Bahaya Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW)

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di Tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama”. Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku ini selain memakai judul yang sangat kasar, semodel buku-buku karya orang PKI atau kaum atheis lainnya, di dalamnya juga pekat berisi fitnah, kebohongan, penyesatan opini, penyebaran akidah Syiah, upaya adu-domba antar Ummat Islam, dll. Banyak fakta-fakta bisa diungkap tentang kebohongan dan kecurangan Syaikh Idahram. Sangat ironisnya, buku itu justru diberi kata pengantar oleh Ketua PBNU, Said Agil Siraj.

Said Agil ini sepertinya sudah tidak sabar untuk memanfaatkan posisinya –sebagai Ketua PBNU- untuk menyerang para aktivis Islam. Belum juga lama dia menjadi Ketua PBNU, langsung terlibat menjadi promotor utama terbitnya buku adu-domba ini. Seharusnya Said Agil bermain cantik, sehingga ambisi permusuhannya kepada aktivis Islam tidak cepat kelihatan.

Makar Syiah/SEPILIS: Bukan Memperbaiki, Malah Menghancurkan!!!

Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi (SBSSW) ini sangat berbahaya kalau tersebar luas ke tengah masyarakat. Dilihat dari judulnya saja, tampak sangar, provokatif, dan berpotensi menjerumuskan kaum Muslimin dalam pertikaian tanpa kesudahan. Buku SBSSW ini tidak layak diklaim sebagai buku ilmiah. Bisa dikatakan, buku ini adalah buku adu-domba, yang ditulis oleh orang Syiah dan Liberal, dalam rangka membenturkan sekelompok Ummat Islam dengan kelompok lainnya.[1] Bahkan ia sudah masuk kategori buku Black Champaign.

Buku ini bisa memicu banyak bahaya di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin. Disini kita akan membahas sisi-sisi bahaya tersebut, antara lain sebagai berikut:

[1].  Buku ini memprovokasi masyarakat untuk membenci dan memusuhi apa yang oleh penulis disebut sebagai sekte Salafi Wahabi. Menyebarkan kebencian seperti itu jelas sangat dilarang dalam Islam. Dalam hadits Nabi Saw bersabda, “Al muslimu akhul muslimi, laa yazh-limuhu, wa laa yakh-dzuluhu, wa laa yahqiruhu. At taqwa hahuna (wa yusyiru ‘ala shadrihi tsala-tsata marrat). Bi hasbi imri’in minas syarri an yahqira akhahul muslim” (Seorang Muslim itu saudara Muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya dizhalimi, dan menghinanya. Taqwa itu disini –kata Nabi sambil menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang disebut berbuat jahat jika dia menghina saudara Muslimnya). [HR. Muslim].

[2].  Buku ini mengandung ajaran-ajaran RASIS yang sangat berbahaya. Penulisnya mengajak Ummat Islam memusuhi negara Saudi, para ulamanya, kaum santrinya, serta Pemerintahannya. Selain itu penulis buku itu juga mengajak memusuhi siapa saja, di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang mendukung paham Wahabi. Salah satu bukti sikap RASIS dari penulis buku ini ada di hal. 174. Disana dia mengatakan: “Tanduk setan itu berasal dari keturunan Bani Tamim. Sedangkan kita tahu bahwa, pendiri Salafi Wahabi itu juga berasal dari keturunan yang sama, yaitu Bani Tamim, sebagaimana gelar yang selalu dipakainya: Muhammad Ibnu Abdul Wahhab an Najdi at Tamimi. Jadi klop sudah. Bukan dibuat-buat.” (SBSSW, hal. 174). Dalam halaman yang cukup banyak penulis ini menghancurkan nama baik wilayah Najd, di Saudi. Salah satunya dia katakan: “Dari Najd timbul berbagai kegoncangan, fitnah-fitnah, dan dari sana munculnya tanduk setan.” (SBSSW, hal. 158).[2] Bukan hanya Bani Tamim atau penduduk Najd yang dilecehkan penulis, dia juga melecehkan orang Arab.

Dalam bukunya dia berkata, “Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal.” (SBSSW, hal. 224). Nabi Saw menyebut bahwa puncak fitnah itu ada saat kedatangan dajjal. Bahkan kata beliau, para Nabi dan Rasul selalu mengingatkan ummatnya tentang dajjal ini. Lalu kini, si penulis menuduh banyak orang Arab ‘lebih dajjal’ dari dajjal sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Berarti dalam hal ini penulis merasa lebih pintar dari Nabi Saw. Masya Allah. Banyak bukti-bukti sikap RASIS dari si penulis yang menyebut diri Syaikh Idahram ini. Dan sikap RASIS ini sudah menjadi ciri khas kaum Syiah dan penganut SEPILIS.[3]

[3].  Buku ini penuh kecurangan dan kebohongan. Penulis secara sadar mengacaukan akal para pembaca dengan data-data, kutipan, referensi, dll. Tetapi semua itu tidak dituangkan dalam suatu pembahasan ilmiah secara jujur. Contoh, ketika dia menyebutkan kekejaman kaum Wahabi di hal. 61-138, bab tentang, “Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama”. Disini yang diceritakan penulis hanya kekejaman, keganasan, kesadisan, serta angkara murka kaum Wahabi. Tetapi penulis tidak pernah sedikit pun mengakui bahwa semua itu merupakan bentuk KONFLIK POLITIK antara keluarga-keluarga Emir (bangsawan) di Jazirah Arab. Konflik seperti itu sudah terjadi sejak lama di Jazirah Arab, bahkan sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan oleh ibunya. Penulis ini juga hanya menghujat posisi Kerajaan Saudi, padahal yang melepaskan diri dari Khilafah Utsmani Turki bukan hanya Saudi. Disana ada Yaman, Bahrain, UEA, Qatar, Irak, Oman, Mesir, Yordania, Syria, dll. Kecurangan yang dibungkus kemasan ilmiah, tentu lebih berbahaya, sebab ia akan dikira sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.

Bahkan yang sangat menjengkelkan, penulis menutup mata sama sekali terhadap kebaikan-kebaikan masyarakat dan negara Arab Saudi. Padahal selama ini banyak sekali kontribusi mereka demi kebaikan hidup masyarakat Indonesia dan dunia, misalnya: penyebaran Mushaf Al Qur’an, pelayanan Haji-Umrah, beasiswa belajar, peluang kerja untuk ratusan ribu TKI/TKW, diplomasi politik, bantuan pembangunan masjid, madrasah, lembaga pendidikan, panti asuhan yatim piatu, perpustakaan, klinik kesahatan; bantuan sosial untuk korban bencana alam, bantuan keilmuwan, fatwa, bantuan pengajaran tenaga dosen, dll. Banyak sekali. Bahkan bisa dikatakan, “Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang lebih pemurah kepada bangsa Indonesia, selain Arab Saudi.” Coba saja Anda lakukan analisis independen dan obyektif; lalu buat perbandingan kontribusi semua negara-negara di dunia ini. Kemudian siapa yang paling pemurah dari negara-negara itu? Apakah Said Agil Siraj lebih pemurah dari Arab Saudi? Apakah Arifin Ilham dan Muamar Qadhafi lebih pemurah dari Arab Saudi? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[4].  Buku ini juga mempromosikan ajaran-ajaran Syiah. Banyak indikasi-indikasi yang membuktikan hal itu dalam buku SBSSW. Nanti akan kita bahas secara khusus tentang akidah yang dianut penulis (Syaikh Idahram). Salah satu contoh kecil, sangat halus, tetapi kelihatan. Perhatikan kalimat berikut ini: “Pada bulan Safar 1221 H/1806 M, Saud menyerang an Najaf al Asyraf, namun hanya sampai di As Sur (pagar perlindungan). Meskipun gagal menguasai An Najaf, tetapi banyak penduduk tak berdosa mati terbunuh.” (SBSSW, hal. 104-105). Tidak ada seorang pun Ahlus Sunnah yang menyebut Kota Najaf dengan sebutan Al Asyraf.[4] Hanya orang Syiah yang melakukan hal itu. Fakta lain yang menunjukkan bahwa si penulis berakidah Syiah adalah pernyataan berikut ini: “Dalam Islam, sedikitnya ada 7 mazhab yang pernah dikenal, yaitu: Mazhab Imam Ja’far ash Shadiq (Mazhab Ahlul Bait), Mazhab Imam Abu Hanifah an Nu’man, Mazhab Imam Malik bin Anas, Mazhab Imam Syafi’i, Mazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal, Mazhab Syiah Imamiyah, dan Mazhab Daud azh Zhahiri. Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.” (SBSSW, hal. 208). Demi Allah, Ahlus Sunnah di seluruh dunia Islam tidak akan ada yang mengatakan perkataan seperti ini. Perkataan seperti ini hanya akan keluar dari lidah orang-orang Syiah (Rafidhah).

Lihatlah, dalam perkataan ini dia mengklaim ada 7 madzhab dalam Islam, yaitu 4 madzhab Ahlus Sunnah, ditambah 2 madzhab Syiah (madzhab Ja’fari dan Imamiyyah) dan 1 madzhab Zhahiri. Pendapat yang masyhur di kalangan Ahlus Sunnah, madzhab fikih itu hanya ada 4 saja, yaitu madzhab Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik (Maliki), Imam Syafi’i (Syafi’i), dan madzhab Imam Ahmad (Hanbali). Kalau ada tambahan, paling madzhab Zhahiri. Itu pun tidak masyhur di kalangan Ahlus Sunnah. Lalu dalam buku SBSSW itu, si penulis Syiah berusaha membohongi kaum Muslimin, dengan mengatakan, bahwa dalam Islam ada sedikitnya 7 madzhab. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Bahkan madzhab Ja’fari dalam kalimat di atas disebut pada urutan pertama. Lebih busuk lagi, madzhab Syiah Imamiyyah yang merupakan salah satu sekte Syiah paling ekstrem, disebut sebagai madzhab Islam juga. Allahu Akbar!

Kalimat di atas juga mengandung kebodohan yang sangat telanjang. Coba perhatikan kalimat berikut ini: Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi. (SBSSW, hal. 208). Kalimat seperti ini hanya mungkin dikatakan oleh orang gila. Bayangkan, si penulis secara tegas mengklaim, bahwa madzhab Salaf itu tidak ada. Tetapi pada kalimat yang sama, dia mengakui bahwa imam-imam madzhab (seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad), termasuk bagian dari ulama Salaf. Si penulis bermaksud mementahkan eksistensi madzhab Salaf, tetapi saat yang sama dia mengakui bahwa imam-imam madzhab itu termasuk imam madzhab Salaf. Kalau dia jujur ingin mengatakan, bahwa madzhab Salaf tidak ada, berarti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hanbali juga tidak ada. Ya bagaimana lagi, wong mereka itu imam-imam Salaf kok. Si penulis itu mengakui, bahwa mereka adalah imam-imam Salaf.

Sangat disayangkan dalam hal ini, KH. Ma’ruf Amin, salah satu Ketua MUI, ikut mendukung buku ini. Padahal MUI sendiri pada tahun 1984 pernah mengeluarkan fatwa yang menjelaskan pokok-pokok kesesatan paham Syiah menurut Ahlus Sunnah, kemudian MUI meminta Ummat Islam mewaspadai sekte ini.[5] Bahkan KH. Ma’ruf Amin pernah diminta MUI untuk mengkaji tentang haramnya Nikah Mut’ah di kalangan Syi’ah.[6] Seharusnya beliau membaca secara teliti buku SBSSW itu, sebelum mempromosikannya ke tengah masyarakat. Kalau ingin membantah KH. Ma’ruf Amin ini, kita merasa tidak enak, sebab beliau termasuk ulama sepuh di negeri kita. Tetapi kalau melihat keterlibatan beliau dalam mendukung buku SBSSW itu, kita sangat menyesalinya. Bisakah disini dikatakan bahwa KH. Ma’ruf Amin ikut mendukung paham Syiah? Wallahu A’lam bisshawaab.

Semoga saja dukungan KH. Ma’ruf Amin ini hanyalah merupakan ketergelinciran seorang alim dan semoga ia segera dihapus dengan pernyataan bara’ah (berlepas diri dari buku SBSSW itu). Kalau beliau tidak melakukannya, secara pribadi saya akan menyebut beliau sebagai pendukung Syiah dan SEPILIS. Siapapun yang terlibat mempromosikan ajaran sesat (Syiah dan SEPILIS) tidak layak didoakan mendapat khusnul khatimah, karena promosi seperti itu bisa membuat ribuan kaum Muslimin mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[5].  Buku ini bisa memicu pertikaian besar di tengah kaum Muslimin. Mengapa dikatakan demikian? Sebab sang penulis tidak mengidentifikasi kaum Wahabi dengan ciri-ciri yang jelas. Dengan sendirinya masyarakat akan bingung memahami, Wahabi itu apa dan bagaimana? Perlu diketahui, yang mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah, bukan hanya dakwah Wahabi. Jamaah-jamaah Islam yang lain juga mengajarkan hal itu. Contoh, gerakan Ikhwanul Muslimin. Manhaj gerakan ini merujuk kepada Ushulul Isyrin (prinsip 20) yang diajarkan Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah. Dalam prinsip itu juga diajarkan tentang pentingnya Tauhid, buruknya syirik; pentingnya Sunnah, buruknya bid’ah. Bahkan ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah (DDII), Pesantren Hidayatullah, Wahdah Islamiyyah, dll. juga mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah. Begitu pula Majelis Mujahidin, Jamaah Ansharut Tauhiid, dan yayasan-yayasan dakwah Salafi. Jika masyarakat salah paham, mereka akan menyangka bahwa semua organisasi, lembaga, atau yayasan itu harus dibenci dan dimusuhi, karena mereka dianggap Wahabi.

[6].  Buku ini secara jelas telah mengajarkan prinsip-prinsip KESESATAN secara telanjang. Disini akan disebutkan beberapa pernyataan penulis. Coba perhatikan kalimat berikut ini: “Sesungguhnya Salaf tidak pernah sama dalam memahami berbagai masalah agama yang begitu komplek.” (SBSSW, hal. 201). Ini adalah jenis KESESATAN BESAR. Kalimat ini jelas meniadakan Al Ijma’ di kalangan para Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Padahal para ulama sudah sepakat, kalau suatu urusan telah menjadi ijma’ (konsensus) mayoritas Shahabat, hal itu menjadi dasar hukum yang kuat. Misalnya ijma’ Shahabat dalam memilih empat Khalifah (Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra, dan ‘Ali Ra) sebagai pemimpin Ummat. Ijma’ ini tidak diragukan lagi. Begitu pula ijma’ mereka dalam Jihad Fi Sabilillah, penulisan Mushaf Al Qur’an, menyatukan bacaan Al Qur’an, Shalat berjamaah di masjid, Shalat ‘Ied, Shalat Istisqa’, menyelenggarakan Zakat, Shaum Ramadhan, manasik Haji, dll. Apa saja yang dilakukan secara jama’i oleh Shahabat Ra, dan tidak ada pengingkaran mereka atas hal itu, ia adalah Ijma’ Shahabat.

Kalau dikatakan Salaf tidak pernah sama dalam segala masalah agama, otomatis mereka selalu berselisih dan berselisih. Disini mengandung dua tuduhan dahsyat. Pertama, penulis itu telah menuduh para Shahabat Ra bermental buruk, sehingga sulit menyatukan kalam.[7] Mereka selalu berpecah-belah, tak pernah bersatu. Kedua, penulis juga menuduh ajaran Islam sebagai biang perpecahan. Padahal secara hakiki, Islam mengajarkan prinsip Al Jamaah, yaitu persatuan Ummat. Bahkan ada ulama yang mengatakan, perpecahan adalah qurrata a’yun-nya syaitan.[8]

Kemudian, perhatikan kalimat berikut ini, “Siapa saja yang ahli atau telah memenuhi syarat dalam memahami teks-teks agama, dia berhak atas hal itu, tidak wajib mengikuti pemahaman Salaf seperti yang disangkakan Salafi Wahabi.” (SBSSW, hal. 205). Lihatlah betapa beraninya ucapan penulis ini! Dia begitu meremehkan kaum Salaf, dan merasa dirinya setara dengan Salaf. Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Sudah masyhur tentang kisah Imam Malik rahimahullah. Beliau pernah ditanya 40 pertanyaan, dan sebagian besar pertanyaan itu dijawab dengan kalimat, “Laa ad-riy” (aku tidak tahu). Hanya satu pertanyaan yang beliau jawab. Lihatlah, betapa sangat hati-hatinya Imam Malik dalam berfatwa. Padahal siapa yang meragukan pengetahuan beliau tentang Islam? Ajaran yang menyuruh Ummat Islam mengikuti jejak Salafus Shalih, bukanlah monopoli kaum Wahabi. Hal itu disebutkan dalam Al Qur’an, Surat At Taubah ayat 100.[9] Lucunya, si penulis dalam bukunya ternyata getol mengikuti konsep keilmuwan yang ditinggalkan para Salaf, setidaknya dalam soal riwayat hadits-hadits. Bisa dikatakan disini, “Tanpa peranan generasi Salaf, kita hari ini tidak akan memiliki ilmu apapun.”

Di halaman lain penulis SBSSW berkata: “Bagaimana mungkin mereka mengharuskan kita mengikuti madzhab Salaf, kalau namanya saja tidak ada? Sebab tidak pernah ada dan tidak pernah dikenal dalam sejarah peradaban umat Islam, apa yang dinamakan madzhab Salaf.” (SBSSW, hal. 207-208). Ini adalah puncak kebodohan si penulis. Memang dalam Al Qur’an atau As Sunnah, tidak disebutkan secara eksplisit “madzhab Salaf”. Tetapi kaum Salaf itu ada dan nyata. Kaum Salaf adalah para Shahabat Nabi, Khulafaur Rasyidin, Ahlul Bait Nabi, kaum Muhajirin, kaum Anshar, peserta Perang Badar, peserta Bai’at Ridhwan, dll. Begitu pula Imam madzhab fiqih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal; para imam ahli hadits, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ad Darimi, dll. Semua itu adalah kaum Salaf. Mereka ada dan nyata. Hanya orang-orang pandir yang akan mengingkari mereka.

Kita tidak perlu mencari-cari sebutan “madzhab Salaf” untuk mengikuti jejak mereka. Adanya eksistensi kaum Salaf yang merupakan generasi terbaik Ummat ini, itu sudah menunjukkan adanya manhaj Salaf. Seperti pernyataan kaum Badui yang masih bersih fithrah ketika ditanya tentang eksistensi Allah. “Adanya jejak kaki dan kotoran hewan, bisa menunjukkan adanya kafilah yang melintasi padang pasir. Begitu pula, adanya bintang-bintang di langit menunjukkan adanya Sang Pencipta alam semesta.” Adanya suatu kaum yang memiliki sifat-sifat tertentu, hal itu sudah membuktikan adanya manhaj kaum tersebut. Kalau kemudian manhaj Salaf hendak dibuang, jelas akan bubar agama ini. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Bagaimana bisa kita memahami Islam, tanpa metode yang dicontohkan kaum Salaf? Adapun bentuk mengikuti manhaj Salaf itu secara kongkritnya ialah mengikuti dan melestarikan kaidah-kaidah ilmiyah yang diwariskan kaum Salaf di bidang Al Qur’an, Tafsir, ilmu Hadits, Akidah, Fiqih, Ibadah, hukum Haad, Siyasah, Suluk, ilmu bahasa, sastra Arab, dll. Sejauh kita beragama mengikuti kaidah-kaidah ilmiah itu, berarti kita telah mengikuti Salaf. Dan kaidah-kaidah inilah yang selama ini hendak dihancurkan oleh para penganut SEPILIS.

[7].  Buku ini mengajarkan sikap kurang ajar kepada para ulama yang telah diakui oleh Ummat. Perilaku seperti ini sudah khas menjadi ciri kaum Syiah dan SEPILIS. Mereka tidak segan-segan menyerang Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Az Zuhri, bahkan melecehkan para Shahabat Ra. Salah satu bukti sikap kurang ajar ke ulama ialah perkataan penulis berikut ini: “Menurut hemat penulis, dalam masalah ini (yaitu soal apakah Al Qur’an itu makhluk atau bukan –pen.), Imam Ahmad lah yang keliru. Sebab Allah SWT secara terang berfirman dalam Al Qur’an, ‘Ma ya’tihim min dzikrin min robbihim muhdatsin’ (tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang muhdats/baru dari Tuhan mereka).” [QS. Al Anbiya’: 2]. Lihatnya betapa lancangnya si penulis dalam membantah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah! Dia merasa lebih pandai dari Imam Ahmad. Masya Allah. [10]

Di sisi lain, penulis ini dengan sangat lancang mengatakan: “Jadi benar apa yang disangkakan selama ini, bahwa ternyata Salaf yang mereka maksud, tidak lain dan tidak bukan, adalah Ibnu Taimiyah dan CS-nya.” (SBSSW, hal. 220). Begitu juga: “Sudah jelaslah, siapakah sebenarnya yang mereka ikuti, yakni Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahab dan CS-nya, yang mereka klaim sebagai ‘Salaf’.” (SBSSW, hal. 222). Menyebut ulama besar dengan kata “CS-nya” bukanlah adab manusia terpelajar. Ia hanya pantas dilakukan manusia-manusia otak kotor. Lebih buuk lagi si penulis mengatakan: “Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, tokoh pendiri Wahabi –sosok temperamental dan kejam yang telah membunuhi ribuan umat Islam semasa hidupnya-, hampir semua ulama yang hidup sezaman dengannya menganggap ajarannya sesat.” (SBSSW, hal. 223).[11] Penulis ini tentu saja tidak segan melecehkan ulama-ulama besar lain, seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Al Albani, Syaikh Ibnu Jibrin, Syaikh Shalih Fauzan, bahkan melecehkan dewan fatwa Saudi, Lajnah Da’imah. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa diharapkan dari penulis ini? Masih adakah kebaikan disana?

[8].  Dalam mengkritik gerakan dan paham Wahabi, penulis jelas-jelas menggunakan metode TAJASSUS alias mencari-cari kesalahan. Cara demikian biasanya dilakukan kalangan intelijen anti Islam, untuk mengadu-domba Ummat. Metode tajassus bukan metode ilmiah, tetapi termasuk metode khianat dalam ilmu. Metode tajassus pertama kali dikembangkan oleh Fir’aun dan Bani Israil, ketika mereka selalu mencari-cari kesalahan Musa As. Bahkan tajassus itu termasuk perbuatan haram. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa laa tajas-sasuu” (dan janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan). [Al Hujuraat: 12]. Di hadapan sikap tajassus, tidak ada seorang manusia pun yang selamat dari kesalahan. Namanya juga mencari-cari kesalahan; kalau tidak ketemu, ya dipaksakan agar tetap ada kesalahan. Dalam buku SBSSW itu penulis menyebut fatwa Syaikh Bin Baz tentang “bumi tidak berputar”. Di antara sekian banyak fatwa-fatwa Syaikh Bin Baz yang bermanfaat, sehingga Dr. Yusuf Al Qaradhawi pernah menyebut beliau sebagai Al Imamul Jazirah, ternyata oleh penulis diambil fatwa tentang “bumi tidak berputar ini” (hal. 220-221). Begitu pula penulis ini menyebut pendapat Ibnu Taimiyyah yang ganjil tentang “siksa neraka untuk orang kafir tidak kekal” (hal. 184). Pendapat-pendapat seperti ini bukan pendapat utama mereka. Ia adalah pendapat “recehan” di sisi sedemikian banyak pendapat-pendapat mereka yang berkualitas. Tetapi karena memang dasarnya benci, apapun kesalahan yang dijumpai akan dipakai untuk menyerang.

Salah satu yang lucu ialah ketika si penulis mengutip pandangan Dr. Said Ramadhan Al Buthi dalam bukunya, As Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah Laa Madzhab Islami. (SBSSW, hal. 27). Dengan dasar buku ini dia menuduh ulama-ulama Wahabi tidak mengikuti madzhab apapun. Padahal para ahli-ahli Islam sudah mafhum, bahwa ulama-ulama Saudi, termasuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, mereka itu pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Ini sangat nyata dan jelas.

Dalam soal “Al Qur’an adalah Kalamullah” jelas-jelas mereka mengikuti akidah Imam Ahmad. Begitu pula Bahkan Syaikh Al Albani rahimahullah telah menyusun kitab Al Irwa’ul Ghalil, sebanyak total 9 jilid. Kitab ini berisi takhrij hadits-hadits yang termuat dalam kitab Manarus Sabil yang menjadi pegangan fiqih madzhab Hanbali. Ulama-ulama Wahabi pun giat memberikan syarah terhadap kitab Aqidah Thahawiyyah, yang bersumber dari akidah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Dan begitu bencinya penulis ini kepada Wahabi, sampai dia menulis: “Pembagian tauhid semacam itu tidak terdapat juga di dalam karya murid-murid Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal seperti Ibnu Al Jauzi dan Al Hafizh Ibnu Katsir.” (SBSSW, hal. 236). Padahal Imam Ahmad hidup di abad ke-3 Hijriyyah, sedangkan dua ulama itu hidup di abad kemudian. Ibnu Al Jauzi wafat pada akhir abad ke-6 Hijriyah, tepatnya pada tahun 596 H. Sedang Al Hafizh Ibnu Katsir, beliau hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyyah di abad ke-8 Hijriyyah. Tidak mungkin ulama abad ke 6 atau ke-8 menjadi murid ulama abad ke-3. Ini menunjukkan betapa dengkinya si penulis itu. Karena kedengkian memuncak, akhirnya terbuka sendiri aib-aibnya.

Kalau dunia ilmiah sudah dimasuki metode tajassus ini, hasilnya hanyalah kerusakan, dendam, dan kesesatan. Tidak ada kebaikan dari metode yang dibangun di atas cara haram. Bukankah tajassus diharamkan dalam Al Qur’an?

[9].  Penulis ini (Syaikh Idahram) termasuk orang-orang yang sudah tertimpa penyakit “gila”. Di dalam bukunya ini tercampur-baur berbagai macam pemikiran, akidah, fitnah, kebohongan, dendam kesumat, kecurangan, dan sebagainya. Bahkan di dalamnya terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi.

Contohnya, perhatikan kalimat berikut ini: “Kita harus melepaskan pemahaman-pemahaman tersebut dan kembali kepada Al Qur’an, Sunnah Rasul Saw, dan ilmu bahasa Arab sebagai alatnya. Lalu, kita pakai otak kita untuk memahami dan menelaah perkara-perkara yang diperselisihkan tersebut, sehingga akan jelas bagi kita saat itu, mana pendapat yang benar dan mana yang salah di antara mereka. Kita kembali kepada pemahaman kita, bukan kepada pemahaman Salaf.” (SBSSW, hal. 211). Lihatlah betapa beraninya penulis dalam meninggikan otaknya di atas ilmu para Salaf yang mulia. Kemudian baca kalimat berikut ini: “Sebab, jika semua orang Arab ‘berhak’ untuk menafsirkan Al Qur’an sekehendak hatinya, tanpa mengerti rambu-rambunya, dan boleh berijtihad tanpa keahlian yang dia miliki, maka semua orang Arab menjadi ulama. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal. Itulah sebabnya, kenapa tidak sembarang orang boleh berijtihad dan mengeluarkan fatwa.” (SBSSW, hal. 224). Dua kutipan ini tentu sangat mencengangkan; satu sisi memberi kebebasan penuh kepada akal untuk mencerna perselisihan-perselisihan agama; di sisi lain tidak boleh sembarangan memahami agama dengan akal sendiri. Padahal jarak antara kalimat pertama dan kedua hanya beberapa halaman saja.

Kegilaan itu merata dalam buku si penulis. Ketika dia membahas hadits-hadits tentang Najd, dia mengklaim bahwa Najd adalah tempatnya fitnah, tempatnya puncak kekafiran, tempatnya “tanduk setan”. Tetapi ketika membahas tentang kekejaman kaum Wahabi (seperti yang dituduhkan penulis), dia menyebutkan kota-kota di Najd yang menjadi sasaran keganasan kaum Wahabi, seperti Thaif, Qashim, Ahsa, Uyainah, Riyadh, Syammar, dan lainnya. (Lihat SBSSW, hal. 77-106). Logisnya, kalau dia benci wilayah Najd karena disana ada fitnah, puncak kekafiran, dan “tanduk setan”; seharusnya dia mendukung serangan kaum Wahabi. Iya kan? Tapi ya kita tahu, tujuan dari semua ini semata menyerang Wahabi, tanpa toleransi, apapun caranya.

[10].  Dan terakhir, di antara bahaya terbesar di balik tersebarnya buku ini, adalah suatu kenyataan, bahwa Wahabi hanya merupakan SASARAN KESEKIAN dari serangan orang-orang ini. Serangan ini merupakan satu agenda, di samping agenda-agenda serangan lain. Tentu kita masih ingat munculnya buku, “Ilusi Negara Islam”. Disana gerakan-gerakan dakwah Islam internasional juga mendapatkan stigmatisasi, dengan label “gerakan transnasional”. Tujuannya, agar masyarakat Indonesia membenci gerakan-gerakan dakwah dari luar negeri itu. Kita menyadari, kaum Syiah, penganut SEPILIS, Yahudi-Nashrani, orientalis Barat, aliran-aliran sesat, mereka sudah sepakat untuk menghancurkan fondasi ajaran Islam dari dasar-dasarnya. Siang malam mereka berjuang untuk merealisasikan tujuan penghancuran Akidah, Syariat, dan Peradaban Islam. Seperti LSM Setara Institute. Beberapa waklu lalu mereka mengeluarkan hasil penelitian seputar radikalisasi keagamaan di Indonesia. Mereka pun mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi, salah satunya menyebut pengajaran nasyid di TK-TK Islam memicu radikalisasi. Serangan kepada dakwah Wahabi ini hanyalah satu serangan di antara sekian banyak serangan yang dilancarkan kaum Islam phobia. Pada gilirannya nanti, jamaah-jamaah dakwah Islam akan menjadi target selanjutnya. Bahkan institusi pesantren, sekolah Islam, media Islam, penerbit Islam, bisnis Muslim, dll. akan menyusul. Itu hanya tinggal menunggu waktu. Cara kaum sesat, kufar, dan anti Islam dalam menyerang agama, mudah dikenali, dengan petunjuk Allah Ta’ala.

Adalah sangat ajaib ketika Said Agil Siraj, Ketua PBNU, memberikan dukungan terbuka terhadap buku SBSSW ini. Apa tujuannya? Apakah ingin menghancurkan dakwah Islam, ilmu Syariat, merusak persatuan Ummat, dan mencerai-beraikan proyek-proyek pembangunan Islam selama ini? Dimana kualitas seorang Said Agil Siraj sebagai “profesor doktor” dan Ketua PBNU? Tidak ingatkah Said Agil Siraj bahwa dia mendapat gelar doktor setelah menamatkan studi di Universitas Ummul Qura’, yang dikelola kaum Wahabi?

Kalau kata orang Jawa Timur, “Yo, sing nduwe isin-lah, Pak!”[12] Anda sudah kenyang mendapat fasilitas dari kaum Wahabi, bahkan anak-anak Anda lahir di bawah kemurahan kaum Wahabi, lalu kini Anda ikut menyerang paham Wahabi dengan membabi-buta. Apakah dulu di pesantren Anda tidak diajari pelajaran adab seorang Muslim?

Kalau membaca buku SBSSW itu, saya yakin bahwa posisi Said Agil Siraj ini –semoga Allah membalas perbuatannya secara adil dan menjadi ibrah besar bagi kaum Muslimin di Nusantara- bukan hanya sebagai pemberi kata pengantar. Saya yakin, Said Agil Siraj terlibat langsung di balik proyek penerbitan buku-buku propaganda ini.[13]

Demikianlah sekilas pandangan tentang buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, karya Syaikh Idahram. Buku ini andaikan ditulis dengan semangat kejujuran, metode ilmiah Islami, serta upaya melakukan koreksi terhadap sesama Muslim, dalam rangka memperbaiki kehidupan Ummat; tentu upaya itu akan disambut dengan rasa syukur. Sekurangnya, ia akan dipandang sebagai sumbangan ilmiah berharga. Tetapi dengan performa judul, metode penulisan, serta sekian banyak kecurangan yang dilakukan penulis; tidak diragukan lagi bahwa buku SBSSW itu ditujukan untuk merusak kehidupan kaum Muslimin.

Secara pribadi saya menghimbau agar para ahli-ahli Islam segera “turun tangan” untuk membuat analisis obyektif atas buku SBSSW itu. Kemudian hasilnya, silakan sampaikan kepada khalayak kaum Muslimin. Saya sendiri berpandangan, buku ini sangat berbahaya, dan sudah selayaknya di-black list, atau ditarik dari peredaran.

Akhirul kalam, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu merahmati kaum Muslimin di negeri ini, menolong mereka atas segala prahara berat yang menimpa, menyantuni mereka atas segala konspirasi jahat yang dilontarkan musuh-musuh Islam, serta meluaskan hidayah ke seluruh sudut negeri, agar lebih banyak manusia yang hidup di atas keshalihan; bukan di atas khianat, kedengkian, dan permusuhan terhadap Islam. Allahumma amin.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Ardhullah, 11 Juli 2011.

AM. Waskito.


[1] Kita harus belajar dari kejadian-kejadian aktual di tengah masyarakat. Misalnya kerusuhan di Cikeusik Banten yang menimpa penganut Ahmadiyyah. Kerusuhan itu sudah direkayasa sedemikian rupa; disana telah dipersiapkan barisan provokator, penyerang bersenjata, pengambil gambar, korban, tukang upload video di internet, dll. Lalu pasca kejadian itu, dibuat rekayasa opini yang sangat keji melalui media-media TV (khususnya MetroTV dan TVOne). Dalam opini yang dikembangkan, digambarkan betapa beringas sikap aktivis Islam kepada kaum Ahmadiyyah. Padahal pihak Ahmadiyyah sendiri melalui pimpinannya (Saudara Deden) sejak awal sudah menginginkan terjadi kerusuhan di tempat tersebut. Akibat kerusuhan ini, para aktivis Liberal (baca: kaum non Muslim) berkoar-koar meminta supaya FPI dibubarkan. Begitu pula kejadian di Pemalang, Ciketing Bekasi, dll. selalu mencerminkan skenario adu-domba, permusuhan, dan penyesatan opini. Kaum Liberal (non Muslim) yang kebanyakan adalah anak-cucu kaum PKI di tahun 1965 dulu, mereka selalu berada di balik aksi-aksi jahat untuk menghancurkan citra kaum Muslimin dan merusak persatuan Ummat. Di balik beredarnya buku SBSSW tercium aroma kuat modus serupa, berupa adu domba dan penyesatan opini. Semoga Allah Ta’ala menimpakan laknat, kehancuran usaha, kesusahan hidup, serta kehinaan, kepada kaum pendosa yang selalu memfitnah dan menyusahkan kehidupan kaum Muslimin itu. Amin Allahumma amin, ya ‘Aziz ya Jabbar ya Mutakabbir. (Doa terakhir ini diedit dari teks semula -pen.).

[2] Anehnya vonis “tanduk setan” terhadap Najd dan penduduknya ini tidak dilakukan, kecuali setelah di Najd bangkit dakwah Wahabi. Artinya, vonis itu mengandung niat busuk. Kalau misalnya wilayah Najd dianggap “tanduk setan”, seharusnya mereka sudah melontarkan vonis jauh-jauh hari sebelum muncul gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan seharusnya, mereka dan Khilafah Utsmani di Turki tidak boleh marah ketika Najd direbut oleh keluarga Ibnu Saud. Ya buat apa marah, wong Najd sudah divonis sebagai “tanduk setan” kok? Malah mereka seharusnya bersyukur, ada manusia yang mau mengolah wilayah “tanduk setan” itu. Kalau melihat dendam kesumat kaum anti Wahabi, baik dari sisi kaum Alawiyyun atau kaum Syiah, masalah sebenarnya bukan ke persoalan Najd sebagai “tanduk setan”. Tetapi Najd yang semula dikuasai keluarga Syarif Hussein selama 700 tahun, lalu berpindah kekuasaan ke tangan Ibnu Saud. Itu sebenarnya masalah utama di balik munculnya hadits-hadits soal Najd sebagai “tanduk setan” ini. Bisa jadi, ketika 700 tahun Najd dikuasai keluarga Syarif, mereka tidak banyak menyinggung soal Najd sebagai “tanduk setan”. Ya, begitu deh!

[3] Para penganut Syiah di Indonesia banyak dari keturunan Arab Yaman (Hadramaut). Mereka itu orang Arab, atau keturunan Arab. Padahal dalam akidah Syiah, jika nanti turun Imam Al Mahdi Al Qaim, dia akan membabat habis bangsa Arab, hanya menyisakan kaum Persia. Begitu keyakinan mereka. (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, karya Sayyid Hussein Al Musawi, hal. 134-135). Pemimpin FPI, Habib Rieziq Shihab, pernah menulis sebuah makalah ilmiah tentang karakter RASIS kaum Liberal.

[4] Kota Najaf terletak di Irak, begitu pula Karbala. Sedangkan Kota Qum terletak di Iran. Kota Najaf, Karbala, dan Qum selama ini diklaim sebagai kota suci kaum Syiah. Sepanjang tahun kaum Syiah berziarah ke kota-kota itu karena disana ada situs-situs yang disucikan kaum Syiah. Selama ini kaum Muslimin mengenal Masjidil Haram di Makkah dengan sebutan Al Haram As Syarif. Namun kaum Syiah menyebut Kota Najaf dengan ungkapan Al Asyraf (artinya, lebih mulia atau paling mulia). Seolah, mereka ingin mengatakan, bahwa Najaf lebih mulia dari Kota Makkah. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

[5] Lihat situs voa-islam.com, tentang tersebarnya fatwa palsu MUI tentang Syiah yang ditulis anggota MUI, Prof. Dr. Umar Shihab. Fatwa itu mengklaim bahwa paham Syiah tidak sesat menurut MUI. Lalu redaksi voa-islam.com mencantumkan fatwa MUI asli yang dikeluarkan tahun 1984, tentang aspek-aspek kesesatan Syiah.

[6] Lihat Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karya Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, hal. 144. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, tahun 2006.

[7] Di mata kaum Syiah, mencela, menghina, atau merendahkan para Shahabat Ra bukan sesuatu yang aneh. Bahkan melaknat para Shahabat itu telah menjadi amal shalih tersendiri. Na’udzbillah min dzalik.

[8] Qurrata a’yun maksudnya, penyejuk mata syaitan. Syaitan sangat berkepentingan terhadap perpecahan Ummat.

[9] Surat At Taubah ayat 100, dengan arti: “Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam, dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah telah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan besar.” Disini ada kalimat “walladzinat taba’uu hum bil ihsan” (dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan). Ini adalah dalil qath-iy tentang pentingnya mengikuti jejak Salafus Shalih (para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in).

[10] Berdalil dengan Surat Al Anbiya’ ayat 2 ini, penulis hendak mematahkan akidah Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa Al Qur’an itu Kalamullah, bukan muhdats (ciptaan baru). Menurut si penulis, Al Qur’an itu ciptaan baru alias makhluk. Namun sangat curangnya, dia memotong kelanjutan dari ayat tersebut. Kelanjutannya adalah, “Illa istama’uhu wa hum yal’abuun” (melainkan mereka mendengarkan, namun dengan main-main). Jadi yang dimaksud dalam Surat Al Anbiya’ ayat 2 itu ialah celaan terhadap sikap buruk orang musyrikin, tatkala datang ayat-ayat Allah yang baru (karena memang Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur), mereka mendengarkan tetapi sambil bermain-main. Ayat ini berkaitan dengan kelakuan orang musyrik, bukan dalil bahwa Al Qur’an itu makhluk. Kalau tidak percaya, silakan Pembaca periksa sendiri ayat tersebut menurut versi terjemahan paling popluler di Indonesia, yaitu Departemen Agama RI. Ulama akidah menjelaskan, bahwa keyakinan ‘Al Qur’an itu makhluk’, apabila didasari pengetahuan dan kesengajaan, akan membuat kafir pelakunya. Sebab dengan keyakinan itu mereka hendak menyamakan Al Qur’an dengan makhluk, yang tentu di siksi makhluk terdapat banyak kelemahan dan kesalahan. Siapapun yang meyakini demikian, berarti dia telah kufur kepada Al Qur’an. Padahal salah satu syarat keimanan adalah at tashdiqu bil qalbi (pembenaran dengan hati). Kalau hatinya sudah kufur kepada Al Qur’an, otomatis imannya pun gugur. Maka orang-orang Syiah yang meyakini bahwa Al Qur’an telah diubah-ubah oleh para Shahabat Nabi Saw termasuk ke golongan gugur iman itu. Na’udzubillah minal kufri.

[11] Jahatnya, si penulis sama sekali tidak pernah bisa membuktikan, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membunuh manusia, apalagi sampai ribuan manusia. Itu tak ada bukti valid yang bisa dipegang.

[12] Artinya, “Ya, hendaklah Anda punya rasa malu, Pak!”

[13] Menurut Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, sosok Said Agil Siraj ini pernah dikafirkan oleh 12 orang kyai. Ada pula yang melayangkan surat ke Universitas Ummul Qura, meminta supaya mereka mencabut gelar doktor Said Agil. (50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, karya Budi Handrianto, hal. 160. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, 2007).

Iklan

72 Responses to Bahaya Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW)

  1. jmustaf berkata:

    Kalau tak salah pada sampul belakang ada komentar dari arifin ilham juga ……..jadi ???

  2. ibnu berkata:

    baarakallaahu fiik ustadz, ana izin share

  3. Anonim berkata:

    ya… saudi memang hebat…. tukang perkosa TKW dari Indonesia… hebat kebiadabannya… Udah jelas Saudi Biadab koq dibela…

  4. ahmad berkata:

    nah, anonymous diatas ini, pelaku tajassus.
    ngomonginnya apa.. dia nyari sampah dipinggir2.
    gak fair deh lu!

  5. abusalafy berkata:

    ENTE BARU KETASA DULU ENTE MENULIS DAKWAH SALAF DAKWAH BIJAK DAN TELAH MEROBEK-ROBEK HATI KAUM MUSLIMIN, BUKU YANG ENTE RESENSI INI PERSIS CARANYA NYONTO ENTEK YANG KETIKA MEMBUAT DAKWAH SALAF DAKWAH BIJAK.

    sEMUA PERGERAKAN WAKTU ITU MEMUSUHI DAKWAH SALAFY.

    INILAH HASILNYA

  6. abisyakir berkata:

    @ Abusalafy…

    ENTE BARU KERASA, DULU ENTE MENULIS DAKWAH SALAF DAKWAH BIJAK DAN TELAH MEROBEK-ROBEK HATI KAUM MUSLIMIN, BUKU YANG ENTE RESENSI INI PERSIS CARANYA NYONTO ENTE YANG KETIKA MEMBUAT DAKWAH SALAF DAKWAH BIJAK. SEMUA PERGERAKAN WAKTU ITU MEMUSUHI DAKWAH SALAFY. INILAH HASILNYA.

    Komentar:

    = Sepintas lalu, komentar Anda ini mengesankan diri Anda seorang Salafi. Anda memprotes buku DSDB, lalu mengatakan bahwa munculnya buku “Sejarah Berdarah” itu hasil dari mencontek buku DSDB tersebut. Tetapi, kalau Anda benar-benar jujur dalam membaca buku DSDB, tidak ada fitnah, adu-domba, kebohongan, seperti dalam buku “Sejarah Berdarah” itu. Banyak kalangan yang dianggap sebagai “Wahhabi” memberi apresiasi baik atas buku DSDB. Itu membuktikan bahwa metode saya masih dalam satu lingkup dakwah Ahlus Sunnah itu sendiri. Walhamdulillah.

    = Saya kenal Anda wahai @ Abusalafy. Anda saya kira adalah pemilik blog yang menamakan diri @ abusalafy itu. Bahkan saya mengira, Anda adalah Syaikh Idahram itu sendiri. Meskipun saya tahu, yang bernama Syaikh Idahram disana bukanlah satu sosok manusia, tetapi sebuah tim orang-orang pengecut. Anda adalah penganut Syiah ekstrem yang memang sudah menjadi amal “shalih” Anda untuk memusuhi kaum Muslimin (Ahlus Sunnah).

    = Dalam komentar di atas Anda mengatakan, “DULU ENTE MENULIS DAKWAH SALAF DAKWAH BIJAK DAN TELAH MEROBEK-ROBEK HATI KAUM MUSLIMIN.” Coba Anda sebutkan buktinya bahwa buku itu merobek-robek hati kaum Muslimin! Coba Anda sebutkan buktinya! Apakah Anda termasuk pemeluk Syiah yang sangat sakit hati dengan buku DSDB itu? Atau Anda termasuk kaum Salafi ekstrem yang mengklaim bahwa Ummat Islam terobek-robek hatinya karena buku DSDB itu? Komentar Anda ini semakin menunjukkan bahwa diri Anda hidup di atas kelicikan, kebohongan, dan pengkhianatan. Ya, di kalangan Anda, sikap khianat itu sangat murah. Wal ‘iyadzubillah.

    = Anda sebut bahwa buku “Sejarah Berdarah” mencontek buku DSDB yang pernah saya tulis. Dari sisi mana menconteknya? Saya bersikap kesatria ketika menyebut kemungkaran suatu kaum dengan bukti-buktinya, lalu memberikan analisis sesuai ajaran Islam. Tidak seperti Anda (penulis buku “Sejarah Berdarah”), Anda tidak berani mengemukakan pandangan2 pihak yang Anda kritik secara fair. Bahkan Anda menutup mata sama sekali atas kebaikan orang yang Anda kritik. Lagi pula, perlu Anda ketahui, buku-buku yang mengkritisi sikap ghuluw kalangan Salafi tertentu itu, bukan muncul sejak DSDB. Sebelum itu sudah muncul buku-buku kritik lainnya.

    Sungguh saya menyangka sosok yang namanya Syaikh Idahram adalah @ abusalafy ini. Inilah manusia pengecut, khianat, pembohong, perusak, serta penyebar fitnah di kalangan kaum Muslimin. Na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli ‘amalihi wa syarrih.

    AMW.

  7. abisyakir berkata:

    @ Jmustaf…

    Iya benar. Bahkan dukungan Arifin Ilham itu sangat sengit ke buku tersebut. Bisa dikatakan, dia bersekutu dalam kemungkaran tersebut. Sepertinya, Arifin Ilham ini merasa sakit hati setelah dia dikritisi oleh seorang penulis Salafy tertentu, lantaran amal “majelis dzikir”-nya itu. Dan perlu diketahui, Arifin Ilham sangat pro Muammar Qaddafi di Libya, dan ikut dalam jamaah ulama-ulama Shufi yang pro Qaddafi dan anti dakwah Wahhabi. Di Sentul, Arifin Ilham mengelola masjid yang bernama Muammar Qaddafi. Seharusnya, nama masjid itu diubah dengan sebutan, “Masjid Sejarah Berdarah Salafi Wahabi”. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    Semula saya cukup apresiatif dengan Arifin Ilham, dan tidak masuk pusaran orang-orang yang mengkritik dia. Tetapi dengan dukungan membabi-buta dia kepada buku itu, ya terbuka sudah kedoknya. Ternyata, kaum Shufi dengan segala cover kesantunan-kelembutannya, kerap kali menyimpan dendam kesumat yang besar di hati mereka. Semoga kita tidak seperti itu. Allahumma amin.

    AMW.

  8. anas berkata:

    Anonymous Juli 11, 2011 pukul 5:41 pm

    masih mending jadi pendukung saudi yg sunni salafy, daripada jadi pendukung iran yg syiah
    hayooo ente pilih mana ?

  9. Lukman Mubarok berkata:

    Saya kira Arifin Ilham perlu mentabayyun deh… Dia kan dekat dengan Jafar Umar Thalib. Lagian dia juga lulusan Saudi.

  10. Agus Kusyaeri berkata:

    Bantahan dan jawaban kritis untuk Buku “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI ( SBSSW ) karangan orang Indonesia yang mengatasnamakan nama orang dari Timur Tengah dengan nama SYAIKH IDAHRAM. Sayangnya Ketua PBNU, Said AGIL SIRAJ dan salah satu Ketua MUI, KH. MA;RUF AMIN, ikut memberikan Kata Pengantar. Buku tersebut provokatif, mengadu domba, penuh kebohongan, fitnah dan sangat jauh dari ilmiah.

  11. jkoni berkata:

    sedikit sharing saja……
    orang belajar karate ….cari guru yang paling tokcer …..dari Jepang.
    Orang belajar taekkwondo ….cari guru yang afdol ….dari korea …
    Orang belajar Sumo……. ambil guru dari jepang.

    Orang belajar Teknologi …pergi ke barat.
    Orang belajar Islam …ke Persia, ???? …. weleh weleh …….., apalagi belajar ke amerika, ingris , canada ….

  12. TheSalt Asin berkata:

    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

    “Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.”
    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    Sebagai Rujukan tambahan untuk mendukung buku [SBSSW ] agar naik Derajatnya ketingkat yang Matawatir , silahkan merujuk pada = Dari Sumatera Barat hingga Plakat Panjang – penyusun : Amran [pakar Sejarah ] = semoga memuaskan anda.

    Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    http://thesaltasin.wordpress.com/category/al-quran-teks-dan-terjemahan/

  13. jmustaf berkata:

    Memang susah kalau nafsu sudah berbicara …. tulisan jadi pisau yang tajam merobek hati.
    Hati abusalafi terlihat penuh dendam dan amarah yang mudah terlihat.
    Sampai fitnah pun sudah terlontar …..
    Demikianlah bila Allah SWT telah menutup hati seorang abusalafy……….mudah mudahan dia bisa bertobat.
    Untuk menjelek jelekan ras arab….sadarkah bahwa Nabi kita berasal dari ras tersebut , apah anda juga akan menjelek jelekan Nabi kita karena berasal dari arab ???

  14. jmustaf berkata:

    Memang susah kalau nafsu sudah berbicara …. tulisan jadi pisau yang tajam merobek hati.
    Hati abusalafi terlihat penuh dendam dan amarah yang mudah terlihat.
    Sampai fitnah pun sudah terlontar …..
    Demikianlah bila Allah SWT telah menutup hati seorang abusalafy……….mudah mudahan dia bisa bertobat.
    Untuk yang menjelek jelekan ras arab….sadarkah bahwa Nabi kita berasal dari ras tersebut , apakah anda juga akan menjelek jelekan Nabi kita karena berasal dari arab ???

  15. abisyakir berkata:

    @ TheSalt Asin…

    Ini kata-kata Anda tentang Salafi/Wahabi:

    Aku bertanya : ” Kenapa sekte SALAFI / WAHABI saling cacimaki , saling kafir mengkafirkan dan saling dengki dengan sesama mereka , sudah sedemikian parahkah kerusakan akhlak dan Aqidahnya?”

    Komentar: Masalahnya, Anda kan hanya melihat sisi negatif para pengikut Salafi/Wahhabi. Sementara mata Anda ditutup, smapai buta, dari melihat sisi kebaikan mereka. Iya kan? Itu intinya. Kalau mata Anda sudah melihat dengan ‘ainus sukhti, ya kebaikan sebanyak apapun tidak akan laku. Sama seperti orang Syiah yang sudah “anatomi”-nya membencci Ahlus Sunnah. Kalau tidak benci Ahlus Sunnah, mereka tak bisa hidup. Kaum Anda kan seperti itu juga, tak bisa hidup tanpa membenci Salafi/Wahabi. Coba singkirkan akidah “anti Salafi/Wahabi” ini dari hati Anda, pasti Anda tidak akan memiliki ilmu lain yang berarti. Sebab konsentrasinya memang mengembangkan “ilmu ghillin”.

    Apakah SALAFI / WAHABI itu masuk ke dalam umat Islam atau memang kaki tangan kaum kufar yang dengan sengaja ditugaskan untuk memecah belah umat Islam dari dalam “

    Komentar: Sekarang begini sajalah, mudah-mudah saja. Pemuda Salafi/Wahabi sudah terjun dalam Jihad di Irak, Afghan, Chechnya, Dagestan, Bosnia, dll. Lalu mana itu pemuda-pemuda semodel Anda ini? Mana peran sertanya dalam menghalau orang kufar, dan menolong negeri2 Muslim. Malah yang banyak, tokoh2 panutan Anda itu malah kerjasama dengan Zionis, berkunjung ke Tel Aviv, memuji demokrasi di Israel, dll. Sudahlah tidak usah banyak omong, buktikan mana jihad kaum NU dalam menolong kaum Muslimin di negeri2 lain. Apa NU pernah berjihad di Ambon, Maluku Utara, Poso?

    …..lalu siapakah sesungguhnya kelompok yang kafir dan ahli bid’ah itu…sekte SALAFI / WAHABBI kah…….atau kaum SUNI…………

    Komentar: Orang seperti kamu ini kan sudah terbelit oleh fitnah dan kutukan, maka cara menulis, komunikasi, dll. mencerminkan sisi orang “sakit”. Kalau mau sembuh, berhentilah dari hal-hal tercela ini. Kamu menuduh Salafi/Wahabi mencaci-maki, dan seterusnya. Kamu sendiri mengkafirkan mereka. Hati-hati tuh, jangan-jangan yang kafir itu ialah si penuduhnya.

    Alhamdulillah , kaum Suni tidak pernah ada yang bercita-cita ingin jadi TERORIST atau menjadi seorang PEMBANTAI umat MANUSIA.

    Komentar: Kamu bilang terorist kan mengikuti manhaj George Bush yang menyebut setiap aktivis Islam sebagai teroris. Katanya kamu ini pembela Islam, anti kafir; tetapi otaknya mengikuti jalan George Bush laknatullah. Aneh sekali.

    Kamu sebut Wahabi pembantai. Apa buktinya? Apakah ada data-data semacam kuburan massal, data-data manusia hilang, data foto/kamera, data sensus sosial, dll. Kan rata-rata data yang kamu pakai kan data klas “kata si fulan” atau “kata temannya si fulan”. Data2 begini tidak ada artinya. Semua itu hanya klaim yang kelak akan ditanyakan di sisi Allah Ta’ala.

    Sudahlah, kalau memang “sakit” lebih baik mencari kesembuhan. Jangan menularkan “penyakit” ke orang banyak.

    AMW.

  16. zahra berkata:

    ana seneng bgt baca artikel2nya ustd abu syakir….syukron kastiron ustad.barakaAllah

  17. zahra berkata:

    ustad…afwan,sebenarnya saya masih bingung,siapa salafi,sipa wahabi…apa salafi itu,orang2 yang suka mengatakan orang2 yang menentang negara ni adalah khowarij?,trs saudi arabia itu,menolong amrik wt ngancurin palestina,nd gk mau membuka perbatasanya????itu gmn tad??…min tilmidah adoifah.syukron ala ijabatukum

  18. TheSalt Asin berkata:

    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Terimakasih dengan Ulasannya , yang saya tidak mengerti kenapa SEKTE SALAFI / WAHABI begitu menutup diri , atau lebih tepatnya lagi MENYEMBUNYIKAN IDENTITAS [ PURITANISME ], inilah yang menyebabkan semakin dalamnya jurang pemisah antara kelompok anda dengan Umat Islam lainnya.

    لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

    “Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.”
    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    http://thesaltasin.wordpress.com/category/al-quran-teks-dan-terjemahan/

  19. […] abisyakir mengatakan: Juli 17, 2011 pukul 2:59 pm […]

  20. jmustaf berkata:

    Saya sdh masuk linknya punya thesaltasin blog…….isinya boleh juga sedikit ngawur gitu …. saya jadi tau siapa siapa yang pendukung kejahilan …dalam urusan “dakwah” .
    Minimal kalau mereka bicara di media , filter sudah harus terpasang …..
    Tapi memang menarik kaum tradisi sekarang sudah mulai vokal dengan dengan pendapatnya…..tapi masih malu malu…karena landasan yang dipakai kabur / ngga jelas.
    menarik memang ….mengaku ngaku pengikut Nabi yang setia , tapi mengamalkan petunjuk nabi yang jelas ..masih ogah ……
    Senang dengan ibadah ramuan manusia ……..

  21. TheSalt Asin berkata:

    Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Setelah Bapak Abi Syakir mengomentari para TAMUnya dengan bahasa yang tak pantas diucapkan oleh seorang yang sudah punya gelar panggilan kebesaran AL-USTADZ [ Al-Imam ]
    walau pada kenyataannya belum pantas TITEL di GELAR dipundaknya…yang jadi pertanyaan kemudian adalah…masih pantaskah Bapak Abi Syakir menjadi Imam Shalat [ tidak menjadi Imam tercela karena bahasa ] .

    Nasihat : Apabila engkau hendak bertaqlid-ber ittiba atau berguru , maka carilah orang / Ulama yang sanadnya sampai ke Rasulullah saw , supaya dapat dipertanggungjawabkan seluruh fatwanya di Akhirat kelak .

    لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

    “Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.”

    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    http://thesaltasin.wordpress.com/category/al-quran-teks-dan-terjemahan/

  22. Lukman Mubarok berkata:

    @thesaltasin, anda merasa senang rupanya bila sesama muslim akur? Tolong kalau komentar buatlah untuk tujuan mulia, bukan bergaya hebat tapi kontribusi untuk dakwah nol besarh untuk tujuan mulia, bukan bergaya hebat tapi kontribusi untuk dakwah nol besar

  23. thesaltasin berkata:

    @ Kang Lukman Mubarak,

    Terimakasih untuk anda atas komentarnya , wassalam.

  24. abisyakir berkata:

    @ Zahra…

    Jazakillah khair atas apresiasinya, alhamdulillah. Semoga Allah Ta’ala menambahkan ilmu, hidayah, rahmat, dan barakah; bagi Anda, saya, dan kaum Mukminin wal Muslimin. Amin.

    Siapakah Salafi, siapa Wahhabi?

    Jawab: Salafi ya setiap Muslim yang rela dengan sebutan Salafi itu, dan mereka mengaku mengikuti manhaj Salafus Shalih; terlepas dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semisal saudara-saudara kita di Ikhwanul Muslimin disebut Ikhwani. Begitu kurang lebih dari sisi penamaannya. Kalau Wahhabi, ya setiap Muslim yang sepakat, mengikuti, dan mendukung ijtihad dakwah Syaikh Muhammad bin Andul Wahhab rahimahullah.

    Kadang Salafi identik dengan Wahhabi, kadang tidak. Bahkan kadang ada yang Salafi/Wahhabi, tetapi tidak memakai sebutan apapun. Tetapi porosnya seperti tadi. Salafi merujuk manhaj Salafus Shalih, kalau Wahhabi merujuk ijtihad dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Apa salafi itu,orang2 yang suka mengatakan orang2 yang menentang negara ni adalah khowarij?

    Jawab: Ada yang begitu. Itu ada. Tapi kalau menurut orang Shufi/NU/Syiah/Liberal, setiap yang pro Tauhid dan Sunnah, disebutnya Wahhabi. Sebutan Salafi di mata mereka identik dengan Wahhabi. Dalam pandangan mereka “ada Salafi yang menuduh Khawarij”, dan “ada Salafi yang menuduh Murjiah”. Begitulah…

    Bahkan yang lebih lucu lagi, di mata mereka, ada istilah “Salafi menghujat Salafi”, “Wahhabi berperang versus Wahhabi”, “ulama Salafi mengecam ulama Wahhabi, ketika ulama Wahhabi mengecam ulama Salafi”. Ya begitulah… karena nalar yang pendek, jadi urusan ini seperti benang kusut.

    Terus saudi arabia itu, menolong amrika wktu ngancurin palestina, nd gk mau membuka perbatasanya???? itu gmn tad??

    Jawab: Pertanyaan ini harus dirinci. Pertama, apakah karena perbatasan tidak dibuka, Palestina hancur? Toh, sampai saat ini mereka tetap eksis. Kedua, blokade ke Palestina itu berjalan dari semua sisi, termasuk dari jalur lautan. Bukan hanya menyangkut Saudi. Ketiga, kalau bicara Saudi, disana ada Pemerintah, ulama, santri, dan rakyatnya. Siapa yang Anda sebut menghancurkan Palestina itu? Para ulamanya atau santrinya? Jelas tidak ada yang seperti itu dari sisi ulama dan santrinya. Mereka itu sampai sekarang masih terus mendukung kaum Mujahidin Palestina, dengan cara-cara tertutup. Kalau bicara soal Palestina, ya yang jujur. Orang NU jangan ikut-ikutan disini. Mana kontribusi mereka dalam perjuangan di Palestina. Gusdur itu saat Tragedi Ghaza, malah menyerang Hamas sebagai biang kerok tragedi.

    Ya, wa iyyaki syukran wal jaza’an thaiyiba. Amin.

    AMW.

  25. abisyakir berkata:

    @ TheSalt Asin…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Terimakasih dengan Ulasannya , yang saya tidak mengerti kenapa SEKTE SALAFI / WAHABI begitu menutup diri , atau lebih tepatnya lagi MENYEMBUNYIKAN IDENTITAS [ PURITANISME ], inilah yang menyebabkan semakin dalamnya jurang pemisah antara kelompok anda dengan Umat Islam lainnya.

    Komentar: Alhamdulillah Akhi, kaum Wahhabi itu -sesuai istilah Anda- bersikap terbuka, transparan, tidak ditutup-tutupi. Mereka membuka diri dalam bentuk risalah, website, buku2, majalah, buletin, fatwa, ijtihad, dirasah, dll. Tidak ada yang disembunyikan. Justru orang seperti kami tidak tahu siapa diri Anda.

    Begitu juga siapa itu Syaikh Idahram, kami tak tahu. Tapi dia jelas orang Indonesia. Cuma menyembunyikan diri di balik sebutan syaikh biar kelihatan seperti orang Arab. Ini tidak jujur namanya. Saya teliti dalam buku SBSSW, dia haqqul yakin orang Indonesia.

    Hadits Nabi Saw: “Ummat ini tidak akan bersepakat di atas kesesatan.”

    Komentar: Iya, hadits ini insya Allah maqbul (diterima) karena sering dibahas para ulama, terutama ketika menyinggung masalah Ijma’. Jadi ijma’ Ummat Islam itu benar, khususnya Ijma’ para Shahabat Ra, misalnya ketika para Shahabat Ra Ijma’ menerima sistem Khilafah (belakangan NU Jawa Timur melalui salah seorang pengurusnya menolak sistem Khilafah, malah menyuruh negara membubarkan Hizbut Tahrir. Ini orang alim apa preman terminal? Kok tidak paham soal Ijma’ Shahabat Ra dalam soal Khilafah?).

    Tapi hadits itu jangan Anda pahami, Wahhabi sudah disesatkan Ummat Islam sedunia. Mana yang menyesatkan mereka? Paling2 ya kaum Shufi/Syiah/Liberal/orientalis dan kawan2. Paling2 mereka yang menyesatkan Wahhabi. Di mata kaum terpelajar independen, pandangan seperti itu tak berlaku.

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    AMW.

  26. abisyakir berkata:

    @ TheSalt Asin…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Terimakasih dengan Ulasannya , yang saya tidak mengerti kenapa SEKTE SALAFI / WAHABI begitu menutup diri , atau lebih tepatnya lagi MENYEMBUNYIKAN IDENTITAS [ PURITANISME ], inilah yang menyebabkan semakin dalamnya jurang pemisah antara kelompok anda dengan Umat Islam lainnya.

    Komentar: Alhamdulillah Akhi, kaum Wahhabi itu -sesuai istilah Anda- bersikap terbuka, transparan, tidak ditutup-tutupi. Mereka membuka diri dalam bentuk risalah, website, buku2, majalah, buletin, fatwa, ijtihad, dirasah, dll. Tidak ada yang disembunyikan. Justru orang seperti kami tidak tahu siapa diri Anda.

    Begitu juga siapa itu Syaikh Idahram, kami tak tahu. Tapi dia jelas orang Indonesia. Cuma menyembunyikan diri di balik sebutan syaikh biar kelihatan seperti orang Arab. Ini tidak jujur namanya. Saya teliti dalam buku SBSSW, dia haqqul yakin orang Indonesia.

    Hadits Nabi Saw: “Ummat ini tidak akan bersepakat di atas kesesatan.”

    Komentar: Iya, hadits ini insya Allah maqbul (diterima) karena sering dibahas para ulama, terutama ketika menyinggung masalah Ijma’. Jadi ijma’ Ummat Islam itu benar, khususnya Ijma’ para Shahabat Ra, misalnya ketika para Shahabat Ra Ijma’ menerima sistem Khilafah (belakangan NU Jawa Timur melalui salah seorang pengurusnya menolak sistem Khilafah, malah menyuruh negara membubarkan Hizbut Tahrir. Ini orang alim apa preman terminal? Kok tidak paham soal Ijma’ Shahabat Ra dalam soal Khilafah?).

    Tapi hadits itu jangan Anda pahami, Wahhabi sudah disesatkan Ummat Islam sedunia. Mana yang menyesatkan mereka? Paling2 ya kaum Shufi/Syiah/Liberal/orientalis dan kawan2. Paling2 mereka yang menyesatkan Wahhabi. Di mata kaum terpelajar independen, pandangan seperti itu tak berlaku.

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    AMW.

  27. abisyakir berkata:

    @ Jmustaf…

    Jazakallah khair. Kalau ingat Antum, ingin rasanya saya bicara dari dekat, diskusi, atau saling sharing lah. Saya perlu banyak mendengar dari kawan2 seperti Antum ini. Namun ya, kondisi geografis tidak dekat. Kalau komunikasi via blog begini kan tidak bisa menerobos aneka hal yang tidak terlihat di atas teks. Jadi formalis sekali.

    Ya intinya, syukran jazakumullah Antum masih sudi berkunjung kesini. Maafkan bila di masa-masa lalu ada yang tidak nyaman di hati. Saya sebatas berusaha mengasihi sesama Muslim, sekuat kesanggupan. Meskipun kadang harus berbenturan pandangan dengan kawan-kawan yang lain. Maafkan…

    AMW.

  28. zahra berkata:

    pemerintahnya itu kok gak mau buka blokadenya.,knp?syukron al ijabatukum,add’u Allah.la’ala Allah yajalakum min faqihi diin,wa kadzalika ana.amin…oz tad,ana bukan Nu Tapi ana santri pondok pesantren kuno

  29. abisyakir berkata:

    @ Zahra…

    pemerintahnya itu kok gak mau buka blokadenya.,knp?syukron al ijabatukum,add’u Allah.la’ala Allah yajalakum min faqihi diin,wa kadzalika ana.amin…oz tad,ana bukan Nu Tapi ana santri pondok pesantren kuno

    Amin Allahumma amin. Masya Allah, setahu saya di blog ini, baru Anda yang berdoa seperti itu. Amin ya Mujibas sa’ilin.
    Oh ya, saya tidak menyebut Anda orang NU. Tidak itu. Hanya karena situasi dialognya sedang soal buku SBSSW yang didukung org2 NU, ya akhirnya menyinggung mereka. Mohon dimaafkan.

    Mengapa Saudi tidak membuka blokade-nya kepada Palestina?

    Saya tidak tahu pasti. Paling hanya bisa membuat analisis zhanniyyah. Yang berhak menjawab tentu mereka (Kerajaan Saudi). Tapi blokade yang masyhur dalam perkara ini ialah dari sisi Yordania, Mesir (Rafah), dan pantai Israel. Bukan dari Saudi. Saudi itu tak berhubungan langsung dengan Israel.

    Coba perhatikan link berikut ini:

    http://maps.google.co.id/maps?hl=id&xhr=t&q=peta+saudi+arabia&cp=10&biw=1280&bih=885&um=1&ie=UTF-8&sa=N&tab=wl

    Jazakillah khair katsira.

    AMW.

  30. abisyakir berkata:

    @ TheSalt Asin…

    Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakaatuh.

    Setelah Bapak Abi Syakir mengomentari para TAMUnya dengan bahasa yang tak pantas diucapkan oleh seorang yang sudah punya gelar panggilan kebesaran AL-USTADZ [ Al-Imam ]walau pada kenyataannya belum pantas TITEL di GELAR dipundaknya…yang jadi pertanyaan kemudian adalah…masih pantaskah Bapak Abi Syakir menjadi Imam Shalat [ tidak menjadi Imam tercela karena bahasa].

    Komentar: Ya Akhi, mohon dimaafkan atas segala khilaf dan kekurangan. Anda terlalu sensitif, wahai saudaraku. Komentar saya itu karena Anda memasang tagline di front blog yang sifatnya sangat OFFENSIVE. Ini tidak baik saudaraku. Baru sekali Anda baca komentar saya, seketika itu Anda membatalkan keabsahan saya menjadi imam Shalat. Masya Allah. Tetapi sepanjang hari dan waktu, Anda menempelkan promosi kalimat2 offensive yang menghujat sesama Muslim itu. Ini tidak adil, wahai saudaraku.

    Bahkan semula, saya tidak tahu kalau Anda membuat tagline di blog seperti itu. Justru Anda memberikan ke saya link tersebut. Jadi, ini sama sekali kejadian yang “diundang” oleh kebaikan hati Anda untuk memberikan link itu kepada saya. Mohon dimaafkan, wahai saudaraku.

    Nasihat : Apabila engkau hendak bertaqlid-ber ittiba atau berguru , maka carilah orang / Ulama yang sanadnya sampai ke Rasulullah saw , supaya dapat dipertanggungjawabkan seluruh fatwanya di Akhirat kelak .

    Komentar: Alhamdulillah, masih ada kaum Muslimin yang memelihara sanad ilmu ini. Alhamdulillah. Hal ini perlu dikembangkan, meskipun tentu JANGAN DIPAKSAKAN SEPERTI ITU. Sanad ilmu untuk menjaga originalitas ilmu, boleh. Tetapi kalau untuk memilah-milah kaum Muslim, misalnya dengan perkataan, “Lu gak punya guru. Guru lu cuma buku. Itu sama saja guru lu adalah setan.” Atau misal, “Ilmu yang tak ada sanadnya berarti batal. Hanya ilmu kami yang ada sanadnya, dan dianggap ilmu yang lurus.” Nah, perkataan2 seperti itu nanti akan membawa masalah baru di kalangan Ummat ini. Kalangan LDII menyebut istilah manqul. Katanya, ilmu mereka diajarkan secara manqul. Sedangkan orang di luar LDII, tidak dijamin ilmunya. Ustadz Hidayat Nur Wahid pernah mengkritisi ilmu yang mempersyaratkan manqul itu.

    Sementara itu dulu. Jazakallah khair sudah mengingatkan. Intinya, jangan membuat kalimat2 offensive, sehingga mengundang reaksi yang offensive juga.

    AMW.

  31. TheSalt Asin berkata:

    Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Yang saya maksudkan kejujuran / keterbukaan disini adalah : Apabila dari fihak anda berdakwah / menyampaikan sesuatu Hadits yang hubungan dengan Aqidah ,

    Para penyampai tidak pernah mau menyebutkan Orang/Ulama yang mengusung Hadits tersebut , dia hanya bilang Hadits ini Shahih.

    Jadi seolah-olah umat Islam harus tunduk pada yang katanya Hadits Shahih , walaupun Hadits tersebut masih dalam arena perdebatan atau tidak cocok untuk disanding dalam satu pekerjaan tertentu ataupun umum..

    Kenapa mereka para Ustadz / Ulama Salafi / Wahabi begitu menutup diri.

    Contoh kasus : Ketika Fihak lain melaksanakan Shalat Tarawih 20+3 rakaat, maka Fihak yang anti 20+3 rakaat akan mengomentari bahwa pekerjaan tersebut (Shalat Tarawih 20+3 rakaat) adalah pekerjaan Bid’ah Dhalalah.{ kalau dalam bahasa AlBani : Shalat Tarawih melebihi SEBELAS rakaat , sama dengan Shalat Dhuhur 5 rakaat atau Shalat Subuh 3 rakaat }.alias MASUK NERAKA.

    Kemudian kami tanyakan : Fatwa itu dari siapa..?..mereka hanya menjawab : INI HADITSNYA…( tanpa mau menjelaskannya.)
    Lalu pertanyaannya : Bagaimana nasib Jamaah yang Shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi…..yang jumlah mungkin sudah mencapai sekian milyar orang yang diimami oleh Ulama Wahabi [ kalau begini naga-naganya , pasti mereka pada berenang dineraka ],

    malah pernah ketika kejatuhan TALIBAN generasi pertama , di MAKAH Shalat Tarawih…+ 10 [ 20 + 3 + 10 ] sepuluh rakaat terahir pakai baca QUNUT NAZILAH dan ditayangkan di TVRI………….walah ini makin parah lagi…………….

    Seharusnya para Ustadz [ katakanlah Ustadz SALAFI / WAHABI ] itu jujur dan menerangkan dengan jelas : “ Bahwa Syekh AlBani dengan mengusung hadits ini….atau ayat ini…bahwa pekerjaan tersebut adalah Bid’ah dhalalah [ dosa yang menyebabkan masuk ke Neraka ], alasannya : pekerjaan tersebut tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw dan para Sahabat radliyallaahu ‘anhu.dan Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari Muslim itu Dla’if

    ATAU.
    .
    menurut Albani Hadits ini Shahih…walaupun Ulama lain menilainya Hadits ini Hadits Mungkar [ berdiri setelah sujud dengan mengepalkan tangan = AL-‘AJN].[internet].

    Kemudian juga Fatwa AlBani: PENGHARAMAN- EMAS dipakai oleh wanita- Ziarah kubur yang dilakukan oleh wanita – Membaca Ayat Al-Qur’an di Makam dan tentang pekerjaan lain yang semacamnya,

    atau MENGHARAMKAN : Ritual Kenegaraan seperti : Memperingati Kemerdekaan , menyanyikan Indonesia Raya dan yang sejenisnya.- terangkan dengan jelas.

    Jangan pakai DOGMA dan DOKTRIN karena tidak dicontohkan , tidak ada fatwanya , atau pakai alasan …ooohhh ….ini..Haditsnya……Dho’iffffffffff…..kalau mau merujuk kesana…HP….INTERNET…COMPUTER…apa ada contoh dari Rasulullah saw…..dan ingat … pengertian Dho’if dan Bid’ah dimata BIN BAZ dan AlBani adalah sama dengan Neraka…sedangkan neraka itu untuk orang kafir.

    Para penceramah SALAFI / WAHABI Juga harus menerangkan dengan jelas tentang PELAKSANAAN SHALAT model AlBani dan MODEL para Ulama MUJTAHID MUTLAK – Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in,[ jangan menyebelah ] karena MENURUT SAYA , MODEL / GAYA SHALAT yang beragam ini 90 persen [ dalam pelaksanaan Shalat ] adalah hasil dari Ijtihad para Ulama [ dalam pelaksanaan Shalat Rasulullah saw , itu tidak monoton atau hanya satu ketentuan saja ], Rasul juga pernah dalam melakukan Shalat seperti ini…seperti ini…dan ini…hanya menurut Ulama “ AKU LEBIH CONDONG MELAKUKAN GERAKAN / AMALAN YANG INI, KARENA AKU MELIHAT SI FULAN [sahabat ] MELAKUKAN INI DAN SESUAI DENGAN AL-QUR’AN AYAT INI.

    Cari riwayat yang mengisahkan , bahwa : Rasulullah saw – para Sahabat itu JIDATNYA HANGUS , seperti yang dipraktekkan para SALAFI / WAHABI….andai memang ada Hadits /ayat nya …apa benar maksud ayat itu demikian……..[ Madzhab Imam Asy-Syafi’I , tidak asal telan ayat dan telan makna …..yang pada akhirnya GHULUW dan kesesatan Sunah/disesatkan oleh bunyi hadits.

    Kenapa para Mujtahid Mutlak tidak menfatwakan hal yang tidak diketahuinya secara jelas , missal : Shalat dengan kaki ngangkang. ….saya pernah baca –ketika Imam ditanya tentang menempelkan kaki dengan kaki dalam Shalat…..jawabannya..aku tidak tahu , apa/bagaimana tujuan / maksud Rasulullah saw, kalau aku memaksakan menerapkan Hadits ini , khawatir aku malah jadi perusak sunah….

    Jadi jangan merasa paling benar dan paling baik , paling mengerti JEROAN Rasulullah saw.

    Dalam berbagai buku yang pernah saya baca , termasuk : SIFAT SHALAT NABI made in AlBani selalu saja ada Cacian , makian mengukir bibir muhaditsun AlBani yang dialamatkan kepada para Ulama yang tidak sefaham dengannya sampai [ RUH ] Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyum pun kena tamparan bahkan Ulama Imam Hanafi pun, dan Albani sendiri banyak menulis bahwa diri itu sebagai AHL al Ilm , atau HASIL PENELITIANKU TIDAK TERPATAHKAN.

    Dilain kesempatan AlBani berceloteh : bahwa yang tidak patuh terhadap Hadits/Fatwa yang dia kemukakan , maka orang itu telah sesat dan pantas masuk Neraka [dengan kalimat lain TIDAK PANTAS DILAKUKAN OLEH ORANG MUSLIM ]

    Jadi Jangan terpukau dengan kalimat …INI HADITSNYA SHAHIH… LHO…

    Tidak semua Hadits Shahih itu dapat dipakai Hujah dan tidak semua Hujah itu diambil dari Hadits Shahih , karena masalah seluruh Hadits sudah masuk pada RUANG IJTIHAD tergantung bagaimana kejelian seorang ULAMA membaca dan mengejawantahkan suatu masalah dan disandingkan dengan berita dari langit.[ ahli ilmu yang berijtihad , tidak boleh dicela , kecuali memaksakan kehendak ].

    Bagaimana derasnya cacian para simpatisan Salafi / Wahabi yang hafal al-qur’an / Hadits maupun yang ngekor , mencela dan menghina pada orang yang Shalat mengamalkan QUNUT SUBUH.

    Padahal hal itu IJTIHAD yang merujuk pada Hadits yang menurut seluruh Ulama Imam Asy-Syafi’I adalah Shahih.

    Seharusnya , para komentator kalau memang merasa dirinya berilmu dan hanya mencari kebenaran dan Ridho Allah swt – harusnya kembali melihat Sejarah Ulama Islam. Misal – selidiki siapa Imam Asy-Syafi’I ini ,LAHIRNYA TAHUN BERAPA , anak siapa, BERAPA TAHUN JARAK WAKTU dihitung dari SEJAK SAHABAT yang terakhir wafat sampai pada kelahiran Sang Imam, apakah GURUNYA orang yang terpercaya, keturunan dari siapa , apakah Sanad keturunannya sampai ke Rasulullah saw ( andai Imam Asy-Syafi’I itu ahli Bid’ah , memecah belah persatuan umat Islam , sepeti yang diberitakan oleh para anti Taqlid ) selidiki..kenapa dijuluki Nashir al-Hadits – Bapak Ushul Fiqh- cacimaki apa saja yang keluar dari bibir Asy-Syafi’I yang dialamatkan pada Umat Islam.atau Ulama yang lainnya.

    Makanya cari Ulama untuk panutan itu yang sanadnya sampai pada Rasulullah saw , karena Rasul itu orang yang paling dimulyakan oleh ALLAH swt,

    Seharusnya Ustadz –ustadz ini jujur menerangkan dengan sejelas-jelasnya dan terang benderang , jangan sampai ada istilah “” DALAM RANGKA MEWAHABIKAN MASYARAKAT “”

    Kalau misal para Ustadz penceramah SALAFI / WAHABI tidak pe de dengan Ulama yang diusungnya , malu untuk berterusterang karena menyangkut hal lain “ DIAM ITU adalah EMAS “

    Sekarang kita mampir pada Buku Hasil karya dari : Abu Salafi Hafidzullah dan karya dari KH.Agil Siraj , itu adalah kenyataan sejarah masa lalu , jadi tidak perlu lagi di pergunjingkan lagi seperti kakek-kakek kebakaran jenggot. [ prinsip : Dog-Dog menggonggong , kafilah berlalu ].

    Tentang kalimat : “Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.”
    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    Saya orang suka latahan dan bangga dengan penemuan , kemudian ditenteng-tenteng dibawa kemana-mana supaya orang pada tahu..ini lho saya punya ini…punya Imam Madzhab yang sanadnya sampai ke Rasul kita , Muhammad saw ,[ terserah apa tanggapan orang ]
    jadi sama sekali bukan mau nyindir yang tersindir karena banyak fatwa anehnya..tapi…memang hanya itu..hartaku …yang seluruh nasihat dan fatwanya kelak kuserahkan kehadapan ALLAH swt .

    Coba anda belajar menerima kenyataan Sejarah , melupakannya dan belajar melangkah kearah yang lebih positif , jangan emosi …kalau anda masih ingat…setahun yang lalu ,,,[ dalam blog ],anda pernah dinasihati oleh seseorang…yang isinya antara lain :
    1. Tidak selalu pertanyaan dapat jawaban , dan tidak selalu menjawab pertanyaan.
    2. Jangan mencari permasalahan dengan mengutamakan perbedaan , tapi cari persamaannya.
    3. Jangan GATELAN [ ateulan ] nempo tulisan batur rada vocal…kasinggung , ngadenge harewosan tatangga , galaretek hayang neke …..tah etateh jore.

    Ada 2 ( dua ) Blog yang aku sukai , enak dibaca oleh orang yang lagi stress dan jelek adatnya =

    1. Blognya -Aris Munandar .[ seumur aku punya blog hanya kepada blog ini aku pernah minta ma’af [ sampai-sampai hese molor , ngarasa salah ] karena salah ketik dan salah mengomentari ].padahal aku tidak kenal …bahkan mencacimaki pun aku bisa , tidak akan pernah ketemu …tapi…aku blogger sejati…meureun…nya……] .

    2. Blognya-Muhammad Abduh Tausikal. [ Isi blog ini jelas identitasnya jelas dan bacaannya pun…jelas ].
    Saya tidak kenal dengan mereka , tapi disitulah ada kedewasaan cara komunikasi.

    TIDAK ELOK MEMPERINDAH BLOG DENGAN DEBAT KUSIR ,
    TAPI TULISAN BERMANFAAT YANG MENJADI KEHOMATAN BLOG dan EMPUNYA.

    SUKA DENGAN KEHADIRAN TAMU , SILAHKAN TERIMA- TIDAK SUKA , YAAAAA…..USIR …DELETE…TAMU ITU RAJA….

    Saya memohon dengan sangat kepada anda :

    Andai Jamaah NU [ Madzhab Imam Asy-Syafi’I rhl ] itu banyak salah dan banyak melakukan pekerjaan yang tidak disukai oleh para jamaah NON NU
    . ….maka ada baiknya diingatkan dengan cara yang baik , yang terpuji dan andai Jamaah NU [ itu pengecut dan tidak ada perjuangannya membela / memperjuangkan Agama Islam seperti yang anda katakan diatas ] maka ajarilah mereka berjuang dan belajar dari membaca Sejarah Perkembangan Umat Islam masa lalu ketika Firqah Syi’ah Fatimiyah diporak porandakan oleh “ Solahuddin Al-Ayubby dalam menegakkan Syari’at Islam’—–musuhnya jelas…sasarannya jelas…tujuannya jelas…bukan demi sekte…ataupun ingin pujian…tapi demi Ridho Allah swt.

    ….atau mungkin bisa bercerita kepada mereka yang jumud , siapa saja Pahlawan Islam yang terlibat dalam perang salib …musuhnya jelas…tujuannya….jelas….hasilnyapun jelas…[ kalau istilah perdukunan : TIDAK ASAL SANTET , satu orang tukang angon yang salah , sekampung disantet , itukan sangat tidak terpuji ].

    Coba baca Riwayat :

    …..bertepatan dengan Sahabat Amru bin Ash ra membangun MASJID di Madinah , ada seorang Nenek tua renta berjalan menuju MAKAH ingin menemui Sang Khalifah Umar bin Khathab…kemudian nenek tadi dihadiahi TULANG dengan GURATAN PEDANG berbentuk huruf ALIF untuk dihadiahkan kepada Sahabat Amru bin Ash ra……Umar ra tidak lalu merasa paling Islam , paling benar paling tahu BENTUK USUS RASULULLAH saw.

    Coba baca Riwayat MUWATHTHA Imam Malik ketika hendak digantung di ka’bah….apa komentar Imam Malik Sang penguasa Madinah…???…

    Dari tulisan diatas , anda sudah dapat mengenali saya , yang tidak ada dasar keagamaan jadi harap maklum .Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa ngetik.

    Banyak-banyak terimakasih kepada anda dengan tertayangnya tulisan ini, mudah-mudahan kita semua termasuk Umat Islam ada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani ( tidak sakit ).

    لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

    “Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.”

    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    http://thesaltasin.wordpress.com/category/al-quran-teks-dan-terjemahan/

  32. Lukman Mubarok berkata:

    Golongan muslim satu dengan yang lain tak pernah mengata-ngatai sekte. Kalau sesat langsung aja cap aliran sesat kayak ahmadiyah. Secara diksi atau pilihan kata sekte, rupanya penulis idahram minim pengetahuan Islamnya. Saya meragukan kualitas idahram. Gelar syekhnya jangan-jangan hoax

  33. Lukman Mubarok berkata:

    Jangan-jangan idahram kalau dibalik urutan hurufnya jadi Marhadi. Ini dugaan saya

  34. jmustaf berkata:

    ” Dari tulisan diatas , anda sudah dapat mengenali saya , yang tidak ada dasar keagamaan jadi harap maklum .Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa ngetik…….

    Kalau kata kata the salt asin jujur… .. harusnya sesuai dengan isi blognya ….

    Bukankah isi blog anda penuh dengan fitnah dan cacian
    Tulisan anda di blog ini terlihat sopan dan ilmiah …tapi nyatanya ?

    The salt asin beranggapan dialah pewaris Madzhab Imam Asy-Syafi’I … dialah pengamal Madzhab Imam Asy-Syafi’I……

    Tapi lumayanlah tulisan nya di blog ini masih ada sopan santunya….dari pada isi blognya ……….

  35. TheSalt Asin berkata:

    jmustaf mengatakan:…………………………………….

    jmustaf..????..jmustaf —-http nya mana…jangan jadi blogger pengecut……………………….

    —————————————
    Bukankah isi blog anda penuh dengan fitnah dan cacian
    Tulisan anda di blog ini terlihat sopan dan ilmiah …tapi nyatanya ?

    —————————————————–
    ……………….nyatanya apa………..????……..jawab…………nyatanya apa……….jangan jadi blogger pengecut……………..simpan identitas yang jelas…………………………http——————–
    ——————————
    The salt asin beranggapan dialah pewaris Madzhab Imam Asy-Syafi’I … dialah pengamal Madzhab Imam Asy-Syafi’I……
    ——————————-
    memang benar…aku adalah salah satu orang dari sekian milyar orang penduduk bumi yang BERTAQLID pada Imam besar mujtahid mutlaq………yang sanadnya sampai ke Rasulullah saw…..aku bangga ……….dalam Sejarah Islam ……..belum ada tuh yang namanya Madzhab Suni menjadi virus Aqidah….apalagi memecah belah Umat Islam………………………….mengkotak-kotak umat Islam—————meng utak -atik hasil Ijtihad para Ulama terdahulu………………..
    simpan identitas yang jelas…..biar tamu dan pengunjung lainnya yang mampir di blog ini tahu bahwa anda adalah orang yang memiliki sekian banyak gelar ke Ustadzan dan ke Ulama an ………….dan dapatmengenalinya…………………………………………………………………………………………..
    ………………………wassalam.

  36. jmustaf berkata:

    Maaf saya cuma menyodorkan fakta yang ada di Blog anda… tidak usah terlalu seriuslah…….
    Saya sangat menghormati Imam Asy-Syafi’I dan Imam imam lainnya dari ahlul sunnah .

    ” memang benar…aku adalah salah satu orang dari sekian milyar orang penduduk bumi yang BERTAQLID pada Imam besar mujtahid mutlaq………yang sanadnya sampai ke Rasulullah saw…..aku bangga ……….dalam Sejarah Islam ……..belum ada tuh yang namanya Madzhab Suni menjadi virus …” …

    Yaaa…mungkin saya dan thesalt asin adalah salah satu orang dari sekian milyar orang penduduk bumi yang BERTAQLID Pada Nabi besar Muhammad SAW……………………dan Imam Iman mahzab sunny lainnya. ( jangan terlalu bernafsu …sekali lagi…. santai saja …ini cuma diskusi ..)

    Fakta di blog anda cukup jelas …. saya tidak berbicara di luar fakta….jadi jangan emosilahhh………

    Saya insyallah bukan termasuk pengecut …….nama dan alamat email saya mungkin tercatat di blog ini.

    Sekedar contoh tulisan di blog anda yang mungkin dapat sebagai bukti :……………….

    http://thesaltasin.wordpress.com/2011/07/08/qishash-ala-arab-wahabi/

    http://thesaltasin.wordpress.com/2011/07/10/6303/

    http://thesaltasin.wordpress.com/2011/06/14/ibnu-taimiyahbenarkah-sudah-bertobat/

    http://thesaltasin.wordpress.com/2011/05/10/sekte-hizbut-tahrir-al-hanafi-al-mutazili-1/

    http://thesaltasin.wordpress.com/2011/05/04/mereka-yang-aku-kagumidicaci-dan-dikafirkan/

    Tolong komentar anda , kalau saya khilaf maklumlah…saya masih orang yang belajar

    wass…

  37. Lukman Mubarok berkata:

    Kalau masih secara parsial memahami Islam kok mengaku bertaqlid pada Syafi’i maka suatu saat Syafi’i menyatakan cuci tangan dari taqlid itu.

  38. Lukman Mubarok berkata:

    Penduduk Makkah bermadzhab Syafi’i secara fiqh dan beraqidah wahabi yang sama dengan aqidah asli Imam Syafi’i. Kalau diperhatikan, orang Indonesia lebih sok Syafi’i dari pada Imam Syafi’i sendiri.

  39. TheSalt Asin berkata:

    Kalau masih secara parsial …( parsial itu artinya apa…kok seperti kirim paket suku cadang )…memahami Islam kok mengaku bertaqlid pada Syafi’i maka suatu …..saat Syafi’i menyatakan cuci tangan dari taqlid itu. ===== cucinya pakai apa……dan kapan difatwakannya….seorang yang berilmu dan mampu untuk ber iltihad , tidak butuh koar-koar ..bahwa aku adalah imam……tapi orang disekeliling pada saat itu dapat menilai sendiri…misal dari dialog permasalahan keagamaan..yang pada akhirnya mereka mengerti..siapa saja yang harus didengar nasihatnya…

    Penduduk Makkah bermadzhab Syafi’i secara fiqh ….dan beraqidah wahabi…..=====..Syafi’i yang mana….baca coba keseluruhan Fiqh nya. apa benar begitu…..

    >>dan beraqidah wahabi ….yang sama dengan aqidah asli Imam Syafi’i. ……..====.Wahabi itu…Imam Ahmad bin Hambal…walau Ahmad bin Hambal itu pernah menjadi PARTNER , tapi beliau mampu berijtihad sendiri sehingga …..timbullah Madzhab Hambali……..[ ada beberapa hal berbeda , misalnya dalam pembatalan wudlu ]……{ dan perlu disampaikan…sanad keturunan keluarga dari ibunya…. Imam Ahmad sampai ke Rasulullah saw.}……..>>.Kalau diperhatikan, orang Indonesia lebih sok Syafi’i …dari pada Imam Syafi’i sendiri…= anda ini orangnya bingung , yaa …iyalah..masa..
    ..berMadzhab Asy-Syafi’i kemudian berAqidah WAHABI….???………
    .>>>dari pada Imam Syafi’i sendiri…… = apa kagak lucu seorang imam Mujtahid meproklamirkan diri….”” bahwa aku adalah seorang imam yang terbaik..””…kemudiian mengutuk Imam Mujtahid lainnya..dan mengatakan…..mereka ahli Bid’ah ……=======saya suka pada kejujuran anda——–artinya anda orang yang jelas identitasnya….setiap Blogger yang identitasnya jelas…berarti mereka dari keluarga terdidik….terimakasih perhatiannya…..wassalam.

  40. TheSalt Asin berkata:

    Entah bagaimana kejadiannya….kok …jadi ada tiga komentar berderet…..padahal diposkannya hanya 1 kali klik…yaitu yang ada photoku.

  41. Lukman Mubarok berkata:

    Memang benar, orang Indonesia sok Syafi’i padahal merujuk pada Syekh Abdul Qadir yang notabene bermadzhab Hambali. Makanya kalau pemahamannya masih parsial nggak usahlah mencela dan banyak omong. Anonymous ternyata sama dengan thesaltasin yang belum kenyang asam garam.ne bermadzhab Hambali. Makanya kalau pemahamannya masih parsial nggak usahlah mencela dan banyak omong. Anonymous ternyata sama dengan thesaltasin yang belum kenyang asam garam.

  42. TheSalt Asin berkata:

    Syekh Abdul Qadir = beliau itu Ulama Besar yang menurut Sejarah Islam katanya berMadzhab Imam bin Hambal , yang Aqidahnya tidak pernah tercemar oleh kekuasaan dan ketamakan , makanya Madzhab ku sangat menghormatinya dan selalu dido’akan perlu diingat , beliaupun sanad keluarganya dari Ibu sampai ke rasulullah saw ….

    Jadi mendo’akan orang yang sudah meninggal itu boleh..:

    وأما القراءة للميت بمعنى أن الإنسان يقرأوينوي أن يكون ثوابها للميت، فقد اختلف العلماء رحمهم الله هل ينتفع بذلك أو لا ينتفع؟ على قولين مشهورين الصحيح أنه ينتفع، ولكن الدعاء له أفضل

    “Pembacaan al-Qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al-Qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak …….?….

    Atas hal ini terdapat dua qaul yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah bahwa membaca al-Qur’an untuk orang mati memberikan manfaat, akan tetapi do’a adalah yang lebih utama (afdlal).”

    Sumber : Majmu Fatawa wa Rasaail [17/220-221] karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin [w. 1421 H]

    Kalau sanad Hadits harus sampai ke Rasulullah saw …

    Sanad Ulamanya pun Harus dari keturunan yang dimulyakan oleh Allah saw….kan ada haditsnya …sekufu…sederajat….

    ———————————————–

    Anonymous ternyata sama dengan thesaltasin yang belum kenyang asam garam……= kan udah dibilangin diatas ….kok bisa ada tiga koment….padahal hanya satu kali klik…..eh Pak…saya orang kepengen tenar dan terkenal disegala bidang , jadi kalau menyembunyikan identitas ….sama aja merugikan diri sendiri…

    Anonymous ternyata sama dengan thesaltasin yang belum kenyang asam garam….=…lah..Bapak ini masih bingung apa dengan nama pakai the…artinya masih ingin belajar banyak dari pada pakar nya….wassalam.

  43. Lukman Mubarok berkata:

    Kalau begitu, yuk nak thesaltasin belajar salafi wahabi dari abisyakir bareng Bapak yuk nak

  44. TheSalt Asin berkata:

    Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Syaikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam I’lamu Al-Muwaqqi’in juz I\hal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata:

    ’’ Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi saw, perbedaan Sahabat dan Tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar”.

    حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ أَبَا النَّضْرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَعْني ابْنَ دِينَارٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

    Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Munir dia mendengar Abu An Nadlr telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abdullah yaitu Ibnu Dinar dari Ayahnya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

    “Sungguh seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang diridlai Allah, suatu kalimat yang ia tidak mempedulikannya, namun dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang dibenci oleh Allah, suatu kalimat yang ia tidak meperdulikannya, namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka.”

    HR- Imam Bukhari rahimahullah

    Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    http://thesaltasin.wordpress.com/category/al-quran-teks-dan-terjemahan/

  45. Lukman Mubarok berkata:

    Ibnul Qoyim juga bermadzhab Hambali sedang thesaltasin ngaku Syafi’iyah. Kok nggak konsisten ya. Harusnya dukung juga salafi wahabi yang sanadnya sampai imam Ahmad dan silsilah sampai kepada Rasulullah Saw

  46. abisyakir berkata:

    @ Thesalt Asin…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Yang saya maksudkan kejujuran / keterbukaan disini adalah : Apabila dari fihak anda berdakwah / menyampaikan sesuatu Hadits yang hubungan dengan Aqidah. Para penyampai tidak pernah mau menyebutkan Orang/Ulama yang mengusung Hadits tersebut , dia hanya bilang Hadits ini Shahih. Jadi seolah-olah umat Islam harus tunduk pada yang katanya Hadits Shahih , walaupun Hadits tersebut masih dalam arena perdebatan atau tidak cocok untuk disanding dalam satu pekerjaan tertentu ataupun umum..

    Komentar: Kalau hadits itu sudah sah dan valid dari misalnya Kitab Shahih Bukhari-Muslim, ya buat apa lagi para penyampai hadits itu menjadi SYARAT-nya? Tidak cukupkah kita percaya dengan keabsahan riwayat Bukhari-Muslim itu? Bukankah kritik kelompok Anda ke Syaikh Al Albani ialah ketika beliau mengkritik sebagian hadits riwayat Al Bukhari? Nah, pembelaan Anda dkk. ke Shahih Bukhari cukup menjadi jawaban atas pertanyaan Anda di atas. Kalau hadits itu butuh syarah, ya lihatlah Fathul Bari’ atau Syarah Muslim An Nawawi.

    Contoh kasus : Ketika Fihak lain melaksanakan Shalat Tarawih 20+3 rakaat, maka Fihak yang anti 20+3 rakaat akan mengomentari bahwa pekerjaan tersebut (Shalat Tarawih 20+3 rakaat) adalah pekerjaan Bid’ah Dhalalah.{ kalau dalam bahasa AlBani : Shalat Tarawih melebihi SEBELAS rakaat , sama dengan Shalat Dhuhur 5 rakaat atau Shalat Subuh 3 rakaat }.alias MASUK NERAKA. Kemudian kami tanyakan : Fatwa itu dari siapa..?..mereka hanya menjawab : INI HADITSNYA…( tanpa mau menjelaskannya.). Lalu pertanyaannya : Bagaimana nasib Jamaah yang Shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi…..yang jumlah mungkin sudah mencapai sekian milyar orang yang diimami oleh Ulama Wahabi [ kalau begini naga-naganya , pasti mereka pada berenang dineraka ]. Malah pernah ketika kejatuhan TALIBAN generasi pertama , di MAKAH Shalat Tarawih…+ 10 [ 20 + 3 + 10 ] sepuluh rakaat terahir pakai baca QUNUT NAZILAH dan ditayangkan di TVRI………….walah ini makin parah lagi…………….

    Komentar: Saya pernah membaca pandangan Syaikh Bin Baz rahimahullah, bahwa jumlah shalat malam itu sekuat kemampuan, tidak terbatas hanya 11 rakaat saja. Asalkan dikerjakan dua rakaat, dua rakaat. Kalau Al Albani memang menetapkan bahwa jumlah bilangan Shalat malam/termasuk shalat Tarawih maksimal 11 rakaat, sesuai hadits Aisyah Ra. Singkat kata, hal ini termasuk khilafiyyah. Ada yang berpendapat maksimal 11 rakaat, plus 2 rakaat shalat ringan saat baru bangun tidur. Ada yang berpendapat semampunya, seperti yang dilaksanakan di Masjidil Haram.

    Jadi dalam khilafiyyah seperti ini jangan ditarik terlalu jauh, misalnya menyebut orang lain masuk neraka, dan sebagainya. Itu kan dramatisasi Anda sendiri. Jangan begitulah, memprovokasi sesuatu yang sebenarnya kalem2 saja.

    Menurut Albani Hadits ini Shahih…walaupun Ulama lain menilainya Hadits ini Hadits Mungkar [ berdiri setelah sujud dengan mengepalkan tangan = AL-‘AJN].[internet]. Kemudian juga Fatwa AlBani: PENGHARAMAN- EMAS dipakai oleh wanita- Ziarah kubur yang dilakukan oleh wanita – Membaca Ayat Al-Qur’an di Makam dan tentang pekerjaan lain yang semacamnya, atau MENGHARAMKAN : Ritual Kenegaraan seperti : Memperingati Kemerdekaan , menyanyikan Indonesia Raya dan yang sejenisnya.- terangkan dengan jelas. Jangan pakai DOGMA dan DOKTRIN karena tidak dicontohkan , tidak ada fatwanya , atau pakai alasan …ooohhh ….ini..Haditsnya……Dho’iffffffffff…..kalau mau merujuk kesana…HP….INTERNET…COMPUTER…apa ada contoh dari Rasulullah saw…..dan ingat … pengertian Dho’if dan Bid’ah dimata BIN BAZ dan AlBani adalah sama dengan Neraka…sedangkan neraka itu untuk orang kafir.

    Komentar: Anda kan sudah pakar sekali dalam soal hadits. Iya kan? Masak sih pakar hadits seperti Anda tidak tahu kalau imam-imam hadits sejak jaman dulu sudah biasa berselisih tentang derajat hadits2. Seolah, di mata Anda, semua perselisihan ini baru terjadi sejak Al Albani mulai dilahirkan di muka bumi. Kasihan sekali. Lihat itu ilmu Jarah Wa Ta’dil, isinya kritik-kritikan rijal yang masya Allah deh. Selama Al Albani memiliki alasan atas hukum suatu hadits, ya itu menjadi tanggung-jawab beliau.

    Kalau ritual kenegaraan, ya dilihat dulu sebatas apa ritualnya. Namanya juga ritual (ibadah), ya hukum asalnya haram. Al ashlu fil ibadah at tahrim, illa bi nasshin (asal ibadah itu haram, kecuali ada nash yang memerintahkannya). Kalau memudah-mudahkan mencipta ritual, nanti agama kita jadi rusak seperti agama Nashrani.

    Terus Anda jangan sembarangan menuduh ulama besar seperti Bin Baz atau Al Albani, selalu menuduh pelaku bid’ah sebagai ahli neraka. Mereka itu sudah paham 2 jenis bid’ah yang mukaffirah (mengkafirkan pelakunya) dan ghairu mukaffirah (tidak mengkafirkan pelakunya). Anda ini ngomong seenaknya. Anda ini kan masih belajar, mengapa sudah berani obralan fitnah seperti itu? Kok tidak takut ya kalau ulama-ulama itu merupakan Wali Allah yang Dia jaga kehormatannya.

    Para penceramah SALAFI / WAHABI Juga harus menerangkan dengan jelas tentang PELAKSANAAN SHALAT model AlBani dan MODEL para Ulama MUJTAHID MUTLAK – Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in,[ jangan menyebelah ] karena MENURUT SAYA , MODEL / GAYA SHALAT yang beragam ini 90 persen [ dalam pelaksanaan Shalat ] adalah hasil dari Ijtihad para Ulama [ dalam pelaksanaan Shalat Rasulullah saw , itu tidak monoton atau hanya satu ketentuan saja ], Rasul juga pernah dalam melakukan Shalat seperti ini…seperti ini…dan ini…hanya menurut Ulama “ AKU LEBIH CONDONG MELAKUKAN GERAKAN / AMALAN YANG INI, KARENA AKU MELIHAT SI FULAN [sahabat ] MELAKUKAN INI DAN SESUAI DENGAN AL-QUR’AN AYAT INI. Cari riwayat yang mengisahkan , bahwa : Rasulullah saw – para Sahabat itu JIDATNYA HANGUS , seperti yang dipraktekkan para SALAFI / WAHABI….andai memang ada Hadits /ayat nya …apa benar maksud ayat itu demikian……..[ Madzhab Imam Asy-Syafi’I , tidak asal telan ayat dan telan makna …..yang pada akhirnya GHULUW dan kesesatan Sunah/disesatkan oleh bunyi hadits.

    Komentar: Intinya, Anda boleh mengkritik kitab Shifatu Shalat Nabi karya Al Albani. Boleh ajukan kritik ilmiah dan Islami, sebab selain Rasulullah Saw tidak kebal untuk menerima kritikan. Tetapi jangan asal bunyi kalau mengkritik. Al Albani menulis kitab itu dengan referensi kitab2 ulama lebih dari 200 judul kitab. Ini karya besar dan prosesnya melelahkan, Mas! Sementara apa yang Anda jadikan referensi untuk mengkritik karya Al Albani itu? Referensi kepalamu sendiri kan, yang ia kamu klaim sebagai “ilmu bersanad”. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Orang mengklaim menekuni ilmu bersanad kok adabnya rendah? Menyedihkan sekali.

    Terus soal dalil “jidat menghitam”. Anda tanya mana dalilnya? Dalilnya adalah akhir Surat Al Fath, disana dikatakan: “Fi wujuhihim min atsaris sujud” (di wajah-wajah mereka ada bekas sujud). Ini adalah dalil yang nyata. Bahkan bekas sujud ini kelak akan menjadi saksi di sisi Allah, seperti suara adzan seorang muadzin yang disaksikan makhluk di sekitar yang mendengarkan adzan itu.

    Kenapa para Mujtahid Mutlak tidak menfatwakan hal yang tidak diketahuinya secara jelas , missal : Shalat dengan kaki ngangkang. ….saya pernah baca –ketika Imam ditanya tentang menempelkan kaki dengan kaki dalam Shalat…..jawabannya..aku tidak tahu , apa/bagaimana tujuan / maksud Rasulullah saw, kalau aku memaksakan menerapkan Hadits ini , khawatir aku malah jadi perusak sunah…. Jadi jangan merasa paling benar dan paling baik , paling mengerti JEROAN Rasulullah saw. Dalam berbagai buku yang pernah saya baca , termasuk : SIFAT SHALAT NABI made in AlBani selalu saja ada Cacian , makian mengukir bibir muhaditsun AlBani yang dialamatkan kepada para Ulama yang tidak sefaham dengannya sampai [ RUH ] Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyum pun kena tamparan bahkan Ulama Imam Hanafi pun, dan Albani sendiri banyak menulis bahwa diri itu sebagai AHL al Ilm , atau HASIL PENELITIANKU TIDAK TERPATAHKAN. Dilain kesempatan AlBani berceloteh : bahwa yang tidak patuh terhadap Hadits/Fatwa yang dia kemukakan , maka orang itu telah sesat dan pantas masuk Neraka [dengan kalimat lain TIDAK PANTAS DILAKUKAN OLEH ORANG MUSLIM ] Jadi Jangan terpukau dengan kalimat …INI HADITSNYA SHAHIH… LHO…

    Komentar: Wah, Anda ini makin gak karuan emosinya. Soal merapatkan barisan itu sudah dibahas di berbagai riwayat, antara lain jangan berdiri renggang, sebab nanti celah-celah itu akan ditempati syaitan. Silakan cari hadits demikian. Adapun lebarnya kaki itu ya disesuaikanlah, jangan terlalu lebar juga jangan terlalu sempit. Yang proporsional. Ini masuk bagian “merapatkan dan merapikan shaf dalam shalat”. Maka kan disana imam selalu mengatakan, “Fa inna tasfiyatis shufuf min iqamatis shalah” (lurusnya shaf itu bagian dari mendirikan shalat).

    Anda menyebut istilah “Jeroan” Rasulullah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Masya Allah. Begitu lancangnya Anda menyebut kata “jeroan” untuk Rasulullah Saw. Padahal, kata jeroan itu biasanya dipakai untuk binatang ternak. Nah, ini yang saya sebut sebelumnya, bahwa: Anda sudah terjerumus dalam Fitnah. Anda ini orang kecil, ilmu kurang, akal lemah; tetapi sudah berani memaki-maki ulama besar yang jasanya dalam Islam tidak diragukan lagi. Sudahlah berhentilah Pak jadi “ahli fitnah”, biar hidupmu lebih baik.

    Anda menuduh Al Albani berceloteh, bahwa orang yang tidak menerima fatwanya, dia masuk neraka. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Tolong sebutkan bukti2nya wahai Saudara. Perkataanmu itu sangat berbahaya. Sudah masyhur dikenal Syaikh Al Albani termasuk kritis dengan madzhab-madzhab fiqih, meskipun tidak melepaskan diri secara mutlak. Maka itu beliau dituduh sebagai ulama “anti madzhab”. Yang menuduh banyak, termasuk Syaikh Ramadhan Al Buthi. Kalau begitu, kok berani2nya Al Albani memaksakan fatwanya kepada manusia? Masya Allah, ini adalah kebohongan yang nyata.

    Tidak semua Hadits Shahih itu dapat dipakai Hujah dan tidak semua Hujah itu diambil dari Hadits Shahih , karena masalah seluruh Hadits sudah masuk pada RUANG IJTIHAD tergantung bagaimana kejelian seorang ULAMA membaca dan mengejawantahkan suatu masalah dan disandingkan dengan berita dari langit.[ ahli ilmu yang berijtihad , tidak boleh dicela , kecuali memaksakan kehendak ].

    Komentar: Artinya kan, Anda melarang manusia langsung berhujjah kepada hadits2 shahih, sekalipun itu riwayat Bukhari Muslim. Dalam pandangan Anda, setiap orang harus ikut pemahaman gurunya ketika dia memahamo hadits2. Ini prinsip yang kacau. Hadits2 riwayat Imam Bukhari-Muslim tak boleh jadi hujjah, sementara akal guru-gurunya yang tidak seujung kuku dengan Imam Bukhari-Muslim malah dikedepankan. Ini prinsip yang aneh dan rancu.

    Bagaimana derasnya cacian para simpatisan Salafi / Wahabi yang hafal al-qur’an / Hadits maupun yang ngekor , mencela dan menghina pada orang yang Shalat mengamalkan QUNUT SUBUH. Padahal hal itu IJTIHAD yang merujuk pada Hadits yang menurut seluruh Ulama Imam Asy-Syafi’I adalah Shahih. Seharusnya , para komentator kalau memang merasa dirinya berilmu dan hanya mencari kebenaran dan Ridho Allah swt – harusnya kembali melihat Sejarah Ulama Islam.

    Misal – selidiki siapa Imam Asy-Syafi’I ini ,LAHIRNYA TAHUN BERAPA , anak siapa, BERAPA TAHUN JARAK WAKTU dihitung dari SEJAK SAHABAT yang terakhir wafat sampai pada kelahiran Sang Imam, apakah GURUNYA orang yang terpercaya, keturunan dari siapa , apakah Sanad keturunannya sampai ke Rasulullah saw ( andai Imam Asy-Syafi’I itu ahli Bid’ah , memecah belah persatuan umat Islam , sepeti yang diberitakan oleh para anti Taqlid ) selidiki..kenapa dijuluki Nashir al-Hadits – Bapak Ushul Fiqh- cacimaki apa saja yang keluar dari bibir Asy-Syafi’I yang dialamatkan pada Umat Islam.atau Ulama yang lainnya.

    Komentar: Ada memang yang mencela orang Qunut Shubuh, tapi ada juga yang tidak. Pihak yang tidak memahami bahwa Qunut seperti itu ada dalilnya juga, meskipun menurut studi hadits sifatnya lemah. Tidak semua orang main caci-maki begitu, Mas. Soal derajat Imam As Syafi’i tidak diragukan lagi. Hanya dalam masalah pendapat fiqih, ya pendapat beliau tidak otomatis benar semua. Kalau benar semua, ya tidak perlu ada madzhab2 fiqih lain. Iya kan? Jadi kita bijaksana sajalah.

    Makanya cari Ulama untuk panutan itu yang sanadnya sampai pada Rasulullah saw , karena Rasul itu orang yang paling dimulyakan oleh ALLAH swt, Seharusnya Ustadz –ustadz ini jujur menerangkan dengan sejelas-jelasnya dan terang benderang , jangan sampai ada istilah “” DALAM RANGKA MEWAHABIKAN MASYARAKAT “” Kalau misal para Ustadz penceramah SALAFI / WAHABI tidak pe de dengan Ulama yang diusungnya , malu untuk berterusterang karena menyangkut hal lain “ DIAM ITU adalah EMAS “

    Komentar: Wah, kalau sudah mendengki memang susah ya. Mau digimanain lagi ya, wong hatinya sudah kadung benci? Sudah saya katakan tadi, kita berdalil dengan Kitabullah, hadits Bukhari-Muslim, atau hadits2 shahih lainnya, itu sudah memenuhi syarat. Kalau bisa menempuh metode fiqhul jam’i (mengumpulkan semua dalil-dalil, lalu menyimpulkan hasilnya). Itu lebih baik lagi. Menyandarkan diri kepada Kitabullah dan As Sunnah, lebih utama daripada menyandarkan diri pada pendapat manusia yang tak selaras Kitabullah dan Sunnah.

    Sekarang kita mampir pada Buku Hasil karya dari : Abu Salafi Hafidzullah dan karya dari KH.Agil Siraj , itu adalah kenyataan sejarah masa lalu , jadi tidak perlu lagi di pergunjingkan lagi seperti kakek-kakek kebakaran jenggot. [ prinsip : Dog-Dog menggonggong , kafilah berlalu ]. Tentang kalimat : “Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.” (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah).

    Komentar: Begini sajalah saya buat test sederhana untuk Anda. Coba Anda runutkan sejarah Aran Saudi dari periode pertama sampai jaman Malik Abdul ‘Aziz Al Saud! Coba buat runutannya. Sebab dengan runutan ini akan terbongkar semua fitnah2 orang seperti Anda dan kawan Anda itu.

    Saya orang suka latahan dan bangga dengan penemuan , kemudian ditenteng-tenteng dibawa kemana-mana supaya orang pada tahu..ini lho saya punya ini…punya Imam Madzhab yang sanadnya sampai ke Rasul kita , Muhammad saw ,[ terserah apa tanggapan orang ]
    jadi sama sekali bukan mau nyindir yang tersindir karena banyak fatwa anehnya..tapi…memang hanya itu..hartaku …yang seluruh nasihat dan fatwanya kelak kuserahkan kehadapan ALLAH swt .

    Komentar: Kelak di Akhirat akan ada orang-orang alim yang dijerumuskan ke neraka. Kenapa kok begitu? Karena dia cari ilmu untuk gagah2an seperti Anda itu. Cari ilmu kok niatnya aneh. Luruskan dulu tuh hati kamu!

    Coba anda belajar menerima kenyataan Sejarah , melupakannya dan belajar melangkah kearah yang lebih positif , jangan emosi …kalau anda masih ingat…setahun yang lalu ,,,[ dalam blog ],anda pernah dinasihati oleh seseorang…yang isinya antara lain :
    1. Tidak selalu pertanyaan dapat jawaban , dan tidak selalu menjawab pertanyaan.
    2. Jangan mencari permasalahan dengan mengutamakan perbedaan , tapi cari persamaannya.
    3. Jangan GATELAN [ ateulan ] nempo tulisan batur rada vocal…kasinggung , ngadenge harewosan tatangga , galaretek hayang neke …..tah etateh jore.

    Komentar: Ya, tidak semua akan ditanggapi Mas. Masih lumayan komen2 Anda, meskipun berbeda pandangan masih dimuat. Tapi kalau menanggapi, tidak selalu. Tergantung urgensinya. Masak mata kita melototi komen-komen itu terus. Iya kalau komennya bermutu.


    Ada 2 ( dua ) Blog yang aku sukai , enak dibaca oleh orang yang lagi stress dan jelek adatnya =

    1. Blognya -Aris Munandar .[ seumur aku punya blog hanya kepada blog ini aku pernah minta ma’af [ sampai-sampai hese molor , ngarasa salah ] karena salah ketik dan salah mengomentari ].padahal aku tidak kenal …bahkan mencacimaki pun aku bisa , tidak akan pernah ketemu …tapi…aku blogger sejati…meureun…nya……] .

    2. Blognya-Muhammad Abduh Tausikal. [ Isi blog ini jelas identitasnya jelas dan bacaannya pun…jelas ].
    Saya tidak kenal dengan mereka , tapi disitulah ada kedewasaan cara komunikasi.

    Komentar: Ya, alhamdulillah, smoga di blog itu banyak manfaat dan faidahnya. Allahumma amin.

    TIDAK ELOK MEMPERINDAH BLOG DENGAN DEBAT KUSIR ,
    TAPI TULISAN BERMANFAAT YANG MENJADI KEHOMATAN BLOG dan EMPUNYA.
    SUKA DENGAN KEHADIRAN TAMU , SILAHKAN TERIMA- TIDAK SUKA , YAAAAA…..USIR …DELETE…TAMU ITU RAJA….

    Komentar: Anda-anda juga yang mengajak debat-kusir disini. Iya kan? Coba lihat komentator lain dalam tema ini, apakah mereka segiat Anda dalam “menyerang” orang lain?

    Saya memohon dengan sangat kepada anda :

    Andai Jamaah NU [ Madzhab Imam Asy-Syafi’I rhl ] itu banyak salah dan banyak melakukan pekerjaan yang tidak disukai oleh para jamaah NON NU . ….maka ada baiknya diingatkan dengan cara yang baik , yang terpuji dan andai Jamaah NU [ itu pengecut dan tidak ada perjuangannya membela / memperjuangkan Agama Islam seperti yang anda katakan diatas ] maka ajarilah mereka berjuang dan belajar dari membaca Sejarah Perkembangan Umat Islam masa lalu ketika Firqah Syi’ah Fatimiyah diporak porandakan oleh “ Solahuddin Al-Ayubby dalam menegakkan Syari’at Islam’—–musuhnya jelas…sasarannya jelas…tujuannya jelas…bukan demi sekte…ataupun ingin pujian…tapi demi Ridho Allah swt. ….atau mungkin bisa bercerita kepada mereka yang jumud , siapa saja Pahlawan Islam yang terlibat dalam perang salib …musuhnya jelas…tujuannya….jelas….hasilnyapun jelas…[ kalau istilah perdukunan : TIDAK ASAL SANTET , satu orang tukang angon yang salah , sekampung disantet , itukan sangat tidak terpuji ].

    Coba baca Riwayat : …..bertepatan dengan Sahabat Amru bin Ash ra membangun MASJID di Madinah , ada seorang Nenek tua renta berjalan menuju MAKAH ingin menemui Sang Khalifah Umar bin Khathab…kemudian nenek tadi dihadiahi TULANG dengan GURATAN PEDANG berbentuk huruf ALIF untuk dihadiahkan kepada Sahabat Amru bin Ash ra……Umar ra tidak lalu merasa paling Islam , paling benar paling tahu BENTUK USUS RASULULLAH saw.

    Coba baca Riwayat MUWATHTHA Imam Malik ketika hendak digantung di ka’bah….apa komentar Imam Malik Sang penguasa Madinah…???…
    Dari tulisan diatas , anda sudah dapat mengenali saya , yang tidak ada dasar keagamaan jadi harap maklum .Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa ngetik.

    Komentar: Anda juga harus bersikap adil kepada Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Beliau itu di masa hidupnya berjihad melawan kaum Tartar, sehingga mereka menderita kekalahan. Tartar itu siapa? Apakah Muslim atau non Muslim? Itu juga harus dilihat, jangan hanya bersikap sinis saja kepada beliau.

    Banyak-banyak terimakasih kepada anda dengan tertayangnya tulisan ini, mudah-mudahan kita semua termasuk Umat Islam ada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani ( tidak sakit ).

    Komentar: Sama-sama terimakasih, amin Allahumma amin. Oh ya, saya nasehatkan sebagai berikut: “Anda boleh mengkritik siapapun yang salah, keliru, atau sesat. Boleh itu, malah terpuji kalau niatnya demi menjaga agama. Tetapi kritik itu harus ilmiah, adil, dan tidak tercampuri hawa nafsu. Sebab kalau kritiknya penuh hawa nafsu, nanti bisa mencelakai Anda sendiri; terutama kalau menyangkut kehormatan ulama2 yang mulia. Contohlah sikap baik Ibnu Katsir rahimahullah. Meskipun secara fiqih beliau berbeda dengan Ibnu Taimiyyah, karena beliau mengambil madzhab fiqih Syafi’i. Tetapi beliau memuji Ibnu Taimiyyah, dan tidak pernah menghiasi lisannya dengan kezhaliman kepada gurunya itu. Contohlah ulama besar ini, wahai Saudaraku!”

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  47. TheSalt Asin berkata:

    Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Terimakasih ulasannya ,

    wassalam.

  48. abisyakir berkata:

    @ TheSalt Asin….

    Sama-sama Mas, semoga ada manfaatnya diskusi ini, bagi saya, Anda, dan kita semua. Semoga hidup kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Allahumma amin.Mohon dimaafkan kalau ada salah dan kekurangannya. Yang benar dari sisi Allah, yang salah dari diri saya sendiri.

    AMW.

  49. Lukman Mubarok berkata:

    Alhamdulillah sudah berdamai

  50. TheSalt Asin berkata:

    Sama-sama Kang, saya juga mohom maaf

    kadang saya nyengir kalau baca ulang .ternyata menggelikan, saya mulai menguak lembar baru yang entah apa isinya. wassalam.

  51. robbynur berkata:

    seru ya perdebatan ttg salafi….saya jadi penasaran sama buku tsb diatas….

  52. anas berkata:

    pak robbynur,

    tentang salafi wahabi memang dari dulu seru perdebatannya, saya dulu juga sempat mencap stigma jelek terhadap wahabi, tapi setelah banyak penjelasan siapakah wahabi beserta bantahannya di internet, maka sekarang semakin faham, malah sekarang cenderung memilih pendapat orang2 salafy wahabi itu……….

    nasehat saya mendingan jangan beli buku SBSSW, mendingan beli buku bantahannya, dijamin lebih seru……

    nih link-nya

    http://nasihatonline.wordpress.com/2011/07/15/telah-terbit-buku-bantahan-ilmiah-terhadab-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/

  53. robbynur berkata:

    wah..terima kasih pak anas atas sarannya…jazakalloh….saya beli n baca perdebatan buku ‘mereka adalah teroris’ dan seterusnya bantahannya..memang seru ya pak…terus ‘dsdb’ nya pak abisyakir ini juga saya baca cuma yang saya dapat hanya jilid 2 nya….jilid 1 sudah habis n tdk terbit lagi….

  54. yuswono berkata:

    semoga Allah SWT. senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya…memberinya kesadaran dan mengasihi setiap amal baik bagi kaum muslimin muslimat semua, membersihkan hati dari sikap saling meremehkan sesama, ketinggian ilmu bukan segalanya…yang pada saatnya tidak diperlukan lagi kecuali kedekatan seorang hamba dengan Kholiknya,
    berjiwa besarlah saudara-saudaraku…mengalah itu tidak selalu kalah.
    …dan menang pun tidak identik dgn kebenaran…Allah lah yang maha benar dari dulu, sekarang dan yang akan datang…

  55. abisyakir berkata:

    @ Lukman Mubarok…

    Alhamdulillah Akhi, antum suka dengan saudaramu yang berdamai. Semoga Allah dan makhluk-Nya menyukai antum, karena antum suka dengan kebaikan. Semoga juga menyukai kami dan orang-orang yang lembut kepada sesama Muslim. Amin Allahumma amin.

    AMW.

  56. abu ismail berkata:

    smoga tetap istiqomah di jalan yang lurus seperti yang pernah ditempuh para sahabat rodhiyallohu anhum ajma’in.

  57. sulaiman berkata:

    saya lebih memahaminya ke arah metode/cara

    kebenaran apapun, jika cara pewartaanya dengan cara arogansi dan kesombongan. sangat sulit untuk mendapatkan respect dari lawan bicara / obyek dakwah (“bukan kelompok yang sama tapi kelompok yang mempunyai pemahaman beda dan bukan kelompok yang belum mempunyai pemahaman/belum pernah ngaji”).

    sedikit saran saja buat @abisyakir(AMW), selama ini dakwah salafi kurang diterima masarakat indonesia, karena cara yang digunakan lebih seperti mengajak permusuhan dengan masyarakat. seharusnya para ustadz salafy bisa mengerti tempat dan objek dakwahnya. bukan main tebar salah., dalam point 8 pandangan anda diatas anda sebutkan metode tajassus, saya mohon anda ingat dengan tulisan yang anda tulis, sehingga anda tidak juga mencari-cari kesalahan kelompok/personal yang bertentangan dengan pemahaman anda

    saya melihat dari atas sampai bawah, ini bukan forum diskusi, tapi lebih kepada forum pembenaran. bahwa saya yang paling benar. kamu salah, dls

  58. Abu abyan berkata:

    @ sulaiman : saya setuju dengan anda, bahwa cara penyajian itu bisa mempengaruhi selera pasar, terlepas dari apakah isinya itu benar atau tidak.

    Secara logika, dakwah rosulullah yg lembut pun masih mendapat penentangan dari sana sini, apalagi kl rosulullah berdakwah secara kasar.

    Tegas itu tidak selalu berarti keras.

    Tp untuk kasus tertentu gaya bahasa ustad amw ini bisa efektip juga, karena bisa menimbulkan rasa penasaran, kemarahan, keingintahuan orang yg membacanya, sehingga mendorong orang tsb untuk mengkaji dan belajar lebih dalam.

  59. kilatan pedang berkata:

    dasar syexxx berujud manusia syaih idarham

  60. faruq berkata:

    saya bukan salafi, tapi saya juga sangat mengecam buku SBSSW,
    begini
    sebaiknya ini kita jadikan pelajaran bagi kita semua
    saya tahu orang salafi taat2, menampakkan islam dengan sungguh2, itulah yg membuat saya kagum
    tetapi tidak bisa dipungkiri beberapa orang salafi kurang bisa menjaga mulut, dengan jurus andalan bid’ah dan kafir
    kita tahu, apabila kita sendiri dikatai bid’ah, apalagi kafir pasti sangat sakit hati
    dulu orang2 NU sering dikatai Qunut bid’ah, tahlilan bid’ah, dll
    (bagaimana kalo mabit dan dauroh 3 hari, 6 hari.)
    sehingga mereka juga jengkel dan menutup hati mau memberi sambutan di buku ini
    untuk itu, marilah kita belajar ngomong dengan baik. jika hal itu memang bid’ah (termasuk dauroh dan mabit) – saya orang awam – maka bok ya ngomong baik2, ngajak ke yang bener, jangan dikata2i begitu.

  61. abisyakir berkata:

    @ Faruq…

    Ya alhamdulillah, Bpk/Mas Faruq sudah bersikap inshaf (adil). Apa yang Anda sampaikan, juga kami rasakan. Ummat ini butuh sikap pertengahan -seperti Bapak/Mas- bukan sikap ekstrem ke kanan atau ke kiri. Jazakumullah khairan katsira.

    AMW.

  62. abisyakir berkata:

    @ Anonymous…

    Alhamdulillah, saat sekarang sudah tampak penulisnya. Hanya untuk sebutan “Syaikh” itu, masih dipertanyakan. Dalam tradisi penulisan kita, ulama sekelas Buya Hamka rahimahullah saja tidak memakai sebutan Syaikh. Lagi pula, sejauh apa keilmuwan penulis dalam hal ini? Kalau kebenciannya kepada Wahhabi, ya kita sudah sama-sama tahu. Tapi sejauhmana kadar keilmuwan dia sehingga menampakkan identitas seperti ulama besar? Secara pribadi saya ragu dengan keilmuwan “Syaikh” ini.

    Dan sungguh hebat, ketika ada yang menebak nama penulis dengan sebutan Marhadi. Ternyata, tebakannya tepat. Subhanallah.

    AMW.

  63. anang dwicahyo berkata:

    Bersabarlah dalam fitnah ya ikhwah , semoga Allah meneguhkan hati dan perjuangan kita.

    Janganlah terbuai akan hasil , janganlah patah semangat karena fitnah .

    Jangankan baru kita yang cuma derajatnya segini ini , lha wong Rasullullah shalalahu alaihi wassalam saja dihadang sekian banyak rintangan , demikian juga para sahabat dan para imam yang lainnya.

    Memang dari sekian kritikan yang harus diambil karena bermanfaat adalah ” berlemah-lembutlah dengan sesama muslim ” , karena setiap pertanyaan berkonsekwensi jawaban demikian juga sebaliknya.

    Seorang da’i / ustadz/mubaliqh selain harus berilmu juga berakhlak mulia , serta pandai membaca situasi dakwahnya.
    Hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengatakan yang bathil kalau hal itu memang bathil ………..tapi cara penyampaian itu yang perlu dipelajari dan ini banyak tidak kita temui di ustad2 kita kecuali yang sudah senior.

    Tentang 2 orang ” mulia ” yang memberi komentar di buku tersebut , saya berdoa semoga Allah memberi petunjuk kepada beliau bahwa beliau telah salah dan segera bertaubat karenanya, karena saya dan kaum muslimin di indonesia sangat mencintai beliau dan masih membutuhkan beliau dalam dakwah kebaikan.

    Saran saya , sebaiknya adakan pengajian ilmiah bedah buku tersebut , dan usahakan dalam pengajian ilmiah tersebut diundang tokoh islam yang ” alergi dakwah salafi wahabi ” dengan undangan yang terhormat , sukur-sukur kalau dilakukan di daerah basis kelompok :” anti salafi wahabi “.

    Dengan dakwah bil hikmah serta memohon pertolongan Allah , insya Allah akan memberikan hasil yang optimal dalam dakwah.

    Terakhir , jazakallah khair ustadz atas artikelnya.

  64. Moen_Ww berkata:

    Bismillah..
    Mari kita berjihad dengan ilmu, membendung aliran sesat di Indonesia.

  65. abudini berkata:

    Abudini.
    Salafush salih adalah orang-2 terdahulu yg salih yaitu sahabat,tabi’in dst.
    salafi yaitu orang yang mengikuti manhaj dg pemahaman salafush salih

  66. Rudi Hoerudin berkata:

    SEMOGA PENGIKUT SUNAH SEMAKIN BANYAK

  67. riky berkata:

    bingung…semua sangat membingungkan…. semua merasa aliran dan fahamnya yang paling benar….padahal jelas-jelas Allah membenci orang yang antara perkataan dan perbuatannya berbeda

  68. Sotoy... berkata:

    Saya mah kagak bingung melihat keanehan seperti hujat-menghujat, jelek menjelekkan. seperti yg kita lihat dalam tulisan di blog ini. biasa aja kaleee….!
    kagak bingung….! asli kagak bingung….!
    Kenapa? jelas keadaan seperti ini itu banyak yg menghedaki. bahkah kekacauan dan kehancuran di antara umat Islam sekali pun mereka sangat menghendaki , bahkan mejadi target tujuan utama mereka. Lalu siapa mereka yang menghendaki umat Islam itu hancur?
    jawabnya adalah:
    1. jelas SETAN, IBLIS laknatullah alaihim
    2. musuh2 Islam dari bangsa manusia
    3. cari sendiri……/?

  69. Si'Ardjuna... berkata:

    sampai sekarang, buku SBSSW cukup banyak penggemarnya trnyata………… dan ternyata……………

    Komentar para tokoh terhadap buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi :

    1. Ust. H.Muhammad Arifin Ilham, Pimpinan Majlis Zikir az-Zikra:

    “ Saya rasa, rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting seperti ini, agar anak-anak mereka juga turut membacanya, untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus. Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih-sayang.”

    2. KH.Dr. Ma’ruf Amin, MA Ketua Majlis Ulama Indonesia [MUI] :

    “Buku ini layak dibaca oleh siapa pun. Saya berharap, setelah membaca buku ini, seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih-sayangnya, rukun dengan saudaranya, santun dengan sesama umat, lapang dada dalam menerima perbedaan, dan adil dalam menyikapi permasalahan.”

    3. Prof.Dr. KH. Said Agil Siraj, MA Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama [PBNU] :

    “Saya sangat bergembira dengan adanya karya ilmiah dari Saudara Syaikh Idahram ini yang merupakan satu karya penting bagi masyarakat muslim Indonesia. Bisa dikatakan, belum ditemukan karya setajam ini sebelumnya dalam mengkritisi Salafi Wahabi.”

    ___________________________

    MREKA TOKOHHHHHH.???

    TOKOHHHHHH MREKA KATANYA???

    KATANYA MREKA TOKOHHHHHH???

    KATANYA TOKOHHHHHH MREKA???

    MREKA SIAPA.????

    SIAPA MREKA???

    MREKA SIAPA, SIAPA MREKA, MREKA TOKOH KATANYA, TOKOH MREKA KATANYA…..

  70. Si'Ardjuna... berkata:

    pa, bener apa ngga kalau KH.Dr. Ma’ruf Amin, MA (ketua MUI) itu berkomentar seperti itu terhadap buku SBSSW??

    kan kalau komentar Ust. H.Muhammad Arifin Ilham seperti trcantum d’atas, itu katanya bohong belaka (maksudnya, Ust. H.Muhammad Arifin Ilham tidak berkomentar sperti tercantum d’atas).. katanya itu jga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: