Penguasa Arab dan Revolusi Sejati

April 4, 2011

Ada rasa prihatin kalau melihat situasi Timur Tengah saat ini. Mereka terus bergolak dalam revolusi, peperangan, konflik, dan seterusnya. Sejak lama, negeri-negeri Arab ini terus berada dalam turbulensi dari sana-sini. Tahun 70-an sampai 80-an, wilayah Indochina (seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, dll) terus dilanda peperangan. Tetapi kini mereka damai. Namun mengapa di Timur Tengah, perdamaian seperti sulit diwujudkan?

Kalau dalam konflik Palestina-Israel, kita memaklumi disana terus ada konflik, karena isunya adalah PENJAJAHAN negara Yahudi atas negeri Palestina. Penjajahan dimanapun pasti akan membuka pintu-pintu perlawanan. Belum akan berhenti perlawanan, sampai penjajahan berakhir. Seperti dalam Pembukaan UUD 1945, “Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka daripada itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikeadilan dan perikemanusiaan.” Konflik Palestina-Israel berbeda dengan konflik di Timur Tengah pada umumnya.

Nasionalisme Arab = Akidah Musyrikin Quraisy! (gambar: aljazeera)

Sejak muncul era kemerdekaan, sekitar tahun 1940-an, pasca Perang Dunia II, negara-negara Arab banyak yang merdeka. Namun setelah merdeka, mereka muncul sebagai negara-negara NASIONALIS ARAB, bukan negara Islam atau negara berdasar Syariat Islam. Ketika itu bermunculan tokoh-tokoh nasionalis Arab, yang paling terkenal antara lain Michael Aflaq, Gamal Abdun Naser, Anwar Sadat, Hafezh Assad, dan lainnya. Kemunculan pemimpin nasionalis Arab ini seide dengan lahirnya tokoh SEKULER DUNIA, Mustafa Kemal Attaturk di Turki.

Dalam masa yang panjang, sekitar 60 tahunan, bangsa-bangsa Arab selalu dilanda peperangan, konflik, perebutan kekuasaan, revolusi, dan sebagainya. Gelombang revolusi seperti saat ini bukanlah sesuatu yang aneh, sebelum-sebelumnya Arab sudah akrab dengan pertikaian. Hanya bedanya, revolusi saat ini berlangsung SERENTAK di berbagai negara sekaligus. Kini revolusi sudah mulai membakar Syria (Suriah).

Sebuah pertanyaan menarik, mengapa bangsa Arab cenderung terlibat dalam pertikaian politik? Mengapa? Ada apa dengan diri dan kehidupan mereka?

Kalau dicari jawabnya. SATU, watak bangsa Arab sendiri memang keras, jiwa bergolak, percaya diri yang tinggi, sangat kuat meyakini sesuatu, dan sulit tunduk kepada suatu kepemimpinan yang tidak disukai. DUA, di negeri Arab terdapat banyak sumber-sumber energi (minyak bumi) yang menjadi incaran semua negara-negara di dunia, terutama negara agressor bernafsu kolonialis. TIGA, di jantung wilayah Timur Tengah ada ISRAEL. Ini adalah negara Yahudi yang didirikan oleh kekuatan Yahudi & Freemasonry internasional. Negara-negara Arab sengaja dibuat SIBUK TERUS dengan konflik, agar memberi kesempatan emas bagi Israel untuk terus memperkuat diri. Kalau bangsa Arab sadar, giat membangun, sepi konflik, maka nasib Israel tidak akan aman. Jadi harus terus “diproduksi” masalah di Timur Tengah, agar Israel bisa membangun dengan tenang.

Coba perhatikan, mengapa Irak digebuk ramai-ramai oleh NATO, padahal disana tidak ada senjata pemusnah massal? Sementara Iran tidak pernah diusik oleh NATO padahal Iran benar-benar memiliki instalasi nuklir? Ya, karena Iran berideologi Syi’ah yang sangat kontradiksi dengan aqidah sebagian besar Muslim di Timur Tengah. Iran adalah trouble maker bagi kehidupan kaum Sunni di Timur Tengah. Maka, Iran dianggap satu agenda, dalam rangka membuat sibuk bangsa Arab.

Dengan alasan-alasan seperti ini sangat sulit berharap masa depan Timur Tengah (Dunia Arab) akan menjadi damai, tenang, membangun dengan giat, maju secara teknologi, sepi dari konflik, berkontribusi terhadap peradaban dunia, dan sebagainya. Sulit berharap semua itu akan muncul.

Lalu mengapa pemimpin-pemimpin Arab tidak mau berpaling kepada ajaran Islam, menegakkan negara Islam, atau membangun peradaban Islami? Mengapa dan mengapa?

Tidak akan ada yang bisa memberi jalan keluar kepada bangsa Arab, selain Islam. Namun selama ini banyak pemimpin Arab yang sekuler, bahkan anti Islam. Di antara mereka ada yang pura-pura Islami, sekedar untuk mengambil hati rakyat. Sedangkan secara kebijakan politik dan ekonomi, membebek kepada para kapitalis Barat. Ada pula yang mengklaim telah menegakkan Syariat Islam, tetapi sifat negaranya sangat nasionalis. Misalnya, mereka sangat membedakan antara kaum Su’udi dengan non Su’udi. Hal semacam ini jelas munkar.

Seharusnya bangsa Arab menjadikan Islam sebagai dasar negara, arah politik, dan ruh kehidupan mereka. Layaknya peradaban-peradaban Islam di masa lalu yang tegak di negeri Arab. Dulu, wilayah Madinah, Makkah, Basrah, Damaskus, Yaman, Mesir, Kufah, dll. tegak peradaban Islam di atasnya. Kini kebanyakan pemimpin di negeri itu memilih konsep NASIONALIS, bukan konsep Islam. Singkat kata, banyak pemimpin-pemimpin Arab yang berideologi sekuler alias KUFUR, karena enggan menjadikan Islam sebagai dasar hidup mereka. Dan banyak rakyat Arab yang setuju, diam saja, atau rela dengan sekularisme itu.

Dalam sebuah tulisannya, Dr. Salman Al Audah menyebut sekularisme itu sama dengan KEMUSYRIKAN. Pandangan beliau itu tidak aneh dan berlebihan. Toh, orang-orang musyrik Makkah pernah menawari Nabi Saw dengan kekuasaan, asalkan mau menghentikan dakwahnya. Bagi musyrik Makkah, mengangkat Muhammad Saw sebagai raja Arab tidak masalah, selama di atas dasar KESUKUAN ARAB, bukan atas dasar Islam.

Seharusnya para pemimpin sekuler Arab itu sangat menghayati perkataan Utbah bin Rabi’ah, salah seorang pemimpin musyrik Arab. Ucapan beliau sangat benar tentang hakikat dakwah Nabi Saw. Ucapan ini diucapkan di hadapan kaum musyrikin Makkah, setelah dia berbicara dengan Nabi, dan mendengarkan Nabi Saw membacakan isi Surat Fusshilat 1-5. Berikut ucapan Utbah bin Rabi’ah:

“Tadi aku mendengar suatu perkataan yang demi Allah tidak pernah kudengarkan yang seperti itu sama sekali. Demi Allah, itu bukan syair, bukan ucapan sihir dan tenung. Wahai semua orang Quraisy, turutilah aku dan serahkan urusan ini kepadaku. Biarkanlah orang ini (maksudnya, Nabi Saw) dengan urusannya dan hindarilah dia. Demi Allah, perkataannya yang kudengarkan tadi benar-benar akan menjadi berita besar. Jika bangsa Arab mau menerimanya, maka dengan kehadirannya kalian tidak membutuhkan bangsa lain. Jika dia dapat menguasai bangsa Arab, maka kerajaannya akan menjadi kerajaan kalian juga. Dan kemuliannya akan menjadi kemuliaan kalian. Jadilah kalian orang yang paling berbahagia karenanya.” (SIRAH NABAWIYYAH, oleh Syaikh Al Mubarakfury. Pustaka Al Kautsar, hal. 146).

Seharusnya, kita sangat mencermati ucapan Utbah bin Rabi’ah (atau Abul Walid) di atas. Lihatlah bahwa Utbah bin Rabi’ah telah membuat analisis yang sangat dalam dan tajam. Hal itu menandakan betapa cerdasnya dirinya, luas ilmunya, pandangannya jauh ke depan. Apa yang dikatakan Utbah kemudian terbukti dalam sejarah.

Hanya masalahnya, pemimpin-pemimpin Arab saat ini malah kembali ke sidroma lama, keangkuhan pemimpin-pemimpin musyrik Quraisy di masa lalu. Kok bisa ya? Jaman sudah berganti sekian lama, akhirnya kekufuran puak-puak musyrik di Makkah muncul kembali. Kini ideologi kufur kaum musyrik Makkah itu menjelma menjadi ideologi: NASIONALIS SEKULER ARAB. Kemasan beda, tetapi intinya sama. Sama-sama kufur, memuja kesukuan Arab, dan menolak jalan Islam.

Jangan aneh kalau negeri Arab saat ini penuh masalah, penuh konflik, penuh kehinaan dan cela. Mereka menderita lahir batin, terus cakar-karan, terus berebut kekuasaan, terus memuja dunia dan isinya. Ya, bagaimana tidak akan demikian, wong mereka kembali ke jalan para pendahulunya, tetua-tetua musyrikin Quraisy. Seperti disebut dalam salah satu ungkapan Qur’ani, “Bal nattabi’u maa alfaina aba’ana” (kami ini cukup mengikuti apa-apa yang ditinggalkan oleh bapak-bapak kami dahulu).

Jika kini bangsa Arab telah terbakar oleh revolusi, maka itu -meminjam ungkapan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi- revolusi belum selesai, bahkan baru dimulai. Revolusi sejati ialah MEMFORMAT ULANG otak-otak politik bangsa Arab, lalu mengembalikan mereka kepada RISALAH NUBUWWAH yang dibawa oleh Nabi Saw. Itulah REVOLUSI SEJATI. Sebelum otak Bani Ismail ini kembali ke ajaran Islam, tak pernah ada revolusi. Sebab makna revolusi di mata Allah dan Rasul-Nya, memang seperti itu.

Maka kini, pertanyaannya, apakah revolusi Arab sudah selesai? Ya, jawab sendirilah…

Bandung, 4 April 2011.

AM. Waskito.

Iklan

Apresiasi Seorang Pembaca Buku

April 1, 2011

Kekuatan Besar di Balik Buku

Sebagai penulis buku, banyak suka-dukanya. Kadang menerima kenyataan-kenyataan yang membuat diri harus penuh kesabaran. Namun kadang menerima HIBURAN dari Allah Ta’ala. Sumber hiburan bisa dari mana saja; termasuk dari arah yang tidak disangka-sangka. Salah satu hiburan terindah bagi penulis buku, ialah ketika menerima pujian tulus dari seorang pembaca. Ini bukan pujian yang dibuat-buat tetapi asli tulus, insya Allah.

Saya pernah mendapat surat yang ditulis tangan. Dikirim seorang bapak-bapak asal Surabaya. Kalau tidak salah, namanya Ahmad Ma’ruf. Beliau mengaku sangat terkesan dengan buku “Hidup Ini Mudah” yang saya tulis. Lalu beliau menulis surat apresiasi. Hebatnya, dalam surat itu beliau juga memberi saya hadiah sebuah buku agenda dan ballpoint tinta tebal. Masya Allah, hal-hal seperti ini merupakan “kado istimewa” bagi seorang penulis.

Kalau kita membaca teks endorsement yang terletak di cover belakang buku, itu bisa dibuat-buat. Sebagian endorsement merupakan teks yang sudah disiapkan, bukan dari pembaca. Nanti pembaca tinggal memilih teks mana yang cocok dengan hatinya. Hal ini saya ketahui dari informasi penerbit tertentu. Untuk membuktikannya mudah. Biasanya komentar pembaca dalam endorsement selalu berbeda-beda, padahal komentar yang ditujukan untuk buku yang sama, sangat mungkin menghasilkan komentar yang sama pula. Hal-hal demikian ini sering sudah di-setting secara sengaja.

Berikut ini sebuah apreasiasi berharga dari seorang pembaca buku “Aku Membaca Aku Tersenyum” yang telah saya tulis. Komentar positif ini dikirim via e-mail oleh seorang mahasiswi Sastra Inggris di Unpad Jatinangor. Beliau berasal dari Indramayu, Jawa Barat. Memang di bagian akhir buku, saya sebutkan akses e-mail yang bisa dihubungi. Sekedar catatan, teks yang tercantum ini sudah dilakukan penyuntingan seperlunya. Sebagian besar isi surat dipertahankan, hanya diberi perubahan sedikit agar enak dipandang, mudah dibaca, dan lebih jelas. Tidak ada perubahan substansial di dalamnya.

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Bapak penulis yang terhormat,

Maaf sebelumnya, saya telah memberanikan diri untuk mengirim email ini. Namun saya hanya ingin memberikan pendapat saya tentang buku yang Bapak tulis yang berjudul “Aku Membaca Aku Tersenyum” yang diterbitkan oleh Penerbit Khalifa, Jakarta.

Saya, Jessica Lusianov, mahasiswa UNPAD Fakultas Sastra, telah membaca buku tersebut. Setelah membacanya, saya menilai bahwa buku yang Bapak tulis benar-benar sangat bagus dan menggugah. Saya menyukainya. Mengapa? Karena isi buku tersebut benar-benar penuh renungan, hikmah, humor, pengalaman berharga, dan yang paling penting adalah SANGAT MEMOTIVASI saya untuk lebih giat dan gemar membaca buku-buku umum, baik itu di perpustakaan dan di toko buku. Saya sendiri adalah penggemar buku kelas berat karena saya sendiri termasuk pribadi yang pendiam dan agak tidak menyukai hiburan (meskipun saya hobi bermain alat musik dan menyanyi selain membaca buku).

Saya benar-benar dibuat bangkit disebabkan tulisan-tulisan Bapak di buku tersebut yang sebagian besar mengajak masyarakat, khususnya Kaum Muda dan Pelajar untuk lebih mencintai buku (bacaan). Mulai sekarang, setelah membaca buku tersebut, saya menjadi sadar bahwa ilmu dan wawasan itu tidak hanya didapatkan di bangku sekolah saja, tapi melalui membaca juga wawasan kita akan luas.

Yang paling penting adalah, saya pun sadar atas apa yang saya perbuat selama ini salah. Saya sendiri adalah tipe orang yang kurang tidur, kurang minum air putih, dan tidak pernah berolahraga. Akan tetapi, setelah membaca buku tersebut yang di dalamnya terdapat tips menjaga kesehatan dan sebuah kisah yang cukup menggugah hati yang akhirnya menyimpulkan bahwa menjaga kesehatan itu perlu (dan bahwa belajar sampai larut malam mengabaikan kodrat fisik itu salah), saya pun menyadari kekeliruan saya selama ini.

Saya sangat berterima kasih kepada Bapak karena melalui buku yang Bapak tulis saya akhirnya mengerti. Akhirul kalam, saya benar-benar kagum terhadap Bapak dan buku Bapak dan saya mengucapkan terima kasih sekali lagi. Sekian dari saya, seorang pembaca. Teruslah berkarya dan menghasilkan buku-buku yang terbaik. Saya doakan semoga Bapak sehat dan sukses selalu.


Wabillahi Taufiq wal Hidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Pembaca

JESSICA LUSIANOV.

Secara pribadi, ada rasa malu membaca komentar indah seperti di atas. Tetapi bagaimana lagi, itu adalah apresiasi pembaca yang dia sampaikan secara tulus. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Intinya, jika ada yang baik dan bermanfaat, semoga hal itu bisa menjadi kebaikan, bagi pembaca, juga bagi penulis, dan Ummat. Allahumma amin.

Buku “Aku Membaca Aku Menulis” itu berisi banyak entry dan substansi. Humor hanyalah sebuah METODE saja, untuk menyampaikan kepada maksud sebenarnya. Dalam buku itu, terutama di bagian-bagian akhir, saya kaji secara intens cara-cara MEMBANGKITKAN KEKUATAN TERSEMBUNYI dari buku-buku yang diam rapi di atas rak itu. Melalui buku, kita bisa mencapai kekuatan dan keahlian seperti yang kita inginkan.

Disana ada kekuatan tersembunyi, andai kita berkenan membacanya…

AM. Waskito.