Wahai Departemen Agama RI: Mengapa Anda Menolak Kesaksian Seseorang yang Sudah Melihat Hilal?

Agustus 30, 2011

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Tadi malam, Sidang Itsbat Departemen Agama RI sudah menyatakan, bahwa hari raya Idul Fithri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, atau bertepatan dengan hari Rabu. Penetapan Depag RI ini didukung nasehat MUI (KH. Ma’ruf Amin), pernyataan mayoritas ormas Islam, hasil perhitungan falaqiyyah para ahli hisab, hasil pantauan astronomi oleh beberapa pakar astronomi. Dengan demikian, tampaklah bahwa ketetapan Depag RI itu sangat kuat.

Ibadah Islami Berdasarkan Rukyatul Hilal (Melihat Bulan Sabit).

Tetapi kami justru menghimbau kaum Muslimin agar: “Segera membatalkan puasanya pada tanggal 30 September 2011, atau pada hari Selasa; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Selasa, silakan; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Rabu (seperti yang kami lakukan), silakan juga; pendek kata, batalkan puasa pada hari Selasa, tanggal 30 Agustus 2011.

Bagaimana bisa kami berani menentang penetapan Depag RI soal kepastian Idul Fithri pada tanggal 31 Agustus 2011 itu, padahal kami ini bukan siapa-siapa dibandingkan mereka? Ilmu falaq ya segitu-gitunya, pengalaman melihat hilal tak pernah, pengalaman astronomi minim, ilmu fiqih juga minim. Kok berani-beraninya menentang ketetapan Depag RI yang sudah mapan itu? Onde mak oey… (meminjam istilah masyarakat Padang).

Berikut alasan-alasan yang bisa kami kemukakan:

[1]. Perlu sama-sama dipahami, bahwa urusan ibadah memiliki aturan berbeda dengan muamalah. Ibadah memiliki khashaish (kekhususan-kekhususan) yang merupakan hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya. Dalam soal ibadah shaum, Haji, dan hari raya, Nabi Saw memerintahkan metode RUKYATUL HILAL (melihat awal bulan). Tidak masalah kita menjalankan ibadah berbeda dengan kalender, asalkan syarat-syarat ketentuan ibadah itu terpenuhi. Dalam urusan ibadah memakai Rukyatul Hilal, sedangkan dalam urusan muamalah memakai kalender (hasil hisab). Tidak mengapa semua ini.

[2]. Sudah ada pernyataan yang datang SEBELUM pengumuman Sidang Itsbat Depag RI, bahwa ada di antara kaum Muslimin di Jepara dan Cakung Jakarta sudah melihat hilal. Maka pengumuman ini harus diterima, selama yang bersangkutan mau bersumpah. Demikian kaidah aslinya. Apapun teori ilmu falaq, nasehat MUI, perhitungan ahli hisab ormas Islam, pantauan astronomi, dll. semua itu menjadi tidak berlaku, jika sudah ada kaum Muslimin yang mengaku telah melihat hilal. Inilah dasar aplikasi Syariat Islam aslinya, sebelum kaum ahli hisab/pakar astronomi menguasai wilayah ibadah ini. Hal itu sesuai sabda Nabi Saw.: “Shumuu li ru’yatihi wa ufthiruu li ru’yatihi” (shaumlah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah -saat awal Syawal- dengan melhatnya juga). [HR. Bukhari Muslim]. Untuk memastikan baca artikel voa-islam.com ini: Hilal Sudah Telrihat Senin Sore, Tapi Pemerintah Tetapkan 1 Syawal Hari Rabu.

[3]. Depag RI dan ormas-ormas Islam tertentu jelas TELAH MENOLAK KESAKSIAN beberapa Muslim yang telah melihat hilal. Padahal dalam riwayat diceritakan, ada seorang Shahabat datang kepada Nabi Saw dan mengaku telah melihat hilal. Lalu Nabi Saw meminta dia bersumpah, dia pun bersumpah. Maka kemudian Nabi Saw memerintahkan Bilal Ra mengumumkan, bahwa besok kaum Muslimin berpuasa. Lihatlah, cara ini sangat mudah, sangat mudah, sangat simple; sebelum akhirnya DIBUAT KERUH oleh para ahli hisab, para ahli falaqiyyah, para pakar astronomi, dan sebagainya. Padahal Nabi Saw bersabda: “Yassiruu wa laa tu’assiruu” (permudahlah, jangan dibuat susah).

[4]. Perlu diketahui bahwa metode penetapan melalui Sidang Itsbat Depag RI itu ternyata merupakan bentuk dari memaksakan metode hisab/falaqiyyah secara EKSTREM. Ini adalah bentuk kesesatan baru yang tidak sesuai Sunnah Nabi Saw. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka jelas-jelas MENOLAK kesaksian beberapa orang Muslim di Cakung dan Jepara yang telah mengaku melihat hilal. Kata mereka, “Tidak mungkin hilal sudah terlihat! Menurut perhitungan kami dan pengamatan astronomi, seharusnya hilal belum terlihat.” Nah itu dia, mereka menolak kesaksian melihat hilal karena alasan perhitungan ilmu falaq dan pantauan astronomi. Padahal Nabi Saw tidak mempersyaratkan hal itu. Cukuplah kesaksian seorang Muslim yang mau disumpah, itu sudah cukup.

[5]. Kita harus memahami, bahwa Allah Ta’ala berkuasa atas segala kejadian di alam ini. Bisa jadi, sesuatu yang tidak mungkin secara ilmu falaq/astronomi, bisa menjadi mungkin menurut Allah Ta’ala. Apakah kita meragukan Kekuasaan Allah? Percayakah Anda, bahwa bisa saja Allah menampakkan hilal kepada sebagian hamba-Nya dan menutup hilal bagi sebagian yang lain? Hal itu sangat bisa terjadi dan sering terjadi. Tampaknya hilal adalah karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dan prediksi sains tidak selalu sesuai kenyataan. Banyak bukti-bukti di lapangan bahwa prediksi sains berbeda dengan kenyataan, misalnya prediksi cuaca, prediksi badai, prediksi gunung meletus, prediksi tsunami, prediksi janin dalam kandungan, prediksi usia harapan hidup pasien, prediksi penyakit dalam tubuh, prediksi hasil panen, prediksi pertumbuhan tanaman, prediksi kecepatan kendaraan, dll. Apakah di semua keadaan itu sains bisa memberikan hasil prediksi sempurna? Contoh kekeliruan informasi sains. BMKG pernah memprediksi ancaman tsunami di Sumatera telah berlalu, tetapi kemudian tsunami melanda Mentawai dan sekitarnya, ratusan orang meninggal disana. Sebaiknya Ummat Islam jangan memutlakkan hasil analisis sains, meskipun jangan pula menolaknya mentah-mentah.

[6]. Para ahli falaqiyyah/ahli hisab/pakar astronomi sering marah kalau mendengar ada seorang Muslim mengaku sudah melihat hilal. Mereka beralasan, “Tidak mungkin terlihat. Itu bohong semata! Berdasarkan perhitungan kami, hilal belum terlihat!” Orang-orang ini bersikap IRONIS, seolah hak dalam penentuan urusan din ini ada di tangan mereka sepenuhnya. Seolah, mereka berada dalam maqam ma’shum, yang tak tersentuh kesalahan. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Disini kita bisa buktikan, bahwa orang-orang itu bersikap TIDAK KONSISTEN dengan sikapnya. Pertama, kita bertanya ke mereka, “Mengapa Anda menolak kesaksian Muslim yang sudah melihat hilal?” Mereka jawab, “Berdasarkan perhitungan kami, dan diperkuat hasil pantauan astronomi, hilal tak mungkin terlihat. Bohong besar kalau ada yang mengaku sudah melihat.” Kedua, kita bertanya lagi, “Kalau hilal tak mungkin terlihat, lalu bagaimana solusinya?” Mereka jawab, “Ya, bulan Ramadhan kita istikmal-kan menjadi 30 hari. Mudah bukan!” Nah, disana itu bukti sikap TIDAK KONSISTEN mereka. Kalau mereka konsisten dengan metode Rukyatul Hilal dengan syarat-syarat seperti yang mereka tetapkan, belum tentu bisa melihat hilal pada tanggal 30 Ramadhan, tanggal 31, dan sebagainya. Bagaimana kalau langit tertutup mendung terus, darimana mereka akan bisa melihat hilal? Perlu diketahui, Observatorium Boscha itu berkali-kali gagal mengamati gerhana, komet, atau meteor gara-gara langit terhalang oleh mendung/awan. Metode istikmal (menggenapkan bulan menjadi 30 hari) adalah metode Sunnah, bukan berdasarkan teori-teori falaqiyyah/astronomi. Kalau mereka mau mengambil Sunnah dalam soal ISTIKMAL, mengapa mereka menolak Sunnah dalam kesaksian seorang Muslim bahwa dia sudah melihat hilal? Dimana sikap konsisten mereka?

[7]. Para pakar falaqiyyah/ahli hisab/astronomi menuduh bahwa kesaksian beberapa Muslim yang telah melihat hilal pada saat senja hari, 29 Agustus 2011, sebagai bentuk kebohongan. Masya Allah, padahal Nabi Saw hanya mempersyaratkan SUMPAH saja untuk memverifikasi kesaksian itu. Hal tersebut adalah bentuk kemudahan dalam Syariat. Lalu pertanyaannya, “Bagaimana kalau kesaksian beberapa orang yang mengaku melihat hilal itu benar-benar bohong?” Jawabnya sebagai berikut: (a). Kalau mereka dusta, dosanya ditanggung mereka sendiri di hadapan Allah; (b). Selama kita sudah berpuasa 29 hari, itu sudah mencukupi ketentuan puasa Ramadhan. Kecuali kalau puasa kita baru 28 hari, jelas harus disempurnakan. Jadi, hal semacam ini dibuat ringan saja: sejauh kita sudah puasa 29 hari dan ada kesaksian Muslim bahwa dirinya telah melihat hilal dan mau disumpah, itu sudah mencukupi.  Anda tidak akan disebut maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya karena telah puasa 29 hari. Bahkan menurut riwayat Ibnu Mas’ud Ra, puasa Nabi Saw lebih banyak 29 hari, bukan 30 hari.

[8]. Sangat berbahaya kita berpuasa saat 1 Syawal atau saat jatuh hari raya Idul Fithri. Ini berbahaya, haram menurut Syariat Islam. Siapapun puasa di hari Idul Fithri, hal itu merupakan maksiyat serius kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam kaidah Sunnah, kalau ada dua pilihan yang sama-sama halalnya, kita dianjurkan memilih yang paling ringan. Misalnya, saat dalam safar, kita boleh Shalat secara sempurna, tapi boleh juga Shalat Qashar. Maka memilih yang lebih ringan (shalat qashar) itu lebih utama dan lebih sesuai Sunnah. Dalam hal ini, memilih shaum 29 hari lebih mudah dan lebih sesuai Sunnah Nabi Saw, daripada berpuasa 30 hari.

[9]. Andaikan perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi dalam soal Rukyatul Hilal harus diterima sebagai KEPASTIAN, maka itu sama saja dengan membuang Sunnah Rukyatul Hilal itu sendiri. Kalau begitu caranya, ya sudah Anda tetapkan saja jadwal Ramadhan/Syawal secara abadi seperti “jadwal shalat abadi”. Jadi, tidak usah bertele-tele bicara Rukyatul Hilal. Karena percuma juga kaum Muslimin melakukan Rukyatul Hilal, kalau nanti tidak sesuai perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi, maka Rukyatul Hilal itu tetap akan ditolak juga (seperti Sidang Itsbat Depag RI tanggal 29 Agustus 2011 itu). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa AROGANSI para pakar ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi berhasil membuang Sunnah Rukyatul Hilal dari kehidupan kaum Muslimin. Nah, inilah yang saya sebut sebagai sikap EKSTREM orang-orang itu.

[10]. Lalu bagaimana dengan nasehat agar kaum Muslimin lebih mengutamakan PERSATUAN daripada kesaksian Rukyatul Hilal? Bantahannya sebagai berikut: (a). Dalam Surat Ali Imran dikatakan, “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an, wa laa tafarraquu.” Dalam ayat ini berpegang teguh kepada kebenaran DIDAHULUKAN dari persatuan. Hikmahnya, apa artinya bersatu kalau ingkar terhadap Syariat Islam?; (b). Ibnu Mas’ud menjelaskan pengertian Al Jamaah, “Ittifaqu bil haqqi walau kunta wahid” (sepakat dengan kebenaran walau engkau hanya seorang diri). Kita harus berpegang dengan kebenaran, meskipun seorang diri; (c). Dalam Sunnah disebutkan sabda Nabi Saw, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf saja). Mengingkari kesaksian melihat hilal adalah maksiyat serius, harus ditolak, kita tak boleh mematuhinya; (d). Persatuan yang dikehendaki oleh Islam adalah persatuan yang Syar’i, bukan persatuan yang membuang kaidah Sunnah Rasululullah Saw; (e). Bersatu di atas kebathilan justru sangat dilarang dalam Islam, seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah, “Wa laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwan” (jangan kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan); (f). Para ulama, salah satunya Ibnu Utsaimin rahimahullah, mengatakan bahwa kalau ada Muslim yang melihat hilal, sementara Ulil Amri sudah menyatakan bahwa hari itu hari berpuasa, maka dia dipersilakan berbuka untuk dirinya sendiri dan tak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Mengapa orang itu tidak dilarang berbuka, malah disuruh berbuka di hari itu? Sebab HARAM berpuasa saat hilal sudah terlihat.

Demikian alasan-alasan yang bisa kami sebutkan. Sekali lagi, kami anjurkan kaum Muslimin untuk membatalkan puasa pada tanggal 30 Agustus 2011 (hari Selasa) ini, dengan keyakinan bahwa sudah masuk tanggal 1 Syawal. Tidak boleh kita puasa di hari 1 Syawal. Dalilnya, sudah ada kesaksian sebagian Muslim bahwa mereka sudah melihat hilal yang diperkuat dengan sumpah. Hasil Sidang Itsbat Depag RI tidak bisa menganulir hasil kesaksian tersebut, sebagaimana Nabi Saw tidak menolak kesaksian seperti itu. Kecuali, kalau Depag RI menempuh jalan selain Sunnah Rasulullah Saw. Dan tidak mengapa kita ikut Shalat Id pada hari Rabu besok, 31 Agustus 2011 sesuai keputusan Sidang Itsbat Depag RI.

Semoga pernyataan ini bisa bermanfaat dan ikut disebarkan di kalangan kaum Muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab. Wastaghfirullaha li wa lakum.

Depok, 30 Agustus 2011.

Abu Muhammad Waskito.


Cerpen: Pertarungan Kazarudi Vs KAPOK

Agustus 17, 2011

Bismillah, sebuah cerpen selingan, untuk refreshing….

Nun disana, ada sebuah negeri yang namanya cukup panjang. Negeri itu di surat akte ditulis dengan nama: Bagus Asyik Natural Gembira Sejahtera Adil Komplit Utama. Karena nama negeri ini terlalu panjang, orang-orang suka menyingkatnya: BANGSAKU. [Tetapi sejujurnya, kepanjangan nama negeri itu terlalu kelihatan kalau dipaksa-paksain].

Dalam perjalanannya, negeri BANGSAKU ini ternyata banyak masalah. Semakin tua usianya, semakin centang-perenang keadaannya. Semakin jauh perahu berlayar, semakin dalam ia tenggelam. Singkat kata, keadaan negeri BANGSAKU itu tambah amburadul. Begitulah.

Siapa Kuat, Dia Mengendalikan Hukum.

Keadaan itu terjadi karena rakyat negeri itu telah mengalami fenomena IMPOTENSI multi dimensi. Ia sejenis sindrom sosial yang lebih parah dari KRISIS multi dimensi.

Di negeri BANGSAKU rakyatnya malas belajar, malas membaca, lebih suka nonton TV, dengar musik, nonton film, main game, main fesbuk gak jelas, dll. Wawasannya impoten, alias sangat kurang. Dari sisi daya kritis juga sama. Sikap kritis semakin tumpul karena suka konsumsi haram, senang makan dengan tangan kiri, senang melihat cewek-cewek seksi, dan senang melihat konten pornografi. Dari sisi kebugaran fisik, juga impoten. Fisik lesu, kurang darah, gampang puyeng, mata pucat, gerakan lambat. Dari sisi spiritual, apalagi? Bayangkan, kebanyakan manusia negeri BANGSAKU tidak sadar kalau dirinya punya jiwa, punya ruhani, punya nafs. Mereka sibuk melayani hawa nafsu dengan terus-menerus secara tidak sadar menganiaya jiwanya. Masya Allah.

Dampak dari semua itu, warga BANGSAKU jadi impoten dari sisi KEBERANIAN SOSIAL. Orang-orang disini kebanyakan penakut, tidak berani menghadapi resiko, tidak berani terjun membuat perubahan, tidak berani memikul kesulitan, tidak berani hadapi kezhaliman. Pendek kata, mereka “mati kutu” dari sisi keberanian.  Karena banyaknya faktor-faktor impotensi ini, sebagian orang lebih suka menyebut negeri itu dengan nama: IMPOTENESIA. [Kalau ada kemiripan dengan negara tertentu, anggap saja sebagai kebetulan].

Nah, singkat kata, di negeri BANGSAKU ini lagi ada masalah besar. Ada seorang laki-lak bernama Kazarudi. Dia anggota dewan dan pengurus partai politik, BEMOKARAT.  Kazarudi dituduh telah melakukan korupsi oleh lembaga anti korupsi yang bernama KAPOK. KAPOK sendiri singkatan dari: “Kami Anggota Pencari Orang Korupsi”.

Mengapa lembaga itu dinamakan KAPOK ya?

Konon, katanya setiap orang yang berurusan dengan KAPOK, selalu merasa kapok. Setiap keluar dari gedung lembaga itu, mereka garuk-garuk kepala sambil berkata, “Kapok aku. Sumpah, tak mau kesini lagi. Kapok, kapok…” Katanya, setiap ada yang melaporkan kejadian korupsi senilai seekor kambing, dia harus keluar biaya untuk macam-macam prosedur senilai harga seekor sapi. Kalau ada korupsi senilai sendal, harga prosedurnya senilai sepatu. Untuk korupsi sebuah motor, harga prosedurnya senilai mobil. Maka itu orang-orang lalu mengeluh, “Kapok, kapok, kapok… aku.”

Si Kazarudi itu didakwa melakukan korupsi. Dia tidak terima. Alasannya, bukan cuma dia yang memakan hasil korupsi itu. Dia mau teman-temannya di partai BEMOKARAT juga diseret ke pengadilan korupsi. Malahan Kazarudi menuduh para anggota KAPOK terlibat korupsi juga. Pertentangan Kazarudi, KAPOK, dan elit-elit partai BEMOKARAT semakin tajam. Karena tak mau diadili begitu saja, Kazarudi melarikan diri ke luar negeri.

Kazarudi  berpindah-pindah tempat. Sekali waktu di Timbuktu, lalu pergi ke Kandahar untuk melihat pertempuran disana. Lalu pindah lagi ke Honolulu, menyaksikan tari ular mematok kaki. Kemudian pindah lagi ke Tibet, untuk bersembunyi. Masih juga Kazarudi dikejar-kejar interpol. Akhirnya dia pindah ke Madagaskar. Eee…ternyata disitu itu Si Kazarudi tertangkap. Untuk menjemputnya, pihak KAPOK menyewa jasa Gatotkaca Airways. Konon kontrak dengan Gatotkaca senilai 120 karung beras ketan dan gula Jawa. Maklum, teknologi Gatotkaca masih teknologi manual, jaman baheula.

Akhirnya Kazarudi dibawa pulang ke negeri BANGSAKU. Pejabat-pejabat KAPOK sudah gemes ingin cepat menangkap Si Kazarudi ini, sebab kalau dia dibiarkan lebih lama menuduh sana-sini, nanti masalahnya akan tambah ruwet. Bisa-bisa para anggota KAPOK akan diringkus semua oleh polisi. Maka itu, meskipun harus mengadakan beras ketan dan gula jawa 120 karung, tidak masalah bagi elit-elit KAPOK. “Pokoknya si Kazarudi ini bisa dibungkam secepatnya,” kata seorang pejabat KAPOK dalam perbincangan telepon yang tidak bisa disadap. Karena yang bisa disadap hanya telepon orang lain, selain telepon mereka.

Setelah Kazarudi ditangkap, lembaga KAPOK mengundang wartawan untuk menghadiri jumpa pers. Mereka merasa sudah menguasai segalanya, termasuk aset politik, media, dan uang. Maka bagi mereka mudah saja menentukan ARAH jumpa pers seperti yang mereka inginkan. Pada saat yang sudah ditentukan, seorang pejabat KAPOK menjadi juru bicara dalam menyampaikan jumpa pers itu.

Berikut ini laporang Breaking News dari lokasi jumpa pers:

“Selamat siang Bapak Ibu sekalian. Selamat siang para wartawan media,” kata pejabat KAPOK memulai jumpa pers.

“Seperti sudah kita ketahui bersama, koruptor buronan negara Kazarudi sudah tertangkap. Kami merasa lega karena bisa membungkam….eh maaf, maaf… Maksudnya kami bisa memproses masalah ini secara hukum. Alhamdulillah (dengan logat yang sengaja difasih-fasihkan)…kami melakukan penyelidikan secara intensif; kami mendalami fakta-fakta; kami melihat berbagai indikasi perbuatan melawan hukum yakni korupsi yang didakwakan kepada Saudara Kazarudi; setelah kami mempertimbangkan segala persoalan, dari sisi bukti material, olah TKP, serta pertimbangan yuridis, lalu kami kaitkan dengan UU anti korupsi, kemudian juga menyadari bagaimana reaksi masyarakat, serta rasa keadilan publik; dimana ternyata Kazarudi ini telah melakukan tindak-tindakan yang dengan itu kami berkesimpulan, telah terjadi pelanggaran melawan hukum, sehingga Kazarudi ini bedasarkan fakta-fakta, bukti materiil, dan pendalaman yang kami lakukan; kemudian semua itu kami tuangkan dalam laporan investigasi, penyelidikan komprehensif, demi penegakan hukum, memberantas korupsi, menciptakan clean government, serta menyelamatkan aset-aset negara; dimana saat ini tingkat pengangguran lumayan tinggi, banyak orang susah, banyak orang miskin, sehingga para pejabat terdorong untuk melakukan tindak melawan hukum yakni korupsi; lalu kami dalami lagi masalah ini dengan merujuk UU anti korupsi, serta hasil penyelidikan polisi, data-data transaksi perbankan, sehingga semua itu membuahkan konklusi hukum yang begitu rinci dan memenuhi rasa keadilan, maka dengan semua ini akhirnya…

[Jumpa pers sempat terhenti sejenak, sebab muncul kegaduhan di kalangan peserta jumpa pers. Ada yang buang angin. Sudah begitu, tidak ada yang ngaku lagi. Sebagian wartawan melontarkan usulan: “Makanya kalau buat pernyataan simple saja, langsung to the point. Tidak usah bertele-tele. Disini jadi ada yang sakit perut mendengarnya.” Usulan itu disambut tepuk-tangan… “Benar, benar, ya betul tuh,” kata wartawan-wartawan lain].

“Baiklah, kami lanjutkan lagi. Tapi mohon kalau buang angin jangan di ruang formal begini. Tolong yang tertib. Kalau tidak, nanti kami akan pasang detektor anti buang angin,” kata pimpinan lembaga KAPOK.

“Hhhhuuuuuuuuuu…,” sambut para wartawan agak sinis.

“Jadi Si Kazarudi ini tadinya pernah bekerja sebagai tukang ojeg, kuli bangunan, dan pernah menjadi makelar tanah. Karena nasib baik, dia menjadi pengurus partai politik. Kawan saya saja, lulusan S3 dari Cambridge University tidak bisa jadi pengurus apa-apa. Akhirnya dia memilih jadi pengurus POS di SD tempat anaknya sekolah. Jadi hidup ini tambah susah, kasih sekali kawan saya itu…”

“Lho, kok jadi malah curhat sih Pak?” tanya seorang wartawan.

“Oh maaf, maaf. Saya jadi lupa dengan konten jumpa pers. Baik saya lanjutkan lagi,” kata pimpinan KAPOK tersipu-sipu malu.

“Kami selama ini terus mendalami masalah ini, mencari bukti-bukti materiil, dikomparasikan dengan data-data dari polisi, pencatatan transaksi bank, dan kami selalu melihat data pertumbuhan ekonomi dan indeks IHSG; terus terang saja, saat ini banyak orang susah, banyak orang miskin, banyak pengangguran… semua ini terjadi merupakan efek ekonomi global, kelesuan ekonomi yang melanda semua negara, terutama kondisi krisis ekonomi di Amerika belum pulih. Ditambah lagi situasi politik di Timur Tengah terus tak menentu. Para pedagang korma sulit mendapatkan barang, sehingga untuk sajian buka puasa agak bermasalah. Jadi…”

“Interupsi, Pak!” kata seorang wartawan.

“Pak, tolong jangan bertele-tele. Langsung saja, katakan bagaimana kelanjutan kasus Kazarudi ini! Kami sudah bosan dengan basa-basi Bapak! Katakan saja sejujurnya!” kata wartawan itu dengan mata merah, setengah emosi. Lalu temannya mengingatkan, “Sabar Bang, sabar. Lagi puasa!” Wartawan itu merasa kesal, “Gimana bisa sabar, dari tadi ngomong ngelantur tidak karuan. Jumpa pers apaan tuh?”

Sambil gelagapan, juru bicara KPK akhirnya menyingkat pernyataannya: “Jadi begini Saudara-saudara. Kami sudah mendalami masalah ini, memperhatikan bukti-bukti materiil, mencermati laporan polisi, juga catatan transaksi bank, lalu melihat kembali urgensi dari UU anti korupsi…”

Seorang wartawan langsung berdiri, dan mengacungkan sepatu. “Hei, bacot ember! Lu bisa diam, kagak ya! Sekali lagi Lu bilang ‘bukti materiil’, gue lempar Lu dengan sepatu ini!” (Karena wartawan ini non Muslim, maka dia tidak puasa, sehingga tidak segan mengucapkan kata-kata makian keras).

“Iya..iya maaf, maaf. Sekarang saya mau terus-terang saja. Saya mau blak-blakan saja. Mohon maaf,” kata pejabat KAPOK sambil gemetar tangannya.

“Saudara-saudara…intinya begini ya: Kazarudi ini terbukti melakukan korupsi. Dia satu-satunya koruptor yang berhasil kami temukan secara pasti. Sedangkan tuduhan korupsi pada pejabat KAPOK dan elit-elit Partai BEMOKARAT, semuanya tidak terbukti.  Semua itu hanya fitnah karena Kazarudi sakit hati. Intinya begitu saja, deh. Dan begitu juga pesan yang disampaikan pimpinan untuk saya sampaikan. Terimakasih ya sudah mau sabar mendengar pernyataan saya. Karena sudah menjelang Maghrib, jumpa pers kami akhiri. Mohon para wartawan berbuka sendiri di luar. Terimasih.”

“Hhhhuuuuuuuuuuu….” kata para wartawan kecewa. “Sudah ditunggu lama, tidak ada buka puasa. Huh…”

Akhirnya, ending kisah Kazarudi di negeri BANGSAKU: Dia dinyatakan korupsi, harus diadili dan menjalani proses peradilan. Sementara pejabat-pejabat lain yang dituduh oleh Kazarudi bebas dakwaan. Apalagi pejabat KAPOK, mereka dinyatakan bersih sama sekali. Malah kinclong-kinclong seperti air laut saat tertimpa cahaya bulan purnama.

***

Begitulah nasib negeri BANGSAKU. Negeri ini tak mampu mendapatkan nikmat keadilan sama sekali. Keadilan hukum menjadi sesuatu yang amat sangat langka. Lebih langka dari jumlah Badak Bercula Satu di Ujung Kulon. Di negeri itu arti “keadilan” sepenuhnya berada dalam genggaman para elit penguasa. Siapa yang kuasa, dia bisa mendapatkan apa saja. Yang korupsi bisa bersih tanpa noda; yang bersih bisa jadi hitam legam tertuduh korupsi. Keadilan sudah tak nyata disana. Keadilan hanya ada dalam angan-angan saja. Parahnya lagi, banyak pihak lebih suka “cari selamat sendiri-sendiri” daripada membela kepentingan masyarakat dan bangsanya.

Akar masalahnya, ya itu tadi, para warga negara BANGSAKU sudah tertimpa penyakit berat: Impotensi Multi Dimensi. Kalau dalam bahasa hadits Nabi disebut penyakit Al Wahn, alias cinta dunia dan takut mati. Penyakit ini sangat akut, membuat keadaan negeri BANGSAKU tertawan kezhaliman, tanpa daya.

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, fid dunya wal ‘akhirah. Allahumma amin.

Justice For Ummah


Jadilah Engkau Prajurit Semesta…

Agustus 12, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Hidup manusia itu ada dalam “ruang luas”, tapi juga “ruang sempit”.

Saat kita dalam rahim ibu, itu artinya kita di ruang sempit. Saat itu kita masih “calon manusia”. Dalam rahim, kita dikasihi, dijaga sangat hati-hati, segala kebutuhan nutrisi diberikan…bahkan bila sang Bunda “ngidam”, segala cara diberikan untuk mengobati “ke-ngidam-an” itu. Di dunia sempit, kita hanya menjadi konsumen, konsumen sejati malah. Kita diberi, dilayani, dikasihi, dan seterusnya.

Bukalah Mata Hatimu! Lihatlah Keluasan Semesta!

Saat kita lahir, saat mata sudah melihat, saat kita menjadi anak-anak, lalu menginjak remaja, bahkan menjadi dewasa…saat itu kita berada di “dunia luas”. Mata, telinga, dan hati kita bersentuhan dengan stimulasi-stimulasi semesta yang luas, alhamdulillah.

Seharusnya, saat di “dunia luas” menjadi luas juga hati, jiwa, dan hidup kita. Namun apalah daya? Semakin terbentang “dunia luas”, ternyata banyak manusia malah bergeser mendekati “dunia sempit”. Sudah di “dunia luas” tetapi obsesinya ingin kembali ke “dunia sempit” dimana disana ia ingin diberi, dilayani, dikasihi, dan seterusnya.

Seorang manusia dikatakan sudah dewasa, jika dia memenuhi syarat minimal: [a]. Dia bisa membedakan “dunia sempit” dan “dunia luas”; [b]. Dia dengan lapang dada mau meninggalkan “dunia sempit” untuk membangun “dunia luas” dengan aneka prestasi kebaikan.

…saudara-saudaraku, adik-adikku, sahabat-sahabatku… berjalanlah kalian seperti seorang prajurit alam

Prajurit semesta menyusuri luasnya dunia dengan tapak kaki, berbekal air dan dedaunan, tidurnya di atas rumput, atap rumahnya adalah langit, teman sejatinya adalah pedang, buku, dan kemurahan hati. Jadilah para prajurit alam yang menikmati indahnya kehidupan luas…bukan selalu terpenjara oleh kesempitan obsesi, ambisi, dan persepsi…

Disana ada dunia yang luas…terdengar musik dari gemericik air, ada video dari sparasi cahaya mentari, ada kelembutan AC dari semilir angin berdesir, ada lukisan indah dari komposisi daun, tanah, batang-batang pohon, serta bebatuan; ada hidangan snack dari telur bangau, ada game interaktif bersama hewan-hewan liar, ada sensasi exited dari kerasnya cabaran hidup dan ujian, dan ada champion berupa nikmat syurga Allah Ta’ala.

Pergilah saudaraku…susuri jalan ini dengan keluasan pandangmu, keteguhan hatimu, kebijakan sadarmu, serta kemurahan senyum indahmu… Cukuplah cahaya Allah yang menerangi langkahmu… Hasbunallah wa ni’mal Wakiil, ni’mal Maula wa ni’man Nashir.

Semoga Allah Ta’ala memperbaiki hidupmu, hidupku, dan hidup Ummat ini. Allahumma amin.

[Ayah Syakir].

NB.: Tulisan ini terinspirasi oleh “kemelut kecil” yang melanda “dunia sempit” sebagai saudara-saudaraku. Semoga Allah Ta’ala memperbaiki hati mereka, memperbaiki visi hidupnya, dan mencerahkan mereka dengan “dunia luas” yang terbentang di depan mata. Allahumma amin.

Bagaimanapun juga…seorang Muslim harus peduli dengan kesulitan saudaranya. Alhamdulillah.


Menu Khas Ramadhan

Agustus 9, 2011

Berikut ini beberapa artikel yang pernah ditulis seputar Ramadhan dan Idul Fithri. Semoga bermanfaat sebagai renungan, wawasan, sentilan kepedulian, maupun motivasi. Allahumma amin.

[o] Indahnya Ramadhan Mubarak…

[o] Tafsir Tematik Ayat Shaum.

[o] Kontroversi Hukum “Zakat Profesi”.

[o] Ummat Menjerit, Engkau Diam Saja…

[o] Mengurai Perselisihan Penentuan 1 Syawal.

[o] FIQIH KEMUDAHAN dalam Ibadah Ramadhan.

[o] Risalah Ramadhan: “Islam dan Negara”.

[o] Ilusi Seputar Zakat.

[o] Mengapa Shaum Kita Gagal?

[o] Anak Yatim dan Hak Menerima Zakat.

[o] Ramadhan dan Filosofi Buah Kelapa.

[o] Sisa Idul Fithri Kita…

[o] Kala Kita Melepas Ramadhan Berlalu…

Semoga artikel-artikel ini bermanfaat. Semoga amal ibadah kita di bulan Suci ini diterima di sisi Allah Ta’ala. Semoga kita nanti berhak mendapat ucapan selamat, karena kembali fithri dan mendapat kemenangan. Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Semoga Allah Ar Rahmaan membentangkan seluas-luas pintu Ar Royaan. Amin Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin.

Bandung, 9 Agustus 2011.

[Ditemani Muhammad Syakir Najih, yang terus merengek minta pulang].


Bibit-Chandra dan Cerita Si Embul

Agustus 7, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Kalau mau menyapu sampah di lantai, gunakan sapu yang bersih, Mbul! Jangan gunakan sapu kotor, nanti lantai bisa jadi lebih kotor lagi,” kata Bu Inah kepada Embul, anaknya. Embul yang memang baik hati hanya menganggukkan kepala. Entahlah, apa dia mengangguk taat ke ibunya, atau karena sedang lapar. Maklum Embul sedang puasa Ramadhan. Meskipun puasa, Embul tetap mau bantu ibunya. Alhamdulillah.

Membersihkan sampah harus memakai sapu yang bersih. Kalau tidak, lantai akan semakin kotor. Dan lebih kotor lagi kalau yang menyapu itu memakai sandal berlumpur, dan tubuhnya banyak debu-debu. Bukan bersih yang akan didapat, malah kotoran tersebar dimana-mana.

***

Kalau mencermati sepak-terjang Bibit-Chandra selama ini, ada banyak keheranan di hati. Dua pejabat Ketua KPK ini kalau dicermati ternyata melakukan hal-hal yang curang juga. Ini tidak terkait berita-berita yang sekarang lagi santer beredar; tidak ada kaitan kesana. Tetapi lebih melihat komitmen kedua orang tersebut dalam menghadapi kasus-kasus yang menimpa dirinya sebagai pejabat Ketua KPK.

Indikasi-indikasi kecurangan Bibit-Chandra, antara lain:

PERTAMA. Masih ingat gerakan sejuta facebookers yang meminta Bibit-Chandra dibebaskan dari proses pengadilan, dalam kasus “Kriminalisasi Ketua KPK” beberapa waktu lalu? Nah, disana kan berkembang suatu opini, dan opini ini sangat didukung oleh media-media massa dan para pakar “latah”. Opini tersebut adalah: “Kalau Bibit-Chandra diadili, lalu dihukum, itu artinya pemberantasan korupsi di Indonesia akan mati.” Anda masih ingat kan dengan opini ini? Pertanyaannya: Apakah sedemikian hebat posisi Bibit-Chandra, sehingga tanpa peranan mereka berdua, pemberantasan korupsi di Indonesia akan mati? Lha, memang yang bisa memberantas korupsi hanya mereka berdua? Apa di Indonesia ini tidak ada lagi orang yang kapabel memberantas selain mereka berdua?

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Ya, mereka berdua mendukung opini itu, dan tidak melakukan pengingkaran. Padahal namanya orang berakal, kalau Bibit-Chandra diberhentikan, masih ada orang lain yang akan datang menggantikan posisi mereka berdua. Andai KPK sendiri yang dibubarkan, masih ada instrumen lain untuk memberantas korupsi. Andaikan semua instrumen negara dibubarkan, masih ada MORALITAS anti korupsi di hati manusia warga negara Indonesia. Hal-hal demikian mudah dipahami, bagi yang mau berpikir.

KEDUA. Ketika berhadapan dengan Anggodo, Bibit-Chandra tidak mau maju ke pengadilan. Alasannya, kasus yang menimpa mereka merupakan KRIMINALISASI. Jadi, seharusnya mereka tidak bersalah, tetapi oleh kalangan Polri di-setting agar mereka bersalah. Bibit-Chandra ditantang untuk membuktikan tuduhan kriminalisasi itu dalam pengadilan, tetapi dia selalu menolak. Dalam wawancara di TV-TV, mereka tidak mau diadili, karena mereka merasa telah “dikriminalisasi”. Buktinya apa? Bibit-Chandra menyodorkan hasil penyadapan percakapan Anggodo dengan pihak Polri, dan lain-lain.

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Sebagai bagian dari aparat hukum, khususnya dalam pemberantasan korupsi, seharusnya Bibit-Chandra menghormati mekanisme hukum yang berlaku. Lihat itu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir! Biarpun banyak orang meragukan obyektifitas kasus-kasus yang menimpa beliau; tetapi Ustadz Ba’asyir tetap konsisten memenuhi mekanisme hukum yang berlaku. Padahal Bibit-Chandra pasti tahu, bahwa Ustadz Ba’asyir sangat membenci hukum non Islami yang berlaku di negeri ini. Sekalipun benci, kalau memang mekanisme yang berlaku begitu, ya dengan berat hati, beliau tetap memenuhi mekanisme tersebut. Berbeda dengan Bibit-Chandra, kedua orang ini masuk jajaran aparat hukum, tetapi takut menghadapi proses pengadilan. Dengan mentalitas seperti itu, seharusnya mereka “dideportasi” dari ranah penegakan hukum.

KETIGA. Kasus Bibit-Chandra tidak pernah bisa dibawa ke pengadilan. Kronologinya begini: a. Bibit-Chandra merasa telah dikriminalisasi oleh Polri, dengan bukti rekaman percakapan Anggodo dll. yang diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi; b.  Media-media massa mem-blow up posisi Bibit-Chandra yang “terzhalimi”, terutama MetroTV; c. Para facebooker bangkit melakukan “jihad” demi membela posisi Bibit-Chandra yang terzhalimi; d. SBY merasa terdesak oleh opini media massa dan facebookers, lalu SBY mendesak supaya proses pengadilan Bibit-Chandra segera dihentikan; e. Pihak Kejaksaan mengklaim kasus Bibit-Chandra sudah P21 alias siap masuk ke pengadilan. Tetapi karena desakan SBY yang menggunakan alasan “memenuhi rasa keadilan publik”, maka dikeluarkanlah SKP2 (Surat Keputusan Penghentian Perkara); f. Para ahli hukum mempertanyakan status SKP2 itu, sebab ia dianggap sebagai bentuk campur-tangan Presiden terhadap proses hukum. Maka keputusan SKP2 diubah lagi, menjadi Deeponering; g. Hasil akhir, Bibit-Chandra tidak pernah diadili, karena dia mendapat anugerah “deeponering”.

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Kebijakan deeponering atau SKP2 adalah kebijakan yang curang. Seharusnya berlaku prinsip “semua warga negara sama di mata hukum”. Jadi, tidak ada diskriminasi bagi semua pihak. Semua sama saja, kalau ada indikasi kesalahan, ya masuk pengadilan. Kalau terbukti salah, diberi sanksi; kalau tidak bersalah, harus dibebaskan. Seharusnya Bibit-Chandra konsisten dengan mekanisme itu, bukan mencari perlindungan berupa SKP2 atau deeponering. Kalau mereka masuk pengadilan dan ternyata bebas, nama mereka akan bersih. Tetapi kalau mereka bebas dengan fasilitas SKP2 atau deeponering, mereka akan selalu dihantui citra “diskriminasi dan kepengecutan” hukum. Sebagai penegak hukum, Bibit-Chandra tidak boleh merasa senang dengan campur-tangan kekuasaan (SBY) yang akhirnya memberinya kenikmatan berupa SKP2 atau deeponering. Seharusnya dia bicara lantang ke SBY: “Terimakasih Pak, sudah peduli dengan kami. Tapi sebagai penegak hukum kami pantang melibatkan Bapak dalam kasus seperti ini. Biarlah Bapak tetap berada di domain eksekutif, jangan ikut-campur urusan yudikatif. Kami lebih memilih diadili demi menghormati mekanisme hukum.” Begitu dong, kalau memang gentle.

KEEMPAT. Ini adalah kesalahan paling fatal dari Bibit-Chandra. Baru sedikit orang yang menyadari kesalahan ini. Sedikit sekali. Karena akal kita cenderung mudah dikacaukan oleh opini-opini media. Kalau Anda ditanya, “Apa sih yang sebenarnya membebaskan Bibit-Chandra dari tuntutan hukum?” Kalau dicermati, yang membebaskan mereka itu adalah rekaman-rekaman percakapan Anggodo dll. yang diputar di MK itu. Tanpa rekaman ini, Bibit-Chandra tidak akan lolos dari proses hukum. Lalu darimana rekaman-rekaman itu didapatkan? Sumbernya dari mesin penyadap percakapan telepon yang dimiliki KPK.  Tanpa alat penyadap itu, tak akan diperoleh hasil rekaman tersebut, sehingga Bibit-Chandra seharusnya bisa diadili. Nah, pertanyaannya adalah sebagai berikut: Mana hasil rekaman-rekaman percakapan koruptor lain, misal dalam kasus Bank Century, Miranda Goeltom, Gayus Tambunan, Rekening Gendut Perwira Polri, Melinda Dee, Nazaruddin, Andi Malarangeng, Andi Nirpati, dan lain-lain? Mana, mana hasil rekamannya? KPK pasti memiliki hasil-hasil rekaman itu. Kok yang dikeluarkan oleh Bibit-Chandra hanya hasil rekaman yang menguntungkan dirinya saja? Sedang rekaman lain disimpan sangat rapi?

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Secara jelas, kedua orang itu hanya mengeluarkan hasil rekaman ke publik, untuk rekaman yang menguntungkan keduanya, sedang untuk rekaman-rekaman lain, yang bisa jadi bisa membongkar kasus-kasus korupsi selama ini, tidak dia perlihatkan. Ini jelas kecurangan yang sangat nyata. Akhirnya, lembaga KPK hanya menjadi “pelayan” Bibit-Chandra, bukan menjadi pelayan masyarakat luas. Kasihan sekali.

KELIMA. Kesalahan terakhir, sebagai buah dari kesalahan-kesalahan sebelumnya; ketika Bibit-Chandra sudah mendapat fasilitas SKP2 atau deeponering, mereka seperti mendapat fasilitas perlindungan dari Pemerintah (SBY). Sebagai bentuk “balas jasa”, maka ujung tombak KPK menjadi tumpul untuk menyibak kasus-kasus korupsi yang melibatkan lingkar kekuasaan. Bibit-Chandra disini memperlihatkan dirinya sebagai “orang berakhlak” yang “pandai berterimakasih” atas jasa kebaikan orang lain. Tetapi dalam ranah hukum, konsep “akhlak” seperti itu seharusnya tidak dipakai. Banyaklah kasus-kasus korupsi yang akhirnya mandeg, karena pejabat-pejabat KPK sudah “ditawan” oleh kekuasaan. Nah, yang begini ini baru bisa dibenarkan jika ada ucapan: “Jasa baik yang diterima pejabat Ketua KPK, membuat lembaga itu tak mampu membersihkan korupsi sebagaimana diharapkan masyarakat.”

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Ya, Anda sudah bisa menyimpulkan sendiri. Tidak usah diberitahu lagi. Yang jelas, kasus Century, Andi Nurpati dan KPU, Gayus, Rekening Polri, Melinda Dee, Malarangeng, Nazaruddin, dll. saat ini mandeg. Kalau Bibit-Chandra tidak menerima jasa “perlindungan hukum” mungkin akan lain ceritanya.

***

“Embul, Embul, dimana kamu, Nak?” kata Bu Inah sedikit agak berteriak. Waktu sudah menjelang Maghrib, Embul belum kelihatan. Bu Inah jelas gelisah. Anak itu harus siap-siap berbuka puasa.

Seisi rumah ikut mencari Embul, sambil berteriak-teriak: “Embul, Embul…” Tapi yang dicari belum juga nongol. Kemana ini Si Embul? Semua merasa gelisah.

Saat adzan Maghrib terdengar, orang-orang masih mencari Embul. Kakak Embul beruntung. Saat mencari di gudang, dia melihat adiknya sedang tidur di atas tumpukan koran-koran.

“Hei Embul, bangun, bangun! Sudah Maghrib, Embul! Kenapa kamu tiduran disini? Dari tadi kami mencari kamu, Mbul!” kata kakak Embul dengan suara keras.

Si Embul segera bangun. Lalu berdiri. Dia terlihat hanya diam, sambil mengucek-ucek mata. Masih kelihatan wajah ngantuk di mukanya. Di samping Embul ada beberapa buah sapu. Sapu ijuk 3 buah, sapu lidi 2 buah.

“Mbul, untuk apa sapu-sapu itu?”

“Untuk menyapu?”

“Kamu sendiri sudah menyapu, belum?”

“Belum!”

“Kenapa?”

“Masih nyari sapu yang bersih. Kata Ibu harus pakai sapu bersih.”

“Lalu…”

“Ternyata, sulit mencari sapu bersih. Semua pada kotor.”

Kakak Embul hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kepolosan adiknya. “Ya, sudah Mbul. Kita buka puasa saja sekarang. Lupakan soal sapu-sapu itu.”

“Moga-moga KPK mau memakai sapu yang bersih, Mbul.”

“Apa Kak? Tadi Kakak bilang apa?” tanya Embul agak keheranan.

“Ah, sudahlah Mbul. Mari kita segera buka puasa. Kata Nabi, lebih cepat buka puasa, lebih baik.”

“Ya, Kak.”

Semoga tulisan dan cerita ringan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat kita. Khususnya di bulan Ramadhan Mubarak ini. Allahumma amin. []

AM. Waskito.


Ramadhan dan Filosofi Buah Kelapa

Agustus 6, 2011

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram ajma’in. Amma ba’du.

Saudara kaum Muslimin rahimakumullah, alhamdulillah kini kita berada di bulan mulia, bulan Ramadhan Mubarak. Alhamdulillah. Lama nian kita nanti bulan ini, dan kini kita sedang berada di awal-awal menyusuri indahnya “rihlah ibadah” di bulan mulia ini. Alhamdulillah.

Oh ya, kali ini saya ingin mengisi momen-momen Ramadhan ini dengan menurunkan tulisan-tulisan yang bermakna, insya Allah dan atas pertolongan-Nya. Salah satunya ialah menjelaskan kepada Anda tentang “Filosofi Buah Kelapa“.

Anda pernah membaca atau mendengar Filosofi Buah Kelapa? Saya yakin, Anda belum pernah mendengar atau membacanya; karena istilah ini memang baru dikenalkan di blog ini, di momen Ramadhan ini, alhamdulillah. Mungkin saja, dengan ijin Allah, istilah seperti itu sudah ada di masa lalu atau di tempat lain. Tetapi yang jelas, saya belum pernah mendengar atau membacanya.

Inilah Pesona Buah Legendaris

Sebagai gambaran, yang disebut Filosofi Buah Kelapa itu serupa dengan apa yang kita kenal, misalnya “Ibarat Ilmu Padi”, “Seperti Ikan di Laut”, “Ilmu Kepiting”, dan lain-lain. Intinya, kita menyampaikan suatu hikmah kebenaran dalam kehidupan manusia dengan melakukan analogi terhadap perilaku hewan atau tumbuhan dalam kehidupan di alam semesta. (Masih ingat kan, ketika putra Adam As mengubur saudaranya setelah melihat seekor gagak mengubur gagak lawannya yang sudah mati di tanah? Juga ilmu gravitasi yang diturunkan setelah seorang fisikawan melihat apel jatuh dari pohonnya). Ya, kira-kira domain Filosofi Buah Kelapa di ranah seperti itu.

Jangan dibayangkan kita akan mengupas filosofi-filosofi Yunani, Mesir, India, dan lain-lain. Tidak kesana arahnya. Istilah filosofi dipilih untuk menggantikan istilah ILMU atau HIKMAH. Karena bisa juga disini disebut “Ilmu Buah Kelapa” atau “Hikmah Buah Kelapa”. Tetapi dipilih istilah “Filosofi” agar ada nuansa keunikan tertentu.

Lalu mengapa kita harus membahas “Filosofi Buah Kelapa”?

Masya Allah, wahai Saudaraku… Ternyata konstruksi buah kelapa itu sangat unik sekali. Ia diciptakan oleh Allah Ta’ala dengan memiliki keunikan konstuksional. Dari bentuk dan susunan buah kelapa itulah, kita bisa mendapatkan hikmah yang dalam tentang KEKUASAAN POLITIK.

Apa, tentang kekuasaan politik? Iya, benar. Tentang kekuasaan, sulthan, imarah, daulah, dan sejenisnya. Ini serius. Dari konstruksi buah kelapa kita bisa mendapatkan ibrah besar tentang tabiat kekuasaan politik di tangan manusia. Ya, justru karena begitu besarnya makna urusan ini, ia sengaja saya sampaikan sebagai “menu istimewa” di bulan istimewa, Syahrur Ramadhan Syahrul Mubarak.

Lezatnya Masakan dengan Kelapa

Mari kita mulai penjelasan ini, dengan ijin dan memohon rahmat Allah Ta’ala…

[1]. Siapa yang tidak tahu buah kelapa? Pasti kita semua sudah tahu, alhamdulillah. Buah ini sangat digemari dan bermanfaat dalam kehidupan kita, bangsa Indonesia. Di bulan suci Ramadhan ini, rasanya hampir semua rumah kaum Muslimin, pasti pernah menggunakan kelapa. Ya untuk kolak, membuat kue, membuat kuah sayur, membuat serundeng (di Jawa), membuat rendang (di Padang), dll. Kalau orang Minang dijauhkan dari buah kelapa, ala maakk… menderito kito basamo (maaf kalau bahasa Minang-nya terlalu memaksakan diri).

Hikmah: Buah kelapa itu bisa diibaratkan sebagai kekuasaan (sulthan). Kekuasaan sangat besar artinya dalam kehidupan insan. Bila kekuasaan baik, lurus, dan amanah; maka sejahteralah kehidupan insan. Bila kekuasaan curang, zhalim, dan korup; maka menderitalah kehidupan insan. Sama halnya, ketika buah kelapa digunakan untuk masak-memasak secara layak, maka kenikmatan hasilnya, alhamdulillah. Tetapi ketika buah kelapa dibuang-buang, dibakar percuma, atau disiram zat-zat kimia berbahaya, maka hal itu seperti keadaan: menyia-nyiakan kekuasaan.

[2]. Perhatikan betapa kokohnya konstruksi buah kelapa! Buah ini termasuk buah dengan “sistem pertahanan” paling kuat. Bahkan buah durian saja, kalah sempurna dari sisi pertahanan dirinya. Buah kelapa tak akan bisa dibuka dengan pisau, dengan palu, bahkan sulit dibuka dengan gergaji. Alat yang lazim digunakan untuk membuka buah kelapa ialah golok, kapak, atau tonggak tajam yang ditancap di atas tanah. Alat standarnya golok, baik untuk menghilangkan bagian sabut maupun membuka batok kelapanya.

Hikmah: Kekuasaan itu bukan sesuatu yang mudah diraih. Ia tak akan bisa didapat dengan usaha ecek-ecek, dengan santai-santai, dengan angan-angan, hanya ceramah atau diskusi, atau sekedar membuat demo dimana-mana. Tidak akan semudah itu meraih kekuasaan. Siapapun yang berhajat pada kekuasaan ini, harus “menyediakan golok”, harus memiliki “tenaga kuat”, dan sekaligus “pengalaman membuka buah kelapa”. Urusan kekuasaan tidak bisa diatasi dengan sekali dua kali mengaji, seminggu dua minggu ikut training, lalu kekuasaan pun terhidang di tangan. Tidak demikian Saudaraku… Anda bisa melihat bagaimana proses Rasulullah Saw mencapai kekuasaan…

[3]. Buah kelapa memiliki lapisan-lapisan kulit yang tebal. Lapisan terluar adalah “kulit terluar” atau mungkin disebut epidermis. Kulit terluar ini keras, tebalnya sekitar 1-2 mm. Ia tidak bisa diiris dengan pisau, tetapi harus dihantam dengan golok. Setelah itu ada bagian kulit yang cukup tebal, yaitu sabut kelapa. Sabut ini juga cukup sulit membersihkannya, apalagi kalau kelapanya masih muda. Setelah sabut kelapa, ada batok kelapa, merupakan bagian paling keras dari buah kelapa. Batok kelapa saat ini banyak dimanfaatkan untuk membuat arang, sebagai ganti bahan bakar minyak tanah dan kayu bakar. Setelah batok kelapa, masih ada lagi lapisan kulit yang menyelimuti buah kelapa. Sangat tipis, dan warnanya coklat. Kalau masih muda coklat muda, kalau sudah tua coklat tua. Setelah semua lapisan itu, barulah diperoleh buah kelapa yang putih bersih, kenyal, dan siap dibuat…rendang.

Memecah Kelapa dengan Golok (Kekuatan)

Hikmah: Perhatikan, hikmahi semua ini dengan ketajaman akal dan nuranimu! Untuk sampai ke titik kekuasaan, kita harus menyingkirkan banyak penghalang. Penghalang-penghalang itu adalah segala kekuatan yang selama ini menjaga suatu sistem kekuasaan. Secara riil kekuasaan itu selalu dilindungi oleh kekuatan dengan segala bentuknya, apakah berupa jaringan, konstruksi politik, UU, alat negara, modal, dll. Bahkan kesadaran masyarakat juga termasuk penjaga dari suatu sistem politik yang berlaku. Tanpa menyingkirkan penjaga-penjaga kekuasaan itu…jelas singkirkan mimpi Anda untuk “membuat rendang”… Lihatlah betapa jenius Rasulullah Saw ketika menyingkirkan kaum Yahudi dari Madinah, dan melindungi Madinah dari serangan kaum musyrikin Makkah.

[4]. Ketika kita sudah mendapat buah kelapa, ternyata buah kelapa itu keras juga (maksudnya yang sudah tua). Kita harus memakai pisau dan parutan untuk mendapatkan santan kelapa. Di banyak tempat, proses pemarutan bahkan dilakukan dengan parutan mesin. Ya, intinya buah kelapa itu keras juga. Kalau buah kelapa masih muda, sangat lembek, akhirnya hanya bisa dimakan sebagai dissert (pencuci mulut).

Hikmah: Begitulah hakikat kekuasaan di tangan manusia. Kekuasaan bukan urusan yang lembek, lembut, atau lunak. Ia adalah urusan yang keras, kuat, tangguh. Dalam istilah Islam, ia dikenal dengan sebutan: SULTHAN (yang artinya awalnya kekuatan). Maka untuk memegang kekuasaan ini tidak dibutuhkan manusia yang terlalu banyak toleransi, terlalu banyak memberi maaf, terlalu sering ragu-ragu, terlalu banyak pertimbangan, atau terlalu penakut. Para pemegang kekuasaan haruslah manusia yang pemberani, berkarakter, tegas, jelas, dan tidak ragu-ragu. Pemimpin itu tidak harus sangat pintar, sangat banyak ibadah, tampan, atau kutu buku. Tidak harus seperti itu. Tetapi wajib baginya memiliki ketegasan, keberanian, dan karakter kuat. Terkait dengan masalah kehidupan di Indonesia, sampai ada yang mengatakan: “Indonesia ini membutuhkan seorang diktator yang shalih.” Sejujurnya, saya setuju itu! Jika kekuasaan berada di tangan orang berhati lemah, terlalu toleran, banyak bersolek, dan ragu-ragu, maka hasilnya adalah: kita akan makan “es kelapa muda” terus-menerus, baik saat pagi, siang, atau malam.

Batok: Penjaga Terkuat Buah Kelapa

[5]. Buah kelapa itu juga memiliki air. Ia dikenal sebagai “air kelapa”. Dalam sejarah manusia yang membuka buah kelapa, pasti dan pasti akan menumpahkan airnya. Tidak mungkin kita mendapatkan buah kelapa, tanpa menumpahkan airnya. Ada yang berkata: “Tapi kan air kelapa itu bisa disimpan di teko, di wadah, atau gelas besar.” Ya tetap saja, air kelapa itu akan keluar dari tempatnya, baik berceceran atau bisa dituang rapi ke gelas. Soal kemudian air itu mau disimpan dimana, tidak masalah. Yang jelas, air itu tetap keluar dari tempatnya.

Hikmah: Urusan kekuasaan adalah urusan besar. Ia bukan urusan kecil, remeh, atau ecek-ecek. Ia benar-benar besar, dan memiliki dampak kehidupan secara luas. Untuk meraih kekuasan, untuk mengganti sistem kekuasaan, untuk memperbaiki kondisi kekuasaan; semua itu mengharuskan kita membayar resikonya. Siapapun yang ingin mengubah kekuasaan, dengan berharap tidak “jatuh korban”, adalah sangat mustahil. Hampir seluruh sejarah peristiwa peralihan sistem kekuasaan, disana selalu memakan korban. Memang peralihan kekuasaan yang mulus, bisa memininalisir korban; seperti menampung air kelapa di gelas. Tetapi peralihan kekuasaan yang kasar, seperti muncratnya air kelapa kemana-mana. Ada yang mengatakan, “Revolusi akan memakan anaknya sendiri.” Ya, kalau revolusinya liar bisa seperti itu. Kalau terkendali, bisa diminimalisir jatuhnya korban.

[6]. Setiap orang kalau ditawari makan buah kelapa, atau makan masakan-masakan yang dimasak dengan buah kelapa, rata-rata akan suka dan sangat senang. Saya hampir tak pernah mendengar ada orang alergi buah kelapa. Tetapi kalau kita katakan kepada mereka: “Siapa mau membantu saya membuka buah kelapa ini?” Rata-rata mereka akan geleng-geleng kepala. Mereka tak mau, malas, atau tak ingin mendapat resiko.

Hikmah: Begitulah karakter umumnya manusia. Sebagian besar manusia enggan untuk diajak membangun kekuasaan, memperbaiki kekuasaan, atau mengganti sistem kekuasaan. Sebagian besar akan “angkat tangan”. Tetapi bilamana kekuasaan itu sudah di tangan, sudah “terhidang di meja”, sudah “tinggal disantap”, mereka akan berebut mendapatkannya. Kalau perlu mereka akan berkilah: “Saya paling berhak. Saya tokoh Reformasi. Saya paling berjasa. Saya dulu yang menggulingkan Soeharto. Saya sosok yang adil, bijaksana, tidak haus kekuasaan, mengabdi 200 % untuk rakyat, tidak korupsi, tidak terlibat selingkuh, tidak cacat hukum,…dan lagi pula saya cakep.” Begitulah, manusia berebut ingin menikmati kekuasaan, tetapi tidak mau berjuang memperbaiki kekuasaan.

Demikianlah Saudaraku rahimakumullah…penjelasan seputar “Hikmah Buah Kelapa”. Masya Allah, walhamdulillah, Allah Ta’ala mengajarkan kita tabiat kekuasaan politik itu melalui sifat makhluk-Nya, yaitu: Buah Kelapa. Walhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bagi siapapun yang sering berbicara tentang politik Islam, kekuasaan Islam, daulah wa khilafah, dan sebagainya, silakan ilmui, renungkan, dan pahami secara jelas tentang sifat buah kelapa. Apabila Anda tidak memahaminya, jangan terlalu berharap akan bisa menikmati “lezatnya santan kelapa”.

Semoga bermanfaat. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bumi Allah, Ramadhan1432 H.

(Abinya Syakir).