Syafi’i Ma’arif Seperti “Lawyer” KPK

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada yang aneh dari kelakuan Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif setelah duduk dalam Komisi Etik KPK yang diketuai Abdullah Hehamahua. Seperti kita ketahui, KPK baru-baru ini membentuk komisi etik untuk menyelidiki dugaan pelanggaran etik yang dilakukan oleh pejabat-pejabat KPK terkait kasus Nazaruddin.

Senja di Ujung Jalan. "Tak tahu, nak kemana awak mau melangkah?"

Namanya juga komisi etik, seharusnya lapangan kerjanya seputar etik keprofesian atau kelembagaan. Sama lah kalau ada kasus etik di dunia pendidikan, kampus, kedokteran, media massa, militer, kepolisian, dll. Kita paham bahwa posisi anggota komisi etik hanya dalam domain ETIK itu sendiri. Tetapi entahlah, di tangan “Buya” Syafi’i Ma’arif yang bergelar “profesor doktor” itu, ruang lingkup seperti ini tidak dipahami dengan baik. Kesan yang muncul Syafii Ma’arif malah seperti menjadi “lawyer” KPK.

Beberapa indikasi yang bisa disebutkan, antara lain:

[1]. Dalam posisinya sebagai anggota Komisi Etik KPK, Syafi’i Ma’arif atau Abdullah Hehamahua sering menyerang Nazaruddin sebagai “pembohong”. Hal itu mereka katakan di media-media massa. Ini adalah SANGAT ANEH. Aneh sekali, untuk tidak dikatakan KONYOL. Tugas Komisi Etik kan bukan menilai Nazaruddin, tapi menyelidiki dugaan pelanggaran kode etik pimpinan-pimpinan KPK. Mereka boleh menanyai Nazaruddin sebagai SAKSI, bukan sebagai tersangka. Adapun hasil penyelidikan Komisi Etik itu jelas hanya berkaitan dengan posisi pejabat-pejabat KPK. Mereka tak boleh ngomong apapun soal Nazaruddin, sebab itu bukan sasaran kerja mereka.

[2]. Syafi’i Ma’arif selain sangat “nafsu” saat memojokkan Nazaruddin, dia juga “nafsu” dalam membela posisi Chandra Hamzah. Bahkan dalam wawancara dengan salah satu stasiun TV (TVOne), Selasa pagi, 20 september 2011, Syafi’i Ma’arif begitu PUAS dalam memuji-muji profil Chandra Hamzah. Syafi’i katakan bahwa Chandra Hamzah itu sangat pintar sekali, kalau berbicara runut dan detail, sangat tahu UU KPK, mantan aktivis, dll. Seharusnya “Buya” Syafi’i bisa menambahkan pujian sebagai berikut: “Ehm…ternyata Chandra itu ganteng juga ya. Kalau saya punya anak gadis, saya ambil menantu dia.”

Sangat tidak layak (kalau tidak disebut IRONIS) seorang anggota Komisi Etik KPK memberikan penilaian KEPRIBADIAN kepada orang yang sedang diselidiki kasus etik yang melibatkan dia. Syafi’i Ma’arif kan bukan anggota DEWAN JURI acara-acara TV seperti Pildacil, AFI, Indonesia Mencari Bakat, kontes dangdut, dll. Kalau melihat hal seperti ini, jelas anggota Komisi Etik KPK sudah cenderung berpihak pada pejabat-pejabat KPK itu sendiri.

[3]. Dalam wawancara dengan media di atas, Syafi’i Ma’arif berkali-kali menangkis tuduhan Nazaruddin, pertanyaan Boni Hargens, pertanyaan presenter TV, yang dialamatkan ke pejabat-pejabat KPK. Ini sangat aneh. Syafi’i Ma’arif ini kan anggota komisi etik. Dia bukan seorang “lawyer”. Namanya anggota komisi etik, Syafi’i harus TUTUP MULUT dulu untuk menjawab pertanyaan seputar orang-orang yang sedang diselidiki Komisi Etik. Tahan dulu Bapak, jangan “nafsu” duluan. Tahan diri, jangan masuk ke arena yang bukan hak Bapak untuk menjelaskan. Bayangkan saja, keputusan resmi Komisi Etik belum keluar, tetapi Syafi’i sudah “nafsu” membela posisi Chandra Hamzah. Ini kan aneh. Jangan-jangan hasil keputusan Komisi Etik itu sendiri sudah ketahuan kemana arahnya?

[4]. Dari sisi etika, saat dialog di TVOne itu, Syafi’i Ma’arif duduk dengan posisi selangkangan sangat terbuka, menghadap ke kamera. Kalau melihat hal itu, tampak sangat risih. Sampai presenter wanita di TV itu sengaja tidak berbicara bertatap muka face to face. Dia seperti setengah memalingkan muka. Orang se-indonesia yang menyaksikan dialog itu jadi seperti diberi “selangkangan full”. Dalam etika ketimuran, cara seperti ini sangat tidak etik.

[5]. Pada tanggal 21 September 2011, Syafi’i Ma’arif sangat mengejutkan, melakukan kunjungan ke LP Cipinang, untuk bertemu dan berdialog dengan Wafid Muharam, tersangka kasus korupsi Wisma Atlet SEAGAMES. Menurut info media, Syafi’i bicara satu jam dengan Wafid Muharam. Padahal siang harinya, Wafid Muharam akan menjalani persidangan di Tipikor.  Syafi’i Ma’arif dengan penampilan seperti seorang makelar tanah itu, tampak kerepotan ketika tahu banyak wartawan sudah menantinya di depan gerbang LP.  Seperti biasa, orang-orang semodel Syafi’i ini segera berkelit dengan aneka bahasa basa-basi. Dia bilang bahwa kunjungan ke LP Cipinang itu dalam kapasitas dia sebagai PRIBADI, bukan anggota Komisi Etik KPK. Ha ha ha…siapa Pak Profesor yang mau percaya omongan Anda? Anda ini omongan sangat tinggi, sok berwibawa, dan intelek. Padahal kelakuan seperti makelar tanah. (Berita seputar kunjungan Syafi’i Ma’arif ke LP Cipinang disiarkan MetroTV, 21 September 2011).

Boni Hargens menyebut Komisi Etik KPK sudah melampaui batas, atau offside. Tetapi Syafi’i Ma’arif berkali-kali membela diri dengan mengatakan seperti, “Saya mempertaruhkan reputasi saya selama sekian tahun sekian tahun. Saya tidak main-main disini.”

Komentar saya: “Kalau Bapak ingin reputasinya terjaga, tidak tercoreng, ya jaga reputasi itu dengan SIKAP BAPAK SENDIRI yang adil, jujur, netral, dan moralis. Menuduh Nazaruddin di depan umum dengan kata-kata bohong atau pembohong, bukan tipikal orang bermoral; sebab tugas Bapak bukan menyelidiki posisi Nazaruddin.”

Akhir kata, sosok usia lanjut seperti Prof. Syafi’i Ma’rif ini SEHARUSNYA layak didoakan agar mendapat rahmat, hidayah, dan husnul khatimah. Tapi ketika mengingat bagaimana reputasi sosok satu ini dalam membela ide-ide kaum SEPILIS, dalam menyerang tokoh dan aktivis dakwah Islam, dalam menyerang missi Syariat Islam; maka doa seperti itu tak perlu diberikan. Justru, kita bisa melihat bahwa Syafi’i Ma’arif menerima sebagian akibat dari perbuatan-perbuatannya, sebelum dia wafat.

Selamat berjuang Pak Tua! Semoga menjadi “lawyer” yang handal!

AMW.

_________________________________

CATATAN: Untuk para komentator, mohon jangan memakai nama “anonymous”. Ini tidak fair. Kalau ada yang seperti itu, mohon maaf akan langsung dihapus. Mohon dimaklumi!

Iklan

One Response to Syafi’i Ma’arif Seperti “Lawyer” KPK

  1. Ferry ZK berkata:

    hahaha… memang begitu adanya beliau, barangkali beliau teralalu PD kalau nanti matipun beliau dilindungi zionis dan AS diakhirat nanti…

    memang SEPILIS kian merajalela, bahkan mentri agama yang kurang liberal pun dipaksa didampingi wakil mentri yang akan memastikan agenda-agenda SEPILIS tetap jalan di departemen agama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: