Penguasa Arab dan Revolusi Sejati

Ada rasa prihatin kalau melihat situasi Timur Tengah saat ini. Mereka terus bergolak dalam revolusi, peperangan, konflik, dan seterusnya. Sejak lama, negeri-negeri Arab ini terus berada dalam turbulensi dari sana-sini. Tahun 70-an sampai 80-an, wilayah Indochina (seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, dll) terus dilanda peperangan. Tetapi kini mereka damai. Namun mengapa di Timur Tengah, perdamaian seperti sulit diwujudkan?

Kalau dalam konflik Palestina-Israel, kita memaklumi disana terus ada konflik, karena isunya adalah PENJAJAHAN negara Yahudi atas negeri Palestina. Penjajahan dimanapun pasti akan membuka pintu-pintu perlawanan. Belum akan berhenti perlawanan, sampai penjajahan berakhir. Seperti dalam Pembukaan UUD 1945, “Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka daripada itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikeadilan dan perikemanusiaan.” Konflik Palestina-Israel berbeda dengan konflik di Timur Tengah pada umumnya.

Nasionalisme Arab = Akidah Musyrikin Quraisy! (gambar: aljazeera)

Sejak muncul era kemerdekaan, sekitar tahun 1940-an, pasca Perang Dunia II, negara-negara Arab banyak yang merdeka. Namun setelah merdeka, mereka muncul sebagai negara-negara NASIONALIS ARAB, bukan negara Islam atau negara berdasar Syariat Islam. Ketika itu bermunculan tokoh-tokoh nasionalis Arab, yang paling terkenal antara lain Michael Aflaq, Gamal Abdun Naser, Anwar Sadat, Hafezh Assad, dan lainnya. Kemunculan pemimpin nasionalis Arab ini seide dengan lahirnya tokoh SEKULER DUNIA, Mustafa Kemal Attaturk di Turki.

Dalam masa yang panjang, sekitar 60 tahunan, bangsa-bangsa Arab selalu dilanda peperangan, konflik, perebutan kekuasaan, revolusi, dan sebagainya. Gelombang revolusi seperti saat ini bukanlah sesuatu yang aneh, sebelum-sebelumnya Arab sudah akrab dengan pertikaian. Hanya bedanya, revolusi saat ini berlangsung SERENTAK di berbagai negara sekaligus. Kini revolusi sudah mulai membakar Syria (Suriah).

Sebuah pertanyaan menarik, mengapa bangsa Arab cenderung terlibat dalam pertikaian politik? Mengapa? Ada apa dengan diri dan kehidupan mereka?

Kalau dicari jawabnya. SATU, watak bangsa Arab sendiri memang keras, jiwa bergolak, percaya diri yang tinggi, sangat kuat meyakini sesuatu, dan sulit tunduk kepada suatu kepemimpinan yang tidak disukai. DUA, di negeri Arab terdapat banyak sumber-sumber energi (minyak bumi) yang menjadi incaran semua negara-negara di dunia, terutama negara agressor bernafsu kolonialis. TIGA, di jantung wilayah Timur Tengah ada ISRAEL. Ini adalah negara Yahudi yang didirikan oleh kekuatan Yahudi & Freemasonry internasional. Negara-negara Arab sengaja dibuat SIBUK TERUS dengan konflik, agar memberi kesempatan emas bagi Israel untuk terus memperkuat diri. Kalau bangsa Arab sadar, giat membangun, sepi konflik, maka nasib Israel tidak akan aman. Jadi harus terus “diproduksi” masalah di Timur Tengah, agar Israel bisa membangun dengan tenang.

Coba perhatikan, mengapa Irak digebuk ramai-ramai oleh NATO, padahal disana tidak ada senjata pemusnah massal? Sementara Iran tidak pernah diusik oleh NATO padahal Iran benar-benar memiliki instalasi nuklir? Ya, karena Iran berideologi Syi’ah yang sangat kontradiksi dengan aqidah sebagian besar Muslim di Timur Tengah. Iran adalah trouble maker bagi kehidupan kaum Sunni di Timur Tengah. Maka, Iran dianggap satu agenda, dalam rangka membuat sibuk bangsa Arab.

Dengan alasan-alasan seperti ini sangat sulit berharap masa depan Timur Tengah (Dunia Arab) akan menjadi damai, tenang, membangun dengan giat, maju secara teknologi, sepi dari konflik, berkontribusi terhadap peradaban dunia, dan sebagainya. Sulit berharap semua itu akan muncul.

Lalu mengapa pemimpin-pemimpin Arab tidak mau berpaling kepada ajaran Islam, menegakkan negara Islam, atau membangun peradaban Islami? Mengapa dan mengapa?

Tidak akan ada yang bisa memberi jalan keluar kepada bangsa Arab, selain Islam. Namun selama ini banyak pemimpin Arab yang sekuler, bahkan anti Islam. Di antara mereka ada yang pura-pura Islami, sekedar untuk mengambil hati rakyat. Sedangkan secara kebijakan politik dan ekonomi, membebek kepada para kapitalis Barat. Ada pula yang mengklaim telah menegakkan Syariat Islam, tetapi sifat negaranya sangat nasionalis. Misalnya, mereka sangat membedakan antara kaum Su’udi dengan non Su’udi. Hal semacam ini jelas munkar.

Seharusnya bangsa Arab menjadikan Islam sebagai dasar negara, arah politik, dan ruh kehidupan mereka. Layaknya peradaban-peradaban Islam di masa lalu yang tegak di negeri Arab. Dulu, wilayah Madinah, Makkah, Basrah, Damaskus, Yaman, Mesir, Kufah, dll. tegak peradaban Islam di atasnya. Kini kebanyakan pemimpin di negeri itu memilih konsep NASIONALIS, bukan konsep Islam. Singkat kata, banyak pemimpin-pemimpin Arab yang berideologi sekuler alias KUFUR, karena enggan menjadikan Islam sebagai dasar hidup mereka. Dan banyak rakyat Arab yang setuju, diam saja, atau rela dengan sekularisme itu.

Dalam sebuah tulisannya, Dr. Salman Al Audah menyebut sekularisme itu sama dengan KEMUSYRIKAN. Pandangan beliau itu tidak aneh dan berlebihan. Toh, orang-orang musyrik Makkah pernah menawari Nabi Saw dengan kekuasaan, asalkan mau menghentikan dakwahnya. Bagi musyrik Makkah, mengangkat Muhammad Saw sebagai raja Arab tidak masalah, selama di atas dasar KESUKUAN ARAB, bukan atas dasar Islam.

Seharusnya para pemimpin sekuler Arab itu sangat menghayati perkataan Utbah bin Rabi’ah, salah seorang pemimpin musyrik Arab. Ucapan beliau sangat benar tentang hakikat dakwah Nabi Saw. Ucapan ini diucapkan di hadapan kaum musyrikin Makkah, setelah dia berbicara dengan Nabi, dan mendengarkan Nabi Saw membacakan isi Surat Fusshilat 1-5. Berikut ucapan Utbah bin Rabi’ah:

“Tadi aku mendengar suatu perkataan yang demi Allah tidak pernah kudengarkan yang seperti itu sama sekali. Demi Allah, itu bukan syair, bukan ucapan sihir dan tenung. Wahai semua orang Quraisy, turutilah aku dan serahkan urusan ini kepadaku. Biarkanlah orang ini (maksudnya, Nabi Saw) dengan urusannya dan hindarilah dia. Demi Allah, perkataannya yang kudengarkan tadi benar-benar akan menjadi berita besar. Jika bangsa Arab mau menerimanya, maka dengan kehadirannya kalian tidak membutuhkan bangsa lain. Jika dia dapat menguasai bangsa Arab, maka kerajaannya akan menjadi kerajaan kalian juga. Dan kemuliannya akan menjadi kemuliaan kalian. Jadilah kalian orang yang paling berbahagia karenanya.” (SIRAH NABAWIYYAH, oleh Syaikh Al Mubarakfury. Pustaka Al Kautsar, hal. 146).

Seharusnya, kita sangat mencermati ucapan Utbah bin Rabi’ah (atau Abul Walid) di atas. Lihatlah bahwa Utbah bin Rabi’ah telah membuat analisis yang sangat dalam dan tajam. Hal itu menandakan betapa cerdasnya dirinya, luas ilmunya, pandangannya jauh ke depan. Apa yang dikatakan Utbah kemudian terbukti dalam sejarah.

Hanya masalahnya, pemimpin-pemimpin Arab saat ini malah kembali ke sidroma lama, keangkuhan pemimpin-pemimpin musyrik Quraisy di masa lalu. Kok bisa ya? Jaman sudah berganti sekian lama, akhirnya kekufuran puak-puak musyrik di Makkah muncul kembali. Kini ideologi kufur kaum musyrik Makkah itu menjelma menjadi ideologi: NASIONALIS SEKULER ARAB. Kemasan beda, tetapi intinya sama. Sama-sama kufur, memuja kesukuan Arab, dan menolak jalan Islam.

Jangan aneh kalau negeri Arab saat ini penuh masalah, penuh konflik, penuh kehinaan dan cela. Mereka menderita lahir batin, terus cakar-karan, terus berebut kekuasaan, terus memuja dunia dan isinya. Ya, bagaimana tidak akan demikian, wong mereka kembali ke jalan para pendahulunya, tetua-tetua musyrikin Quraisy. Seperti disebut dalam salah satu ungkapan Qur’ani, “Bal nattabi’u maa alfaina aba’ana” (kami ini cukup mengikuti apa-apa yang ditinggalkan oleh bapak-bapak kami dahulu).

Jika kini bangsa Arab telah terbakar oleh revolusi, maka itu -meminjam ungkapan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi- revolusi belum selesai, bahkan baru dimulai. Revolusi sejati ialah MEMFORMAT ULANG otak-otak politik bangsa Arab, lalu mengembalikan mereka kepada RISALAH NUBUWWAH yang dibawa oleh Nabi Saw. Itulah REVOLUSI SEJATI. Sebelum otak Bani Ismail ini kembali ke ajaran Islam, tak pernah ada revolusi. Sebab makna revolusi di mata Allah dan Rasul-Nya, memang seperti itu.

Maka kini, pertanyaannya, apakah revolusi Arab sudah selesai? Ya, jawab sendirilah…

Bandung, 4 April 2011.

AM. Waskito.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: