dua Kalimah Syahadah: “Asyhadu an laa ilaha illa Allah. Wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.”

Negara Islam adalah negara yang berdasarkan TAUHID (laa ilaha illa Allah) dan berdasarkan SYARIAT Rasulullah Saw (Muhammad Rasulullah). Tujuan Negara Islam ialah mengibadahi Allah secara murni, tanpa kesyirikan. Dan cara membangun negara itu sendiri mengikuti Syariat Nabi Saw.

Menolak Negara Islam, lalu mengganti dengan keyakinan terhadap konsep negara selain Islam, ya jelas bertolak-belakang dengan ajaran Dua Kalimah Syahadah itu. Lalu apa artinya? Siapapun yang menolak ajaran Dua Kalimah Syahadah, ya jelas KUFUR. Itu tidak diragukan lagi.

Dalam berbagai kesempatan ahli-ahli Islam sudah menjelaskan, bahwa gerakan NII KW IX dan semisalnya, ia adalah gerakan sesat, fasad, dan menyebarkan fitnah di tengah kaum Muslimin. Tetapi tidak berarti karena perbuatan oknum, lalu kita menolak konsep Negara Islam. Oknum ya oknum; sedangkan konsep negara Islam yang asli, ya tetap shahih, valid, dan sesuai Syariat Allah dan Rasul-Nya.

Demi Allah, kalau kita menolak (atau minimal ragu) konsep Negara Islam, itu sama dengan kita menolak ajaran Rasulullah Saw. Coba renungkan dengan hati yang jujur, apakah selama hidupnya Rasulullah Saw mendirikan sebuah negara sekuler, nasionalis, kapitalis, atau non Islami? Kalau Anda katakan iya, otomatis hukum kekufuran seketika jatuh ke diri Anda.

METODE DAKWAH

Banyak orang, terutama aparat negara, sangat memusuhi gerakan apapun yang berhubungan dengan Negara Islam. Kepala BNPT, Ansyad Mbai, berkali-kali mendefinisikan teroris sebagai orang-orang yang mendukung Negara Islam dan Khilafah. Ini adalah bukti nyata bahwa ide dan konsep Negara Islam itu selalu dimusuhi di negeri ini.

Mereka berasumsi bahwa para pendukung konsep Negara Islam selalu memakai cara-cara kekerasan, teror, bom-boman, anarkhisme, pemberontakan, dll. untuk mewujudkan cita-citanya. Maka karena alasan itu, para pendukung ajaran Negara Islam, selalu dimusuhi.

Padahal tidak semua orang yang meyakini kebenaran konsep Negara Islam melakukan cara-cara kekerasan. Banyak yang menempuh cara DAMAI, DAKWAH, dan PEMBINAAN UMMAT. Hal ini sama sekali tidak dilihat oleh para aparat negara itu. Dan ironisnya, para pimpinan ormas Islam ikut-ikutan melihat dengan frame aparat negara.

Kalau melihat metode Rasulullah Saw dalam menegakkan Daulah Islamiyyah, beliau melakukan cara-cara dakwah. Hal itu menjadi fakta, sekaligus teladan yang bisa kita ikuti. Dengan demikian, kita tetap mengimani kebenaran konsep Negara Islam, tanpa harus berbenturan secara konfrontatif dengan kepentingan aparat negara.

TANTANGAN DISKUSI

Saya menduga pernyataan ormas-ormas Islam itu lebih karena peranan kuat Prof. Din Syamsuddin. Beliau ini memiliki kekuatan lobi, kekuasaan, serta pengaruh yang kuat di antara tokoh-tokoh ormas Islam lainnya. Apalagi pernyataan ormas itu dibuat di kantor PP Muhammadiyyah.

Jika yang dimaksud oleh pernyataan pimpinan ormas itu adalah gerakan sesat NII KW IX dan semisalnya, kita mendukung hal itu. Namun jika yang dituju juga untuk menghapuskan konsep Negara Islam yang diakui dalam Syariat Islam dan telah berlaku dalam sejarah selama ribuan tahun; jelas kita menolak keras pernyataan itu.

Dengan memohon pertolongan Allah, saya secara pribadi mengusulkan kepada pimpinan-pimpinan ormas Islam tersebut, khususnya Prof. Din Syamsuddin untuk melakukan DEBAT di hadapan kaum Muslimin. Mari kita uji sebuah substansi: “Benarkah gerakan Negara Islam merupakan gerakan makar yang tidak sesuai dengan ajaran Islam?

Disini kita tak perlu membahas tentang NII KW IX dan semisalnya. Tetapi membahas konsep Negara Islam itu sendiri.

Demikian tulisan singkat tentang pernyataan pimpinan ormas Islam seputar isu NII. Intinya, para pimpinan ormas itu harus membuat diferensiasi tegas antara gerakan NII KW IX dan semisalnya yang sesat dan menyesatkan, dengan ajaran Negara Islam atau Daulah Islamiyyah yang sesuai Syariat Allah dan Rasul-Nya. Jangan sampai saat kita ingin menghajar seekor tikus yang masuk rumah, kita robohkan sekalian rumah itu.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 30 April 2011.

AM. Waskito.


Membantah Ucapan Sombong Seorang Takfiri

April 26, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau mampir ke internet, saya selalu membuka situs suara-islam.com, eramuslim.com, voa-islam.com, dan hidayatullah.com. Hampir selalu membuka situs-situs ini, untuk update berita-berita seputar Islam. Sebab media-media massa saat ini terlalu rusuh dengan amoralitas, maka enggan hati untuk menggumuli berita-berita mereka. Meskipun sekali waktu tetap membuka situs-situs umum mainstream.

Saat membuka voa-islam.com, alhamdulillah saya menemukan tulisan yang sangat MENYENGAT yang ditulis oleh seorang ustadz takfiri (tukang mengkafirkan orang). Artikelnya sebagai berikut: Melongok Argumen yang Menghalalkan Ngebom Polisi Saat Shalat di Masjid. Ketika membaca tulisan yang dibuat oleh Abu Khataf Saifur Rasul ini, masya Allah rasanya kita tidak sedang bicara dengan seorang Muslim. Adabnya, nol besar!

Disini saya akan coba mengkritisi ucapan sombong makhluk takfiri satu ini. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kehidupan ini begitu sengit dengan fitnah. Bukan hanya aparat yang selalu mentarget pemuda-pemuda Islam untuk ditangkap, dipenjara, disiksa, bahkan ditembak mati. Tetapi di antara kaum Muslimin juga ada manusia berhati keras, ghuluw, merasa paling ‘alim urusan Islam, lalu dengan seenaknya memaki-maki saudaranya sesama Muslim dengan makian yang hanya pantas ditujukan kepada orang-orang kafir.

Nabi Saw bersabda, “Sibabul muslim fusuqun wa qitaluhum kufr” (memaki seorang Muslim adalah fasiq, dan memeranginya adalah kufur). Atau Nabi Saw juga bersabda, “Bi hasbi imri’in minas syar-ri an yahqira akhihi” (cukuplah seseorang dianggap berbuat jahat jika dia menghina saudaranya sesama Muslim).

Mula-mula akan saya tampilkan ucapan sombong Si Takfiri ini, lalu memberikan kritik-kritik ringkas atasnya. Semoga Allah Ta’ala menolong kita untuk memuliakan agama-Nya. Amin Allahumma amin.

[A] Setelah mengucap basmalah, tahmid, dan shalawat, Si Takfiri menyitir sebuah ayat Al Qur’an dari Surat Al Hujurat ayat 12 tentang larangan berprasangka buruk, larangan mencari-cari kesalahan (tajassus), serta larangan ghibah terhadap sesama Muslim. 

KOMENTAR: Ayat seperti ini tidak tepat untuk mendalili perbuatan Syarif saat meledakkan bom yang menempel di tubuhnya, di masjid Mapolresta Cirebon. Perbuatan Syarif itu bukan kesalahan seorang Muslim yang bisa ditoleransi. Ia adalah perbuatan kebathilan yang harus ditolak dan diingkari secara terang-terangan. Dalil yang bisa dipakai disini ialah sabda Nabi Saw yang berbunyi, “Man ra’a minkum munkaran fal yughaiyiru biyadihi, wa illam tastathi’ fa bilisani…” Hadits perintah nahyul munkar inilah yang pantas disebutkan dihadapan perbuatan durhaka Syarif atas Syariat Allah dan Rasul-Nya.

Setiap orang bisa berdalil dengan Kitabullah dan As Sunnah, karena orang Liberalis/Orientalis juga pintar berdalil untuk melayani ambisi, hawa nafsu, dan kedurhakaan hati mereka. Na’udzubillah wa na’udzbubillah min dzalik. Hanya apakah dalil itu tepat sesuai konteks dan masalahnya, belum tentu. Cara berdalil Si Takfiri ini bisa menunjukkan model cara berdalil semaacam itu.

[B] Risalah ini adalah tanggapan terhadap komentar-komentar tentang apa yang terjadi pada hari jumat 15 april 2011 di cirebon (bom cirebon). Sebelumnya perlu diperhatikan bahwa: 1. Ana (Abu Khataf) tidak kenal dengan pelaku dan (kalau ada) orang-orang yang berada di balik peristiwa itu. 2. Ana (Abu Khataf) asumsikan bahwa pelaku dan (kalau ada) orang-orang yang berada di balik peristiwa itu adalah seorang muslim yang meniatkan apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka jihad fisabilillah. Singkatnya mereka adalah mujahid -dan Alloh SWT yang maha tahu niat mereka di dalam hati-.

KOMENTAR: Jihad fi sabilillah adalah amalan agung. Rasul Saw menyebutnya sebagai afdhalul ‘amal, seutama-utamanya amal. Tetapi Jihad itu ada adab-adabnya. Kalau akan mandi besar saja ada adabnya, apalagi dalam Jihad yang disana ada resiko pengorbanan harta, tenaga, darah, dan nyawa.

Salah satu ciri kesesatan takfiri jaman modern. Mereka amat sangat antusias bicara soal Jihad. Tetapi mereka kurang antusias dalam menyempurnakan adad-adabnya. Sehingga di mata mereka, setiap perbuatan apapun untuk menyerang pihak-pihak yang mereka vonis kufur atau membela orang kufur, akan mereka lakukan. Di mata mereka, menyerang warga sipil, menyerang wanita, anak-anak, menyerang terminal, stasiun, hotel, bis kota, dll. adalah sah. Padahal Rasulullah Saw, dalam Jihad Fi Sabilillah, melarang menyerang kaum wanita, anak-anak, orangtua, musuh yang melarikan diri, menyerang pertanian, hewan ternak, rumah ibadah, dll.

Rasulullah Saw menyempurnakan Jihad dengan adab-adabnya, sehingga Allah memberikan keberkahan besar di balik Jihad beliau. Sebaliknya, kaum Takfiri ini, perbuatan mereka semakin hari hanya semakin menyusahkan kaum Muslimin. Andaikan dalam hidupnya, mereka beramal sebanyak-banyaknya; belum tentu itu sebanding dengan perbuatan mereka yang menyebabkana kaum Muslimin secara umum menderita akibat hantaman puak-puak kekufuran, karena diprovokasi perbuatan kaum Takfiri itu.

[C] Telah mengabarkan kepada ana, beberapa ikhwan tentang komentar-komentar sumbang dan kadangkala lucu bahkan memalukan atas peristiwa bom polres cirebon. Anehnya komentar-komentar miring tersebut didendangkan oleh oknum yang mengaku bermanhaj jihad dan pejuang syariat, serta mengaku sebagai penggede mujahidin.

KOMENTAR: Pernyataan ini maksudnya, mereka membantah ucapan pimpinan JAT (Jamaah Ansharut Tauhiid) yang menolak tindakan pengeboman di Masjid Mapolresta Cirebon itu. Artinya, Abu Khalaf Saifur Rasul itu termasuk kelompok lain yang memiliki pandangan berbeda dengan mujahidin yang bergabung dalam JAT dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

[D] Berikut komentar-komentar yang ana dengar skaligus kami berikan tanggapannya. 1. Mereka para polisi yang menjadi target/korban adalah muslim karena mereka masih sholat sehingga tidak boleh di tumpahkan darahnya. JAWABAN: Apakah kalian kira jika orang masih sholat berarti dia seorang muslim meskipun melakukan kekafiran yang dhohir mutawatir??? Aduhai… Kasian sekali wahai orang-orang jahil murokab jika kaliah beraqidah demikian. Tidakkah kalian tahu: – Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam pernah mengutus Baro’ bin Azib untuk membunuh orang yang menikahi ibu tirinya padahal dia masih sholat??

– Rasululloh Sholallohu alaihi wassalam pernah berencana memerangi bani Mustholik ketika di beritakan mereka enggan membayar zakat padahal mereka juga masih sholat, tapi ternyata berita itu adalah berita dusta. – Abu Bakar As-Shidiq ra. memerangi pengikut Musailamah al kadzab padahal diantara mereka masih ada yang sholat. – Abu Bakar As-Shidiq ra. juga mmerangi orang-orang yang menolak zakat dan telah menjadi ijma’ bahwa mereka adalah kelompok murtad padahal mereka juga masih sholat. – Ali bin Abi Tholib ra. membakar orang-orang yang ghuluw terhadap beliau padahal mereka juga masih sholat. – Dan masih banyak contoh-contoh salaf, mereka mengkafirkan dan menghalalkan darah serta harta orang-orang yang melakukan kekafiran padahal mereka masih sholat.

Contoh terakhir adalah kasus bani Ubaid bin Godah yang mengaku keturunan Fatimah mereka mendirikan sholat jumat & sholat jama’ah, mengangkat para qadhi dan mufti tapi hal ini tidak menghalangi para ulama mazhhab maliki dan yang lain untuk mengkafirkan mereka diantara ulama yang mengkafirkan adalah al imam asy syahid -begitu menurut persangkaan ana- Abu Bakar An-Nabulisi.

Lalu pertanyaannya, apa yang membuat para polisi itu kafir sehingga halal darah dan harta mereka untuk di tumpahkan meskipun mereka masih sholat??? Kita tau bahwa negara ini adalah negara kafir dan thoghut, itu dkarenakan negara ini menerapkan hukum thoghut (UUD45 dan pancasila) dan negara ini juga berkiblat ke amerika si gembong kekafiran dunia dalam memerangi mujahidin, sehingga dengan demikian seluruh penyelenggara negara ini, mereka adalah kafir, musyrik dan thoghut dengan variatif tingkatannya.

KOMENTAR: Dalam pernyataan di atas mulai tersingkap bukti-bukti kebodohan atau kepandiran Si Takfiri ini. Sangat terlihat ciri kebodohannya. Dia tidak bisa menempatkan dalil-dalil perbuatan Nabi Saw dan Shahabat Ra sesuai konteksnya. Dimana letak kesalahan mendasar argumen Si Takfiri sombong ini? Mudah saja, Rasulullah Saw dan para Shahabat Ra menghalalkan tindakan memerangi orang-orang munkar, karena mereka TELAH MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM ALLAH TA’ALA di negeri mereka. Itulah dasarnya, wahai Takfiri sombong.

Lalu lihatlah di Indonesia ini. Di negeri ini Syariat Islam tidak (belum) diakui sebagai UU negara yang mengikat warga dan Pemerintahnya. Artinya, negeri kita bukan negeri Islam. Negeri Indonesia ini bisa disamakan dengan “Periode Makkah” dalam perjuangan Rasulullah Saw. Apakah ketika masih berdakwah di Makkah, Rasulullah Saw sudah mengibarkan bendera Jihad Fi Sabilillah? Tanyakan kepada Si Takfiri sombong itu. Siapa tahu dia masih memahami firman Allah Ta’ala ini: “Innallaha laa yuhibbu kulla muhtalin fahur.”

[E] Lalu dimana posisi polisi??? Di dalamUUD45 bab xii psl 30 (4) di dalam kitab thoghut ini di katakan “KEPOLISIAN NEGARA RI SBG ALAT NEGARA YG MENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT, BERTUGAS MELINDUNGI, MENGAYOMI, MELAYANI MASYARAKAT SERTA MENEGAKKAN HUKUM”.

Jadi polisi RI adalah kafir baik itu brimob, reserse maupun polantasnya. Tidak ada perbedaan karena mereka di satukan dengan satu tujuan dan tugas yaitu menegakkan dan melindungi hukum thoghut. Mereka dibawah satu pimpinan, satu tujuan, dan satu tugas. Sedangkan individu-individu tho’ifah mumtani’ah adalah mengikuti status pimpinannya berdasarkan al kitab, assunnah, ijma’ dan kaidah fiqhiyah. Jadi mereka itu kafir yang halal darah dan hartanya secara hukum dhohir, meskipun mereka mengaku islam, sholat, zakat, puasa & haji. Karena kekafiran mereka bukan dari sisi ini.

Silahkan rujuk kitab2 berikut utk mengetahui dalil-dalilnya. 1. Ad duror assuniah juz 8 cetakan lama. 2. At tibyan fie kufri man a’na al amrika (Syaikh Nashir Bin Hamd Al Fadh. 3. Al jami’ buku ke 10 (Syaikh Abdul Qodir bin Abdul ‘Aziz). 4. Da’wah muqowamah terutama pd anggaran dasar ( Syaikh Abu Mush’ab As Suri). 5. Masa’il min fiqh jihad Abu Abdillah al muhajir. 6. Dan kitab2nya Syaikh Al-Maqdisi dan Syaikh Aly Khudair. 

KOMENTAR: Wahai Takfiri, cobalah berpikir jernih sedikit. Jangan selalu emosi dan merasa sudah puas kalau kamu sudah mengkafirkan ini itu. Sekali lagi kita tegaskan, Indonesia bukanlah negara Islami yang berdasarkan ajaran Islam. Indonesia adalah negara dengan dasar non Islam, atau sebutlah sebagai negara jahiliyyah. Dimanapun tidak ditegakkan hukum Allah di dalamnya, ia adalah negeri jahiliyyah.

Sebagai negara dengan dasar non Islam, maka seluruh produk hukum yang berlalu mengikuti dasarnya tersebut. Hal itu berlaku dalam bidang kepolisian, ketentaraan, kepegawaian, dll. Kalau dari atasnya sudah non Islami, turun sampai ke bawah juga non Islami. Meskipun bisa juga di antara produk hukum itu ada yang mengadopsi nilai-nilai Islami.

Di negara seperti Indonesia ini berlaku hukum DAKWAH dan ISLAH. Tujuan dakwah ialah mengajak bangsa Indonesia rujuk kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Tujuan ishlah ialah memperbaiki kehidupan dari keadaan jahiliyyah menjadi keadaan Islami. Maka kaum Muslimin pun terjun dalam dua missi itu, sekuat kemampuan dan kesanggupan yang dimiliki.

Kondisi bangsa Indonesia ini persis seperti era dakwah Rasulullah Saw di Makkah dulu. Hukum dan sistem yang berlaku bukan Islami, tetapi berdasarkan nilai-nilai non Islam. Dan faktanya, Rasulullah Saw belum mengibarkan bendera Jihad Fi Sabilillah ketika berdakwah di Makkah.

Kalau Takfiri ini mau berjihad dalam keadaan seperti ini. Dia bisa menempuh dua cara: Pertama, dia bisa hijrah ke suatu wilayah Islami (bila ada), lalu kemudian dia bisa memerangi orang-orang yang dia tuduh kufur itu dari negeri Islami tersebut. Kedua, dia bisa merebut kekuasaan, lalu mengubah kekuasaan jahiliyyah menuju kekuasaan Islam. Apabila tegak kekuasaan Islam, dia baru bisa menerapkan hukum-hukum Jihad itu.

Tapi kan masalahnya, Si Takfiri ini sudah terjerumus dalam kebodohan yang dalam; lalu merasa dirinya pintar, kemudian menghukumi orang lain dengan ucapan: IQ jongkok, jahil murakab, bodoh, lucu, dll. Lalu sebenarnya ucapan itu lebih tepat diarahkan kepada siapa? Kepada kaum Muslimin atau Si Takfiri ini?

[F] 2. Mujahidin menjadikan tempat ibadah (masjid) sebagai target/sasaran. JAWABAN: Ini mungkin tuduhan yang paling konyol dan tidak masuk akal yang ana dengar, yang tidak mungkin tuduhan ini di lontarkan kcuali oleh orang-orang yang IQ-nya di bawah standar ( IQ jongkok). Ketahuilah wahai pemilik IQ jongkok, seandainya yang menjadi target mujahidin adalah masjidnya tentu mujahidin tidak akan menyerangnya di saat banyak orang berkumpul di dalamnya. Jika bangunan masjidnya yang ingin dimusnahkan tentu mujahidin akan memilih waktu dmana masjid itu kosong dan tidak perlu mujahidin melakukan aksi istisyhadiah jika hanya untuk menghancurkan bangunan kosong..

Ketahuilah wahai pemilik IQ jongkok, yang menjadi target mujahidin bukanlah bangunannya. Tapi yang menjadi target adalah orang-orang yang dianggap musuh yang berada di dalam bangunan tersebut. Ini sebenarnya bisa di fahami dan dimengerti oleh orang-orang yang mau menggunakan akalnya untuk menilai dan berfikir. Tapi apa mau dikata, ternyata kita juga menghadapi orang-orang yang memiliki akal dibawah standar.

KOMENTAR: Masya Allah, wahai Takfiri. Sebenarnya kamu yang lebih pantas menyandang sebutan “IQ jongkok” itu. Pernyataan kamu di atas semakin mengungkapkan dirimu sendiri. Wahai Takfiri, kamu beralasan bahwa, kalau masjidnya yang menjadi sasaran, mengapa pelaku pengeboman tidak menyerang saat masjid sedang kosong saja? Dari sana kamu menyimpulkan, bahwa pelaku menyerang manusianya, bukan masjidnya. Kalau ucapanmu itu benar, wahai Takfiri, mengapa pelaku bom itu tidak meledakkan bomnya saat sebelum Shalat Jum’at, saat di luar masjid? Toh, sebelum Shalat Jum’at dan di luar masjid juga banyak manusia. Mengapa dia menanti harus meledakkan bom di dalam masjid? Apakah dalam otak kamu wahai Takfiri, ngebom manusia di masjid lebih nikmat ketimbang di luar masjid? Begitukah wahai Takfiri?

Sehina-hinanya seorang teroris Muslim, tidak akan melakukan perbuatan nista seperti itu. Kalau kamu ksatria, wahai Takfiri, mengapa tidak menyerang sasaran kamu itu saat mereka sedang siap, saat berkumpul, atau saat mereka siaga di pos-posnya? Mengapa menyerang mereka justru saat mereka Shalat Jum’at? Apakah di dalam otak kamu dan kawan-kawan wahai Takfiri, tidak ada istilah kesatria, gentlemen, laki-laki sejati? Yang ada selalu serangan-serangan licik, sporadis, pengecut, dll. lalu orang yang mati binasa dalam serangan seperti itu langsung digelari: Mujahid Syahid Akbar fil ‘alam. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kalau memang mujahid sejati, bersikaplah layaknya laki-laki. Jangan seperti kaum banci kaleng. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wallahu yuhibbul muqsithiin” (dan Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat adil).

[G] 3. Mujahidin menyerang orang-orang yang beribadah di dalam masjid. JAWABAN: Coba kalian baca dan renungi ayat ini, ” Alloh Ta’ala berfirman: apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu DIMANA SAJA KAMU JUMPAI MEREKA. (QS. 9:5)

Jadi perlu kalian ketahui larangan membunuh orang-orang musyrik kafir itu tidak terkait dengan tempat tapi masa haram 4 bln yaitu dari 10 zulhijjah hingga 10 rabiulakhir. Inipun dengan catatan mereka tidak memerangi mujahidin.

Berangkat dari ayat yang mulia inilah mujahidin akan terus mengejar, mengintai, dan membunuh orang-orang kafir musyrik dimanapun meerka berada hatta jikapun mereka bergelanyut di tirai ka’bah, mujahidin tetap akan membunuh mereka jika dipandang mereka perlu dihabisi. Karena rumusnya sederhana, “Perang terjadi (dikobarkan) ditempat adanya musuh”. Mudah-mudahanan kalian faham!

KOMENTAR: Disini kegilaan Si Takfiri ini semakin menjadi-jadi, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Takfiri ini sudah merampas hak-hak ajaran Islam, lalu dia sembunyikan di balik ketiaknya, lalu dia injak-injak ajaran itu sehina-hinanya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Wahai Takfiri, ketahuilah apabila engkau benar-benar berhujah dengan Syariat Allah, bahkan kamu mengkafirkan manusia atas dasar Syariat Allah itu sendiri. Ketahuilah wahai Takfiri, posisi kita dalam Syariat Islam hanyalah sebagai: Thalib (pelajar), ‘amil (pengamal), dan sebagai muballigh (penyampai). Kita tidak boleh mencampuri otoritas Allah dan Rasul-Nya, atas hukum yang mereka tetapkan.

Adapun pemahaman kamu tentang Surat At Taubah ayat 5 itu, dimana dengan dalil itu kamu menghalalkan perang total atas kaum musyrik dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun. Ini bukan Syariat Islam. Ini adalah Syariat buatan kalian sendiri, yang jelas-jelas menyelisihi Syariat Allah dan Rasul-Nya. Disini terbukti dengan jelas, bahwa kalian bukan pembela Syariat Allah, tetapi malah perusaknya. Na’udzubillah min dzalik.

Wahai Takfiri, kamu harus bersikap adil dalam menetapkan hukum-hukum Jihad Fi Sabilillah. Adapun tafsiran kamu yang memutlakkan hukum Jihad terhadap kaum musyrikin, itu tak sesuai dengan ajaran Islam.

Pertama, surat At Taubah yang kamu jadikan dalil, ia turun berkaitan dengan sikap musyrik Makkah yang menodai dan melanggar perjanjian Hudaibiyyah. Ketika musyrik Makkah melanggar janji, maka tidak ada faidahnya memegang isi perjanjian Hudaibiyah. Allah sendiri yang membatalkan perjanjian itu, sehingga Surat At Taubah juga dikenal sebagai Surat Al Bara’ah (Pemutusan Hubungan/Perjanjian).

Kedua, jihad terhadap kaum musyrikin tidak berlaku secara mutlak, tetapi tergantung kondisi kaum Muslimin sendiri. Kalau kuat, silakan berjihad, kalau lemah bersabar dulu. Itu terbukti, selama di Makkah Nabi Saw tidak menetapkan hukum Jihad. Tidak ada musyrik Makkah mati atas nama Jihad ketika Nabi Saw masih dakwah di Makkah.

Ketiga, hukum Jihad itu sendiri berlaku ketika kaum Muslimin sudah memiliki kedaulatan atas hukum Allah dan Rasul-Nya. Kalau belum, sifatnya dakwah dan ishlah. Kecuali kalau kaum Muslimin diperangi, maka mereka boleh berjihad untuk membela diri (difa’iyyah). Ini sudah diakui oleh para jumhur ulama.

Keempat, seorang Muslim -meskipun mengaku sebagai Mujahidin- kalau melakukan serangan kepada kaum musyrikin, dimanapun dan kapanpun orang musyrik itu dijumpai, tanpa dilandasi kedaulatan hukum Allah, tanpa dilandasi petunjuk amir-amir kaum Muslimin, tanpa dilandasi pertimbangan kekuatan Ummat; maka perbuatannya bukan jihad, tetapi agressi ilegal yang sifatnya haram, munkar, dan bathil.

Bahkan perbuatan seperti itu bisa dikategorikan dengan perbuatan membuat fitnah di muka bumi. Pelakunya menurut hukum Islam boleh dihukum mati, dipotong kaki-tangannya secara bersilangan, disalib sampai mati di tiang kayu. Setidaknya, perbuatan seperti itu harus dicegah karena efeknya akan sangat menyulitkan kehidupan Ummat.

Kelima, dalil Syariat yang sangat TERANG-BENDERANG perlu dibaca oleh Si Takfiri dan kawan-kawan. Lihatlah saat Futuh Makkah! Ketika itu sudah turun Surat At Taubah ayat 5 tersebut. Ketika itu Rasul Saw dan para Shahabat Ra. berhasil menguasi Makkah dan menaklukkan penduduknya. Saat Futuh Makkah, masih banyak orang-orang Makkah yang masih musyrik, belum masuk Islam. Ingat, semua ini terjadi dengan kondisi: Hukum Allah sudah berdaulat, kaum Muslimin sudah menang, orang Makkah sudah tertunduk dalam kekalahan. Tetapi Rasul Saw tidak membunuhi kaum musyrikin Makkah itu, seperti ambisi konyol Abu Khataf dan kawan-kawan.

Anda mau bukti, bahwa Nabi Saw tidak membunuhi kaum musyrikin yang sudah dikalahkan itu? Buktinya ialah saat Perang Hunain. Dalam perang itu, banyak kaum musyrikin, termasuk pembesarnya ikut berperang di pihak kaum Muslimin. Lalu mereka diberi bagian harta ghanimah besar oleh Nabi Saw agar mau masuk Islam.

Apakah itu wahai Takfiri yang kalian maksudkan dengan Jihad total menumpas kaum musyrikin? Kalian menyalahi jalan Nabi kalian sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[H] 4. Perbuatan itu ( tafjir masjid mapolres cirebon) mafsadatnya lebih besar dari manfa’atnya bagi kaum muslimin, dakwah tauhid dan mujahidin sendiri. JAWABAN: Syubhat manfa’at dan mafsadah ini adalah warisan turun temurun dari orang-orang yang sebenarnya tidak menginginkan tegaknya jihad kecuali jika sudah sesuai dengan planing and strategy kelompok mereka. Untuk itu biarlah jawaban dari subhat ini kita berikan kepada ahlinya, yaitu Syaikh Nasr bin Hamd al Fahd yang dikutib oleh Syaikh Aiman adz-Dzowahiri dalam kitab at-tabriah hal 144.

Syaikh Nasr menjawab subhat ini dengan mengatakan: “Benar memang suatu perintah kalau kerusakannya lebih besar daripada maslahatnya, maka tidak disyariatkan saat itu. Akan tetapi ada 2 hal yang perlu diperhatikan : 1. Mafsadah ataupun manfaat yang di maksud adalah mafsadah atau manfaat hakiki syar’i bukan angan-angan atau dugaan. 2. Sesungguhnya kelompok yang paling layak dan utama untuk memandang/menentukan manfaat dan mafsadah dalam jihad mereka adalah mujahidin, bukan qo’idun yang tidak mengerti bagaimana cara memegang pistol.” Kalian faham wahai pemuja maslahat dan mafsadat???

Kalian faham bahwa orang yang tidak pernah berdebu di dalam jihad fiesabilillah, tidak pernah memenggal kepala orang kafir atau menembakkan sebutir peluru ke arah orang-orang kafir tidak layak ngoceh masalah mafsadah atau maslahat dalam jihad??! Tapi sayang… Hari ini banyak orang-orang yang lancang mengambil suatu urusan yang bukan menjadi haknya.

KOMENTAR: Kita sering rancu dalam menetapkan urusan mashalat-madharat ini. Memang kaidah maslahat-madharat sangat mendominasi penetapan hukum. Tapi tunggu dulu, ia adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan IJTIHAD kaum Muslimin. Kalau dalam hukum ibadah, hukum aqidah, serta perbuatan-perbuatan yang nyata-nyata FASAD, tidak berlaku ketetapan maslahat-madharat ini. Kaidah maslahat-madharat itu misal berlaku dalam urusan makanan, bisnis, rumah-tangga, profesi, sekolah, dll. yang berhubungan dengan hajat Ummat.

Dalam Jihad bisa juga dipakai kaidah itu, tetapi yang mengoperasikan kaidah tersebut haruslah ulama, fuqaha’, ahlu syura, amir kaum Muslimin, komandan Islam, dll. Ia bukan barang pasaran sehingga bisa dipakai oleh siapa saja, sesuai ambisi hawa nafsunya. Na’udzubillah min dzalik.

Taruhalah, kita menerima pandangan Si Takfiri, bahwa kaidah itu lebih layak dioperasikan oleh kaum Mujahidin. Misalnya demikian. Lalu pertanyaannya? Siapa yang disebut Mujahidin? Apakah kaum Takfiri yang memutlakkan hukum Jihad atas kaum musyrikin, dan tidak mengerti adab-adab Jihad, mereka layak disebut Mujahidin? Oh nanti dulu. Orang seperti ini sih ngaku-ngaku sebagai mujahidin, padahal dia belum tammat belajar kaidah-kaidah Jihad itu sendiri. Bagaimana disebut mujahidin, ngebom di masjid malah dibela? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bila nanti terjadi lagi pengeboman di masjid, maka Si Takfiri dan kawan-kawan ini akan ikut memikul dosanya. Sebab mereka sudah menanam saham dalam perbuatan aniaya/fasad. Masjid disucikan oleh kaum Muslimin, tetapi di tangan Si Takfiri dkk., masjid bisa dianggap sebagai sasaran serangan. Masya Allah. Ini adalah kesesatan yang nyata.

Itulah salah satu ciri Khawarij. Ghuluw di satu persoalan, dan ghuluw dalam mengingkari persoalan itu di persoalan lain. Katanya mereka membela Syariat Allah, tetapi masjid-masjid Allah yang dilindungi Syariat, malah hendak dikobarkan fitnah di dalamnya.

[Mohon dimaafkan sebesar-besarnya, khususnya kepada Ust. Aman Abdurrahman. Saya telah menyangka beliau dengan sangkaan keliru. Mohon dimaafkan. Astaghfirullah min kulli dzanbi wal khathi’ah. Amin].

============== Lanjutan tulisan sebelumnya =================

[I] 5. Jubir mereka mengatakan “tindakan itu diharamkan karena tidak sesuai dengan kaidah fiqh jihad”. JAWABAN: Wahai pak jubir kenapa anda jadi sewot?? Coba tunjukkan dalil dari Al Qur’an, Sunnah,Ijma’ dan aqwal salaf tentang keharoman membunuh/mengebom anshor thoghut (polisi) kalau memang pak jubir merasa diatas al haq.

Coba tunjukkan kaidah fiqh jihad yang mana yang tidak sesuai dengan amaliyah istisyhadiyah tersebut jika pak jubir merasa faham dengan kaidah fiqh jihad. Apakah harom yang pak jubir maksud adalah menurut kitab jama’ah anda?? Maka kalau itu yang pak jubir maksud mungkin saja pak jubir benar.

Mungkin kata-kata ana terlalu kasar untuk pak jubir, itu dikarenakan pak jubir tidak memiliki belas kasihan dan pembelaan sama sekali terhadap pelaku yang keislamannya tsabit dan tujuannya jelas sebagaimana tertulis dalam wasiat pelaku yang dipublikasikan sendiri oleh jubir thoghut.

Seandainya pak jubir lebih hati-hati dalam menjaga lisan, tentu kami juga akan lebih hati-hati dalam menjaga lisan kami terhadap pak jubir, insyaAlloh. Seandainya pak jubir mau merinci haromnya dimana dengan dalil-dalil syar’i dan juga dimana tidak sesuainya dengan kaidah fiqh dengan perincian yang syar’i tentu kami juga akan menjawab dengan perincian yang syar’i, insya Alloh.

Ketahuilah wahai pak jubir, antara kita ada Al Qur’an, assunnah, ijma’ maka mari kita kembalikan perbedaan kita kepada dalil. Mudah-mudahanan isyarat singkat ini bisa pak jubir fahami. Wahai Rabb yang memahamkan Sulaiman, fahamkanlah saudaraku pak jubir..

KOMENTAR: Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semakin banyak bicara, semakin kelihatan kebodohan Si Takfiri ini. Dia hanya semakin menelanjangi dirinya sendiri. Allahu Akbar.

Wahai Takfiri, kalau kamu sangat mengagungkan Jihad Fi Sabilillah, maka kamu harus membuktikan bahwa dirimu adalah manusia yang paling mengerti aspek-aspek Jihad itu sendiri. Jangan kamu mengklaim sebagai Mujahidin, tetapi dirimu JAHIL dari konsep Jihad Islami.

Disini ingin dijelaskan sedikit tentang konsep Jihad Fi Sabilillah, agar kamu dan kawan-kawanmu mengerti. Semoga Allah memberikan kita ilmu, hidayah, dan taufiq. Allahumma amin.

Pertama, Jihad dalam Islam berdiri di bawah naungan Kepemimpinan Islam yang melaksanakan Syariat Islam. Ia serupa seperti amal-amal Islami lain yang didasari legalitas hukum Islam. Dalilnya mudah, Syariat Jihad dilaksanakan oleh Rasulullah Saw ketika di Madinah, dan tidak dilaksanakan ketika masih dakwah di Madinah.

Kalau kebijakan baitul maal, penarikan zakat, jizyah, ghanimah perang, fai, penetapan hukum pidana Islam, dilaksanakan setelah hukum Syariat tegak; apalagi dengan hukum Jihad Fi Sabilillah. Maka tidak heran jika di masanya Khalifah Umar Ra melakukan perluasan wilayah Islam. Hal itu diikuti oleh pemimpin-pemimpin Islam selanjutnya.

Kedua, amalan Jihad itu bukan amalan individu, tetapi selalu merupakan amalan kolektif. Tidak bisa setiap orang seenaknya mengobarkan Jihad, meskipun dia hanya seorang diri (seperti pelaku-pelaku bom bunuh diri itu). Amal Jihad di masa Nabi Saw dan para Shahabat Ra selalu merupakan amal kolektif, bukan amal perorangan. Nabi Saw selalu bermusyawarah dengan para Shahabat sebelum melakukan perang.

Ketiga, suatu operasi Jihad tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, atau sporadis, tetapi harus atas petunjuk amir Mujahidin, atau amir kaum Muslimin. Para Shahabat Ra tidak pernah melakukan operasi, serangan, atau ekspedisi, tanpa ijin dan perintah Rasul Saw. Dalam hal pentingnya mematuhi perintah amir, Ibnu Taimiyyah berdalil dengan hadits tentang safar. Setiap safar beberapa orang, salah satu harus ditunjuk sebagai amir safar. Kalau dalam safar berlaku hukum ketaatan kepada amir, apalagi dalam Jihad?

Si Takfiri menanyakan apakah ada dalil yang melarang ngebom anshar thaghut? Justru ini menandakan betapa dangkalnya pemahaman ilmu Si Takfiri ini. Wahai Takfiri, bila terjadi perjanjian damai antara Ummat Islam dengan orang musyrik (seperti dalam Perjanjian Hudaibiyyah), hal itu sudah cukup sebagai dalil larangan kita melanggar kesepakatan yang sudah dilakukan dengan musuh-musuh (yang kamu sebut anshar thaghut itu). Disini kan berlaku firman Allah, “‘aufuu bil ‘uquud” (penuhilah akad-akad kalian -wahai orang beriman-).

Rasulullah Saw selalu memenuhi janjinya, termasuk kepada Yahudi dan kabilah-kabilah Arab di Madinah, melalui perjanjian Piagam Madinah. Bahkan Nabi Saw memenuhi amanah orang musyrik yang menitipkan barang-barang kepada beliau, ketika beliau hendak hijrah ke Madinah. Apakah ini tidak cukup sebagai dalil, bahwa kita tidak boleh menyerang orang-orang yang sudah berada dalam perjanjian dengan kita, meskipun dia adalah orang kufur harbi. Bahkan orang-orang kafir yang meminta perlindungan kepada kita (kerap disebut musta’min) mereka haram untuk dizhalimi.

Kalau memang tidak tahu soal Jihad, Anda jangan membuat fatwa atau pandangan atau opini yang nanti justru menyesatkan Ummat. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lil muslimin.

[J] 6. Kelompok-kelompok islam berkumpul pada tgl 18 april 2011 mereka menyatakan kesamaan sikap mengutuk dan mengharamkan peledakan di cirebon. JAWABAN: Sungguh memalukan sekali apa yang kalian lakukan ini.. Kalian bersegera tergopoh-gopoh membela thoghut saat mereka sedikit tertimpa musibah !!

Ana bertanya kepada kalian: Dimana kalian ketika DR. Azhari dibantai oleh thoghut didepan mata kalian??? Dimana kalian saat 3 mujahid di eksekusi regu tembak thoghut didepan mata kepala kalian??? Dimana kalian saat kaum muslimin di poso dibantai thoghut juga didepan mata kalian? Dimana pembelaan kalian saat al akh Nurdin, Jabir, Urwah, Ibrahim, dan ikhwan-ikhwan di aceh diberondong peluru thoghut tanpa ampun di depan mata kepala kalian??? Bukankah mereka kaum muslimin??? Bukankah mereka haram darahnya untuk ditumpahkan??? Adakah kalian berkumpul seperti yang kalian lakukan saat ini untuk menyatakan sikap pembelaan??? Tapi lihatlah kalian saat ada segelintir thoghut yang terluka, kalian segera berkumpul dan segera menyatakan baro’ kalian terhadap aksi tersebut dan bersimpati dengan luka-luka si thoghut. Demi Alloh, telah nampak kemunafikan kalian dengan apa yang kalian lakukan !! Ya Alloh, saksikanlah.. Kami baro’ terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang munafik itu..

KOMENTAR: Disini Si Takfiri semakin goyang kepalanya, dia semakin pusing dengan angan-angan dan obsesi perang yang membabi-buta. Mungkin diperlukan beberapa orang untuk memegangi tubuh Si Takfiri, agar kepalanya tidak membentur tembok.

Wahai Takfiri, sikap mengecam pemboman oleh Syarif di Cirebon itu adalah bagian dari nahyul munkar. Perbuatan munkar ya harus diingkari. Apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga Islam itu adalah dalam rangka pengingkaran tersebut.

Lagi pula, kalau aksi ngebom di masjid dibiarkan, nanti kaum Muslimin tak akan mau datang ke masjid, karena khawatir ada ledakan bom. Bahkan bisa jadi, selanjutnya masjid akan dijadikan SASARAN EMPUK penyerangan-penyerangan. Kalau itu terjadi, maka orang seperti Si Takfiri ini yang akan memikul dosanya di sisi Allah. Bahkan orang seperti Si Takfiri ini layak dihukum seberat-beratnya, karena dia telah menghalalkan perbuatan menodai kesucian masjid.

Si Takfiri ini merasa seolah hanya dirinya sendiri yang peduli dengan isu seputar aksi-aksi kekerasan. Padahal kaum Muslimin sejak Bom Bali I sudah membentuk TPF untuk mencari fakta, di bawah MUI. Hanya karena isu seperti ini sudah jadi satu paket dengan kebijakan luar negeri AS, maka kekuatan lembaga-lembaga Islam tidak sebanding dengan lobi AS dkk.

Kalau kaum Muslimin peduli, bukan berarti membenarkan tindakan Azahari, Nurdin, Jabir, Urwah, dll. yang melakukan serangan-serangan bom ke target sasaran sipil di negeri seperti Indonesia ini. Tidak demikian. Kita menolak tindakan seperti itu. Kalau mau Jihad, ya serius berjihad. Jangan main-main dengan tindakan seperti itu. Bina kekuatan diri, fisik, iman, ekonomi, politik, persenjataan, dll. sebelum akhirnya berjihad yang sebenarnya.

Jihad bom-boman secara sporadis itu kan hanya akan mengundang SERANGAN BALIK kaum kuffar yang sangat pedih ke tengah-tengah kaum Muslimin. Kalau Mukmin sejati, pasti akan menghindari cara-cara pengecut seperti itu. Sekali kaum kufar menerima bom kecil, mereka lalu balas melemparkan rudal besar ke tubuh Ummat. Lama-lama ya ambruk Ummat ini, karena kebodohan orang-orang yang berkedok Mujahidin.

Lalu Si Takfiri menuduh kaum Muslimin sebagai munafik. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ya sudahlah, terserah apa saja yang ingin kamu sampaikan. Toh, setiap ucapan kelak akan ditimbang di sisi Allah Al ‘Alim.

Intinya, Si Takfiri dan kawan-kawan melakukan jihad bom-boman yang tidak dicontohkan oleh Nabi Saw. Kemudian jatuh korban di pihak pelaku dan sasaran. Lalu kita disuruh membenarkan perbuatan itu, dan disuruh tidak simpati kepada korban yang jadi sasaran.

Wahai Takfiri, kesulitan ini kan kalian sendiri yang membukakan pintu-pintunya. Malah kalian bukakan juga pintu-pintu kesulitan bagi kaum Muslimin yang lain. Kalau kalian menderita akibat kesulitan yang kalian buat sendiri, seharusnya kalian menyesali diri kalian sendiri. Mengapa harus marah ke orang lain, lalu menuduhnya munafik?

[K] Ana cukupkan tanggapan tentang suara-suara sumbang yang tidak berperikeikhwanan dalam menyudutkan pelaku bom cirebon, sebenarnya masih sangat banyak nada-nada sumbang yang kami dengar.. Biarlah semua itu menjadi bumbu pelezat dalam perjuangan..

Terakhir ana tujukan kata-kata ini untuk ikhwan-ikhwan mujahidin ‘amilin fiesabilillah, siapapun dan dimanapun kalian berada. Kepada mereka yang mencintai Alloh dan Alloh pun mencintai mereka. Mereka yang adil, lembut dan sayang kepada orang-orang mukmin dan keras, tegas serta ganas terhadap orang-orang kafir.

Kepada mereka yang terus berusaha menghidupkan ibadah jihadiyah baik dalam kondisi sempit ataupun lapang.. Kepada mereka yang tidak pernah menghiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci dan bualan orang-orang yang suka membual.. Kepada mereka ana ucapkan Jazakumulloh khayran jaza’ atas usaha jihadiah yang kalian lakukan.

Demi Alloh, kalian telah -menjadi perantara Alloh- untuk membuat kami tertawa dan senang atas mengalirnya darah dari satu kelompok yang telah -dengan ijin Alloh- mengalirkan banyak darah mujahidin, seperti yang kalian ketahui…

Jazakumulloh khayran jaza’ atas usaha kalian yang telah membuat luka kelompok yang telah banyak melukai saudara kalian.. Jazakumulloh khayran jaza’ kepada kalian yang telah membuat menangis kelompok yang juga telah membuat menangis anak_anak saudara kalian karena abi-nya ditangkap, disiksa dan dibunuh didepan mata kepala mereka, seperti sudah maklum bagi kalian…

Demi Alloh… DemiAlloh kami ridho dengan apa yang kalian lakukan meskipun banyak orang lain yang tidak ridho dengan apa yang kalian lakukan, maka tutuplah telinga dan mata kalian dari orang-orang yang tidak menginginkan jihad kalian..

Cukuplah Alloh bagi kalian.. Demi dzat yang telah meluluh lantakkan pasukan abrahah, kalian berperang bukan karena jumlah, kekuatan atau bilangan, tapi kalian berperang karna dien ini yang Alloh muliakan kita denganya..

Inilah keyakinan pendahulu kalian komandan perang mu’tah Abdullah ibnu Rawahah, maka peganglah erat-erat wasiat pendahulu kalian. Jangan kalian terlalu berharap meraih kemenangan sempurna, mengharap daulah/khilafah tegak pada jaman kita karena hal itu adalah perkara yang ghoib yang hanya diketahui Alloh .

Yang harus kalian yakini menurut ana adalah bahwa kita adalah generasi ‘tumbal’ tegaknya kejayaan islam, maka bergembiralah wahai generasi “tumbal”.. “JIKA KALIAN TDK MALU SILAHKAN LAKUKAN APA YG KALIAN INGINKAN”

KOMENTAR: Wahai Takfiri, kamu tidak boleh mendukung kesesatan, dan menjadi penyebar kesesatan itu sendiri. Paham Jihad yang kamu yakini itu keliru, harus diperbaiki. Sesuatu yang salah tidak boleh disebar-luaskan ke tengah masyarakat kaum Muslimin.

Seseorang yang menyebarkan bid’ah, dan sangat keras kepada dengan bid’ah-nya, berhak untuk diberikan sanksi kepadanya. Di antaranya sanksi boikot, agar dia kembali kepada kebenaran.

Di antara dosa besar kaum Takfiri ialah: mereka membunuh, merusak kehormatan, menimpakan musibah dan fitnah kepada kaum Muslimin. Bagaimana itu terjadi, padahal mereka tidak menyerang kaum Muslimin atau membunuhnya? Ya itu tadi, kaum Takfiri menyerang sasaran-sasaran tertentu, lalu pihak yang mereka sebut thaghut balik menyerang kaum Muslimin secara intensif, massif, dari segala penjuru. Takfiri memprovokasi, lalu musuh mereka menyerang Ummat Islam secara membabi-buta. Nah, perbuatan provokasi itu bisa dinilai sebagai bentuk pembunuhan atau penghancuran kolektif kepada Ummat Islam.

Berhati-hatilah wahai Takfiri, disini tampak bahwa amal perbuatan kalian mengandung dosa-dosa yang tak terkira besarnya. Luruskan hati kalian untuk kembali kepada Allah, bukan melayani kesesatan.

Satu hujjah sederhana yang perlu direnungkan oleh Takfiri dan kawan-kawan, bahwa: Rasulullah Saw sebagai amir Mujahidin hakiki, beliau tidak pernah mengajarkan Jihab bom-boman secara pengecut seperti itu! Jadi kaum Takfiri dalam hal ini mengikuti jalan bid’ah mereka sendiri. Jalan demikian tentu sangat jauh dari thariqah Abdullah bin Rawahah Ra.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala salah dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 27 April 2011.

AM. Waskito.



Dakwah yang Melukai Hati

April 24, 2011

Bila Hati Sudah Terluka…

Dakwah artinya seruan, ajakan, atau bimbingan. Dakwah Islamiyyah berarti seruan atau ajakan untuk menetapi jalan Islam. Semua kata atau istilah yang berkaitan dengan dakwah selalu bercirikan lembut, bijaksana, hangat, mencerahkan, dan penuh empati. Dakwah tidak dihubungkan dengan jalan kekerasan, tekanan, paksaan, penipuan, dan sebagainya.

Namun suatu saat, suka atau tidak suka, kita bisa menghadapi kenyataan-kenyataan buruk, seperti berikut ini…

[a] Sebagian orang membenci Islam, membenci dakwah, membenci aktivis Muslim. Ketika ditanya, mengapa? Jawabnya, mereka melihat perilaku para pengurus lembaga Islam yang bersikap kasar/arogan kepada masyarakat kecil.

[a] Sebagian orang anti datang ke masjid. Mengapa ya? Katanya, sendalnya sering hilang, kran air wudhu sering mampet, WC tempat buang air sangat pesing baunya. Satu lagi, di masjid itu tak ada tempat sampah; manusia bebas membuang sampah dimana saja.

[a] Sebagian orang jengah ketika mendengar istilah ustadz. Mengapa? Sebab dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan perilaku ustadz yang amoral, jauh dari akhlak mulia.

[a] Sebagian orang benci dengan pelatihan-pelatihan ekonomi Islam, benci dengan BMT, benci dengan komunitas bisnis Muslim. Mengapa lagi? Karena mereka punya pengalaman ditipu habis-habisan oleh “pebisnis Muslim”.

[a] Sebagian orang antipati dengan partai Islam. Mengapa? Karena partai itu hanya peduli dengan jabatan (kekuasaan), serta terlibat korupsi dan penyelewengan politik. “Halah, sama sajalah. Semua partai sama-sama rakus kekuasaan,” begitu katanya.

[a] Sebagian orang benci wanita-wanita berjilbab rapi. Kenapa mesti benci? Katanya, kaum wanita itu cenderung eksklusif dan sombong. “Mereka sih hanya mau gaul dengan ahli syurga. Kita dianggap calon ahli neraka kali yeee…,” kata mereka beralasan.

Sejujurnya, di tengah masyarakat Indonesia masih banyak yang memiliki iman lemah. Mereka mau menerima nilai-nilai Islam dengan syarat. Apa syaratnya? Ya, hati mereka senang melihat orang-orang Muslim memiliki akhlak baik, memiliki moral tinggi, memiliki idealisme, peduli dengan penderitaan masyarakat, berani menentang ketidak-adilan, dll. Melihat sikap yang mulia, hati mereka gembira. Karena itu mereka pun mau belajar Islam; mau mendatangi masjid; mau memakai nama-nama Islami; mau menyekolahkan anaknya di sekolah Islam, dll.

Selama mereka kagum dengan perilaku Muslim, selama itu pula dukungan mereka kepada dakwah Islam sangat kuat. Tetapi ketika perilaku-perilaku Muslim, khususnya orang-orang yang bergerak di dunia dakwah, mengecewakan; mereka pun menarik dukungan.

Betapa banyak saat ini masyarakat yang tidak simpati lagi kepada dakwah Islam dan para dai. Karena, perilaku para dai dianggap mengecewakan. Ada yang terlalu komersial; ada yang arogan; ada yang punya catatan buruk seputar moral; ada yang menipu dalam bisnis; ada yang mengeksploitasi harta-benda jamaah; ada yang memanfaatkan masyarakat untuk mencapai jabatan-jabatan politik, dll. Semua itu mengecewakan, membuat kesal hati, membuat marah dan sesalan.

Dakwah itu artinya seruan. Seruan bermakna lembut. Atau disebutkan sebagai karakter, Rahmatan lil ‘Alamiin. Namun dakwah-dakwah yang salah terbukti telah banyak melukai hati insan.  Alih-alih mau menyebarkan rahmat, malah muncul rasa benci yang sulit sembuh –kecuali jika Allah menyembuhkannya–.

Andaikan waktu bisa ditarik mundur, tentu kita ingin kembali ke masa-masa lalu, saat semangat berdakwah begitu kuat, sedangkan respon masyarakat kaum Muslimin begitu besar dalam menghargai dakwah. Namun apa daya kita menghadapi hasil dari “percobaan dakwah” yang penuh kesalahan dan cacat. Sebagian pendakwah di masa lalu menanam kesalahan, lalu kini kita harus menanggung resiko akibat kesalahan itu.

Jangan melukai hati manusia, agar mereka tidak menolak Islam atau membenci Syari’at Allah. Hiburlah mereka dengan sebanyak-banyak kebaikan dan teladan mulia. Hibur mereka sampai hatinya teguh dalam keislaman. Jika sudah teguh, biarpun badai besar melanda 7 samudra; mereka tetap akan ISTIQAMAH di atas jalan Islam.

Rasulullah Saw mengatakan, “Basy-syiruu wa laa tunafiruu, yassiruu wa laa tu’assiru!”  (Berikan kabar gembira, jangan membuat manusia lari. Permudahlah urusan, jangan mempersulit keadaan).

Semoga bermanfaat. Allahumma amin.

Depok, 24 April 2011.

AM. Waskito.


Terorisme dan Kemunafikan Orang Indonesia

April 22, 2011

Serial terorisme di Indonesia dimulai sejak 11 September 2001, tepatnya sejak Tragedi WTC. Bukan sejak 12 Oktober 2002 ketika meledak Bom Bali I. Mengapa? Karena femomena terorisme di Indonesia itu merupakan hasil dari pemaksaan agenda War On Terror yang dilancarkan oleh Amerika sejak Tragedi WTC.

Indonesia termasuk klien terbaik Amerika dalam isu terorisme. Di jaman SBY kualitas dalam melayani isu terorisme itu semakin hebat. Betapa tidak, demi menyebarkan isu terorisme secara menyeluruh, bangsa Indonesia secara sadar dan paham, telah menghancurkan kehidupannya sendiri.

Kita ini bisa dibilang sebagai: bangsa yang mau mencelakai diri, demi membuat orang lain tertawa terbahak-bahak. Itulah Indonesia. Regim SBY sangat sempurna dalam memerankan posisi sebagai “badut” yang membuat tertawa itu. Kalau di negara lain, isu terorisme diatasi dengan sangat cepat, tertutup, dan efektif; agar tidak merugikan proses pembangunan. Kalau di Indonesia, isu terorisme malah bersaing ketat dengan sinetron-sinetron di RCTI, SCTV, Indosiar, dan lainnya.

Sejak awal munculnya isu terorisme, sebenarnya pihak Polri tidak suka harus menghadapi isu ini. Sebab mereka tidak berpengalaman menghadapi teroris. Yang berpengalaman ialah satuan Gultor (penanggulangan teror) di bawah satuan Kopassus. Mereka lebih berpengalaman. Sedangkan Polri jauh sekali dari kemampuan anti teror.

Namun kemudian Polri mau mengambil tugas anti teror itu, karena mendapat dukungan langsung dari Presiden RI. Bahkan yang terpenting, Polri menerima bantuan dana, fasilitas, dan pelatihan anti teror dari Amerika dan Australia (bahkan sangat mungkin Israel juga). Dengan motif dana itu Polri jadi semangat. Lalu satuan yang dipilih ialah Brimob yang mirip-mirip TNI. Orang-orang Brimob yang bagus dipilih. Dari sinilah nanti lahir Densus88. Satuan ini bisa dikatakan, menggantikan posisi Gultor dari Kopassus.

Seni Kemunafikan Demi Kehancuran Bangsa!

Seiring perjalanan waktu, ternyata Polri merasa SANGAT BAHAGIA mengemban tugas anti teror itu. Mengapa? Ada dua alasannya yang sangat mendasar: a. Mereka mendapat anggaran penuh untuk melakukan operasi-operasi anti teror; b. Mereka mendapatkan reputasi besar di mata masyarakat dan media massa dengan tugas “memberantas teroris” itu. Dua hal ini sangat menggiurkan.

Bahkan Polri yang selama Orde Baru merasa terus berada di bawah TNI, mereka merasa mendapatkan pujian, kekaguman, dan dukungan luas dari masyarakat dan negara. Terutama ketika selesai melakukan operasi anti teror. Jangan dikira. Hal-hal demikian sangat besar artinya bagi kalangan Polri. Mereka anggap itu adalah kemenangan moral besar.

Kemudian masalahnya bertambah rumit ketika isu teror “sangat bermanfaat” untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu besar yang sedang menerjang citra Pemerintah. Isu teror dipercaya sangat efektif untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu negatif yang merugikan citra Pemerintah. Maka bila ada isu-isu sengak tertentu, segera saja berita soal terorisme diangkat. Ya, begitulah.

Dan kebetulan, wartawan-wartawan media bertingkah seperti wartawan infotainment. Mereka sangat haus mencari berita-berita seputar terorisme, sebab terbukti berita semacam itu efektif nyedot iklan. Semakin banyak iklan, paha dan kaki semakin berlendir. [Maksudnya, semakin banyak duit yang didapat wartawan untuk main esek-esek secara haram. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik].

Akhirnya seperti lingkaran setan, semua pihak membutuhkan isu terorisme. Polisi jelas butuh, karena soal anggaran dan citra sosialnya di mata TNI dan masyarakat. Pemerintah juga membutuhkan, untuk mengalihkan perhatian publik. Kaum kapitalis membutuhkan juga, agar para aktivis Islam tidak terus koar-koar menyerang bisnis mereka. Bahkan para wartawan media sangat menyukai isu ini, sebab sangat “berlendir”.

Sejujurnya, orang-orang yang saat ini berteriak paling keras, “Awas teroris! Teroris mengancam bangsa! Teroris musuh bersama!” Ternyata orang seperti itu merupakan pihak yang paling menginginkan isu terorisme terus menghantui kehidupan bangsa kita. Ini hanya soal kemunafikan saja.Media-media, seperti TVOne, MetriTV, RCTI, GlobalTV, Trans7, dan lainnya yang sering provokatif dalam memberitakan isu-isu teroris, mereka juga sangat MUNAFIK. Satu sisi, merasa seolah membela kepentingan rakyat; di sisi lain, mereka selalu berdoa agar kasus terorisme selalu muncul. “Ini masalah cari makan untuk anak-isteri, Mas!” Ya, cari makan yang halal dong! Jangan memakan darah, air mata, dan nyawa manusia.

Perlu disadari, isu terorisme ini jelas SANGAT MENGHANCURKAN kehidupan nasional. Otak, hati, tangan, kaki, dan kehidupan kita tidak pernah konsentrasi melakukan pembangunan. Sebab, setiap akan berkarya SELALU DIGANGGU oleh isu terorisme. Kapan bisa mencapai kemajuan, kalau selalu muncul isu terorisme? Coba deh, pikir dengan akal sederhana, apakah ada kemajuan yang tinggi di sebuah negara yang ramai dengan isu terorisme? Tidak pernah itu. Tidak ada negara seperti itu. Dimanapun juga terorisme itu merupakan musuh bebuyutan stabilitas pembangunan.

Fakta yang sangat menyedihkan. Hal ini membuktikan bahwa terorisme di Indonesia itu tidak ada yang ORIGINAL, tetapi by design. Ternyata, para teroris yang sering ditangkap atau ditembak aparat kepolisian itu, rata-rata orang bodoh. Jauh sekali dari kualitas seorang teroris dunia seperti di Irlandia, Spanyol, Amerika, Kanada, dan lainnya. Karakter teroris itu seharusnya: pintar, cermat, bermain data, sabar meretas proses, mengerti konstelasi politik, dll. Ya, seperti diperlihatkan di film-film action itu. [Coba deh, lihat film tentang Jason Bourne]. Sedangkan di Indonesia, para teroris rata-rata kurus-kurus, tinggal di gang, miskin, berwawasan sempit, penguasaan alat minim, pengangguran, dan seterusnya. Para teroris dunia tertawa melihat kualitas teroris Indonesia. Tertawa terbahak-bahak mereka.

Betul yang dikatakan oleh Amran Nasution dalam sebuah tulisannya. Pemberantasan teroris di Indonesia itu seperti: “Memburu hewan liar di kebun binatang.” Lihatlah, betapa mudahnya menembaki hewan di kebun binatang. Sebab hewan-hewan itu sudah dipenjara, tidak bisa lari kemana-mana. Nah, itulah hakikat isu terorisme di Indonesia ini.

Di negeri ini kita tak bisa berharap akan berkarya maksimal. Sepanjang waktu, kita akan terus direcoki dengan isu-isu terorisme. Tetapi kita juga tak bisa mencegah hal itu, sebab ia digerakkan oleh tangan-tangan kekuasaan yang merasa sangat diuntungkan oleh isu tersebut. Intinya, semakin sedikit warga bangsa Indonesia yang mencintai negerinya. Kebanyakan ialah kaum MANIAC (baca: syaitan) yang hidup seperti virus, mencari keuntungan di balik penderitaan masyarakat luas.

Jika suatu saat Indonesia hancur, jangan menangisi siapapun. Kehancuran itu adalah BUAH dar proses yang ditanam oleh kaum maniac itu. Jangan menyesal dan menangis lagi. Wong, itu semua mereka yang membuat. Dan ingatlah, kaum maniak keji itu pasti akan mendapat sanksi paling perih dan mengerikan, daripada orang-orang lainnya.

Ya Allah ya ‘Aziz, kami ini hanya bisa mengingatkan. Tak lebih dari itu. Ampuni kami dan maafkan kaum Muslimin yang ikhlas dalam menjalani hidupnya. Allahumma amin.

AM. Waskito.


Indonesia CINTA MATI Terorisme

April 21, 2011

Banyak yang aneh di negeri ini. Lalu orang berseloroh enteng, “Kalau tidak aneh, bukan Indonesia, dong? Siapa dulu? Kita, bangsa Indonesia, top master untuk urusan yang aneh-aneh. Hayolah kawan, anehkan dirimu, anehkan hidupmu, Indonesiakan darahnya. Oh ye? Gitu tho? Oke, oke, aneh!”

Soal TERORISME…ah sudahlah. Ini kan hanya hiburan saja. Nikmati sajalah… Ini hiburan, semacam sinetron Cinta Fitri yang episodenya tidak entek-entek itu. Mungkin, menjelang kedatangan Imam Mahdi nanti, sinetron tersebut baru tammat. Isu teroris di Indonesia, tidak usah dibuat pusing. Itu sami mawon dengan sinetron-sinetron itu.

Di Indonesia kan ada Densus88. Sampai tahun 2010 nama Densus88 terus berkibar. Sekarang ada badan tersendiri, namanya BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Ini lembaga resmi negara. Namanya lembaga negara, pasti ada ongkos operasionalnya kan. Itu pasti. Misalnya, di Indonesia tidak ada terorisme, terorisnya habis bersih disikat aparat keamanan. Misalnya begitu. Lalu apa kerja BNPT dong? Ya gak ada kerjaan. Kalau gak ada kerjaan, sementara anggaran jalan terus, jadinya bagaimana? Ya, pasti dibubarkan.

Sinetron Tak Kenal Tammat.

Maka ramainya pembicaraan soal terorisme itu sama dengan: memberi nyawa yang panjang bagi BNPT. Kalau negara merasa terancam, BNPT akan panen pekerjaan, sekaligus tentu panen anggaran. Kalau isu terorisme berakhir, ya pasti penghasilan akan terancam. Iya kan.

Sama juga media-media massa. Isu terorisme itu semacam “lumbung padi” bagi mereka. Para wartawan media tak peduli efek apapun dari pemberitaan soal terorisme. “Yang penting ada berita, yang penting ratting acara tinggi, yang penting iklan nyedot terus. Soal A, B, C, D, E, F, G, H… itu soal lain. Yang penting cari makan dulu, buat anak-isteri.” Cuma buat makan anak-isteri Pak? Ya tidak. Ada plus-nya. Plus-nya apa? Nambah koleksi mobil baru, beli gadget baru (seperti Arifinto itu lho), masuk kafe “kopi luwak” yang bergengsi itu, nonton final Piala Champions dari pinggir lapangan, pelesir ke Macao, Hawaii, minimal Singapore lah.

Berita yang dimuat seputar darah, air mata, dan nyawa manusia…tetapi outputnya untuk jalan-jalan ke Pataya, Paris, Dubai, dan seterusnya. Kalau ditanya, kok gitu sih? Jawabnya enteng, “Dunia ini hanya panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah-ubah.” Ya, kalau tahu panggung sandiwara, mengapa mereka mau memainkan peranan Dasamuka, Rahwana, Buto Ijo, dan kawan-kawan? Pilih peran yang bagus dong!

Ya itulah Indonesia, sebuah negeri yang aneh, menganehi, dan sekaligus teranehi. [Anda paham maksudnya? Kalau tidak paham, bilang saja “pass”. Saya juga “pass” kok].

Pak Jero Wacik dari Kementrian Budaya dan Pariwisata. Dia berusaha keras melariskan obyek-obyek wisata di Indonesia. Begitu semangat sampai hampir ketipu. Ceritanya, soal Komodo mau dimasukkan dalam salah satu ikon “7 Keajaiban Dunia”. Ternyata, yayasan internasional yang mengadakan even penganugerahan gelar “7 keajaiban dunia” itu memakai cara seperti “debt collector”, suka maksa-maksa. Kalau Indonesia mau Komodo masuk daftar “7 keajaiban dunia”, Indonesia harus setor dana sekian juta dollar, dan Indonesia harus mau mengadakan acara penganugerahan predikat “7 keajaiban dunia” itu.

Ya, mirip modus orang-orang kita. Mau cari duit, tetapi berliku-liku, dengan retorika tinggi. Tentu Pak Jero Wacik menolak keras. Gak mau aku. Nanti, malah ketipu lagi. Begitulah, salah satu bukti keseriusan Pak Menteri dalam soal kampanye wisata obyek-obyek menarik di Indonesia.

Tetapi dalam soal terorisme ini, efeknya sangat kuat bagi sektor wisata di Indonesia. Bukan hanya wisata, tetapi juga investasi, kunjungan bisnis, kunjungan studi, kerjasama sosial, dll. Setiap negara yang diobral media sebagai “sarang teroris”, pasti akan sangat dirugikan nama baiknya. Sektor wisata rusak, investasi rusak, bidang sosial rusak.

Siapa yang merusak? Ya, tentu saja para pelaku teror, para pemimpin BNPT, para pengamat terorisme, media-media yang getol memberitakan isu terorisme. Mereka ini kan sama saja dengan “seolah membela negara”, padahal pekerjaannya “merusak kepentingan negara”.

Dalam isu terorisme ini, sebaiknya rakyat Indonesia mendengar analisis Dr. AC. Manullang. Kata beliau, isu terorisme itu hanya bikin-bikinan saja. Teroris sejati di Indonesia tidak ada. Andaikan ada, maka teroris itu akan dicegah terlebih dulu dengan aksi “kontra intelijen” sebelum ia pecah. Beliau bahkan meyakinkan bahwa tuduhan kepada Abu Bakar Ba’asyir adalah mengada-ada. Tidak ada bukti material ke arah sana.

Memang, di balik isu terorisme ada multi kepentingan. Pihak aparat ingin mendapat anggaran dana; pihak pelaku ingin mendapat ketenaran; pihak media lagi-lagi berdalih “cari makan buat anak-isteri”.

Seharusnya, kalau bangsa Indonesia SEHAT lahir-batin, jangan suka membesar-besarkan masalah terorisme ini, sebab efeknya merusak kepentingan bangsa sendiri. Merusak kepentingan wisata, investasi, bisnis, sosial, dll. Kalau perlu aksi terorisme itu ditutup-tutupi, atau diklaim sebagai kasus kriminal biasa saja, agar tidak merusak kehidupan umum. Ya, namanya KELICIKAN pasti hasilnya adalah KERUSAKAN. Itu pasti!

Inilah anehnya Indonesia. Aneh, aneh, aneh betul. Kok mau-maunya negeri ini dijuluki “sarang teroris”. Padahal julukan itu sangat merepotkan dan memiskinkan kehidupan bangsa.

Kalau bangsa lain sangat membenci mafia, narkoba, pornografi, kekerasan; maka Indonesia justru “cinta mati” dengan isu terorisme. Hebatnya, dari isu yang “gelap gulita” nanti dipakai untuk menghantam lawan-lawan politik. Aneh kan…ya sangat teraneh-anehi, menganeh-anehkan, plus diperanehkan. [Kalau tidak mudeng, bilang “pass”. Aku sudah “pass” duluan…].

Oke lah…santai aja soal terorisme. Jangan termakan propaganda media. Kalau ada yang memfitnah, menyudutkan, berbohong, dll. ya doakan saja yang bersangkutan agar sadar. Kalau dia maniac, doakan agar mendapat laknat Allah yang sempurna. Ingat, semua ini just sinetron. Not else.

AM. Waskito.


Tafsir Film “?” Menurut Hanung

April 15, 2011

Ada perdebatan menarik antara sutradara film “?” dengan wartawan Suara Islam. Debat itu dimuat di situs voa-islam.com. Berikut ini artikelnya: Inilah Perdebatan Hanung Bramantyo Vs Wartawan Via Facebook. Jika ingin tahu lengkapnya, silakan baca artikel itu terlebih dulu.

Disini saya ingin membahas secara sekilas tentang TAFSIR sutradara film itu, Hanung Bramantyo, terhadap film yang dia buat sendiri. Tafsiran ini dimuat di bagian akhir artikel di atas. Ya, semoga kita bisa memetik hikmah dan pengetahuan dari debat dengan insan film semacam Hanung ini. Amin.

HANUNG: Terima kasih sudah menyaksikan film saya sekaligus mengkritik film tersebut. Saya sangat menghargai pandangan anda. Sebagai sebuah tafsir atas ‘teks’ saya anggap itu syah. Namun sayangnya, anda tidak memberikan kemerdekaan bagi yang menafsir ‘teks’ film tersebut dalam makna lain. Anda sudah terlanjur melakukan judgment berdasarkan ‘teks’ yg anda baca dan tafsirkan. Disini, saya akan mengajak anda untuk menafsir ‘teks’ film dalam kerangka berfikir yang lain. Tidak untuk menandingi, tapi untuk mengajak anda melihat tafsir dalam kerangka berfikir yang berbeda.

Katanya Sineas Cerdas. Padahal...

Komentar: Menjudgement suatu pandangan, pemikiran, sikap, pernyataan, dll. adalah SAH. Kita diberi kebebasan berekspresi. Kita boleh bersikap bagaimanapun, sejauh masih dalam lingkup OPINI. Toh, wartawan Muslim itu tidak menjatuhkan vonis hukum ke Hanung. Iya kan? Sebagai seorang Muslim, menjudgement pandangan kufur, syirik, dan sesat adalah hak yang sepenuhnya dilindungi Kitabullah dan As Sunnah. Kecuali kalau men-judgement amal baik, keshalihan, keadilan, ma’ruf, dll. Jelas itu salah.

HANUNG: 1. A. Anda mengatakan bahwa adegan kekerasan: penusukan pastur dan pengeboman dilakukan oleh orang Islam. Padahal dalam dua adegan tersebut saya sama sekali tidak menampilkan orang Islam (setidaknya orang berbaju putih-putih, bersorban atau berkopyah). Di adegan penusukan pastur, saya menampilkan seorang lelaki berjaket coklat memegang pisau dan seorang pengendara motor. Kalau itu ditafsir orang Islam, itu semata-mata tafsir anda.

B. Di awal Film saya justru menampilkan sekelompok remaja masjid (bukan orang tua) yang melakukan perawatan atas masjid. Bukankah dalam hadist dianjurkan seorang pemuda menghabiskan waktunya untuk mengelola dan merawat masjid? Apakah saya menampilkan seorang pemuda Islam sembahyang atau merawat gereja? atau pemuda gereja, pastur sembahyang di masjid? Jadi tafsir atas pencampur adukan ajaran agama bukan tafsir saya.

Komentar: Pada adegan pertama, tentang penusukan pastur dan pengeboman, mengapa Hanung tidak membuat adegan semacam ini: Yang ditusuk seorang ustadz atau kyai yang baru keluar dari masjid, atau yang dibom adalah masjid yang lagi penuh jamaah? Mengapa Hanung tidak membuat hal itu? Jika dia buat AWAL film-nya dengan adegan penyerangan ustadz/masjid, otak para penonton akan segera SIMPATI kepada ustadz/masjid itu. Namanya hati manusia, pasti simpati pada orang yang menjadi korban kekerasan.

Lalu, apakah ada hadits Nabi Saw yang menyuruh remaja menghabiskan waktunya untuk merawat masjid? Tidak ada. Yang ada adalah siapapun yang mu’allaqun qulubuhum bil masjid (terikat hatinya kepada masjid). Itu adalah salah satu dari 7 golongan yang mendapat naungan di Akhirat. Sangat berbeda dengan orang yang menghabiskan waktunya untuk merawat masjid. Beda konteksnya.

HANUNG: 2. Rika Murtad. Bahwa tafsir Rika murtad karena sakit hati dengan suaminya yang mengajak poligami saya benarkan. Tapi bukan berarti ‘teks’ tersebut mendukung poligami. Sejak awal keputusan Rika sudah ditentang oleh Surya, anaknya dan orang tuanya. Bagian mana yang menyatakan dukungan?

Coba perhatikan shotnya: Surya berdialog dengan Rika: Kamu menghianati 2 hal sekaligus: perkawinan dan Allah! kalau toh disitu Surya diam saja ketika Rika menyanggahnya, bukan berarti Surya mendukungnya. Tapi sikap menghargai pilihan Rika. Hal itu tertera dalam surat Al Hajj ayat 7 : ‘Sesungguhnya orang yang beriman, kaum Nasrani, Shaabi-iin, Majusi dan orang Musyrik, Allah akan memberikan keputusan diantara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu’.

Komentar: Hanung ini kelihatan pintar, padahal kurang berpengetahuan. Lihatlah, dia menggurui kita dengan shoot (bidikan kamera). Namanya dia sutradara, pasti tahu detail shoot yang dia ambil. Kalau kita, apalagi penonton, apa bisa sejeli itu? Masya Allah. Inilah egoisme seorang sutradara.

Hanung tak mau dituduh mempromokan sikap MURTAD. Tetapi dia memberi peran besar dalam film itu kepada person murtad, Rika. Namanya peran besar dalam film, pasti tindak-tanduknya ingin dipromokan secara intens ke para penonton. Kita boleh curiga, Hanung ini otaknya sudah error berat. Jadi pandangannya pun tidak karu-karuan.

Sikap Surya yang mendiamkan isterinya murtad adalah sikap SALAH. Sikap yang benar harusnya, “Wahai orang-orang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari siksa neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (At Tahrim: 6). Seharusnya ayat ini yang dipakai, karena konteksnya kehidupan keluarga. Sedang ayat yang dipakai Hanung itu terlalu umum, dan maksudnya tidak seperti itu.

HANUNG: Sikap Surya juga merupakan cerminan dari firman Allah : ‘Engkau (Muhammad) tidak diutus dengan mandat memaksa mereka beragama, tapi mengutus engkau untuk MEMBERI KABAR GEMBIRA yang orang mengakui kebenaran Islam dan kabar buruk dan ancaman bagi yang mengingkarinya.’

Abi, anak Rika, juga tidak mendukung sikap Rika ‘yang Berubah’. Abi protes dengan ibunya dengan cara enggan bicara. Bahkan hanya sekedar minum susu dikala pagi saja Abi tidak mau menghabiskan di depan ibunya. Demikian halnya Abi juga tidak mau makan sarapan yang disajikan ibunya. Itu adalah sikap protes dia kepada sang Ibu yang murtad.

Jika toh Abi kemudian bersikap seperti Surya, bukan berarti abi mendukungnya. Tapi sikap menghargai pilihan. Lihat dialog Abi saat bersama Rika: … Kata Pak Ustadz, orang islam gak boleh marah lebih dari tiga hari. Apakah dialog tersebut diartikan mendukung kemurtadan? Bukankah makna dari dialog tersebut adalah mencerminkan sikap orang muslim yang murah hati: Pemaaf dan bijaksana (jika marah tidak boleh lebih dari tiga hari).

Sikap murah hati juga ditunjukkan orang tua Rika pada adegan terakhir. Orang Tua Rika datang pada saat acara Syukuran Khatam Quran Abi. Coba perhatikan shot tersebut: Adakah dialog atau gesture yang menyatakan dukungan atas kemurtadan Rika? Dalam shot tersebut saya menggambarkan Rika menghambur memeluk ibunya dengan erat. Sementara ayahnya hanya diam, menggandeng Abi. Adegan tersebut sama sekali tidak menyajikan ‘teks’ dukungan atas kemurtadan. Tapi hubungan emosional antara ibu dan anak. Lagi-lagi saya menggambarkan sikap bijaksana seorang muslim sebagaimana firman Allah dalam quran sebagaimana diatas tadi.

Jadi jika anda membaca ‘teks’ dalam adegan tersebut sebagai sebuah dukungan terhadap kemurtadan, maka itu tafsir anda. Bukan saya …

Komentar: Masya Allah, ck ck ck… (kalau anak saya mengucapkannya “ceka ceka”). Hanung ini pintar mengelabui orang.

Pertama, Rika sudah murtad. Ya, itulah yang terjadi. Lalu keluarga Rika melakukan protes dengan cara masing-masing. Tapi harus diingat, posisi Rika dalam film itu sangat kuat. Ini menandakan, bahwa film itu ingin menunjukkan KEMULIAAN HATI orang murtad.

Kedua, sikap tradisional masyarakat kita kepada orang murtad adalah MENJAUHI (paling beratnya memusuhi), tetapi sikap itu disalahkan oleh Hanung. Tandanya, di ending cerita, orang-orang yang benci sikap Rika itu tetap menerima dia. Hal ini kan maknanya, “Orang murtad akhirnya diterima, setelah sebelumnya ditolak dengan aneka sikap protes.” Ini sama saja dengan mempromokan kemurtadan di mata masyarakat luas. Rika dianggap sebagai teladan dalam soal itu.

Ketiga, hal paling munafik dari Hanung ialah ketika Rika digambarkan mengajari anaknya mengaji, sampai Khatam. Coba Anda cari di dunia ini, apa ada orang murtad dengan hati mulia seperti itu? Bahkan seharusnya, anak Rika itu berguru ke orang lain yang Muslim, bukan ke ibunya yang murtad. Sebab belajar Islam, harus dari sesama Muslim, agar ilmunya berkah. Ilmu Islam itu terpakai sampai Hari Kiamat, bukan sekedar “ilmu dunia” yang ditunjukkan dengan perayaan Khataman Qur’an seperti itu. Meskipun banyak yang protes atas kemurtadan Rika, tetap saja di ending cerita, semua orang menerima keputusan Rika.

Keempat, seorang wanita murtad dari agama, hukumnya sangat berat. Selain dia menjadi kafir, pernikahannya juga batal, atau dianggap zina. Dia tidak boleh bersama suaminya lagi. Bahkan anak-anaknya yang Muslim tak boleh diasuh oleh dia. Wanita seperti itu tidak mendapat harta warisan, dan tidak mewariskan harta ke anak-anaknya yang Muslim. Kalau mati, tidak boleh dishalati dan dikuburkan di pemakaman Islam. Konsekuensinya berat, tapi dalam film Hanung digambarkan, “Murtad itu okay saja. Enak kok. Boleh dicoba siapa saja.” Na’udzubillah min dzalik.

Bisa dibilang film “?” itu membawa missi besar: “Memasyarakatkan kemurtadan dan memurtadkan masyarakat.” Wal ‘iyadzu billah. Semoga Erick Tohir, Hanung, dan kawan-kawan menerima balasan keras atas dosa besar yang mereka lakukan dalam film itu. Wong masih dikasih sehat, melakukan hal-hal seperti itu. Ntar kalau sehatmu dicabut, akan merasa bagaimana perihnya sikap ingkar.

HANUNG: 3. Menuk adalah perempuan muslimah. Dia nyaman bekerja di tempat pak Tan karena pak Tan adalah orang yang baik. Selalu mengingatkan karyawan muslimnya sholat. Bagian mana yang anda maksud bahwa babi itu halal?

Saya menggambarkan adegan yang membedakan Babi dan bukan babi lebih dari sekali adegan. Pertama, pada saat Pembeli berjilbab bertanya soal menu makanan restoran pak Tan. Menuk mengatakan bahwa panci dan wajan yang dipakai buat memasak babi berbeda dengan yang bukan babi. (di film terdapat shot wajan, dan shot Menuk yang dialog dengan ibu berjilbab. Dialog agak kepotong karena LSF memotongnya. Alasannya silakan tanyakan kepada LSF)

Kedua, pada saat Pak Tan mengajari Ping Hen (anaknya) mengelola restoran. Pak Tan dengan tegas menyatakan pembedaan antara babi dan bukan babi: … Ini sodet dengan tanda merah buat babi, dan yang tidak ada tanda merah bukan babi …

Jika saya menghalalkan Babi, tentunya saya tidak akan menggambarkan pemisahan yang tegas antara sodet, panci, pisau, dsb tersebut. Jadi tafsir anda yang mengatakan bahwa saya menghalalkan babi, semata-mata bukan tafsir saya …

Saya justru menggambarkan sikap Menuk sebagai Muslimah yang menolak pernikahan beda agama dengan cara lebih memilih menikah dengan soleh (yang muslim) meski jobless, dibanding hendra. Padahal cintanya kepada hendra: … Saya tahu kita pernah punya kisah yang mungkin buat mas menyakitkan. Tapi buat saya adalah hal yang indah … karena Tuhan mengajarkan arti cinta dalam agama yang berbeda … (Dialog Menuk kepada Hendra di malam Ramadhan)

Saya juga menggambarkan sikap pak Tan yang menghargai Islam dengan cara meminta buku Asmaul Husna milik Menuk. Dan di akhir adegan, Pak Tan membisikkan sesuatu kepada Hendra yang mana kemudian Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya: menjadi Mualaf dan merobah restorannya menjadi Halal. Lihat kata-kata isteri pak Tan di akhir film: … Pi, hari ini Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya SEPERTI YANG PAPI MINTA …. (Dialog tersebut sebenarnya ungkapan dari pak Tan secara tersirat kepada “Hendra untuk berubah” )

Jadi tafsir Hendra pindah agama hanya ingin menikahi menuk adalah Tafsir anda.

Lagipula, dalam film jelas-jelas tidak ada gambaran pernikahan antara Menuk dan Hendra. Ending Film saya justru menggambarkan Menuk menatap nama Soleh yang sudah menjadi nama Pasar … Darimana anda bisa menafsirkan bahwa Hendra pindah agama hanya karena ingin menikah sama menuk?

Komentar: Katanya Hanung itu sineas cerdas. Kalau membuat film selalu dimulai dengan riset. Dalam banyak adegan film itu, termasuk soal Menuk kerja di restoran China ini, sangat kentara bahwa Hanung sangat memaksakan diri. Dia membuat suatu gambaran berlebihan, tanpa didukung fakta-fakta di lapangan. Apakah Anda bisa menemukan, seorang Muslimah yang taat dalam shalat, malah berjualan makanan haram?

Kalau memang dia Muslimah yang baik, tekun shalat, pasti akan meninggalkan pekerjaan itu. Meskipun Menuk tidak makan babi, tetapi dengan MELAYANI restoran yang menjual makanan babi, dia sama saja dengan BERSERIKAT dalam perdagangan barang haram. Ini sama seperti Muslimah menjual minuman keras, menjual daging anjing, menjual bangkai, menjual darah mengalir, menjual narkoba, dll. Lalu dimana letak akal Hanung? Dia membuat gambaran yang sangat kontras, sekedar untuk meyakinkan penonton bahwa sikap seperti Menuk itu ada dan boleh ditiru. Ini adalah pikiran orang ngaco.

Hanung Hanung, kamu itu ingin menyesatkan kaum Muslimin dengan membuat fantasi-fantasi yang tidak realistik. Masya Allah. Apa yang kamu tampilkan dalam film itu, hanya modal KHAYALAN doang. Tidak ada realitasnya!

HANUNG: 4. Surya adalah seorang aktor figuran. Di awal Film dikatakan dengan tegas lewat dialog: … 10 tahun saya menjadi aktor cuma jadi figuran doang!!

Sebagai aktor yang selalui hanya jadi figuran, dia frustasi. Hingga menganggap bahwa hidupnya cuma sekedar numpang lewat. Dia diusir dari kontrakan karena menunggak bayar. Rika membantunya dengan menawari pekerjaan sebagai Yesus dengan biaya Mahal (perhatikan dialognya di warung soto). Semula Surya menolak. Tapi dia menerima hanya karena selama hidupnya dia tidak pernah mendapatkan peran Jagoan …

Itu adalah alasan yang sangat manusiawi. Namun alasan itu tidak begitu saja dia gunakan untuk melegitimasi pilihannya. Dia konsultasi dengan Ustadz Wahyu (David Khalil). Menurut Ustadz, Semua itu tergantung dari HATIMU, maka JAGALAH HATIMU.

Dari perkataan David Khalik tersebut, adakah kata yang menyarankan atau mendorong Surya menjadi Yesus? David Khalik memberikan kebebasan buat Surya untuk melakukan pilihannya. Dan Surya sudah memilih. Ketika di Masjid, David Khalik mengulang bertanya: Gimana? Sudah mantap hatimu? Lalu dijawab oleh Surya: Insya Allah saya tetap Istiqomah. Dijawab oleh David Khalik: Amin …

Dari adegan tersebut, adakah saya melecehkan Islam? Apakah dengan menghargai pilihan seseorang itu sama saja melecehkan Islam?

Komentar: Disini kekacauan pemikiran Hanung semakin menjadi-jadi. Disana jelas, Rika bukan murtad biasa, tetapi dia juga menjadi aktivis gereja, dan tim sukses acara religi yang dibuat gereja. Begitu ngeyelkan Rika sampai mencari pemeran seorang Muslim yang baik. Itu membuktikan bahwa peranan Rika yang toleran di tengah keluarganya yang Muslim, tidaklah tulus. Sebab tak akan ada seorang aktivis gereja yang kenceng, dia kenceng juga dalam melayani keluarganya yang beribadah Islam.  Itu tak pernah terjadi, dan tak ada.

Disini Hanung hendak mengolok-olok dua kaum beragama sekaligus, kaum Muslim dan kaum Kristiani. Pertama, karena saking tidak adanya pekerjaan, seorang pemuda Muslim mau menjadi tokoh Yesus. Kalau mengucapkan “Selamat Natal” saja dilarang oleh MUI, apalagi menjadi pemeran Yesus. Kedua, apakah di kalangan Kristen tidak ada lagi stok manusia, sehingga harus “mengimpor” pemeran Yesus dari Muslim? Disini digambarakan, seolah orang Kristen pada bodo-bodo. [Bisa jadi, dengan peran Surya sebagai Yesus, hal itu dimaksudkan untuk mengadu-domba Muslim dan Kristen. Orang Muslim marah sebab ada yang menjadi Yesus; orang Kristen juga marah, sebab tokoh Yesus kok diperankan orang non Kristen].

Sangat konyol ialah sikap ustadz (diperankan David Khalik). Kok bisa-bisanya setuju dengan pilihan Surya menjadi Yesus. Sebagai pemeran Yesus, Surya kan bukan hanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan Kristen secara intens. Bahkan dia menjadi sosok “tuhan” yang dipuja oleh warga Kristen itu sendiri. Ini bukan pilihan pribadi lagi, tetapi sikap membangkang terhadap aturan-aturan aqidah Islamiyyyah. Seakan, aturan aqidah itu hanya etika kecil yang tidak perlu dianggap serius. Kalau Surya mantap hati menjadi pemeran Yesus, meskipun hanya dalam drama/film, dia bisa murtad dari agamanya (Islam).

Apakah tidak cukup kita paham, bahwa Hanung telah melecehkan Islam dan Kristen sekaligus?

HANUNG: Pada saat dialog dengan Ustad tersebut, Surya tidak langsung ke gereja. Dia melakukan tafakur di masjid dengan melihat asma Allah yang tertempel diatas dinding Mihrab. Lagi-lagi dia meyakinkan hatinya

Jadi, tidak ada sedikitpun adegan yang menyatakan pelecehan terhadap agama Islam. Surya melakukan tugasnya sebagai aktor karena dia harus hidup. Bahkan untuk beli soto untuk sarapan saja dia tidak sanggup. Lagipula drama Paskah bukan ibadah. Tapi sebuah pertunjukan drama biasa. Ibadah Misa Jumat Agung dilaksanakan setelah pertunjukan Drama. Dalam hal ini Surya tidak melakukan ibadah bersama jemaah Kristiani di gereja.

Setelah melakukan pekerjaan sebagai aktor di malam Jumat Agung Surya membaca Surat Al Ikhlas berulang-ulang sambil menangis untuk menguatkan hatinya kembali sebagaimana yang disarankan Ustadz.

Adakah dari adegan tersebut saya melecehkan Islam? Silakan di cek lagi …

Komentar: Tidak diperbolehkan seorang Muslim terjun dalam drama/film dengan setting agama lain, meskipun alasannya untuk “cari makan”. Dalam mencari makan harus mencari jalur-jalur yang halal dan baik. Mencari makan dengan melacur itu haram, dosa besar. Tetapi pelakunya tidak otomatis kufur. Lalu ini mencari makan dengan melayani acara-acara yang merupakan syiar orang kafir. Ia lebih berat hukumnya, sebab sudah menyangkut kaum non Muslim. Melayani urusan kekafiran lebih berat daripada urusan maksiyat. Kelihatan sekali, betapa Hanung “nol besar” pemahaman agamanya.

HANUNG: 5. Saya benar-benar kagum dengan penafsiran anda soal adegan dalam film saya. Tidak heran anda menjadi seorang wartawan. Hehehe.

Jika anda benar-benar mengamati adegan demi adegan, anda akan menemukan maksud dari penyerbuan tersebut. Pertama, Penyerbuan itu didasari karena egositas dari hendra (ping Hen) yang hanya ingin mengejar keuntungan. Maka dari itu libur lebaran yang biasanya 5 hari, dipotong hanya sehari. Akibatnya, Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan liburan lebaran.

Kedua, Soleh (yang di adegan sebelumnya bertengkar dengan Hendra karena cemburu) merasa panas hati ketika mendengar Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan. Karena rasa cemburu berlebihan, Soleh bersama para preman pasar dan takmir masjid yang di awal adegan bertengkar dengan hendra, melakukan pengeroyokan.

Dalam adegan tersebut jelas tergambar SIKAP CEMBURU, MEMBABI BUTA, BODOH dan TERGESA-GESA pada diri Soleh yang mengakibatkan Tan Kat Sun meninggal. Sikap tersebut membuat Soleh menjadi rendah di mata Menuk: Lihat adegan selanjutnya: Menuk bersikap diam kepada Soleh. Meski masih meladeni sarapan, Menuk tetap tidak HANGAT dengan SOLEH. Hingga Soleh meminta maaf kepada Menuk. Namun, lagi-lagi Menuk tidak menanggapi dengan serius (perhatikan dialognya) : …. Mas, jangan disini ya minta maafnya. Dirumah saja …

Dijawab oleh Soleh: Kamu dirumah terlalu sibuk dengan Mutia … Menuk menimpali: … dimana saja ASAL TIDAK DISINI …

Komentar: Saya tidak menyalahkan kalau ada yang berkomentar bahwa film “?” ini MENJIJIKKAN. Tidak bisa komentar, wong memang realitasnya begitu. Sangat kampungan dan katro sekali. Masya Allah. Apa Hanung tidak mengerti sama sekali cita rasa film berkualitas ya? Kasihan sekali…

Gambaran yang ditampilkan Hanung itu sangat memaksakan diri. Dia ngaco dengan angan-angan kehidupan TOLERAN yang dia inginkan. Maunya membuat suasana toleran, tetapi malah membuat kerusuhan pelik di hati masyarakat. Coba bayangkan: Siapa orangnya, orang China seperti apapun, yang akan membuat masyarakat Muslim marah saat Idul Fithri? Lalu apakah sikap Ummat Islam, termasuk takmir masjid, akan begitu saja menghajar orang China itu, sampai mati? Waduh, waduh, benar-benar khayalan yang amat sangat mengerikan.

Inilah film dari Erick Tohir, dari Grup Mahaka, yang tentu saja disokong oleh Republika. Kasihan deh… Katanya kelompok intelektual, tetapi kepekaan akal mereka terhadap realitas, sangat jauh. Kasihan sekali. Coba lihat film-film top asal Amrik, misalnya US Marshall, Fugitive, Cast Away, The State Enemy, The Bourne Ultimatum, Saving Private Ryan, dll. Mereka saat membuat film tentu tidak gegabah main KHAYAL doang, asal perasaan puas. Kasihan banget…

Moga-moga film “?” benar-benar gagal dan tidak laku, serta membuat malu pembuat dan produsernya. Ya, karena hati mereka sendiri sudah tidak jujur dari awal. Ingin berbuat kebaikan, tetapi caranya TIDAK BAIK.

HANUNG: Penolakan Menuk itu yang membuat Soleh akhirnya memutuskan untuk memeluk BOM dan menghancurkan dirinya. Tujuannya, Agar dia menjadi BERARTI dimata isterinya ….

Apakah adegan di Film tersebut menggambarkan Menuk bahagia dengan kematian Soleh, sehingga dengan begitu dia bebas menikah dengan Hendra? Apakah adegan di Film menggambarkan hendra juga bahagia dengan kematian Soleh sehingga hendra bisa punya kesempatan menikah sama Menuk?

Sungguh, saya kagum dengan tafsir anda. Hingga andapun bisa bebas sekali menafsirkan hidup saya. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi lebih dekat sehingga anda bisa mengenal saya lebih baik, mas …

Komentar: Dalam tafsiran film versi Hanung ini, seolah kita dapati dia berhati-hati dalam membuat setiap adegan. Tetapi sifat SENTIMEN-nya itu tak bisa ditutup-tutupi. Lihatlah, saat dia memakai adegan penusukan pastor, pengeroyokan rumah makan China, bom bunuh diri, dll. Seolah setiap adegan ini punya cerita sendiri. Tetapi akal orang Indonesia sudah paham selama puluhan tahun, bahwa adegan-adegan itu merupakan STIGMA yang kerap menimpa kaum Muslimin di Tanah Air. Stigma yang sama juga diperlihatkan Hanung dalam film, Perempuan Berkalung Sorban.

Disini kelihatan betapa munafiknya seorang Hanung. Satu sisi, ingin menghindar dari tuduhan menjelek-jelekkan Ummat Islam. Di sisi lain, adegan-adegan penting yang dia ekspose memakai aksi-aksi kekerasan yang biasa dituduhkan kepada organisasi-organisasi Islam selama ini.

Kalau dengan orang berpaham sesat semisal Hanung ini, tidak berlaku istilah shilaturahim. Shilaturahim hanya berlaku antar sesama Muslim. Kepada orang semacam Hanung itu yang ditawarkan: dakwah, debat, adu hujjah, dan semisalnya. Bukan shilaturahim.

HANUNG: 6. Tentang Asmaul Husna yang dibacakan Pastur Dedi Sutomo bagi saya merupakan sebuah pesan teologis dari Islam yang saya selipkan di gereja. Jika tafsir anda saya melecehkan Islam, justru saya heran. Asmaul Husna merupakan nama ALLAH yang meliputi segala yang Indah di Bumi dan Langit. Tidak ada nama Indah selain diriNya yang dimiliki agama lain.

Maka ketika Pastur Dedi Sutomo meminta Rika untuk menuliskan kesan TUHAN DIMATAMU, maka Rika kesulitan. (lihat adegannya, ketika dia kebingungan sendiri menuliskan itu). Lalu, dengan berat hati Rika menuliskan kesan TUHAN dengan menyebut rangkaian nama-nama Indah dalam Asmaul Husna … Apakah itu melecehkan Islam?

Komentar: Lagi-lagi dalam bagian ini Hanung memperlihatkan dirinya yang tidak tahu soal agama, tetapi bersikap seolah tahu, sehingga bisa membuat TAFSIRAN menurut seleranya sendiri. Adalah sangat bodoh membawa Asmaul Husna dalam ritual orang Kristen, karena Asmaul Husna itu merupakan Nama dan Shifat Allah yang Maha Agung. Jika orang gereja paham maksudnya, tentu mereka akan masuk Islam. Dalam Asmaul Husna ada nama Al Ahad atau Al Wahid (Yang Maha Satu), sementara doktrin gereja adalah Trinitas. Disana juga ada nama Al ‘Aly, Al ‘Azhim, Al ‘Aziz, Dzul  Jalali Wal Ikram, dan lainnya. Nama-nama itu mencerminkan Sifat Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Perkasa, Memiliki Keagungan dan Kemuliaan; sementara tuhan dalam versi Kristen digambarkan sebagai person manusia (Yesus) yang banyak kekurangan. Membawa Asmaul Husna masuk gereja hanyalah sia-sia. Kecuali, kalau orang gereja itu didakwahi dengan Asmaul Husna, agar mau masuk Islam. Itu lain perkara.

Lewat adegan seperti itu kan seolah Hanung sudah membawa nama baik Islam di mata gereja. Itu dalam persepsi otaknya yang picik. Apalah artinya membawa Asmaul Husna ke gereja, kalau orang gereja tetap meyakini Trinitas, personifikasi tuhan dalam tubuh manusia, dll.? Apa artinya Hanung? Betapa kelihatan sekali, engkau hanya pintar mengkhayal.

HANUNG: Dari diskusi ini saya menyimpulkan bahwa setiap Tafsir atas Teks FILM memiliki RUANG, WAKTU dan PERISTIWANYA sendiri. Saya sangat menghargai anda dalam melakukan tafsir. Tapi hargai pula orang yang melakukan tafsir yang berbeda dengan anda. Jika anda melihat secara jeli dan terbuka, saya justru banyak menyisipkan teologi Islam ke dalam gereja.

Lihatlah ketika adegan Jesus disalib yang dimainkan Surya. Angle kamera saya diposisi rendah dengan foreground jamaah. Adegan itu menggambarkan semua jemaah Kristen memuja Jesus. Tapi sebenarnya saya menggambarkan jamaah tersebut memuja Islam. Lalu setelah adegan tersebut saya menyelipkan ayat Al Aikhlas yang menyatakan : Tuhan itu Satu, Tidak beranak dan diperanakan …

Jujur, saya geli dengan anda dan umat Islam yang sepikiran dengan anda. Segitu protesnya anda dan umat Islam sepikiran dengan anda ketika Haji Ahmad Dahlan dimainkan oleh seorang Murtad. Tapi tidak ada satupun yang protes dari kaum Kristen ketika Jesus dimainkan oleh figuran seperti Surya. Malah anda sekarang yang protes, menuduh saya melecehkan Islam. Hehehe …

Mari kita sama-sama terbuka. Kita saudara. Sama-sama pengikut Rosululloh. Sesama Muslim saling mengingatkan. Semoga diskusi ini bisa menjadi pembelajaran kita bersama. Amin ….

Komentar: Ya, kita menghargai tafsiran Anda dalam soal film itu. Tapi masalahnya, Anda sangat memaksakan diri. Apa yang Anda tampilkan mengesankan konsep film yang PENUH KEBINGUNGAN (jadi tepat ia diberi judul “?”. Tepat sekali). Anda memakai adegan-adegan yang sudah terlalu sering menjadi alat STIGMA terhadap organisasi-organisasi Islam. Di sisi lain, Anda ingin semua orang rukun damai, meskipun beda-beda akidah; tetapi Anda sendiri menciptakan banyak konflik dalam film itu antar elemen-elemen pemeluk agama. Harusnya Anda menawarkan solusi. Tetapi malah seperti menyiram bensin ke atas bara api. Disini sangat kelihatan, betapa munafik diri Anda. Pura-pura cinta damai, tetapi sebenarnya sangat menikmati konflik antar ummat beragama.

Untuk membela Islam, Anda tidak usah menjelek-jelekkan kaum Kristen, seperti yang Anda sengaja dalam pengambilan gambar itu. Tidak perlulah begitu. Kita bersikap biasa saja sebagai Muslim, secara tekun mengikuti jalan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Nanti ummat manusia dan alam, akan menyaksikan bahwa konsistensi itu membawa rahmat yang luas. Jadi tidak usah seperti itu caranya.

Tentang protes terhadap sosok pemeran Haji Ahmad Dahlan. Memang protesnya seperti apa gitu Hanung? Apakah protes dengan membakar ban, membuat unjuk rasa, menyerang gereja atau kaum murtad? Kan “protes” hanya dalam opini. Iya kan? Dalam opini semisal ini saja Anda sebut “protes”. Toh, Ummat Islam menerima kok film Sang Pencerah itu. Apa ada tuntutan agar film itu ditarik karena pelakunya non Muslim? Ada gitu?

Kata Anda, kok gak ada yang protes dari kalangan Kristen karena Yesus diperankan oleh Surya. Jawabnya, ya Anda tanyakan sendiri ke kaum Kristen, Hanung. Kok Anda malah tanya ke kaum Muslim? Ini aneh sekali. Meminta protes kaum Kristen, tetapi sasaran yang dituju Ummat Islam. Ya, tidak nyambung itu.

Anda jelas telah melecehkan seorang Muslim (Surya). Karena pengangguran, dia mau jadi pemeran Yesus. Seolah begitu nistanya Ummat Islam, sampai mau bermain-main dengan area kekufuran, hanya karena soal “mencari makan”. Banyak sisi-sisi yang melecehkan Islam dan Muslimin dalam film Anda itu. Itu nyata dan faktual. Soal Anda akan geli dan lainnya, ya itu tergantung kesehatan ruhani masing-masing orang.

Anda mengklaim sebagai Muslim, pengikut Rosulullah Saw. Anda anggap kita saling bersaudara. Tetapi apa artinya klaim seperti itu, kalau sikap Anda sendiri tidak mencerminkan SIKAP dan JIWA seorang Muslim. Film-film yang Anda buat, selain Sang Pencerah, tidak mencerminkan diri Anda yang mengikuti tuntunan Islam dan jalan Rasulullah. Apalagi dalam film “?” ini, sikap agressi Anda kepada nilai dan kultur Islam di Indonesia, sangat kuat.

Kalau memang Muslim, jangan cuma mengklaim, tapi buktikan diri Anda Muslim; bukan atheis, bukan liberalis, bukan pluralis, bukan hedonis, bukan westernis, bukan penyokong kapitalis.

Kalau cuma mengklaim saja, ya semua pabrik kecap akan mengatakan, “Ini kecap nomer 1.”

Ya, begitulah. Semoga ada guna dan manfaat yang bisa kita peroleh. Singkat kata, saat membuat film “?” Hanung berada dalam kebingungan persepsi luar biasa, berada dalam keguncangan jiwa besar. Antara gengsi sebagai sutradara “cerdas”, missi liberalisasi, ketakutan kepada kaum Muslimin, sok menggurui Ummat, serta hasrat keduniaan, bercampur-aduk jadi satu.

Nah, itulah dia inti film “?”. Seperti judulnya, film ini menandakan konstruksi pemikiran sang sutradara dan produsernya yang belum terjaga dari tidur secara sempurna. Bangun, bangun, hari sudah siang! TAMMAT.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.


Hanung Bramantyo Lagi…

April 12, 2011

Belum lama lalu diluncurkan film dengan judul sangat unik. Judulnya hanya simbol tanda tanya (?). Mungkin dalam sejarah perfilman Indonesia, baru ini ada film dengan judul sangat unik.

Film ini disutradarai anak muda yang cukup dikenal, Hanung Bramantyo. Dia sutradara film pluralis, Ayat Ayat Cinta. Juga sutradara film Sang Pencerah, yang menampilkan sosok KH. Ahmad Dahlan. Termasuk film yang menghujat para aktivis Islam dan pesantren, Perempuan Berkalung Sorban. Film ini diproduksi oleh grup MAHAKA, induk media Republika, dan dikendalikan oleh usahawan, Erick Tohir.

Saat me-launching AlifTV, Erick Tohir didaulat untuk memberikan sambutan. Disana Erick Tohir mengklaim bahwa AlifTV ditujukan untuk menyebarkan konsep Islam “rahmatan lil ‘alamiin”. Maksudnya Islam yang bagaimana? Itu Islam yang cinta damai, anti kekerasan, pluralis; serta konsekuensinya menerima konsep ekonomi liberal, menerima budaya Barat, serta toleran terhadap gerakan-gerakan kolonialisasi Barat. Ibaratnya, Islam yang enak di kita dan enak di mereka (orang non Muslim).

Sosok seperti Erick Tohir tentu jangan bayangkan akan mengembangkan versi Islam seperti Rasulullah Saw. Ya, jauhlah. Islam dalam pandangan Erick tentu bukan ISLAM ASLI, tetapi Islam yang sudah sedemikian rupa dipoles, dipermak, dimodifikasi, sehingga sesuai dengan peradaban kapitalisme Barat. Nah, itulah yang lalu diklaim sebagai “Islam rahmatan lil ‘alamiin”.

Hanung: Menyimpan Dendam Kepada Islam.

Terkait dengan film “?”, pihak Mahaka dan Republika jelas sangat memuji. Ya, pusat pujian ada pada persoalan: film itu menawarkan toleransi, bukan Islam galak, tidak menghakimi, memandang semua agama sama, semua budaya baik, dan seterusnya. Pendek kata, dalam film ini posisi Syariat Islam tidak dipandang sama sekali.

Dari sisi kalkulasi bisnis, sepertinya pihak Mahaka tidak takut rugi. Mungkin karena film semacam ini lebih banyak mengkampanyekan budaya, bukan dilihat dari sisi bisnisnya. Kan kita tahu, kapitalis China sangat berkepentingan agar kaum Muslim Indonesia semakin sekuler saja. Ide-ide pluralisme merupakan tangga menuju tujuan itu.

Dan mengapa harus Hanung Bramantyo yang menjadi sutradara? Nah, ini menjadi tanda tanya, persis seperti judul film itu sendiri.

Hanung ini kan lulusan sekolah agama di Yogya. Background keluarga Muhammadiyyah. Dia mengerti sedikit-sedikit tentang konsep dan wawasan Islam. Dalam pernikahan yang kedua, dia menikah dengan Zaskia Mecca, artis yang populer dalam sinetron “Para Pencari Tuhan”. Sebelum menikah, mereka berdua sudah gandeng-renteng gak karu-karuan. Sehingga kawan-kawannya, sesama artis, sangat mendorong agar mereka berdua segera menikah. Konon, mereka akhirnya menikah ketika perut Zaskia semakin menonjol ke depan.

Kehidupan kaum LIBERALIS seperti berada dalam dua dunia. Dunia pertama, istilah-istilah keren, intelektualis, pemikiran-pemikiran progressif, dan seterusnya. Dunia kedua, kehidupan manusiawi mereka yang tidak terungkap di depan publik. Dalam dunia “tidak tampak” itu kualitas moral mereka sangat buruk. Misalnya, sudah dikenal bahwa di markas JIL di Utan Kayu itu banyak ditemui botol-botol minuman keras.

Film Hanung sendiri sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat. Tetapi bahwa dia memang membenci kalangan Islamis karena telah mengekang hawa nafsunya, sejak dia masih remaja, memang benar adanya. Isi film Hanung cenderung ingin “membalas dendam” atas kultur Islam yang pernah membesarkannya.

Film Ayat Ayat Cinta berjalan sukses, karena didukung promo besar-besaran, baik promo resmi maupun tak resmi. Sukses novel AAC itu sendiri sudah menjadi promo besar bagi filmnya. Setelah namanya mulai berkibar, Hanung menyerang Islam lewat film, Perempuan Berkalung Sorban. Namun film terakhir ini tidak sukses, malah menuai protes dari banyak kalangan Islam.

Ketika filmnya kurang laku, Hanung coba-coba mencari momen bagus untuk buat film. Setelah berpikir dalam, lalu catch…dapat man! Dia pun mengajukan rancangan film “Sang Pencerah” dengan mengangkat sosok KH. Ahmad Dahlan. Siapa yang dibidik dari film ini? Ya, warga Muhammadiyyah, almamater Hanung sendiri. Secara umum, film itu cukup sukses di pasaran warga Muhammadiyyah. Pundi-pundi keuangan Hanung pun menebal. Setelah uang di tangan, lagi-lagi Hanung membuat film, untuk memuaskan hobi lamanya, menyerang konsep Islam yang menurutnya tidak toleran, kolot, demen kekerasan, eksklusif, dan seterusnya. Nah, itulah dia film “?”.

Padahal intinya, Hanung merasa konsep Islam tidak bisa memuaskan hawa nafsunya. Dia ingin agama yang bisa memuaskan hawa nafsunya, sepuas-puasnya, tanpa limit, tanpa kekangan apapun. [Maka dari sini kita bisa melihat bagaimana masa depan pernikahan Hanung dengan Zaskia. Wong agama saja tidak dipedulikan, apalagi keluarga?].

Rasanya tidak malu ya. Saat kantong kering, mencari penonton dari Ummat Islam. Setelah kantong tebal, segera menyerang dakwah Islam. Tapi apa mau dikata, begitulah sosok sutradara itu. Kalau dibilang kejam, ya kejam; kalau dibilang sadis, ya sadis; kalau dibilang curang, ya curang. Begitulah cara Hanung dalam menyerang ajaran-ajaran Islam yang tidak bisa memenuhi hasrat hawa nafsunya.

Kasihan banget ya, agama yang suci dipaksa memuaskan hawa nafsu seorang manusia. Bagaimana kalau ada banyak orang semisal dia, sama-sama meminta agama melayani hawa nafsunya sepuas-puasnya? Kok bisa ya, agama hendak diperbudak oleh hawa nafsu manusia. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sosok seperti Hanung itu seperti manusia yang sudah KEHILANGAN JATI DIRI. Secara spiritual, batere jiwanya seperti sudah drop total. Maka yang keluar dari dirinya bukan ekspresi jiwa yang murni dan lurus, tetapi hawa nafsu dan pemikiran-pemikiran yang kalah. Kalau Hanung berekspresi ini dan itu, ia hanyalah seperti ungkapan orang-orang frustasi yang sudah tak bisa berbuat apa-apa.

Kalau dalam Al Qur’an digambarkan, “Khatamallah ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim wa ‘ala absharihim ghisyawah, wa lahum adzabun ‘azhim” (Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, lalu di atas penglihatan mereka diberi tutupan, dan bagi mereka adzab yang besar).

Rata-rata para penggiat paham SEPILIS seperti itu. Secara batin atau jiwa, mereka sudah dianggap tidak ada. Atau dianggap sebagai eksistensi kegelapan. Maka tidak keluar dari jiwa semacam itu selain kegelapan, kecurangan, kelicikan, kesadisan pemikiran, kekejaman nalar, dll; intinya ekspresi kefrustasian.

Ya, inilah sekilas “resensi film” berjudul “?” (tanda tanya). Lalu apa makna “?” disana? Ya jelas sekali. Pembuatnya adalah sosok misterius yang DIPERTANYAKAN kesehatan ruhaninya. Terimakasih.

AM. Waskito.