Matinya Militansi Kita…

Juni 28, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini kita hidup dalam situasi SERBA TAK MENENTU. Keadaan di sekitar kita penuh dengan gejolak, khususnya gejolak ekonomi, sosial, dan politik. Kondisi kehidupan kita serta tidak stabil. Para politisi dan birokrat sering mengatakannya, kondisi INSTABILITAS.

Dalam kondisi seperti ini, perubahan bisa terjadi secara mendadak, tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Bisnis yang direncanakan akan eksis setelah 3 tahun, ternyata bangkrut sebelum genap berusia 6 bulan. Proyek yang diharapkan selesai dalam 6 bulan, ternyata melar sampai 3 tahun, karena uangnya dibawa lari mandor proyek. Tanaman yang diharapkan panen saat anak-anak mulai masuk sekolah, ternyata gagal karena dimakan wereng dan keong emas. Begitulah…banyak kondisi-kondisi tidak menentu.

Harapan Manis yang Kian Sirna...

Semua ini terjadi ialah karena SISTEM KEHIDUPAN yang berlaku di sekitar kita sudah keluar dari jalur sebenarnya. Ibarat seperti kereta-api yang keluar jalur, lalu mbrasak-mbrasak ke kebun singkong, masuk sawah, atau menubruk tanggul-tanggul sungai. Seharusnya kereta berjalan di rel, tetapi malah keluar jalur. Akibatnya, terjadi kecelakaan berat.

Sistem kehidupan yang saat ini berkembang, semakin menunjukkan wajah aslinya. Itu bukan wajah kehidupan Islami, atau nasionalis, atau harmoni, atau natural, atau humanis, atau kehidupan maju. Tetapi ia memperlihatkan kedoknya sebagai SISTEM PERBUDAKAN modern. Bisa saja istilahnya maju, seperti “negara industri”, “pertumbuhan ekonomi tinggi”, “iklim investasi pesat”, “indeks saham gabungan mantap”, “cadangan devisi kuat”, dan seterusnya. Istilahnya keren, padahal hakikatnya PERBUDAKAN.

Apa benar ini perbudakan?

Baca entri selengkapnya »


Kadar Akal Orang Indonesia

Juni 23, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti telah saya sampaikan, bahwa saat ini saya sedang memantapkan tekad untuk meninggalkan acara-acara berita media sekuler, baik TV, koran, atau majalah. Ini telah saya lakukan dan alhamdulillah dampaknya sangat baik.

Namun kemarin saat berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Timur, saat makan di kantin, secara tak sengaja saya melihat dan mendengar siaran berita TV. Beritanya tentang Ruyati yang meninggal dihukum mati di Arab Saudi. Saat melihat koran dinding, berita tentang itu ada juga. Marak pula. Alamaakkk…

Tapi ada satu hikmah menarik dari kejadian yang tak disengaja ini. Sekaligus kejadian ini untuk kesekian kalinya menguatkan TESIS selama ini, bahwa acara-acara berita di TV atau koran itu, lebih banyak merusak otak daripada menyehatkan kehidupan manusia. Saat saya berbincang dengan seorang dosen senior, dari Jurusan Sastra Arab Universitas Malang (dulu IKIP Malang), yang kebetulan juga ada di pesantren itu; beliau membenarkan TESIS tersebut. Bahkan beliau sudah menjalankannya.

Berita Media Sekuler Membusukkan Akal Manusia.

Singkat kata, “Berita TV atau koran itu, hanya nggarai ngelu” (maksudnya, hanya membuat kepala pening). Untuk lebih jelas melihat posisi kaum wartawan media-media sekuler, silakan baca tulisan ini: 13 Kelebihan WTS Atas Wartawan Media. Tulisan semacam ini perlu, agar menjadi kritik bagi media-media perusak akal itu.

Kembali ke kasus Ruyati…

Disini secara cermat kita bisa melihat betapa bobroknya media-media sekuler itu; betapa kacaunya akal mereka; betapa rendahnya nalar dan analisis mereka. Itu pasti.

Apa buktinya?

Saat membahas isu Ruyati yang dihukum pancung itu, mereka mendesak supaya Pemerintah RI memutuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi. Saya hanya tertawa saja merenungkan IDE GILA luar biasa itu. Kok ada manusia yang sangat katrok, sekatrok-katroknya, yang punya ide konyol seperti itu.

Maaf, beribu maaf, harus dikatakan kata-kata kasar disini. Sebab, tak tahu lagi bagaimana menyebut kedegilan pikiran wartawan-wartawan bengal dan keji itu. Mohon ampunkan aku…

Baca entri selengkapnya »


Gila Saja Pak!

Juni 14, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim!

Saya geleng-heleng kepala membaca berita di eramuslim.com ini. Tentang kasus Yusuf Supendi yang menggugat para petinggi PKS. Berikut beritanya: Sidang Gugatan Yusuf Supendi yang Ketiga.

Bagian yang sangat sulit dimengerti, ketika Yusuf Supendi juga menggugat mendiang KH. Rahmat Abdullah yang jelas-jelas sudah wafat. Kok segitunya sih Pak? Masak kepada saudara yang sudah bersemayam di alam kubur, masih mau digugat juga? Malah dimintakan ahli warisnya yang bertanggung-jawab?

Apakah moral Pak Yusuf Supendi sudah sedemikian parah ya? Masak orang yang sudah meninggal masih digugat perdata juga. Ini aneh sekali. Seharusnya, gugatan ke seorang Muslim yang sudah wafat itu dicabut, dengan alasan yang bersangkutan sudah meninggal.

Aisyah Ra pernah mengatakan, “Ada seorang yang menyebut-nyebut aib orang yang sudah mati di dekat Nabi Saw, lalu beliau bersabda: ‘Janganlah kalian menyebut-nyebut orang yang sudah meninggal di antara kalian, kecuali dengan kebaikan.'” (HR. An Nasa’i, shahih).

Biarkan Saudaramu Damai di Alamnya. Biarkan Akhi...

Orang Muslim, termasuk tokoh Muslim, yang dikenal baik, lurus, dan istiqamah, tidak boleh dinodai kehormatannya, meskipun dia sudah wafat. Kecuali kalau dia adalah tokoh sesat, pembela kesesatan, ikon bid’ah, dan yang semisal itu. Mereka boleh dibicarakan aib-aibnya, agar manusia terhindar dari kesesatannya. Kalau tokoh yang baik, ya sudah jangan diungkit-ungkit keburukannya. Apalagi sampai mau digugat segala? Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Saran saya Pak Yusuf Supendi, bersikaplah layaknya seorang Muslim yang berakhlak! Jangan menggugat Ustadz Rahmat Abdullah, karena beliau sudah meninggal. Kalau Pak Yusuf masih ngeyel menggugat beliau juga, nanti di saat Anda sudah meninggal, bisa jadi akan bermunculan banyak fitnah.

Lapanglah pada saudaramu yang sudah wafat, agar Allah lapang kepadamu. Kalau ada masalah, hadapi saja elit-elit PKS yang masih hidup. Ya, ini sekedar saran.

Dunia tampaknya semakin gila. Berbagai tontonan kegilaan muncul tak kenal waktu dan momentum. Ya Rabbana, lindungi kami dari fitnah kehidupan dan kematian, lindungi kami dari siksa kubur, dan lindungi kami dari fitnah Al Masih Dajjal sang terlaknat. Allahumma amin.

[Abinya Syakir].


Obat Stress Praktis!

Juni 14, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada sebuah “obat stress” yang cukup manjur untuk dicoba. Ini sudah saya alami dan rasakan. Alhamdulillah, dampaknya sangat baik.

Bebaskan Dirimu dari Belenggu Media! Mulailah Membangun Kehidupan Baru Nan Segar dan Hijau!

Obat stress ini mudah dilakukan. Tidak mengeluarkan biaya, malah hemat energi lagi. Tetapi kita butuh keteguhan hati untuk melakukannya. Pada awal-awal memulai “terapi” ini hati kita merasa berat, berat sekali. Karena kita sudah terbiasa mengonsumsi “racun” yang sebenarnya merugikan diri. Nah, untuk menjalankan terapi ini, syaratnya mudah saja: “Mau sabar dan tahan godaan pada awal-awalnya.” Itu saja.

Saya yakin, terapi ini sangat manjur dan efektif. Tetapi karena menyangkut perilaku addictive (kecanduan) kita, maka harus ada keberanian dan kebulatan tekad untuk melawan kebiasaan sehari-hari. Ya, bagaimanapun untuk memulai sesuatu yang baik, tidak ada yang gratis. Harus ada pengorbanan kan…

Mungkin Anda bertanya-tanya, obat stress itu seperti apa? Bagaimana caranya? Apa yang harus dikonsumsi atau dilakukan sebagai sebuah terapi? Apakah cara ini berbiaya mahal? Apakah ada versi gratisnya, seperti umumnya pelayanan yang disukai bangsa Indonesia?

Obatnya sangat sederhana, bahkan mungkin sangat mencengangkan. Anda hanya diminta: “Mulai Berhenti Nonton Berita di TV atau Membaca Berita di Koran.” Hanya itu saja!

Baca entri selengkapnya »


Belajar dari Kasus Thamrin City Tanah Abang

Juni 13, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Beberapa waktu lalu, situas voa-islam.com memuat beberapa artikel tentang persengketaan bisnis antara para pedagang Muslim di Thamrin City, Lantai 1 Waduk Melatik, Kebon Kacang, Tanah Abang; dengan pengelola pasar itu, PT. Mitra Khatulistiwa (PT. MK). Beritanya dapat dibaca di beberapa tulisan ini: 20 Pedagang Muslim Tanah Abang Dijahar Preman BayaranKH. Fikri Bareno: Jangan Sampai Memunculkan Kerusuhan SARA; Pedagang Muslim Dizhalimi Kaum Bermata Sipit.

Masalah seperti ini sangat penting dipahami kaum Muslimin, sebab ia bisa menuntun ke arah pemahaman tentang sebab-sebab kekalahan kaum Muslimin dalam pertaruang ekonomi-bisnis selama ini, di Indonesia. Apa yang dialami para pedagang Muslim di Thamrin City, Tanah Abang itu, bukan kenyataan baru. Ia terulang berkali-kali, bertahun-tahun, bahkan seperti menjadi “tradisi kekalahan” kita dalam bisnis.

Harta Adalah Amanah ALLAH Ta'ala. Jagalah Ia dengan Jiwa Ragamu.

Jika selama ini Anda bertanya: “Mengapa sih kaum Muslimin miskin? Mengapa sih aset ekonomi lebih banyak dikuasai oleh negara, etnis China, non Muslim, dan asing? Mengapa sih kita tak berdaya dalam mengembangkan pilar ekonomi? Mengapa Ummat Islam lebih sibuk rebutan zakat, infak, sedekah, daripada sibuk membangun kekuatan bisnis? Mengapa adanya bank-bank Syariah, seperti tidak mengubah keadaan sama sekali? Mengapa sejak merdeka tahun 1945 kaum Muslimin tidak memiliki aset ekonomi yang berarti?” Dan lain-lain pertanyaan serupa itu.

Nah, dengan melihat kasus BENTURAN BISNIS antara pedagang Muslim Tanah Abang dan PT. Mitra Khatulistiwa (PT. MK) di atas; insya Allah kita akan bisa memahami pertanyaan-pertanyaan di atas. Tentunya, setelah kita menelaahnya secara dalam, obyektif, dan berdasarkan fakta-fakta.

Dalam kasus di atas, banyak fakta-fakta yang sifatnya menjadi pengulangan atas apa yang selama ini terus menimpa kaum Muslimin di bidang bisnis. Hal itu bisa dianggap sebagai realitas DESTRUKSI bisnis kaum Muslimin. Karena salah satu tujuan Syariat Islam ialah “Hifzhul Maal” (menjaga harta), maka kasus ini layak disimak dengan sangat jeli.

Coba perhatikan uraikan berikut ini…

[1]. Di mata kaum Muslimin Indonesia, harta dianggap sebagai fitnah kehidupan, sehingga harus dijauhi, dieliminasi, diremehkan sedemikian rupa. Padahal harta itu seperti pisau, siapa yang memegangnya sangat berkesempatan memanfaatkan pisau itu untuk kepentingan-kepentingannya. Kalau harta di tangan orang Mukmin, akan dimanfaatkan untuk kebajikan; kalau harta di tangan orang kafir, sangat mungkin dimanfaatkan untuk hal-hal yang merusak kehidupan Islam. Maka itu tak heran jika Nabi Saw mengusir Yahudi dari Madinah, sebab Yahudi menguasi aset ekonomi yang kuat. Kalau tidak diusir, kehidupan Islam di Madinah akan terus terancam.

[2]. Banyak pedagang/pebisnis Muslim menjalankan usaha dengan pemikiran yang ultra tradisional. Ini adalah corak pemikiran tradisional yang sangat ekstrem. Di mata para pedagang/pebisnis Muslim itu, berbisnis semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Singkat kata, hanya untuk: “Mencari makan demi anak-isteri.” Pikiran bisnis kita baru sebatas urusan “makan anak-isteri”. Orang lain sudah berpikiran untuk membuat wisata luar angkasa ke Mars, kita masih berkutat soal urusan “makan anak-isteri”. Mungkin, sampai menjelang Hari Kiamat nanti, masyarakat kita masih berpikiran seperti itu. Na’udzubillah min dzalik. SEHARUSNYA: Saat berbicara tentang bisnis, kita juga bicara tentang eksistensi Islam dan Ummat di masa 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun ke depan. Ya, kalau otak kita hanya berhenti di urusan “makan-minum”, ya derajat hidup kita tak jauh dari sifat hewaniyah.

[3]. Dalam urusan bisnis, Ummat Islam seringkali hanya berpikir untuk MENCARI, MENCARI, dan MENCARI harta belaka. Kita jarang berpikir untuk MENGEMBANGKAN dan MENJAGA harta tersebut. Terutama faktor MENJAGA, kaum Muslimin sangat lemah. Kalau diibaratkan seperti orang yang susah-payah mencari binatang buruan. Dengan segala cara mengejar buruan itu, hingga nyaris tewas. Tetapi setelah mendapat buruan, dengan seenaknya binatang-binatang itu dibiarkan lepas pergi, atau dibiarkan diambil orang lain. Jadi selama ini kita lebih banyak SEEKING harta-benda, dan lupa melakukan PROTECTING terhadap harta itu. Hal serupa terjadi dalam masalah barang-barang tambang, sungai, danau, gunung, hasil lautan, hutan, perkebunan, dll. Kita hanya mencari dan terus mencari, dan sangat lalai untuk melindungi harta itu. Padahal Rasul Saw pernah bersabda, “Wa man qutila duna maalihi wa huwa syahid” (siapa yang terbunuh karena membela hartanya, dia mati syahid).

[4]. Dalam banyak hal orang non Muslim lebih tampak “pandai bersyukur” atas harta-benda yang Allah berikan kepada mereka. Tanda “kesyukuran” itu, mereka amat sangat ketat dalam menjaga harta-benda yang mereka dapatkan. Berikut ini adalah cara-cara yang biasa dilakukan non Muslim untuk menjaga harta mereka: Menggunakan kunci berlapis-lapis pada toko atau outlet mereka; menyewa preman untuk menjaga keamanan harta mereka; membayar polisi, perwira militer, atau menyewa anggota militer desertir, untuk melindungi aset-aset mereka; menyewa pengacara top untuk menghadapi tuntutan-tuntutan hukum; menyimpan senjata api secara ilegal; membayar media massa untuk menurunkan berita yang menguntungkan mereka; membuat rumah dengan pagar sangat tinggi, pagar dialiri listrik, menempatkan satpam untuk menjaga rumah, memelihara anjing sejenis buldog untuk menjaga rumah; membuat rumah yang kuat dengan pintu berlapis-lapis; membuat brankas kekayaan yang sangat kuat dan aman; dll. Lihatlah, betapa “amat sangat bersyukurnya” mereka dalam soal menjaga harta. Tentu saja, kita sebagai Muslim tidak perlu paranoid seperti itu, tetapi mencontoh sikap orang non Muslim dalam “sikap syukur” mereka atas harta titipan Allah, adalah sangat penting. Kita tahu, orang non Muslim sedemikian paranoid, karena mereka memang memuja harta-benda. Tetapi kita juga perlu menjaga harta yang kita miliki, sebagai wujud SYUKUR kepada Rabbul ‘Alamiin. Allah kan sudah berfirman, “La in syakartum la-azidannakum wa la in kafartum, inna adzabi la syadiid.”

[5]. Jika kita mengalami kezhaliman, penindasan, atau penghancuran aset ekonomi, kita selalu bersikap pasrah, menyerah, bicara kekeluargaan, atau berlindung ke aparat hukum yang tak bisa melindungi. Itu cara umum yang biasa dilakukan para pebisnis Muslim, sejak dahulu. Ya, akhirnya sikap lembek ini ketahuan semua orang. Maka kemudian titik kelemahan itu benar-benar mereka eksploitasi. Para pebisnis hitam merasa memiliki senjata pamungkas kalau menghadapi para pebisnis Muslim. “Gampang. Ini masalah gampang. Kita tekan saja mereka, kita sewa preman, atau kita bawa anggota polisi. Nanti mereka juga akan ketakutan. Atau kalau mau, kita bawa masalah ini ke pengadilan, lalu kita sogok hakimnya. Kita minta supaya kasus ini dibuat berlarut-larut, sampai para pedagang Muslim itu bosan sendiri. Halah orang Indonesia inilah, gampang banget ditipu. Gampang banget. Hi hi hi…” Begitu logika berpikir para pebisnis hitam itu. Mereka amat sangat tahu kelemahan mental kita, dan sifat kita yang memang penakut.

[6]. Dimanapun juga, orang yang berhati lemah, bermental buruk, dan penakut, tidak akan memiliki WIBAWA. Karena tidak punya wibawa, ya terima saja nasib terus dikadali oleh orang-orang berhati jahat. Bagaimana tidak akan dikadali, wong sikap kita lebih buruk dari kadal-kadal di selokan itu? Identitas kita memang Muslim, sebagai kaum “Khairu Ummah”, tetapi mental kita seperti kadal yang sangat penakut. Kita tidak pernah memberikan corak perlawanan yang berarti setiap berhadapan dengan kaum zhalim. Kita justru sangat menikmati retorika seperti ini: “Sudahlah, sabar saja. Orang sabar disayangi Tuhan. Biarlah mereka zhalim, nanti mereka sendiri yang akan kena batunya. Sudahlah kita pasrah saja, rizki itu tak tertukar kok. Tuhan tidak salah memberi rizki.” Ketika Nabi Saw memberi petunjuk agar kita sangat menjaga harta-benda yang dimiliki, karena semua itu kelak akan ditanyakan oleh Allah di Akhirat; kita malah menghambur-hamburkan harta agar menjadi makanan empuk orang-orang zhalim. Ya begitulah…

[7]. Celakanya, ketika kita sangat sembrono dalam membiarkan harta-benda milik kita dikuasai orang lain; pada saat yang sama kita AMAT SANGAT PELIT (BAKHIL) kepada saudara sendiri, sesama Muslim. Ada saudaranya butuh bantuan, butuh dukungan, butuh perhatian; kita selalu memiliki alasan untuk menolak memberi bantuan. Seakan otak kita penuh dengan ide-ide KEBAKHILAN tingkat tinggi. Orang Yahudi saja mungkin tidak seekstrem itu. Inilah ironisnya, kepada kaum non Muslim kita berikan apa saja yang kita miliki; namun kepada sesama Muslim, yang jelas-jelas sangat membutuhkan, kita justru amat sangat KORET bin PELIT. Masya Allah.

Demikian tulisan sederhana ini disusun. Sejujurnya, kesengsaraan kita dalam soal bisnis-ekonomi, bukan karena kebuasan Soeharto, bukan karena kebuasan Chinese overseas, bukan karena kebuasan Aburizal Bakrie dan lainnya, bukan karena kebuasan Yahudi, Freeport, Exxon, Chevron, Carefour, Netsle, Danone, Unilever, dll. Bukan karena itu, tetapi karena kelemahan mental kita sendiri sebagai Muslim. Kalau mental kita kuat, tangguh, dan pemberani; mana mungkin orang lain akan berani berbuat macam-macam.

Kita selama ini berbangga sebagai Muslim yang disebut “Khairu Ummah”, tetapi mental kita sendiri seperti kadal, sehingga selalu dikadali oleh orang lain. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Pesan terakhir: “Bila engkau sungguh-sungguh mencari harta-benda, maka engkau juga harus sungguh-sungguh melindungi harta-bendamu; kalau perlu engkau korbankan jiwamu demi menjaga hartamu, agar tidak jatuh ke tangan orang-orang anti Islam; semua itu engkau lakukan, sebagai bentuk rasa syukurmu kepada Allah Ar Rahiim.”

Berbenahlah saudaraku. Disini ada nasib kita, nasib anak-cucu kita, dan nasib agama kita. Kepada siapa lagi Ummat ini hendak mengadukan duka-citanya, kalau bukan kepadamu dan kepada Rabbul A’la Dzul Jalali Wal Ikram?

Wallahu A’lam bisshawaab.

[Abinya Syakir].


Berpikir Normatif Berpikir Strategis

Juni 11, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam Islam kita diajarkan tentang Kitabullah dan As Sunnah. Itu pasti. Namun selain itu kita juga diajarkan cara memahami keduanya sebaik-baiknya. Inilah yang dikenal sebagai METODE atau MANHAJ.

Memahami Islam tanpa manhaj, seperti seseorang yang telah disediakan aneka macam bahan makanan, seperti tepung, telur, gula, mentega, sayuran, daging, bumbu-bumbu, dll. tetapi dia tidak diberitahu satu RESEP pun untuk memasak bahan-bahan itu menjadi makanan yang enak.

Salah satu aplikasi dari manhaj ialah membedakan antara berpikir NORMATIF (fiqhiyyah) dan berpikir STRATEGIS (waqi’iyyah). Berpikir normatif berarti berpikir tekstual sesuai zhahir dari teks ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah; sedangkan berpikir strategis berarti menempatkan dalil-dalil itu sesuai konteksnya. Normatif berarti tekstual, strategis berarti kontekstual.

Bendera: Ini Sebatas Simbol Formalitas!

Contoh sederhana. Kita tahu, hukum seseorang yang mencuri dalam Islam, jika telah memenuhi syarat-syratnya, ialah hukum “potong tangan”. Hal ini sudah pasti, dan para ulama ijma’ mengakuinya. Lalu bagaimana jika di masyarakat kita ada pencuri, apakah akan kita hukum “potong tangan”? Hukum yang berlaku di negeri kita bagi pencuri bukan hukum Islam, paling hukum kurungan sekian bulan, atau sekian tahun.

Ketika kita tak menegakkan hukum Syariat terhadap pencuri, bagaimana hukumnya menurut Al Qur’an? Ya, dalam Surat Al Maa’idah ayat 44 disebutkan, “Dan siapa yang tidak menghukum dengan apa yang Allah turunkan, yaitu hukum Islam, mereka itu adalah kafir.”

Jika demikian, berarti selama ini kita kafir semua. (Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik). Karena kita menjadi saksi bahwa hukum yang berlaku atas pencuri bukan hukum “potong tangan”; kita tahu itu, kita tak mengubahnya, kita tak melawannya, atau tak menggantinya dengan hukum Islam.

Baca entri selengkapnya »


Hidup Ini Sangat Berharga!

Juni 10, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Iklan produk susu bayi Nutrilon, dengan gagah membuat tagline, “The life is an adventure!

Sepintas lalu iklan ini seperti benar, karena dipromokan dengan aktivitas anak-anak di luar ruang, yang kita semua pasti senang melihat aktivitas dinamis seperti itu (di luar konteks model pakaian yang dipakai anak-anak itu).

Tetapi sejatinya, iklan Nutrilon ini memiliki maksud terselubung, yaitu: MENGAJARKAN PRINSIP ATHEISME SEJAK KECIL. Atau minimal mengajarkan prinsip HEDONISME kepada masyarakat, sejak usia anak-anak.

Hidup di Bawah Naungan Allah: Sangat Berharga!!!

Hidup dalam Islam jelas bukan petualangan. Hidup dalam Islam adalah UJIAN, untuk mencapai hasil terbaik. Itulah yang disebut dalam Surat Al Mulk: Alladzi khalaqal mauta wal hayata li yabluwakum aiyukum ahsanu ‘amala (Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian siapa di antara kalian yang terbaik amalnya).

Hidup adalah ujian. Siapa yang sukses meraih banyak pahala, dan paling minimal memikul dosa, dia akan SUKSES di alam Akhirat nanti. Sebaliknya, siapa yang pulang kepada Allah dengan membawa segala murka-Nya, jelas dia akan binasa. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Hidup ini adalah ujian, untuk mencapai hasil terbaik di sisi Allah Ta’ala. Itulah makna hidup yang Islami dan benar. Bukan seperti iklan Nutrilon.

Dalam iklan itu disebut, “Hidup adalah sebuah petualangan!”

Coba Anda renungkan baik-baik iklan semacam itu. Benarkah hidup ini petualangan? Benarkah hidup ini harus dilalui dengan kalkulasi semacam para petualang yang notabene sebenarnya bermain-main itu? Singkat kata, benarkah hidup ini hanya bermain-main petualangan saja? Allahu Akbar.

Tidak diragukan, bahwa kegiatan outdoor, atau bahkan melakukan petualangan alam, itu ada manfaatnya untuk memperkuat kehidupan. Tetapi menjadikan PETUALANGAN sebagai metode kehidupan, amboi betapa mengerikan.

Dengan pemikiran ini kan manusia diajak berbuat apa saja yang dia sukai, atau sesuai dengan nafsu hewaninya, lalu tidak usah berpikir dampak dari kehidupan seperti itu. Masya Allah, ini adalah prinsip hedonisme sejati. Ini adalah prinsip yang dianut orang-orang atheis.

Hidup dalam Islam itu tinggi nilainya, luhur maknanya, kekal akibatnya. Kita tidak boleh main-main dengan hidup seperti ini. Bahkan dalam haditsnya Rasulullah Saw memberikan arahan, “Hendaklah berangkat pagi-pagi, hendaklah berbekal yang banyak, hendaklah menyiapkan perahu yang kuat.” Begitu kurang lebih. Mengapa kita harus berangkat pagi-pagi? Karena hidup yang akan kita arungi ini sangat panjang, berat, dan penuh godaan.

Kalau letoy, lebay, dan memble, jelas kita akan tersingkir dari ujian ini sebagai orang-orang kalah. Hidup ini sangat berharga dan sensitif. Jauh dari penilaian bahwa hidup ini just an adventure!

Tetapi, ide-ide yang berbau atheisme ini bukan hanya pada Nutrilon. Kalau Anda cermati pada iklan-iklan AQUA, disana ada statement-statement yang menjurus kepada atheisme itu. Misalnya, “Sehat itu dari diri sendiri. It’s on me.” Atau motto Aqua: “Kebaikan Alam, Kebaikan Hidup.

Saya coba kutip langsung dari situs resmi Aqua, kalimat-kalimat sebagai berikut: “Kebaikan alam di setiap tetes AQUA. AQUA adalah ciptaan berharga dari alam, yang memberikan kemurnian dan kandungan mineral yang alami dan terpelihara.” Ini dari situs resmi Aqua.

Coba lihatlah: Tidak ada satu pun signal yang menghubungkan air itu dengan Kemurahan Allah Ta’ala. Semua dikaitkan dengan alam. Alam sebagai sumber suplai air, dan ke alam pula mindset kita diarahkan.

Hidup ini adalah ujian. Kita harus berhati-hati, cermat, dan sungguh-sungguh menjalani hidup. Jangan sampai nalar kita bermigrasi ke ideologi hedonisme (yang meyakini bahwa hidup adalah petualangan), atau ke alam pikiran naturalisme (yang meyakini kemurahan alam, tanpa mengingat Kemurahan Sang Pencipta alam).

Sederhana ya…tetapi banyak menggelincirkan akal. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun.

Abinya Syakir.