Bibit-Chandra dan Cerita Si Embul

Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Kalau mau menyapu sampah di lantai, gunakan sapu yang bersih, Mbul! Jangan gunakan sapu kotor, nanti lantai bisa jadi lebih kotor lagi,” kata Bu Inah kepada Embul, anaknya. Embul yang memang baik hati hanya menganggukkan kepala. Entahlah, apa dia mengangguk taat ke ibunya, atau karena sedang lapar. Maklum Embul sedang puasa Ramadhan. Meskipun puasa, Embul tetap mau bantu ibunya. Alhamdulillah.

Membersihkan sampah harus memakai sapu yang bersih. Kalau tidak, lantai akan semakin kotor. Dan lebih kotor lagi kalau yang menyapu itu memakai sandal berlumpur, dan tubuhnya banyak debu-debu. Bukan bersih yang akan didapat, malah kotoran tersebar dimana-mana.

***

Kalau mencermati sepak-terjang Bibit-Chandra selama ini, ada banyak keheranan di hati. Dua pejabat Ketua KPK ini kalau dicermati ternyata melakukan hal-hal yang curang juga. Ini tidak terkait berita-berita yang sekarang lagi santer beredar; tidak ada kaitan kesana. Tetapi lebih melihat komitmen kedua orang tersebut dalam menghadapi kasus-kasus yang menimpa dirinya sebagai pejabat Ketua KPK.

Indikasi-indikasi kecurangan Bibit-Chandra, antara lain:

PERTAMA. Masih ingat gerakan sejuta facebookers yang meminta Bibit-Chandra dibebaskan dari proses pengadilan, dalam kasus “Kriminalisasi Ketua KPK” beberapa waktu lalu? Nah, disana kan berkembang suatu opini, dan opini ini sangat didukung oleh media-media massa dan para pakar “latah”. Opini tersebut adalah: “Kalau Bibit-Chandra diadili, lalu dihukum, itu artinya pemberantasan korupsi di Indonesia akan mati.” Anda masih ingat kan dengan opini ini? Pertanyaannya: Apakah sedemikian hebat posisi Bibit-Chandra, sehingga tanpa peranan mereka berdua, pemberantasan korupsi di Indonesia akan mati? Lha, memang yang bisa memberantas korupsi hanya mereka berdua? Apa di Indonesia ini tidak ada lagi orang yang kapabel memberantas selain mereka berdua?

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Ya, mereka berdua mendukung opini itu, dan tidak melakukan pengingkaran. Padahal namanya orang berakal, kalau Bibit-Chandra diberhentikan, masih ada orang lain yang akan datang menggantikan posisi mereka berdua. Andai KPK sendiri yang dibubarkan, masih ada instrumen lain untuk memberantas korupsi. Andaikan semua instrumen negara dibubarkan, masih ada MORALITAS anti korupsi di hati manusia warga negara Indonesia. Hal-hal demikian mudah dipahami, bagi yang mau berpikir.

KEDUA. Ketika berhadapan dengan Anggodo, Bibit-Chandra tidak mau maju ke pengadilan. Alasannya, kasus yang menimpa mereka merupakan KRIMINALISASI. Jadi, seharusnya mereka tidak bersalah, tetapi oleh kalangan Polri di-setting agar mereka bersalah. Bibit-Chandra ditantang untuk membuktikan tuduhan kriminalisasi itu dalam pengadilan, tetapi dia selalu menolak. Dalam wawancara di TV-TV, mereka tidak mau diadili, karena mereka merasa telah “dikriminalisasi”. Buktinya apa? Bibit-Chandra menyodorkan hasil penyadapan percakapan Anggodo dengan pihak Polri, dan lain-lain.

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Sebagai bagian dari aparat hukum, khususnya dalam pemberantasan korupsi, seharusnya Bibit-Chandra menghormati mekanisme hukum yang berlaku. Lihat itu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir! Biarpun banyak orang meragukan obyektifitas kasus-kasus yang menimpa beliau; tetapi Ustadz Ba’asyir tetap konsisten memenuhi mekanisme hukum yang berlaku. Padahal Bibit-Chandra pasti tahu, bahwa Ustadz Ba’asyir sangat membenci hukum non Islami yang berlaku di negeri ini. Sekalipun benci, kalau memang mekanisme yang berlaku begitu, ya dengan berat hati, beliau tetap memenuhi mekanisme tersebut. Berbeda dengan Bibit-Chandra, kedua orang ini masuk jajaran aparat hukum, tetapi takut menghadapi proses pengadilan. Dengan mentalitas seperti itu, seharusnya mereka “dideportasi” dari ranah penegakan hukum.

KETIGA. Kasus Bibit-Chandra tidak pernah bisa dibawa ke pengadilan. Kronologinya begini: a. Bibit-Chandra merasa telah dikriminalisasi oleh Polri, dengan bukti rekaman percakapan Anggodo dll. yang diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi; b.  Media-media massa mem-blow up posisi Bibit-Chandra yang “terzhalimi”, terutama MetroTV; c. Para facebooker bangkit melakukan “jihad” demi membela posisi Bibit-Chandra yang terzhalimi; d. SBY merasa terdesak oleh opini media massa dan facebookers, lalu SBY mendesak supaya proses pengadilan Bibit-Chandra segera dihentikan; e. Pihak Kejaksaan mengklaim kasus Bibit-Chandra sudah P21 alias siap masuk ke pengadilan. Tetapi karena desakan SBY yang menggunakan alasan “memenuhi rasa keadilan publik”, maka dikeluarkanlah SKP2 (Surat Keputusan Penghentian Perkara); f. Para ahli hukum mempertanyakan status SKP2 itu, sebab ia dianggap sebagai bentuk campur-tangan Presiden terhadap proses hukum. Maka keputusan SKP2 diubah lagi, menjadi Deeponering; g. Hasil akhir, Bibit-Chandra tidak pernah diadili, karena dia mendapat anugerah “deeponering”.

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Kebijakan deeponering atau SKP2 adalah kebijakan yang curang. Seharusnya berlaku prinsip “semua warga negara sama di mata hukum”. Jadi, tidak ada diskriminasi bagi semua pihak. Semua sama saja, kalau ada indikasi kesalahan, ya masuk pengadilan. Kalau terbukti salah, diberi sanksi; kalau tidak bersalah, harus dibebaskan. Seharusnya Bibit-Chandra konsisten dengan mekanisme itu, bukan mencari perlindungan berupa SKP2 atau deeponering. Kalau mereka masuk pengadilan dan ternyata bebas, nama mereka akan bersih. Tetapi kalau mereka bebas dengan fasilitas SKP2 atau deeponering, mereka akan selalu dihantui citra “diskriminasi dan kepengecutan” hukum. Sebagai penegak hukum, Bibit-Chandra tidak boleh merasa senang dengan campur-tangan kekuasaan (SBY) yang akhirnya memberinya kenikmatan berupa SKP2 atau deeponering. Seharusnya dia bicara lantang ke SBY: “Terimakasih Pak, sudah peduli dengan kami. Tapi sebagai penegak hukum kami pantang melibatkan Bapak dalam kasus seperti ini. Biarlah Bapak tetap berada di domain eksekutif, jangan ikut-campur urusan yudikatif. Kami lebih memilih diadili demi menghormati mekanisme hukum.” Begitu dong, kalau memang gentle.

KEEMPAT. Ini adalah kesalahan paling fatal dari Bibit-Chandra. Baru sedikit orang yang menyadari kesalahan ini. Sedikit sekali. Karena akal kita cenderung mudah dikacaukan oleh opini-opini media. Kalau Anda ditanya, “Apa sih yang sebenarnya membebaskan Bibit-Chandra dari tuntutan hukum?” Kalau dicermati, yang membebaskan mereka itu adalah rekaman-rekaman percakapan Anggodo dll. yang diputar di MK itu. Tanpa rekaman ini, Bibit-Chandra tidak akan lolos dari proses hukum. Lalu darimana rekaman-rekaman itu didapatkan? Sumbernya dari mesin penyadap percakapan telepon yang dimiliki KPK.  Tanpa alat penyadap itu, tak akan diperoleh hasil rekaman tersebut, sehingga Bibit-Chandra seharusnya bisa diadili. Nah, pertanyaannya adalah sebagai berikut: Mana hasil rekaman-rekaman percakapan koruptor lain, misal dalam kasus Bank Century, Miranda Goeltom, Gayus Tambunan, Rekening Gendut Perwira Polri, Melinda Dee, Nazaruddin, Andi Malarangeng, Andi Nirpati, dan lain-lain? Mana, mana hasil rekamannya? KPK pasti memiliki hasil-hasil rekaman itu. Kok yang dikeluarkan oleh Bibit-Chandra hanya hasil rekaman yang menguntungkan dirinya saja? Sedang rekaman lain disimpan sangat rapi?

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Secara jelas, kedua orang itu hanya mengeluarkan hasil rekaman ke publik, untuk rekaman yang menguntungkan keduanya, sedang untuk rekaman-rekaman lain, yang bisa jadi bisa membongkar kasus-kasus korupsi selama ini, tidak dia perlihatkan. Ini jelas kecurangan yang sangat nyata. Akhirnya, lembaga KPK hanya menjadi “pelayan” Bibit-Chandra, bukan menjadi pelayan masyarakat luas. Kasihan sekali.

KELIMA. Kesalahan terakhir, sebagai buah dari kesalahan-kesalahan sebelumnya; ketika Bibit-Chandra sudah mendapat fasilitas SKP2 atau deeponering, mereka seperti mendapat fasilitas perlindungan dari Pemerintah (SBY). Sebagai bentuk “balas jasa”, maka ujung tombak KPK menjadi tumpul untuk menyibak kasus-kasus korupsi yang melibatkan lingkar kekuasaan. Bibit-Chandra disini memperlihatkan dirinya sebagai “orang berakhlak” yang “pandai berterimakasih” atas jasa kebaikan orang lain. Tetapi dalam ranah hukum, konsep “akhlak” seperti itu seharusnya tidak dipakai. Banyaklah kasus-kasus korupsi yang akhirnya mandeg, karena pejabat-pejabat KPK sudah “ditawan” oleh kekuasaan. Nah, yang begini ini baru bisa dibenarkan jika ada ucapan: “Jasa baik yang diterima pejabat Ketua KPK, membuat lembaga itu tak mampu membersihkan korupsi sebagaimana diharapkan masyarakat.”

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Ya, Anda sudah bisa menyimpulkan sendiri. Tidak usah diberitahu lagi. Yang jelas, kasus Century, Andi Nurpati dan KPU, Gayus, Rekening Polri, Melinda Dee, Malarangeng, Nazaruddin, dll. saat ini mandeg. Kalau Bibit-Chandra tidak menerima jasa “perlindungan hukum” mungkin akan lain ceritanya.

***

“Embul, Embul, dimana kamu, Nak?” kata Bu Inah sedikit agak berteriak. Waktu sudah menjelang Maghrib, Embul belum kelihatan. Bu Inah jelas gelisah. Anak itu harus siap-siap berbuka puasa.

Seisi rumah ikut mencari Embul, sambil berteriak-teriak: “Embul, Embul…” Tapi yang dicari belum juga nongol. Kemana ini Si Embul? Semua merasa gelisah.

Saat adzan Maghrib terdengar, orang-orang masih mencari Embul. Kakak Embul beruntung. Saat mencari di gudang, dia melihat adiknya sedang tidur di atas tumpukan koran-koran.

“Hei Embul, bangun, bangun! Sudah Maghrib, Embul! Kenapa kamu tiduran disini? Dari tadi kami mencari kamu, Mbul!” kata kakak Embul dengan suara keras.

Si Embul segera bangun. Lalu berdiri. Dia terlihat hanya diam, sambil mengucek-ucek mata. Masih kelihatan wajah ngantuk di mukanya. Di samping Embul ada beberapa buah sapu. Sapu ijuk 3 buah, sapu lidi 2 buah.

“Mbul, untuk apa sapu-sapu itu?”

“Untuk menyapu?”

“Kamu sendiri sudah menyapu, belum?”

“Belum!”

“Kenapa?”

“Masih nyari sapu yang bersih. Kata Ibu harus pakai sapu bersih.”

“Lalu…”

“Ternyata, sulit mencari sapu bersih. Semua pada kotor.”

Kakak Embul hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kepolosan adiknya. “Ya, sudah Mbul. Kita buka puasa saja sekarang. Lupakan soal sapu-sapu itu.”

“Moga-moga KPK mau memakai sapu yang bersih, Mbul.”

“Apa Kak? Tadi Kakak bilang apa?” tanya Embul agak keheranan.

“Ah, sudahlah Mbul. Mari kita segera buka puasa. Kata Nabi, lebih cepat buka puasa, lebih baik.”

“Ya, Kak.”

Semoga tulisan dan cerita ringan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat kita. Khususnya di bulan Ramadhan Mubarak ini. Allahumma amin. []

AM. Waskito.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: