Kadar Akal Orang Indonesia

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti telah saya sampaikan, bahwa saat ini saya sedang memantapkan tekad untuk meninggalkan acara-acara berita media sekuler, baik TV, koran, atau majalah. Ini telah saya lakukan dan alhamdulillah dampaknya sangat baik.

Namun kemarin saat berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Timur, saat makan di kantin, secara tak sengaja saya melihat dan mendengar siaran berita TV. Beritanya tentang Ruyati yang meninggal dihukum mati di Arab Saudi. Saat melihat koran dinding, berita tentang itu ada juga. Marak pula. Alamaakkk…

Tapi ada satu hikmah menarik dari kejadian yang tak disengaja ini. Sekaligus kejadian ini untuk kesekian kalinya menguatkan TESIS selama ini, bahwa acara-acara berita di TV atau koran itu, lebih banyak merusak otak daripada menyehatkan kehidupan manusia. Saat saya berbincang dengan seorang dosen senior, dari Jurusan Sastra Arab Universitas Malang (dulu IKIP Malang), yang kebetulan juga ada di pesantren itu; beliau membenarkan TESIS tersebut. Bahkan beliau sudah menjalankannya.

Berita Media Sekuler Membusukkan Akal Manusia.

Singkat kata, “Berita TV atau koran itu, hanya nggarai ngelu” (maksudnya, hanya membuat kepala pening). Untuk lebih jelas melihat posisi kaum wartawan media-media sekuler, silakan baca tulisan ini: 13 Kelebihan WTS Atas Wartawan Media. Tulisan semacam ini perlu, agar menjadi kritik bagi media-media perusak akal itu.

Kembali ke kasus Ruyati…

Disini secara cermat kita bisa melihat betapa bobroknya media-media sekuler itu; betapa kacaunya akal mereka; betapa rendahnya nalar dan analisis mereka. Itu pasti.

Apa buktinya?

Saat membahas isu Ruyati yang dihukum pancung itu, mereka mendesak supaya Pemerintah RI memutuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi. Saya hanya tertawa saja merenungkan IDE GILA luar biasa itu. Kok ada manusia yang sangat katrok, sekatrok-katroknya, yang punya ide konyol seperti itu.

Maaf, beribu maaf, harus dikatakan kata-kata kasar disini. Sebab, tak tahu lagi bagaimana menyebut kedegilan pikiran wartawan-wartawan bengal dan keji itu. Mohon ampunkan aku…

Mari kita lihat masalahnya…

[1]. Percayakah Anda, bahwa ide MEMUTUSKAN HUBUNGAN DIPLOMATIK itu merupakan ide dari masyarakat luas di Indonesia? Percayakah Anda? Pasti, itu adalah ide dari wartawan-wartawan otak kotor, atau para politisi, misionaris, kaum konspirasi, LSM “tadah hujan”, dan sejenisnya. Itu bukan ide asli masyarakat, tetapi ide orang-orang yang moralnya sudah habis tandas itu.

[2]. Percayakah Anda, bahwa MEMUTUSKAN HUBUNGAN DIPLOMATIK dengan Saudi merupakan solusi terbaik dalam persoalan ini? Percayakah Anda bahwa tidak ada solusi lain yang lebih beradab, selain itu? Pasti, sebagai manusia berakal, kita bisa mencari 1001 solusi lain, selain memutus hubungan diplomatik.

[3]. Tahukah Anda, apa saja akibat yang akan terjadi, jika Indonesia memutus hubungan diplomatik dengan Arab Saudi? Tahukah Anda, apa saja akibatnya? Jika itu terjadi, sebagian akibatnya: Bangsa Indonesia tak akan bisa Haji dan Umrah ke Tanah Suci, karena untuk kesana kita harus punya paspor. Untuk punya paspor, harus punya hubungan diplomatik; bangsa Indonesia akan kehilangan ratusan ribu pekerjaan sebagai TKI, TKW; bangsa Indonesia akan kehilangan peluang investasi, bisnis, beasiswa sekolah, kerjasama diplomatik, bantuan sosial, bantuan masjid, dll. Anda bisa sejauh itu memahami dampak pemutusan hubungan diplomatik ini?

[4]. Kalau Indonesia benar-benar putus hubungan diplomatik dengan Arab Saudi, kira-kira seperti apa akibatnya? Apakah nilai kerugian itu lebih kecil dari jiwa seorang Ruyati? Bukan bermaksud meremehkan jiwa Bu Ruyati, tetapi di Indonesia ini kan “harga nyawa” sangat murah. Orang bunuh diri, pengguran kandungan dan pembuangan mayat bayi, mati karena narkoba, mati karena pembunuhan, mati kecelakaan di jalan, mati karena kapal tenggelam, mati kelaparan, mati karena penyakit, mati ditembaki sebagai teroris, dan cara-cara mati lainnya; kan sangat banyak tuh. Kalau tak salah, setiap tahun orang mati di jalan raya di Indonesia karena kecelakaan bisa mencapai 100.000 jiwa. Kalau Indonesia konsisten, harusnya jiwa-jiwa manusia yang ada ini disayang-sayang. Kalau perlu setiap jiwa di Indonesia ini diberi ASURANSI yang nilainya setara dengan pemutusan hubungan diplomatik dengan Saudi.

[5]. Andaikan katakanlah, Saudi bersalah telah menghukum mati Ruyati. Maka pertanyaannya, “Siapa yang paling  bersalah tentang segala masalah yang timbul akibat pengiriman TKW ini?” Apakah Saudi, atau rakyat dan Pemerintah Indonesia sendiri? Posisi Saudi dalam hal ini sebagai apa? Sebagai SUPLIER atau DEMAND? Kan posisi mereka sebagai pemakai TKW. Kalau misal di Indonesia tidak ada pengiriman TKW, tak akan terjadi masalah seperti itu. Jadi, sumber masalahnya itu di Indonesia sendiri, di diri Pemerintah Indonesia yang tak bisa memberi pekerjaan kepada warganya; dan di diri rakyat Indonesia yang tidak kreatif dalam mencari pekerjaan, sehingga mau menjadi BABU di negeri asing. Ini kan sumber masalahnya. Kalau kita mau terima gajinya, mau dong terima akibatnya! Itu gentleman namanya!

[6]. Ada yang bilang, “Selama ini Pemerintah Saudi tidak memberi hak-hak hukum secara baik ke TKW asal Indonesia, sehingga mereka selalu kalah dalam persidangan.” Okelah, anggap Pemerintah Saudi curang dalam soal hukum, sehingga menjatuhkan hukuman terlalu berat ke TKW Indonesia. Kalau tahu begitu, lalu apa saja dong pekerjaan KBRI di Saudi sana? Apa saja kerjaan  konsulat RI disana? Apa kerjaan para pembela hukum asal Indonesia? Seharusnya, mereka bisa mencontoh Filipina yang gigih membela hak-hak hukum warganya. Aneh sekali, kalau sudah kalah di pengadilan, baru nyalah-nyalahkan aturan hukum orang lain. Aneh bin ajaib. Begitu bobroknya otak kita, sampai ingin mencampuri aturan hukum bangsa lain.

[7]. Begini sajalah wahai bangsa Indonesia,  kan kasus-kasus TKW/TKI ini sudah banyak. Fitnahnya ya banyak, ruwetnya bukan main. Begini sajalah. Bagaimana kalau kita hentikan saja pengiriman TKW/TKI ini, selama-lamanya? Kalau perlu kita hentikan semua pengiriman TKW ke semua negara asing. Itu kalau mau. Bagaimana setuju kah? Saya sih senang dengan ide itu, agar nanti tidak ada fitnah macam-macam. Causa prima-nya itu ya pengiriman TKW tersebut. Ayolah kita hentikan saja. Daripada TKW Indonesia menjadi BABU di negeri orang, lebih baik mereka bekerja  menjadi PRT di rumah Pak SBY, Pak Budiono, dan bapak-bapak pejabat lainnya. Saya yakin para pejabat yang terhormat akan bersedia menampung para TKW itu, sehingga mereka tak perlu kena hukum macam-macam di negeri orang. Bagaimana, setuju? Setuju kan Pak SBY?

[8]. Ratusan ribu TKW asal Indonesia, kalau nanti jadi ditarik semua dari luar negeri, saya usulkan agar mereka bekerja di media-media TV, bekerja di koran-koran, majalah, dan aneka media lain. Ya, wartawan-wartawan itu kan “berhati suci”, “sangat peduli”, “sangat jujur”, “sangat pengasih”, “sangat bertanggung-jawab”, “sangat pro penderitaan kaum wanita”, “sangat cinta tanah air”, “sangat cemburu dengan kesengsaraan rakyat”, dan sangat-sangat “hebat” lainnya. Nanti, media-media nasional yang ada selama ini perlu menyediakan penampungan besar untuk mempekerjakan para TKW yang ditarik dari luar negeri ini. Ya, kami percayalah kepada media-media itu. Mereka ini kan manusia “paling bermoral” di Tanah Air, sejak jaman Majapahit sampai menjelang turunnya Nabi Isa As nanti. Iya kan. Jadi, mereka berani melontarkan ide hebat, ya harus berani juga tanggung-jawab. Mudah kok, Pak, Bu!

Dari sini, kita bisa menilai bahwa kadar akal orang Indonesia sangat mengkhawatirkan. Dan parahnya, akal masyarakat kita dikendalikan oleh media-media massa yang notabene bodoh, culas, dan tak bermoral itu. Mereka hidup di atas pijakan kekufuran hati, kehendak, dan perbuatan. Na’udzubillah min dzalik kulluh.

Terus terang, kita perlu menyampaikan kritik semacam ini, sebab dewasa ini banyak penyamun-penyamun pengecut yang menebar teror opini dimana-mana. Dari kasus semacam ini, nanti ujungnya mereka melaknat Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, Ibnu Taimiyyah rahimahullah, dan lainnya. Aneh sekali, kok cara berpikirnya securang itu.

Baru-baru ini saya diberi buku berjudul sangat “membara amarah laksana muntahan bola-bola api kawah Merapi”. Kok ada buku dengan judul mengerikan seperti itu, “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahhabi”. Dari judulnya saja kita sudah tahu kalau ini masuk kategori buku sampah, tak berharga. Benar saja, setelah sekitar satu jam saya baca-baca, buku itu penuh dengan amarah segila-gilanya. Allahu Akbar. Aneh betul. Buku seperti itu disebut buku ilmiah.

Secara fundamental, buku ini sangat buruk. Disebut buku sejarah tidak, buku dakwah tidak, buku polemik bukan, buku  fiqih apalagi. Intinya, buku itu yang mengusung dendam lama kaum NU dan Shufiyah. Itu saja. Bolehlah disebut buku “Recycle Bin”, yaitu buku yang memuat memori-memori yang sepertinya sudah dihapus, tetapi di-restore lagi. Kalau dalam bahasa komik bisa diberi judul semisal, “Dendam Lama Si Buta dari Gua Hantu”.

Nah, seringkali muncul pikiran-pikiran aneh di benak masyarakat kita. Dari persoalan Ruyati,  nanti ditarik ke soal Kerajaan Saudi; nanti ditarik ke dakwah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab; nanti ke Ibnu Taimiyyah, nanti ke Khawarij, dan seterusnya. Allahu Akbar.

Singkat kata, masyarakat kita memang memiliki kadar akal yang kurang. Media-media tahu itu, maka mereka sepanjang waktu dan hari, terus memproduksi fitnah, kebohongan, agitasi, opini jahat, dan seterusnya. Masyarakat kita sudah lemah, masih dilemah-lemahkan juga, secara sistematik lagi. Nah, itulah “definisi Indonesia” saat ini. Intinya, orang lemah akal yang terus dibodoh-bodohi oleh media massa bodoh dan culas.

Oke, sampai disini dulu. Semoga ada guna dan manfaatnya. Allahumma amin.

[Abinya Syakir].

Iklan

5 Responses to Kadar Akal Orang Indonesia

  1. mailiza berkata:

    Setuju sm tlsn ustadz, sy juga malas nonton berita tv, sangat menyesatkn opini ƔªйǤ dibuat media2 sekuler itu

  2. abisyakir berkata:

    @ Mailiza…

    Hei, gimana kabar? Gimana kabar bayinya, sudah lahir belum? Semoga baik-baik selalu ya. Salam untuk suami dan keluarga. Wassalamu’alaikum warahmatullah.

    AMW.

  3. arya berkata:

    … tulisan ini kok sama….. isinya cacian.. makian dan luapan kemarahan seperti bola api dari gunung merapi.. lalu apa bedanya dengan yang buku tsb dan lain-lain tentang negeri Indonesia yang nota bene merupakan kemurahan Allah SWT.. yang dimata ente sudah tidak ada artinya… Lalu solusinya???? kalau begitu sama saja dengan wartawan dll… he he he ….. dunia..dunia…

  4. adearyazaya berkata:

    @arya
    Sadar ato gak sadar kamu dapt pengetauan dari yg kamu baca, so knpa? apa yang salah?
    kita hidup di indonesia,makan,minum,mati…
    Tpi emg bgtu kenyataan yang kita lihat…
    Bersyukurlah ada tlisan yang menggugah pengetahuan kita…
    so knapa gk buat tulisan tandingan aja? yang lebih asertif mungkin?dengan rasa sok ke intelekan kesopanan?
    Lihatlah moral bangsa ini?

  5. dyah_ummumaryam berkata:

    bismillaahirrohmaanirrohiim.
    assalaamu’alaikuum
    Masya Alloh,sy miris bin prihatin skali tulisn begini dianggap sm dgn kandgn buku tsb,sy ragu apkh org tsb sdh mmbc bku tsb / sdh.apakah kita tidak blh mrh saat media mencocok hidung kita,menggiring kita pd opini yg membusukkan akal?heran sekali sy …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: