Matinya Militansi Kita…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini kita hidup dalam situasi SERBA TAK MENENTU. Keadaan di sekitar kita penuh dengan gejolak, khususnya gejolak ekonomi, sosial, dan politik. Kondisi kehidupan kita serta tidak stabil. Para politisi dan birokrat sering mengatakannya, kondisi INSTABILITAS.

Dalam kondisi seperti ini, perubahan bisa terjadi secara mendadak, tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Bisnis yang direncanakan akan eksis setelah 3 tahun, ternyata bangkrut sebelum genap berusia 6 bulan. Proyek yang diharapkan selesai dalam 6 bulan, ternyata melar sampai 3 tahun, karena uangnya dibawa lari mandor proyek. Tanaman yang diharapkan panen saat anak-anak mulai masuk sekolah, ternyata gagal karena dimakan wereng dan keong emas. Begitulah…banyak kondisi-kondisi tidak menentu.

Harapan Manis yang Kian Sirna...

Semua ini terjadi ialah karena SISTEM KEHIDUPAN yang berlaku di sekitar kita sudah keluar dari jalur sebenarnya. Ibarat seperti kereta-api yang keluar jalur, lalu mbrasak-mbrasak ke kebun singkong, masuk sawah, atau menubruk tanggul-tanggul sungai. Seharusnya kereta berjalan di rel, tetapi malah keluar jalur. Akibatnya, terjadi kecelakaan berat.

Sistem kehidupan yang saat ini berkembang, semakin menunjukkan wajah aslinya. Itu bukan wajah kehidupan Islami, atau nasionalis, atau harmoni, atau natural, atau humanis, atau kehidupan maju. Tetapi ia memperlihatkan kedoknya sebagai SISTEM PERBUDAKAN modern. Bisa saja istilahnya maju, seperti “negara industri”, “pertumbuhan ekonomi tinggi”, “iklim investasi pesat”, “indeks saham gabungan mantap”, “cadangan devisi kuat”, dan seterusnya. Istilahnya keren, padahal hakikatnya PERBUDAKAN.

Apa benar ini perbudakan?

Coba saja kita lihat tanda-tandanya, misalnya sebagai berikut:

[=] Interaksi sosial antar manusia semakin gersang, karena setiap orang sibuk mencari uang. Nilai kesantunan, keramahan, sapa-menyapa, kunjung-mengunjungi, semakin sirna karena alasan “perburuan duit”.

[=] Banyak manusia rela mengorbankan agama dan moralitas; demi mencari uang, mencari kekayaan, memperbesar jumlah angka di rekening, dll. Artinya, uang telah dipertuhankan.

[=] Sebagian besar kita sulit membangun bisnis, karena tidak punya modal. Kantong-kantong tempat modal, benar-benar dijauhkan agar tidak tersentuh oleh kita. Kalau kita mau menyentuh, kita harus membuang moral/agama terlebih dulu, lalu melebur dalam kehidupan kaum pebisnis yang memuja “makanan, seks, dan fantasi”.

[=] Makanan yang kita konsumsi cenderung instan. Mulai makan, minum, lauk-pauk, sayuran, bumbu-bumbu, snack, dll. rata-rata instan, harus beli. Dan makanan itu dimasak dengan zat kimia tambahan, baik pewarna, perasa, pengental, pengawet, dll.

[=] Otak, perasaan, emosi kita sehari-hari dibanjur oleh berita media-media (khususnya media TV). Tetapi berita-berita itu tak mendidik, tak mencerahkan, tak memberi solusi, tak menolong atas kezhaliman, bahkan tidak adil dan cenderung suka berdusta. Hidup kita tidak dihargai oleh media-media itu.

[=] Kalau stress, kita telah disediakan aneka macam hiburan, antara lain: TV, bioskop, VCD, MP3, PS, game komputer, internet, ponsel, PC tablet, blackberry, facebook, tweeter, dll. Belum termasuk hiburan outdoor, seperti konser musik, dangdut, klub malam, cafe’, wisata kuliner, fashion, fotografi, dll. Inilah hiburan-hiburan semu yang dijejalkan ke kita selama ini.

[=] Saat ini lagi laku keras hiburan-hiburan yang bernuansa lawakan (joke). Lawakannya tidak cerdas, cenderung konyol, rendah standar moral, tetapi anehnya sangat disukai. Lawakan berlebihan ini lambat atau cepat akan menumpulkan kecerdasan, mengurangi rasa malu, serta melahirkan pikiran was-was yang aneh-aneh.

[=] Jika ada ceramah agama, amat sangat DIPROTEKSI. Tidak boleh bicara Jihad, Syariat Islam, nahi munkar, menentang kezhaliman, membuka kedok konspirasi, tidak boleh menentang misionaris, Yahudi, jaringan ekonomi China, IMF, Word Bank, dll. Bahkan diutamakan, pengajian itu haruslah lucu, ringan, tentang akhlak mulia; kalau perlu bertingkah badut seperti dai di TransTV yang suka berteriak “Jamaaaaaaahhhhhhh….. Alhamdu….lillahi!”

[=] Anak-anak disuruh sekolah, sebaik-baiknya. Tetapi sekolah itu ya ujungnya untuk cari kerja, alias cari duit juga. Nilai-nilai ruhani, idealisme, moralitas, sirna dari karakter pendidikan kita.

[=] Kehidupan politik, setali tiga uang. Kita berpolemik tentang demokrasi, penegakan hukum, gerakan anti korupsi, visi pemerintahan bersih, dll. Tetapi semua itu hanya omong doang dan membuat akal masyarakat tambah stress. Ya bagaimana lagi, wong semua itu memang pada akhirnya tidak mengubah apa-apa. Iya kan Pak politisi?

[=] Para pemuda-pemudi mau menikah semakin sulit. Mau poligami apalagi? Bakal dihujat ramai-ramai. Mau punya anak dibatasi, tidak boleh banyak-banyak. Kalau banyak, akan diteror oleh petugas-petugas kesehatan dan KB, seperti pengalaman yang menimpa isteri Ustadz Hartono Ahmad Jaiz.

[=] Orientasi masyarakat kita kini semakin aneh. Mau pengajian dan ke masjid, takut. Nanti dipengaruhi teroris, atau dijebak oleh aktivis NII. Mau aktif di Karangtaruna, disana sudah tidak ada orang. Mau jadi kader Pramuka, nanti diketawain. Mau ikut partai, semuanya oportunis, tidak ada yang idealis. Akhirnya mereka menjadi: suporter bola anarkhis, pengikut klub-klub black angels yang memuja setan, menekuni hobi hedonis, kecanduan pornografi, menjadi konsumen narkoba, kebut-kebutan di jalan, dll.

Situasi seperti ini mengarah ke SISTEM PERBUDAKAN. Di atas sistem seperti ini pasti akan muncul sekelompok kecil manusia yang sangat berkuasa, sedangkan yang lainnya hanya menjadi budak, obyek tertindas, atau sampah yang terbuang. Kondisi seperti ini lambat atau cepat, akan melahirkan bentuk PIRAMIDA SOSIAL. Dan itu sudah semakin nyata kini.

Dalam kehidupan seperti ini, posisi manusia semakin tidak dihargai. Manusia terus dilahirkan dan terus dilahirkan; tetapi ESENSI HIDUP mereka semakin jauh dari makna kehidupan insan yang sehat, beradab, dan produktif. Manusia terus “diproduksi” seperti pabrik membuat bonek; tetapi nantinya orang-orang ini akan menjadi slaves (budak) dari sistem yang ada.

Sampai ada yang mengatakan, bahwa ujung dari semua ini, kelak kita akan KEHILANGAN KEDAULATAN secara hakiki. Saat itu, kita akan kehilangan kebebasan untuk beragama, memilih profesi, memilih isteri, memilih posisi, bahkan kita akan dikejar-kejar hanya karena melakukan “kesalahan”, telah melahirkan anak. Kondisi ini akan terus mengarah kesana.

Kelak, orang-orang Indonesia ini akan memaki-maki, melontarkan sumpah-serapah, mengeluarkan sejuta laknat dan kutukan, terhadap sistem perbudakan modern. Hanya sayangnya, semua itu mereka lakukan, ketika dirinya sudah dikubur dalam tanah. Selagi hidup, mereka mati nyali, mati rasa, untuk menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Setelah mati, barulah mereka bergabung dengan “barisan mujahidin berani mati”. Ya, gimana tidak akan berani mati, wong sudah mati kok?

Dalam kondisi seperti ini, mari kita renungkan dialog kecil di bawah ini. Ini adalah dialog fiktif antara Budi dan Bedu. Silakan direnungkan!

BEDU: “Kehidupan kita semakin sulit. Masalah-masalah semakin banyak. Aku jadi pusing.”

BUDI: “Sama, Kang. Saya juga makin pusing. Kenapa ya ada situasi seperti ini?”

BEDU: “Kata orang, kalau ada asap, pasti ada api. Maksudnya, kondisi seperti ini pasti ada penyebabnya. Kira-kira apa ya penyebabnya?”

BUDI: “Saya pernah dengar. Katanya, kondisi ini dinamakan kehidupan LIBERAL di semua sektor. Ekonomi liberal, bisnis liberal, politik liberal, media liberal, budaya liberal, kehidupan keluarga liberal, bahkan agama liberal. Dalam sistem liberal, terjadi kompetisi terbuka. Siapa saja boleh ikut kompetisi, tapi harus siap menang atau kalah. Menurut pakar sejarah, sistem liberal itu pada akhirnya hanya akan memenangkan orang-orang KUAT saja. Sementara orang lemah, kere, melarat, miskin, kurang ilmu, tradisional, minder, mereka akan habis disapu sistem liberal. Singkatnya, sistem liberal ialah sistem yang ingin membenturkan antara gajah, harimau, badak, srigala, dengan kambing, kelinci, kucing, burung, dan sejenisnya. Kekuatan besar dan kekuatan kecil dicampur-aduk tak karuan. Nanti ujungnya, kekuatan gajah, singa, badak, dan sejenisnya yang menang. Begitu deh.”

BEDU: “Ya, sepertinya begitu. Pantas saja ada ungkapan, ‘Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin’. Rasanya, ungkapan itu tidak salah-salah amat. Jadi kesimpulan, Mas Budi bagaimana?”

BUDI: “Kesimpulan saya, kedaulatan hidup kita ini sudah dicabut. Kita sudah tak berdaulat lagi, tak ada yang namanya kemerdekaan. Kedaulatan ini sudah direnggut oleh kekuatan kaum LIBERAL itu. Mereka menguasai uang, politik, media, hukum, serta keamanan. Kita sudah tak punya apa-apa lagi.”

BEDU: “Kok, pesimis begitu?”

BUDI: “Bukan pesimis. Tapi ini kenyataan. Bagaimana lagi? Kang Bedu, ada ide?”

BEDU: “Kata para ahli, seseorang itu sudah mati, kalau dia BERHENTI BERJUANG. Kondisi seburuk apapun, tak apalah. Kita anggap itu tantangan perjuangan. Dan kita mulai perjuangan dari titik kesulitan yang suram itu. Kalau nanti kondisinya tambah buruk, kita perbaharui lagi perjuangan kita dari titik yang lebih buruk itu. Dengan demikian, kita akan selalu berjuang, meskipun tidak menang-menang. Bukankah Allah hanya melihat amal kita, bukan mencari hasil amal kita. Allah Maha Kaya, Dia tak butuh apa-apa dari kita. Toh, kalau kita nanti menang, itu juga dari Allah kan?”

BUDI: “Benar juga itu. Lalu kapan kita akan mulai berjuang?”

BEDU: “Dari sekarang saja. Tidak usah menunggu nanti.”

BUDI: “Apa sasaran perjuangan ini?”

BEDU: “Ya, harus kita hentikan SISTEM PERBUDAKAN yang diterapkan melalui konsep LIBERALISASI di segala bidang itu. Harus dihentikan. Kalau tidak, kita nanti akan mampus semua.”

BUDI: “Caranya?”

BEDU: “Ya, kita berharap akan lahir pejuang-pejuang Muslim yang ikhlas yang mau berjihad melawan sistem seperti itu.”

BUDI: “Siapa pejuang Muslim itu? Apakah kita sendiri, Kang Bedu?”

BEDU: “Wah, jangan saya deh. Saya ini orang lemah. Saya belum punya rumah. Motor masih kredit. Penghasilan naik-turun tak karuan. Saya ini orang lemah, orang miskin, rakyat kecil. Jangan saya lah. Biarkan kawan-kawan yang hebat, berilmu, bernyali, pejuanga sejati, yang akan memikul perjuangan ini. Saya akan membantu dengan doa, insya Allah.”

BUDI: “Waduh, kok gitu sih, Kang? Bagaimana kalau semua orang mengaku lemah semua? Nanti tidak ada deh yang berjuang.”

BEDU: “Entahlah, Mas Budi. Saya tak tahu harus berkata apa. Eh maaf, sebentar ada telepon masuk.”

(Dialog terputus sejenak. Bedu mengangkat HP Blackberry yang baru sebulan dibelinya di Mangga Dua. “Iya, Mama. Aku segera pulang. Tunggu sebentar, Sayang! Jangan gitu, Dong! Maaf, maaf, betul-betul maaf ya, Ma,” begitu sebagian isi percakapan Bedu dengan orang di ujung telepon satunya lagi).

BEDU: “Sampai dimana tadi dialog kita?”

BUDI: “Iya, kalau semua orang tidak mau berjuang, lalu siapa yang akan merubah keadaan?”

BEDU: “Kalau Mas Budi sendiri bagaimana? Apa mau berjuang dalam jihad yang mulia ini?”

BUDI: “Heemm…gimana ya?”

BEDU: “Gimana apanya, Mas?”

BUDI: “Ya, kalau saya mau jujur. Kondisi ekonomi saya tidak lebih baik dari Kang Bedu. Saya masih kuliah. Biayanya mahal. Adik-adik saya yang sekolah masih 3 lagi. Tahun depan ayah saya pensiun. Ibu hanya jualan kecil-kecilan di depan rumah. Bagaimana ya? Kecil peluang saya bisa ikut berjuang.”

BEDU: “Jangan begitu Mas Budi. Percayalah, Allah itu Maha Penolong. Dia pasti akan menolong hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang di jalan-Nya. Janganlah ragu, jangan bimbang. Berjuanglah di jalan Allah, Mas Budi pasti akan ditolong oleh Allah. Yakinlah Mas, yakin, yakin, yakin. Jangan ragu sedikit pun!!!”

BUDI: “Bagaimana kalau saya dan Kang Bedu berjuang bersama-sama, agar nanti Allah menolong kita semua. Jangan saya saja yang ditolong, tapi Kang Bedu juga. Bagaimana Kang?”

BEDU: “Ha ha ha…bisa saja Mas Budi ini berkelit. Anak-anak jaman sekarang memang pintar berkelit, seperti para politisi Senayan. Ha ha ha… Oke Mas, besok kita lanjutkan diskusi lagi. Saya masih ada isu-isu hot untuk didiskusikan. Oh ya, untuk kopi dan rokok, tolong Mas Budi bayarkan dulu ya!”

BUDI: “Oke Kang. Besok kita ketemu lagi. Jangan telat ya! Jam 09.00 sampai Zhuhur.”

BEDU: “Oke, thanks. Salam jihad! Assalamu’alaikum!”

BUDI: “Wa’alaikumsalam. Salam untuk Nyonya ya!”

BEDU: “Ya!!!”

Begitulah amalan Budi dan Bedu, sepanjang hari ngobrol dan diskusi tentang Ummat. Tetapi hanya diskusi doang, tanpa amal nyata. Apalagi komitmen perjuangan. Semua itu hanya sekedar “latihan” untuk menjadi manusia munafik di masa depan. Setiap hari mereka mencaci-maki politisi Senayan, tetapi jalan hidup mereka sebenarnya sedang menuju ke tempat yang mereka setiap hari memakinya.

Seekor kucing bernama Si Manis, akhirnya menjadi kurus, ogah makan, ogah bermain-main; karena setiap hari melihat tingkah Bedu dan Budi. Beberapa hari lalu, Si Manis mati karena tak tahan melihat matinya akal dan MILITANSI anak muda Muslim, yang diwakili sosok Budi dan Bedu yang pintar, cerdas, tetapi miskin amal nyata itu.

Alam pun berduka…karena akal sehat yang telah sirna. Alam menangis, meratapi kepergian manusia-manusia berhati mulia, para pahlawan. Bayi-bayi menjerit lebih keras, dalam tangisnya, karena saban hari harus melihat wajah manusia-manusia munafik. Amanah sudah diangkat, kejujuran kian terasing; pembelaan dibalasi pengkhianatan, sikap lacur dibalasi puja-puji dan jabatan. Kebaikan dikatakan keburukan, kemuliaan dihinakan; nafsu hewani dipamerkan, kezhaliman dilegalkan, simbol-simbol setan dikuduskan. Na’udzubillah wa na’udzubillah bi nashrillah min kulli dzalik.

Allahumma inna nas’aluka istiqamah fid dini wal iman, inna nas’aluka salamah wa ‘afiyah min fitnatil mahya wal mamaati, wa nas’aluka sa’adah fil hayah wa najatan minan naari wa su’il hisaab. Amin Allahumma amin.

[Abinya Syakir].

Iklan

3 Responses to Matinya Militansi Kita…

  1. Annas berkata:

    Kalo ditanya ‘apa amalan nyatamu?’ rasanya tidak bisa menjawab.

    Memang harusnya apa yg dilakukan Bedu dan Budi dkk yg tipis dompet, miskin pengaruh menurut pak AMW?

  2. abisyakir berkata:

    @ Annas…

    Syukran jazakumullah khair atas pertanyaan Antum. Intinya, pusat gerakan kita adalah mata air ilmu Syariat (ilmu yang merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah); lalu ada upaya memetakan masalah dan solusinya; lalu membangun kesatuan gerakan Muslim; lalu melaksanakan solusi (program yang telah dicanangkan) secara bertahap; lalu istiqamah melaksanakan amar makruf nahi munkar. Ya itu solusinya, dan untuk itu tidak memutlakkan harus tebal dompet dan punya pengaruh luas dulu. Kita bisa bermula dari kekuatan yang ada.

    Upaya gerakan perbaikan ini bisa mengikut wadah yang sudah ada, selama ia komitmen dengan Kitabullah dan Sunnah; atau membuat wahana baru dengan tetap mengacu Kitabullah dan Sunnah; karena semua yang mengacu Kitabullah dan Sunnah, mereka akan mau bersepakat dan saling kerjasama, kecuali manusia-manusia yang punya niat lain dalam perjuangannya (bukan ikhlas lagi).

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: