Indonesia CINTA MATI Terorisme

Banyak yang aneh di negeri ini. Lalu orang berseloroh enteng, “Kalau tidak aneh, bukan Indonesia, dong? Siapa dulu? Kita, bangsa Indonesia, top master untuk urusan yang aneh-aneh. Hayolah kawan, anehkan dirimu, anehkan hidupmu, Indonesiakan darahnya. Oh ye? Gitu tho? Oke, oke, aneh!”

Soal TERORISME…ah sudahlah. Ini kan hanya hiburan saja. Nikmati sajalah… Ini hiburan, semacam sinetron Cinta Fitri yang episodenya tidak entek-entek itu. Mungkin, menjelang kedatangan Imam Mahdi nanti, sinetron tersebut baru tammat. Isu teroris di Indonesia, tidak usah dibuat pusing. Itu sami mawon dengan sinetron-sinetron itu.

Di Indonesia kan ada Densus88. Sampai tahun 2010 nama Densus88 terus berkibar. Sekarang ada badan tersendiri, namanya BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Ini lembaga resmi negara. Namanya lembaga negara, pasti ada ongkos operasionalnya kan. Itu pasti. Misalnya, di Indonesia tidak ada terorisme, terorisnya habis bersih disikat aparat keamanan. Misalnya begitu. Lalu apa kerja BNPT dong? Ya gak ada kerjaan. Kalau gak ada kerjaan, sementara anggaran jalan terus, jadinya bagaimana? Ya, pasti dibubarkan.

Sinetron Tak Kenal Tammat.

Maka ramainya pembicaraan soal terorisme itu sama dengan: memberi nyawa yang panjang bagi BNPT. Kalau negara merasa terancam, BNPT akan panen pekerjaan, sekaligus tentu panen anggaran. Kalau isu terorisme berakhir, ya pasti penghasilan akan terancam. Iya kan.

Sama juga media-media massa. Isu terorisme itu semacam “lumbung padi” bagi mereka. Para wartawan media tak peduli efek apapun dari pemberitaan soal terorisme. “Yang penting ada berita, yang penting ratting acara tinggi, yang penting iklan nyedot terus. Soal A, B, C, D, E, F, G, H… itu soal lain. Yang penting cari makan dulu, buat anak-isteri.” Cuma buat makan anak-isteri Pak? Ya tidak. Ada plus-nya. Plus-nya apa? Nambah koleksi mobil baru, beli gadget baru (seperti Arifinto itu lho), masuk kafe “kopi luwak” yang bergengsi itu, nonton final Piala Champions dari pinggir lapangan, pelesir ke Macao, Hawaii, minimal Singapore lah.

Berita yang dimuat seputar darah, air mata, dan nyawa manusia…tetapi outputnya untuk jalan-jalan ke Pataya, Paris, Dubai, dan seterusnya. Kalau ditanya, kok gitu sih? Jawabnya enteng, “Dunia ini hanya panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah-ubah.” Ya, kalau tahu panggung sandiwara, mengapa mereka mau memainkan peranan Dasamuka, Rahwana, Buto Ijo, dan kawan-kawan? Pilih peran yang bagus dong!

Ya itulah Indonesia, sebuah negeri yang aneh, menganehi, dan sekaligus teranehi. [Anda paham maksudnya? Kalau tidak paham, bilang saja “pass”. Saya juga “pass” kok].

Pak Jero Wacik dari Kementrian Budaya dan Pariwisata. Dia berusaha keras melariskan obyek-obyek wisata di Indonesia. Begitu semangat sampai hampir ketipu. Ceritanya, soal Komodo mau dimasukkan dalam salah satu ikon “7 Keajaiban Dunia”. Ternyata, yayasan internasional yang mengadakan even penganugerahan gelar “7 keajaiban dunia” itu memakai cara seperti “debt collector”, suka maksa-maksa. Kalau Indonesia mau Komodo masuk daftar “7 keajaiban dunia”, Indonesia harus setor dana sekian juta dollar, dan Indonesia harus mau mengadakan acara penganugerahan predikat “7 keajaiban dunia” itu.

Ya, mirip modus orang-orang kita. Mau cari duit, tetapi berliku-liku, dengan retorika tinggi. Tentu Pak Jero Wacik menolak keras. Gak mau aku. Nanti, malah ketipu lagi. Begitulah, salah satu bukti keseriusan Pak Menteri dalam soal kampanye wisata obyek-obyek menarik di Indonesia.

Tetapi dalam soal terorisme ini, efeknya sangat kuat bagi sektor wisata di Indonesia. Bukan hanya wisata, tetapi juga investasi, kunjungan bisnis, kunjungan studi, kerjasama sosial, dll. Setiap negara yang diobral media sebagai “sarang teroris”, pasti akan sangat dirugikan nama baiknya. Sektor wisata rusak, investasi rusak, bidang sosial rusak.

Siapa yang merusak? Ya, tentu saja para pelaku teror, para pemimpin BNPT, para pengamat terorisme, media-media yang getol memberitakan isu terorisme. Mereka ini kan sama saja dengan “seolah membela negara”, padahal pekerjaannya “merusak kepentingan negara”.

Dalam isu terorisme ini, sebaiknya rakyat Indonesia mendengar analisis Dr. AC. Manullang. Kata beliau, isu terorisme itu hanya bikin-bikinan saja. Teroris sejati di Indonesia tidak ada. Andaikan ada, maka teroris itu akan dicegah terlebih dulu dengan aksi “kontra intelijen” sebelum ia pecah. Beliau bahkan meyakinkan bahwa tuduhan kepada Abu Bakar Ba’asyir adalah mengada-ada. Tidak ada bukti material ke arah sana.

Memang, di balik isu terorisme ada multi kepentingan. Pihak aparat ingin mendapat anggaran dana; pihak pelaku ingin mendapat ketenaran; pihak media lagi-lagi berdalih “cari makan buat anak-isteri”.

Seharusnya, kalau bangsa Indonesia SEHAT lahir-batin, jangan suka membesar-besarkan masalah terorisme ini, sebab efeknya merusak kepentingan bangsa sendiri. Merusak kepentingan wisata, investasi, bisnis, sosial, dll. Kalau perlu aksi terorisme itu ditutup-tutupi, atau diklaim sebagai kasus kriminal biasa saja, agar tidak merusak kehidupan umum. Ya, namanya KELICIKAN pasti hasilnya adalah KERUSAKAN. Itu pasti!

Inilah anehnya Indonesia. Aneh, aneh, aneh betul. Kok mau-maunya negeri ini dijuluki “sarang teroris”. Padahal julukan itu sangat merepotkan dan memiskinkan kehidupan bangsa.

Kalau bangsa lain sangat membenci mafia, narkoba, pornografi, kekerasan; maka Indonesia justru “cinta mati” dengan isu terorisme. Hebatnya, dari isu yang “gelap gulita” nanti dipakai untuk menghantam lawan-lawan politik. Aneh kan…ya sangat teraneh-anehi, menganeh-anehkan, plus diperanehkan. [Kalau tidak mudeng, bilang “pass”. Aku sudah “pass” duluan…].

Oke lah…santai aja soal terorisme. Jangan termakan propaganda media. Kalau ada yang memfitnah, menyudutkan, berbohong, dll. ya doakan saja yang bersangkutan agar sadar. Kalau dia maniac, doakan agar mendapat laknat Allah yang sempurna. Ingat, semua ini just sinetron. Not else.

AM. Waskito.

Iklan

5 Responses to Indonesia CINTA MATI Terorisme

  1. lukman mubarok berkata:

    Indonesia cinta Amerika. apa yang amerika sebut terorisme Indonesia ikut aja tuduhan keji itu. banyak anasir asing masuk ormas lalu berbuat anarki mendoktrin agar jadi teroris. dan orang-orang yang muslim baik-baik kena getahnya

  2. busana wanita berkata:

    bagus sekali tulisannya.. sangat bermanfaat.. salam sukses

  3. Ia menegaskan terorisme merupakan kejahatan yang terkait dengan hukum. Bahkan menambahkan bahwa masalah ini sensitif dan sering melahirkan salah paham diantara masyarakat terhadap apa yang dilakukan penegak hukum..Rasanya kelewat wajar kalau sebagian orang mengkritik sikap SBY ambigu bahkan ada yang katakan lebay. Dalam kasus terorisme masih terekam beberapa jejak sikap SBY yang ditampilkan dihadapan publik yang menunjukkan ambiguitasnya.

  4. Wijayakusumah berkata:

    kalo begitu bodoh kali pemerintah kita yaa,mau-maunya dijadiin episode sinetron teroris sama si amrik kanibal.smg laknat Allah atas orang-orang yg benci ISLAM.

  5. arifin. berkata:

    mudah dipermainkan karena lemah. agar kuat,terutama sekitar 70% jamaah masjid2 yg tak hafal terjemahan faatihah, dijadikan hafal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: