Titik Balik Sebuah Langkah

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Hidup ini tidak selalu datar, “The life is never flat,” katanya. Namanya liku-liku, kelokan, turunan-tanjakan, serta jalan berbatu, pastilah ada. Semakin dinamis sebuah jalan kehidupan, semakin “seru” warna-warni di telapak kaki.

Seperti orang yang saban hari makan nasi. Saat lapar tiba, dia mengambil piring, menuju bakul nasi (bagi yang masih tradisionalis), menyentong nasi, mengambil lauk dan sayur, lalu “bismillah”…nasi pun disantap.

Telaga Bening di Atas Terjal Bebatuan.

Tetapi siapa boleh melarang kalau ada yang mau mengubah ritme. “Oh, tidak. Cara kami makan sekarang beda. Tujuan sama, tapi cara beda. Kami mula-mula makan sayur dulu yang banyak. Berkuah tak masalah. Setelah kenyang, kami mulai makan lauk-pauk. Kalau di lidah terasa tajam, kami gunakan nasi sebagai komplemen. Inilah cara kami makan, setelah bosan dengan cara lama.”

Bolehkah mengubah ritme itu…? Tentu boleh saja, asal tujuan memberi asupan zat-zat makanan untuk tubuh tercukupi dengan baik. Kata Nabi Saw. bahkan, “Sekedar cukup untuk menegakkan tulang rusuk.” Masya Allah.

Kadang puyeng sendiri kalau menikmati menu-menu berita… Kok isinya sedih melulu, putus-asa terus, wajah kehidupan serba suram. “Mana dong senyumnya?” kata tukang foto memberi arahan. “Ayo senyum yang manis!” begitulah permintaan tukang foto, sekaligus permintaan makhluk-makhluk di sekitar, ketika kita telah suntuk dengan aneka rupa kesedihan.

Daripada marah terus, ayo kita berbuat! Berbuat yang baik-baik dan manfaat bagi kehidupan kaum Muslimin. Berbuat merupakan obat terbaik penyembuh luka politik, luka pemikiran, luka sejarah!

“Rizki Allah tidak akan tertukar,” kata seorang dai, yang kini namanya mulai layu selayu belukar Putri Malu saat disentuh jari. Ya benar, rizki dan pertolongan Allah tidak akan tertukar. Mana yang sudah menjadi bagian Si Fulan akan sampai ke tangannya; begitu pula mana yang tertolak dari tangan Si Fulanah tak akan sampai kepadanya, meskipun ia ditangisi dengan air mata darah.

Allahumma laa mani’a li maa a’thaita wa laa mu’tiya li maa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. (Ya Allah, tidak akan tertolak apa yang Engkau berikan, dan tidak akan menerima apa yang Engkau tolak, dan tidak bermanfaat usaha seseorang untuk mengubah ketetapan di sisi-Mu).

Bila menuruti amarah, mungkin sampai tua kita akan marah. Marah kepada aneka konspirasi yang mendera kehidupan ini. Namun sayang, kalau umur kita habis dalam kemarahan itu.

Marilah kita berbuat yang baik, kongkrit dan manfaat; sekuat kemampuan dan daya; sesuai peluang dan momen yang ada; dengan niatan mencapai Keridhaan Allah Ta’ala. Kita bisa berbuat di bidang-bidang apapun yang memungkinkan, sejauh masih di ranah kebajikan dan takwa.

Biarlah mereka menabur fitnah dan bencana; kita kan selalu menanam kebajikan, terus menanam, selama masih sanggup menanam. Selebihnya, kita yakinkan hati akan kemurahan dan pertolongan Allah Ta’ala. “Gusti Allah mboten sare,” kata nenek Mbak Marsinah. Ya, hal itu harus diyakini!

Teruslah berbuat, sampai engkau memahami, bahwa hakikat kehidupan ini tak lain hanyalah beramal dan terus beramal. Sampai Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, bahwa kita akan istirahat ketika sebelah kaki sudah menginjak tanah Syurga. Masya Allah.

Di titik ini perlu ada perubahan. Tak guna terus marah dan mengeluh. Berbuatlah yang nyata dan manfaat. Selebihnya, kembalikan kepada Allah Rabbul ‘alamiin. Walhamdulillahi fi awwali wal akhir.

Abinya Syakir.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: