Janganlah Bersikap Sombong…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

IFTITAH: Tulisan ini direvisi dari bentuk aslinya. Hal ini dilakukan setelah tabloid Suara Islam menurunkan tulisan simpatik tentang sosok seorang calon Ketua KPK. Tulisan itu digoreskan oleh Ustadz Aru Syeif Asadullah di kolom Khatimah, edisi 121 (7-12 Oktober 2011).

Sebagai bentuk rasa ukhuwwah antar sesama Muslim, dan menghormati para senior aktivis Islam yang banyak jasanya kepada Ummat, maka tulisan ini pun direvisi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni diriku atas segala kesalahan-kesalahan yang ada; dan semoga Allah memuliakan kita di atas jalan persaudaraan Islam. Allahumma amin.

***

Pagi ini, Kamis 15 September 2011, saya menyaksikan dialog di TV dengan seorang calon Ketua KPK. Alhamdulillah, dengan segala pertolongan Allah, kita masih bisa dinamika kehidupan Ummat di Nusantara ini.

Aku punya tanjung... Aku bisa mengeluarkan suara mendesing...

Singkat kata, dalam wawancara dengan TV di atas, tampak ada sikap-sikap arogansi yang mestinya tidak boleh tampak dalam diri seorang calon Ketua KPK. Arogansi dimanapun adalah buruk, sebab iblis dikeluarkan dari syurga dan mendapat laknat Allah karena arogansi itu sendiri.

Dalam hal ini ada kaidah sederhana. Kemungkaran yang dilakukan di depan publik, harus diluruskan di depan publik juga. Kemungkaran secara pribadi, diluruskan secara pribadi pula. Lalu, kemungkaran oleh orang-orang yang alim dalam Islam (ustadz atau ulama) berbeda dengan kemungkaran yang dilakukan oleh individu biasa. Kemungkaran oleh orang alim nanti bisa dianggap sebagai “penghalalan” kemungkaran. Cara menasehatinya pun berbeda dengan kepada orang-orang biasa. Semoga dimengerti!

Untuk sosok sekaliber Musa As saja ditegur keras oleh Allah dalam perkara arogansi, apalagi untuk insan biasa seperti kita-kita ini. Bahkan Rasulullah Saw ketika mukanya masam menyambut kedatangan orang tunanetra, Abdullah bin Ummi Maktum, seketika diingatkan dengan Surat “Abasa Watawalla”. Hal ini termasuk perkara hati, perkara sangat peka. Kita harus berhati-hati. Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah.

Arogansi termasuk perbuatan yang tak diberi toleransi, kecuali bersikap arogan di depan orang sombong, dalam rangka mengingatkan kesombongannya. Hal seperti itu diperbolehkan, demi amal nahyul munkar. Meskipun harus tetap hati-hati juga.

Dalam wawancara itu saya mencatat beberapa hal yang seharusnya dihindari oleh setiap Muslim yang ISTIQAMAH di jalan Islam, karena hal itu terindikasi merupakan sikap kesombongan. Misalnya sebagai berikut:

[1]. Seseorang mengklaim diri sudah berkiprah di KPK sejak tahun 2005/2006. Posisinya sebagai anggota dewan penasehat KPK, juga ikut terlibat dalam menyusun konsep legal KPK itu sendiri. Disana dia mengklaim sangat tahu seluk-beluk lembaga KPK.  Katanya, “Andaikan ada jarum yang jatuh di KPK, saya tahu letaknya.” Perkataan ini tidak tepat, harus diperbaiki. Di dalamnya mengandung arogansi.

Dulu saya masih ingat ada politisi Muslim dari partai Islam yang didukung anak-anak muda aktivis kampus. Waktu itu, partai tersebut membawa konsep baru, yaitu mengintegrasikan antara partai politik dan partai dakwah; sesuatu yang tidak lazim dalam dunia politik di berbagai negara Muslim. Lalu dia sesumbar, “Andaikan ada 20 jilid kamus politik, lalu di dalamnya tidak ada konsep seperti ini; mengapa tidak kita membuat jilid yang ke-21.” Ya begitulah, kesombongan manusia yang akhirnya menjadi sesalan tak berkesudahan.

Taruhlah, seseorang tahu betul kondisi lahir batin, tahu istilah, hakikat dan makrifat sekaligus. Tetapi tetap tidak layak mengklaim seperti itu. Pengetahuan kita ada tanggung-jawabnya; semakin kita mengklaim “banyak tahu”, semakin besar juga tanggung-jawabnya. Semoga hal ini menjadi pelajaran.

[2]. Seseorang masuk KPK sebagai bentuk rasa cinta kepada saudara-saudara sesama aktivis Muslim, keluarganya, dll. Dia masuk KPK sebagai upaya mewujudkan rasa cinta itu.  Secara teori boleh mengungkapkan cinta kepada orang lain dengan komitmen memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Ini boleh semata, bahkan baik. Kalau korupsi terberantas, orang-orang yang dicintai itu insya Allah akan hidup dengan sejahtera dan baik.

Namun masalahnya, ketika muncul analogi kurang bagus. Disana seseorang mengatakan, kurang lebih: “Misalnya nanti di Akhirat saya masuk syurga, lalu kawan-kawan masuk neraka. Lalu mereka meminta tolong ke saya. Kalau sudah di Akhirat, saya tak bisa berbuat apa-apa…” Ucapan seperti ini tidak tepat dan tidak sesuai ajaran Islam. Tidak ada ulama Islam yang membuat pengandaian jika dirinya masuk syurga, lalu orang lain masuk neraka. Kata-kata seperti itu termasuk domain para Nabi dan Rasul.

Jadi sebaiknya kita menghindar dari kata-kata seperti itu. Bahkan lebih mulia kalau kita merendahkan diri, misalnya dengan mengatakan, “Apalah artinya aku ini? Aku ini hamba yang faqir dan lemah? Aku ini berlumur dosa. Tidaklah diriku ini, selain hamba yang sangat mengharapkan maghfirah Allah.” Kata-kata demikian dibenarkan dan insya Allah termasuk kebaikan.

[3]. Kemudian seseorang ditanya, apa yang akan dia lakukan kalau nanti menjadi Ketua KPK? Lalu dia menjawab: “Dalam waktu 6 bulan pertama, saya akan selesaikan masalah internal KPK sampai beres. Kalau selama ini masih SETENGAH MALAIKAT, akan saya buat sehingga menjadi TIGA PER EMPAT MALAIKAT.” Kalimat-kalimat demikian seharusnya dihindari. Kita ini hanya hamba-hamba Allah yang dhaif dan penuh kesalahan. Sedangkan para Malaikat itu mulia dan disucikan. Maqamnya manusia ya sebatas amal-amal manusia, tak akan bisa mencapai prestasi Malaikat.

Jangankan menjadi setengah Malaikat, menjadi 1 % saja belum tentu bisa. Karena Malaikat disucikan dari dosa, sedang kita tak luput dari dosa-dosa. Kalau membaca kisah Nabi Luth As dan kaumnya. Untuk menyelesaikan kedurhakaan kaum Sodom itu, Allah Ta’ala hanya mengutus dua makhluk Malaikat saja. Bahkan kalau mau, bisa saja Allah hanya menurunkan satu Malaikat saja seperti ketika Nabi Saw diusir kaum Thaif, lalu Allah memerintahkan Malaikat penjaga gunung untuk memenuhi kemauan Rasulullah Saw. Hal-hal demikian ini levelnya Rububiyyah Allah; yaitu level seputar urusan-urusan Ketuhanan-Nya.

Kita tak memiliki hak di kawasan seperti ini. Berhati-hatilah wahai saudaraku. Ingat pesan Nabi Saw, “Falyaqul khairan au liyasmut” (berkatalah yang baik, atau kalau tak bisa diam sajalah). Di tengah KPK sendiri banyak sekali masalah-masalah. Misalnya:  Skandal Bank Century, kasus suap pemilihan deputi gubernur BI, kasus Melinda Dee dan rekening gendut pejabat Polri, korupsi di KPU, korupsi pajak yang melibatkan grup Bakrie, Ramayana, dll.; kasus pemilihan Ketua Umum Demokrat, kasus Wisma Atlet SEAGAMES, kasus Bibit dan Ade Raharja, kasus Menakertrans, dll. Hal-hal demikian tidak boleh sama sekali diklaim sebagai SETENGAH MALAIKAT.

Jangan wahai saudaraku! Nasehat tulus kepada seseorang: “Andaikan beliau tak mampu mengendalikan segala keadaan di sekitar KPK dan diri beliau sendiri, cobalah bersikap santun. Jangan membawa-bawa nama malaikat. Malaikat adalah makhluk yang suci, patuh, dan tak pernah bermaksiyat kepada Allah seperti disebut dalam Surat At Tahrim. Janganlah kelemahan kita hendak ditutupi dengan kesucian makhluk Allah Ta’ala, sebab semua itu perbuatan curang.”

Allahumma inna nas’aluka husnal khatimah, wa na’udzubika min su’il khatimah. Allahumma inna nas’alukal jannah wa na’udzubika min adzabin naar. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.

Iklan

21 Responses to Janganlah Bersikap Sombong…

  1. adhel berkata:

    Ass….Mas Wakito yg baik, kita sebagai umat muslim harus saling mengingatkan jika saudara kita salah atau khilaf (manusia tempatnya salah dan lupa)….mungkin Bang Abdullah sedang keseleo lidah, tapi kalau kita mau jujur di KPK peran beliau cukup signifikan…. Kepribadiannya juga insyallah layak utk kita acungi jempol…Tidak pernah memakai kendaraan dinas jika bukan undangan kerja, sederhana/tdk menampilkan sesuatu yg berlebihan, tdk pernah mau menerima sumbangan dlm bentuk apapun…. mari kita sesama muslim mensuport beliau, jikalau lupa mari kita ingatkan bareng2…..semoga Allah mengampuni kita semua, tks
    Wassalam

    adhel

  2. Anonim berkata:

    Positiif thinking ya akhi
    Jika Saudaramu mengatakan sesuatu yang mengandung makna ganda (kemungkinan baik atau buruk) maka kembalikan kepada makna yang baik, jangan sampai menzaliminya.
    orang kadang bisa lupa, bisa salah, dan sewaktu-waktu dia berubah menjadi lebih baik.
    Hidup jangan dipersulit
    daripada sibuk hafalin omongan orang, lebih baik hafalin ayat-ayat Allah, Hadis-hadis Nabi.
    Setahun nonton TV atau baca koran terus-menerus hanya bikin hati gersang..
    Mari baca, hafalkan Al Quran
    kita galakkan pada diri-diri kita,isteri, anak2 Saudara & Masyakat umum untuk mengamalkan Al Quran
    Mari sebarkan kebaikan..tutupi aib sesama, nasihati secara bijak
    mengajak bukan mengejek atau menginjak
    semangat mendakwahi bukan semangat memvonis

  3. jmustaf berkata:

    Pagi ini, Kamis 15 September 2011, saya menyaksikan dialog di TV dengan calon Ketua KPK, Abdullah Hehamahua. Di antara elit-elit politik di Indonesia, Abdullah Hehamahua memiliki ciri khas unik, yaitu janggutnya agak panjang …………………..

    Lhaa …bukankan pak ustad sudah ngasih ” obat stress praktis ” pada tulisan terakhir ustad ???

    Kalau tidak salah resepnya …….. “Obatnya sangat sederhana, bahkan mungkin sangat mencengangkan. Anda hanya diminta: “Mulai Berhenti Nonton Berita di TV atau Membaca Berita di Koran.” Hanya itu saja!

    Rupanya pak ustad terpancing juga untuk menikmati ” stress ” ………

  4. abisyakir berkata:

    @ Jmustaf…

    Waktu menulis ini, saya lagi di Malang, di rumah Ibu. Disana bisa dikatakan “tak banyak kerjaan”. Sedang, tontonan TV yang ada rata-rata tidak bagus. Maka “dengan terpaksa” nonton berita. Kebetulan, untuk kasus Nazarudin saya cukup interest, sebab kasus ini kalau benar-benar ditangani, bisa merontokkan supremasi PD. Anda lihat tidak urgensi ke arah itu. Maka kini tinggal kuat-kuatan antara kalangan anti PD versus pro PD. Nazaruddin sudah menunjukkan jalan, tinggal kalangan lain, bisa tidak menyambutnya?

    Jazakallah khair atas masukannya.

    AMW.

  5. abisyakir berkata:

    @ Adhel…

    Sebenarnya, dalam tulisan itu saya hanya meng-capture masalah kesombongan saja. Intinya, kesombongan itu mencerminkan sikap jiwa yang tidak seimbang. Dalam kesombongan ini tak ada toleransi, kecuali menyombongi orang sombong, agar dirinya sadar. Ingat, bagaimana kesombongan iblis laknatullah, disana tak ada toleransi. Begitu pula “kesombongan” Musa As sehingga harus melakukan perjalanan di bawah “mentor” Nabi Khidir As. Kesombongan itu hanya cerminan jiwa manusia yang sudah tidak seimbang lagi.

    Sengaja saya tidak membahas sisi-sisi lain dari A. Hehamahua dengan harapan para penulis sudah paham sendiri. Ternyata, tidak semua paham ke arah sana. Banyak sisi-sisi tercela dari posisi A. Hehamahua itu sendiri di KPK yang seharusnya, bagi seorang Muslim yang komitmen, tidak boleh seperti itu. Contoh sebagai berikut:

    1. A. Hehamahua pernah memeriksa Nazaruddin. Setelah diperiksa, langsung buat pernyataan pers, “Nazaruddin berbohong!” Ketika kemudian ditanya Boni Hargens dari UI, apa sisi bohong Nazaruddin? Hehamahua menjawab, kata Nasruddin untuk Konggres PD di Bandung dia mengirimkan dana sekitar 50 miliar, padahal sebenarnya hanya 30 miliar. Si Hehamahua ini hanya mempersoalkan ANGKA, bukan pengerahan dana hingga 30 miliar itu. Hal demikian sangat kelihatan, kalau Hehamahua sudah tidak netral lagi.

    2. Hehamahua sering dipakai oleh elit-elit KPK, jika mereka terdesak oleh suatu opini kritis. Baik kasus Bibit-Chandra atau Candra-Ade Raharja, dia dipakai sebagai “penetral” opini buruk seputar elit-elit KPK itu sendiri. Mungkin kopiah dan janggutnya itu yang dimanfaatkan untuk membuat pencitraan positif. Wallahu A’lam.

    3. Hehamahua sudah berkiprah di KPK sejak 2005/2006. Sudah 5-6 tahunan dia disana. Apakah selama itu kita tidak cukup memiliki alasan untuk mempertanyakan kinerja tokoh satu ini di lembaga KPK tersebut? Apakah sudah menjadi MENTAL orang Indonesia, untuk tidak mengkritisi elit manapun yang menjadi pemimpin dengan alasan husnuzhan dan menjadi tafsiran baik bagi saudaranya? Bagaimana kalau kinerja orang itu sangat buruk sehingga merugikan nasib ratusan juta saudara Muslim lainnya? Apakah orang-orang yang selalu bernaung di bawah topeng “husnuzhan” dan “tafsiran baik kepada saudara” mau menanggung dosa akibat kesengsaraan ratusan juta kaum Muslimin.

    4. Aktivis-aktivis Islam seperti FUI, FPI, dan lainnya pernah melakukan protes ke kantor KPK. Mereka ingin bertemu pejabat-pejabat KPK, menuntut pengusutan soal Bank Century, dll. Tapi masya Allah, tidak ada elit-elit KPK yang mau menerima kedatangan mereka, apalagi menyambut ke halaman untuk berdialog dengan mereka. Apakah Hehamahua lupa dengan protes-protes Ummat Islam seputar kinerja KPK selama ini?

    5. Secara umum, keberadaan Hehamahua tidak banyak gunanya bagi pemberantasan korupsi di Indonesia. Sudahlah kita blak-blakan saja, tidak usah segan-segan. Apa artinya posisi dia di KPK? Apakah bisa melakukan pemberantasan korupsi, terutama untuk kasus-kasus yang melibatkan link Cikeas? Itu sajalah.

    6. Dimana tanggung-jawab Hehamahua terhadap Antasari Azhar? Apakah Antasari akan dia biarkan saja terjerumus dalam kasus-kasus hukum akibat agendanya untuk membersihkan link Istana dari kasus korupsi? Mengapa ketika akan menadi ketua KPK, Hehamahua tidak menyinggung posisi Antasari sama sekali? Bukankah dia tanya banyak tentang KPK sampai jarum-jarumnya?

    Ya, silakan saja bagi yang mau berprasangka baik kepada sosok seperti itu. Tetapi inilah pendirian kami. Kalau tak bisa menolong Ummat dengan harta-benda, atau posisi politik, minimal dengan opini yang lebih pro pemberantasan korupsi, sampai ke akar-akarnya; bukan pemberantasan korupsi dengan “akal-akalan”.

    AMW.

  6. abisyakir berkata:

    @ Anonymous….

    Positiif thinking ya akhi. Jika Saudaramu mengatakan sesuatu yang mengandung makna ganda (kemungkinan baik atau buruk) maka kembalikan kepada makna yang baik, jangan sampai menzaliminya.
    orang kadang bisa lupa, bisa salah, dan sewaktu-waktu dia berubah menjadi lebih baik.

    Jawab: Salah satu sebab kehancuran kehidupan rakyat Indonesia, ialah SELALU MENGAGUNG-AGUNGKAN ELIT POLITIK. Elit politik disembah-sembah. Kalau dia melakukan kebaikan sedikit, dipuji-puji setinggi langit. Kalau dia berbuat satu dua kesalahan serius, dimaafkan. Kalau sering berbuat salah, kita diminta husnuzhan. Kalau melakukan kezhaliman, kita diminta mawas diri. Kalau dia mati dalam keadaan zhalim, kita diminta mendoakan kebaikan baginya. Masya Allah, betapa enaknya menjadi elit-elit politik di negeri ini. Padahal Nabi Saw pernah mengatakan, “Ummat-ummat terdahulu binasa, ialah ketika elit mereka melakukan kesalahan, mereka dimaafkan. Tetapi kalau orang kecil melakukan kesalahan, ditegakkan hukum secara tegas.” Nah, kehidupan model begitu yang selama puluhan tahun mencengkeram kehidupan rakyat Indonesia ini.

    Hidup jangan dipersulit, daripada sibuk hafalin omongan orang, lebih baik hafalin ayat-ayat Allah, Hadis-hadis Nabi. Setahun nonton TV atau baca koran terus-menerus hanya bikin hati gersang..
    Mari baca, hafalkan Al Quran. Kita galakkan pada diri-diri kita,isteri, anak2 Saudara & Masyakat umum untuk mengamalkan Al Quran.

    Jawab: Anda tahu, mengapa saya menulis artikel seperti itu? Saya berharap, KPK akan diisi oleh orang-orang yang benar-benar lurus, istiqamah, dan berani mati. Tujuannya, agar lembaga itu bisa memberantas korupsi sebaik-baiknya. Adapun kalau ada kandidat yang arogan, dan cenderung jumawa dengan ilmunya; maka kandidat seperti ini perlu “dilempar” jauh-jauh dari arena. Harus diingat, siapapun yang punya sifat sombong, itu adalah ‘bakat’ menuju kezhaliman. Rata-rata orang zhalim bersikap sombong.

    Soal hafalan ayat, Al Qur’an, dll. ya kami terima sebagai nasehat baik sesama Muslim. Jazakumullah khairan atas nasehatnya. Yang jelas harus dibedakan, saat mana seseorang melakukan “nahyul munkar”, dan saat mana dia menghafal Al Qur’an dan As Sunnah. Mohon dibedakan dengan baik!

    Mari sebarkan kebaikan..tutupi aib sesama, nasihati secara bijak. mengajak bukan mengejek atau menginjak, semangat mendakwahi bukan semangat memvonis.

    Jawab: Ya, itu tadi. Waktu selama 5-6 tahun tampaknya tidak cukup bagi kita untuk memberikan masukan/kritik kepada seseorang. Ya, karena di mata kita, setiap elit politik di Indonesia itu suci, sehingga tidak boleh diciderai sedikit pun, demi membela kebenaran. Padahal kalau mau jujur…elit-elit politik ini adalah manusia-manusia yang setiap hari bergumul dengan sistem non Islami. Andaikan kita setiap hari 24 jam mengkritik orang-orang seperti ini, demi menunjukkan sistem Islami yang lebih baik; itu tidak mengapa. Insya Allah.

    AMW.

  7. John Paul Sinjal berkata:

    Jangan suka menyombongkan diri……jangan lupa…diatas langit masih ada langit……

  8. Anonim berkata:

    wah,,,spertinya saudara ini anti KPK ya, apa…anda jangan sok suci juga donk…pernah gak ketemu langsung dengan Ybs?, pernah datang kerumanya gak?..atau anda pernah jadi anggota KPK?kok seolah2 anda paling tau btul isi dalam KPK?Spertinya anda masuk dalam orang2 yg mau melemahkan KPK…atau anda termasuk orang yang takut klo abdullah jadi ketua KPK krn beliau memang figur yg dinilai layak oleh Pansel?apa anda lebih hebat dari Pansel?

  9. abisyakir berkata:

    @ Anonymous….

    “Wah,,,spertinya saudara ini anti KPK ya, apa…anda jangan sok suci juga donk…pernah gak ketemu langsung dengan Ybs?, pernah datang kerumanya gak?..atau anda pernah jadi anggota KPK?kok seolah2 anda paling tau btul isi dalam KPK?Spertinya anda masuk dalam orang2 yg mau melemahkan KPK…atau anda termasuk orang yang takut klo abdullah jadi ketua KPK krn beliau memang figur yg dinilai layak oleh Pansel?apa anda lebih hebat dari Pansel?”

    Respon: Semula saya termasuk yang mendukung KPK buat memberantas korupsi di negeri ini. Tapi semakin lama diikuti berita-berita seputar KPK, ternyata ELIT-ELIT KPK cenderung menjadi SELEB media, bukan pemberantas korupsi yang handal. Sebagian kritik untuk KPK sudah saya sampaikan dalam tulisan-tulisan lain. Tapi fokusnya, kritik ke ELIT-ELIT lembaga itu.

    Beberapa momen yang sulit saya maafkan tentang kelakuan ELIT-ELIT KPK antara lain:

    1. Bibit-Chandra memakai rekaman percakapan Anggodo dll. untuk melindungi dirinya dengan alasan “kriminalisasi”, sementara mereka tidak membuka rekaman apapun untuk membongkar kasus Bank Century, pemilihan Miranda Goeltom, korupsi pengemplang pajak, rekening gendut perwira Polri, konggres PD, wisma atlet, dll. Rekaman dipakai untuk melindungi diri sendiri; sementara untuk melindungi uang negara dalam kasus-kasus itu, tidak dipakai.

    2. Bibit-Chandra begitu takut dengan PROSES HUKUM, sehingga kemudian diberi fasilitas SKP2 atau deeponering. KPK penegak hukum, kok pimpinan-pimpinannya takut proses hukum? Aneh bin ajaib. Bibit-Chandra begitu rakus dalam EKSPLOITASI istilah “kriminalisasi” dan “upaya meruntuhkan insitusi KPK”. Itulah dua kata kunci yang menyelamatkan Bibit-Chandra dari proses hukum.

    3. Elit-elit KPK sebenarnya tahu persis bagaimana posisi Antasari Azhar, mantan Ketua KPK. Tapi coba lihat, mana KEPEDULIAN, SOLIDARITAS, atau PEMBELAAN mereka terhadap posisi Antasari Azhar? Padahal jelas-jelas Antasari dijatuhkan ketika dia menjadi Ketua KPK, dalam tugasnya memberantas korupsi. Kalau elit-elit KPK memang bermoral, seharusnya mereka membela posisi Antasari Azhar, dan tidak terkesan “mau cuci tangan”. Diamnya KPK terhadap kasus Antasari menunjukkan betapa tidak bermoral elit-elit lembaga itu. Ibarat, induk semang lagi dianiaya, anak-anaknya hanya menonton.

    Pendek kata, saya tidak simpati dengan orang-orang oportunis di lembaga KPK itu. Termasuk Syafi’i Ma’arif sekalipun. Orang terakhir ini terlalu banyak omong, banyak gaya, tapi gak nyadar diri. Seharusnya, makin tua makin bijaksana dan arif; tapi jadi kayak ABG, banyak tingkah dan doyan publikasi. “Amit-amit dah,” kata anak Betawi.

    AMW.

  10. apri berkata:

    Sebaiknya jangan begitu….belum tentu yg anda sangkakan itu benar…..jika anda mevonisnya sombong padahal bisa jadi beliau tidak seperti itu sebagaimana saya yakin dia tidak seperti yg anda maksud…maka zalim lah anda…..terlebih dia adalah org yg bermaksud baik…memeberantas korupsi dgn sungguh2…dan anda mengejeknya seperti itu…mudah2 an Alloh memberi kita kekuatan dan kesatuan melawan toghut korupsi di Indonesia ini…salam

  11. abisyakir berkata:

    @ Apri…

    Lho, kan kesombongan itu ada bukti-buktinya? Apakah saya mengatakan sesuatu tanpa bukti? Acara wawancara itu kan sudah dilihat orang se-indonesia (bagi yang punya TV, ada channel beritanya, dan lagi menyaksikan acara itu).

    Adalah sangat aneh Anda dan kawan-kawan membela orang seperti itu, sementara dia jelas-jelas telah berbuat kemungkaran. Saya yakin, ini persepsi pribadi lho ya, kalau tidak ada yang menulis begini; kecil kemungkinan masyarakat akan peduli dengan momen-momen kesombongan Abdullah Hehamahua itu. Karena melihat janggutnya saja, sudah ngeper duluan!

    Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah Al Hakim, kami tidak segan masuk ke urusan seperti ini; meskipun langkah demikian sering disalah-pahami oleh orang-orang yang menyukai kemungkaran merajalela dan selalu mengagung-agungkan orang elit. Padahal kalau mereka jujur, Abdullah Hehamahua sudah 5 atau 6 tahun berkiprah di KPK. Apa bukan dianggap sebagai kesabaran ketika orang seperti kami telah memberi waktu kepadanya 5-6 tahun untuk membuktikan INTEGRITAS moral dan kejujurannya? Mau menunggu berapa lama lagi, sampai kejahatan korupsi ini merajalela dari Sabang sampai Merauke?

    Nanti akan ada lagi pikiran-pikiran aneh, misalnya: “Ya, kalau mau menasehati ya yang baik-baik. Secara diam-diam. Ajak dia bicara empat mata, sampaikan nasehat dengan lembut. Kalau dia mau terima nasehat, alhamdulillah. Kalau tak mau, ya Anda sudah menunaikan amanah.”

    Orang-orang Indonesia sangat suka dengan model-model RETORIKA seperti itu. Bukan salah retoriknya, tetapi salah penggunaannya. Hal-hal yang baik sering dipakai untuk membentengi kemungkaran; demi membela elit-elit politik yang sudah banyak “memberikan” makan-minum. Budaya hina seperti ini marak dimana-mana. Makanya sulit bagi kita untuk mencapai negeri yang barakah, adil, dan makmur. Karena mental orang-orangnya cenderung “suka menjadi pecundang”.

    Tentang “menasehati diam-diam” itu jawabannya sebagai berikut: Kalau kemungkaran dilakukan secara pribadi dan tersembunyi, kita menaehati secara diam-diam dan tersembunyi. Kalau kemungkaran dilakukan di depan umum, kita pun menasehati di depan umum. Dalam urusan kemungkaran idi depan umum, tak ada lagi urusan ghibah. Ghibah itu untuk sesuatu yang tersembunyi sehingga seseorang Muslim tak suka kalau aibnya ketahuan orang lain. Tapi kalau dia terang-terangan membuka aibnya sendiri di depan umum, tidak berlaku lagi masalah ghibah. Bahkan menurut sebagain ulama, “Meng-ghibahi orang-orang yang sudah terkenal kemungkarannya, itu termasuk amal shalih.”

    Nas’alullah al ‘ilma wal irsyad wat taufiq.

    AMW.

  12. Seseorang berkata:

    @ abisyakir:

    sepertinya pikiranmu negatif sekali…Memenggal2 perkataan orang dan menggiring opini publik supaya negatif….Saya melihat siarannya dan saya sama sekali tidak berpikiran sepicik anda… Sepertinya anda terlalu banyak dirumah dan mengurung diri sendiri dirumah…

    Keluarlah, bergaullah, bersosialisasilah….

  13. abisyakir berkata:

    @ Seseorang…

    Lho, saya menilai seseorang dengan fakta yang ada, apa tidak boleh? Disitu jelas-jelas dia mengatakan “misalnya nanti saya masuk syurga”, juga perkataan “akan saya jadikan 3/4 malaikat”… Menurut Anda, yang begini ini pantas tidak sih untuk seorang Muslim? Pantas tidak mengatakan kata-kata seperti itu? Seorang Muslim, kalau dia bicara soal syurga, itu bersifat harapan dan doa, semoga kita masuk syurga; bukan membuat permisalan-permisalan kita akan masuk syurga. Bagaimana kalau makhirnya tidak masuk syurga? …kemudian soal “3/4 malaikat”, apa memang lembaga KPK itu lembaga yang suci? Kalau KPK punya kemampuan 0,1 dari kemampuan malaikat, mungkin itu sudah cukup untuk mengeksekusi seluruh koruptor yang ada di Indonesia. Tapi apa buktinya, mana buktinya KPK punya kemampuan “1/2 malaikat”? Semua ini adalah kesombongan yang tidak pantas.

    Lagi pula, yang mengkritisi Abdullah Hehamahua apakah hanya diri saya saja? Coba Anda jujur! Apakah yang mengkritisi dia hanya saya saja? Bagi saya sih, orang-orang yang terindikasi bersifat munafik harus disingkirkan dari arena, agar urusan masyarakat ditangani oleh orang-orang yang mampu bersikap jujur, adil, dan pemberani. Itu rumusnya!

    “Keluarlah, bergaullah, bersosialisasilah….”

    Jujur, mungkin pergaulan saya tidak seluas Anda, tidak sehebat Anda, jaringan saya tidak menjamur seperti Anda, koneksi saya tidak sekomplek Anda. Tapi ahamdulillah, saya diberi kekuatan untuk bergaul yang baik, memilih orang-orang yang jujur, dan solider dengan mereka yang memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai keadilan dan kepeduliaan terhadap Ummat. Insya Allah dan walhamdulillah.

    AMW.

  14. Lian berkata:

    Bapak AMW, sungguh saya kasihan dengan Anda.

  15. abisyakir berkata:

    @ Lian…

    Bapak AMW, sungguh saya kasihan dengan Anda.

    Respon: Terimakasih sudah mengasihani saya. Sejujurnya, saya ini lemah; butuh kasih-sayang Ar Rahmaan, manusia, dan alam. Alhamdulillah ada hamba Allah yang mau mengasihani saya. Kapanpun belas kasihan itu ada, akan saya terima. Jazakumullah khair.

    AMW.

  16. muslim berkata:

    sikap seorang muslim sebelum memvonis saudaranya adalah kroscek terlebih dahulu, sudahkah anda klarifikasi langsung ke yg bersangkutan? apa maksud perkataannya?

    dengan menulis tulisan di publik seperti inil anda harus tahu dampaknya, kalau pernyataan anda salah, maka anda telah melakukan fitnah, yg itu sangat buruk sekali, apalagi jika ternyata yg anda fitnah seorang muslim yg baik

    wow… ternyata anda juga memperoleh data dari TV ya? sangat ironis sekali.

  17. Anu... berkata:

    maju teruuuuuusssssss Bpk yang di KPK, perkara sombong bkan masalah…………gaya bapak Abdullah H bermain dalam politik di Indonesia sudah pas. sekali sekali masyarakat Indonesia perlu diterapi…….

  18. abisyakir berkata:

    @ Anu…

    Anda tdk boleh begitu. Diingatkan tentang ajaran Islam, kok malah ngeyel spt itu? Cobalah Anda cari dalm sejrah, mana ada pemimpin sombong yang sukses? Sombong itu membuka “pintu kebencian”: kebencian di mata manusia, juga di hadapan Allah.

    AMW.

  19. Benci Koruptor berkata:

    “Kemudian seseorang ditanya, apa yang akan dia lakukan kalau nanti menjadi Ketua KPK? Lalu dia menjawab: “Dalam waktu 6 bulan pertama, saya akan selesaikan masalah internal KPK sampai beres. Kalau selama ini masih SETENGAH MALAIKAT, akan saya buat sehingga menjadi TIGA PER EMPAT MALAIKAT.” Kalimat-kalimat demikian seharusnya dihindari. Kita ini hanya hamba-hamba Allah yang dhaif dan penuh kesalahan. Sedangkan para Malaikat itu mulia dan disucikan. Maqamnya manusia ya sebatas amal-amal manusia, tak akan bisa mencapai prestasi Malaikat.”

    Sebelumnya trima kasih sebesar besarnya telah diingatkan tentang ajaran Islam.
    Merujuk pada ungkapan “stengah malaikat” dan “tiga per 4 malaikat”nya Abdullah H, sy kira tidaklah harus dfahami layaknya Malaikat yang telah anda telah jelaskan di atas. Penggunaan istilah malaikat, mungkn saja bagi Abdullah H hanyalah kiasan sj untuk usahanya perihal penanganan KPK atas kasus korupsi, termasuk utk org2 d KPK sendiri. ( Koruptor, sbelumnya terlanjur sy fahami sbg org2 yg luar biasa sombongnya).

    Sy tdk terpengaruh sama skali dgn tampilan Abdullah H, dgn jenggotnya dll. Tapi apa yg telah dia lakukannya ternyata mmbuat banyak anggota DPR (gudang para korup***) ketar ketir, itu yg mmbuat sy senang.

    Membasmi para koruptor di Indonesia, tak cukup dgan berbagai demo (apapun itu bentuknya). Tp hrs masuk ke systemnya, berdiri angkuh mengalahkan kesombongan para koruptor.

    Terima Kasih
    Mhon Pencerahannya….

  20. abisyakir berkata:

    @ Benci Koruptor…

    Alhamdulillah, anda termasuk org yang bisa bersyukur. Ketika tulisan itu saya perbaiki, anda bisa menangkap adanya semangat perbaikan, demi persaudaraan antar sesama aktivis Islam. Namun ya masih ada yang tidak melihat niat itu. Tapi tidak apa, sikap seperti itu sudah biasa dalam lingkup opini dan analisis. Wa yajzillahus syakirin…dan Allah akan membalasi orang-orang yang mau bersyukur.

    1. Kesalahan si fulan tersebut ialah ketika masuk KPK, masuk system, lalu meninggalkan kawan-kawannya. Hal itu tercermin dari 5-6 tahun disana, pengaruh aktivis Islam di lembaga KPK nyaris tak ada. Malah FPI, FUI, dkk. sering disia-siakan kalau membuat aksi demo di depan KPK.

    2. Jadi melihat reputasi seseorang tidak hanya dalam satu kali wawancara saja, tetapi menghitung selama 5-6 tahunan itu. Kalau disodok soal “kesombongan” itu kan hanya momentumnya saja. Itu hanya momentum. Yang dipersoalkan ialah 5-6 tahun itu, lalu pintu msuknya soal “kesombongan”. Sebab kalau Anda tidak memiliki pintu masuk, sulit juga untuk menyampaikan pesan-pesan perbaikan.

    3. Masa 5-6 tahun bekerja di sebuah lembga negara, harusnya cukup bagi seorang pejuang Islam untuk melahirkan gagasan-gagasan besar dan aksi nyata. Tapi ya kita tahu bagaimana sikap KPK selama ini terhadap progress pemberantasan korupsi. Hasilnya cenderung “simbolik”, sekedar simbol bhawa sudah ada pembrantasan korupsi.

    4. Tidak kurang, peran si fulan itu saat menjadi ketua tim etik KPK juga cenderung tikdak berpihak kepada kebenaran. Kawan-kawannya di KPK diselamatkan semua. Paling berat disebut ‘ada pelanggaran etik ringan”, sementara Nazaruddin sudah dia vonis “pembohong”; maka itu sekarang dia mulai diadukan ke polisi karena tuduhan seperti itu.

    Kesombongan disini pada hakikatnya hanya SIMBOL reputasi saja. Secara syar’i, kesombongan itu salah. Secara strategis, ia adalah pintu untuk mengingatkan hasil kerja 5-6 tahun yang tak jelas hasilnya itu. Semoga dipahami. Amin.

    AMW.

  21. Benci Koruptor berkata:

    🙂 Alhamdulillah…….

    Membaca :
    1. Kesalahan si fulan tersebut ialah ketika masuk KPK, masuk system, lalu meninggalkan kawan-kawannya. Hal itu tercermin dari 5-6 tahun disana, pengaruh aktivis Islam di lembaga KPK nyaris tak ada. Malah FPI, FUI, dkk. sering disia-siakan kalau membuat aksi demo di depan KPK.

    Hmmmmmm……….Sy kira mmang harus demikian om, krna bermain diluar system sma sj sebuah demo (demo dsini harap di artikan sbgai sebuah pertunjukan dpn umum , misalnya bermain sulap, nyanyi dll), yang tidak berpengaruh apa2.
    Dlm berjuang mngandalkan masa 5-6 untuk meraih hasil akhir adalh mustahil (lebih2 jika hanya sendirian, dgn aktif d lembaga KPK yg jelas2 memiliki banyak “musuh”).

    Melihat Abdullah H, pandangan sy ttap bebas nilai (tdk mempersoalkan agamanya, komunitas dulu dll), tp pengamatan sy bahwa dia berhasil berbeda dalam sistem di pemerintahan negeri ini. Dan sy kira bisa dianggap pembuka jalur keberanian (bagi pejabat2 lain yg berminat memberantas korupsi) di mata publik.

    Terima Kasih….

    : )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: