Kala Air Mata Menetes…

Bismillahirrahmaanirrahim.

Pagi hari itu, sekitar pukul 07.15 aku naik Metromini dari arah Stasiun Tebet. Biasanya kondisi lancar-lancar saja, tidak banyak masalah. Paling kadang Metromini penuh sehingga harus ada penumpang yang berdiri. Atau kadang bang sopirnya berhenti lama untuk mencari penumpang, sehingga menggelisahkan orang-orang yang ingin cepat sampai di kantor. Secara umum, kondisi aman-aman saja, alhamdulillah.

Tapi waktu Metromini akan melewati sebuah jalan layang, tiba-tiba serombongan pelajar SMA, sekitar 10 orang. Mereka masuk bis itu dengan memaksa, lalu agak marah-marah ke sopirnya. “Gimana sih bang sopir, diberhentiin, mau terus saja.” Begitu kurang lebih tegur salah seorang pelajar itu ke sopir. Sopirnya sendiri tak berani berkata apa-apa.

Menyelamatkan Generasi, Menyelamatkan Masa Depan Ummat.

Saat anak-anak pelajar itu masuk bis, wajah mereka tampak sangat tegang. Seakan mereka sedang menghadapi masalah besar. Suaranya keras, gerakannya cepat, seakan tak peduli dengan penumpang bis itu. Mereka terus sibuk bicara dan larut dalam ketegangan.

Secara reflek aku melihat wajah-wajah mereka, melihat seragamnya, melihat tas yang mereka bawa. Bahkan aku dengar perkataan-perkataan mereka. Namun tidak berani menegur, khawatir mereka salah paham. Tapi sejujurnya, mereka juga tampak cuek ketika aku lihati wajah-wajahnya.

Aku yakin, anak-anak ini termasuk para pelaku tawuran antar pelajar. Tetapi mereka kelihatan masih rapi. Baju masih dimasukkan ke celana, wajah tidak terlalu sangar, dan tidak tampak membawa senjata-senjata tajam.

Bahkan, dalam kekerasan sikapnya itu, aku bisa menyaksikan kebaikan hati mereka. Salah satu dari mereka, mungkin koordinatornya, tampak paling sibuk mengendalikan aksi. Dalam situasi tegang itu, dia masih sempat mengecek jumlah kawan-kawannya. “Tidak ada yang ketinggalan kan?” kata remaja itu. “Andri mana, Andri mana?” tanya dia mencari kawannya yang ternyata berdiri di pintu bis Metromini.

Kejadian ini berlangsung cepat…paling sekitar 5 atau 6 menit. Di sebuah ujung jalan layang, mereka turun. Turun begitu saja, tanpa membayar ongkos. Dan tampaknya sopir dan kenek Metromini sudah maklum. Mereka turun bergegas, lalu menepi ke jalan.

Hingga mereka berjalan di tepian jalan, aku masih memperhatikan gerak-gerik mereka. Wajahnya tampak masih tegang. Mereka memegang erat tas-tasnya, berjalan cepat. Sekali waktu mereka masih melihat ke arahku, tapi tidak ada sikap melecehkan, menantang, atau melontarkan cacian. Wajah mereka dipenuhi bayang-bayang ketakutan.

Inilah salah satu realitas kehidupan anak-anak kita, para remaja pelajar di ibukota (khususnya). Mereka hidup dalam situasi yang penuh kegelisahan. Apakah hari ini mereka selamat? Bagaimana dengan esok, lusa, minggu depan, sebulan ke depan, dan seterusnya?

Saat…turun dari bis, aku tertunduk dalam kesedihan mendalam, memikirkan anak-anak itu. Mereka pasti anak-anak muslim. Pasti ayah-ibunya muslim. Atau bisa jadi mereka sekolah di sekolah Muslim.

Sedih rasanya kalau membayangkan hari-hari yang kan mereka jalani. Ada konflik, pertengkaran, perkelahian, hingga korban jiwa. Dunia yang luas ini terasa sangat sempit bagi siapapun yang terlibat sengketa. Ketakutan selalu membayangi, ancaman bisa muncul dimana-mana, keselamatan menjadi barang langka yang tak tahu berapa nilainya disana?

Tanpa terasa, menetes air mataku…

Ya Allah ya Rahiim, aku dulu pernah melalui masa-masa seperti itu. Terlibat dalam perselisihan, bergabung dengan sebagian kawan untuk menghadapi kawan lainnya. Dalam kelas sibuk belajar, di luar kelas bicara tentang konflik. Langkah menuju sekolah atau pulang darinya, dipenuhi was-was. Bayang-bayang ketakutan, kenekadan, dan mencari aman; campur-baur tak karuan. Berita-berita seputar perkelahian, bukan sesuatu yang asing di telingaku. Alhamdulillah, di atas semua itu Allah Ta’ala memudahkanku menemukan jalan keluar, ketika banyak dari pelajar-pelajar itu kesulitan mencari jalan. Tanpa pertolongan Allah, mungkin aku akan terjerumus disana. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, wa li sa’iril muslimin.

Hanya kepada Allah jua kita memohonkan hidayah, taufik, dan pertolongan, agar Allahul Ghafuur menyelamatkan remaja-remaja Muslim dari jalan gelap, jalan kekerasan dan konflik; baik mereka yang ada di Jakarta maupun di seluruh Nusantara.

Ya Allah ya Karim, mereka adalah anak-anak kami, putra-putra Ummat ini, mereka adalah masa depan agama kami; mereka adalah AMANAH yang dititipkan oleh Nabi ke pundak kami…

Ya Allah ya Halim…derita mereka adalah derita kami, ketakutan mereka adalah ketakutan kami juga, ketidak-berdayaan mereka adalah bukti ketidak-berdayaan kami, tangisan mereka adalah tangisan kami, jeritan kesakitan mereka adalah lolongan keputus-asaan kami… kematian mereka di atas jalan kegelapan itu adalah bukti khianat kami atas amanh Nabi-Mu Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

Ya Allah ya Ghafuur…ampuni mereka (dan kami), maafkan mereka (juga kami), hapuskan dosa-dosa mereka (dan terutama dosa kami), lunakkan kekerasan hati mereka (terutama kekerasan hati kami), jadikan hati mereka tenang, jiwanya damai, dan tunjukkan jalan pulang kepada mereka (serta jalan taubat bagi kami).

Ya Allah ya Rahmaan, santuni mereka, terbitkan kesadaran dan niat baik di dasar hati mereka, ajarkan mereka ilmu, hikmah, dan sakinah. Pimpinlah arah mereka agar kembali ke jalan-Mu, agar memuliakan Asma-Mu, agar membesarkan Keagungan-Mu dalam kehidupan mereka, serta meniti jalan Nabi-Mu yang mulia.

Ya Allah ya ‘Aziz…kami ini lemah, tanpa-Mu; kami ini hina, jika Engkau tidak memuliakan kami; kami ini berlumur dosa, sedangkan Engkau Maha Luas rahmat dan ampunan-Mu. Ya Rahiim, tangan kami tak kuasa menolong mereka, atau siapapun, bahkan diri kami sendiri, bila tanpa rahmat dan pertolongan-Mu.

Ya Allah ya Ra’uuf, kami hadapkan semua urusan ini kepada-Mu; kami pohonkan pertolongan, jalan keluar, dan solusi kepada-Mu, untuk memperbaiki kehidupan anak-anak kaum Muslimin, kehidupan kami, juga kehidupan masyarakat di Nusantara ini.

Ya Allah ya Sallam, Islam lah yang dibutuhkan bangsa ini, Islam lah jalan keluar bagi negeri ini, Islam lah yang akan menyelesaikan semua urusan ini. Islam lah yang akan memuliakan kami, sebagaimana Ia telah memuliakan bangsa Arab, setelah mereka berkubang dalam kehinaan jahiliyah. Maka ya Allah, tolonglah perjuangan Islam di negeri ini, tolonglah upaya-upaya dakwah yang ikhlas ingin memperbaiki Ummat ini, tolonglah para mujahid Islam yang sabar, tekun, dan konsisten menegakkan Kalimat-Mu. Tolonglah perjuangan para mujahid Islam ya Rahiim, agar dengannya Engkau kan menolong Ummat ini.

Amin Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

[Abinya Syakir].

Iklan

3 Responses to Kala Air Mata Menetes…

  1. lupiin berkata:

    Aamiin…
    semoga Allah menyelamatkan mereka dan kita

  2. Muchlis Nasrul berkata:

    Yah….Allah selamatkan remaja kita dalam naungan Islam , ini adalah tantangan Da’wah untuk para Da’i yang serius…..

  3. abisyakir berkata:

    @ Muchlis Nasrul…

    Matur nuwun Bapak. Mugi-mugi Allah tansah paring Njenengan sehat, ‘afiat, lan istiqamah. Amin. Mugi-mugi mengke -mboten ngerthos kapan wancinipun- kula saghet shilaturahim kalian njenengan. Salam kangge kaluwarga dan sederek-sederek wonten lerenge Gunung Arjuno. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    Saking kang kebak salah lan khilaf,

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: