Alhamdulillah, Idul Adha 1432 H, Kita Kompak!

Oktober 31, 2011

Persatuan Ummat Itu Indah, Laksana Intan Permata.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, akhirnya Ummat Islam Indonesia bisa menyelenggarakan perayaan Idul Adha secara kompak, pada hari Ahad, 6 November 2011. Alhamdulillah, rasanya kenyataan ini seperti TETESAN SALJU yang sangat sejuk di hati. Alhamdulillah…

Masih teringat kuat di benak dan perasaan kita, betapa kerasnya suasana “eker-ekeran” ketika penentuan Idul Fithri 1432 H beberapa bulan lalu. Hah…rasanya tidak perlu diungkit lagi. Berbagai perasaan campur-aduk menyelimuti hati. Belum lagi “konflik pendapat” setelah Idul Fithri itu berlalu. Huufff…

Sekedar diketahui…ini rahasia antar kita-kita…saat di blog ini ditulis artikel yang mengajak kaum Muslimin berbuka di hari Selasa itu, masya Allah, kunjungan ke blog ini mencapai puncaknya. Dalam sehari itu mencapai sekitar 3.250 hit. Sebuah rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut Departemen Agama RI, momen Idul Adha berdasarkan HISAB dan RU’YAT memang jatuh pada tanggal 6 November 2011. Depag RI menyebar tim pemantau hilal di 46 lokasi. Tiga di antaranya berhasil melihat hilal, yaitu di Dondongdipo Gresik, Basmall Kembangan Jakarta Barat, dan Ma’had Husniyah, Cakung Jakarta Timur. Dari sisi Astronomis, menurut Prof. Dr. T. Djamaluddin, ketinggian rata-rata hilal saat itu mencapai sekitar 6 derajat. (Batas minimum hilal bisa terlihat yang berlaku di Indonesia, sekitar 2 derajat).

Keputusan Depag RI ini sangat bersesuaian dengan keputusan Pemerintah Saudi, yang menetapkan WUKUF di Arafah jatuh pada hari Sabtu, 5 November 2011. Jadi, alhamdulillah keputusan Depag RI bersesuaian dengan keputusan Kerajaan Saudi. Sebab, bila berbeda, hal itu biasanya akan menimbulkan perbedaan momen Idul Adha. Dan ormas Islam seperti Muhammadiyyah pun juga sudah menetapkan momen hari raya pada hari yang sama.

Untuk lebih jelas, silakan baca artikel ini: Pemerintah, Muhammadiyyah, dan Arab Saudi Sama Idul Adha. Faktor persatuan ini terlaksana karena: proses Rukyatul Hilal sudah positif, perhitungan hisab yang telah matang, serta bersamaan dengan momentum Wukuf di Arafah.

Alhamdulillah, Ummat Islam pada Idul Adha 1432 H tidak berselisih. Mereka bersatu dalam satu keputusan, ketetapan, dan momentum berhari raya. Allah Ta’ala menjadikan Ummat ini bersatu, sebagaimana Dia di lain waktu menguji Ummat dengan perbedaan-perbedaan. Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihaat (segala puji bagi Allah yang atas nikmat-Nya, maka sempurnalah amal-amal kebaikan).

Tulisan¬† ini sekaligus sebagai bukti komitmen, bahwa: “Kita mencintai persatuan Ummat, kita mencintai persatuan di dalam negeri dan di luar negeri, dan kita tidak bersikap semena-mena terhadap setiap keputusan Pemerintah RI. Keputusan mana yang benar dan lurus, kita dukung; keputusan yang tidak lurus, kita cari pilihan lain yang lebih baik.”

Semoga Ummat Islam semakin pandai bersatu dan lapang dada untuk saling memahami. Allahumma amin.

[Abinya Syakir].


Kala Air Mata Menetes…

Oktober 22, 2011

Bismillahirrahmaanirrahim.

Pagi hari itu, sekitar pukul 07.15 aku naik Metromini dari arah Stasiun Tebet. Biasanya kondisi lancar-lancar saja, tidak banyak masalah. Paling kadang Metromini penuh sehingga harus ada penumpang yang berdiri. Atau kadang bang sopirnya berhenti lama untuk mencari penumpang, sehingga menggelisahkan orang-orang yang ingin cepat sampai di kantor. Secara umum, kondisi aman-aman saja, alhamdulillah.

Tapi waktu Metromini akan melewati sebuah jalan layang, tiba-tiba serombongan pelajar SMA, sekitar 10 orang. Mereka masuk bis itu dengan memaksa, lalu agak marah-marah ke sopirnya. “Gimana sih bang sopir, diberhentiin, mau terus saja.” Begitu kurang lebih tegur salah seorang pelajar itu ke sopir. Sopirnya sendiri tak berani berkata apa-apa.

Menyelamatkan Generasi, Menyelamatkan Masa Depan Ummat.

Saat anak-anak pelajar itu masuk bis, wajah mereka tampak sangat tegang. Seakan mereka sedang menghadapi masalah besar. Suaranya keras, gerakannya cepat, seakan tak peduli dengan penumpang bis itu. Mereka terus sibuk bicara dan larut dalam ketegangan.

Secara reflek aku melihat wajah-wajah mereka, melihat seragamnya, melihat tas yang mereka bawa. Bahkan aku dengar perkataan-perkataan mereka. Namun tidak berani menegur, khawatir mereka salah paham. Tapi sejujurnya, mereka juga tampak cuek ketika aku lihati wajah-wajahnya.

Baca entri selengkapnya »


Mengapa Timnas Kalah Terus?

Oktober 13, 2011

Mengapa Timnas Indonesia kalah terus? Mengapa melawan Qatar di Gelora Bung Karno saja, Timnas kalah juga? Mengapa oh mengapa…

Banyak masyarakat, khususnya peminat bola, sampai ibu-ibu rumah-tangga, mengharapkan Timnas Indonesia menang. Tapi saat mereka kalah, masyarakat pun jadi males. “Males lah…kalah lagi, kalah lagi,” begitu keluh mereka.

Lalu apa yang salah dari PSSI? Apa yang salah dari persepakbolaan Indonesia? Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki prestasi?

Cari Pemain Semantap Pohon Ini!

1. Kesalahan terbesar orang Indonesia saat bicara tentang sepak bola ialah masalah PARADIGMA. Jadi ini bukan kesalahan PSII, Nurdin Halid, pemain, pelatih, suporter bola, dll. tetapi kesalahan semua orang yang bicara soal sepak bola. Inti dari paradigma ini adalah: “Sepak bola itu olah-raga yang disetting untuk manusia berpostur besar (Eropa).” Dari sisi lebar lapangan, ukuran bola, waktu bermain, aturan sanksi, dll. sepak bola di-setting untuk orang-orang berpostur Eropa (besar).

2. Postur Eropa itu rata-rata tinggi 180 cm, berat badan 80 kg, kecepatan lari dan daya tahan fisik kuat. Maka pemain-pemain Afrika yang berpostur tinggi dan kuat, meskipun mereka miskin, fasilitas minim, tetap bisa berprestasi dengan baik. Karena posturnya sesuai, kekuatan fisik juga sesuai.

3. Beberapa tim Asia, seperti Jepang, China, Korea (Utara & Selatan), pemain mereka juga besar-besar dan stamina kuat. Maka negara-negara itu bisa bersaing dalam kompetisi internasional. Malah ada pemain China yang posturnya lebih tinggi dari orang Eropa.

4. Di Timnas sendiri sebenarnya Indonesia pernah punya pemain dengan postur ideal. Ia adalah Robbi Darwis, pemain bertahan dari Persib. Pemain ini selain tinggi, tubuhnya besar, juga memiliki skill bermain bola. Robbi Darwis bisa menjadi STANDAR fisik pemain nasional. Kalau Indonesia pernah punya pemain seperti dia, berarti bisa dicari pemain-pemain lain yang semodel dia.

5. Kalau sepakbola cuma untuk olah-raga, game, atau pertandingan tingkat lokal; memang tidak dibutuhkan postur tinggi. Pemain dengan postur seperti apapun, silakan saja. Tapi kalau untuk meraih prestasi internasional, ya harus diperbaiki posturnya. Pemain seperti Irfan Bachdim itu di level internasional termasuk kecil, apalagi Octo Maniani. Dan untuk membangun Timnas ini bisa dibentuk sejenis “Akademi Timnas”.

6. Standar fisik para pemain nasional harusnya ditetapkan: tinggi minimal 180 cm, berat ideal 80 kg, kecepatan lari sekian-sekian, ketahanan stamina sekian-sekian, dan ketahanan benturan. Setelah itu baru bicara soal minat sepakbola dan skill bermain. Jangan dibalik, bicara minat dan skill dulu, lalu baru bicara soal fisik pemain. Ini salah…maka itu timnas Indonesia keok melulu.

7. Untuk mencari bakat-bakat pemaian nasional, bisa dimulai sejak SMA kelas 1. Cari anak-anak dengan postur tinggi badan bagus, kesehatan prima, dan suka sepakbola. Meskipun tidak pintar main bola tidak masalah, asalkan fisik sudah memenuhi syarat dan dia suka main bola. Fisik dan minat menjadi tolok ukur utama. Soal skill bermain, itu bisa diasah dalam pemusatan latihan.

8. Biar anak-anak SMA itu suka berlatih, berikan mereka tunjangan honor, fasilitas bermain, dan subsidi untuk perbaikan konsumsi. Selama mereka masuk dalam “proses pelatihan timnas”, mereka mendapat honor.

9. Dari 235 juta penduduk Indonesia, pasti mudah mencari sekitar 50 anak remaja dengan postur minimal 180 cm dan dia senang bermain bola. Pasti mudah. Wong, di sekolah anak saya saja (SMA), ada teman-temannya yang tingginya sekitar 2 m. Itu bukan hanya satu orang. Kalau sulit mencari, umumkan rekruitmen secara resmi, agar mereka mendaftar. Jadi, jangan lagi mengambil pemain timnas yang tingginya 160 cm, apalagi kurang dari itu. Nanti disebut “pemain bayi” oleh orang-orang Eropa.

8. Dari 50 anak yang terseleksi, sejak kelas 1 SMA, dia akan mengikuti jadwal-jadwal pelatihan sampai 3 tahun (sampai lulus SMA). Setelah itu akan diseleksi lagi untuk mencari sekitar 25 pemain nasional (tim inti dan cadangan). Sehingga akhirnya terbentuk formasi pemain nasional, dengan tinggi minimum 180 cm, berbadan kuat, dan memiliki skill bermain bola bagus.

9. Jika belum ada even-even pertandingan internasional, para pemain itu dititipkan di klub-klub profesional untuk berlatih, bermain, dan terjun di klub-klub itu. Secara legal, pemain itu milik “Akademi Timnas”, tetapi secara posisi mereka di klub-klub profesional untuk mematangkan kemampuan dan pengalaman bermain. Saat dibutuhkan, mereka dipanggil untuk bergabung dengan Timnas. Syukur-syukur kalau pemilik klub mau merekrut pemain itu sebagai pemain inti, sehingga mereka dibayar lebih baik oleh klub.

10. Para pemain itu tergabung ke Timnas dalam waktu tertentu, misalnya 5 tahun, sesuai kontrak. Selama itu mereka digaji oleh negara. Jika sudah tidak bermain lagi, mereka boleh memilih akan bermain di klub profesional, direkrut oleh BUMN, atau pilihan-pilihan yang baik bagi mereka.

Jadi, intinya begini: “Pemain Timnas ke depan haruslah orang-orang yang tinggi, fisiknya bagus, dan bermental kuat. Mereka bisa digembleng sehingga memiliki fisik bagus, skill bagus, dan mental kuat. Kalau pemain Timnas masih setinggi 160 cm atau kurang, wah…tak akan banyak berguna ngomong soal Timnas. Ya bagaimana lagi, wong secara mendasar sudah salah konsep.”

Tulisan ini disusun lebih karena “kasihan” melihat bangsa Indonesia. Sejak dulu ingin memiliki Timnas yang kuat, tetapi kalah terus. Kalau mau diperbaiki, ya perbaiki fisik para pemain dari sisi tinggi, berat badan, kecepatan, kekuatan, juga stamina tubuh. Itu intinya. Soal skill, bisa dilatih.

Semoga bermanfaat ya, mengobati kedukaan hati bangsa Indonesia. Ya, meskipun sebatas ide. Allahumma amin.

Pesan terakhir: “Jangan lupakan Shalat di segala keadaan. Meskipun main bola, jangan lupa Shalat ya. Shalat lebih utama dari permainan apapun. Oke?

AMW.


RUU Intelijen dan Akal Sehat Kita

Oktober 12, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Singkat kata, sejak Indonesia merdeka sampai saat ini, selalu ada sekelompok orang di negeri ini yang bekerja keras untuk membela kepentingan asing. Mereka diberi kesejahteraan, gaji, bonus, kekayaan, dll. untuk mempreteli segala kekayaan negara, lalu diserahkan ke tangan asing.

Saat masuk orde Reformasi, orang-orang UPAHAN ASING itu masih terus bercokol. Bahkan ia menjadi profesi yang “sangat basah”. Celakanya, orang-orang seperti ini banyak yang memegang posisi penting di dunia politik, akademik, keamanan, media, hiburan, LSM, dll.

BENANG KUSUT: Mau Mengurai Masalah, Malah Mendatangkan Masalah Baru yang Lebih Pelik.

Setelah Reformasi, negara-negara asing sangat ketakutan dengan ancaman bangkitnya kekuatan politik Islam, yang diwakili oleh gerakan-gerakan para aktivis Islam. Terutama seputar tuntutan pemberlakuan Syariat Islam, isu Khilafah, dan sebagainya. Isu Syariat Islam dianggap sebagai “OBAT NYAMUK” yang akan berjalan efektif mengusir “nyamuk-nyamuk kapitalis” yaitu kepentingan negara-negara asing di Indonesia. Kalau Syariat Islam berlaku, besar kemungkinan para penjajah asing akan diusir paling duluan.

Kemudian muncullah isu terorisme, UU Anti Terorisme, deradikalisasi, RUU Intelijen, RUU Rahasia Negara, dll. Semua ini secara umum diarahkan untuk membendung segala masalah yang ada disana, tetapi secara khusus diarahkan kepada para aktivis Islam. Mereka itulah sasaran hakiki-nya, meskipun cover-nya umum.

Teorinya, para aktivis Islam perlu di-repressi sedemikian rupa, agar tidak memiliki ruang gerak untuk menghujat dominasi kekuatan-kekuatan asing yang terus mengeksploitasi kekayaan negara. Isu-isu terorisme perlu dikembangkan, untuk merusak citra aktivis Islam; sembari masyarakat lebih menyalahkan para pelaku teror itu, dan lupa dengan eksploitasi asing yang terus marak.

Untuk sementara waktu cara-cara seperti itu berjalan sesuai rencana. Tetapi ya dasarnya manusia tak kenal rasa puas, mereka terus mempertebal aturan-aturan repressi ini, agar tidak ada perlawanan sama sekali terhadap eksploitasi kekayaan nasional oleh orang-orang asing. Ibaratnya, Indonesia akan terjajah kembali secara mutlak; hanya rakyat tidak sadar sama sekali.

Ya, para aktivis Islam sudah berusaha berbuat baik kepada negeri ini. Para aktivis Islam sudah berusaha menolong rakyat sekuat tenaga. Mereka berkorban siang-malam, dengan segala daya yang dimiliki. Tapi yang begitu pun terus dicurigai sebagai: teroris, radikal, ekstremis, intoleran, anarkhis, dan lain-lain.

Ya sudahlah…kita sudah berusaha sekuat tenaga mengingatkan bangsa Indonesia tentang PENJAJAHAN ASING ini, tetapi selalu kecurigaan, tuduhan, dan pengrusakan nama baik yang harus kami temui.

Kini, RUU Intelijen sudah disahkan. Bisa jadi, bagi negara-negara asing “pemesan RUU” ini, mereka akan tertawa lebar dan sangat puas. Bisa jadi, setelah ini gerakan-gerakan dakwah Islam akan mengalami hambatan-hambatan yang lebih besar. Wallahu a’lam bisshawaab.

Tetapi yang jelas, kami hanya mengingatkan kepada siapa saja yang sangat bernafsu merepressi rakyat Indonesia melalui keluarnya UU seperti itu:

“Bapak atau Ibu, kehidupan ini berjalan di bawah Sunnatullah. Sebagian orang menyebutnya ‘hukum alam’. Andaikan nanti Anda sekalian bisa melakukan tindakan-tindakan yang menzhalimi hak-hak para aktivis Muslim; yakinlah Allah Ta’ala akan mendatangkan segala marabahaya sebagai balasannya. Marabahaya itu bisa datang dari apa saja, baik bencana alam, tumbuhan, hewan, cuaca, angin, hujan, dan sebagainya. Kekuatan aktivis Islam terlalu lemah untuk memberikan sanksi. Tetapi Rabb yang diibadahi aktivis Islam, akan mengejar orang-orang zhalim, kemanapun mereka bersembunyi.”

Hal ini sekaligus sebagai PERINGATAN BESAR kepada media-media sekuler yang selama ini sangat liberal dan anti Islam. Akibat sikap hedonis Anda semua, kebodohan analisis, serta kedengkian besar di hati; lalu datanglah UU Intelijen yang boleh jadi ia akan merugikan kepentingan banyak orang.

Kini, media-media sekuler itu tidak hanya merasa bermusuhan dengan aktivis-aktivis Islam. Tetapi mereka akan menghadapi “musuh baru” yang lebih besar, kuat, formal, dan dilindungi UU. Maka terimalah apa yang mesti diterima…

Adapun bagi anggota-anggota DPR yang mengesahkan UU yang merugikan banyak pihak; semoga mereka dan keluarganya menanggung kepahitan yang 100 kali lebih besar dari kepahitan yang diderita para korban pemberlakuan UU itu. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin.

Wallahu a’lam bisshawaab.

AMW.


Antara KEKERASAN dan KEADILAN

Oktober 11, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Beberapa waktu lalu Andy F. Noya mewawancarai KH. Musthafa Bisri, pimpinan pondok pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang. Acara ini seperti spesial dibuat dengan menghadirkan host utama, Gus Mus itu. Temanya sekitar relasi antara agama dan kehidupan politik.

Satu pertanyaan menarik disampaikan oleh Andy F. Noya, “Mengapa sampai saat ini masih sering terjadi kekerasan atas nama agama?”

Pertanyaan stereotip itu lalu dijawab oleh Musthafa Bisri dengan analagi anak-anak sekolah. Katanya, kalau sekolah masih TK, SD, SMP, atau SMA, masih sering berkelahi, tawuran, dll. Tetapi kalau sudah sarjana, magister, doktoral, otomatis akan jauh dari kekerasan. “Berarti, menurut Anda kekerasan atas nama agama itu hanya berlaku bagi orang-orang yang pemahaman agamanya dangkal,” tanya Andy F. Noya sekaligus menyimpulkan.

Siapa Merindukan Kedamaian, Ciptakanlah Keadilan.

Begini ya…

SATU, selemah-lemahnya cacing, kalau dia diinjak, akan melawan, meskipun perlawanannya itu tak banyak berguna. Untuk hewan seperti cacing saja masih memiliki “harga diri”, apalagi manusia.

DUA, kebodohan manusia jaman modern di Indonesia, termasuk presenter-presenter TV yang sering memuat jargon “knowledge to elevate”. Mereka ini kalau melihat kebakaran, maka yang dilihat pasti ASAP-nya saja. Mereka tak mau melihat asal API-nya. Jurnalisme TV di Indonesia sejak tahun 2005 madzhab-nya seperti itu, jadi sejenis jurnalisme “asap doang“. Makanya jurnalisme seperti ini tak ada manfaatnya, dan banyak madharatnya.

TIGA, dalam kehidupan ini berlaku sistem KESEIMBANGAN (balance). Ia sudah menjadi sunnatullah. Sains modern mengukuhkan berlakunya hukum balance dalam gerakan, sifat, dan realitas alam. Kekerasan sering terjadi karena banyaknya perkara yang tidak adil di negeri ini. Jika keseimbangan kekuatan tak terjadi, maka akan muncul kekerasan, kerusakan, kehancuran, serta disharmoni. Pilihannya hanya dua, keadilan yang ditegakkan sehingga muncul damai; atau kezhaliman dibiarkan sehingga melahirkan kekerasan.

EMPAT, para mafia di bidang politik, bisnis, dan birokrasi; mereka berpikir bisa mengendalikan kehidupan dengan membuat makar-makar kezhaliman, sehingga mendapat keuntungan. Tetapi sunnatullah tak akan mungkin mereka patahkan. Sunnatullah telah berlaku, bahwa hukum keadilan senantiasa berjalan. Kezhaliman yang mereka buat hanya akan menyusahkan banyak orang, sebab ia akan memicu munculnya kekerasan-kekerasan. Mereka tak akan bisa menahan kekerasan itu, sebab ia akan muncul alamiah, untuk memenuhi hukum keseimbangan tersebut.

LIMA, jangan pernah bermimpi di Indonesia akan bebas dari kekerasan, akan selalu damai, aman, dan stabil. Ini hanya impian kosong, selama kezhaliman-kezhaliman terus diciptakan. Cara-cara memfitnah, memojokkan, menjelek-jelekkan, serta menodai citra para aktivis Islam di Indonesia, baik oleh media-media massa, tokoh politik, tokoh pengamat, dll. Semua itu akan melahirkan aneka kekerasan, baik yang dilakukan oleh korban yang dirugikan, atau oleh mereka yang tak pernah kita sangka. Kasus tawuran, kerusuhan, kriminalitas, anarkhisme suporter bola, dll. semua itu merupakan “pintu-pintu kekerasan” yang tak pernah selesai; selama kezhaliman terus dipelihara.

Dengan demikian, baik Musthafa Bisri, Andy F. Noya, atau siapa saja; mereka tidak boleh asal membual tentang kedamaian, keamanan, atau kerukunan. Kalau memang cinta kedamaian, penuhi syarat-syaratnya, yaitu: wujudkan keadilan dan jauhkan segala kezhaliman. Termasuk kezhaliman media-media TV yang begitu mudah menuduh pemuda-pemuda Islam doyan kekerasan. Media-media sejenis ini tak mau melihat akar masalahnya; tetapi selalu straight ke arah wujud kekerasan itu sendiri.

Anda cinta damai; maka wujudkan keadilan! Dimanapun cara-cara zhalim terus diproduksi dan dilestarikan, dengan segala macam caranya; disana alamat akan terjadi aneka rupa kekerasan. Andaikan kita tidak tertimpa kekerasan dari satu arah tertentu, yakinlah ia akan datang dari arah-arah tak disangka.

Ingat itu…

AMW.


Cara Mudah Menaklukkan “Anak Ajaib” Messi

Oktober 8, 2011

Lionel Messi dianggap sebagai pemain bola dengan talenta tinggi. Dia bukan hanya pintar membuat gol, tetapi kecepatan larinya tinggi, semangat “haus gol”-nye meluap, cara membawa bolanya lengket; dan satu lagi, kaki-kakinya sangat kuat sehingga jarang mengalami cidera. Messi sering dijuluki “the golden boy” atau “anak ajaib”.

Messi memiliki keunggulan dibandingkan Christiano Ronaldo, Higuain, Carlos Tevez, atau bahkan Rooney. Messi malah lebih kuat dari Maradona, secara emosi dia lebih stabil dari Maradona. Orang bilang, “Messi adalah jelmaan Maradona.” Ungkapan ini salah. Yang betul, “Messi adalah versi yang lebih canggih dari seri produk yang bernama Maradona.”

Batu Sekeras Apapun, Tetap Bisa Dipecahkan. Asal Ada Usaha dan Kesungguhan.

Kalau di dunia teknologi digital, Messi bolehlah disetarakan dengan Steve Jobs, boss sekaligus datuknya teknologi milik Apple. Kok jadi kesana ya? Gak apa-apalah disambung-sambungkan. Mumpung orang-orang laigi demen biara soal Steve Jobs. Biasa, “mengikuti permintaan pasar”… (kok jadi Neolib ya, amit-amit dah).

Kembali ke soal Sussie, eh maksudnya Messi…

Bagaimana cara menaklukkan “si bocah ajaib” itu? Adakah cara-caranya? Apalagi, adakah cara mudah untuk menundukkan Lionel Messi? Apa yang harus dilakukan setiap tim yang berhadapan dengan Messi?

PRINSIP: Disebut cara mudah, tentu tak sama dengan cara membuat “telur ceplok” atau menyeduh mie instan. Messi kan seperti prototipe “pesepakbola” yang dibangun lama, dengan riset, proses pelatihan intensif, dukungan laboratorium, sarana gymnastic, serta biaya besar. Produsen yang membentuk Messi ya Akademi Barcelona itu sendiri.¬† Dia dibentuk sejak awal seperti proses yang dialami Iniesta, Xavi, Puyol, maupun Fabregas. Untuk mengalahkan produk seperti ini, selalu ada jalan. Seperti kata hikmah, “Tidak ada kesulitan yang tak teratasi.” Tetapi jelas dibutuhkan suatu USAHA yang serius, konsisten, dan kerja keras.

Ngomong-ngomong ada gak sih cara menaklukkan Messi? Ada, ada, dan ini realistik. Tetapi ya itu tadi, butuh kerja keras. Seperti kata orang, “Tidak ada prestasi yang tiba-tiba jatuh dari langit.”

CARANYA begini…

[1]. Semua tim yang menghadapi Messi, harus mengorbankan salah satu pemainnya untuk terus mengawal Messi. Jadi pekerjaan pemain itu KHUSUS untuk mengawal Messi saja. Kemanapun Messi berjalan, maksudnya di area milik sendiri, Messi harus ditempel ketat.

[2]. Pemain yang dibutuhkan untuk mengawal Messi haruslah bertipe, badannya kuat berbenturan, larinya cepat, sabar, dan konsisten. Kalau tidak demikian, dia akan sering kecolongan.

[3]. Saat bertugas mengawal Messi, pemain itu JANGAN memusatkan pandangan ke bola yang dibawa Messi, tetapi harus FOKUS ke gerakan tubuh Messi. Kemanapun Messi bergerak harus dikawal. Ikuti saja gerakannya, bukan bolanya. Kalau fokus ke bola, dia akan sangat mudah dikerjai oleh cara Messi membawa bola.

[4]. Pemain pengawal itu tugas utamanya BUKAN merebut bola dari kaki Messi, bukan pula menjatuhkan dia. Tetapi membuat repot Messi, membuatnya tak bisa bergerak, membuatnya merasa stress, menghalang-halangi gerakan tubuhnya, dan yang semisal itu. Kalau cara demikian bisa konsisten dilakukan, dalam waktu 60 menit Messi bisa merasa frustasi sehingga semangat bermainnya runtuh.

[5]. Untuk menyiasati tenaga pemain pengawal, tugas itu bisa dibuat bergantian 2-3 pemain. Misalnya babak I pengawalnya si fulan, babak II fulan yang lain. Atau bisa di-split 30 menitan. Hal ini untuk mengantisipasi rasa jenuh atau kecolongan pada seorang pemain pengawal.

Sebagai catatan…

Peranan Messi dalam memenangkan suatu pertandingan sangat besar. Maka mengorbankan satu pemain untuk terus mengawal dia SANGAT tidak masalah, sebab hal itu bisa diartikan menghalangi kemenangan tim Messi secara keseluruhan.

Biasanya banyak pemain back sengaja bermain kasar untuk menjatuhkan Messi. hal begini tidak perlu. Selain bisa menyakiti orang lain, juga rawan terkena sanksi hukuman. Cukup, kawal terus Messi, jangan beri dia kesempatan bergerak leluasa. Lebih bagus kalau dia jadi frustasi.

Shami Khedira, pemain tengah Real Madrid, pernah ditugasi Mourinho untuk mematikan gerakan Andreas Iniesta. Hal itu dilakukan sangat konsisten oleh Shami, sehingga Iniesta nyaris frustasi dan emosi. Ketika Barca tidak bisa memanfaatkan peran Iniesta, serangan-serangannya menjadi tumpul. Itu terjadi ketika Real Madrid memenangkan Piala Raja Spanyol, melawan Barca.

Nah, begitu deh… Sekian dulu ya… Mau pindah ke laman politik nih… Lumayan lah untuk “seger-seger” sejenak…biar tidak kenceng terus gitu…

Selamat menaklukkan Messi ya! Tapi kapan…

== Mine ==


Antara Kita, KPK, dan Fahri Hamzah

Oktober 5, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini anggota DPR Fahri Hamzah, membuat “gebrakan” lagi. Mungkin karena seringnya “gebrak-menggebrak”, mungkin suatu saat dia akan tersandung, jatuh, lalu…gedubraakkk!

Kali ini Fahri membuat usulan mencengangkan, “Bubarkan saja KPK. Ia sudah jadi institusi superbody yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi. KPK bisa seenaknya saja menyadap orang lain.” Begitulah logika sederhananya.

Silakan Nak, Hancurkan Korupsi! Babat Habis Ya...

Dalam blog ini kita sudah berikan kritik sangat pedas ke elit-elit KPK, terutama sosok seperti Chandra Hamzah, Bibit Samad, Ade Rahardja, dkk. Kesalahan elit-elit seperti ini terutama Chandra-Bibit, ialah dalam kasus “Kriminalisasi” yang melahirkan gerakan sejuta facebookers tahun lalu.

Kesalahan mereka ialah: Kemana-mana selalu berlindung di balik isu KRIMINALISASI. Tetapi ketika ditantang untuk membuktikan ada atau tidaknya kriminalisasi melalui jalur hukum; mereka tak mau. Nah, ini yang kacau. Penegak hukum kok tak mau dengan solusi jalur hukum. Seolah, sebagai pejabat KPK mereka ingin diperlakukan sebagai “insan suci”. Ini tidak benar.

Tapi meskipun begitu, kita juga tak setuju dengan ide Fahri Hamzah. Inti masalahnya ialah MENTALITAS ketua-ketua KPK yang lemah dan gampang goyang oleh tekanan-tekanan politik. Mental seperti itu harusnya diganti oleh orang yang “berani mati”. Tetapi gimana ya…mereka menjadi pejabat KPK juga dalam rangka “mencari nafkah”, kok bisanya disuruh “berani mati”? Rasanya, harapan kita terlalu muluk ya.

Singkat kata, bangsa Indonesia masih butuh KPK. Kalau mau diperbaiki, ya orang-orangnya itu di-reshuffle. Ganti saja, orang-orang kaya yang berani mati. Kalau tak ada, bolehlah KPK dibubarkan.

Sebagai rakyat biasa, kita tentu tak takut dengan KPK. Wong, memang kita tak berurusan dengan dana-dana negara kok. Bagi anggota DPR, seperti Fahri Hamzah dkk. bisa jadi mereka “ngeri juga” kalau tiba-tiba ditetapkan oleh KPK sebagai “tersangka”. Nanti mereka bersungut-sungut, “Lha wong, saya dipilih oleh puluhan ribu rakyat. Masak gerak-gerik saya dipantau terus oleh KPK? Ini namanya pelecehan. Saya tak terima deh.”

Inilah bedanya kita dengan Fahri Hamzah. Kita lebih menyoroti mentalitas pemimpin-pemimpin KPK yang sangat lemah. Sedang Fahri Hamzah justru menginginkan KPK dibubarkan karena “mengancam” kepentingan para anggota DPR.

Andaikan nanti KPK dibubarkan… Sebaiknya masyarakat mendukung gerakan “Jihad Anti Korupsi” yang sedang digalakkan oleh Habib Rieziq Shihab dan FPI. Siapa tahu, itulah cara yang efektif untuk menumpas para koruptor satu per satu. Allahumma amin.

Intinya: Berantas korupsi, jangan berantas usaha-usaha menumpas korupsi!!! Tahu kan bedanya? Semoga.

AMW.