Hanung Bramantyo Lagi…

Belum lama lalu diluncurkan film dengan judul sangat unik. Judulnya hanya simbol tanda tanya (?). Mungkin dalam sejarah perfilman Indonesia, baru ini ada film dengan judul sangat unik.

Film ini disutradarai anak muda yang cukup dikenal, Hanung Bramantyo. Dia sutradara film pluralis, Ayat Ayat Cinta. Juga sutradara film Sang Pencerah, yang menampilkan sosok KH. Ahmad Dahlan. Termasuk film yang menghujat para aktivis Islam dan pesantren, Perempuan Berkalung Sorban. Film ini diproduksi oleh grup MAHAKA, induk media Republika, dan dikendalikan oleh usahawan, Erick Tohir.

Saat me-launching AlifTV, Erick Tohir didaulat untuk memberikan sambutan. Disana Erick Tohir mengklaim bahwa AlifTV ditujukan untuk menyebarkan konsep Islam “rahmatan lil ‘alamiin”. Maksudnya Islam yang bagaimana? Itu Islam yang cinta damai, anti kekerasan, pluralis; serta konsekuensinya menerima konsep ekonomi liberal, menerima budaya Barat, serta toleran terhadap gerakan-gerakan kolonialisasi Barat. Ibaratnya, Islam yang enak di kita dan enak di mereka (orang non Muslim).

Sosok seperti Erick Tohir tentu jangan bayangkan akan mengembangkan versi Islam seperti Rasulullah Saw. Ya, jauhlah. Islam dalam pandangan Erick tentu bukan ISLAM ASLI, tetapi Islam yang sudah sedemikian rupa dipoles, dipermak, dimodifikasi, sehingga sesuai dengan peradaban kapitalisme Barat. Nah, itulah yang lalu diklaim sebagai “Islam rahmatan lil ‘alamiin”.

Hanung: Menyimpan Dendam Kepada Islam.

Terkait dengan film “?”, pihak Mahaka dan Republika jelas sangat memuji. Ya, pusat pujian ada pada persoalan: film itu menawarkan toleransi, bukan Islam galak, tidak menghakimi, memandang semua agama sama, semua budaya baik, dan seterusnya. Pendek kata, dalam film ini posisi Syariat Islam tidak dipandang sama sekali.

Dari sisi kalkulasi bisnis, sepertinya pihak Mahaka tidak takut rugi. Mungkin karena film semacam ini lebih banyak mengkampanyekan budaya, bukan dilihat dari sisi bisnisnya. Kan kita tahu, kapitalis China sangat berkepentingan agar kaum Muslim Indonesia semakin sekuler saja. Ide-ide pluralisme merupakan tangga menuju tujuan itu.

Dan mengapa harus Hanung Bramantyo yang menjadi sutradara? Nah, ini menjadi tanda tanya, persis seperti judul film itu sendiri.

Hanung ini kan lulusan sekolah agama di Yogya. Background keluarga Muhammadiyyah. Dia mengerti sedikit-sedikit tentang konsep dan wawasan Islam. Dalam pernikahan yang kedua, dia menikah dengan Zaskia Mecca, artis yang populer dalam sinetron “Para Pencari Tuhan”. Sebelum menikah, mereka berdua sudah gandeng-renteng gak karu-karuan. Sehingga kawan-kawannya, sesama artis, sangat mendorong agar mereka berdua segera menikah. Konon, mereka akhirnya menikah ketika perut Zaskia semakin menonjol ke depan.

Kehidupan kaum LIBERALIS seperti berada dalam dua dunia. Dunia pertama, istilah-istilah keren, intelektualis, pemikiran-pemikiran progressif, dan seterusnya. Dunia kedua, kehidupan manusiawi mereka yang tidak terungkap di depan publik. Dalam dunia “tidak tampak” itu kualitas moral mereka sangat buruk. Misalnya, sudah dikenal bahwa di markas JIL di Utan Kayu itu banyak ditemui botol-botol minuman keras.

Film Hanung sendiri sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat. Tetapi bahwa dia memang membenci kalangan Islamis karena telah mengekang hawa nafsunya, sejak dia masih remaja, memang benar adanya. Isi film Hanung cenderung ingin “membalas dendam” atas kultur Islam yang pernah membesarkannya.

Film Ayat Ayat Cinta berjalan sukses, karena didukung promo besar-besaran, baik promo resmi maupun tak resmi. Sukses novel AAC itu sendiri sudah menjadi promo besar bagi filmnya. Setelah namanya mulai berkibar, Hanung menyerang Islam lewat film, Perempuan Berkalung Sorban. Namun film terakhir ini tidak sukses, malah menuai protes dari banyak kalangan Islam.

Ketika filmnya kurang laku, Hanung coba-coba mencari momen bagus untuk buat film. Setelah berpikir dalam, lalu catch…dapat man! Dia pun mengajukan rancangan film “Sang Pencerah” dengan mengangkat sosok KH. Ahmad Dahlan. Siapa yang dibidik dari film ini? Ya, warga Muhammadiyyah, almamater Hanung sendiri. Secara umum, film itu cukup sukses di pasaran warga Muhammadiyyah. Pundi-pundi keuangan Hanung pun menebal. Setelah uang di tangan, lagi-lagi Hanung membuat film, untuk memuaskan hobi lamanya, menyerang konsep Islam yang menurutnya tidak toleran, kolot, demen kekerasan, eksklusif, dan seterusnya. Nah, itulah dia film “?”.

Padahal intinya, Hanung merasa konsep Islam tidak bisa memuaskan hawa nafsunya. Dia ingin agama yang bisa memuaskan hawa nafsunya, sepuas-puasnya, tanpa limit, tanpa kekangan apapun. [Maka dari sini kita bisa melihat bagaimana masa depan pernikahan Hanung dengan Zaskia. Wong agama saja tidak dipedulikan, apalagi keluarga?].

Rasanya tidak malu ya. Saat kantong kering, mencari penonton dari Ummat Islam. Setelah kantong tebal, segera menyerang dakwah Islam. Tapi apa mau dikata, begitulah sosok sutradara itu. Kalau dibilang kejam, ya kejam; kalau dibilang sadis, ya sadis; kalau dibilang curang, ya curang. Begitulah cara Hanung dalam menyerang ajaran-ajaran Islam yang tidak bisa memenuhi hasrat hawa nafsunya.

Kasihan banget ya, agama yang suci dipaksa memuaskan hawa nafsu seorang manusia. Bagaimana kalau ada banyak orang semisal dia, sama-sama meminta agama melayani hawa nafsunya sepuas-puasnya? Kok bisa ya, agama hendak diperbudak oleh hawa nafsu manusia. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sosok seperti Hanung itu seperti manusia yang sudah KEHILANGAN JATI DIRI. Secara spiritual, batere jiwanya seperti sudah drop total. Maka yang keluar dari dirinya bukan ekspresi jiwa yang murni dan lurus, tetapi hawa nafsu dan pemikiran-pemikiran yang kalah. Kalau Hanung berekspresi ini dan itu, ia hanyalah seperti ungkapan orang-orang frustasi yang sudah tak bisa berbuat apa-apa.

Kalau dalam Al Qur’an digambarkan, “Khatamallah ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim wa ‘ala absharihim ghisyawah, wa lahum adzabun ‘azhim” (Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, lalu di atas penglihatan mereka diberi tutupan, dan bagi mereka adzab yang besar).

Rata-rata para penggiat paham SEPILIS seperti itu. Secara batin atau jiwa, mereka sudah dianggap tidak ada. Atau dianggap sebagai eksistensi kegelapan. Maka tidak keluar dari jiwa semacam itu selain kegelapan, kecurangan, kelicikan, kesadisan pemikiran, kekejaman nalar, dll; intinya ekspresi kefrustasian.

Ya, inilah sekilas “resensi film” berjudul “?” (tanda tanya). Lalu apa makna “?” disana? Ya jelas sekali. Pembuatnya adalah sosok misterius yang DIPERTANYAKAN kesehatan ruhaninya. Terimakasih.

AM. Waskito.

Iklan

8 Responses to Hanung Bramantyo Lagi…

  1. Astrian berkata:

    Hmmm… Saya belum berani serta merta menuduh Hanung memang bertujuan menyerang Islam. Saya sih nganggapnya Hanung emang gak ngerti agama aja. Tapi saya baru tahu Hanung itu lulusan sekolah agama dengan latar belakang keluarga Muhammadiyah. Kalo memang begitu, belajar apa aja si Hanung dulu? Heran. Apa jangan-jangan yang Anda sebutkan itu memang benar ya… >_<

  2. Lukman Mubarok berkata:

    Nah, virus ‘sepilis’ menggerogoti dari sineas hingga si sinis.

  3. baju pria berkata:

    sudah banyak film karya sutradara terkenal Hanung Bramantyo.. dan filmnya pun semua bagus dan banyak menarik jutaan penonton.. sukses selalu

  4. Andy Dirgantara berkata:

    Apakah Hanung itu semasa remaja pernah dipukul ayahnya sehingga ia membuat film yang tendensius?

  5. Amar Ma'ruf berkata:

    Sepilis yang bikin geregetan untuk ku matikutukan !

  6. Anonim berkata:

    Hanung memang gk ngerti agama,agama ditfsirkn dngn cr dia,bnyk hanung-hanung yg lain yg prlu di luruskan

  7. Wijayakusumah berkata:

    Ganti aza namanya Hanung AL-MAJNUN atau AL-JAHIL,itu lebih cocok buat dia.

  8. si_kasep berkata:

    subhanallah…saya baru sadar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: