Sikap Musdah dan Umi Kultsum!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada berita menarik di eramuslim.com, tentang diskusi yang menghadirkan Musdah Mulia, di Makassar. Dalam debat itu Musdah dicecar oleh para mahasiswi Makassar dengan aneka gugatan. Beritanya bisa dibaca di artikel-artikel berikut ini: Musdah Ancam Mahasiswi Dipidanakan, Musdah Adalah Orang Amerika).

Intinya, Musdah merasa marah dan ingin menggugat mahasiswi yang bernama Umi Kultsum itu. Katanya, akan diadukan lantaran alasan pencemaran nama baik. Allahu Akbar, sebegitukah kualitas nalar Musdah?

Coba Anda perhatikan…

PERTAMA. Namanya forum diskusi, forum seminar, dan sebagainya. Jadi wajar saja ada yang menghujat, menggugat, protes, dan sebagainya. Wong, memang forumnya kondusif untuk itu. Kecuali kalau mahasiswi itu bicara di media, dia menjelek-jelekkan Musdah tanpa alasan. Itu baru bisa dipidanakan!

Betapa memprihatinkan nalar Musdah ini ketika hendak mengadukan seorang mahasiswi ke polisi karena pencemaran nama baik. Padahal forum yang ada disana forum diskusi, forum debat ilmiah. Apa Musdah tidak memahami istilah “kebebasan mimbar” di perguruan tinggi? Lalu, apa gunanya dong dia menyandang gelar profesor?

KEDUA. Musdah merasa dirinya dicemarkan nama baiknya oleh mahasiswi bernama Umi Kultsum itu. Lalu perhatikan ucapan Si Mudah yang saya kutip dari artikel di atas: “Hati-hati yah kalau adik berkata-kata, saya bisa tuntut anda pasal pelecehan jika anda mengkritisi saya seperti itu. Anda ini kan mengambil data dari Sabili dan Suara Islam. Kedua majalah ini bukan bacaan kaum intelektual. Kedua majalah itu kerja cuma menghina orang.”

Lihat kalimat yang di-bold di atas. Musdah katanya merasa dicemarkan nama baiknya. Tetapi saat yang sama, dia mencemarkan nama baik media Sabili dan Suara Islam. Kedua media disebut, “Bukan bacaan kaum intelektual.” Mungkin maksud Musdah, yang disebut bacaan kaum intelektual itu adalah teori-teori Liberal yang dia anut selama ini. [Yang begini sih bukan intelektual, Musdah. Tetapi “lakum dinukum wa liya din”].

Lihatlah dengan jeli, satu sisi merasa dicemarkan nama baiknya. Tetapi saat yang sama, mencemarkan nama baik media-media Islam. Allahu Akbar!

KETIGA. Sangat memprihatinkan, Musdah hendak menuntut seorang mahasiswi karena melakukan pencemaran nama baik. Mahasiswi itu siapa, dan Musdah siapa? Apakah sebanding Musdah ingin mengadukan mahasiswi yang tentu saja masih sangat belia itu? Apakah Musdah begitu protektif, begitu otoriter, begitu paranoid?

Lalu bagaimana dengan klaim dia selama ini, bahwa dirinya kaum intelektual, maju, dewasa, bijak, terbuka, moderat, dll. Mana bukti ucapan itu? Mana bukti kedewasaan pemikiran Musdah ketika berhadapan dengan “anak kecil”, seorang mahasiswi Makassar itu? Sangat memilukan!!!

Akhirul kalam, kami sangat mendukung dilakukannya koreksi-koreksi kritis terhadap pemikiran kaum LIBERAL ini. Mereka merupakan tantangan yang nyata bagi kehidupan bangsa Indonesia dan Islam. Pembelaan terhadap ajaran Islam dari serangan pemikiran oleh kaum Liberal dan orientalis, merupakan  bagian dari JIHAD membela agama Allah Ta’ala.

Semoga Umi Kultsum tetap istiqamah dan tegar. Jangan galau oleh tekanan-tekanan. Dan semoga Prof. Musdah bisa menunjukkan bukti kedewasaan dan keintelektualan sikapnya. Berteori atau pencitraan, mudah. Tetapi bukti riil di lapangan kehidupan, tidak mudah Bu!

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Abinya Syakir.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: