Berpikir Normatif Berpikir Strategis

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam Islam kita diajarkan tentang Kitabullah dan As Sunnah. Itu pasti. Namun selain itu kita juga diajarkan cara memahami keduanya sebaik-baiknya. Inilah yang dikenal sebagai METODE atau MANHAJ.

Memahami Islam tanpa manhaj, seperti seseorang yang telah disediakan aneka macam bahan makanan, seperti tepung, telur, gula, mentega, sayuran, daging, bumbu-bumbu, dll. tetapi dia tidak diberitahu satu RESEP pun untuk memasak bahan-bahan itu menjadi makanan yang enak.

Salah satu aplikasi dari manhaj ialah membedakan antara berpikir NORMATIF (fiqhiyyah) dan berpikir STRATEGIS (waqi’iyyah). Berpikir normatif berarti berpikir tekstual sesuai zhahir dari teks ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah; sedangkan berpikir strategis berarti menempatkan dalil-dalil itu sesuai konteksnya. Normatif berarti tekstual, strategis berarti kontekstual.

Bendera: Ini Sebatas Simbol Formalitas!

Contoh sederhana. Kita tahu, hukum seseorang yang mencuri dalam Islam, jika telah memenuhi syarat-syratnya, ialah hukum “potong tangan”. Hal ini sudah pasti, dan para ulama ijma’ mengakuinya. Lalu bagaimana jika di masyarakat kita ada pencuri, apakah akan kita hukum “potong tangan”? Hukum yang berlaku di negeri kita bagi pencuri bukan hukum Islam, paling hukum kurungan sekian bulan, atau sekian tahun.

Ketika kita tak menegakkan hukum Syariat terhadap pencuri, bagaimana hukumnya menurut Al Qur’an? Ya, dalam Surat Al Maa’idah ayat 44 disebutkan, “Dan siapa yang tidak menghukum dengan apa yang Allah turunkan, yaitu hukum Islam, mereka itu adalah kafir.”

Jika demikian, berarti selama ini kita kafir semua. (Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik). Karena kita menjadi saksi bahwa hukum yang berlaku atas pencuri bukan hukum “potong tangan”; kita tahu itu, kita tak mengubahnya, kita tak melawannya, atau tak menggantinya dengan hukum Islam.

Kemudian ada yang berpikir praktis, “Kalau negara tidak memakai hukum Islam, sudah saja kita laksanakan sendiri hukum itu. Kalau ada pencuri, nanti akan kita potong sendiri tangannya.”

Nah, apakah cara demikian menjadi solusi? Justru akan membuka pintu-pintu fitnah yang lebih luas lagi. Nanti manusia seenaknya sendiri akan menuduh orang lain mencuri, lalu segera menghukum dengan potong tangan. Pihak yang sudah dipotong tangan secara mandiri itu akan marah, dendam, lalu membalas dengan menghukum orang lain dengan potong tangan. Begitu seterusnya, sampai akhirnya hukum berjalan bukan membawa mashlahat, malah menjadi pemicu pertikaian.

Inilah contoh nyata sikap TEKSTUAL yang tidak melihat KONTEKS persoalan. Sikap tekstual demikian sangat berbahaya. Misalnya, ada ayat dalam Surat At Taubah yang artinya sebagai berikut:

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan . Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (At Taubah: 5).

Ayat ini kalau tidak dipahami sesuai konteksnya, akan membuat pertikaian sangat besar di tengah kehidupan manusia. Terutama di wilayah-wilayah yang kaum Muslimin minoritas di dalamnya. Dengan ayat ini, kaum Muslimin akan terus mengobarkan perang dimanapun mereka berada. Masya Allah, tidak dibayangkan bagaimana akibatnya jika hal itu terjadi.

Bahkan ayat itu kalau diterapkan secara tekstual di Indonesia, juga akan menjadi pengobar peperangan antar komunitas Muslim dengan non Muslim. Bahkan bisa jadi, kaum Muslim yang terlibat dalam praktik kemusyrikan, bisa juga menjadi sasaran serangan, pembunuhan, penangkapan, pengintaian, dll.

Pada ujungnya nanti, agama kita akan menjadi DINUL QITAL, bukan DINUR RAHMAH, seperti yang kerap disebut sebagai Rahmatan Lil ‘Alamiin itu.

SOAL MENGHORMAT BENDERA

Polemik yang akhir-akhir ini muncul ialah soal menghormat bendera merah-putih. Sebagian media Islam, menyebut urusan menghormat bendera ini sebagai perbuatan syirik yang bisa membawa pelakunya menjadi musyrik.

Beberapa artikel bisa dirujuk tentang itu, antara lain: Sekolah Juga Tolak Baca Pancasila dan Berkeyakinan Hormat Bendera Bagian dari Pembatal Iman; Hormat Bendera, Kilasan Sejarah dan Hukumnya. Dan ada beberapa artikel serupa itu, tetapi dua ini yang paling penting.

Disini ingin kita tunjukkan bedanya BERPIKIR NORMATIF (tekstual) dan BERPIKIR STRATEGIS (kontekstual). Sebab selama puluhan tahun kaum Muslimin di Indonesia terus didera perbedaan pendapat yang tidak perlu, justru karena tidak bisa memilah mana yang bersifat normatif dan mana yang strategis. Maka dari itu ada sebagian ulama menyusun kitab, Fiqhul Waqi’ (Fiqih Realitas). Karena berbahaya kalau Islam dipakai tidak sesuai konteks masalahnya.

Mari kita lihat masalahnya:

[1]. Kita anggap hukum menghormat bendera adalah seperti Fatwa Lajnah Da’imah Saudi. Perbuatan menhormat bendera termasuk haram, karena bid’ah, mencontoh perbuatan orang kafir, dan membuka jalan ke arah kemusyrikan. Singkat kata, menghormat bendera adalah HARAM!

[2]. Di Indonesia ini sangat banyak kaum Muslimin yang masih menghormat bendera, karena mereka adalah: anggota TNI, pegawai PNS, guru-guru, anak sekolah dari SD, SMP, dan SMA, anggota DPR/DPRD, serta siapa saja yang masih menghormat bendera. Kalau mereka melakukan perbuatan itu, apakah iman mereka batal? Atau apakah mereka menjadi musyrikin seperti orang Hindu, Budha, Shinto, dll.? Mohon dijawab pertanyaan ini secara jujur. Apakah yang menghormat bendera itu divonis keluar dari Islam, dan putus hubungan antara kita dan mereka.

Coba Anda tanya kepada ulama manapun di dunia, termasuk ke Lajnah Da’imah, apakah akibat menghormat bendera membuat manusia keluar dari Islam? Tolong, media-media Islam menanyakan masalah itu, agar kita tidak gegabah dalam membuat berita. Sebab ini menyangkut nasib kaum Muslimin, jutaan Ummat yang saat ini masih menghormat bendera.

[3]. Hampir bisa dipastikan, bahwa tidak ada pembahasan ulama yang mu’tabar yang mengklaim bahwa menghormat bendera itu termasuk bagian dari Nawaqidhul Iman (pembatal iman). Salah satu pembatal iman adalah kemusyrikan. Nah, apakah praktik menghormat bendera itu sudah pada taraf kemusyrikan? Misalnya orang yang hormat bendera itu meyakini bahwa bendera adalah tuhan mereka, sesembahan mereka, tujuan ibadah mereka, pengabul doa mereka, pemberi syurga dan neraka? Kalau keyakinannya sudah syirik akbar seperti itu, bisa jadi mereka musyrik. Tetapi masalahnya, apa ada orang Muslim di Indonesia yang menyembah bendera seperti itu?

[4]. Sebagian besar kaum Muslim Indonesia, mereka menghormat bendera karena FORMALITAS, atau PROSEDURAL, atau PROTOKOLER. Sebagian besar seperti itu. Mungkin ada juga yang sudah gila, dengan menganggap bendera sebagai pujaan dan sesembahannya. Na’udzubillah min dzalik. Tetapi sebagian besar bersikap karena formalitas. Andaikan dalam prosedur upacara bendera, tidak ada hormat-hormatan begitu, mereka juga akan diam saja.

[5]. Untuk mengetes apakah akidah Ummat Islam sudah sesat atau tidak terkait menghormat bendera ini, caranya mudah. Tanyakan saja kepada yang menghormat bendera itu: “Apakah Anda yakin bahwa kalau menghormat bendera, hidup Anda akan sukses? Dan kalau tidak hormat bendera, hidup Anda akan binasa?” Kalau dia mengatakan YA, berarti orang semacam ini telah SESAT, melakukan bid’ah, bahkan bisa menjadi musyrik.

[6]. Saat SMP di Malang, guru sejarah kami, seorang wanita, penganut Kristen Advent. Dia dikeluarkan dari sekolah, karena setiap upacara bendera tidak mau menghormat bendera. Hal ini menjadi pembicaraan luas di kalangan orangtua murid. Saya tahu itu dari informasi ayah. Ternyata, di kalangan Advent pun, menghormat bendera dipersoalkan.

[7]. Bendera sebenarnya adalah benda mati. Dalam Islam, benda mati tidak boleh diyakini memiliki kesaktian, kharisma, kekuatan, tuah, dll. Begitu pula dengan bendera. Saya yakin, ketika Ummat Islam mencuci bendera di rumah masih-masing, mereka tidak meyakini bahwa bendera itu punya tuah. Namanya juga hanya selembar kain. Tetapi ironisnya, Pemerintah Kerajaan Saudi sering membagikan potongan Kiswah (penutup Ka’bah) ke tokoh-tokoh penting di dunia Islam. Nah lho, untuk apa potongan Kiswah itu dibagi-bagi? Ia benda mati juga kan?

Pada akhirnya, yang dikehendaki dari tulisan ini, bukan untuk melestarikan tradisi menghormat bendera. Bukan sama sekali. Ya, fatwa yang disebut Lajnah Da’imah, di mata kami sudah sangat mencukupi.

Tetapi maksudnya, cobalah bersikap BIJAKSANA dalam kasus seperti ini. Lihatlah segala sesuatu sesuai konteksnya. Dan jangan kita sebut menghormat bendera sebagai pembatal keimanan. Coba pikirkan, bagaimana kalau bendera itu bertuliskan kalimat Syahadat, “Laa ilaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah”? Apakah yang menghormat akan disebut musyrik?

Dalam salah satu perang di masa Shahabat, para pemegang panji Tauhid berguguran. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair Ra, Ja’far bin Abdul Muthalib Ra dan Abdullah bin Rawahah Ra. Mereka terus berjuang menegakkan panji-panji Tauhid sampai titik darah penghabisan. Itu menandakan, bahwa menghargai simbol Tauhid, misalnya dalam bentuk panji-panji, dikenal dalam Islam. Padahal panji-panji itu tentu saja benda mati.

Dan lagi, yang terpenting, di masyarakat ini masih jutaan Muslim yang melakukan penghormatan kepada bendera merah-putih. Tidak mungkin mereka akan disebut musyrikin atau batal imannya. Tolonglah bersikap bijaksana.

Silakan sebutkan hukum menghormat bendera begini dan begini, sesuai Syariat Islam. Tetapi jangan disebut hal itu sebagai pembatal keimanan. Itu berlebihan sekali. Dapat dipastikan, sebagian besar Muslim Indonesia menghormat bendera lebih karena tradisi, protokoler, atau formalitas. Tak lebih dari itu. Hampir sulit ditemukan ada Muslim Indonesia yang hidupnya memuja, menyembah, dan mengabdi kepada bendera.

Inilah yang dimaksud berpikir normatif dan berpikir strategis. Norma hukum Islam adalah sumber tata-nilai setiap Muslim; lalu metode dibutuhkan untuk menerapkan tata-nilai itu dalam kehidupan sosial; sehingga hasilnya menjadi MASLAHAT, bukan MAFSADAH.

Satu solusi kongkrit yang mungkin bisa diterima semua pihak. Kalau nanti ada upacara bendera, sebaiknya bendera sudah dikibarkan sebelum upacara. Jadi, dalam upacara itu sendiri bisa diisi acara-acara lain, tanpa prosesi pengibaran dan hormat bendera. Ini bisa dicoba, kalau mau!

Demikian, semoga bermanfaat. Allahumma amin. Wallahu A’lam bisshawaab.

[Abu Syakir].

Iklan

4 Responses to Berpikir Normatif Berpikir Strategis

  1. syuaibbinsholeh berkata:

    Tapi saya tetap dukung KH. Kholil Ridwan satu-satunya ulama MUI yang konsisten berani melawan arus penguasa. Seandainya boleh, saya ingin menjuluki beliau dengan gelar “Panglima Besar Umat Islam Indonesia dalam Perang Pemikiran”

  2. Anonim berkata:

    Saya juga mendukung fatwa tersebut tinggal bagaimana sosialisasinya,
    bukankah acara 7 hari & 40 harian orang meninggal juga karena
    sudah tradisi? Karena ilmu maka kita bisa meninggalkan tradisi tsb
    meskipun sampai sekarang masih ada saja yang melanggengkan & ngeyel
    kalo dibilangin. Kembali ke soal bendera, kabarnya di beberapa
    sekolah sudah ada yang meniadakan upacara bendera, Alhamdulillah semoga istiqamah, meskipun sulit&sangat sulit pastinya.
    Setahu saya upacara tsb hanya membuat pingsan sia-sia orang yang nggak kuatan. (nggak ada nilai ibadahnya)
    Saat di sekolah saya termasuk yang sering mundur (kunang-kunang).
    Kalo dipikir-pikir kurang kerjaan banget, pagi benderanya dikerek naik, siang/sorenya diturunin lagi buat minggu depan, begitu seterusnya. Ada nilai ibadah apa disitu? Pagi-pagi dijemur setengah jam nggak tahu apa hasilnya.

  3. […]   Gambaran kehati-hatian bunda Tatty dalam menyanyikan sebuah lirik lagu juga tergambar di novel Keydo. Di paragraf akhir halaman 303, Kinang menolak tawaran Keydo untuk menyanyikan lagu ‘You Light Up My Life’, ‘You are My Everything’, atau ‘Bulan Tolonglah Beta’ karena lagu itu menurut Kinang musyrik. Sekali lagi, pembaca belajar untuk tidak meremehkan departemen lirik dalam sebuah konstruksi lagu. Lirik memang bukan hanya pewarna nada. Pesan di dalamnya tak jarang justru menjadi nilai utama dari sebuah sajian musikal. Coba cek tautan berikut. Di sana dipaparkan bagaimana lagu yang dibawah Justin Bieber justru menyimpan pesan tertentu. Entah itu disengaja atau tidak, kenyataannya demikian pentinglah si lirik itu. Karenanya, saya juga kadang mengganti lirik yang kiranya tidak layak dilafalkan dengan kalimat lain yang sevokal. Contohnya ketika saya menyanyikan lagu Stay Away milik Nirvana. Di akhir lagu itu, Kurt Cobain mendendangkan lirik berbunyi ‘God is gay’. Meski sudah tidak meyakini esensi dari pernyataan itu, tetaplah rasanya enggan menyebutkan kalimat itu. Kalimat ‘try to stay’ selalu saya gunakan untuk mengganti lirik aslinya. Selain masih enak dinyanyikan (karena hampir tidak mengubah susunan komponen huruf vokalnya), lirik baru itu juga sudah punya arti yang lebih aman. Namun kadang saya tetap menanyikan lagu-lagu yang sarat dengan F words, karena toh konteksnya juga menempatkan lirik sebagai bagian dari musik yang dibebaskan dari belenggu nilai. Saat bunyi jreng dibunyikan misalnya, bunyi itu tidak memiliki arti khusus yang mengikat, malah multitafsir. Demikian pula dengan nyanyian ‘nanana’ atau bahkan kata ‘yeah’ hingga kata ‘anjing’ sekalipun. Semua tentu bergantung pada pendengar dan pelantun yang menginterpretasikan makna sebuah lirik. Artikel menarik yang mengajarkan saya perbedaan berpikir secara tekstual dan kontekstual bisa teman-teman akses disini. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: