Tuduhan Misionaris Seputar Bulan Sabit Ramadhan

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di situs voa-islam.com, ada artikel berjudul: “Tuduhan Kristen: Puasa Ramadhan Menjiplak Ritual Penyembah Berhala (Mengkritisi Buku Penodaan Islam di Gramedia – 3)“. Artikel ini oleh Ustadz Ahmad Hizbullah, MAg. sebagai bentuk bantahan terhadap buku provokatif yang diterbitkan Sonrise Enterprise, karya  Curt Fletemier Yusuf dan Tanti.

Dalam buku ini banyak tuduhan-tuduhan khas para misionaris -yang memang tak ada kerjaan lain selain itu- seputar ajaran Islam. Salah satunya, tentang ibadah Shiyam Ramadhan. Berikut ini kutipan kalimat tuduhan seputar bulan Ramadhan:

“Puasa pada Bulan Ramadhan. Bulan puasa kaum Sabean dimulai pada saat bulan sabit dan tidak akan berakhir sampai bulan lenyap, lalu kembali bulan sabit muncul (sama seperti Ramadhan bagi Islam pada masa ini). Muhammad hanya meneruskan praktik keagamaan yang dipakai oleh para penyembah berhala, Abd. Allah bin Abbas melaporkan bahwa Muhammad, menyatakan: “Jangan mulai berpuasa sampai kamu telah melihat bulan sabit dan jangan berhenti berpuasa sampai kamu melihatnya kembali, dan jika itu berawan, sempurnakanlah menjadi 30 hari.”

Memang pada masa Muhammad, orang Yahudi juga memiliki kebiasaan berpuasa sesuai dengan penanggalan Yahudi, dan penanggalan Yahudi yang dipakai juga berdasarkan hitungan bulan. Orang Yahudi juga memiliki perayaan Bulan Baru, tetapi dalam Imamat 23 dijelaskan bahwa perayaan Bulan Baru itu tidak dimulai dari TUHAN. Sampai saat ini orang Kristen juga tetap melakukan puasa. Beberapa di antaranya bahkan melakukan secara rutin. Tetapi sebagian besar orang Kristen (termasuk penulis) berpuasa ketika ada sesuatu yang sedang didoakan sungguh-sungguh. Itu adalah cara untuk memusatkan pikiran kita pada Tuhan.

Bagi kita, puasa bukanlah suatu kewajiban keagamaan. Satu-satunya “kewajiban keagamaan” yang kita miliki adalah untuk percaya pada Kristus yang membawa kita ke surga, seraya menyadari bahwa sebenarnya kita tidak layak untuk menerima kasih-Nya, dan mengkuti-Nya dengan segala ucapan syukur untuk apa yang telah Dia kerjakan bagi kita.” (Sang Putera dan Sang Bulan, penerbit Sonrise Enterprise, hlm 148-149).

Inti dari pernyataan ini ada dua yang terkait dengan Shiyam Ramadhan: Pertama, kata si penulis Rasulullah Saw meneruskan praktik keagamaan kaum Sabean (penyembah berhala), yaitu memulai dan mengakhiri puasa dengan melihat bulan sabit. Kedua, dalam kitab Imamat 23 dijelaskan bahwa perayaan Bulan Baru (bulan sabit) bukan dari Tuhan.

JAWABAN:

[1]. Kaum Sabean atau dalam Islam diistilahkan Sabiin tidak melulu selalu bermakna orang-orang musyrik penyembah berhala. Tidak demikian. Umat-umat terdahulu dari Nabi-nabi terdahulu juga disebut kaum Sabiin. Coba perhatikan terjemah Al Qur’an di bawah ini. Ia adalah ayat yang sangat populer di mata kaum SEPILIS.

“Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.” (Al Baqarah: 62).

Dari ayat ini bisa diambil pelajaran, bahwa kaum Shabi’in itu tidak otomatis penyembah berhala. Di antara mereka ada yang beriman, beramal shalih dan mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala. Jadi kalau kaum SABEAN otomatis divonis sebagai kaum musyrik (paganis), penyembah berhala; hal itu tidak benar.

[2]. Islam datang untuk mengganti dan memperbaiki agama manusia. Mengganti agama yang rusak, bathil, dan hina; memperbaiki agama-agama yang telah menyimpang, sesat, dan keluar dari jalan Allah yang lurus. Dalilnya antara lain, ialah 2 ayat terakhir Surat Al Fatihah: “Tunjukkan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat; bukan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang sesat.”

Ritual agama dari masa lalu BISA DITERIMA atau HARUS DITOLAK, tergantung bagaimana ajaran Islam itu sendiri. Jika menurut ajaran Islam, ritual itu diterima ya kita terima; jika menurut Islam ia harus ditolak, ya harus ditolak. Jadi, akhirnya posisi ajaran Islam itu menjadi PENGUJI atau FILTER semua aliran agama, teologi, ritual, ibadah, dll. dari masa lalu. Mana yang dibenarkan Islam, ia menjadi benar; mana yang disalahkan Islam, ia menjadi salah.

Kalau Anda perhatikan ritual Manasik Haji. Orang-orang musyrikin Makkah juga punya tradisi “ibadah haji”, tetapi dalam versi paganistik (kemusyrikan). Misalnya, disana ada thawaf telanjang, menyembah berhala, berkorban untuk berhala, mengundi nasib, dll. Ketika Islam datang, ritual ibadah Haji tidak dibuang semuanya. Bagian-bagian yang benar dan lurus seperti Manasik Nabi Ibrahim, dipertahankan oleh Islam. Bagian-bagian yang syirik, bathil, dan hina dibuang oleh Islam.

Hal ini berlaku dalam segala ritual ummat manusia. Doa, shalat, dzikir, shiyam, dan sebagainya bukanlah ibadah yang baru. Ia sudah dikenal sejak ummat-ummat terdahulu. Maka Islam membersihkan, memilah, serta memperkuat amal-amal yang baik itu. Sedangkan, amal hina, rusak, sesat, syirik, zhalim, dll. dibuang jauh-jauh. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[3]. Andaikan saja dianggap bahwa penentuan awal dan akhir shaum Ramadhan seperti tradisi kaum musyrikin di masa lalu, bukan berarti Rasulullah Saw mengadopsi dari ajaran kaum musyrik di masa lalu. Alasannya, darimana Rasulullah tahu bentuk ritual kemusyrikan dari masa lalu, sedangkan beliau adalah Nabiyyil ummiyyi (Nabi yang tidak membaca-menulis)? Pastilah Rasulullah mendapat semua petunjuk tentang ibadah itu dari Allah Ta’ala. Beliau mendapatkan Wahyu, lalu melaksanakan sesuai petunjuk Allah Ta’ala. Jadi, ibadah Ramadhan ini bukan hasil kreasi Nabi, dan bukan hasil adopsi ajaran orang lain juga. Maka, apa yang diridhai oleh Allah bagi Nabi-Nya, itulah yang kita imani; sedangkan apa yang dijauhkan oleh Allah dari Nabi-Nya, itulah yang kita jauhi.

Dalam Al Qur’an ada ayat seperti ini: “Laa tasjuduu lis syamsi wa laa lil qamari, wasjuduu lillahi alladzi khalaqahunna” (janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, akan tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakan keduanya). Dalam ayat ini ada hikmah yang sangat berharga. Bahwa, matahari, bulan, langit, bumi, dan sebagainya semua itu adalah makhluk Allah Ta’ala. Semua itu ciptaan Allah. Maka Allah lebih berhak atas ciptaan-Nya, bukan kaum musyrikin.

Misalnya, kaum Shinto Jepang menyembah matahari. Matahari adalah milik Allah, ia beredar sesuai Sunnah-Nya, bukan sunnah kaum musyrikin Jepang. Begitu pula, bulan sabit, bulan purnama, gerhana bulan, dan sebagainya semua itu adalah MILIK Allah Ta’ala. Allah lebih berhak memiliki semua itu, daripada siapapun. Tidak boleh ada yang mengklaim benda-benda di alam semesta ini, selain semua itu hanya milik Allah. Artinya, Allah berhak memilihkan bagi Nabi-Nya apa yang Dia ridhai dari perilaku-perilaku alam ini, termasuk perilaku bulan. Jika Allah memilih bulan sabit bagi Nabi-Nya, itu adalah hak Allah, dan tidak ada kaum apapun yang boleh mengklaim bulan sabit, selain hanya Allah saja.

Nah, demikianlah jawaban singkat yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin, semoga menjadi pahala bagi kami dan (Ummat Islam) yang membacanya. Allahumma amin. Walhamdulilllahi Rabbil ‘alamiin.

Al faqir ila ‘afwi Rabbi

[Abinya Syakir].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: